cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 198 Documents
Strategi Komsel yang Misioner dalam Rangka Menuntaskan Amanat Agung Yesus Abraham Geraldi Napitupulu; Muryati Muryati Muryati
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 7, No 1 (2024): Kharismata: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.266

Abstract

The initial problem which is revealed in this research is inequality of the implementation of cell groups which only focus on the fellowship (koinonia) task. Basically, the cell group is the medium to implement God’s mission, for instance to do the evangelism task (marturia). The term “cell group” genuinely is taken from the cell philosophy which split (multiply), similarly “cell group” should multiply in quantity because the marturia’s aspect is done maximally. The inequality which happened in the practice of cell groups now is to be the urgency of this research. Finding the strategy of a missionary cell group to complete Jesus' Great Commision. The researcher uses the descriptive qualitative method with library research’s type. Next, the data analyzed with a content analysis method. The data resources are Bible, books, journals and other literature which connect to the research material. The techniques of the data collection are purposive sampling and snowball sampling. The result of this research is the staretgy of the missionary cell group must contain two things that are the essence of cell group namely fellowship (koinoni), teaching (didaskalia) and evangelism (marturia) and the essence of The Great Commision that are outward discipleship, inward discipleship and baptism. Landasan masalah yang diungkapkan dalam penelitian ini adalah adanya ketimpangan dalam pelaksanaan komunitas sel yang hanya difokuskan pada tugas persekutuan (koinonia) saja. Pada dasarnya, komunitas sel adalah sarana pelaksanaan misi Allah, salah satunya adalah untuk mengerjakan tugas pemberitaan Injil (marturia). Komsel sejatinya diambil dari filosofi sel yang aktif membelah (multiplikasi) demikian juga komsel sejatinya harus bermultiplikasi dalam segi kuantitas karena aspek marturianya dikerjakan secara maksimal. Ketimpangan yang terjadi dalam praktik komsel di masa kini menjadi urgensi penelitian ini untuk menemukan strategi komsel yang misioner dalam rangka menuntaskan Amanat Agung Yesus. Peneliti menggunakan metode penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian library research dan selanjutnya data dianalisis dengan metode analisis isi (content analysis). Sumber data diperoleh dari Alkitab, buku-buku, jurnal-jurnal dan literatur lainnya yang berkaitan dengan materi penelitian. Data diambil dengan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Adapun hasil penelitian dalam artikel ini adalah strategi dari komsel yang misioner dalam rangka menuntaskan Amanat Agung Yesus memuat unsur esensial dari komunitas sel yaitu persekutuan (koinonia), pengajaran (didaskalia), pemberitaan Injil (marturia) dan juga unsur esensial dari Amanat Agung Yesus yaitu pemuridan ke luar berupa penginjilan dan ke dalam berupa pengajaran serta pembaptisan.
Harapan Kristen: Antara Keterlibatan Ilahi dan Paradoks Ketersembunyian dalam Dinamika Kehidupan Manusia Bernhard Hehakaya; Daud Manno; Oral Oko
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 6, No 2 (2024): Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i2.239

Abstract

This article explores the important role of hope in the Christian life by exploring the concept of hope in the Bible and the development of the theology of hope from the Old Testament to the New Testament. This research highlights that Christian hope is not just optimism based on current conditions, but a belief in divine promises that create new forces from outside the current situation. Theological analysis emphasizes the role of perseverance in nurturing hope amidst challenges and suffering. The article also discusses the paradox between divine involvement and God's hiddenness, emphasizing that Christian hope cannot always be predicted from the current situation, but rather stems from the promise of a certain future existence for humans. The results of this research say that hope is not just an emotional aspect or optimism, but a certainty that grows from belief in God who is involved in every aspect of life. Through this paradox, hope becomes a driver of courage and strength, creating a firm anchor that guides the steps of His people on the journey of life. Artikel ini mendalam tentang peran penting harapan dalam kehidupan Kristen dengan mengeksplorasi konsep harapan dalam Alkitab dan perkembangan teologi pengharapan dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Penelitian ini menyoroti bahwa harapan Kristen tidak hanya sekadar optimisme berdasarkan kondisi saat ini, tetapi sebuah keyakinan pada janji-janji ilahi yang menciptakan kekuatan baru dari luar situasi kini. Analisis teologis menekankan peran ketekunan dalam merawat harapan di tengah tantangan dan penderitaan. Artikel juga membahas paradoks antara keterlibatan ilahi dan ketersembunyian Tuhan, menegaskan bahwa harapan Kristen tidak selalu dapat diprediksi dari situasi saat ini, melainkan bersumber dari janji keberadaan masa depan yang pasti bagi manusia. Hasil penelitian ini mengatakan bahwa harapan bukan hanya aspek emosional atau optimisme, tetapi kepastian yang tumbuh dari keyakinan akan Tuhan yang terlibat dalam setiap aspek kehidupan. Melalui paradoks ini, harapan menjadi pendorong keberanian dan kekuatan, menciptakan suatu jangkar kokoh yang memandu langkah umat-Nya dalam perjalanan kehidupan.
Kasih yang Benar: Sebuah Analisis Roma 13: 8-14 di Tengah Kehidupan Orang Percaya Iwan Setiawan; Alfa Chrisen Hillasterion; Christian Marlen Firuli Simarmata; Juldistriani Amisha Diana Maelite; Marni Katue
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 7, No 1 (2024): Kharismata: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.249

