cover
Contact Name
Nurlisa Ginting
Contact Email
nurlisa@usu.ac.id
Phone
+6285276901644
Journal Mail Official
koridor@usu.ac.id
Editorial Address
Gedung J7, Lt. 2 Jalan Perpustakaan Kampus USU Medan 20155 Indonesia Telp/Fax. 061-8219525
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Koridor
ISSN : 2086910X     EISSN : 27213463     DOI : https://search.crossref.org/?q=2721-3463
Core Subject : Engineering,
Jurnal Koridor (J.Koridor) is a scientific journal in the field of architecture and its applied sciences. Areas in the Jurnal Koridor: 1. Architectural design - Conservation - Sustainable design - Green architecture 2. Landscape and environment - Landscape design - Built Environment Planning 3. Urban Planning - Town planning - Urban design - Housing and settlements - Tourism 4. Building technology - Building technology - Construction - Sustainable structure 5. Architectural theory and criticism - Architectural history - Architectural theory - Vernacular architecture - Neo-Vernacular Architectural
Articles 156 Documents
IDENTIFIKASI KONSEP HEALTH, SAFETY AND ENVIRONMENTAL DI KAMPUNG NAGE, FLORES Theofilus
Jurnal Koridor Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.125 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v8i1.1323

Abstract

Dewasa ini, konsep health, safety and environment (HSE) merupakan persyaratan yang harus dipenuhi dalam merancang bangunan atau kawasan. Konsep ini menuntut para arsitek untuk membuat perencanaan matang yang menjamin keselamatan dan kesehatan para pekerja, pengguna bangunan dan lingkungan sekitarnya. Namun, sebelum isu-isu mengenai HSE marak dibicarakan, arsitektur tradisional telah berdiri di bumi nusantara. Dengan berbekal kearifan lokal, arsitektur tradisional telah bertahan melewati rintangan alam dan perubahan zaman. Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah deskriptif, dengan menggunakan data dari studi literatur dan wawancara narasumber terkait. Studi kasus yang akan digunakan pada makalah ini adalah Kampung Nage di Flores, Nusa Tenggara Timur. Penulis akan mengidentifikasi keterkaitan antara konsep HSE dan rancangan Kampung Nage, yang dilakukan dengan cara meninjau kembali rancangan kawasan dan bangunan individual di Kampung Nage. Hasil tinjauan tersebut kemudian akan dikaji kembali dengan konsep HSE yang diperoleh dari studi literatur. Hasil dari identifikasi menunjukkan bahwa rancangan arsitektur di Kampung Nage baik kawasan maupun bangunan individualnya menyimpan banyak nilai penting yang dapat diadopsi untuk perencanaan HSE. Melalui makalah ini, diharapkan bahwa nilai-nilai yang ada pada arsitektur tradisional dapat menyempurnakan konsep HSE pada masa mendatang.
SISTEM DRAINASE DI KORIDOR JAMIN GINTING PANCUR BATU SUMATERA UTARA Nanda Hafiz Pratama Lubis; Beny O.Y Marpaung
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.917 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i1.1324

Abstract

Sistem Drainase Perkotaan merupakan salah satu komponen prasarana perkotaan yang sangat erat kaitannya dengan penataan ruang. Bencana banjir yang sering melanda sebagian besar wilayah dan kota di Indonesia disebabkan oleh kesemrawutan penataan ruang. Pengelolaan air kotor belum dilakukan dengan benar serta belum terdapatnya menajemen koridor tentang air kotor dan peraturan dalam pengelolaan lingkungan koridor dan pengelola untuk air kotor koridor. Saluran drainase pada koridor jalan Jamin Ginting tidak dirancang dengan baik sehingga dapat membahayakan pengguna jalan, khususnya di bangunan Cina Melayu pengguna jalan harus melewati drainase yang tidak tertutup dan terdapat juga bangunan liar diatas saluran drainase. Sistem jaringan air kotor dilokasi Koridor Jamin Ginting Pancur Batu ini tidak cukup bersahabat pada masyarakat. Banyak saluran drainase yang tidak sesuai diperuntukkan kondisi lingkungan yang terdapat pada saluran yaitu terdapat sampah dan kondisi diatas saluran terdapat bangunan dan ruko yang menutupi saluran sehingga membuat air kotor tidak mengalir sempurna. Terdapat juga titik pembuangan saluran yang tidak sesuai dengan titik elevasi terendah sehingga banyak genangan disekitar saluran.
ELEMEN SIRKULASI DAN PARKIR PADA PENATAAN KORIDOR JAMIN GINTING-BRASTAGI Nurlisa Ginting; Selamat Sejahtera
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.657 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i1.1325

