cover
Contact Name
Fenny Sumardiani
Contact Email
jurnallitbang@gmail.com
Phone
+6285712816604
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian Jalan Salak No.22, Bogor 16151 E-mail : jurnallitbang@gmail.com Website : http://bpatp.litbang.pertanian.go.id
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : http://dx.doi.org/10.21082
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian pertanian pangan hortiikultura, perkebunan, peternakan, dan veteriner yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian dan atau ketentuan kebijakan, yang ditujukan kepada pengguna meliputi pengambil kebijakan, praktisi, akademisi, penyuluh, mahasiswa dan pengguna umum lainnya. Pembahasan dilakukan secara komprehensif serta bertujuan memberi informasi tentang perkembangan teknologi pertanian di Indonesia, pemanfaatan, permasalahan dan solusinya. Ruang lingkupnya bahasan meliputi bidang ilmu: pemuliaan, bioteknologi perbenihan, agronomi, ekofisiologi, hama dan penyakit, pascapanen, pengolahan hasil pertanian, alsitan, sosial ekonomi, sistem usaha tani, mikro biologi tanah, iklim, pengairan, kesuburan, pakan dan nutrisi ternak, integrasi tanaman-ternak, mikrobiologi hasil panen, konservasi lahan.
Articles 221 Documents
INOVASI PERLAKUAN BENIH DAN IMPLEMENTASINYA UNTUK MEMPRODUKSI BENIH BERMUTU TANAMAN REMPAH DAN OBAT Supriadi, Supriadi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v37n2.2018.p71-80

Abstract

Plant seeds can be seeds, shoots, cuttings, tendrils, or tubers. Seedtreatment is the earliest, safest, and environmentally friendly strategy in controlling plant pests and pathogens. The seed treatment can be physical, chemical, and biological, such as soaking in hot water (45oC), treatments with chemical and botanical pesticides, as well as biological agents. Chemical pesticides that are specifically recommended for the treatment of spice and medicinal plants (SMPs) seeds are very limited or even not yet in Indonesia, even though the problems in seed productionare very large, especially in the form of cuttings and rhizomes. Thetypes of infectious pests of SMPs are quite numerous and harmful.Several innovations have been pioneered domestically, such as themethod of deeping and coating of seeds, but are still limited to pepper and ginger seeds. The effectiveness of seed treatment for bulky vegetative seeds, such as rhizomes, is hampered due to its limitation in the absorption of active ingredients into the seed tissue so that its effect on pests and pathogens alre ady present in the seed is less successful. Existing methods of seed treatments need to be improved, such as by seed priming, i.e. soaking the seeds in active ingredients until the seeds imbibed so that more active ingredients are absorbed. The seed priming method is suitable for treating seeds with active ingredients in the form of biological agents, such as endophytic microbes. In its development, this method can combine several types of biological agents and carriers, such as fillers, binders, adhesives, and surfactants to improve the stability offormulas during storage and their effectiveness in the field. Keywords: seed treatment, pests, pathogents, medicinal and spice plants.Keywords: seed treatment, pests and pathogents, medicinal and spice crops. AbstrakBenih tanaman dapat berupa biji, pucuk, setek, sulur, atau umbi. Perlakuan benih merupakan strategi dalam pengendalian hama dan patogen (OPT) paling dini, aman, dan ramah lingkungan. Perlakuan benih tanaman rempah dan obat dapat dilakukan secara fisik, kimia, dan biologi, seperti perendaman dalam air panas (45oC), perlakuan pestisida kimia dan nabati, serta agens hayati. Pestisida kimia yang khusus direkomendasikan untuk perlakuan benih tanaman rempah dan obat sangat terbatas atau bahkan belum ada di Indonesia, padahal permasalahan dalam produksi benih sangat besar, terutama berupa setek dan rimpang. Jenis OPT tular benih tanaman rempah dan obat cukup banyak dan merugikan. Beberapa inovasi perlakuan benih tanaman rempah dan obat sudah dirintis di dalam negeri, seperti metode pencelupan dan pelapisan, tetapi masih terbatas pada benih lada dan jahe. Keefektifan perlakuan benih vegetatif yang massanya cukup besar, seperti rimpang-rimpangan, adalah terbatasnya penyerapan bahan aktif ke dalam jaringan benih sehingga pengaruhnya terhadap OPT yang sudah ada dalam benih kurang berhasil. Inovasi yang sudah ada perlu diperbaiki untuk menghasilkan perlindungan yang lebih optimal, antara lain denganmetode “seed priming”, yaitu merendam benih di dalam larutan bahan aktif sampai benih mengembang sehingga bahan aktif akan lebih banyak diserap oleh benih. Metode “seed priming” cocok untuk perlakuan benih dengan bahan aktif berupa agens hayati, seperti mikroba endofit. Dalam pengembangannya, metode ini dapat mengombinasikan beberapa jenis agens hayati dan bahan pembawa, seperti bahan pengisi, pengikat, perekat, dan surfaktan untuk meningkatkan stabilitas formula selama penyimpanan dan keefektifannya di lapangan.Kata kunci: Perlakuan benih, hama, patogen, tanaman rempah danobat.
TEKNOLOGI TUMPANGSARI KARET - TANAMAN PANGAN: KENDALA DAN PELUANG PENGEMBANGAN BERKELANJUTAN / Technology of Rubber-Crop Intercropping: Constraints and Opportunities of Sustainable Development Sahuri Sahuri
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v38n1.2019.p23-34

