Pustaka : Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya
Pustaka: Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya, merupakan jurnal yang memuat artikel hasil penelitian serta kajian ilmiah di bidang sastra, Bahasa, dan Budaya. Terbit dua kali dalam setahun, pada bulan Februari dan Agustus. Jurnal ini bertujuan menjadi wadah bagi para peneliti, dosen, mahasiswa dan para praktisi di bidang Sastra, Bahasa, dan Budaya untuk mempublikasikan karya ilmiahnya secara luas
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 20 No 2 (2020)"
:
10 Documents
clear
Peningkatan Kualitas SDM Melalui Pelatihan Bahasa Inggris Sebagai Penggiat Literasi Bagi Anak-Anak Jalanan di Yayasan Lentera Anak Bali (YLAB)
Komang Trisnadewi;
Sri Widiastutik;
I Ketut Setiawan
Journal Social and Humaniora Vol 20 No 2 (2020)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/PJIIB.2020.v20.i02.p01
Dalam menghadapi era globalisasi, tuntutan terhadap kebutuhan sumber daya manusia untuk siap menjawab tantangan global sangat besar. Penanaman sikap melalui pendidikan sejak dini sangat penting dalam membentuk kualitas hidup yang baik bagi anak-anak sebagai cikal bakal dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Peningkatan kualitas, khususnya bagi anak-anak jalanan di Denpasar telah menjadi konsentrasi pemerintah sejak lama. Namun kondisi ini belum mampu menjamin anak-anak jalanan mendapatkan pendidikan yang baik dan hidup layak. Yayasan Lentera Anak Bali (YLAB) merupakan yayasan nonprofit bergerak aktif sebagai pemerhati kehidupan anak-anak jalanan sejak tahun 2011 di kawasan Denpasar Timur. YLAB mewujudkan adanya perlindungan hak anak, khususnya dalam pemenuhan hak-hak anak yang berkeadilan baik dalam bidang pendidikan (bagi anak marjinal/kurang mampu), penguatan sistem hukum, kesehatan dan psikososial anak, penanganan anak bangsa korban seks pariwisata Bali. Pihak Yayasan menyadari bahwa anak-anak jalananpun harus diberi kesempatan untuk ikut berperan melalui skill berkomunikasi Bahasa Inggris sebagai satu-satunya alat komunikasi global. Untuk itu muncullah gagasan kerjasama dan diusulkan dalam program kemitraan masyarakat (PKM) ini, berupa sumbangsih pengetahuan dan dukungan berliterasi melalui pendidikan Bahasa Inggris di luar jam kerja anak, selama dua kali dalam seminggu. Hasil dari kegiatan PKM diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara optimal, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kepedulian mengutamakan hak-hak anak dalam berliterasi, menyediakan kemudahan akses belajar, serta evaluasi terhadap wujud pencapaian program pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Makna Sapaan pada Penggunaan Negirai Kotoba: Cerminan Ragam Bahasa Jepang
Ni Made Andry Anita Dewi;
Silvia Damayanti
Journal Social and Humaniora Vol 20 No 2 (2020)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/PJIIB.2020.v20.i02.p10
Negirai kotoba merupakan ungkapan yang cukup sering digunakan oleh masyarakat Jepang dalam kehidupan sehari-hari, baik secara formal maupun informal. Ungkapan yang termasuk dalam negirai kotoba diantaranya adalah gokurou (san/sama) dan otsukare (san/sama). Negirai kotoba dapat didefinisikan sebagai ungkapan apresiasi atau terima kasih atas kerja keras/usaha/upaya yang telah dilakukan seseorang (mitra tutur). Kedua ungkapan tersebut banyak ditemukan dalam dunia kerja khususnya di perusahaan atau perkantoran di Jepang. Penggunaan kedua ungkapan tersebut cukup beragam dan cukup banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti status sosial dan kedekatan hubungan antar partisipan. Salah satu hal yang berkaitan dengan penggunaan negirai kotoba ini adalah bentuk sapaan yang digunakan oleh partisipan. Konteks sosial mendasari penggunaan bentuk sapaan tersebut sehingga partisipan dapat menentukan negirai kotoba yang digunakan dalam tuturan. Drama yang digunakan sebagai data adalah drama berbahasa Jepang yang berjudul Natsuko Kira yang ditanyangkan pada tahun 2016. Drama ini bergenre wanita karir yang menghadapi berbagai masalah dalam pekerjaan maupun kehidupan rumah tangganya.
