cover
Contact Name
Ngurah Indra Pradhana
Contact Email
indra_pradana@unud.ac.id
Phone
+6281933079954
Journal Mail Official
jurnalpustaka@unud.ac.id
Editorial Address
Kampus Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana Jalan Pulau Nias 13, Sanglah, Denpasar Bali Indonesia 80114
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Pustaka : Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25287508     EISSN : 25287516     DOI : https://doi.org/10.24843/PJIIB
Core Subject : Humanities,
Pustaka: Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya, merupakan jurnal yang memuat artikel hasil penelitian serta kajian ilmiah di bidang sastra, Bahasa, dan Budaya. Terbit dua kali dalam setahun, pada bulan Februari dan Agustus. Jurnal ini bertujuan menjadi wadah bagi para peneliti, dosen, mahasiswa dan para praktisi di bidang Sastra, Bahasa, dan Budaya untuk mempublikasikan karya ilmiahnya secara luas
Articles 186 Documents
Kunci Wasiat Kebudayaan: Membuka Peradaban dengan Aksara Bali I Wayan Suardiana
Journal Social and Humaniora Vol 20 No 1 (2020)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.881 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2020.v20.i01.p07

Abstract

Pendirian Fakultas Sastra Udayana (sekarang bernama Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana) oleh Bung Karno tahun 1958 silam memiliki tujuan mulia, yakni menyelamatkan warisan leluhur orang Bali yang tersurat di dalam daun lontar. Amanat ini telah ditangkap dengan baik oleh Peorbatjaraka, sebagai akhli Jawa Kuna dengan mengatakan dalam pidatonya, “…pendirian Fakultas Sastra Udayana agar mampu sebagai kunci wasiat untuk membuka peti penyimpanan sastra dan budaya secara ilmiah”. Artikel ini menelisik harapan dari dua tokoh pendiri Fakultas Ilmu Budaya yang sudah berlangsung enam puluhan tahun itu apakah saat ini sudah dilaksanakan oleh pemangku kepentingan di tanah Bali ini. Data yang diolah merupakan data kualitatif yang didapat melalui metode studi pustaka. Data disajikan dengan metode deskriptif analitis dibantu teknik deduktif-induktif. Berdasarkan analisa bahwa pesan dari kedua tokoh tersebut (terutama kurun1970-an sampai dengan tahun 2000-an awal) dalam hal menyelamatkan warisan leluhur Bali dalam bentuk lontar kurang membanggakan. Hal ini akibat terjadi stagnasi dalam hal pemanfaatan aksara Bali sebagai akar penyingkap kebudayaan Bali. Titik cerah mulai tampak tahun 2018 dengan dikeluarkannya Perda nomor 1 tahun 2018 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali dan diperkuat oleh Pergub Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.
Kebertahanan Subak di Desa Kedewatan Ubud, di Tengah-Tengah Arus Pariwisata Global I Ketut Setiawan
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 2 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.98 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i02.p08

Abstract

Pertanian sebagai kebudayaan sesungguhnya masih sangat berperan dalam mendukung pengembangan pariwisata, baik dari tata nilai, religiusitas, maupun lingkungannya. Lebih-lebih Ubud merupakan kawasan pariwisata yang sangat terkenal, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ironisnya, sebagai daerah tujuan wisata populer, lahan pertanian rentan terhadap tekanan akibat pariwisata itu sendiri. Kenyataannya terjadi alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian yang difasilitasi oleh kebijakan pemerintah setempat. Selain itu, sumberdaya manusia yang semakin meningkat serta perkembangan industri yang terkait dengan pariwisata, semakin mendorong terjadinya alih fungsi lahan pertanian, khususnya sawah, menjadi lahan non pertanian untuk sarana dan prasarana pendukung pariwisata, seperti hotel, restoran, villa, toko cendramata, dan sebagainya. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan cultural studies. Sebagai alat analisis dalam rangka mencari jawaban atas berbagai pertanyaan dalam penelitian ini digunakan dua teori, yaitu teori hegemoni dan teori praktik. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut. Proses alih fungsi lahan persawahan di Desa Kedewatan, Ubud, terjadi melalui hegemoni dan negosiasi. Alih fungsi lahan persawahan tersebut merupakan bentuk hegemoni pengusaha (pemodal), penguasa (pemerintah) dan para petani itu sendiri, karena menganggap pariwisata memberi kesejahteraan lebih dibandingkan dengan bekerja sebagai petani. Ideologi yang bekerja di balik terjadinya alih fungsi lahan persawahan adalah ideologi ekonomi kapitalis dan gaya hidup. Alih fungsi lahan persawahan berdampak terhadap hilangnya infrastruktur sistem irigasi yang dikelola oleh organisasi subak, struktur sosial, kelembagaan, dan moral ekonomi petani.
Tuturan Besipung Suku Paser Pematang Kabupaten Paser Kalimantan Timur Ditinjau dari Aspek Puisi Lama dan Nilai Budaya Mursalim .
Journal Social and Humaniora Vol 18 No 2 (2018)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.061 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2018.v18.i02.p06

