cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 198 Documents
Tradisi Wiwitan sebagai Pendampingan Pastoral Berbasis Budaya di Desa Bansari Imanuel Teguh Harisantoso; Ones Mahanugraha; Anki Yula Putri Mein
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.121

Abstract

Research on the topic "Wiwitan Tradition as Cultural-Based pastoral care in Bansari Village" Temanggung wants to answer problems related to wiwitan tradition and pastoral care contained in it. How is the tradition of wiwitan as a tools, agrarian community media to do mutual caring? Whatever happens with the results of farmers' hard work: crops are eaten by pests, crops are loss-making, tobacco prices are unfavorable, the weather is not supportive or rainfall is high, farmers still hold wiwitan rituals. Farmers remain strong, still have new expectations of God's abundant blessings in the next growing season. To answer the above problem, the methodology that will be used is a kwalitative approach that is carried out by observative data excavation techniques and participatory interviews. Why participatory? Because researchers are directly involved in wiwitan rituals carried out by farmers. In this way researchers can produce research findings related to the meaning of wiwitan tradition in spiritual and social pastoral care in the spirit of harmony of jagad ageng and jagad alit, the spirit of personal and communal relations is imbued by spiritual and philosophical values of solidarity, harmony and feelings of handarbeni (having) as a family that is tied geographically and culturally. Wiwitan rituals become tools for the way humans to sustain, guide, reconcile and empower others. AbstrakPenelitian dengan topik “Tradisi Wiwitan sebagai Pendampingan Pastoral Berbasisi Budaya di Desa Bansari” Temanggung hendak menjawab persoalan-persoalan terkait tradisi wiwitan dan pendampingan pastoral yang terkandung di dalamnya. Bagaimana tradisi wiwitan sebagai tools, media masyarakat agraris untuk melakukan mutual caring? Apapun yang terjadi dengan hasil kerja keras petani: tanaman dimakan hama, hasil panen merugi, harga tembakau tidak menguntungkan, cuaca tidak mendukung atau curah hujan tinggi, petani tetap mengadakan ritual wiwit. Petani tetap tegar, tetap memiliki pengaharapan baru akan berkah Tuhan yang melimpah pada musim tanam berikutnya. Untuk menjawab persoalan di atas, metodologi yang akan digunakan adalah pendekatan kualitatif yang disokong oleh teknik penggalian data secara observatif dan wawancara partisipatif. Mengapa partisipatif? Dikarenakan peneliti terlibat secara langsung dalam ritual wiwitan yang dilakukan masyakatat petani. Dengan cara demikian peneliti dapat menghasilkan temuan penelitian yang berkaitan dengan makna tradisi wiwitan dalam pendampingan pastoral secara spiritual dan sosial dalam semangat harmoni jagad ageng dan jagad alit, semangat relasi personal dan komunal dijiwai oleh nilai-nilai spiritualitas dan filosofis tentang solidaritas, guyup rukun dan perasaan handarbeni (memiliki) sebagai keluarga yang diikat secara geografis dan kultural. Dengan demikian ritual wiwitan menjadi tools cara manusia menopang, membimbing, menuntun, mendamaikan dan memberdayakan sesama. 
Tanggung Jawab Penginjilan Bagi orang Percaya: Sebuah Refleksi Teologis 1 Korintus 9: 16-17 Ita Lintarwati; Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.164

Abstract

Evangelism is the duty of every human being because, according to God's plan, all human beings need to be returned to their original design, namely to eternity. However, at present, the meaning of evangelism is experiencing bias and decline in its actualization because the mission of evangelism is used to boast. This study aims to describe and analyze the theological study of evangelism according to the narrative text of 1 Corinthians 9:16-17, and from this study, it is found that in carrying out evangelism, the most important needs are self-denial and a willing heart. Because without self-denial, the mission of evangelism will lead to self-aggrandizement and fulfillment of self-interest. AbstrakPenginjilan merupakan tugas setiap umat manusia karena sesuai rencana Allah, semua manusia perlu dikembalikan kepada rancangan semula yaitu kepada kekekalan. Namun saat ini, makna penginjilan mengalami bias dan kemerosotan dalam aktualisasinya sebab tugas penginjilan justru dijadikan sarana untuk memegahkan diri. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisa kajian teologis penginjilan sesuai narasi teks 1 Korintus 9:16-17 dan dari kajian tersebut ditemukan bahwa dalam menunaikan penginjilan, kebutuhan paling utama adalah penyangkalan diri dan kerelaan hati. Sebab tanpa penyangkalan diri tugas penginjilan akan mengarahkan pada kemegahan diri dan pemenuhan kepentingan diri sendiri.  
Makna “Ayah Jangan Menyakiti Hati Anak” dalam Pendidikan Anak Generasi Z: Sebuah Refleksi Kolose 3:21 Kezia Yemima; Ika Murwantiningtyas
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.112

