cover
Contact Name
Bandiyah
Contact Email
jurnaldikbud1@gmail.com
Phone
+6281288370671
Journal Mail Official
jurnaldikbud@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Sekretariat BSKAP Kemendikbud Gedung E, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta 10270 Telepon: (021) 57900405, Faksimile: (021) 57900405 Email: jurnaldikbud@kemdikbud.go.id; jurnaldikbud@yahoo.com
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
ISSN : 24608300     EISSN : 25284339     DOI : https://doi.org/10.24832/jpnk.v5i1.1509
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan is a peer-reviewed journal published by Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Agency for Research and Development, Ministry of Education and Culture of Republic of Indonesia), publish twice a year in June and December. This journal publishes research and study in the field of education and culture, such as, education management, education best practice, curriculum, education assessment, education policy, education technology, language, and archeology.
Articles 535 Documents
Pendidikan Keterampilan Kerja Bagi Warga Berkebutuhan Khusus Melalui Pelayanan Keliling di Pedesaan Haryanto --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 7 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i7.513

Abstract

This study aimed to investigate the intensity and effectiveness, the relationship between th intensity of a model service and skills, the effectiveness of the model service, and the effect of the model on people with special needs in terms of the work accuracy level with accurate products, work time accuracy, and work perfection with good results. This study was a research and development study. The research subjects were people with special needs in the productive age who have not held permanent jobs. The study was conducted in the area of Gunungkidul in the period of 2008-2009. The data were collected through observations, interviews, demonstrations, and tests. The data were analyzed by means of the mixed methods involving the quantitative and qualitative approaches. The quantitative data were analyzed by LISREL and the qualitative data by the interactive model. The result showed that the subject’s skill may changed tin a positive direction in accordance with intensity, the attitude change among people with special needs occur throgh optimal work, beside building intensity also need to remain the work accuracy and the time puretually, the impact of the model result for the people with special needs not only about having the work skill but phsycologically they felt noted, respected, and it raises their life spirit, to work and live independently. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensitas, efektivitas, hubungan antar intensitas pelayanan model dengan keterampilan, dan dampak model bagi warga berkebutuhan khusus. Subjek penelitian warga berkebutuhan khusus usia produktif. Lokasi penelitian di wilayah Gunungkidul, jenis penelitian Research and Development, dilaksanakan tahun 2008-2009. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, intervu, demonstrasi, dan tes. Analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diolah dengan program LISREL, data kualitatif dianalisis melalui model interaktif. Hasi penelitian menunjukkan bahwa keterampilan subjek dapat berubah dengan arah positif sesuai dengan berubahnya intensitas, terdapat perubahan perilaku warga berkebutuhan khusus melalui partisipasi masyarakat, didukung sarana dan prasarana yang memadai, untuk menjaga keterampilan kerja yang optimal, selain membangun intensitas juga perlu dijaga keakuratan kerja dan ketepatan waktu, dampak hasil model bagi warga berkebutuhan khusus tidak sekedar memiliki keterampilan kerja tetapi secara psikologis mereka merasa diperhatikan, dihargai, hal ini menumbuhkan semangat hidup berkarya, dan hidup mandiri.
Studi Jajak Pendapat Kebijakan Pendidikan Menengah Universal*) Subijanto --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 20 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v20i1.514

Abstract

The aims of polling study for universal secondary education is to gather responses from the society concerning on the implementation of universal secondary education policy by the Ministry of Education and Culture (MoEC). The method used in this study is polling and data collection using questionare. Respondents are chosen by using the purposive sampling technique. The result of the study shows that generally most of the stakeholders fully support the universal secondary education policy. This policy is viewed to be able: a) to overcome problems of inaccessible education by each secondary school age children due to economic, gheographic, and technology problems; b) to improve the vocationa secondary education graduate readinessm to work and to improve the national, regional, and local gross participation rate (APK); c) to improve the nation competitiveness, quality, and students capacity; d) to improve the compositionof general secondary school and vocational school in relation with the local needs; e) to increase fully needed financial support from central government, provincial government, and district/municipality government, societies including enterpreneurships and industries; and f) to improve the quality of teachers and administrators, educational facilities which are fully needed. Thus, the teaching model which are relevant to the studen’s needs and match the needs of industries and enterprices would be met. ABSTRAKStudi jajak pendapat (polling) tentang kebijakan pendidikan menengah universal (PMU) bertujuan untuk memperoleh tanggapan masyarakat terkait dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasikan program PMU. Studi dilakukan melalui jajak pendapat (polling) dengan membagikan kuesioner kepada responden. Pemilihan responden ditentukan dengan teknik purposive sampling. Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa secara umum sebagian besar masyarakat setuju terhadap kebijakan penyelenggaraan PMU dan bersedia membantu penyelenggaraan sosialisasi kebijakan PMU. Kebijakan ini dinilai dapat: a) menanggulangi kesulitan akses bagi setiap anak usia sekolah menengah karena faktor ekonomi, geografi, dan teknologi; b) meningkatkan kesiapan kerja bagi lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan dapat meningkatkan target angka partisipasi kasar (APK) di tingkat nasional/ provinsi/ kabupaten/kota secara bertahap; c) meningkatkan daya saing bangsa, mutu, dan daya tampung peserta didik; d) meningkatkan proporsi jumlah SMA:SMK sesuai potensi dan kebutuhan daerah; e) meningkatkan dukungan anggaran baik Pemerintah Pusat, pemerintah daerah dan masyarakat termasuk DUDI; f) meningkatkan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan serta fasilitas sarana prasarana sangat diperlukan, sehingga dukungan terhadap model pembelajara yang relevan dengan kebutuhan siswa dan kebutuhan lapangan kerja dapat terpenuhi.
Membentuk Karakter Siswa Melalui Keteladanan Guru Nurchaili --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 9 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i9.515

