cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 106 Documents
Implementasi Etika Kristen sebagai Tanggung jawab Moral Hamba Tuhan Dalam Pelayanan dan Kehidupan Sosial Maria Magdalena Swantina; Nicolien Meggy Sumakul
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 2: Januari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i2.208

Abstract

Penelitian ini bertujuan menemukan makna sesungguhnya etika Kristen sebagai tanggungjawab moral yang menjadi landasan sikap batin, perilaku, pertimbangan dan keputusan etis, bagi setiap hamba Tuhan sebagai orang yang menerima panggilan Tuhan untuk menjadi pelayan-Nya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kajian literatur, dengan metode studi pustaka menggunakan sumber buku-buku dan literatur sebagai acuan untuk menemukan makna sesungguhnya etika Kristen dan tanggungjawab moral hamba Tuhan.  Kesimpulan penelitian ini adalah etika Kristen dan tanggungjawab moral, harus dibangun di atas dasar Alkitab sebagai landasan iman dan norma tertinggi bagi setiap pelayan Kristen; serta berpedoman kepada kehidupan dan ajaran Tuhan Yesus Kristus.  Bentuk implementasi dalam pelayanan dan kehidupan sosial dapat diwujudkan melalui sikap yang benar di hadapan Tuhan; track record yang baik dalam kehidupan pribadi; teladan dan integritas dalam keluarga; tim yang solid antar sesama pelayan Tuhan; serta gembala dan pemimpin bagi jemaat.
Pengaruh Pendidikan Kristen dalam Keluarga terhadap Pertumbuhan Gereja Jeffry Johanis Rindengan
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 2: Januari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i2.210

Abstract

This research pays attention to various elements related to education in the family that contribute to the growth of the church. The church is an institution established by God as a partner on earth to reveal His plan and will. However, it cannot be denied that the challenges stemming from the development of the times have eroded many things from the church's duties. This research sees that Christian Education in the family is a significant thing for the growth of the church both in quality and quantity. Education that starts from the family can play a role in producing generations that can have a positive influence on the environment. On the other hand, if the church ignores Christian education in the family, something that will contribute negatively will be created.
Meningkatkan Pertumbuhan Rohani Melalui Penerapan Program Pemeliharaan Anggota Jemaat: Sebuah Kajian di Lingkungan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Denny Austin Panjaitan; Rudolf Wendra Sagala; Alvyn C. Hendriks; Janes Sinaga
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 2: Januari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i2.200

Abstract

Ditemukan bahwa gereja kehilangan anggota jemaatnya, baik anggota lama maupun anggota yang baru bergabung. Hal ini terjadi kurangnya program pemeliharan terhadap anggota jemaatnya. Jiwa-jiwa (anggota) jemaat di dalam gereja-Nya perlu dijaga dan dipelihara, karena pemeliharan dapat meningkatkan pertumbuhan rohani mereka serta Anda memiliki tanggung jawab untuk mengkhotbahkan Injil kepada generasi berikutnya. Jika mereka tidak dirawat dan dipelihara dengan baik maka kemungkinan besar mereka akan hilang. Pendekatan yang dapat dilakukan oleh penatua gereja adalah melalui program pemeliharaan yaitu dengan ada proyek, pelatihan, motivasi, pelaksana, promosi, pelatihan dan evaluasi. Tujuan penelitian ini adalah agar melalui program pemeliharan yang dilakukan oleh gereja maka akan meningkatkan pertumbuhan rohani dan menuntun anggota jemaat dapat lebih setia dalam iman dan kehadiran dalam ibadah. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat membuka wawasan yang luas kepada gereja dalam membangun dan menjalankan program-program pemeliharaan jemaat.
Prinsip Pernikahan Menurut Efesus 5:22-33: Penerapan Doktrin Pernikahan bagi Jemaat GPdI Maranatha Sarawandori, Serui Lukas Takanyuwai; Daud Manno
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.37

