cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 106 Documents
Kualifikasi Pemimpin Jemaat Menurut 1 Timotius 3:1-7 bagi Gembala Sidang GPdI Wilayah Keerom Timur Yohosua Ohodo; Roberth Ruland Marini
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.53

Abstract

Paul has laid out clear qualifications regarding the things a church leader should have. Paul believes that the quality of church leaders who are developed seriously and responsibly in a person is something important and becomes a solid foundation for church leadership. The need for qualified church leaders is also felt to be very important for the Pentecostal Church in Indonesia in the East Keerom region, Papua. Therefore, a study is needed to determine the qualifications of church leaders according to 1 Timothy 3: 1-7. The method used in this research is qualitative with a descriptive analysis approach. The results of this study found that the pastors of the Pentecostal Church congregations in Indonesia in the East Keerom region, Papua have a good understanding of personality qualifications, qualifications for life in society, qualifications for spiritual life and ministry, but still do not understand well about life qualifications. in the middle of the family for a church leader. AbstrakPaulus meletakkan kualifikasi yang jelas dan tegas mengenai hal-hal yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin jemaat. Paulus percaya bahwa kualitas pemimpin jemaat yang dibangun dengan serius dan bertanggung jawab dalam diri seseorang merupakan sesuatu yang penting dan menjadi pondasi kokoh bagi kepemimpinan gereja. Kebutuhan untuk pemimpin jemaat yang berkualitas dirasakan pula sebagai hal yang sangat penting bagi Gereja Pentakosta di Indonesia yang ada di wilayah Keerom Timur, Papua. Oleh sebab itu diperlukan kajian untuk mengetahui kualifikasi pemimpin jemaat menurut 1 Timotius 3:1-7. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini didapati para gembala sidang Gereja Pentakosta di Indonesia yang ada di wilayah Keerom Timur, Papua memiliki pemahaman yang baik mengenai kualifikasi kepribadian, kualifikasi kehidupan di tengah masyarakat, serta kualifi-kasi kehidupan rohani dan pelayanan, namun masih belum memahami dengan baik mengenai kualifikasi kehidupan di tengah keluarga bagi seorang pemimpin jemaat.  
Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak pada Masa Pandemi Covid-19 Frans Pantan; Priskila Issak Benyamin
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i1.43

Abstract

The occurrence of the Covid-19 pandemic virus caused the family's role in children's education to become increasingly strategic. Until now not many studies have examined the role of families in children's education. This study aims to analyze deeply the role of the family in children's education. This research is a qualitative ethnographic study. Data were collected using in-depth interview techniques and participatory observation. The data source is the primary source (both parents and mothers) approached by purposive technique and continued with a snowball. The data is then validated by source triangulation techniques and methods. The collected data is then analyzed using the interactive data analysis technique of the Miles and Huberman model, which consists of the stages of data collection, data reduction, data display, and conclusion. The results showed that there were 7 main roles of the family in children's education, namely: (1) The function of the faith; (2) Educational functions; (3) The function of socialization; (4) Protection or protection functions; (5) Affection function; (6) Economic functions; (7) Recreational functions. After going through a process of discussion with relevant theories and research results, it was found that the seven roles holistically had never been raised together before. This is a new finding from this research, where this finding will certainly be different from the findings if there is no pandemic, or if disasters occur in other forms.AbstrakTerjadinya pandemi virus covid-19 menyebabkan peran keluarga dalam pendidikan anak menjadi semakin strategis. Hingga saat ini belum banyak penelitian yang mengkaji peran keluarga dalam pendidikan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam mengenai peran keluarga dalam pendidikan anak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif etnografi. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Sumber data adalah sumber primer (orangtua baik ayah maupun ibu) yang didekati dengan teknik purposive dan dilanjutkan dengan snowball. Data selanjutnya divalidasi dengan teknik triangulasi sumber dan metode. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan teknik analisis data interaktif model Miles and Huberman, yang terdiri dari tahap data collection, data reduction, data display, dan conclution. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7 peran utama keluarga dalam pendidikan anak, yaitu: (1) Fungsi keimanan; (2) Fungsi edukatif; (3) Fungsi sosialisasi; (4) Fungsi proteksi atau perlindungan; (5) Fungsi afeksi; (6) Fungsi ekonomi; (7) Fungsi rekreasi. Setelah melalui proses pembahasan dengan teori-teori dan hasil-hasil penelitian yang relevan, ditemukan bahwa ketujuh peran tersebut secara holistik belum pernah diangkat secara bersama-sama sebelumnya. Hal inilah yang menjadi temuan baru dari penelitian ini, di mana temuan ini tentu akan berbeda dengan temuan jika tidak terjadi pandemic, maupun jika terjadi bencana dalam bentuk-bentuk yang lain.
Implementasi Puasa menurut Yesaya 58:1-12 di Wadah Wanita Ester GPdI Ekklesia, Jember Murni Hermawaty Sitanggang; Asatinus Laia
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i1.71