Abstract

The government made an effort to solve moral decadence problem by proclaiming “ Character Education” in every level of education. Character education is a holistic educational process that connects the moral dimension to the social realm in the students life as the foundation to establish quality generations who are able to live independently and have the truth principle that can be accounted for. Character is a “behavior” not a ‘knowledge’. So, in the practice of character education requires not only the theory or the concept its self, but also the direct model of the teacher. Therefore, it can be internalized by the students well because it is not only taught but also exemplified. The implementation of character education in schools is more accurate through modeling approaches, modeling (uswah) conducted by the teacher Teacher’s exemplary is needs to be created because a teacher is a central figure in th school that the students’ attention always for them. Teachers should really be an example not only the conveyor of science information, but also includes transfer’s activity of virtuous noble character personality in order to form student’s character as a national asset that will be the determinant of the existence of this nation. ABSTRAK Pemerintah berusaha menyikapi permasalahan dekadensi moral atau merosotnya karakter peserta didik dengan mencanangkan pendidikan karakter disetiap jenjang pendidikan. Pendidikan karakter merupakan suatu proses pendidikan secara holistik yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai pondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam praktiknya pendidikan karakter tidak hany membutuhkan teori atau konsep semata. Karakter merupakan perilaku (behaviour), bukan pengetahuan sehingga untuk dapat diinternalisasi oleh peserta didik, maka harus diteladankan bukan hanya diajarkan. Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah lebih tepat melalui pendekatan modeling, keteladanan (uswah) yang dilakukan oleh guru. Keteladanan guru perlu diciptakan karena gurulah sebagai tokoh sentral yang setiap saat menjadi perhatian peserta didik di sekolah. Guru harus benar-benar menjadi teladan bukan hanya sebata penyampai informasi ilmu pengetahuan, melainkan meliputi kegiatan mentransfer kepribadian yang berbudi pekerti luhur guna membentuk karakter peserta didik sebagai aset bangsa yang akan menjadi penentu eksistensi bangsa ini.
Revitalisasi Kurikulum Muatan Lokal Untuk Pendidikan Karakter Melalui Evaluasi Responsif Al Musanna
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 9 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i9.516

Abstract

This paper intent to elaborate Local Content Curriculum (LCC) development based on responsive evaluation. The main purpose of LCC is to bridge both school experience and student live experience. Additionally, by introducing local culture from early years to student, its used as an effective tools to conserve diversity of cultural heritage which has exist in Indonesian people. Unfortunately, some research indicated that application of LCC in school tend to emphasize for transfer of knowledge an-sich, and scope of local culture are narrowed. Local value as a lens of community to solve their problem less appreciated in developing LCC. Its cause LCC loss of relevance to prepare student to be an active participant in their community. In this sense, school leaders, teacher, and decision maker in education needs to collaborate with stakeholders to identify the local culture that can be use as foundation in character education by using responsive evaluation. ABSTRAK Kajian ini dimaksudkan untuk mengelaborasi pengembangan kurikulum muatan lokal dengan menggunakan evaluasi responsif sebagai pijakannya. Elan-vital kurikulum muatan lokal di sekolah dimaksudkan untuk meningkatkan relevansi pembelajaran dengan konteks sosial-budaya peserta didik dan diharapkan berperan dalam melestarikan khazanah keragaman budaya yang merupakan soko-guru kebudayaan nasional. Dalam aplikasinya, nilai dan budaya lokal yang menjadi isi pembelajaran di sekolah muatan lokal lebih menekankan transfer dan penguasaan pengetahuan yang mapan (established knowledge). Sehingga reinterpretasi dan revitalisasi kearifan lokal yang diharapkan menjadi basis pendidikan karakter tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Karenanya, evaluasi terhadap kearifan lokal dengan mempertimbangkan relevansinya dan melibatkan stakeholders, sebagaimana ditawarkan model evaluasi responsif, diyakini mampu memberi kontribusi dalam mempersiapkan peserta didik dalam menjawab berbagai tantangan. Pembahasan ini dilakukan melalui tinjauan literatur yang relevan sehingga diharapkan mampu memberi kontribusi konseptual dalam pengembangan kurikulum muatan lokal pada masa mendatang.
Televisi Mendidik Karakter Bangsa: Harapan dan Tantangan Oos M Anwas
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 9 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i9.517