Abstract

Jesus was a great teacher who set an example of humility, especially in teaching love to His students in various ways or methods. Love is very easy to say, it is easy to explain good theories about love, but in reality, good theories are not balanced with good life practices. The research method that the author uses is a qualitative approach with a descriptive method, explaining it in a hermeneutic way, namely a method that expresses, translates, and interprets. The source material is the biblical text to gain an understanding of the biblical text. The research aims to discover the principles of love contained in Romans 13: 8-14, to provide a deep understanding of this text so that believers can implement love correctly. The result of his research is Jesus as the Foundation of Love. Jesus Christ is the armor of light, wearing the Lord Jesus. The correct attitude of love is don’t owe anything, love each other, love your neighbor as yourself, don't commit adultery, don't kill, don't steal, don't covet and any other word, love doesn't do evil to fellow human beings because love is the fulfillment of the law. The action is to continue living in Love because time is getting shorter by having to wake up from sleep, put off the deeds of darkness put on the armor of light, and live according to God's will. Yesus adalah guru agung yang memberikan teladan kerendahan hati terkhusus dalam mengajarkan tentang kasih kepada murid-murid-Nya dengan berbagai cara atau metode. Kasih sangat mudah untuk diucapkan, mudah untuk menjelaskan teori-teori yang baik mengenai kasih, tetapi pada kenyataanya teori yang baik itu tidak diimbangi dengan praktek hidup yang baik pula. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, menguraikannya dengan cara hermeneutik yaitu sebuah metode yang mengekpresikan, menterjemahkan dan menafsirkan. Sumber bahannya adalah teks Alkitab dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman dari teks alkitab. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan prinsip-prinsip kasih yang terdapat dalam Roma 13: 8-14, supaya memberikan pemahaman yang mendalam mengenai teks ini sehingga orang percaya dapat mengimplementasikan kasih secara benar. Hasil penelitiannya adalah Yesus sebagai Dasar Kasih. Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang, mengenakan Tuhan Yesus. Sikap Kasih yang benar yaitu jangan berhutang apa-apa, saling mengasihi, mengasihi sesama seperti diri sendiri, jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia karena kasih adalah kegenapan hukum taurat. Tindakan untuk terus hidup dalam Kasih karena waktu yang semakin singkat dengan harus bangun dari tidur, menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang dan hidup sesuai kehendak Tuhan.
Keselarasan dan Ketegangan: Menjelajahi Interaksi antara Narasi Alkitab, Penemuan Sains, dan Iman Kristen Wennar Wennar; Choe Jin Hee; Darmawan Darmawan
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 6, No 2 (2024): Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i2.228

