cover
Contact Name
Dwi Priyanto
Contact Email
balaba_banjarnegara@yahoo.com
Phone
+62286-594972
Journal Mail Official
balaba_banjarnegara@yahoo.com
Editorial Address
Sekretariat BALABA Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Jalan Selamanik No 16 A Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia 53415
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BALABA (JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA)
ISSN : 18580882     EISSN : 23389982     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
BALABA is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We published research article and literature review focused on vector borne disease such as malaria, DHF, filaria, chikungunya, leptospirosis, etc.
Articles 329 Documents
RUMAH BEBAS TIKUS Zumrotus Sholichah
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Edisi 007 Nomor 02/Tahun IV Desember 2008
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1348.185 KB)

Abstract

RUMAH BEBAS TIKUS
EFEK PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM UPAYA PENANGGULANGAN KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN BANTUL TAHUN 2011 Aryani pujiyanti; Wiwik trapsilowati
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 2 Desember 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.475 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i2.765

Abstract

ABSTRAKSalah satu strategi untuk penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) leptospirosis di Kabupaten Bantul tahun 2011 adalahdengan pendidikan masyarakat. Tujuan penelitian adalah untuk mengukur efektifitas pendidikan kesehatan dengan ceramahterhadap tingkat pengetahuan dan sikap responden dalam pencegahan leptospirosis. Penelitian ini merupakan penelitianintervensi dengan rancangan one group pre-post design. Lokasi penelitian di Desa Sedayu dan Desa Wukirsari, KabupatenBantul. Pengumpulan data dilakukan dengan instrumen angket pada Bulan Maret 2011. Angket diisi oleh respondensebanyak 2 kali yaitu sebelum dan sesudah penyuluhan. Sampel diambil secara purposif yaitu penduduk tinggal di wilayahRukun Warga yang terdapat kasus leptospirosis pada tahun 2011, usia minimal 18 tahun dan bersedia mengikuti kegiatanpenyuluhan. Jumlah responden sebanyak 61 orang.Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkanada perbedaan yang signifikan (p<0,05) pada rerata pengetahuan responden sebelum dan sesudah intervensi, berarti adapeningkatan pengetahuan sesudah diberikan penyuluhan. Penerapan penyuluhan kesehatan efektif meningkatkanpengetahuan responden untuk pencegahan leptospirosis.
KEPADATAN JENTIK VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) Aedes sp. DI DAERAH ENDEMIS, SPORADIS DAN POTENSIAL KOTA SEMARANG, PROVINSI JAWA TENGAH Eva lestari; Corry laura j. sianturi; Retno hestiningsih; M arie wuryanto
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 2 Desember 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.417 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i2.767

Abstract

ABSTRAKDemam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamukAedes aegypti. Kota Semarang merupakan daerah endemis DBD dengan jumlah kasus sebanyak 5.538 kasus,IR 36,75/10.000 penduduk dan CFR 0,8% (tahun 2010). Data kepadatan vektor dapat digunakan untuk menentukan tindakanpengendalian vektor yang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung HI, CI, BI, DF, dan Angka Bebas Jentik(ABJ) Aedes sp. di daerah endemis, sporadis dan potensial DBD. Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan crosssectional. Metode pelaksanaan survei jentik dengan single larva. Populasi adalah seluruh rumah di KelurahanSendangmulyo, Terboyo Wetan, dan Pesantren. Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode purposif. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa angka HI (53,75%), CI (30,77%), BI (75%), dan DF (7) tertinggi di Kelurahan TerboyoWetan (sporadis). Angka ABJ di semua lokasi penelitian < 95%. Kepadatan jentik daerah sporadis lebih tinggi dibandingdaerah endemis DBD. Kepadatan jentik tidak berkorelasi dengan stratifikasi endemisitas wilayah DBD.
SEDIAAN LOSION MINYAK ATSIRI Piper betle L. DENGAN PENAMBAHAN MINYAK NILAM SEBAGAI REPELAN NYAMUK Aedes aegypti Mutiara widawati
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 2 Desember 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.979 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i2.768