Abstract

Character education is an effort to embed intelligence in thinking, appreciation in attitude, and practice in the form of behavior which is consistent with the values and norms as well as noble personality. Therefore we need inuring, modeling, and a conducive environment within family, school, community, and support from the mass media, especially television exposure. The school principal, teachers, parents, and communities are required to be role models for younger generations. However, habituation and ideals in the daily behavior are not easy. Television media with different characteristics is hopefully able to minimize these constraints. Television is the most popular mass media. Television also can dramatize and photograph the reality of everyday life in society in audio-visual based. The reality mentioned here comprises the appreciation and cultivation of religious teachings, the nation’s cultural diversity, local knowledge, natural resources, social life, development of creativity, including the history of national struggle and folklore. Certain presentation format could optimize the concept of drama, soap opera, or a true story. Characterization and location setting describe Indonesian territory that accommodate the diversity culture, ethnic, religion, and the local environment. The role of community is very important to influence television station in order to broadcast educating programs. Similarly, government commitment and policy as well as private concerns is expected i order to instill character education through television. ABSTRAK Pendidikan karakter merupakan upaya menanamkan kecerdasan dalam berpikir, penghayatan dalam bersikap, dan pengamalan dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma serta akhlak mulia. Oleh karena itu, diperlukan pembiasaan, keteladanan, dan lingkungan yang kondusif baik di keluarga, sekolah, masyarakat, serta dukungan exposure media massa khususnya televisi. Kepala sekolah, guru, orangtua, dan masyarakat dituntut menjadi teladan bagi generasi muda. Namun, pembiasaan dan keteladanan dalam berperilaku sehari-hari tidak mudah. Media televisi dengan berbagai karakteristiknya optimis dapat meminimalisir kendala tersebut. Televisi merupakan media massa yang paling digemari. Televisi juga dapat mendramatisasi dan memotret realitas kehidupan sehari-hari di masyarakat dalam bentuk audio visual. Realitas tersebut merupakan penghayatan dan penanaman ajaran agama, keanekaragaman budaya bangsa, kearifan lokal, kekayaan alam, kehidupan sosial kemasyarakatan, pengembangan kreativitas, termasuk sejarah perjuangan bangsa dan cerita-cerita rakyat. Format sajian dapat mengoptimalkan konsep drama, sinetron, atau kisah nyata. Penokohan dan setting lokasi menggambarkan wilayah Indonesia dengan mengakomodir keragaman budaya, suku, agama, dan lingkungan lokal. Untuk mewujudkan harapan ini peran masyarakat sangat penting dalam mempengaruhi stasiun televisi untuk menyiarkan acara yang mendidik. Begitu pula diperlukan komitmen dan kebijakan pemerintah, serta kepedulian swasta dalam menanamkan pendidikan karakter melalui televisi.
Civil Society dan Pendidikan Karakter Bangsa Iskandar Agung; Rumtini --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 9 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i9.518