Abstract

The relationship between the Bible and scientific discovery has long been a topic of debate, with perceived contradictions often causing tension between the two fields. This research aims to explore the potential for harmony and tension between the Bible, scientific discovery, and the Christian faith, and examine the implications of these dynamics. The discussion will examine certain areas that are considered contradictory, such as the age of the Earth, the origins of humanity, and the creation narrative, and assess the validity of these claims based on scientific findings. Based on the results of the research, it was found that although tensions may arise, there are many opportunities for reconciliation and mutual enrichment between the Bible and science. By integrating insights from both domains, humans can cultivate a more comprehensive understanding of the world, fostering a deeper appreciation of the complexity of nature and the relevance of biblical teachings in relation to scientific progress.Hubungan antara Alkitab dan penemuan ilmiah telah lama menjadi topik perdebatan, dengan kontradiksi yang dirasakan sering kali menyebabkan ketegangan di antara kedua bidang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi keselarasan dan ketegangan antara Alkitab, penemuan ilmiah, dan iman Kristen, serta mengkaji implikasi dari dinamika tersebut. Pembahasan akan mengkaji bidang-bidang tertentu yang dianggap bertentangan, seperti usia bumi, asal usul umat manusia, dan narasi penciptaan, serta menilai validitas klaim-klaim tersebut berdasarkan temuan ilmiah. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan, bahwa meskipun ketegangan mungkin timbul, terdapat banyak peluang untuk rekonsiliasi dan saling memperkaya antara Alkitab dan sains. Dengan mengintegrasikan wawasan dari kedua domain tersebut, manusia dapat menumbuhkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dunia, memupuk apresiasi yang lebih dalam terhadap kompleksitas alam dan relevansi ajaran alkitabiah dalam kaitannya dengan kemajuan sains.
Kesetaraan dan Keadilan: Prinsip Diakonia berdasar Kajian Teologis 2 Korintus 8:1-15 Dawir, Mae H; Waani, Marciano A; Marini, Roberth R
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1 (2024): Kharismata: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.268

Abstract

The concept of giving in Christianity, understood as a manifestation of love, can, in practice, lead to selfish attitudes and a lack of attention to surrounding needs due to incorrect motivations and misunderstandings, which are still evident in modern Christian communities, including in Indonesia. This study employs an interpretative method on 2 Corinthians 8:1-15 to explore the historical and theological context of Paul's teachings on generosity and equality. The analysis reveals that Paul emphasizes the importance of equality and justice in giving, as well as the encouragement to give voluntarily with a sincere heart. The discussion highlights the relevance of these principles in addressing modern socio-economic challenges and how the church can become an agent of change through just diaconal practices. In conclusion, only through acts of sincere sharing can believers emulate Christ's love and realize equality in an eschatological community reflecting the Kingdom of God Konsep pemberian dalam Kekristenan, yang dipahami sebagai manifestasi dari kasih merupakan ajaran yang sentral. Namun, dalam praktiknya, motivasi dan pemahaman yang salah dapat mengakibatkan sikap egois dan kurangnya perhatian terhadap kebutuhan sekitar, yang masih terlihat di komunitas Kristen modern, termasuk di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode interpretatif terhadap 2 Korintus 8:1-15, untuk menggali konteks historis dan teologis dari ajaran Paulus tentang kedermawanan dan kesetaraan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Paulus menekankan pentingnya kesetaraan dan keadilan dalam pemberian, serta dorongan untuk memberi secara sukarela dengan hati yang tulus. Pembahasan menyoroti relevansi prinsip-prinsip ini dalam menghadapi tantangan sosial ekonomi modern, dan bagaimana gereja dapat menjadi agen perubahan melalui praktik diakonia yang adil. Kesimpulannya, hanya melalui tindakan berbagi yang tulus, orang percaya dapat meneladani kasih Kristus dan mewujudkan kesetaraan dalam komunitas eskatologis yang mencerminkan Kerajaan Allah.
Partikularitas dan Universalitas: Soteriologi Paulus di Roma 3 Airey, Aser; Heryanto, Doni; Oko, Oral
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1 (2024): Kharismata: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.273