Abstract

Fathers are required to pay great attention to their duties and obligations in the spiritual education of children because children learn to know God through the father figure. So the Bible teaches fathers to educate their children properly according to the truth in God's word. Science and technology are always developing and undergoing major changes in accordance with the times. This development certainly affects the spiritual education of fathers, especially in Generation Z. The research aims to explain the implementation of the meaning of the father not to offend the child in Colossians 3:21 in the spiritual education of Generation Z's children. This research uses a qualitative approach with descriptive methods in achieving the objectives. This research uses a literature study and interview method for data collection purpose. The result is that Christian values form the basis of good relationships between Generation Z fathers and children. ABSTRAKAyah diharuskan memberi perhatian yang besar terhadap tugas dan kewajibannya dalam pendidikan kerohanian anak, karena anak belajar mengenal Allah melalui figur ayah. Maka Alkitab mengajar para ayah untuk mendidik anak dengan baik sesuai dengan kebenaran dalam firman Tuhan. Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami perubahan besar sesuai dengan perkembangan zaman. Perkembangan tersebut tentu mempengaruhi pendidikan kerohanian ayah kepada anak khususnya Generasi Z. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan implementasi makna ayah jangan menyakiti hati anak dalam Kolose 3:21 dalam pendidikan kerohanian anak Generasi Z. Dalam mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif metode dekriptif. Penelitian ini menggunakan metode study literatur dan wawancara dengan narasumber untuk pengumpulan data. Penelitian ini berhasil menemukan nilai-nilai kekristenan menjadi dasar dalam relasi yang baik antara ayah dan anak Generasi Z. 
Pentingnya Partisipasi Pemuda dalam Pembangunan Jemaat: Studi Kasus Pada Gereja Masehi Injili Minahasa Syaloom, Karombasan Julio Eleazer Nendissa
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.108

Abstract

This paper aims to describe and analyze various factors causing the lack of participation of GMIM Syaloom Karombasan youth in Sunday worship services. In terms of quantity, the church youths are around 379 members, but only 13 people are involved in Sunday worship services, namely the youth commission. This makes the author feel concerned to examine more deeply the problems experienced by young people. This paper uses a qualitative research method with a descriptive analysis and interview approach because it can present data related to the lives of youth in service. This paper uses data collection techniques such as structured in-depth interviews. This paper uses the theory of church development from Rob Van Kessel as a knife to sharpen the analysis of the problem. In the results of the research that the author got, it was caused by youth not taking the initiative, promiscuity, musical instruments and sound systems were inadequate, youth creativity was lacking. BPMJ does not facilitate youth in service, lack of communication between BPMJ and youth, and the formation of youth groups who are rich, poor, beautiful, and handsome.  AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa berbagai faktor penyebab minimnya partisipasi pemuda GMIM Syaloom Karombasan dalam pelayanan ibadah minggu. Secara kuantitas para pemuda gereja terbilang banyak sekitar 379 anggota, tetapi yang terlibat dalam pelayanan ibadah minggu hanya 13 orang yaitu komisi pemuda. Hal tersebut membuat penulis merasa prihatin untuk mengkaji lebih dalam terkait permasalahan yang dialami para pemuda. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dan wawancara karena dapat menyajikan data terkait kehidupan pemuda dalam berpelayanan. Tulisan ini menggunakan teknik pengumpulan data seperti wawancara mendalam secara terstruktur. Adapun tulisan ini menggunakan teori pembangunan jemaat dari Rob Van Kessel sebagai pisau untuk mempertajam analisa permasalahan. Dalam hasil penelitian yang penulis dapatkan disebabkan pemuda tidak berinisiatif, pergaulan bebas, alat musik dan sound system tidak memadai, kreatifitas pemuda kurang. BPMJ tidak memfasilitasi pemuda dalam pelayanan, minimnya komunikasi BPMJ dan pemuda, dan terbentuknya kelompok-kelompok pemuda yang kaya, miskin, cantik, ganteng.
Implementasi Makna Teologis Persekutuan dalam Praktik Ibadah Virtual Masa Kini: Refleksi Teologis Ibrani 10:19-25 Abraham Geraldi; Purim Marbun; Dio Angga Pradipta Gunawan
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.115

