Jurnal Amanat Agung
Jurnal Amanat Agung diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Amanat Agung dalam rangka turut mengembangkan dan memajukan penelitian di bidang ilmu teologi, yang mencakup sub-bidang 1. biblika; 2. teologi sistematika; 3. historika; dan 4. praktika, termasuk pendidikan Kristen, musik gerejawi dan ibadah, serta studi interkultural. Hasil penelitian yang dituangkan dalam artikel jurnal diharapkan dapat memberi sumbangsih bagi peningkatan kualitas pendidikan dan pemahaman teologi serta pelayanan Kristen, termasuk menawarkan solusi bagi permasalahan masyarakat baik di tingkat nasional maupun regional. Namun, penulis dan pembaca serta mitra bebestari yang terlibat tidak dibatasi hanya berasal dari Indonesia maupun regional, melainkan berasal dari manca negara (internasional).
Articles
314 Documents
MEMBACA MARKUS 10: 46-52 “YESUS MENYEMBUHKAN BARTIMEUS” DENGAN LENSA TAFSIR NARATIF
Situmorang, Sari Asi;
Sihotang, Eleven
Jurnal Amanat Agung Vol 19 No 2 (2023): Jurnal Amanat Agung Vo. 19 No. 2 Desember 2023
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47754/jaa.v19i2.624
Pembacaan terhadap Markus 10: 46-52 tentang Yesus menyembuhkan Bartimeus dengan mengggunakan lensa tafsir naratif bertujuan untuk menemukan makna keberpihakan Yesus kepada kelompok termarginal. Alasan pemilihan teks Markus 10: 46-52 dikarenakan perikop yang memaparkan tentang kisah sehingga menarik untuk dilihat dengan menggunakan lensa naratif. Adapun rangkaian dalam tulisan ini terdiri dari pendahuluan, pembahasan dan kesimpulan. Pada bagian pembahasan, perikop dibagi dalam tiga adegan yang dianggap menjadi bagian penting dalam teks. Hasil-hasil pembacaan teks meliputi keberpihakan Yesus kepada termarginal atau menjadi “tongkat” dalam pelayanan Yesus, memperlihatkan sikap sebagai orang yang memerlukan bantuan, hal mengikut Yesus mesti menunjukkan ketulusan dan meyakini bahwa hanya dengan iman makas semua bisa terjadi.
PERAN GURU KRISTEN SEBAGAI TRANSFORMATIONAL LEADER DALAM PROSES PEMBENTUKAN IDENTITAS DIRI MURID DI SEKOLAH BCS
Januari, Vivian;
Wibawanta, Budi
Jurnal Amanat Agung Vol 19 No 2 (2023): Jurnal Amanat Agung Vo. 19 No. 2 Desember 2023
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47754/jaa.v19i2.648
Pembentukan identitas diri merupakan salah satu fase penting dalam hidup remaja yang sangat dipengaruhi oleh kehadiran orang dewasa di sekitar remaja. Orang dewasa terdekat bagi remaja adalah orang tua. Akan tetapi, ada banyak faktor yang menjadi penghambat orang tua tidak dapat berperan secara optimal dalam mendukung proses pembentukan identitas diri remaja. Oleh karena itu, sekolah sebagai tempat kedua setelah rumah di mana remaja banyak menghabiskan waktunya harus melihat kondisi ini sebagai pintu masuk untuk mendukung proses pembentukan identitas diri remaja. Guru sebagai orang dewasa bukan orang tua memiliki kesempatan yang besar untuk hadir di tengah kehidupan remaja (murid sekolah) dan dapat berperan dalam proses pembentukan identitas diri remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri peran guru kristen sebagai transformational leader dalam proses pembentukan identitas diri murid di sekolah BCS. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mewawancarai delapan guru dan sembilan murid di SMP dan SMA BCS di Manado. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Peran guru kristen harus melekat pada identitasnya sebagai murid Kristus; (2) Sebagai transformational leader, guru harus membangun relasi dengan murid dan menjadi gembala bagi muridnya; dan (3) Guru harus menjadi sahabat bagi murid untuk terlibat dalam proses pembentukan identitas diri murid.