Abstract

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang terdiri dari berbagai suku dan latar belakang budaya yang beraneka ragam. Keanekaragaman itu ditandai dengan kehidupan sosial budaya yang khas dari setiap suku.Kekhasan inilah yang meliputi semua aspek kehidupan latar belakang kebudayaan.Seperti suku bangsa lainnya di daerah Paser juga memiliki kekayaan budaya adat istiadat, dan seni. Namun, kekayaan yang dimiliki oleh suku Paser tersebut tidak terlalu dikenal oleh masyarakat luas, sehingga dikuatirkan akan tergeserkan dengan budaya modern, terutama upacara budaya pengobatan besipung. Itulah sebabnya peneliti mencoba meneliti penelitian yang berjudul “Tuturan Besipung Suku Paser Pematang Kabupaten Paser Kalimantan Timur Ditinjau dari Aspek Puisi Lama dan Nilai Budaya.Tujuan penelitian adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat pembaca mengenai tuturan besipung Suku Paser ditinjau dari aspek puisi lama dan nilai budaya.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif yaitu mendeskripsikan dan mendokumentasikan upacara besipung suku Paser ditinjau dari aspek puisi lama dan nilai budaya. Selanjutnya aspek-aspek materi yang akan dipaparkan dari hasil penelitian dalam penulisan makalah ini adalah seperti berikut: (1) pendahuluan, (2) pembahasan dan uraian yang meliputi; bentuk tuturan Besipung Suku Paser ditinjau dari aspek puisi lama; hubungan upacara Besipung Suku Paser dengan nilai-nilai budaya, (3) penutup.
Sosiolek Bahasa Bali Berdasarkan Variabel Usia dan Etnik I Nyoman Rauh Artana
Journal Social and Humaniora Vol 18 No 1 (2018)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.57 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2018.v18.i01.p09