Standardisasi Pengajaran Bipa: Revaluasi Metode Menuju Kompetensi Komunikatif
I Ketut Darma Laksana
Journal Social and Humaniora Vol 20 No 2 (2020)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/PJIIB.2020.v20.i02.p05
The method of language teaching to achieve communicative competencies to be a choice in second language learning has not developed widely at this time. This paper aims to present the workings of the Linguistic Method as a form of revaluation of traditional methods of language teaching which are considered to have not met the requirements of BIPA Teaching Standardization. The traditional teaching methods applied so far still revolve around the Direct Method and Translation Method. Both of these methods are suspected of not being able to bring learners to communicative competence. The application of the Direct Method has not shown maximum results because it only relies on teaching methods by prioritizing the use of the target language (second language), but the issue of teaching material does not receive an adequate portion to achieve the expected communicative competence. Similarly the Translation Method which basically attempts to convey material by translating it into learner language (generally in English to deal with heterogeneous classes), nor touching teaching material. In connection with that, Cognitive Linguistics which gave birth to Cognitivism Theory and is known as the Linguistic Method in second language teaching is important to be applied to achieve communicative competence. By the standardization it means that method of language teaching must be measured by the linguistic methods itself as a guidance: teaching each aspect of language, such as grammatical patterns, vocabulary groups, and sound devices is carried out in five stages, namely recognition, imitation, repetition, variation, and selection.
Alih Bahasa Figuratif Pada Terjemahan Karya Sastra Puisi
I Nyoman Tri Ediwan;
Sang Ayu Isnu Maharani
Journal Social and Humaniora Vol 20 No 2 (2020)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/PJIIB.2020.v20.i02.p09
Penerjemahan puisi memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibanding teks terjemahan pada umumnya. Penerjemah biasanya menghadapi masalah dalam menerjemahkan bahasa kiasan oleh karena penting untuk menghasilkan kesepadanan dari bahasa sumber (BSu) ke bahasa sasaran (BSa) terutama dari aspek sosio budaya. Penelitian ini berusaha mengidentifikasi bahasa figuratif serta pergeseran pada terjemahan karya sastra puisi. Penelitian ini mengambil data secara acak dari antalogi puisi yang berjudul ‘Serpihan Sajak Dari Australia’. Sumber data adalah puisi berbahasa Inggris (BSu) dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia (BSa). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode dokumentasi. Adapun teknik yang digunakan adalah teknik simak dan catat. Puisi dari BSu dicatatkan baris per baris demikian halnya dengan puisi dari BSa untuk kemudian dianalisa dengan cara membandingkan isi puisi tersebut. Analisa mencakup bahasa figuratif dan juga strategi terjemahan yang digunakan pada terjemahan karya sastra puisi tersebut. Adapun pendekatan atau teori yang diaplikasikan untuk penelitian ini adalah teori terjemahan (Larson), teori pergeseran penerjemahan (Catford dan Simatupang)
Desa dan Banjar Sebagai Kesatuan Struktural dan Fungsional
I Ketut Kaler
Journal Social and Humaniora Vol 20 No 2 (2020)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/PJIIB.2020.v20.i02.p04
Organisasi sosial adat berupa Banjar dan Desa bagi masyarakat Bali sudah tidak asing lagi. Keberadaannya selalu berurusan dengan Adat dan Agama khususnya Agama Hindu. Adapun ciri yang eksklusif daripadanya adalah keterikatan dengan tempat pemujaan yaitu Kahyangan Tiga ( Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem ). Jalinan hubungan structural-fungsional akan tampak di dalam berbagai aktivitas pada ketiga Kuil tersebut. Baik sebagai pendukung tenaga maupun dana. Oleh karena itu kedua organisasi ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Perkembangan Seni Patung Garuda di Dusun Pakudui Gianyar
Anak Agung Inten Asmariati
Journal Social and Humaniora Vol 20 No 2 (2020)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/PJIIB.2020.v20.i02.p08
Tulisan ini mengulas tentang perkembangan seni patung garuda yang ada di Dusun Pakudui Tegalalang Gianyar. Seni patung merupakan bagian dari kesenian dan di era milenial mulai jarang diminati oleh generasi muda. Namun ada salah satu dusun yang hingga sekarang ini masih tetap menekuni seni patung yang menjadi andalannya adalah patung garuda. Permasalahan yang dikaji dalam tulisan ini, (1) Mengenai perkembangan seni patung garuda dan implikasi bagi masyarakat sekitarnya. Metodologi yang digunakan dalam tulisan ini adalah metodelogi sejarah kebudayaan dan teori yang mendukung tulisan ini adalah rhole teori yaitu teori peran yang merupakan peran dari Bapak Made Ada sebagai maestro dari seni patung garuda sehingga beliau sebagai inspirasi bagi generasi muda di dusun Pakudui dalam mengembangkan seni patung tersebut. Sehingga tanpa mereka sadari telah terlibat dalam pelestarian kerajinan seni patung. Melalui seni patung ini berkembang kemudian menjadi home industry sehingga membantu meningkatkan perekonomian rumah tangga dengan merujuk pada tingkat kesehatan masyarakatnya yang makin baik dan taraf hidup yang meningkat serta tingkat pendidikan generasi muda sekarang yang rata-rata sudah ke jenjang perguruan tinggi.