Abstract

Rubber farmer income is not stable because the latex price is still fluctuative and tend to be low. The application of rubber-crop intercropping is one the strategies in increasing of land productivity and rubber farmer income. Farmers generally plant rubber with a standard single-row spacing of rubber (SR) 6-7 m x 3 m (475- 550 trees/ha), so the row-spacing area could be planted with crops up to 2 years. Furthermore, rubber canopy closure which cover surface of land could intensively reduce 55% of light intensity and 60% of crop yield. This paper explains about constraints and opportunities of development of rubber-crop intercropping technology to increase rubber farmer income and food production sustainability. One aspect that are concerned about is changing the standard single-row spacing (SR) to double-row spacing (DR). This aspect could be useful to enlarge the rubber spacing area land and thus the crops as intercropping could be properly planted. Crops are easier to get sunlight, temperature, and water if the crops are planted in DR system. However, population of rubber plant is slightly reduced and thus latex yield is also relatively declined comparing with SR system. Nevertheless, the DR system as rubber-crop intercropping has a good opportunity to develop for long term period, because light penetration area of 3-4 m from the row of rubber plant is still more than 80% on 8-9 years old of rubber plant. The development of rubber-crop intercropping technology could protect rubber farmers from fluctuation of rubber price and also enhance additional value. The analysis shows DR with upland rice, corn, and soybean is feasible to be developed with 1.98 of a marginal benefit cost ratio (MBCR).Keywords: Rubber, rubber spacing, intercropping, food-crops AbstrakPendapatan petani karet belum stabil karena harga lateks berfluktuasi dan cenderung rendah. Penerapan tumpangsari karet - tanaman pangan merupakan salah satu strategi dalam meeningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani karet. Petani umumnya menanam karet dengan sistem jarak tanam tunggal (JT) 6 - 7 m x 3 m (476 - 550 pohon/ha) sehingga lahan di antara tanaman karet hanya dapat ditanami tanaman pangan sampai tanaman pokok berumur 2 tahun. Selanjutnya tajuk tanaman karet sudah menutup permukaan lahan sehingga mengurangi intensitas cahaya sekitar 55% dan menurunkan hasil tanaman pangan sampai 60%. Tulisan ini membahas kendala dan peluang pengembangan teknologi tumpangsari karet - tanaman pangan dalam upaya peningkatan pendapatan petani dan produksi pangan secara berkelanjutan. Aspek yang menjadi perhatian dalam hal ini adalah mengubah sistem jarak tanam tunggal (JT) menjadi jarak tanam ganda (JG) agar ruang terbuka di antara tanaman karet lebih lebar untuk ditanami tanaman pangan sebagai tanaman sela. Pada areal di antara tanaman karet sistem JG, tanaman pangan lebih mudah mendapatkan sinar matahari, suhu, dan air, namun populasi tanaman karet sedikit berkurang, sehingga hasil lateks juga relatif berkurang dibanding tanaman karet sistem JT. Meski demikian, areal pertanaman karet sistem JG lebih berpeluang bagi pengembangan tumpangsari karet - tanaman pangan dalam jangka panjang, karena sampai tanaman karet berumur 8-9 tahun, penetrasi cahaya pada areal jarak 3-4 m dari barisan tanaman karet masih lebih dari 80%. Pengembangan teknologi tumpangsari karet - tanaman pangan dapat melindungi petani dari fluktuasi harga karet dan memberikan nilai tambah. Hasil analisis menunjukkan tumpangsari karet sistem JG dengan padi gogo, jagung, dan kedelai layak dikembangkan dengan marginal benefit cost ratio (MBCR) 1,98.Kata kunci: Karet, jarak tanam karet, tumpangsari, tanaman pangan
PERKEMBANGAN PERAKITAN VARIETAS DAN TEKNIK BUDI DAYA JAGUNG ANTIOKSIDAN SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL M Yasin HG; A. Haris Talanca; M Jana Mejaya
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v37n1.2018.p33-39