Abstract

Since Old Testament times, fasting has been a part of the lifestyle of the Israelites, not least in Isaiah 58. However, this chapter does not contain instructions for implementation but God's stern rebuke of the Israelites' practice of fasting at that time. The Israelites at that time had the mistaken notion that piety only needed to be maintained during fasting and did not involve daily life. They ignored the true meaning of fasting. Therefore, in this paper, the author investigates fasting according to Isaiah 58:1-12 in everyday life. The research was conducted through a qualitative method with a descriptive approach by involving the active fasting participants from the forum of Esther GPdI Ekklesia Women. Data were collected through observation and interviews, which then resulted in the finding that participants had understood that the nature of fasting is not only about piety but also caring for others. They have fulfilled this in their daily life by praying, refraining from oppression, and being just. AbstrakSejak masa Perjanjian Lama, puasa telah menjadi bagian dari gaya hidup umat Israel, tidak terkecuali dalam Yesaya 58. Akan tetapi, pasal ini bukanlah berisi petunjuk pelaksanaan melainkan teguran keras Tuhan terhadap praktik puasa bangsa Israel saat itu. Bangsa Israel saat itu memiliki anggapan keliru bahwa kesalehan hanya perlu dipertahankan saat puasa dan tidak menyangkut kehidupan sehari-hari. Mereka abai akan makna puasa yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini penulis menyelidiki bagaimana imple-mentasi puasa menurut Yesaya 58:1-12 tersebut di dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian dilakukan melalui metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan melibatkan parti-sipan yang aktif berpuasa dari Wadah Wanita Ester GPdI Ekklesia. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara yang kemudian menghasilkan temuan bahwa partisipan telah memahami bahwa hakikat puasa bukan hanya soal kesalehan melainkan juga mempedulikan sesama. Mereka telah memenuhi hal ini dalam kehidupan sehari-hari dengan cara berdoa, tidak melakukan penindasan, dan bersikap adil.
Menerapkan Prinsip “Menjadi Terang di depan Orang” dalam Berperilaku di Media Sosial Malik Malik
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i1.78

Abstract

This article describes the meaning of the phrase your light shines. The imperative form of the Lord Jesus in the text of Matthew 5:14-16 is essential in the actual life of believers in every context but requires a special form to express it. Today's digital world is increasingly advanced, and almost all lines of life have used digital media. This can be a new breakthrough for the development of every aspect of human life. So that with the progress in the digital era, it can be a medium to express the testimony of the life of believers to everyone. The purpose of this study is to present how to apply the principle of “Be clear in front of people in their tips by behaving on social media. By displaying such good behavior on social media, everyone who sees it will glorify the Father in heaven.AbstrakArtikel ini menguraikan makna frasa terangmu bercahaya. Bentuk imperatif Tuhan Yesus dalam teks Matius 5:14-16 merupakan esensi dalam bagian kehidupan orang percaya yang aktual di setiap konteks namun memerlukan bentuk khusus untuk menyatakannya. Dunia digital saat ini semakin maju, dan hampir semua lini kehidupan telah menggunakan media digital. Hal ini dapat menjadi terobosan baru bagi pengembangan setiap aspek hidup manusia. Sehingga dengan adanya kemajuan dalam era digital tersebut, dapat menjadi media untuk menyatakan kesaksian hidup orang percaya kepada semua orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyajikan bagaimana menerapkan prinsip “Menjadi terang di depan orang dalam kiatannya dengan berperilaku di media sosial. Dengan menampilkan perilaku yang baik tersebut di media sosial, maka setiap orang yang melihatnya akan memuliakan Bapa yang di sorga.
Pendidikan Agama Kristen sebagai Sebuah Usaha Menumbuhkan Sikap Toleransi Hendrik Legi; Frets Keriapy
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.127