Abstract

Elemen Sirkulasi dan parkir merupakan bagian penting dalam membentuk identitas sebuah kota, kota Berastagi memiliki potensi-potensi ekonomi dan pariwisata yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat, namun belum tergarap optimal,salah satu bagian yang sangat penting dalam membentuk identitas kota Brastagi adalah Koridor antara Tugu Pahlawan sampai dengan Tugu Kol Brastagi yang merupakan suatu kawasan perdagangan yang berada pada jalan arteri pada pusat kota. Identitas kota Berastagi akan terbentuk dengan baik apabila system sirkulasi dan parkir ditata dengan baik, nyaman, aman serta memadai pada kawasan ini, akan tetapi hal seperti ini hampir tidak bisa kita dapati pada sepanjang jalan koridor ini, dimana ada berbagai permasalah yang kita temui diantaranya kemacetan dan permasalahan lainnya yang disebabkan tidak adanya acuan atau regulasi yang jelas untuk pengaturan system sirkulasi dan parkir pada koridor ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menata system sirkulasi dan parkir guna mendukung kelancaran aktifitas pada Koridor tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis kualitatif deskriptif dengan Pendekatan observasi dan dokumentasi serta kajian teori dan studi kasus persoalan sejenis untuk menemukan prinsip-prinsip normatif Penataan di koridor jalan ini. Hasil dari penelitian ini adalah pedoman atau guide line yang dapat dijadikan acuan dalam penataan system sirkulasi dan parkir pada koridor Jalan Jamin Ginting Brastagi. Dengan harapan terciptanya system sirkulasi dan parkir yang nyaman, aman dan memadai di sepanjang koridor ini
PERENCANAAN OBJEK WISATA ALAM DAN TANTANGAN DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI Eka Putra, Kaspan; Zainuddin
Jurnal Koridor Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.821 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v8i1.1326

Abstract

Development of the tourist attractions are the leading sectors in encouraging the growth of development in the region. Each area that has a potential tourist attraction is planed and developed as a main destination that will be offered to tourists. This study analyzes the development planning of natural attractions and challenges in providing transport infrastructure. This study was conducted in Simalungun using primary data through observation of objects and explorative analyzes. The results showed there is a natural tourist attraction waterfall Tinggi Raja with huge potential, but constrained by the availability of transportation infrastructure that is very damaged. Simalungun government has not planned construction of the necessary infrastructure in the development of attractions.
PENGEMBANGAN PARIWISATA BERKELANJUTAN BERDASARKAN RANTAI NILAI INDUSTRI KREATIF DESTINASI PARIWISATA : Studi Kasus: Desa Wisata Kasongan, Yogyakarta Tutun Seliari
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.972 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i1.1327