Abstract

The study of dialectology focuses on language variations based on geographic variables or geographical dialects so that it is known as the study of dialectical geography or linguistic geography but in its development, the study of dialectology extends to language variants based on social variables resulting in social dialectology (Chmabers & Petyt 1980). The social dialects that arise from the layers of society cause variations in the pronunciation of a sound or word in a language. Bali in particular Denpasar is a small city with a heterogeneous society so that inevitably the contacts of the language of the settlers with native speakers. The occurrence of these influences is related to extralinguistic and linguistic factors (intralinguistik). The linguistic (extralinguistic) situation associated with the person to whom the speaker is speaking, the topic of conversation, and the impulse of the speaker, such as the urge to be parallel / acceptable in the use of language by other speakers of language is the social reason of a person using other language elements. In addition, the factor of readiness or ease of pronunciation of certain language elements is the language factor of a person using other language elements. Ethnic differences result in differences in sound or phonological systems that are adapted to give rise to a dialect. The existence of ethnic Javanese and ethnic Balinese on the island of Bali is characterized by phonological differences that occur in a speech or communication so that withoutintroducingourselveswealreadyknowtheoriginofthesespeakersfromJavaorfromBali.
EJAAN BAHASA BALI DENGAN HURUF LATIN (EYD BALI LATIN) I Ketut Ngurah Sulibra; Ni Ketut Ratna Ekawati
Journal Social and Humaniora Vol 17 No 2 (2017)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This spelling came into e?ect after the government established the EyD of Indonesian language in 1972. The purpose of enacting EyD Bali Latin was in order to standardize Balinese language without losing the distinctiveness of Balinese language. The EyD is based on a Latin alphabet of 26 pieces. Some consonants such as / f /, / kh /, / q /, / sy /, / v /, / z /, / x / are used to write foreign vocabulary uptake. To write the Kawi-Latin spelling (Kawi-Latin literary pair), especially in writing Old Kawi / Javanese vocabulary in relation to the script alphabet from the Balinese script to Latin script can be used guidance of Ancient Java Dictionary in accordance with consonant classification or script script. Keywords: standardization, spelling, vowels, consonants, pairs of literature
Perempuan dalam Konstruksi Sosial Religius Masyarakat Bali I Nyoman Duana Sutika
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.833 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p10

Abstract

Religious social construction in the life of society in Bali gives advantages for men but vice versa for women in all aspects of life. Social construction strengthens myths, creates discrimination, marginalization, and oppression of women. Religious interpretations are conducted in constructions created by patriarchal societies, so women are always positioned as subordinate status. This cultural and patriarchal ideology clarifies women as the second class after men, as oppressed objects in all living structures. The image of women behind this cultural manifestation has become a heritage that accepted by balinese people until recently although feminism's insistence has been done entirely to strive for the emancipation and equality in all aspects of life.
PERAWATAN BAHAN PUSTAKA DI PERPUSTAKAAN ketut ayu sanjiwani
Journal Social and Humaniora Vol 17 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Treatment of library materials is a very important activity, which with good care and true, it is expected that the existing collection last long. Library collections preservation e?orts done by: 1. Clean the storage shelves of books and book by using Vacuum cleaner 2. Put the book on the glass cupboard 3. Installing air conditioning in the room of the library 4. Spraying of insecticides with a glass filter or glass di?user in order to weaken the incoming sunlight Fumigation aimed at killing insects, especially eggs and larvae and can be lethal fungus 7. Laminate is a way to protect the already fragile books that kept, of course, will a?ect the positive image of the quality of library services, users visit the library and take advantage of the school library service facilities. Keywords: Nursing; Library materials; fumigation; laminates
Revitalisasi Teks-Teks Kearifan Lokal Kemaritiman untuk Membangun Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara Darmoko .
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.496 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p01