Abstract

This research discusses the theological understanding of how salvation works particularly for God’s chosen people, as well as the universality of the offer of salvation for all humanity. Romans 3 serves as a significant foundation for this understanding, where Paul explains that all humans have fallen into sin and need God’s grace through faith in Jesus Christ. The purpose of this study is to deeply analyze the role of grace in salvation and how the theological views of particular and universal salvation can be understood in light of Paul’s soteriology. By referring to Romans 3:22-23, this research also seeks to explain the connection between justification by faith and the universality of sin, which necessitates salvation through Christ. The method used in this research is a descriptive qualitative method with an expository approach to the biblical text, particularly the letter to the Romans. Textual analysis is carried out to explore the theological meaning of the concept of salvation in the context of Paul’s teachings. The results of the study show that while Paul speaks about the election of the chosen people, he still affirms that salvation is offered to all humanity through faith. Thus, Paul’s understanding of salvation unites both particular and universal aspects in the redemptive work of Christ. Penelitian ini membahas latar belakang pemahaman teologis tentang bagaimana keselamatan bekerja secara partikular bagi umat pilihan Allah, serta universalitas tawaran keselamatan bagi semua manusia. Roma 3 menjadi landasan penting dalam pemahaman ini, di mana Paulus menjelaskan bahwa semua manusia telah jatuh ke dalam dosa dan membutuhkan anugerah Allah melalui iman kepada Yesus Kristus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis secara mendalam peran kasih karunia dalam keselamatan dan bagaimana pandangan teologi partikular dan universal dapat dipahami dalam terang soteriologi Paulus. Dengan mengacu pada Roma 3:22-23, penelitian ini juga berusaha menjelaskan keterkaitan antara pembenaran oleh iman dan universalitas dosa yang menuntut keselamatan melalui Kristus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan eksposisi teks Alkitab, khususnya surat Roma. Analisis teks dilakukan untuk mengeksplorasi makna teologis dari konsep keselamatan dalam konteks ajaran Paulus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paulus, meskipun berbicara tentang pemilihan umat pilihan, tetap menegaskan bahwa keselamatan ditawarkan kepada semua manusia melalui iman. Dengan demikian, pemahaman keselamatan Paulus menyatukan aspek partikular dan universal dalam karya penebusan Kristus.
Pentingnya Memahami Entrepreneurship Secara Biblikal bagi Hamba Tuhan Sabaria Zega
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 1 No. 2: Januari 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v1i2.16

Abstract

The servant of God who serves does not always depend on the life of the church served if the church economic is not established yet. God's servants can work, or empower their congregation to work. This article is a qualitative research literature that aims to show the importance of God's servants' understanding of entrepreneurship in order to be able to apply it to the congregation that they serve. The method used is descriptive and biblical analysis by considering several texts that can be a reference for entrepreneurship in the congregation. In conclusion, several passages like Matthew 25: 14-30, Acts 18: 3, and 2 Thessalonians 3: 6-15 can be used as a foundation for God's servants to teach entrepreneurship to their congregations. AbstrakHamba Tuhan yang melayani tidak selalu menggantungkan kehidupannya dari jemaat yang dilayani jika kehidupan perekonomiannya belum mapan. Hamba Tuhan dapat bekerja, atau memberdayakan jemaatnya untuk bekerja. Artikel ini merupakan sebuah penelitian kualitatif literatur yang bertujuan untuk menunjukkan pentingnya pemahaman hamba Tuhan tentang entrepreneurship agar dapat menerapkannya dalam jemaat yang dilayaninya. Metode yang digunakan adalah deksriptif dan analisis Alkitab dengan mempertimbangkan beberapa nas yang dapat menjadi acuan bagi entrepreneurship dalam jemaat. Kesimpulannya, beberpa nas seperti Matius 25:14-30, Kisah Para Rasul 18:3, dan 2 Tesalonika 3:6-15 dapat dijadikan landasan untuk hamba Tuhan mengajarkan entrepreneurship bagi jemaatnya.
Komitmen Organisasi dalam Perspektif Alkitabiah: Sebuah Studi Kuantitatif di Yayasan C Surabaya Sonny Eli Zaluchu
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 1 No. 2: Januari 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v1i2.17