Abstract

This research covered the contrary viewpoint to the practice of virtual worship that hasn’t been containing or removing the element of fellowship as duly due to do with virtual without physically meeting or physical contact reality. On other hand, fellowship is one of the church’s callings and Hebrews 10:19-25 affirmed and recommended for every believer to fellowship constantly from their worship meeting. This research aims to find out what is the meaning of fellowship worship within Hebrews 10:19-25 and find out the implementation of practical virtual worship in this era, so that can answer all the contrary viewpoints about fellowship in virtual worship. The researcher used the research method with descriptive qualitative and library research as a type of this research. Data analyzed with content analysis method with exegesis study. The resources were taken from the Bible, books, journals, and other literature related to this research. The research found that: (1) The theology’s meaning of fellowship contained in Hebrews 10:19-25 consist of three meanings divine fellowship, fellowship in the present period and in the future period; (2) The fellowship according to Hebrews 10:19-25 have two urgencies that are to realize faith, love, and hope also to savor the manifestation of eschatological fellowship; (3) The appropriate implementation from practical virtual worship to realize the theology’s meaning of this fellowship are worship using the digital platform of video conference, forming and worshiping within a small group and worship with utilization family community in house. AbstrakPenelitian ini dilatar belakangi oleh adanya pandangan yang kontra terhadap pelakasanaan ibadah virtual yang dianggap tidak mengandung atau telah menghilangkan unsur persekutuan sebagaimana mestinya karena tidak adanya pertemuan fisik ataupun kontak fisik secara langsung. Di sisi yang lain, bersekutu adalah salah satu tugas gereja dan di dalam Ibrani 10:19-25 juga ditegaskan serta dianjurkan agar setiap orang percaya tetap bersekutu melalui pertemuan ibadah yang dilakukan. Penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan bagaiamana makna sebenarnya dari persekutuan ibadah yang tergandung dalam Ibrani 10:19-25 dan   mencari implementasinya dalam praktik ibadah virtual di masa kini agar dapat menjawab setiap pandangan yang kontra mengenai persekutuan dalam ibadah virtual. Peneliti menggunakan metode penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian library research dan selanjutnya data dianalisis dengan metode analisis isi (content analysis) melalui studi eksegesis. Sumber data diperoleh dari Alkitab, buku-buku, jurnal-jurnal dan literatur lainnya yang berkaitan dengan materi penelitian. Dari penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa: (1) Makna teologis persekutuan yang terkandung dalam Ibrani 10:19-25 terdiri atas tiga makna yaitu persekutuan Ilahi, masa kini dan masa mendatang; (2) Persekutuan menurut Ibrani 10:19-25 memiliki dua urgensi yaitu untuk mewujudkan iman, kasih serta pengharapan dan untuk mengecap manifestasi persekutuan eskatologis; (3) Implementasi yang tepat dari makna teologis persekutuan tersebut dalam pelaksanaan ibadah virtual adalah melangsungkan peribadahan  menggunakan platform digital video conference, membentuk dan melaksanakan peribadahan dalam kelompok kecil serta pelaksanaan ibadah dengan pemanfaatan komunitas keluarga di rumah. 
Perspektif Alkitab tentang Pilihan Menikah atau tidak Menikah Styadi Senjaya; Jessica Elizabeth Abraham; Tjutjun Setiawan; Meriwati Meriwati
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.154

Abstract

Views about marriage are changing. Factors such as culture, environment, and family also influence. Several studies show the number of people who choose not to marry has increased due to economic reasons, the trauma of divorce, or lifestyle choices. This paper aims to find a biblical perspective on a person's choice to marry or not to marry. The research used in this paper, which is a qualitative method of literature study, finds that a person's choice to marry or not to marry must be focused and based on God's will, not because of personal considerations. This paper is expected to help the church to provide guidance and biblical teaching for the congregation so that they can make decisions according to God's will.  AbstrakPandangan tentang pernikahan mengalami perubahan. Faktor seperti kebudayaan, lingkungan, dan keluarga ikut memengaruhi. Beberapa studi menunjukkan jumlah orang yang memilih untuk tidak menikah mengalami peningkatan dikarenakan alasan ekonomi, trauma perceraian ataupun pilihan gaya hidup. Tulisan ini bertujuan menemukan perspektif Alkitab tentang pilihan seseorang untuk menikah atau tidak menikah. Penelitian yang digunakan dalam penulisan ini, yaitu metode kualitatif studi pustaka, menemukan pilihan seseorang untuk menikah atau tidak menikah harus berfokus dan berdasar kepada kehendak Tuhan bukannya karena pertimbangan pribadi. Tulisan ini diharapkan membantu gereja untuk memberikan bimbingan dan pengajaran Alkitabiah untuk jemaat agar dapat mengambil keputusan yang sesuai kehendak Tuhan. 
Penginjilan Pribadi Berdasarkan Yohanes 4:1-42: Sebuah Tawaran Aplikatif bagi Jemaat GPdI “Siloam” Kencong Devi Anita Subagyo; Doni Heryanto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 2: Januari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i2.206