Abstract

Christian Marriage, ideally, is based on the truth of God's Word. However, issues are often found in practice, such as marriages ending in divorce or not reflecting the happy and blessed Christian family life. This study aims to formulate the principles of Christian marriage through an understanding of the text of Ephesians 5:22-33. Using a descriptive method, several things are produced as principles of Christian marriage taught to the congregation, especially at GPdI Maranatha Sarawandori, Serui. In conclusion, the principles in Ephesians 5:22-33 can become the spirituality of Christian marriage that makes the Christian family strong and increasingly blessed by God. AbstrakPernikahan Kristen, idealnya, dilandaskan pada kebenaran firman Tuhan. Namun demikian persoalan di lapangan sering ditemukan masih adanya pernikahan yang berujung pada perceraian atau pernikahan yang tidak mencerminkan kehidupan keluarga Kristen yang bahagia dan diberkati Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan prinsip pernikahan Kristen melalui pemahaman teks Efesus 5:22-33. Dengan menggunakan metode deskriptif, maka ada beberapa hal yang dihasilkan sebagai prinsip pernikahan Kristen yang diajarkan kepada jemaat, khususnya di GPdI Maranatha Sarawandori, Serui. Sebagai Kesimpulannya, prinsip dalam Efesus 5:22-33 tersebut dapat menjadi spiritualitas pernikahan Kristen yang membuat keluarga Kristen kuat dan semakin diberkati Tuhan.  
Panggilan dan Pemilihan Allah dalam Konstruksi Soteriologis Petrus: Refleksi Teologis 2 Petrus 1:3-11 David S. Tjandra
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The assumption that salvation has been completed is very unbiblical because humans must complete God's work of salvation that has been given. Salvation for humans who have fallen into sin and have a sinful nature is not enough just with the forgiveness of sins; they must leave their sinful nature. The Holy Spirit was sent to help a man become holy by changing his nature throughout life from sinful to divine. Using a qualitative method with a literature study approach and text analysis, it can be concluded that Jesus' redemption for all people has been completed, but for believers, there is a demand to do what He taught. Because of Christian salvation, Christianity does not tolerate sin; Christianity is not a teaching that allows sinners to enter heaven because of grace. The salvation that is understood to have been completed or perfect is "poison" for every believer because without realizing it, someone with this concept of salvation will feel "safe and secure" without feeling any risk of failure. Salvation has three dimensions in human life. They are past, present, and future. Christian salvation must be worked out actively and progressively with perseverance until it reaches the stage that pleases the Father. This is one of the most essential reasons Christianity must actively seek salvation and grow immediately. AbstractAnggapan keselamatan telah selesai sangat tidak alkitabiah, sebab manusia harus menyelesaikan karya keselamatan Allah yang telah diberikan. Keselamatan bagi manusia yang sudah jatuh dalam dosa, yang memiliki sifat dosa, tidak cukup hanya dengan pengampunan dosa, namun wajib meninggalkan sifat dosanya. Dan Roh Kudus diutus untuk menolong manusia menjadi kudus dengan mengubah kodratnya sepanjang hidup, dari kodrat dosa menjadi kodrat Ilahi. Mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisa teks, maka dapat disimpulkan bahwa Penebusan yang dilakukan Yesus untuk semua orang telah selesai, tetapi bagi orang percaya ada tuntutan untuk mengerjakan apa yang diajarkanNya. Sebab kese-lamatan Kristen, kekristenan tidak toleransi terhadap dosa, kekristenan bukan ajaran yang meng-izinkan orang berdosa bisa masuk sorga dengan alasan anugerah. Keselamatan yang dipahami telah selesai atau sempurna adalah “racun” bagi tiap orang percaya karena tanpa disadari seseo-rang dengan konsep keselamatan seperti ini akan merasa “aman-aman saja” tanpa merasa ada risiko kegagalan. Keselamatan memiliki tiga dimensi dalam kehidupan manusia. Yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Keselamatan Kristen harus dikerjakan secara aktif dan progresif dengan ketekunan sampai pada tahap yang menyenangkan hati Bapa. Inilah salah satu alasan terpenting mengapa kekristenan harus aktif mengerjakan keselamatan dan segera bertumbuh.  
Peran Guru Sekolah Minggu dalam Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis pada Anak Usia 11-12 Tahun Evalina Chrisna Damanik; Lusia Rahajeng; Manat Siahaan; Rondo Alvirano Morihito Victoria Salomo; Desi Sianipar
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 2: Januari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i2.109