Abstract

The supported-community reform in Indonesia demanded strong actions for a nation democracy. In reality, however, the inner freedom for democracy is often challenged. Often, aspirations were expresse anarchisly, inresponsibly, and even destructively. The given freedom was often less understood and less accepted holistically. Implicitly, the reform in which intented to create an conducive climate of democracy will be difficult to address without an appropriatem undestanding and awareness over the meaning of the civil society with it’s own characteritics, cultures, and velues in the modern society. This article is intended to identify charateristics, cultures, and values of the civil society, particularly in education. Specifically, introduction to the civil society in education is important in an effort to identify a nation’s characters in a democratic, participative, reflective, thingking critically, to encourege the balancing power over the government. ABSTRAK Reformasi masyarakat madani di Indonesia menuntut tindakan yang kuat untuk demokrasi bangsa. Namun dalam kenyataannya, kebebasan dalam demokrasi sering mendapatkan hambatan. Seringkali, aspirasi ini diungkapkan anarkis, tidak bertanggung jawab, dan bahkan destruktif. Kebebasan yang diberikan sering kurang dipahami dan kurang diterima secara holistik. Secara implisit, reformasi ditujukan untuk menciptakan iklim kondusif demokrasi akan sulit untuk dicapai tanpa pemahaman yang sesuai sesuai dan kesadaran tentang arti karekteristik budaya, dan nilai-nilai masyarakat sipil dalam masyarakat modern. Artikel ini ditujukan untuk mengidentifikasi karakteristik, budaya, dan nilai-nilai masyarakat sipil, khususnya di bidang pendidikan. Secara khusus, pengenalan kepada masyarakat sipil dalam pendidikan penting dalam upaya untuk mengidentifikasi karakter suatu bangsa secara demokratis, partisipatif, reflektif, berpikir yang kritis, untuk mendorong keseimbangan kekuasaan atas Pemerintah.
Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Melalui Penguatan Pelaksanaan Kurikulum Sri Judiani
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 9 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i9.519

Abstract

Nowadays we should be proud because the more Indonesian students have succeeded in International Science Olympic. The Indonesian student team was even once to be overall champion in the International Conference of Young Scientists with participant from 19 countries held in Bali on April 12th-7th 2010. On the other hand, some other Indonesian students have shown their disrespectful attitude to public, they like to brawl or fight with the student from other school, get drunk, drugs or narcotic addiction, wild races along the crowded traffic. The phenomenon is then to be the reason for government to conduct “Piloting Project” in 125 schools in 16 districts/cities in within 16 provinces since September 2010. The Objectives of conducting the “Piloting Projects” is to implement the values of character to the students so they can turn their attitude to the positive one. The implementation of character education does not need to be the typical subject nor additional standard of competence but this is, however, integrated into the existing subject or through the self-development and school culture as well as local content. ABSTRAKSaat ini pelajar Indonesia semakin banyak yang patut dibanggakan, karena telah berhasil menjuarai olimpiade sains di tingkat internasional. Bahkan, pelajar Indonesia menjadi juara umum dalam Konferensi Internasional Ilmuwan Muda se-Dunia yang diikuti ratusan pelajar SMA dari 19 negara di Bali pada 12-17 April 2010. Namun, tidak sedikit pula pelajar yang tidak punya sopan santun, suka tawuran, minum minuman keras, mabok-mabokan, senang narkotika, dan hobi kebut-kebutan mengendarai sepeda motor di jalan raya. Melihat kenyataan ini maka Pemerintah mulai tahun ajaran 2010 telah melakukan piloting penyelenggaraan pendidikan karakter di 125 sekolah yang tersebar di 16 kabupaten/kota dari 16 Propinsi. Implementasi pendidikan karakter di sekolah tidak merupakan mata pelajaran tersendiri, tidak pula merupakan tambahan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD), tetapi dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, pengembangan diri, dan budaya sekolah, serta muatan lokal.
Penyelenggaraan Pendidikan Karakter Melalui Optimalisasi Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Herry Widyastono
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 9 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i9.520

Abstract

A huge number of research findings indicate that there is an obvious moral degradation within youngsters. This is one of the problems encountered by Indonesia. Corruption, intolerance, distrust, violence to other people, and so on and so forth are also other serious problems. Accordingly, the implant of a character building to learners constitutes a compulsory because this will not only result in smart students, but also make them to have good character as well a to be polite. By having such characters they will be useful for themselves of their lives and other people in community as well. The predetermined characters have already been included in the “graduate competence standard” and “content standard” for basic and secondary education and these are as reference to enact school-based curriculum. There are some principles of conveying the values to students at primary, junior and senior secondary schools, among other things (a) sustainability, (b) be integrated to all existing subject matters, local content, self-development, and the habitual acts in schools, (3) the values are not taught in isolation, but be developed and be implemented involving students to be active and enjoyable. ABSTRAKBerbagai hasil penelitian menunjukkan terdapat kecenderungan semakin merosotnya nilai nilai moral dan karakter para remaja. Bahkan, tidak di kalangan remaja saja, secara umum bangsa Indonesia dihadapkan pada berbagai problem kebangsaan yang tidak mencerminkan karakter bangs Indonesia, seperti budaya korup, lebih menyukai jalan pintas, intoleran, kekerasan, ketidakpercayaan kepada pihak lain (distrust). Penyelenggaraan pendidikan karakter menjadi suatu keharusan karena pendidikan karakter tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas, tetapi juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Nilai-nilai karakter sudah termuat dalam Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi yang merupakan acuan dalam menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Implementasi pendidikan karakter mengacu pada prinsip-prinsip: a) berkelanjutan; b) diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran yang sudah ada, muatan lokal, pengembangan diri, dan budaya sekolah, dan c) nilai-nilai karakter tidak diajarkan tapi dikembangkan dan dilaksanakan, serta d) pembelajaran dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan.
Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Bentuk Tes Formatif Terhadap Hasil Belajar Matematika Dengan Mengontrol Intelegensi Siswa Lizza Novrida
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 9 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i9.521