Abstract

Desa Wisata Kasongan merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Yogyakarta, dengan produk wisata yang ditawarkan adalah kerajinan gerabah. Industri kerajinan gerabah dan pariwisata di Kasongan mempunyai peran terhadap peningkatan aktivitas perekonomian masyarakat di Kasongan. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan rantai nilai industri kreatif dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di kawasan Kasongan. Dalam pembahasan terdapat landasan rantai nilai industri kreatif yaitu kreasi, produksi, distribusi, dan komersialisasi yang digunakan sebagai dasar pembahasan. Pembahasan rantai nilai industri kreatif di Kasongan juga akan dikaitkan dengan perkembangan kawasan Kasongan sebagai desa penghasil gerabah mulai tahun 1925an hingga saat ini menjadi desa wisata gerabah. Metode yang digunakan pendekatan deskriptif kualitatif karena penelitian ini bermaksud untuk mendapatkan gambaran atau deskripsi mengenai peran industri kreatif dalam pengembangan pariwisata di Kasongan. Dari hasil pembahasan didapatkan bahwa dari aspek kreasi, seniman mempunyai peran penting dalam perkembangan variasi produk gerabah Kasongan. Penggunaan alat-alat modern dan sistem informasi menjadi aspek yang sangat penting dalam jaringan industri kreatif di Desa Wisata Kasongan terkait produksi, distribusi, dan komersialisasi. Saat ini tidak hanya gerabah, kerajinan kayu, batu, bambu, recycled material menjadi produk yang ditawarkan di Kasongan. Kehidupan masyarakat yang tetap menjaga nilai-nilai kelokalan dan kegiatan festival juga menjadi daya tarik tersendiri untuk Desa Wisata Kasongan. Hal ini menunjukkan bahwa industri kreatif sangat berpengaruh terhadap kegiatan pariwisata dan perekonomian.
PENGGUNAAN BETON RINGAN SEBAGAI BAHAN BANGUNAN ALTERNATIF UNTUK DAERAH BERIKLIM TROPIS Munir, Abdul
Jurnal Koridor Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.897 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v8i1.1328

Abstract

Faktor utama terkait dengan lingkungan yang menyebabkan ketidaknyamanan pada bangunan di daerah tropis adalah suhu udara yang tinggi. Bangunan sebagai climate modifer harus direkayasa sehingga dapat menciptakan lingkungan dalam yang nyaman terhadap kondisi termal. Dinding merupakan salah satu elemen utama bangunan yang menghantarkan panas dari luar ke dalam bangunan. Dewasa ini bangunan modern lebih banyak menggunakan beton/tembok yang umumnya mempunyai konduktifitas panas sekitar 0,7 W/mK sebagai bahan utama untuk dinding. Beton ringan dengan konduktifitas 0,2-0,3 W/mK sebagai bahan dinding dapat digunakan untuk mengurangi beban panas dalam bangunan. Penelitian ini difokuskan pada penggunaan beton busa (foam concrete) sebagai bahan dinding yang dapat menggantikan batu bata merah. Konduktifitas panas beton busa untuk berbagai spesific grafity (SG: 500 ~ 1000 kg/m3) diukur untuk mendapatkan nilai resistensi. Model uji dibuat mengamati perbedaan kinerja dinding dengan menggunakan beton busa dan beta merah dengan mengukur suhu permukaan dalam dan luar benda uji. Pengukuran dilakuan secara terus menerus 24 jam untuk melihat respon bahan dinding terhadap perubahan suhu udara tropis. Analisis respon beton busa dan batu bata terhadap lingkungan dilakukan untuk membandingkan kinerja kedua jenis material bangunan tersebut. Penggunaan beton busa sebagai dinding dapat menurunkan suhu udara dalam ruangan sepanjang hari pengukuran yang dikarenakan daya hantar dan kapasitas penyimpanan panas yang lebih kecil dibandingkan dengan dinding bata merah. Hasil ini mengindikasikan potensi penghematan energi bangunan jika beton busa digunakan untuk daerah tropis dimana suhu udara relatif tinggi sepanjang tahun.
TIPOLOGI ATAP PADA ARSITEKTUR VERNAKULAR DI SUMATERA SELATAN Zuber Angkasa Wazir
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1082.133 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i1.1329

Abstract

The development of new urbanism paradigm in the world today, has been reminded of the importance of vernacular architecture in urban planning.. It would be advantageous for areas with high ethnic diversity as South Sumatra. This study aims to inventory the vernacular house typology in South Sumatra. Methods of study is to examine the vernacular houses of all ethnicities in South Sumatra (29 ethnicity) plus two ethnic from neighboring provinces (Kubu and Lambak). The study found 18 different types of houses, and also found that the typology of the roof consists of a limas roof, pelana roof, and a perisai roof. The variety of roof reflects the high ethnic mobilization in South Sumatra. Even so, as a result of acculturation that occurs in these dynamics, the variety is found only on the shape of the roof, while the other part of the building does not have a clear marker of difference. Implications of the New Urbanism presented in the design of contemporary urban planning in South Sumatra.
PEMETAAN SISTEM STRUKTUR KONSTRUKSI RUMAH TRADISIONAL ACEH DALAM MERESPON GEMPA Meutia, Erna
Jurnal Koridor Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.117 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v8i1.1330