Abstract

ABSTRAKDaun Sirih (Piper betle L.) merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku repelan. Penelitian bertujuanuntuk mengetahui potensi minyak atsiri dari daun sirih dengan penambahan minyak nilam sebagai repelan. Penelitianeksperimental dengan rancangan post test only control group design dilakukan tahun 2013, menggunakan sampel nyamukAe. aegypti betina lapar darah. Konsentrasi digunakan yaitu 2%, untuk kontrol positif digunakan losion DEET denganulangan lima kali. Lengan diolesi losion sirih selanjutnya dimasukkan pada kurungan berisi 100 ekor nyamuk uji, kemudiandihitung rata-rata jumlah nyamuk hinggap selama lima menit pengamatan setiap jam periode (uji efikasi repelan dilakukanselama 6 jam). Pada kondisi yang sama, diujikan pula losion biasa tanpa minyak sirih dan fiksatif yang dioleskan ke lenganyang lain terhadap nyamuk Ae. aegypti (kontrol negatif). Efektifitas penolakan hinggapan nyamuk Ae. aegypti dianalisismenggunakan daya proteksi, kemudian dianalisis lebih lanjut dengan uji paired t-test. Losion sirih hasil modifikasi yangdioleskan pada lengan mampu menolak hinggapan nyamuk Ae. aegypti. Losion sirih dengan penambahan minyak nilammemiliki daya proteksi rata-rata 90,33%. Walaupun daya proteksi losion sirih tidak berbeda secara nyata dengan dayaproteksi DEET, tetapi masih memenuhi syarat efektivitas repelan. Minyak sirih dengan penambahan minyak nilamberpotensi untuk digunakan sebagai repelan terhadap nyamuk Ae. aegypti.
EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN KETEPENG (Cassia alata L.) DAN KETEPENG KECIL (Cassia tora L.)TERHADAP Plasmodium Falciparum SECARA IN VITRO Murni murni; Gunawan gunawan; Brian janitra
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 2 Desember 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.358 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i2.769

Abstract

ABSTRAKTanaman Ketepeng (Cassia alata L.) dan Ketepeng Kecil (Cassia tora L.) merupakan tanaman obat yang memiliki berbagaimacam kegunaan, diantaranya untuk mengobati malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol daun ketepeng dan ketepeng kecil terhadap P. falcifarum secara invitro yang dihubungkan dengan periode waktu dengan pengenceran bertingkat dari larutan uji. Penelitian dilakukan dengantahapan: pengambilan sampel tanaman, pembuatan ekstrak dan uji aktivitas anti malaria secara in vitro. Kontrol positifmenggunakan klorokuin dan kontrol negatif menggunakan P. falciparum tanpa penambahan ekstrak uji. Ekstrak etanol daunketepeng (Cassia alata L) menunjukkan penurunan jumlah pertumbuhan P. falciparum pada pengenceran 10-8. Ekstraketanol daun ketepeng dan ketepeng kecil tidak menunjukkan penghambatan pertumbuhan terhadap P. falciparum.
PROMOSI KESEHATAN DALAM PENGENDALIAN FILARIASIS Ahmad erlan
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 2 Desember 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.841 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i2.770

Abstract

ABSTRAKPromosi kesehatan adalah cara yang efektif untuk mengubah perilaku masyarakat agar menjadi lebih sehat dan terhindar daripenyakit. Penularan filariasis dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu lingkungan, perilaku dan sosial budaya. Hasil dari beberapapenelitian menunjukkan bahwa faktor yang memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian filariasis dari faktorlingkungan yaitu rawa-rawa di sekitar permukiman (OR=2,433); faktor perilaku seperti kebiasaan menggunakan kelambu,tidak menggunakan pakaian lengan panjang dan tidak menggunakan kasa di ventilasi (p<0,05); faktor pengetahuan danstigma (p=0,07). Promosi kesehatan melalui penyuluhan ke masyarakat dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuanmasyarakat dan perubahan perilaku untuk memutuskan rantai penularan filariasis.
VIRUS WEST NILE: EPIDEMIOLOGI, KLASIFIKASI DAN DASAR MOLEKULER Bina ikawati; Dyah widiastuti; Puji astuti
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 2 Desember 2014
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.118 KB) | DOI: 10.22435/blb.v10i2.771

Abstract

ABSTRAKVirus west nile (WN) dapat menimbulkan penyakit yang ditularkan melalui nyamuk. Di Indonesia virus west nile mulaidiperhatikan karena menginfeksi 12 warga Surabaya pada tahun 2014. Pemahaman mengenai virus west nile ditinjau dariaspek epidemiologi, klasifikasi dan dasar molekuler diperlukan untuk mengenal apa dan bagaimana sifat dari virus WNdalam rangka upaya deteksi dini dan pencegahan terjadinya KLB virus WN. Tulisan ini merupakan telaah denganmengumpulkan informasi dari berbagai jurnal dan buku teks mengenai virus west nile. Secara epidemiologi virus dapattersebar melalui vektor nyamuk utamanya Culex sp., dan Aedes sp. sebagai vektor sekunder. Virus ini d jugaditemukan pada burung/unggas. Penularan virus melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi ke hewan dan manusia. Virus westnile merupakan anggota famili Flaviviridae dari genus Flavivirus. Virus ini memiliki genom yang terdiri dari satu singlestranded (ss) RNA yang dikelilingi suatu nucleocapsid berbentuk icosahedral atau isometric. Genom virus west nilememiliki panjang 11.029 nukleotida. Upaya pencegahan terhadap infeksi virus WN dapat dilakukan dengan mengendalikanpopulasi nyamuk, mengurangi gigitan nyamuk, dan secara berkala melakukan survei pada unggas/burung utamanya yangdipelihara dalam skala besar maupun yang sedang bermigrasi.
SITUASI MALARIA DI DESA SANTUUN. KECAMATAN MUARA UYA KABUPATEN TABALONG PROVINSI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2010 Sunaryo sunaryo
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 8 Nomor 1 Juni 2012
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.047 KB) | DOI: 10.22435/blb.v8i1.772