Abstract

The objectives of this study is to find out the effects of the learning strategy and the formative test on the learning outcome in mathematics. The quasi-experiment with 2x2 factorial design was used in this research. A cluster random sampling was used for 80 students of grade-2 at the State Junior High Schools number 11 and 19 in Jakarta in 2009-2010. The independent variables were the learning strategy and formative test, and for the dependent variables were learning outcome. The student intelligent was used as a co-variable. The strategy used were the information mapping, and conventional strategy, and the test were multiple choice and essay. The results showed the fallowings: 1) the information mapping strategy is more effective than the conventional way; 2) the multipl choice is better than essay test; 3) there was found an interaction between the learning strategy with the formative test. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan menemukan pengaruh strategi pembelajaran dan bentuk tes formatif terhadap hasil belajar matematika dengan mengontrol inteligensi siswa. Penelitian ini menggunakan design eksperimen faktorial 2x2. Cluster random sampling dengan 80 siswa kelas delapan di SMPN 11 dan SMPN 19 Jakarta pada tahun ajaran 2009/2010. Variabel bebasnya yaitu strategi pembelajaran dan bentuk tes formatif, serta variabel terikatnya hasil belajar matematika. Inteligensi sebagai co-variabel. Strategi yang digunakan yaitu pemetaan informasi dan konvensional, dan bentuk tes formatif yang digunakan adalah pilihan ganda dan uraian. Hasil penelitian menunjukkan: 1) strategi pemetaan informasi lebih efektif dibanding strategi konvensional; 2) bentuk tes formatif pilihan ganda kurang efektif dibanding bentuk tes formatif uraian, dan 3) terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dengan bentuk tes formatif.
Pengembangan Model Pembelajaran IPA SD Berbasis Bahan Di Lingkungan Sekitar Melalui Pendekatan Starter Eksperimen Muharram --; Hamka Lodang; Nurhayati --; Munir Tanrere
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 9 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i9.522

Abstract

This study is a research and development that was conducted through four steps and is mentioned as a “Four-D Model”, namely define, design, develop and disseminate. The aim of this research is to produce instructional model, that is a starter experiment based on environmental materials and supporting of instructional model, including: experiment guidance, student worksheet and instrument of evaluation. The product of this research is the syntax of instructional model that consist of six steps and supporting of the model, namely three supplement books for Elementary School. The titles of the books are “Science Skill” for 4th, 5th, and 6th Grade”. The instructional model and its supporting were validated by expert’s team and they were categorized in valid that are 88.40% for instructional model and 84.66% for the supporting of the instructional model. Try out result that conducted through the pre-experiment results showed that: 1) the instructional model and its supporting could be used by both the teacher and the student; 2) Apply the model and its supporting increase the activity, interest, scientific attitude, skill of science process, and the student’s achievement. ABSTRAKPenelitian ini termasuk jenis penelitian pengembangan (Research and Development) yang dilakukan melalui empat tahap yang dikenal dengan “Four-D Model” yaitu define, design, develop, and disseminate. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model pembelajaran berbasis bahan-bahan di lingkungan sekitar serta perangkat pembelajaran yang meliputi, Panduan Eksperimen, Lembar Kerja Siswa, dan Alat Evaluasi. Luaran penelitian adalah sintaks model pembelajaran 6 langkah dan perangkat pembelajaran berupa tiga buah buku suplemen IPA SD dengan judul “Terampil Sains” untuk kelas 4, 5, dan 6. Hasil validasi model dan perangkat pembelajaran oleh tim akhli menunjukkan bahwa model dan perangkat pembelajaran termasuk katagori valid dengan persentasi validitas masing-masing: 88,40% dan 84,66%. Hasil ujicoba melalui penelitian pra eksperimen menunjukkan bahwa: 1) model dan perangkat pembelajaran digunakan dengan baik oleh guru dan siswa; 2) penerapan model pembelajaran akan meningkatkan aktivitas, minat dan sikap ilmiah, keterampilan proses sains, dan hasil belajar siswa.