Abstract

Today, the rate of intolerance cases in Indonesia tends to increase. Even some cases that occur are carried out by children at school. Cases of increasing intolerance are our collective duty, in which there are parents as the first teachers of every children in the family, religious and government leaders in the social community, and teachers in this case, not only Civic Education teachers, but Christian Education teachers are obliged to take part in overcoming this problem. Christian Education teachers have succeeded in shaping the spiritual side of students, but in truth that is not enough. The success of the teacher is to be able to form spiritual, emotional, and social attitudes and to change behavior of the students. To see this, in this research, the author will use a qualitative method of description by using a literature study. This is done by the author, in order to see theoretically that Christian education must touch the realm of the public sphere to overcome this problwm.  The finding obtained from this research are that it is found that Christian Religius Education must be an education that seeks tolerance in religious behavior. It starts with changing heart. Therefore, it is important for Christian Education to participate in overcoming this problem in the public sphere.AbstrakDewasa ini, tingkat kasus intoleransi di Indonesia cenderung meningkat. Bahkan beberapa kasus yang terjadi dilakukan oleh anak sekolah. Kasus intoleransi yang meningkat menjadi tugas kita bersama, yang di dalamnya ada orang tua sebagai guru pertama dari setiap naradidi di dalam keluarga, tokoh-tokoh agama dan pemerintah di lingkungan masyarakat, dan guru di lingkungan sekolah. Guru dalam hal ini, bukan hanya guru Pendidikan Kewarganegaraan, melainkan guru pendidikan Kristiani wajib untuk ambil bagian dalam mengatasi persoalan ini. Guru pendidikan Kristiani berhasil membentuk sisi rohani naradidik, namun sejatinya, itu pun belum cukup. Keberhasilan guru adalah dapat membentuk sikap rohani, emosi, sosial dan sampai pada perubahan tingkah laku. Untuk melihat hal tersebut, maka dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan metode kualitatif deskripsi dengan menggunakan studi pustaka. Hal ini dilakukan oleh penulis, supaya dapat melihat secara teori bahwa, pendidikan Kristiani harus menyentuh ranah ruang publik untuk mengatasi persoalan ini. Hasil yang peroleh dari penelitian ini, adalah ditemukan bahwa Pendidikan Agama Kristen harus menjadi Pendidikan yang mengupayakan toleransi dalam perilaku beragama. Hal ini dimulai dari mengubah hati. Oleh karena itu, pentingnya pendidikan Kristiani untuk masuk berpartisapasi dalam mengatasi persoalan ini di dalam ruang publik.
Digitalisasi Manajemen Pendidikan Teologi di Era 4.0 Menggunakan Learning Management System Moodle Vicky Samuel Sutiono; Nunuk Rinukti; Charista Jasmine Siahaya
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.134

Abstract

In the world of education in the last two years has experienced a relatively significant impact due to the Covid 19 pandemic. Teaching and learning activities that are usually carried out face to face currently must be carried out online using various software to continue the teaching and learning process. Theological colleges are also required to think of relevant steps to deal with the current situation. Therefore, it is important to apply a moodle-based Learning Management System (LMS) with the aim of disciplining students, especially in making attendance and collecting assignments that have been set by educators. With the development of the world of education today, students and educators are forced to adapt to the development of the world of education in the field of technology. This writing method is an observation method by looking at the phenomenology of the world of education during the Covid-19 pandemic. The conclusion of this study is that the digitalization of education management in the 4.0 era is very much needed to facilitate the online learning process in universities. AbstrakDunia Pendidikan dalam dua tahun terakhir ini mengalami dampak yang yang relatif signifikan akibat adanya pandemic Covid 19. Kegiatan belajar mengajar yang biasanya dilakukan secara tatap muka saat ini harus dilakukan secara online dengan menggunakan berbagai software untuk tetap dapat melakukan proses belajar mengajar. Perguruan tinggi teologipun dituntut untuk memikirkan Langkah yang relevan untuk menghadapi situasi saat ini. Maka pentingnya diterapkan Learning Management System (LMS) berbasis moodle dengan tujuan untuk lebih mendisiplin peserta didik terutama dalam melakukan presensi, dan pengumpulan tugas yang telah ditetapkan oleh para pendidik. Dengan berkembangnya dunia pendidikan saat ini, peserta didik dan para pendidik dipaksa untuk beradaptasi dengan perkembangan dunia pendidikan di bidang teknologi. Metode penulisan ini adalah metode observasi dengan melihat fenomonologi dunia pendidikan di masa pandemi Covid-19. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa digitalisasi manajemen pendidikan di era 4.0 sangat diperlukan untuk mempermudah proses pembelajaran daring di perguruan tinggi. 
Digitalisasi sebagai Fasilitas dan Tantangan Modernisasi Pelayanan Penggembalaan di Era Pasca-Pandemi: Refleksi Teologi Kisah Para Rasul 20:28 Helen Farida Latif; J. Musa Tannia Pangkey; Dessy Handayani; Nurnilam Sarumaha
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.132