Abstract

ABSTRAKJagung antioksidan mengandung beta karoten pada endosperm yang bermanfaat untuk kesehatan, antara lain dapat mencegah buta dini (rabun/katarak), kerontokan rambut, memperkuat jaringan tubuh, dan mencegah gizi buruk pada anak balita. Kementerian Pertanian telah melepas tiga varietas jagung antioksidan kaya beta karoten, dua dari jenis bersari bebas (varietas Provit A1 dan Provit A2) dan satu dari jenis hibrida (varietas Bima Provit A1) masing-masing dengan kadar beta karoten 155,3-281,6% lebih tinggi dari jagung biasa. Potensi hasil jenis bersari bebas dapat mencapai 7,36 t/ha dan jenis hibrida 9,85 t/ha. Budi daya jagung antioksidan sama dengan jagung biasa. Aspek yang perlu mendapat perhatian adalah isolasi jarak tanaman, minimal 300 m, dan isolasi waktu tanam 3 minggu setelah tanam dengan tanaman jagung biasa. Hal ini diperlukan untuk menghindari xenia effect, yaitu pengaruh tepungsari jagung biasa yang menyerbuki jagung antioksidan sehingga kadar antioksidannya akan menurun dan statusnya kembali sama dengan jagung biasa. Hasil panen dapat dijadikan bahan baku industry berbagai makanan olahan bergizi tinggi. Pengembangan jagung antioksidan, terutama di Kawasan Timur Indonesia perlu peran pemerintah setempat dalam upaya mempercepat adopsi oleh petani.Kata kunci: Jagung, antioksidan, beta karoten, pangan fungsional ABSTRACTAntioxidant maize contains beta carotene in the endosperm that is beneficial for health, such as can prevent early blindness (blindness / cataract), hair loss, strengthen body tissues, and prevent malnutrition in children under five. The Ministry of Agriculture has released three varieties of beta-carotene-rich antioxidant maize, two of the free-range (Provit A1 and Provit A2) varieties and one of the hybrid varieties (Bima Provit A1) each with carotene beta levels of 155.3 to 236.6 % higher than ordinary corn. The potential of free pollen type yield can reach 7.36 t / ha and hybrid type 9.85 t / ha. The cultivation of antioxidant corn is the same as ordinary corn. Aspects that need attention are isolation of plant spacing, at least 300 m, and isolation of planting time 3 weeks after planting with ordinary corn crops. This is necessary to avoid the xenia effect, which is the effect of ordinary corn corn that pollinate antioxidant corn so that its antioxidant levels will decrease and its status is the same as ordinary corn. Yields can be used as industrial raw materials of various highly processed nutritious foods. Development of antioxidant maize, especially in Eastern Indonesia needs the role of local government in an effort to accelerate adoption by farmers.Keywords: Maize, antioxidant, beta caroten, functional food.
STATUS CEMARAN DAN UPAYA PENGENDALIAN AFLATOKSIN PADA KOMODITAS SEREALIA DAN ANEKA KACANG Wisnu Broto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v37n2.2018.p81-90

