cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 106 Documents
Sikap Pemimpin Gereja Menghadapi Hambatan Pemberitaan Injil di Kabupaten Klungkung, Bali: Studi Deskriptif Kisah Para Rasul Pasal 1-8 Wahju Kurniawan; Oral Oko
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i1.55

Abstract

This study aims to describe the obstacles in preaching the gospel and the attitudes of church leaders in Klungkung district-Bali in dealing with these obstacles. To achieve the objectives of the study, this research was conducted qualitatively, which intends to understand the phenomenon with respect to what is experienced by the research subject. Therefore, the method used is to search for relevant literature sources (library research) and interviews with research subjects. The data obtained is then collected for processing and then described, analyzed and interpreted in such away. After the research procedure was carried out, it was found that there were obstacles, both internal and external, in preaching the gospel in Klungkung, Bali. For internal barriers, there are seven kinds of obstacles, while external barriers there are ten kinds of obstacles. Leaders of Protestant Churches in Klungkung Regency, Bali 100% understand the attitude of Church leaders in the book of Acts chapters 1-8 in dealing with internal and external obstacles. AbstrakPenelitian bertujuan untuk mendeskripsikan hambatan-hambatan dalam pemberitaan Injil dan sikap para pemimpin gereja di kabupaten Klungkung, Bali dalam menghadapi hambatan tersebut. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut maka penelitian ini dilakukan secara kualitatif, yang bermaksud untuk memahami fenomena berkenaan dengan apa yang dialami oleh subjek penelitian. Oleh karena itu, metode yang dipakai adalah menelusuri sumber literatur yang relevan (penelitian pustaka) serta wawancara dengan subjek penelitian. Data yang diperoleh kemudian dikumpulkan untuk diolah dan kemudian dideskripsikan, dianalisis diinterpretasi sedemikian rupa. Setelah prosedur penelitian tersebut dilak-sanakan maka ditemukan bahwa terdapat hambatan-hambatan, baik internal dan eksternal dalam pemberitaan Injil di Kabupaten Klungkung, Bali. Untuk hambatan internal terdapat tujuh macam hambatan, sedangkan hambatan eksternal ada sepuluh macam hambatan. Pemimpin gereja Protestan se-Kabupaten Klungkung, Bali 100% memahami tentang sikap pemimpin gereja di kitab Kisah Para Rasul pasal 1-8 dalam menghadapi hambatan-hambatan internal dan eksternal.
Pentingnya Kurikulum dalam Pelayanan Pemuridan di Gereja Handreas Hartono; Vitaurus Hendra
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i1.40

Abstract

This article was written to be a proposal for discipleship's curriculum for Gereja Sungai Yordan (GSY) Jemaat Rajawali Pasar Baru Jakarta base on the church's vision & mission.  Church's vision and the mission were base on Matthew 28:19-20 and being implemented by the discipleship program. The method used in this study uses qualitative methods through the study of documents, interviews, and observations. In this study, it was found that Gereja Sungai Yordan Rajawali used discipleship as their core movements, but this movement has not been systematically structure and implements in their programs, procurement of discipleship materials, and socialization actions. The research purpose is to make a systematized discipleship curriculum for GSY Rajawali. AbstrakArtikel ini bertujuan memberikan usulan kurikulum pemuridan bagi Gereja Sungai Yordan (GSY) Jemaat Rajawali Pasar Baru Jakarta berkaitan dengan visi misi gereja yang diambil dari Matius 28:19-20. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif melalui studi dokumen, wawancara dan observasi. Pada penelitian ini ditemukan bahwa GSY menjadikan pemuridan sebagai pusat kegerakkan gereja, namun belum tersusun sistematis dan diimplementasikan sebagai program utama gereja, belum memiliki bahan ajar pemuridan, dan sosialisasi tindakan. Penelitian yang dilakukan ini untuk menyusun kurikulum pemuridan GSY Rajawali.
Ekstraksi Pemahaman Cyprianus tentang Extra Ecclesiam Nulla Salus bagi Gereja Pentakosta di Era Postmodern Anggi Maringan Hasiholan; Andreas Budi Setyobekti
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i1.75