Abstract

The church as an extension of God's hand in expressing His love for humans needs to provide good facilities related to evangelism and consistent service for the congregation in it so that they can grow in the true knowledge of God. Along with major changes in the situation and conditions related to the Covid-19 pandemic where churches can no longer carry out worship, teaching, and other services on-site normally, digitalization is the best answer that churches can use as a facility for continuity and modernization of services. church, particularly in relation to pastoral care. Digital technology is not only a facility but also a big challenge for the church. This study uses a qualitative approach to the factual issues of the Covid-19 pandemic as a trigger for the current digital service trend. The use of descriptive methods with literature related to digitization and biblical views based on Acts 20:28 provides a clear picture related to the pastoral ministry and can be a pattern for the church in general where the church must modernize during this pandemic and in the future of post-pandemic period.  Abstrak. Gereja sebagai perpanjangan tangan Tuhan dalam menyatakan kasih-Nya kepada manusia perlu menyediakan fasilitas yang baik terkait penginjilan dan pelayanan yang konsisten bagi jemaat yang ada di dalamnya, agar jemaat dapat bertumbuh dalam imannya. Seiring terjadinya perubahan besar-besaran dalam situasi dan kondisi terkait pandemi Covid-19, gereja tidak dapat lagi melakukan ibadah, pengajaran, dan pelayanan onsite lainnya secara normal, maka digitalisasi merupakan jawaban terbaik yang dapat dimanfaatkan gereja sebagai fasilitas bagi kesinambungan dan modernisasi pelayanan gereja, khususnya terkait pelayanan penggembalaan. Teknologi digital selain dapat menjadi fasilitas, namun juga sekaligus dapat menjadi sebuah tantangan besar bagi gereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif pada persoalan faktual pandemi Covid-19 sebagai pemicu maraknya tren pelayanan digital pada masa kini. Penggunakan metode deskriptif dengan literatur terkait digitalisasi dan pandangan Alkitab berdasarkan Kisah Para Rasul 20:28 untuk memberikan gambaran yang jelas terkait dengan pelayanan penggembalaan dan dapat menjadi pola (pattern) bagi gereja pada umumnya dimana gereja harus melakukan digitalisasi pada masa pandemi ini dan pada masa pasca pandemi ke depan.   
Peran Guru sebagai Fasilitator dan Katalisator Melalui Teori Konstruktivisme dalam Model Pembelajaran Kontekstual Pendidikan Agama Kristen Zakharia Victor Harefa; Talizaro Tafonao; Desetina Harefa; Rini Sumanti Sapalakkai; Selvyen Sophia
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.128

Abstract

The purpose of this research is to see the extent to which the role of Christian religious teachers through constructivism theory in the contextual teaching-learning model. One of the main problems found in this paper by the author is the undeveloped proper contextual teaching-learning model. This paper used a qualitative research method to examine the teacher's role as a facilitator and catalyst through constructivism theory in the contextual teaching-learning models of Christian religious education. The analysis process used in this paper is using various source literature, both journal articles, books, and other trusted reference material to support the author’s analysis. The results found in the study indicate that the theory of constructivism in the contextual learning model can be applied by understanding the nature of the contextual learning model, the theory of constructivism, the basic concepts of contextual learning for Christian religious education, and the role of Christian religious education teachers as facilitators and catalysts. Thus, the development of constructivism theory in the contextual learning model of Christian religious education can provide new insights to teachers in carrying out their duties as professional educators. AbstrakTujuan penelitian ini adalah melihat sejauh mana peran guru agama Kristen melalui teori kostruktivisme dalam model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching Learning). Salah pokok permasalah yang ditemukan oleh penulis dalam tulisan ini adalah pengembangan model pembelajaran yang bersifat kontekstual (Contextual Teaching Learning) belum dikembangkan dengan baik. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode penelitian kualitatif dengan mengkaji bagaimana peran guru sebagai fasilitator dan katalisator melalui teori konstruktivisme dalam model pembelajaran kontekstual pendidikan agama Kristen. Proses analisis yang digunakan dalam tulisan ini adalah menggunakan berbagai sumber literatur baik artikel jurnal, buku dan bahan referensi lainnya yang terpercaya untuk mendukung analisis penulis. Hasil yang ditemukan dalam kajian ini menunjukkan bahwa teori konstruktivisme dalam model pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dengan memahami hakikat model pembelajaran kontekstual, teori konstruktivisme, konsep dasar pembelajaran kontekstual pendidikan agama Kristen dan peran guru pendidikan agama Kristen sebagai fasilitator dan katalisator.Dengan demikian, pengembangan teori konstruktivismedalam model pembelajaran kontekstual pendidikan agama Kristen dapat memberi wawasan baru kepada guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik yang profesional.
Agama dan Kemanusiaan dalam Penggunaan Teknologi di Masa Pandemi Meliani Konda Betu
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.140