Abstract

Cereals and nuts commodities play a major role in present and future human consumption patterns. Increased production of these commodities that have been achieved will not mean when both are not safe for consumption. Aflatoxin contamination is one of the food safety indicators that determine consumer acceptance. The high prevalence of aflatoxicosis in South and Southeast Asia are 81% and 54% respectively implies high aflatoxin contamination of cereals and nuts consumed in the area. Aflatoxin contamination in Indonesia, especially in corn and peanut is detected more than 20 ppb, so it needs attention for the handling and controlling. The technology for reducing or eliminating aflatoxin contamination in food products up to 97% has been generated from many studies. The application of such technology is commercially constrained by aspects of the procedural complexity and limitations of industrial support devices from upstream to downstream. Aflatoxin contamination in addition to adversely affecting health also causes economic losses of the commodities concerned, but the regulatory limitations vary greatly. Indonesia sets the maximum limit of aflatoxin on cereals and nuts relatively higher (20 35 ppb) than any other country in the world, so it needs to be re-examined through multidisciplinary research and conprehensive studies to be scientifically tested with economic and political considerations to deal with the increasingly competitive competition in the global market.Keywords: Cereals, various nuts, aflatoxin, food safety AbstrakKomoditas serealia dan aneka kacang memegang peran penting dalam konsumsi pangan pada saat ini dan ke depan. Peningkatan produksi komoditas tersebut tidak berarti manakala tidak aman dikonsumsi. Cemaran aflatoksin merupakan salah satu indikator keamanan pangan yang menentukan penerimaan konsumen. Prevalensi aflatoksikosis yang tinggi di Asia Selatan (81%) dan Asia Tenggara (54%) menyiratkan masih tingginya cemaran aflatoksin pada produk serealia dan aneka kacang yang dikonsumsi. Cemaran aflatoksin di Indonesia, khususnya pada jagung dan kacang tanah, terdeteksi lebih dari 20 ppb, sehingga perlu penanggulangan serius. Teknologi pengurangan atau penghilangan cemaran aflatoksin hingga 97% pada produk pangan telah banyak dihasilkan dari berbagai penelitian. Penerapan teknologi tersebut secara komersial terkendala dari aspek kerumitan prosedural dan keterbatasan perangkat pendukung industrial dari hulu hingga hilir. Cemaran aflatoksin selain berdampak negatif pada kesehatan juga menyebabkan kerugian ekonomi, namun pengaturan batasannya sangat beragam. Indonesia menetapkan batas maksimum aflatoksin pada serealia dan aneka kacang relatif tinggi (2035 ppb) daripada negara lain, sehingga perlu dicermati kembali melalui penelitian komprehensif multidisiplin agar lebih teruji secara ilmiah dengan pertimbangan ekonomis dan politis untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat di pasar global.Kata kunci: Serealia, aneka kacang, aflatoksin, keamanan pangan.
PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN PADI BERWAWASAN LINGKUNGAN MELALUI PENGELOLAAN KOMPONEN EPIDEMIK Bambang Nuryanto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v37n1.2018.p1-8

Abstract

                                                          ABSTRAKControl of rice diseases still rely on the use of synthetic chemical pesticides are relatively expensive so that control costs increase, reaching 25% of total production costs. In addition, the use of pesticides has been proven to pollute the environment, especially if applied in an uncontrolled manner. Environmental manipulation or ecological engineering has the potential to suppress the development of plant diseases. This can be done by selectively managing the cultivated components, including the selection of resistant varieties, the use of healthy seeds, perfect soil preparation, the use of organic materials, the simultaneous cultivation at the right time, balanced fertilization and regulation of irrigation crops. In addition to effective, disease control technology based on epidemic components can also reduce production costs by 60% and reduce the yield rate of rice up to 30%. Application of environmentally friendly disease control technology has many advantages in supporting the growth of rice plants. Development of ecology-based rice disease control technology at farmer level require field supervision or through a comprehensive field school.Keywords: Rice plant, disease control, ecology, epidemic ABSTRAKPengendalian penyakit tanaman padi hingga kini masihmengandalkan penggunaan pestisida kimia sintetik yang relatifmahal sehingga biaya pengendalian meningkat, mencapai 25% daritotal biaya produksi. Selain itu, penggunaan pestisida sudah terbuktimencemari lingkungan, terutama jika diaplikasikan secara tidakterkendali. Manipulasi lingkungan atau rekayasa ekologi berpeluangmenekan perkembangan penyakit tanaman. Hal ini dapatdilakukan dengan mengelola komponen budi daya secara selektif,di antaranya pemilihan varietas tahan, penggunaan benih sehat,pengolahan tanah sempurna, penggunaan bahan organik,keserempakan tanam pada waktu yang tepat, pemupukanberimbang dan pengaturan pengairan tanaman. Selain efektif,teknologi pengendalian penyakit berdasarkan komponen epidemikini juga dapat menekan biaya produksi hingga 60% dan mengurangitingkat kehilangan hasil padi sampai 30%. Penerapan teknologipengendalian penyakit ramah lingkungan ini memiliki berbagaikelebihan dalam mendukung pertumbuhan tanaman padi.Pengembangan teknologi pengendalian penyakit tanaman padiberbasis ekologi di tingkat petani memerlukan pendampingan dilapangan atau melalui sekolah lapangan yang komprehensifKata kunci: Padi, pengendalian penyakit, ekologi, epidemik
PEWARISAN GEN SAPI KEMBAR: PELUANG PENINGKATAN POPULASI DI INDONESIA / The Inheritance of Twinning Gene in Cattle: Option for Population Improvemnet in Indonesia Bess Tiesnamurti
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v38n1.2019.p35-46