Abstract

The postmodern era is closely related to pluralism and relativism. All are subject to this principle, including human salvation. Jesus, the only way of salvation, is not accepted absolutely, let alone the Extra Ecclesiam Nulla Salus principle (outside the church there is no salvation) which was coined by the church father Cyprian. This principle is considered too exclusive because it does not provide room for people outside the church to get salvation. In addition, this teaching was also declared null and void by the times. Is this true? That is why it is important to extract this Cyprian understanding that can be used as guidance for the Pente-costal church. The method used is descriptive qualitative with data collection techniques through library research. The data is then extracted and linked to the actions that have been carried out by the Pentecostal church or synod so far. The results of the study indicate that there is a close relationship between ecclesiology and Christology and soteriology. This principle also supports the authority and duty of the church in conveying salvation to men and maintaining pure teaching.AbstrakEra postmodern erat kaitannya dengan pluralisme dan relativisme. Semua dike-nakan prinsip ini, termasuk keselamatan manusia. Yesus satu-satunya jalan keselamatan saja tidak diterima secara absolute apalagi prinsip Extra Ecclesiam Nulla Salus (di luar gereja tidak ada keselamatan) yang dicetuskan oleh bapa gereja Cyprianus. Prinsip ini dianggap ter-lalu ekslusif karena tidak memberikan ruang bagi orang diluar gereja mendapatkan kese-lamatan. Selain itu ajaran ini juga dinyatakan batal oleh perkembangan zaman. Apakah benar demikian? Itu sebabnya, penting untuk mengekstraksi pemahaman Cyprianus ini yang dapat menjadi pegangan bagi gereja Pentakosta. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui studi keperpustakaan. Data selanjutnya diekstraksi dan dikaitkan dengan tindakan yang telah dilakukan oleh gereja atau sinode Pentakosta selama ini. Hasil penelitian menyatakan bahwa ada hubungan erat antara eklesiologi dengan kristologi dan soteriologi. Prinsip ini juga memberikan dukungan akan otoritas dan tugas gereja dalam menyampaikan keselamatan kepada manusia dan menjaga ajaran yang murni.
Kitab Mazmur: Inspirasinya bagi Kehidupan Manusia Menyejarah Priyantoro Widodo
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.59

Abstract

The Psalms are part of The Holy Canon. This book has four synonym names. Why is that? Inn addition, this book indicates the form of poetry and so it is called Psalms number 1 to 150. This unity of 150 poetry has what meaning and importance to the life of the Christian faithful? Research on this is based on the Christian Canonical Scriptures in their final form. In order to answer the two research questions above, the researcher used the biblical library research method with the literary criticism approach. The research of Psalms biblical literature is valuable written literary data as it is owned and maintained by the community of users, so the research on it also pays attention to this phenomenon. Synonymization of the mention of the Holly Book of the Canon of the Psalms in several translations indicates the importance of the Scriptures to be revitalized by the, of faith in their lives. The Psalms are still relevant for the life of the faithful in motivating to live historically on this earth. The historical life that is meant to be true and wise with the considerations of the mind, and be firm in the decision to live in the guidance and enlightenment of the Law of God.AbstrakKitab Mazmur merupakan bagian dari kitab Kudus Kanonik. Kitab ini memiliki sebutan sinonim yang jumlahnya ada empat. Mengapa demikian? Selain itu, kitab ini mengindikasikan bentuknya berupa syair atau puisi sehingga disebut Mazmur nomor 1 hingga 150. Kesatuan syair atau puisi yang jumlahnya 150 ini memiliki makna dan kepentingan apa bagi kehidupan umat beriman Kristen? Penelitian atas hal ini dilandasakan kepada teks Kitab Kudus Kanonik Kristen dalam bentuknya yang sudah final.  Dalam rangka menjawab dua pertanyaan penelitian di atas, peneliti menggunakan metode riset pustaka biblika dengan pendekatan kritik kesusasteraan. Riset kesusastraan biblika Mazmur sebagai data sastra tulis berharga sebagaimana dimiliki dan dipelihara oleh komunitas penggunanya, maka dalam penelitian atasnya pun dengan mengindahkan fenomena ini. Sinonimisasi penyebutan kitab Kudus Kanonik Mazmur dalam beberapa terjemahan mengindikasikan kepentingan Kitab Kudus itu untuk direlevansikan oleh komunitas beriman dalam kehidupannya. Kitab Mazmur masih relevan bagi kehidupan umat beriman dalam memotivasi untuk hidup menyejarah di bumi ini. Hidup menyejarah yang dimaksud harus secara benar dan bijaksana dengan pertimbangan akal-budinya, serta teguh dalam keputusan untuk hidup dalam tuntunan dan pencerahan oleh Taurat TUHAN.
Strategi Pendidikan Agama Kristen bagi Remaja dalam Membentuk Konsep Diri guna Menghadapi Krisis Identitas akibat Penggunaan Media Sosial Jellyan Alviani Awang; Iky S. P. Prayitno; Jacob Daan Engel
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i1.64