Abstract

Malaria is still becoming public health problem in Tabalong District, South Kalimantan Province. Malaria case in Tabalong during 3 last years experiences improvement, and spread in four Sub District.The study aimed to explains the epidemiology of malaria in Santuun village, Muara Uya Sub District. Santuun village is most endemic area in Muara Uya Subdistrict, malaria control activity which have been done are passive case detection in Health Center / Hospital and entomological survey.Malaria distribution in Santuun village based on time related to rainfall, at high rainfall of malaria cases tend to increase. Most of malaria cases found at male group. Anopheles habit in Santuun is rainwater pond, sleazy pool, cracks, rice field. Anopheles which were found : An. aconitus, An. balabacensis, An. nigerimus, An. barbirostris, An. kochi, An. vagus, An.minimus.
EVALUASI DAN IMPLEMENTASI SISTEM SURVEILANS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KOTA SINGKAWANG, KALIMANTAN BARAT, 2010 Frans yosep sitepu; Antonius Suprayogi; Dibyo Pramono
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 8 Nomor 1 Juni 2012
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1350.743 KB) | DOI: 10.22435/blb.v8i1.774

Abstract

Introduction: Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is still a public health problem in Singkawang Municipality which was an endemic area. DHF surveillance is expected to inform endemicity of an area, season of transmission and disease progression that can be use to make the system more effective and efficient. Methods: Observational study by using a structured questionnaire. Interview was conducted to all DHF surveillance officers. Evaluated had been done to the variable of input, process, and output of the surveillance system. We conducted an on the job training to all DHF surveillance officers after the evaluation.Results: 66.7% officers never got any trainings of surveillance, 83.3% had double duty, budgeting limited to physical needs, facilities and infrastructures. Process variable, data collection was late; analysis and recommendation had not been directed to the distribution of cases, the relationship between risk factors and the mortality of DHF incidence, and environment changing, feedback; data distribution had not been implemented optimally. Output variable was still weak, no surveillance epidemiology profile. Attribute surveillance such as simplicity, flexibility, and positive predictive value were good, but still weak in acceptability, sensitivity, representativeness, and timeliness. Short-term evaluation resulted that there was an increasing knowledge of surveillance officers (p value <0.05). Mid-term evaluation resulted that there was an increasing of completeness and accuracy of DHF report from 80% to 100%, active case finding, epidemiology investigation conducted to all DHF cases.Discussion and Conclusions : DHF surveillance system in Singkawang needs to be improved, there were many attributes of surveillance system that had not done well. Training of surveillance system is needed to improve capability and capacity of the surveillance officers.
POPULASI TIKUS DAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG TIKUS DAN PENYAKIT YANG DITULARKANNYA DI KECAMATAN BERBAH, KABUPATEN SLEMAN Nova pramestuti; Bina ikawati; Novia tri astuti
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 8 Nomor 1 Juni 2012
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1291.796 KB) | DOI: 10.22435/blb.v8i1.775

Abstract

Leptospirosis is a zoonotic disease transmitted by Leptospira bacteria by rats as the main reservoir . Cases of leptospirosis occurred in several districts in Sleman. One of them is Berbah Sub-district with one case of leptospirosis in 2011. The purpose of this study to identify the biotic and abiotic environmental conditions, species of rodents captured in the study site, trap success, and Leptospira bacteria in the blood serum and kidney of rats. The study was conducted in the Jogotirto Village, Berbah Sub-district, Sleman District. As many as 150 traps had been used in 2 trapped indoor and 2 trapped outdoor during 3 days. Measurements, observations environmental conditions and interviews about rats and rats disease transmission around leptospirosis cases. Rats had been trapped identified, blood and kidneys was taken to be examined in the presence of Leptospira bacteria by using PCR (Polymerase Chain Reaction). Data were analyzed descriptively in tables and graphs. Biotic and abiotic environmental conditions favor transmission of leptospirosis. Rats spesies had been found were Rattus tanezumi, Suncus murinus, and R. tiomanicus with trap succes indoor as much 10.5% and outdoor as much 5.2%. People had less knowledge about rats and rats disease transmission.