cover
Contact Name
Ja'far Baehaqi
Contact Email
jafarbaehaqi@walisongo.ac.id
Phone
+6285225300659
Journal Mail Official
walrev.journal@walisongo.ac.id
Editorial Address
Sharia Faculty Office Building and Law 2nd Floor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Jl. Prof. Hamka Km. 02 Ngaliyan, Semarang 50185. Telp (024) 7601291 Fax (024) 7601291
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Walisongo Law Review (Walrev)
ISSN : 27153347     EISSN : 7220400     DOI : 10.21580/walrev
Core Subject : Social,
Walisongo Law Review (Walrev) is a scientific journal published in April and October each year by the Law Studies Program at the Faculty of Sharia and Law, Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang. This journal has specifications as a medium of publication and communication of legal science ideas derived from theoretical and analytical studies, as well as research results in the field of legal science. The editor hopes that writers, researchers and legal experts will contribute in this journal.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 2 (2024)" : 6 Documents clear
Legal Issues in Online Transactions Involving Minors Nurfieni, Amrin; Retnaning Muji Lestari
Walisongo Law Review (Walrev) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/walrev.2024.6.2.23733

Abstract

The advancement of information technology has led to transactions no longer being confined to physical spaces but extending to electronic transactions. In addition to the positive impacts, this development also brings challenges, particularly concerning the participation of minors in online transactions. Problems emerge when existing regulations fail to accommodate the rapid pace of technological advancement adequately. Minors lack the legal capacity to enter into valid agreements. Based on Article 47, paragraph 1 of the Marriage Law, a person who has not yet reached the age of 18 or is not married remains under the authority of their parents. E-commerce verification technology is not yet adequately optimized to prevent minors from carrying out transactions. Irresponsible transactions carried out by minors have the potential to cause financial harm to their parents or legal guardians. Legal issues arising from online transactions involving minors include the legality of agreements, parental supervision, transaction oversight, and payment issues. Currently, no regulations in Indonesia prohibit minors from purchasing goods through e-commerce platforms. Neither the Information and Electronic Transactions Law (UU ITE), Government Regulation Number 71 of 2019 concerning the Implementation of Electronic Systems and Transactions nor regulations on Electronic Commerce provide concrete limitations. The challenges surrounding legal regulations governing online transactions involving minors require a comprehensive and integrated approach. Thus, there is a need for more effective legal regulations to both prevent and address the potential misuse of interests involving minors in online transactions. Kemajuan teknologi informasi menyebabkan transaksi tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi meluas hingga transaksi elektronik. Selain dampak positif, perkembangan ini juga membawa tantangan, khususnya terkait keikutsertaan anak di bawah umur dalam transaksi daring. Masalah muncul ketika regulasi yang ada tidak mampu mengakomodasi laju kemajuan teknologi yang pesat. Anak di bawah umur tidak memiliki kapasitas hukum untuk membuat perjanjian yang sah. Berdasarkan Pasal 47 ayat 1 UU Perkawinan, seseorang yang belum berusia 18 tahun atau belum menikah tetap berada di bawah kekuasaan orang tuanya. Teknologi verifikasi e-commerce belum dioptimalkan secara memadai untuk mencegah anak di bawah umur melakukan transaksi. Transaksi yang tidak bertanggung jawab yang dilakukan oleh anak di bawah umur berpotensi menimbulkan kerugian finansial bagi orang tua atau wali yang sah. Masalah hukum yang timbul dari transaksi daring yang melibatkan anak di bawah umur meliputi legalitas perjanjian, pengawasan orang tua, kekeliruan transaksi, dan masalah pembayaran. Saat ini, tidak ada regulasi di Indonesia yang melarang anak di bawah umur untuk membeli barang melalui platform e-commerce. Baik Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, maupun peraturan perundang-undangan tentang Perdagangan Elektronik tidak memberikan batasan yang konkret. Tantangan yang ada dalam regulasi hukum yang mengatur transaksi daring yang melibatkan anak di bawah umur memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terpadu. Oleh karena itu, diperlukan regulasi hukum yang lebih efektif untuk mencegah dan menanggulangi potensi penyalahgunaan kepentingan yang melibatkan anak di bawah umur dalam transaksi daring.
Urgency of Legal Personal Data Protection in E-Commerce Transactions Involving Artificial Intelligence Junaidi; Rozlinda Mohamed Fadzil
Walisongo Law Review (Walrev) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/walrev.2024.6.2.25548