Abstract

religion is meant in general as a tool for humans to see and feel the presence of God in society. Religion will always be the main benchmark when humanity experiences unfavorable situations and conditions. One example is during a pandemic. Humans have to accept the fact that God can use anything to praise His greatness and grow together, one of the tools used by humans is science and technology. With the existence of technology, humans can be assisted in meeting their spiritual needs and growing together carefully. The purpose of this research is to build every human being that God can use anything to glorify His name. The method that the author uses is the library method. The author’s results from humanity and religion in the use of technology during the pandemic are that the essence of worship does not depend on the place where humans worship, but wherever humans are and where they present God. It is true worship.  AbstrakAgama yang dimaksud pada umumnya adalah sebagai alat untuk manusia dapat melihat dan merasakan akan kehadirian Tuhan di tengah-tengah masyarakat. Agama akan selalu menjadi patokan utama di saat umat manusia mengalami situasi dan kondisi yang tidak baik. Salah satu contohnya adalah di masa pandemik. Manusia harus menerima kenyataannya bahwa Tuhan bisa memakai apapun untuk memuji kebesaran-Nya dan bertumbuh bersama-sama. Salah satu alat yang dipakai manusia adalah IPTEK. Dengan adanya teknologi manusia dapat dibantu dalam memenuhi kebutuhan spiritualnya dan bertumbuh bersama-sama dengan seksamanya. Tujuan penelitan ini adalah untuk membangun setiap manusai bahwa Tuhan bisa memakai apapun juga untuk memuliakan nama-Nya. Metode yang penulis pakai adalah metode Pustaka. Hasil penulis dari Kemanusiaan dan Agama di Dalam Penggunaan Teknologi di masa Pandemik adalah bahwa esensi ibadah tidak tergantung pada tempat dimana manusia itu beribadah, tetapi dimanapun keberadaan manusia dan di situ ia menghadirkan Tuhan maka itu adalah ibadah yang sesungguhnya. 
Ibadah Gereja Masa Pascapandemi Covid-19: Daring, Luring, atau Hibrid Setya Hadi Nugroho; Niken D. Prananingtyas
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i2.131

Abstract

After a long time, the Indonesian nation struggled against the COVID-19 pandemic, slowly the number of Covid-19 transmissions began to decline so that PPKM levels in various regions began to be lowered, and Many churches began to perform face-to-face worship (offline). This raises the question, of whether online worship will end soon, continue to go hand in hand with laryngeal worship, or even replace laryngeal worship. This research has been carried out using a qualitative method with a descriptive approach which is carried out through research literature from various kinds of references, such as books and journal articles related to this research, interviews with several sources, and of course theological research on worship based on the Testament Bible. Old and New Testament. From this research, the author concludes that in the future, offline and online ecclesiastical activities will continue to run together, support each other, strengthen and be able expand church services, especially in the context of building congregations and preaching the good news without having to debate the theological side and providing certainty, peace, both to the ministers of God and the church congregation. AbstrakSetelah sekian lama bangsa Indonesia berjuang melawan pandemi covid 19, perlahan-lahan jumlah penularan covid-19 mulai menurun, sehingga Level PPKM di berbagai daerah mulai diturunkan, Banyak gereja mulai melakukan ibadah tatap muka (luring). Hal ini menimbukan pertanyaan, apakah ibadah daring akan segera berakhir, tetap berjalan seiring dengan ibadah laring, atau bahkan menggantikan ibadah laring. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang dilakukan  melalui literatur research dari berbagai macam referensi, seperti buku-buku dan jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini, wawancara dengan beberapa nara-sumber serta tentu saja penelitian teologis ibadah berdasarkan Alkitab perjanjian lama dan Perjanjian baru. Dari penelitian ini, penulis menyimpukan bahwa kegiatan gerejawi secara luring dan daring akan tetap berjalan bersama, saling mendukung, memperkuat serta mampu memperluas pelayanan gereja, khususnya dalam rangka pembinaan jemaat dan pemberitaan kabar baik tanpa harus diperdebatkan lagi sisi teologisnya serta memberi kepastian, ketenangan, baik kepada para pelayan Tuhan maupun jemaat gereja. 

Page 5 of 11 | Total Record : 106