Abstract

This research aims to encourage the GPdI Siloam Kencong congregation to be called to be active in evangelizing missions. The lesson to be taught is taken by exposing the narrative of Jesus' conversation with the Samaritan woman in the Gospel of John. This passage is very abundant with various matters related to God's mission, including how to form and build a Biblical theology of evangelism. Yohanes presents a narrative in such depth because it touches on geography, identity, culture, polemic and so on. This is very relevant to the Indonesian context, especially for believers who have struggles to be personally involved in God's mission. This research resulted in several steps in building a biblical evangelism method. Keywords: Evangelism, Gospel of John, Jesus and the Samaritan Woman, Mission Theology
Revitalisasi Kompetensi Dosen Pendidikan Tinggi Teologi di Era Internet of Things Pestaria Happy Kristiana
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 2: Januari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i2.205

Abstract

Era internet of thing telah membawa perubahan yang signifikan di dunia Pendidikan Tinggi Teologi. Terlebih lagi dengan adanya pandemi covid-19. Proses pembelajaran diharuskan dalam jaringan. Dosen Teologi dipaksa untuk mengakomodir model pembelajaran daring dan menggunakan teknologi. Namun pada kenyataannya, dosen Teologi belum memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan model belajar. Hal yang dilakukan memindahkan model Pendidikan lama ke dalam jaringan. Alhasil, proses pembelajaran bukan semakin baik, tetapi semakin mengalami kemunduran. Keadaan ini, memaksa para pemangku Pendidikan Teologi melakukan revitalisasi kompetensi dosennya. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dan metode content analysis, yakni suatu teknik penelitian untuk memberikan inferensi yang dapat direplikasi (ditiru) dan sahih datanya dengan memerhatikan konteksnya. Revitalisasi ini dilakukan dengan mengembangkan dua hal pokok yaitu revitalisasi kompetensi diri dan kompetensi ketrampilan. Kompetensi diri dengan mengembangkan empat kompetensi diri yaitu literasi digital, literasi teknologi, literasi manusia dan kemampuan konseling. Sedangkan kompetensi ketrampilan dengan mengembangkan kemampuan menciptakan model pembelajaran yang menggabungkan model tatap muka dan daring.
Uang dan Pendeta Pantekosta: Studi Kasus Penatalayan Jemaat Imanuel Pucang Gading Demak Rudy Siahaan; Elia Tambunan; Ruwi Hastuti; Resky Orelemba Gaibu
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 2: Januari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i2.194

Abstract

Penatalayanan merupakan tata kelola pastoral gerejawi termasuk mengenai uang dengan setia. Akan tetapi, banyak yang mempersoalkan apakah boleh dan pantaskah keuangan gereja ditangani gembala jemaat, hal tersebut merupakan tujuan tulisan ini yang akan dijawab. Penelitian ini ialah pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Lokasi penelitian di Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat Imanuel Pucang Gading Demak, Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan justru oleh moralitas uang dengan cash and flow Pantekosta, yakni kepemilikan harta benda dalam prinsip-prinsip Alkitab, dijalankan bertanggung jawab, akuntabilitas pengelolaan, dan menghargai berkat Tuhan. Hal itu mampu meningkatkan neraca gereja khususnya persembahan perpuluhan jemaat. Sesuai dengan ketentuan organisasi, gembala justru menujukkan keteladanan dengan tertib dan terbuka dalam menyetor perpuluhan ke Majelis Wilayah berdampak baik kepada jemaat, sehingga mereka berbuat hal sama ke gereja lokal.
Evaluasi Pemahaman dan Praktik Ajaran Sehat Menurut 2 Timotius 1:1-18: Studi Kasus pada Pelayan di Jemaat GPdI “El Shadday” Sukowono Jember Jek Ming; Daud Manno
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 2: Januari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i2.207

Abstract

This research shows that the values in II Timothy 1:1-18 can build practical theology that is relevant to the problems in GPdI Sukowono. This study produces several instruments that can be used to evaluate congregational problems in general regarding efforts to maintain healthy teachings in the congregation. Maintaining Healthy Teachings is a legacy of faith that requires consistency, sincerity, and faith. Thus the description of the values described can be developed into an instrument in assessing how believers should continue to pay attention to their daily spiritual life.

Page 7 of 20 | Total Record : 198