Abstract

The protection of personal data has become increasingly critical in the digital era, particularly in e-commerce transactions involving the use of Artificial Intelligence (AI). A significant legal gap persists because, although Indonesia has enacted Law No. 27 of 2022 on Personal Data Protection, there are still no implementing regulations specifically addressing the use of AI in personal data collection and processing. Consequently, legal protection for consumers remains inadequate and vulnerable to misuse by digital businesses and cybercriminals. This study aims to analyze the effectiveness of legal protection for consumers’ personal data in Indonesia and to assess the urgency of regulating AI use in e-commerce activities. The research employs a normative legal method, utilizing legislative and conceptual approaches. The findings reveal that AI can enhance the detection and prevention of personal data breaches more effectively. However, without implementing regulations and an independent supervisory authority, AI may also pose significant privacy risks. Moreover, the lack of clear legal standards governing the accountability of electronic system operators for data security further weakens personal data protection. This study recommends formulating detailed implementing regulations governing AI use in personal data management and establishing an independent supervisory body with the authority to monitor, evaluate, and enforce compliance with personal data protection laws. Perlindungan data pribadi menjadi semakin krusial di era digital, terutama dalam transaksi e-commerce yang melibatkan penggunaan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, AI). Terdapat kesenjangan hukum yang signifikan karena, meskipun Indonesia telah memberlakukan Undang-Undang No. 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi, belum terdapat peraturan pelaksana yang secara spesifik mengatur penggunaan AI dalam pengumpulan dan pemrosesan data pribadi. Akibatnya, perlindungan hukum bagi konsumen masih belum optimal dan rentan terhadap penyalahgunaan oleh pelaku bisnis digital maupun kejahatan siber. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas perlindungan hukum terhadap data pribadi konsumen di Indonesia serta menilai urgensi pengaturan penggunaan AI dalam aktivitas e-commerce. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI dapat meningkatkan efektivitas deteksi dan pencegahan kebocoran data pribadi. Namun, tanpa adanya peraturan pelaksana dan lembaga pengawas independen, AI juga berpotensi menimbulkan risiko serius terhadap privasi. Selain itu, ketiadaan standar hukum yang jelas terkait tanggung jawab penyelenggara sistem elektronik atas keamanan data semakin melemahkan perlindungan data pribadi. Penelitian ini merekomendasikan penyusunan peraturan pelaksana yang komprehensif mengenai penggunaan AI dalam pengelolaan data pribadi serta pembentukan lembaga pengawas independen yang berwenang untuk memantau, mengevaluasi, dan menegakkan kepatuhan terhadap peraturan perlindungan data pribadi.Keywords: Artificial Intelligence; E-commerce; Legal Protection; Personal Data
Implications of the Noodweer Excess Approach in Excessive Self-Defense with the Integration of Philosophy and Law Safira Ila Mardhatillah; M. Nurul Huda; Rido Idham
Walisongo Law Review (Walrev) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/walrev.2024.6.2.25559

Abstract

This article discusses the case of Noodweer Excess, which is referred to as an emergency defense that exceeds the limits as regulated in Article 49, paragraph (2) of the Criminal Code. However, in reality, there are cases of Noodweer Excess that have caused someone's death. Then, this research attempts to discuss and explore how a philosophical perspective can answer and explain complex legal problems. The primary focus of this article's research is how philosophical and legal theories, such as the theory of justice and ethics, can explain the meaning and implications of an emergency defense that exceeds the limits. By integrating legal and philosophical theories, this article aims to provide a deeper and more comprehensive understanding of the case, compared to using only one area of ​​legal approach. This research serves as a bridge between legal and philosophical studies and offers broader insights. Thus, this article provides a more complete perspective on how Noodweer Excess or an emergency defense that exceeds the limits as regulated in Article 49 paragraph (2) of the Criminal Code can be handled and decided fairly and ethically from the perspective of legal and philosophical theories. Artikel ini membahas tentang kasus Noodweer Excess yang disebut sebagai pembelaan darurat yang melampaui batas sebagaimana diatur dalam Pasal 49 ayat (2) KUHP. Namun pada kenyataannya, terdapat kasus Noodweer Excess yang mengakibatkan kematian seseorang. Kemudian, penelitian ini mencoba membahas dan mengeksplorasi bagaimana perspektif filsafat dapat menjawab dan menjelaskan permasalahan hukum yang kompleks. Fokus utama penelitian artikel ini adalah bagaimana teori filsafat dan hukum, seperti teori keadilan dan etika, dapat menjelaskan makna dan implikasi dari pembelaan darurat yang melampaui batas. Dengan memadukan teori hukum dan filsafat, artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan komprehensif terhadap kasus tersebut, dibandingkan jika hanya menggunakan satu bidang pendekatan hukum. Penelitian ini berfungsi sebagai jembatan antara kajian hukum dan filsafat serta menawarkan wawasan yang lebih luas. Dengan demikian, tulisan ini memberikan sudut pandang yang lebih lengkap tentang bagaimana Noodweer Excess atau pembelaan darurat yang melampaui batas sebagaimana diatur dalam Pasal 49 ayat (2) KUHP dapat ditangani dan diputus secara adil dan etis dari perspektif teori hukum dan filsafat.
Legal Pluralism: Concept, Theoretical Dialectics, and Its Existence in Indonesia Achmad Hariri; Basuki Babussalam
Walisongo Law Review (Walrev) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/walrev.2024.6.2.25566