Abstract

The evidence of cattle with twinning birth is reported over the world, as well as in Indonesia, with the frequency in dairy cattle is a bit higher compared to beef cattle (4ƒ{10% : 1%). The heritability of twinning cattle is considered to be low, so does for the repeatability. This paper outlines the inheritance of twin born cattle, its geographic distribution and utilization for population accelaration as well as its contribution for meat supply. In Indonesia, twin born cattles are reported in 11 provinces and occured in Ongole crossbred (PO), Bali, Angus, Aceh, SimmentalxPO crossbred, LimousinexPO crossbred and FH breeds. The occurence of cattle with twinning birth in dairy and beef cattle is around 27.250 and 165.990 heads, with estimation 13.625 and 82.995 heads of dairy and beef cows, respectively. The optimistic scenario is expected to deliver 19.735 and 71.406 heads of dairy and beef calves every year, whereas pesimistic scenario resulting the birth of dairy and beef calves of 10.306 and 50.875 heads, respectively. These scenarios contribute to 2,6% and 1,8% of national calves born (3.500.000 heads every year) for optimistic and pesimistic scenarios, respectively, indicating that twinning genes in cattle do not significantly contribute to the addition of calves born in Indonesia. Several efforts to maintain the the population of twin born cattle can be conducted through option such as a) to maintain the twin born cattle population to the institution belongs to government or private; b) to allow farmers to raise the twin born cattle and c) to empower local farmers association as a networking who raise the twin born cattle. Eventhough the twin born calves contribution is low for national calves born, however, it is suggested to keep the genetic values for further requirement in the future, to provide technologies for early identification or moleculer of twinning cattle carriers as well as to explore the genetic potential for further development. In the future, development of the twinning cattle can be conducted through frozen sperm distribution for artificial insemination.Keywords: Beef cattle, dairy cattle, gene for twinning, heritability AbstrakSapi dengan potensi beranak kembar memiliki frekuensi kelahiran lebih tinggi pada sapi perah (410%) dibanding sapi potong (1%). Laju pewarisan (heritabilitas) sifat kelahiran kembar sangat rendah, demikian pula dengan laju pengulangan (ripitabilitas). Tulisan ini membahas sifat pewarisan gen sapi beranak kembar di Indonesia, distribusi sapi dengan potensi gen kelahiran kembar, peluang pemanfaatannya bagi peningkatan populasi dan penyediaan daging sapi. Di Indonesia, kelahiran kembar sapi terdapat di 11 provinsi dan terjadi pada rumpun sapi PO, Aceh, Bali, FH, persilangan Aberden Angus, persilangan Simmental x PO, persilangan Limousine x PO. Gen beranak kembar sapi perah dan sapi potong berturut turut diperkirakan sekitar 27.250 ekor dan 165.990 ekor, dimana populasi sapi betina sekitar 13.625 dan 82.995 ekor untuk sapi perah dan sapi potong. Skenario optimis pemanfaatan gen sapi kembar , diharapkan dapat memberikan angka kelahiran sebanyak 19.735 dan 71.406 ekor, berturut-turut untuk sapi perah dan sapi potong. Sementara skenario pesimis menghasilkan kelahiran anak sapi perah dan sapi potong, berturut-turut sejumlah 10.306 dan 50.875 ekor. Kedua skenario tersebut menyumbang 2,6% (optimis) dan 1,8 % (pesimis) dari total kelahiran per tahun (3.500.000 ekor). Keberadaan sapi beranak kembar di Indonesia belum memberikan sumbangan nyata bagi peningkatan populasi, akan tetapi perlu dipertahankan keberadaannya. Berbagai usulan yang dapat dilakukan untuk mempertahankan populasinya antara lain: a) pengumpulan di satu tempat, baik milik pemerintah atau swasta yang tertarik memelihara dan melakukan pengamatan dengan biaya yang sangat mahal; b) pemeliharaan sapi kembar diserahkan kepada peternak dengan konsekuensi sewaktu waktu akan punah karena keterbatasan kemampuan membiayai pemeliharaan, c) membentuk kelompok peternak pemelihara sapi kembar sebagai sarana pertukaran informasi. Namun demikian, eksplorasi sifat genetik perlu terus dilakukan baik secara konvensional maupun secara molekuler, sementara pengembangan sapi kembar dapat dilakukan melalui pembuatan semen beku yang diimplementasikan dengan teknologi inseminasi buatan.Kata Kunci: Sapi potong, sapi perah, gen beranak kembar, heritability.
EPIDEMIOLOGI DAN PENGELOLAAN PENYAKIT LAYU BAKTERI PADA TANAMAN JAGUNG Nurasiah Djaenuddin; Amran Muis
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v37n2.2018.p41-48