Bentuk Tabu Bahasa Korea
Anak Agung Gede Suhita Wirakusuma
Journal Social and Humaniora Vol 20 No 2 (2020)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/PJIIB.2020.v20.i02.p03
This research was condutcet with the aim of knowing kind of taboo in Korean language. This research is a qualitative research using observation and interview methods in data collection against Koreans who are living and settling in Bali. This research focused on verbal taboo. Classification of Taboo in Korean using theory of taboo from Frazer (1955). Research findings and analysis result show that taboo in Korean has variety depending on the context of the situation and the interlocutor.
Pengembangan Industri Kreatif di Desa Wisata Bona, Belega dan Keramas Perspektif Gender
Ida Ayu Putu Mahyuni
Journal Social and Humaniora Vol 20 No 2 (2020)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/PJIIB.2020.v20.i02.p07
This study on the development of creative industries with a gender perspective is expected to know and understand about the participation of women workers for family income in order to improve their welfare through the industrial sector. as well as the efforts that have been made by related parties, such as the community, local government, and parties concerned about the need to uphold justice in improving the quality of life of the population, especially women. The main problem is: What factors cause women to choose to work and be involved in the creative industry? What are the parties involved in upholding justice in improving the quality of life of the population, especially women according to the gender responsive Presidential Instruction Number 9 of 2000? Gender analysis is used in this study with the assumption that both men and women work and participate according to their potential and needs and equally get benefits
Beda Bahasa dan Berbahasa : Kajian Kepustakaan
Made Henra Dwikarmawan Sudipa
Journal Social and Humaniora Vol 20 No 2 (2020)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/PJIIB.2020.v20.i02.p02
‘Anda bisa bahasa Jepang? Atau apakah Anda bisa berbahasa Jepang? demikian sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari yang nampaknya tidak menimbulkan salah pengertian. Tentu bahasa dan berbahasa, secara linguistik memiliki uraian dan telaah berbeda. Tujuan artikel ini adalah ingin mendiskusikan perbedaan antara bahasa dan berbahasa berdasarkan tinjauan dari beberapa sumber-pustaka. Dalam bahasa Jepang Pengetahuan Bahasa terdiri atas : oninron ‘fonologi’, keitarion ‘morfologi’, tougoron ‘sintaksis’ dan imiron ‘semantik’. Keterampilan berbahasa ada empat yakni : choukai ‘menyimak’, kaiwa ‘berbicara’, dokkai ‘membaca’ dan hyouki ’menulis’. Baik pengetahuan maupun keterampilan ini saling melengkapi untuk mewujudkan fungsi bahasa bagi kemartabatan umat manusia. Tanpa pengetahuan dan keterampilan berbahasa yang menaati kaidah, keselarasan komunikasi manusia pasti terganggu.
Gianyar dalam Perspektif Arkeologi
I Ketut Setiawan
Journal Social and Humaniora Vol 20 No 2 (2020)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/PJIIB.2020.v20.i02.p06
Gianyar mempunyai potensi yang besar dalam bidang kepurbakalaan, yang ditemukan tersebar di seluruh pelosok desa. Di antara kepurbakalaan itu, ada yang terdapat di kaki perbukitan, di tepi pantai, di tengah persawahan atau ladang, di tengah pemukiman, bahkan ada yang terletak di tengah hutan atau tempat yang sangat terpencil. Semuanya masih berada di tempat aslinya, ketika dahulu dibangun secara gotong-royong. Di daerah ini terdapat ratusan situs arkeologi yang merupakan tinggalan purbakala yang masih berfungsi dalam kehidupan keagamaan penduduk setempat. Tinggalan purbakala menggambarkan hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya. Hal tersebut mencerminkan adanya suatu kesanggupan dan kemampuan, bahkan mungkin suatu keunggulan leluhur dalam kontak-kontak sosial budaya dengan pihak luar.