DARI “EPISTATA” KEPADA “KURIOS”: STUDI NARATIF TEOLOGIS PENGAKUAN PETRUS BERDASARKAN LUKAS 5:1-11
Pattinaja, Aska Aprilano
Jurnal Amanat Agung Vol 19 No 2 (2023): Jurnal Amanat Agung Vo. 19 No. 2 Desember 2023
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47754/jaa.v19i2.653
Dalam narasi Lukas 5:1-11, terdapat sebuah perubahan sapaan dan pengakuan yang dilakukan oleh Petrus kepada Yesus. Perubahan ini, muncul dari panggilan “epistata” yang artinya guru kepada “Kurios” yang artinya Tuan yang juga merujuk kepada Tuhan. Perubahan panggilan ini sangat menarik, sehingga harus diteliti secara spesifik. Dalam penelusuran literatur, fenomena ini, kadang terabaikan karena pembahasan lebih difokuskan kepada konteks keseluruhan narasi. Berdasarkan metode kualitatif, studi naratif teologis, maka penelitian ini menemukan tiga nilai penting dari perubahan panggilan Petrus ini, yakni : pertama, pengenalan akan keilahian Yesus; kedua, kesadaran akan dosa dan ketidaklayakan diri; dan ketiga panggilan untuk menjadi murid yang mengikuti Tuhan. Hasil penilitian ini memberikan pengetahuan dan informasi kepada orang percaya, dan memperkaya eksplorasi biblika.
PROVIDENSIA ALLAH DALAM CATATAN PENIPUAN EHUD:
Malau, Andre;
Corputty, Donny Novi
Jurnal Amanat Agung Vol 20 No 1 (2024): Jurnal Amanat Agung Vol. 20 No. 1 Juni 2024
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47754/jaa.v20i1.651
Kisah Ehud sebagai Hakim terpilih menimbulkan polemik terhadap doktrin providensia Allah, yaitu adanya catatan penipuan Ehud dalam membunuh Raja Eglon. Penipuan Ehud dalam menjalankan tugas sebagai Hakim yang dipilih Allah sangat kontradiktif dengan natur Allah sebagai kebenaran yang tidak mungkin menipu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis kualitatif dengan metode hermeneutik. Secara spesifik menggunakan kajian narasi sebagai bentuk murni teks Hakim-Hakim 3:12-30. Hasil kajian narasi Hakim-Hakim 3:12-30 ialah keberhasilan Ehud dalam konteks providensia Allah bagi Israel selaras dengan penggambaran Eglon seorang tiran yang rakus akan kekuasaaan sehingga layak dihukum Allah. Kesimpulan yang diperoleh ialah Narasi dalam Hakim-Hakim 3:12-30 dengan konsisten memperlihatkan providensia Allah bagi umat-Nya.
MEMBACA PERUMPAMAAN ANAK YANG HILANG DALAM KONTEKS RETURN FROM EXILE:
Golo, Pephy Nengsi;
Christopher, Dany
Jurnal Amanat Agung Vol 20 No 1 (2024): Jurnal Amanat Agung Vol. 20 No. 1 Juni 2024
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47754/jaa.v20i1.652
Penelitian ini akan membahas eksegesis Yeremia 31: 18-20 sebagai latar belakang perumpamaan anak yang hilang dalam konteks return from exile Penelitian ini berangkat dari ditemukannya adanya perbedaan tafsir di antara para sarjana biblika dan penulis populer dengan satu tafsir dari N.T Wright dalam membaca perumpamaan anak yang hilang. Wright menuliskan jika perumpamaan anak yang hilang dapat dilihat sebagai restorasi bangsa Israel, yang mana digambarkan sebagai anak bungsu yang pergi ke negeri jauh, mengalami berbagai kesulitan dan akhirnya kembali ke rumah bapanya (tanah perjanjian). Penelitian ini akan menggunakan metode pendekatan intertekstualitas dengan memakai bentuk gema tematis. Dalam penelitian ini nantinya akan menganalisis teks dari Perjanjian Lama yang terkait return from exile dan kemudian hasil analisis tersebut akan didialogkan dengan teks perumpamaan anak yang hilang. Akhirnya, penelitian ini menemukan adanya tema return from exile dalam perumpamaan anak yang hilang.