Abstract

Maize is one of the most important worldwide agricultural crops that their seed is considered a valuable international trading item. The seeds are mainly originated from United States, where the world most intensive development of new varieties occurs. Pantoea stewartii is a pathogenic bacteria of maize that occurs primarily in the US. Stewart wilt disease in maize caused by the bacterium Pantoea stewartii is become a new disease of maize in Indonesia. The stewart wilt disease was first reported in West Sumatra with the disease incidence of 1−15%. This paper discusses the epidemiology and control efforts of the bacterial stewart wilt disease in maize. Stewart wilt disease is a seed borne disease and it can transmitted by insect vector Chaetocnema pulicaria. P. stewartii has a wide host range including maize plant. In addition to maize plants, the pathogen also attacks sugarcane, sorghum, wheat, green beans, cucumbers, and several types of grasses. The abundant availability and wide range of its hosts, allows the pathogen to easily find the host to survive and develop. P. stewartii attacks maize in all stages of plant growth. The emergence of this disease on maize plant is mainly due to imported seeds from outside of Indonesia. Seed is the most suitable carrier media for pathogens to spread across its natural boundaries. One of the efforts to prevent the outbreak of the disease in Indonesia is to control its insect vectors. Several efforts that can be done to control the disease are environmental sanitation and by chemical pesticides with active ingredient such as imidacloprid, thiamethoxam, and clothianidin.Keywords: Maize, Pantoea stewartii, host plant, seed treatment AbstrakJagung merupakan salah satu komoditas pangan dan pakan penting dunia dan benihnya diperdagangkan secara internasional. Volume tertinggi perdagangan benih jagung berasal dari Amerika Serikat yang merupakan negara penghasil utama varietas unggul baru jagung di dunia. Pantoea stewartii adalah bakteri patogenik penting pada tanaman jagung, khususnya di Amerika Serikat. Penyakit layu stewart pada tanaman jagung disebabkan oleh bakteri Pantoea stewartii yang merupakan penyakit baru di Indonesia. Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Sumatera Barat dengan insidensi 1−15%. Makalah ini membahas epidemiologi dan upaya pengendalian penyakit layu bakteri stewart pada tanaman jagung. Penyakit layu stewart merupakan penyakit tular benih dan tular serangga melalui vektor Chaetocnema pulicaria. P. stewartii memiliki inang yang luas, termasuk tebu, sorgum, gandum, kacang hijau, mentimun, dan beberapa jenis rumput-rumputan. Melimpahnya ketersediaan inang menjadikan patogen ini mudah dan cepat berkembang. Penyakit layu bakteri stewart pada tanaman jagung dapat berasal dari benih impor. Benih merupakan media pembawa penyakit yang paling efektif dan menyebar luas dengan melintasi batas alaminya. Salah satu upaya untuk mencegah wabah penyakit layu stewart ialah mengendalikan serangga vektor. Sanitasi lingkungan dan penggunaan pestisida berbahan aktif imidacloprid, thiamethoxam, dan clothianidin merupakan alternatif pengendalian.Kata kunci: Jagung, Pantoea stewartii, tanaman inang, perlakuan benih
POTENSI DAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN KOMODITAS AREN SEBAGAI PRODUK PANGAN DAN NONPANGAN / Potential and Technology Processing of Palm Sugar Commodity As Food and Non-Food Products Barlina, Rindengan; Liwu, Suzanne; Manaroinsong, Engelbert
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p35-47