Abstract

The main problem of adolescents in the social media era is The identity crisis. Adolescents who have an identity crisis need achievement identity to determine their self-concept. The phenomenon of social media that shows the illusion of the perfect lifestyle can make adolescents run into an identity crisis due to their inability to comply with social standards. Christian religious education is education to develop a Christian personality and will have a positive impact on adolescents to be able to solve their problems. The result of this study provided attempts to reconstruct the religious education strategy to form and improve a self-concept that shows a Christian character so that they can understanding their existence as a whole as God's creation. Abstrak Masalah utama para remaja di era media sosial adalah krisis identitas. Remaja yang mengalami krisis identitas memerlukan pencapaian identitas agar dapat menentukan konsep diri. Fenomena media sosial yang menampilkan ilusi kesempurnaan gaya hidup dapat menjadikan remaja mengalami krisis identitas akibat ketidakmampuan untuk mengikuti standar sosial. Pendidikan Agama Kristen ialah pendidikan untuk menumbuh kembangkan kepribadian Kristen yang berdampak positif dalam diri remaja agar dapat mengatasi masalah krisis identitas yang dihadapi. Penelitian ini menghasilkan strategi pendidikan Kristen untuk membentuk dan meningkatkan konsep diri yang dapat menampilkan karakter Kristen sehingga dapat memaknai eksistensi dirinya secara utuh sebagai ciptaan Allah. 
Penciptaan Alkitabiah dan Evolusi: Berbagai Upaya untuk Merekonsiliasi Keduanya Yohanes Verdianto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.19

Abstract

 Since Charles Darwin wrote his book on the theory of human evolution in 1859, the paradigm of Christians and even Christian theologians have partially endorsed it or at least tried to reconcile ideas about biblical creation and the theory of evolution. Attempts have been made in literary form by Christian theologians who strongly believe in the Bible but at the same time believe in evolution, in their effort to reconcile both. This paper attempts to examine the writings of several theologians on evolution and biblical creation, and then provide rebuttals regarding the views of those who try to reconcile six-day biblical creation with the millions of years of evolutionary theory, but override the authority of Scripture. The expected result in this paper is that the biblical authority and its validity in the story of God’s creation during the six days is literal and cannot be reconciled with the theory of evolution. This paper using a documentary research method, in which the primary resources are the theologians who believe in God and simultaneously believe in the theory of evolution. Secondary resources are needed as a comparison and provide input in connection with this research. AbstrakSejak Charles Darwin menulis bukunya tentang teori evolusi manusia pada tahun 1859, paradigma orang Kristen dan bahkan para teolog Kristen pun sebagian telah mendukungnya atau setidaknya mencoba menyelaraskan ide tentang penciptaan alkitabiah dan teori evolusi. Berbagai upaya telah dibuat dalam bentuk literatur oleh para teolog Kristen yang sangat memercayai Alkitab tapi di saat yang sama juga memercayai evolusi, dalam upaya mereka untuk menyelaraskan keduanya. Makalah ini mencoba untuk menelaah tulisan beberapa teolog sehubungan dengan hal tersebut dan memberikan sanggahan sehubungan dengan pandangan mereka yang mencoba menyelaraskan penciptaan alkitabiah selama enam hari dengan teori evolusi yang berlangsung jutaan tahun, namun dengan mengesampingkan otoritas Kitab Suci. Hasil yang diharapkan dalam makalah ini bahwa otoritas Alkitab dan keabsahannya dalam kisah penciptaan Allah selama enam hari literal adalah benar dan tidak dapat diselaraskan dengan teori evolusi. Makalah ini menggunakan metode studi literatur, di mana sumber utama adalah tulisan para teolog yang memercayai Allah dan secara bersamaan memercayai teori evolusi. Sumber sekunder diperlukan sebagai pembanding dan memberikan masukan sehubungan dengan penelitian ini.
Analisis tentang Peran Penatua dalam Pertumbuhan Gereja Sri Wahyuni; Marciano Antaricksawan Waani
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i1.38