HUBUNGAN HUBUNGAN FAKTOR DEMOGRAFI DAN KARAKTERISTIK DENGAN TINGKAT SPIRITUALITAS PELAYANAN GEREJA KRISTUS YESUS DI JAMBI
Subagio, Subagio;
Tanadi, Lindawaty
Jurnal Amanat Agung Vol 20 No 1 (2024): Jurnal Amanat Agung Vol. 20 No. 1 Juni 2024
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47754/jaa.v20i1.656
Background: The study of factors influencing the level of spirituality in the context of the church holds significant relevance in understanding the dynamics of the congregation's spiritual life. Gereja Kristus Yesus (GKY) in Jambi serves as an intriguing research site to explore the relationship between demographic factors and congregation characteristics with the level of spiritual service. This research aims to identify the relationship between demographic factors and congregation characteristics with the spiritual service level at GKY Jambi and provide deeper insights into the dynamics of spirituality within the church environment. Methods: This study employs a quantitative approach by collecting data through questionnaires distributed to members of the GKY Jambi congregation. The data were then analyzed using statistical techniques, including regression analysis and ANOVA, to evaluate the relationship between independent variables (demographic factors and congregation characteristics) and the dependent variable (level of spirituality). Results and Discussion: The analysis results indicate a significant relationship between certain demographic factors (such as age and education) and congregation characteristics (such as participation in worship) with the level of spiritual service. However, other factors, such as gender and marital status, did not show significant relationships. Conclusion: This study concludes that demographic factors (age) and congregation characteristics (participation in worship and duration of church involvement) can influence the level of spiritual service within the context of Gereja Kristus Yesus in Jambi. These findings provide a deeper understanding of the dynamics of spirituality in the local church environment and can serve as a basis for developing more effective and relevant ministry programs.Demographic Factors, Congregation Characteristics, Level of Spirituality
APAKAH BERAGAMA ITU SEHARUSNYA MEMILIKI MOTIF ATAU TIDAK?
Pranoto, Minggus Minarto
Jurnal Amanat Agung Vol 20 No 1 (2024): Jurnal Amanat Agung Vol. 20 No. 1 Juni 2024
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47754/jaa.v20i1.657
Tulisan ini mendiskusikan pemikiran dua teolog yaitu A. Van de Beek dan Martin Luther King, Jr. mengenai: “Apakah agama itu seharusnya memiliki motif tersembunyi (ulterior motive) atau tidak?” Motif adalah alasan untuk melakukan sesuatu. Van de Beek menegaskan bahwa Gereja tidak perlu memiliki motif apa pun selain hanya berfokus kepada Allah saja. Karena dikuatirkan jika Gereja berurusan dengan persoalan-persoalan dunia seperti memperjuangkan pembebasan, emansipasi, transformasi sosial, kesehatan dan kejayaan, dan seterusnya maka Gereja dipengaruhi dengan motif tersembunyi yang salah dan menyesatkan. Gereja harus semurni mungkin dengan menjaga hidupnya yang terarah kepada Tuhan Allah saja. Sebaliknya King berkata jika Gereja ingin menjadi relevan maka mesti terlibat dengan pergumulan dunia ini. Tidak dibenarkan Gereja berpangku tangan sekadar menunggu perubahan di dalam waktu terhadap suatu tatanan sosial yang lebih baik. Gereja dalam kuasa Tuhan mesti peka dan berbela rasa terhadap masalah keadilan sosial. Gereja harus berjuang untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Metode yang dipakai dalam tulisan ini melalui memaparkan pandangan dua teolog di atas dan mendialogkannya serta kemudian menyajikan kesimpulan melalui memaparkan pendapat penulis. Pernyataan tesisnya adalah Gereja mesti tetap menjadi relevan dalam panggilan-Nya sembari tetap menjaga kemurnian motifnya melalui menyatakan karya-karyanya seturut dengan Kerajaan Allah.