Abstract

The area of palm sugar plantations in Indonesia is estimated at 61,924 ha, which is spread over 26 provinces. The area of palm sugar plants increased by an average of 2.0% per year with a production growth rate of 1.9% per year. Generally, the main product expected is the neera (which is tapped from spadix). In its development, other parts of the sugar palm plant began to be glimpsed, because it has an impact on increasing the added value of commodities. This paper aims to express the potential of palm sugar as a source of raw materials for processing various products, especially food products. Like just a coconut plant, the sugar palm plant can also be dubbed the tree of life because all parts can be utilized. Neera as the main product, whose production can reach 8-22 liters/tree/day is the raw material for processing sugar. Besides that it can be processed into palm wine and soft drinks. Palm stems (pith parts) can be processed into starch and production can reach 60-70 kg / tree. Sugar palm starch can substitute flour in the processing of biscuits, MP-ASI, noodles and as raw material for edible films. Whereas the fruit can be processed into the kolang kaling and can be further processed into various products. Food product processing technology from palm sugar is available, so it is expected to increase the variety of food products, while improving consumer health and farmers’ incomes.Keywords: Sugar palm, potential, processing, product AbstrakLuas areal tanaman aren di Indonesia diperkirakan 61.924 ha yang tersebar pada 26 propinsi. Areal tanaman aren bertambah rata-rata 2,0% dengan laju pertumbuhan produksi 1,9% per tahun. Produk utama yang diharapkan dari aren adalah nira yang disadap dari mayang. Dalam perkembangannya, bagian-bagian lain dari tanaman aren mulai dilirik, karena juga memiliki nilai tambah. Naskah ini mengemukakan potensi tanaman aren sebagai sumber bahan baku berbagai produk, terutama pangan. Seperti halnya kelapa, tanaman aren juga dapat dijuluki sebagai tanaman serbaguna karena semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan. Nira sebagai produk utama aren memiliki produktivitas antara 8-22 liter/pohon/hari dan merupakan bahan baku gula cetak, gula cair, dan gula semut. Selain itu, nira aren dapat diolah menjadi palm wine dan minuman ringan. Batang aren (bagian empulur) dapat diolah menjadi pati dengan produktivitas 60-70 kg/pohon. Pati aren dapat mensubstitusi tepung terigu dalam pembuatan biskuit, makanan pelengkap air susu ibu, mie, dan bahan baku edible film. Buah aren umumnya diolah menjadi kolang kaling dan dapat diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk. Teknologi pengolahan produk pangan dari aren telah tersedia, yang diharapkan dapat menambah keragaman produk pangan, sekaligus meningkatkan kesehatan konsumen dan pendapatan petani.Kata kunci: Aren, potensi, pengolahan, produk
SPICES PLANT AS BIOINSECTICIDES FOR CONTROLLING MAIZE WEEVIL SITOPHILUS ZEAMAIS (MOSTCH) Pemanfaatan Tanaman Rempah sebagai Pestisida Nabati untuk Penanggulangan Hama Kumbang Bubuk Jagung Sitophilus zeamais (Mostch) Ayyub Arrahman; Muhammad Sudjak Saenong
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p1-10

Abstract

Indonesia has numerous and varied natural resources of spices plant which grow at almost all theregions. These plants can grow and adapt to the slightly diverse agroecological conditions and agroecosystems, from dry to wet. In general, the utilization of these plants by the community is still limited as ingredients and spices for culinary and flavoring instead of the potential of bioactive compounds contained therein. These resourcesare very useful and effective utilized asbioinsecticides to eradicate plant pests and diseases, as well as medicine for human. This paper discussed the benefits and efficacy of several spiceplants, namely lemongrass, shallots, garlic, sweet and chili peppers, clove, sand ginger (kencur), and pepper as herbicides at various levels of dosage and treatments. This manuscript also discussed the constraints and development strategies, and aimed to provide information on the science and technology in controlling the Sitophilus zeamais (Motsch) pests in corn kernels during the storage period. It is expected that this paper would be useful for the policy makers, academicians, researchers and practitioners who have the competence to deal with beetle pest problems.Keywords: Spices, bioinsecticides, Sitophilus zeamais (Motsch), controlling AbstrakTanaman rempah yang tumbuh di hampir seluruh wilayah Indonesia sangat beragam. Tanaman ini beradaptasi pada berbagai agroekologi dan agroekosistem, mulai dari wilayah beriklim kering sampai beriklim basah. Pemanfaatan tanaman ini oleh masyarakat umumnya masih terbatas sebagai bahan rempah dan bumbu kuliner, penyedap masakan dan cita rasa, padahal senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya potensial sebagai pestisida nabati untuk membasmi hama penyakit tanaman dan bahan obat kesehatan manusia. Tulisan ini membahas manfaat dan kemanjuran dari beberapa tanaman rempah, yakni tanaman sereh, bawang merah, bawang putih, lombok merah, cengkeh, kencur, dan lada sebagai pestsisida nabati dalam berbagai dosis dan ragam perlakuan. Kendala dan strategi pengembangan pestisida nabati bagi penggulangan hama kumbang bubuk perlu mendapat perhatian yang tidak saja untuk kepentingan masyarakat luas, namun diperlukan sebagai informasi ilmu dan teknologi penanganan hama secara terpadu.Kata kunci: tanaman rempah, bioinsektisida, hama kumbang bubuk, pengendalian
PERKEMBANGAN PEMANFAATAN, REGULASI, DAN METODE DETEKSI PRODUK REKAYASA GENETIKA PERTANIAN DI INDONESIA / Development of Utilization, Regulation, and Detection Methods of Agricultural Genetically Modified Products in Indonesia Bahagiawati Bahagiawati; Toto Hadiarto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p61-71