Abstract

This research is about the role of elders in the Pentecostal Church in Indonesia (GPdI) of the Gethsemane church in Kuta, which has been initiated since May 18, 1979, by Ms. Nani Soetarni, and has experienced growth both in quality and quantity. As the church grows, the church leader or pastor appoints elders to help with the stewardship. The purpose of this study was to find out how the church's perspective on the stewardship task carried out by the elders at Gethsemane Gethsemane Kuta, Bali. The method used is a qualitative method, in which the participants are the GPdI Gethsemane Kuta congregation with a total of 44 people. Data collection techniques by distributing and collecting question questionnaires, where the results are, not all elders carry out their duties to the maximum. This is due to the lack of understanding of the elders about the duties and responsibilities related to the growth of the church, ineffective communication among the elders.AbstrakPenelitian ini tentang peran penatua di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) jemaat Getsemani Kuta, yang telah dirintis sejak tangal 18 Mei 1979, oleh ibu Nani Soetarni, serta telah mengalami pertumbuhan baik secara kualitas maupun kuantitas. Seiring dengan pertumbuhan gereja, maka pemimpin gereja atau gembala sidang menun-juk para penatua untuk membantu tugas penatalayanan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana perspektif jemaat tentang tugas penatalayanan yang dilakukan oleh para penatua di GPdI Getsemani Kuta, Bali. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, di mana partisipan merupakan jemaat GPdI Getsemani Kuta yang berjumlah sebanyak 44 orang. Teknik pengumpulan data dengan mengedarkan dan mengumpulkan angket pertanyaan, di mana hasilnya adalah, belum semua penatua melaksanakan tugas pelayanannya dengan maksimal. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya pemahaman para penatua tentang tugas dan tanggung jawabnya yang berhubungan terhadap pertumbuhan gereja, komunikasi yang tidak efektif di antara para penatua.
Missio Dei dalam Konteks Indonesia: Analisis Naratif Matius 18:15-17 sebagai Misi Allah bagi Gereja Hanry Chandra; Grant Nixon; Martina Novalina
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i1.77

Abstract

The Church is a fellowship of the sinners who have accepted Jesus Christ as Lord and saviour. Ironically, even after receiving forgiveness of sin, congregations are still human beings who still have the potential to do sin or mistake. It can happen to anyone, whether he is a church member, servant, or even pastor. Besides that, sin and mistake can happen in multiple forms and places, internally or externally. This article itself is an effort to find a biblical formulation in order to face this reality within the church ministry. This formulation can be found within Matthew 18:15-17 which contains a special discourse in Matthew concerning the church. The Church often understands Missio Dei or God’s mission only for non-Christian. According to this research, by using a descriptive-analytical method toward Matthew 18:15-17, which is a proportional hermeneutic approach, there seems a concept that Missio Dei also goes to Christians who live in sin. God loves sinners and because of that, He arranges how a Christian community faces its members who did sin. In this case, Matthew 18:15-17 teaches a concept that Missio Dei happens in multidimensional, including the one who has known God, yet falls in sin again.AbstrakPemahaman Missio Dei yang terlalu terpusat pada gereja cenderung menempatkan sasarannya atas bangsa-bangsa yang belum terjangkau Injil atau daerah-daerah yang belum pernah dijelajah. Hal ini menyebabkan perhatian Missio Dei sangat dominan pada usaha kon-versi. Mereka yang telah terhisab dalam gereja dipandang sebagai “yang telah ditemukan”, sehingga tidak lagi menjadi sasaran utama dalam pembahasan misi. Padahal penekanan pada usaha konversi semacam ini dapat menjadi tantangan tersendiri dalam misi konteks Asia, terutama Indonesia. Melalui penelitian dengan menggunakan metode deskriptif analitis terhadap Matius 18:15-17, yaitu melalui pendekatan hermeneutik yang proporsional, ditemukan suatu konsep bahwa Missio Dei berlaku juga bagi mereka yang sudah Kristen namun jatuh dalam dosa. Allah mengasihi orang berdosa dan oleh sebab itu, Ia mengatur bagaimana komunitas Kristen menghadapi jemaat yang berbuat dosa. Dengan kata lain, teks Matius 18:15-17 mengajarkan satu konsep bahwa Missio Dei berlaku dalam berbagai dimensi, termasuk bagi orang-orang Kristen yang sudah mengenal Allah, namun berbuat dosa lagi. 
Aplikasi Karakteristik Pemimpin Jemaat menurut Surat Titus di Lingkungan GPdI Wilayah I Manokwari Iyay Odja Jeremia; D. S. Budiono Santoso
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.51