MIMESIS DAN TEOSIS DALAM INJIL YOHANES
Barus, Armand
Jurnal Amanat Agung Vol 20 No 1 (2024): Jurnal Amanat Agung Vol. 20 No. 1 Juni 2024
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47754/jaa.v20i1.662
Salah satu perkembangan terakhir dalam studi Injil Yohanes adalah munculnya diskusi tentang etika Yohanes. Etika Yohanes yang sebelumnya diabaikan kini telah mendapat perhatian para ahli. Perubahan radikal itu disebabkan terutama dengan terbitnya monografi berjudul Rethinking the Ethics of John tahun 2012. Konsep mimesis yang dipahami banyak ahli biblika sebagai salah satu pilar penting dalam konstruksi etika PB ditelaah keberadaannya dalam Injil Yohanes. Telaah itu telah dilakukan oleh Cornelis Bennema dengan meneliti konsep mimesis dalam Injil Yohanes. Penelitian Cornelis Bennema telah menghasilkan temuan bahwa konsep mimesis adalah pusat etika Yohanes. Sebagai lanjutan terhadap penelitian Cornelis Bennema, artikel ini melakukan kajian terhadap hubungan konsep mimesis dan teosis dalam Injil Yohanes. Artikel ini dengan menggunakan metode eksegesis teologis mengusulkan bahwa mimesis terkait erat dengan teosis.
SATU BAGIAN ATAU DUA BAGIAN ATAU BUKAN KEDUANYA?
Arfianto, Denny
Jurnal Amanat Agung Vol 20 No 2 (2024): Jurnal Amanat Agung Vol. 20 No. 2 Desember 2024
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47754/jaa.v20i2.674
Studi kritik teks atas kata ‘appayim dalam 1 Samuel 1:5 dengan pendekatan Reasoned Eclecticism adalah sebuah usaha untuk untuk mengidentifikasi makna asli dari kata ini, serta alasan munculnya variasi interpretasi atas teks ini di dalam berbagai terjemahan Alkitab. Dua langkah utama yang dilakukan dalam studi ini adalah analisa eksternal atas teks-teks kuno, dan analisa internal atas tiap teks. Dari studi ini, ditemukan bahwa terjadi kesalahan yang tidak disengaja oleh penyalin teks, berupa kesalahan membaca dan menuliskan huruf Ibrani yang terlihat mirip, dan juga adanya kasus homoioteleuton. Hasil dari studi ini menolong pembaca perikop 1 Samuel 1 mengerti dan memahami alasan Elkana memberikan satu bagian kepada Hana.
PERAN DOA DI SAAT UMAT MENDERITA:
Musabani, Eleazar Levi
Jurnal Amanat Agung Vol 20 No 2 (2024): Jurnal Amanat Agung Vol. 20 No. 2 Desember 2024
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47754/jaa.v20i2.675
Penderitaan adalah fenomena alami yang dirasakan oleh manusia. Penderitaan yang dirasakan seseorang, tanpa sadar menggiring mereka kepada penurunan kualitas spiritual. Isu ini ditanggapi oleh Yakobus dengan memberikan nasihat untuk berdoa di tengah konteks penderitaan yang dialami oleh pembaca surat ini. Artikel ini berusaha menjawab perihal apa peran doa di tengah kondisi yang menderita. Penelitian ini akan menggunakan metode historical-grammatical dalam mengeksegesis teks Yakobus 1:2-8. Hasilnya menunjukkan bahwa doa berperan untuk meminta hikmat yang berguna untuk merespons penderitaan dengan bijaksana. Pembahasan ini memuncak ketika Yakobus menekankan aspek iman di dalam doanya. Para pembaca didorong untuk bisa berdoa dengan iman dan tidak goyah.