Abstract

Legal pluralism refers to the coexistence of multiple legal systems within a single society, encompassing state, customary, and religious laws. This concept is deeply rooted in Indonesia’s colonial legacy and cultural diversity, both of which have shaped the emergence of distinctive and layered legal practices. This study examines how legal pluralism operates within the Indonesian legal framework and the challenges involved in reconciling state law with non-state legal systems. It aims to analyze the forms and dimensions of legal pluralism in Indonesia, identify key obstacles to integrating these systems, and propose strategies to enhance justice and legal certainty. Employing a qualitative research approach with juridical and sociological perspectives, the study investigates the application of legal pluralism across various regions of Indonesia. The analysis highlights two main perspectives: juridical legal pluralism (the state’s formal recognition of customary law) and empirical legal pluralism (the lived reality of individuals subject to multiple normative orders). The findings reveal that legal pluralism reflects Indonesia’s socio-cultural complexity and offers opportunities for more inclusive governance. However, it also generates challenges, including legal uncertainty, overlapping authority, and unequal access to justice. The study concludes that a coordinated legal framework, which respects local traditions while upholding universal principles of justice, is essential for strengthening social cohesion and improving the effectiveness of Indonesia’s legal system. Pluralisme hukum merupakan kondisi di mana beberapa sistem hukum hidup berdampingan dalam satu masyarakat, meliputi hukum negara, hukum adat, dan hukum agama. Konsep ini berakar kuat pada warisan kolonial dan keragaman budaya Indonesia yang membentuk praktik hukum yang khas dan berlapis. Penelitian ini mengkaji bagaimana pluralisme hukum berfungsi dalam kerangka hukum Indonesia serta tantangan dalam menyelaraskan hukum negara dengan sistem hukum non-negara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bentuk dan dimensi pluralisme hukum di Indonesia, mengidentifikasi hambatan utama dalam integrasi antar sistem hukum, serta merumuskan strategi untuk memperkuat keadilan dan kepastian hukum. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan yuridis dan sosiologis, studi ini menelusuri penerapan pluralisme hukum di berbagai wilayah Indonesia. Analisis penelitian ini menyoroti dua perspektif utama: pluralisme hukum yuridis (pengakuan formal negara terhadap hukum adat) dan pluralisme hukum empiris (realitas individu yang tunduk pada berbagai sistem hukum). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pluralisme hukum mencerminkan kompleksitas sosial-budaya Indonesia dan membuka peluang bagi tata kelola hukum yang lebih inklusif. Namun demikian, pluralisme ini juga menimbulkan tantangan seperti ketidakpastian hukum, tumpang tindih kewenangan, dan ketimpangan akses terhadap keadilan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan kerangka hukum yang terkoordinasi, yang menghormati tradisi lokal sekaligus menjunjung prinsip keadilan universal, guna memperkuat kohesi sosial dan meningkatkan efektivitas sistem hukum nasional. Keywords: Legal Pluralism; Customary Law; Legal Harmonization; Legal Certainty.
Implementation of Artificial Intelligence by Kominfo in the enforcement of pornographic content on social media Twitter (X) Fahririn; Cakra Heru Santosa; M. Ihsan Maulana
Walisongo Law Review (Walrev) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/walrev.2024.6.2.25737