Abstract

Commitment in the organization consists of three, namely affective commitment, continuous commitment, and normative commitment. This commitment can develop with training in professionalism and the planting of Christian values. This study aims to see the extent to which organizational commitment is practice in a Christian foundation by leaders who are directly responsible for running the organization and to find out what spiritual value is the most active form of that commitment. The study was conducted quantitatively using a questionnaire as a data collector. Data is processed to find the position of the confidence interval values in the interval class (high, medium and low). The results of the study show that the dominant commitment affecting unit leaders at the foundation is a continuous commitment which in a biblical perspective is called a hired servant. AbstrakKomitmen di dalam organisasi terdiri dari tiga yakni komitmen afektif, komitmen kontinuans dan komitmen normatif. Komitmen ini dapat dikembangkan dengan pelatihan profesionalisme dan penanaman nilai-nilai kristiani. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana komitmen organisasi dipraktekan di dalam sebuah yayasan Kristen oleh para pemimpin yang bertanggung jawab langsung dalam menjalankan roda organisasi dan untuk menemukan nilai rohani apa yang paling kuat membentuk komitmen tersebut. Penelitian dilakukan secara kuantitatif menggunakan angket sebagai pengumpul data. Data diolah untuk menemukan posisi nilai interval kepercayaan di dalam klas interval (tinggi, sedang dan rendah). Hasil penelitian memperlihatkan, bahwa komitmen yang dominan mempengaruhi para pemimpin unit di yayasan tersebut adalah komitmen kontinuans yang dalam perspektif Alkitabiah disebut sebagai hamba upahan.
Cara Mengajarkan Doktrin kepada Jemaat di Gereja Pestaria Happy Kristiana
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 1 No. 2: Januari 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v1i2.18

Abstract

This subject is important because the teaching and learning process in the church tends to stagnate or not interesting. For this reason a strategy or pattern is needed so that the teaching and learning process can run well. Determining an effective pattern of doctrinal teaching requires a proper understanding of how learners learn. Because to be able to form effective teaching patterns need to understand how adults learn and mix them in the form of an effective learning process. From the discussion, it was found that to determine the effective teaching pattern about doctrine for adults is: the teacher understands accurately about the needs of students. Teachers must be able to find various truths that are needed by students. Knowing the Bible as a real need must be an emphasis on effective learning patterns. Finally, adults need space to share experiences not to be filled with a variety of knowledge. Therefore, the teacher must be able to bridge the knowledge and experience in the process of learning and teaching that takes place.AbstrakPokok bahasan ini menjadi penting dikarenakan proses belajar mengajar di dalam gereja cenderung mengalami stagnasi atau tidak menarik. Untuk itulah diperlukan suatu strategi atau pola yang tepat agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Penentuan suatu pola pengajaran doktrin yang efektif memerlukan pemahaman yang tepat tentang bagaimana peserta didik belajar. Karena untuk dapat membentuk pola pengajaran yang efektif perlu memahami bagaimana orang dewasa belajar serta meramunya dalam bentuk sebuah proses belajar yang efektif.  Dari pembahasan tersebut di dapatkan bahwa untuk menentukan pola mengajar efektif tentang doktrin bagi orang dewasa adalah: pengajar memahami secara akurat tentang kebutuhan peserta didik. Pengajar harus mampu menemukan barbagai kebenaran yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik. Mengenal Alkitab sebagai sebuah kebutuhan nyata haruslah menjadi penekanan pada pola pembelajaran efektif. Akhirnya, orang dewasa membutuhkan ruang untuk berbagi pengalaman bukan untuk dipenuhi dengan berbagai ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, pengajar harus bisa menjembatani antara pengetahuan dan pengalaman dalam proses belajar dan mengajar yang berlangsung.
Rancang Bangun Teologi “Kekudusan” Tentang Hamba Tuhan Sebagai Pemimpin Kristen Menurut Kitab Yosua Zulkisar Pardede
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 1 No. 2: Januari 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v1i2.20

Abstract

Leadership is the key in Christianity. This article aims to present Joshua's leadership pattern in leading the nation of Israel. The method used is the study of the exposition of the book of Joshua with a descriptive method to describe Joshua's leadership at that time. The conclusion of this discussion is that Joshua's leadership emphasizing holiness is an ideal pattern in the leadership of God's servants today. AbstrakKepemimpinan merupakan kunci dalam kekristenan. Artikel ini bertujuan untuk menampilkan pola kepemimpinan Yosua dalam memimpin bangsa Israel. Metode yang digunakan adalah kajian eksposisi kitab Yosua dengan metode deskriptif untuk menggambarkan kepemimpinan Yosua pada masa itu. Kesimpulan dari pembahsan ini adalah, kepemimpinan Yosua yang menekankan kekudusan merupakan pola ideal dalam kepemimpinan hamba Tuhan masa kini.

Page 11 of 20 | Total Record : 198