Abstract

Critical thinking is one of the potentials of a child and needs to be developed. In Sunday School, teachers must play a role in developing critical thinking skills in children, especially for children aged 11-12 years. Therefore, this study aims to generate ideas about the role of Sunday School teachers in developing critical thinking skills in children aged 11-12 years. This study uses qualitative research methods through a literature study approach. The results of this study are Sunday School teachers can do several things to develop children's critical thinking skills, namely understanding the concept of Biblical theology about critical thinking, imitating Jesus as the Great Teacher in critical thinking, and guiding children in critical thinking. Sunday School teachers must understand each child with their thinking abilities; provide teaching materials that stimulate children to think critically; provide a variety of learning methods; provide opportunities for children to search for their learning materials; and encourage children to express their thoughts creatively and usefully. Keyword: The role of Sunday School teacher, critical thinking, children aged 11–12 year.
Implementasi Peranan Suami dalam Rumah Tangga Kristen berdasarkan Hosea 1-3 Dolvie Kristian Talaksoru; Gernaida Krisna R. Pakpahan
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 2: Januari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i2.146

Abstract

Suami merupakan sumber segala sesuatu dalam keluarga. Posisinya sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan kerohanian istri serta anak-anak. Namun, bagaimana jika suami harus melakukan tindakan yang memalukan bagi keluarganya karena kepatuhan terhadap perintah Allah. Di Perjanjian Lama, terdapat nabi Hosea yang rela berkorban untuk keluarganya demi mematuhi perintah Allah. Artikel ini bertujuan untuk menelusuri peranan dan kehidupan nabi Hosea sebagai seorang kepala keluarga. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi hermeneutik terhadap Hosea 1-3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hosea menunjukkan peranan sebagai suami dengan benar. Hosea tetap mempertahankan pernikahannya meskipun istrinya telah mengkhianati dirinya. Dia menebus Gomer yang kembali melacurkan dirinya. Kesimpulannya, seorang suami harus berkorban dan setia untuk menjaga keutuhan keluarga.
Karakteristik Kepemimpinan Nabi Amos dalam Menghadapi Ketidakadilan Sosial Agus Heru Darjono
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 2: Januari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i2.145

Abstract

Keadilan sosial adalah cita-cita yang diharapkan oleh sebuah bangsa dan masyarakat. Tanpanya, penyimpangan dan ketimpangan pasti terjadi. Keadilan sosial seharusnya diperjuangkan oleh seluruh manusia, termasuk para pemimpin. Namun, karakteristik kepemimpinan seperti apa yang dapat menangkal ketidakadilan sosial dan menggemakan solidaritas persamaan. Tujuan penelitian ini melakukan tinjauan karakteristik kepemimpinan nabi Amos dalam menyampaikan pesan kenabiannya di tengah-tengah situasi masyarakat yang sedang mengalami ketidakadilan sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan beberapa karakter kepemimpinan nabi Amos yang hidup pada masa terjadinya ketidakadilan di bangsa Israel, di antaranya integritas, objektif, menyuarakan kebenaran dan menunjukkan belaskasihan. Karakter-karakter kepemimpinan nabi Amos tersebut masih sangat relevan bagi para pemimpin pada saat ini.
Role Model Kompetensi Kepemimpinan Rohani Paulus dalam Kisah Para Rasul: Studi pada Majelis Daerah GPdI Papua Timotius Dawir; Doni Heryanto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.76