Abstract

Teks sebagai ungkapan bermakna suatu etnik dapat dieksplorasi sebagai kekayaan intelektual bagi siapa saja yang ingin meneliti dan menyajikannya dalam kerangka studi ilmiah akademik. Teks kearifan lokal di Indonsia terekspresikan, baik melalui tradisi tulis maupun lisan, dalam bentuk bahasa, sastra, adat istiadat, dan kesenian. Ekspresi teks-teks lisan dan tulis tersebut dapat menggambarkan tingkat pengetahuan suatu masyarakat, baik berkaitan dengan aspek pertanian maupun kemaritiman.Teks kemaritiman yang bersumber dari kearifan lokal memberikan andil yang cukup besar sebagai modal untuk membangun umat manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Keagungan suatu kerajaan (negara) yang berorientasi pada laut, keperwiraan dan kedigjayaan suatu tokoh penjelajah laut, peristiwa yang menggambarkan kecanggihan strategi dalam bertempur, dan ungkapan rasa bangga terhadap keberadaan laut sebagai sumber nafkah dan kehidupan merupakan nilai-nilai budaya yang dapat memberikan spirit dan motivasi bagi masyarakat untuk mempertebal rasa memiliki, membela, dan mempertahankan keutuhan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. Kesadaran dan pemahaman tentang budaya lokal kemaritiman sebagai milik bangsa dapat memupuk sikap nasionalisme, patriotisme, dan cinta tanah air. Studi ilmiah akademik memberikan ruang kepada peneliti untuk mengeksplorasi korpus data teks-teks kearifan lokal kemaritiman dari berbagai konteks (perspektif), kerangka teori, dan metodologi. Perspektif sejarah, politik, ekonomi, sosiologi, sastra, linguistik, antropologi, filologi, studi kawasan, dan lain-lain memberikan konteks bagi sebuah penelitian untuk disuguhkan bagi masyarakat luas. Permasalahannya bagaimana implementasi dan produk penelitian yang bersumber dari teks-teks kearifan lokal kemaritiman dapat memberikan dampak konstruktif bagi kehidupan umat manusia dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Untuk menangani permasalahan ini diperlukan metodologi yang komprehensif di samping ketersediaan para pakar di bidang ilmu pengetahuan masing-masing, tata kelola (manajemen) birokrasi, serta kemauan politik pemerintah pusat dan daerah untuk menginternalisasi nilai-nilai kearifan lokal kemaritiman yang bersifat universal kepada masyarakat sebagai penjaga kesatuan dan persatuan bangsa.
PROTAGONIS PEREMPUAN EMPAT NOVEL ARYANTI DALAM PEMBACAAN SUBALTERN POSKOLONIALISME Made Jiwa Atmaja
Journal Social and Humaniora Vol 17 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.23 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2017.v17.i01.p01

Abstract

This paper presents a research report female protagonist in the four novels Aryanti, namely Selembut Bunga , Hidup Perlu Akar, Dunia Tak Berhenti Berputar and Getaran-getaran . The fourth novel narrates the search for identity fourth female protagonist in an e?ort to explore the potential of feminism to be placed on equal footing not only the competencies that are gender, but also mondial. Mondialisasi process is mirrored by a series of events that describe the relationships between nations, across cultures and transnation. Behind the events that seem simple and everyday, in fact contained the views of the author are so serious in response to cultural globalization process is in progress and dealing with local culture (Java), and national levels. In cross-cultural, identity clearly a problem that should be redefined. Keywords: femenisme, post-colonial and subaltern third world
Sastra Sebagai Media Komunikasi Lintas Budaya: Tinjauan Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer I Nyoman Suaka
Journal Social and Humaniora Vol 20 No 1 (2020)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.348 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2020.v20.i01.p03

Abstract

Pengarang Indonesia yang paling banyak mendapat sorotan dunia adalah Pramoedya Ananta Toer, seorang pengarang kontroversial pada era orde baru. Sastrawan besar Indonesia ini menghasilkan 53 buku yang telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa di dunia. Berdasarkan angka-angka itu, dapat dikatakan bahwa karya-karya Pramudya mampu menerobos sastra dunia. Beberapa kali Pramudya masuk nominasi untuk meraih hadiah nobel di bidang kesusastraan. Novelis hebat ini namanya menjulang tinggi dengan karya-karyanya, seperti Keluarga Gerilya, Cerita dari Blora, Bukan Pasar Malam, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, dan Gadis Pantai. Novel Bumi Manusia (2001) yang dikerjakan selama mendekam di Pulau Buru sebagai tahanan politik merupakan karya puncak kepengarangan Pramudya. Isi dan penyajiannya sangat menarik dan menantang, sekaligus mampu menghadirkan beberapa pesoalan lintas budaya. Tokoh Sanikem alias Nyai Ontosoroh tidak silau dengan pengaruh budaya Barat, untuk berubah sebagai wanita modern. Padahal, jalan ke arah itu dengan mudah didapat karena sebagai selir Tuan Mellema yang kaya dan mempunyai kekuasaan. Tokoh Nyai ciptaan Pramoedya ini walaupun mendapat gempuran budaya Eropah, tetap pada pendirian dengan konsep kejawaan. Sedikit pun tidak mengalami guncangan budaya (cultural shock) seperti halnya tokoh-tokoh lain dalam sastra Indonesia.

Page 7 of 19 | Total Record : 186