Abstract

Character is a very principle thing related to leader or leadership. As a church leader, sometimes the characteristics are not always ideal as expected. There have been many cases related to the lack of characteristics of church leaders, especially in the Pentecostal Church in Indonesia, the Manokwari region. This research is a literature review of Titus' letters using descriptive-interpretive methods. The results of this study are recommended to be applied to 20 church leaders in the GPdI area of Manokwari.AbstrakKarakter merupakan hal yang sangat prinsip terkait pemimpin atau kepemimpinan. Sebagai pemimpin jemaat terkadang karakteristik tidak selalu ideal seperti yang diharapkan. Ada banyak kasus terjadi terkait kurangnya karakteristik pemimpin jemaat yang terjadi, khususnya di lingkungan Gereja Pantekosta di Indonesia wilayah I Manokwari. Penelitian ini merupakan kajian literatur atas surat Titus dengan menggunakan metode deskriptif-interpretatif. Hasil dari kajian ini direkomendasikan untuk diterapkan kepada 20 pemimpin jemaat yang ada di lingkungan GPdI wilayah I Manokwari.
Meningkatkan Sikap Kebangsaan Peserta Didik Melalui Pendidikan Kristiani dengan Pendekatan Model Quantum Teaching Marthen Luther Mau
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i1.89

Abstract

Some teachers carry out teaching activities that are less effective because they are still teacher-centred so that students are less active and creative in learning. The national attitude of students is very necessary, therefore Christian teachers need to make efforts to improve teaching in changing behaviour, increasing the knowledge and skills of students in school institutions. School institutions are the main choice for educating the nation's children, using a quantum teaching approach. The purpose and objective of this research are to strive for a fun, comfortable, and satisfying teaching process for students in a learning environment to increase the national attitude expected by the general public. This study uses a qualitative method with an observation approach and a semi-standard type of interview. The findings are that teaching using a quantum teaching approach in forming study groups of 2-4 student members can increase the effectiveness, creativity, and proactivity of the students when studying in the classroom. So, through study groups of 2-4 members of students when studying in class, it is very helpful for students to behave to increase motivation in learning, ability in learning, and high interest in reading so that they get enough knowledge for their own interests and build interests. people.Abstrak Sebagian guru melakukan kegiatan pengajaran yang kurang efektif karena masih berorientasi pada teacher centered sehingga peserta didik kurang aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Sikap kebangsaan peserta didik amatlah diperlukan karena itu guru Kristen perlu berupaya untuk meningkatkan pengajaran dalam mengubah perilaku, meningkatkan pengetahuan, dan keterampilan peserta didik di lembaga sekolah. Lembaga sekolah menjadi pilihan utama untuk mencerdaskan anak bangsa, dengan menggunakan pendekatan quantum teaching. Maksud dan tujuan penelitian ini untuk mengupayakan proses pengajaran yang menyenangkan, nyaman, dan memuaskan peserta didik dalam suatu lingkungan belajar untuk meningkatkan sikap kebangsaan yang diharapkan oleh khalayak ramai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan observasi dan jenis wawancara semi standar. Hasil temuannya ialah pengajaran dengan menggunakan pendekatan quantum teaching dalam membentuk kelompok belajar 2-4 anggota peserta didik dapat meningkatkan keefektivan, kreatif, dan proaktif dari para peserta didik saat belajar di ruang kelas. Jadi, melalui kelompok belajar 2-4 anggota peserta didik ketika belajar di kelas sangat menolong peserta didik dalam bersikap untuk meningkatkan motivasi dalam belajar, kemampuan dalam belajar, dan minat membaca yang tinggi, sehingga mendapatkan ilmu pengetahuan yang cukup untuk kepentingan diri sendiri dan membangun kepentingan orang banyak.  

Page 4 of 11 | Total Record : 106