Abstract

This research is motivated by the increasing prevalence of pornographic content, which has significant psychological, social, and economic impacts on Indonesian society. The study examines the application of Artificial Intelligence (AI) by the Ministry of Communication and Informatics (Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kominfo) in enforcing laws against pornographic content on Twitter (now known as X). Employing a descriptive qualitative method with a case study approach, the research involved in-depth interviews with 15 key informants. The findings reveal that Kominfo’s AI system utilizes a layered detection model integrating computer vision and natural language processing, achieving an accuracy rate of approximately 85% for visual content and 75% for textual content. The system automates around 80–85% of the detection process through deep packet crawling and inspection techniques. Despite these advancements, law enforcement efforts face several challenges, including a high rate of false positives, difficulties in cross-platform coordination, and limited contextual understanding of local cultural nuances. The study concludes that effective enforcement requires developing more adaptive algorithms supported by comprehensive, Indonesia-specific datasets; enhancing coordination with global social media platforms; establishing an integrated task force; and creating a transparency and accountability framework to ensure a safer digital ecosystem. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya prevalensi konten pornografi yang berdampak signifikan terhadap aspek psikologis, sosial, dan ekonomi masyarakat Indonesia. Studi ini menelaah penerapan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, AI) oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dalam penegakan hukum terhadap konten pornografi di platform media sosial Twitter (kini dikenal sebagai X). Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi kasus, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dengan 15 informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem AI Kominfo menerapkan model deteksi berlapis yang mengintegrasikan computer vision dan natural language processing, dengan tingkat akurasi sekitar 85% untuk konten visual dan 75% untuk konten tekstual. Sistem ini mampu mengotomatisasi sekitar 80–85% proses deteksi melalui teknik deep packet crawling dan inspection. Meskipun demikian, pelaksanaan penegakan hukum masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain tingginya tingkat false positives, kesulitan koordinasi lintas platform, serta keterbatasan pemahaman terhadap konteks budaya lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas penegakan hukum memerlukan pengembangan algoritma yang lebih adaptif dengan dukungan data set komprehensif yang sesuai dengan konteks Indonesia, peningkatan koordinasi dengan platform media sosial global, pembentukan satuan tugas terpadu, serta pengembangan kerangka transparansi dan akuntabilitas guna menciptakan ekosistem digital yang aman dan berintegritas.Keywords: Artificial Intelligence; Pornographic Content; Law Enforcement; Twitter (X)
Legal Protection of UMKM Associations under the Job Creation Law in North Bengkulu Fransiska, Septi; Marlinah; Uswatun Hasanah
Walisongo Law Review (Walrev) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/walrev.2024.6.2.25862

Abstract

In the era of Society 5.0, Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) are a cornerstone in driving Indonesia's economic development, playing a critical role in increasing the Gross Domestic Product (GDP) and absorbing a significant portion of the workforce. In North Bengkulu, MSMEs face various challenges, yet these challenges also present opportunities for innovation and growth. The North Bengkulu MSME Association has initiated movements such as "I Love North Bengkulu Products" (G-ARU) to promote local products and enhance community support. However, cooperation between MSMEs and government institutions, specifically the Department of Investment and One-Stop Integrated Services (DPMPTSP), requires improvement, particularly in implementing Law No. 6 of 2023 on Job Creation. While this law aims to simplify business processes and promote partnerships, many MSME actors remain unfamiliar with the new regulatory framework, resulting in implementation gaps. This study employs an empirical legal (socio-legal) approach with a descriptive research method, collecting data through interviews and literature review to analyze the partnership dynamics between MSMEs and DPMPTSP. The findings reveal that although cooperation has yielded benefits in business training, licensing facilitation, and market access, issues remain regarding the transparency of agreements and the effectiveness of promotional activities. The current partnership model favors associations and government agencies more than the MSME actors, indicating a need for clearer regulations, better communication, and more equitable benefit-sharing mechanisms. Di era Society 5.0, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi tumpuan penggerak pembangunan ekonomi Indonesia, berperan krusial dalam meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap sebagian besar tenaga kerja. Di Bengkulu Utara, UMKM menghadapi berbagai tantangan, namun tantangan tersebut juga menghadirkan peluang untuk berinovasi dan berkembang. Asosiasi UMKM Bengkulu Utara telah menginisiasi gerakan seperti "Aku Cinta Produk Bengkulu Utara" (G-ARU) untuk mempromosikan produk lokal dan meningkatkan dukungan masyarakat. Namun, kerja sama antara UMKM dan lembaga pemerintah, khususnya Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), perlu ditingkatkan, khususnya dalam mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja. Meskipun undang-undang ini bertujuan untuk menyederhanakan proses bisnis dan mendorong kemitraan, banyak pelaku UMKM yang belum memahami kerangka regulasi baru tersebut, sehingga menimbulkan kesenjangan implementasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan hukum empiris (sosio-hukum) dengan metode penelitian deskriptif, pengumpulan data melalui wawancara dan telaah pustaka untuk menganalisis dinamika kemitraan antara UMKM dan DPMPTSP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kerja sama telah memberikan manfaat dalam hal pelatihan usaha, kemudahan perizinan, dan akses pasar, namun masih terdapat permasalahan terkait transparansi perjanjian dan efektivitas kegiatan promosi. Model kemitraan yang berlaku saat ini lebih berpihak pada asosiasi dan instansi pemerintah dibandingkan pelaku UMKM, sehingga diperlukan regulasi yang lebih jelas, komunikasi yang lebih baik, dan mekanisme pembagian keuntungan yang lebih adil.

Page 1 of 1 | Total Record : 6