Abstract

An important demand is placed on a leader, which is their leadership competency. The purpose of this research is to demonstrate the spiritual leadership competency of Paul, as portrayed by the author of Acts, as a role model for the Pentecostal Church in Indonesia in Papua. The method used is descriptive with a qualitative approach to the literature review related to the issue or topic of leadership with Paul as the role model. Leadership narratives in Acts become the main source, supplemented by various references from sources such as journal articles and books. In conclusion, Paul's post-conversion spiritual competency can be a guide and role model for leaders of the Majelis Daerah GPdI in Papua.  AbstrakAda hal penting yang dituntut dari seorang pemimpin, yakni kompetensi kepemimpinan-nya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan kompetensi kepemimpinan rohani Paulus yang diperlihatkan oleh penulis Kisah Para Rasul, sebagai sebuah role model kepemimpinan bagi majelis daerah Gereja Pantekosta di Indonesia di Papua. Metode yang digunakan adalah deksriptif dengan pendekatan kualitatif pada kajian literatur terkait isu atau topik kepemimpinan dengan Paulus sebagai role modelnya. Penggunaan narasi kepemimpinan dalam Kisah Para Rasul menjadi sumber utama yang dilengkapi dengan berbagai referensi terkait dari berbagai seumber seperti artikel jurnal dan buku-buku. Kesimpulannya, kompetensi kerohanian Paulus pascapertoba-tannya dapat menjadi sebuah panutan dan role model bagi pemimpin Majelis Daerah GPdI Papua. 
Falsafah Tallu Lolona dan Perspektif Teologi Penciptaan Norman Wirzba sebagai Landasan Ekoteologi Kontekstual Binsar Jonathan Pakpahan; Hiskianta Septian Masseleng
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i1.227

Abstract

This article builds a contextual eco-theology based on the Toraja’s local wisdom of tallu lolona and Norman Wirzba's eco-theology to respond to the environmental crisis, especially in Toraja. Tallu lolona is the philosophy of the Toraja people which shows the relationship between humans, animals, and plants as fellow creatures. The relations between creations should form a harmony because no creature should be dominant than others. Meanwhile, Norman Wirzba emphasized that God is the creator and humans should not dominate other creations; they are responsible for protecting and caring for them. Through descriptive methods with the theology of creation, the research shows that the philosophy of tallu lolona combined with the emphasis on God is the creator and humans are only part of creation, strengthen the contextual eco-theology especially for the Toraja people. Humans must no longer abuse other creation purposes for their interests but must respect and care for them. Artikel ini membangun ekoteologi kontekstual berdasarkan falsafah Tallu Lolona dan ekoteologi Norman Wirzba untuk menjawab krisis lingkungan hidup khususnya di Toraja. Tallu Lolona merupakan falsafah masyarakat Toraja yang memperlihatkan hubungan manusia, binatang dan tumbuhan sebagai sesama ciptaan. Relasi antar ciptaan membentuk kerukunan dan harmoni karena tidak ada yang lebih dominan. Sementara Norman Wirzba memberi penekanan bahwa Tuhan adalah pencipta dan manusia tidak boleh mendominasi ciptaan lain, bahkan bertanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya. Melalui metode deskriptif dan pendekatan teologi penciptaan, penelitian menunjukkan bahwa falsafah Tallu Lolona yang dikombinasikan dengan penekanan bahwa Tuhan adalah pencipta dan manusia hanya bagian dari ciptaan, membuat bangunan ekoteologi kontekstual khususnya bagi masyarakat Toraja menjadi kuat. Manusia tidak boleh lagi menyalahgunakan tujuan ciptaan lainnya untuk kepentingan dirinya, namun harus menghargai bahkan merawatnya.

Page 8 of 11 | Total Record : 106