Abstract

Genetically modified crops (GM crops) have developed very fast globally, although to date controversies over the GM crop uses are still occurring. GM crops have been planted on over 191.7 million hectare area and cultivated in 26 countries in five continents. Biosafety of GM crops both globally and domestically are guaranteed through regulations made at the level of law, government regulations, related ministrial regulation including the guidelines. In general, those regulations have been implemented, thus the biosafety of GM crop utilization is guaranteed in Indonesia. Unfortunately, although Indonesia gave a certification for released permit for drought tolerant sugarcane, it only grown in a limited areas belongs to state-owned agricultural company (PTPN XI). The country has certified 27, 7, and 16 GM events for food, feed, and seeds for environment safety, respectively. The implementation of these regulations needs a monitoring system that is equipped with facilities of GMO detection laboratory with adequate capacity. Indonesia has several such laboratories. The methods of GMO detections have developed from very basic techniques, i.e. qualitative screening to the determination of specific events that define the type of trait of GMO, even quantitative detection, both single and multiplex. Each method has its own advantages. The capacities of GMO detection laboratory in Indonesia still need to be upgraded to master the fast-developing technology. The purpose of this review is to provide information on the development of global GM crops utilization including in Indonesia and the development of regulations and detection methods with their prospects and challenges.Keywords: Genetics, modification, regulation, detection methods AbstrakPemanfaatan tanaman produk rekayasa genetik (PRG) telah berkembang cepat dan mendunia walaupun sampai saat ini masih terjadi kontroversi. Luas penanamannya telah mencapai 191,7 juta ha dan ditanam oleh 26 negara di lima benua. Keamanan hayati PRG secara global maupun domestik telah dijamin oleh peraturan pada tingkat undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan kementerian terkait, dan pedoman pelaksanaannya. Secara umum peraturan peraturan tersebut telah dijalankan sehingga keamanan hayati dari pemanfaatan PRG terjamin di Indonesia. Sayangnya di Indonesia PRG yang sudah diberi izin edar hanya ditanam secara terbatas seperti tebu toleran kekeringan di beberapa kebun milik PTPN. Indonesia juga telah memberikan sertifikat aman hayati pada beberapa varietas PRG diantaranya 27 PRG pangan, tujuh PRG pakan, dan 16 PRG benih (lingkungan). Implementasi peraturan yang telah ada memerlukan sistem pengawasan yang dilengkapi dengan fasilitas laboratorium deteksi PRG dengan kapasitas yang memadai. Indonesia telah mempunyai beberapa laboratorium tersebut. Metode deteksi PRG telah berkembang dari teknik yang sangat mendasar yaitu deteksi untuk skrining kualitatif PRG sampai teknik penentuan spesifik event yang menetapkan jenis/sifat PRG, bahkan teknik deteksi secara kuantitatif yang bersifat tunggal maupun multiplex. Metode-metode deteksi tersebut memiliki keunggulan masing-masing. Laboratorium penguji PRG di Indonesia masih perlu ditingkatkan kemampuannya dengan penguasaan teknologi yang berkembang dengan pesat. Makalah ini memberikan informasi perkembangan pemanfaatan PRG global termasuk di Indonesia dan perkembangan regulasi dan metode deteksi serta prospek dan tantangan.Kata kunci: Genetika, rekayasa, regulasi, metode deteksi

Page 11 of 23 | Total Record : 221