Abstract

Rumah-rumah tradisional yang tersebar di seluruh Indonesia merupakan kekayaan budaya yang terbentuk berdasarkan pengetahuan yang diturunkan secara turun temurun. Pengetahuan bangunan yang merespon alam telah menghasilkan bangunan dengan teknologi sederhana. Teknik membangun Rumah tradisional hanya berdasarkan pengetahuan dan intuisi yang di dapat dari kondisi alam setempat serta pengalaman yang diturunkan secara turun temurun. Sebagaimana kita ketahui rumah-rumah tradisional tersebut tidak pernah direncanakan untuk suatu bangunan yang tahan gempa, Meskipun demikian rumah-rumah tradisional tersebut tetap kokoh berdiri walaupun sering terjadi gempa. Hal ini telah dibuktikan oleh rumah tradisional Aceh yang berada di wilayah gempa kuat. Aceh termasuk dalam kawasan Indonesia, terletak di ujung Utara pulau Sumatera, berada pada wilayah gempa 6 yang merupakan wilayah gempa terkuat. Rumah Tradisional Aceh adalah rumah kayu yang berbentuk panggung, didirikan di atas sejumlah tiang-tiang bulat yang diletakkan di atas pondasi batu. Setiap bagian-bagian pembentuk Rumah Tradisional Aceh di hubungkan dengan sambungan menerus yang diperkuat dengan pasak atau ’bajo’ dan ikatan tali ijuk. Masing-masing bagian ini saling mendukung untuk mempertahankan konstruksinya terhadap goncangan gempa yang terjadi. Oleh karena itu Rumah tradisional Aceh memiliki keunggulan secara struktural dalam merespon gempa.
PENURUNAN TINGKAT KEBISINGAN RUANG KERJA MELALUI OPTIMALISASI FUNGSI JENDELA KACA PADA GEDUNG ADMINISTRASI BANDAR UDARA STUDI KASUS DI BANDAR UDARA JUANDA SURABAYA Widodo, Sigit; Loebis, M. Nawawiy; Talarosha, Basaria
Jurnal Koridor Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1212.712 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v8i1.1331

Abstract

Kawasan bandar udara merupakan kawasan yang memiliki intensitas kebisingan yang sangat tinggi bahkan terus meningkat seiring dengan bertambahnya frekwensi lalu lintas udara. Intensitas Kebisingan yang umumnya dikeluhkan oleh sejumlah pekerja di bandar udara adalah tidak bisa berkonsentrasi dan sering melakukan kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan. Permasalahan ini dikarenakan pada umumnya gedung fasilitas di beberapa Bandar udara dengan elemen bukaan bangunan seperti jendela kaca, tidak memiliki kemampuan dalam hal mereduksi intensitas bunyi yang berlebih. Gangguan kebisingan seperti ini juga terjadi di Bandar Udara Juanda Surabaya yang termasuk bandar udara terbesar dan tersibuk kedua setelah Bandar udara Internasional Soekarno Hatta Jakarta. Keberadaan landas pacu di bandar udara yang berfungsi sebagai fasilitas mendarat dan tinggal landas pesawat terbang merupakan sumber utama kebisingan dengan intensitas bunyi antara 125-140 dB, sementara nilai standar faktor tempat kerja yang dapat diterima tenaga kerja terkait faktor kesehatan dan kenyamanan pada umumnya berkisar 65-85 dB. Berdasarkan hasil penilitian, Pemanfaatan sistem kaca ganda dapat menaikkan nilai insulasi lebih dari 30%, dengan rincian kaca ganda minimal 2x6mm pada unit jendela mampu mereduksi bunyi sampai ≤ 65 dB, sistem ini jauh lebih efisien jika dibandingkan dengan memperbesar dimensi atau ketebalan kaca ataupun memodifikasi jarak gedung dari sumber bising. Upaya selanjutnya adalah perletakan posisi panil kaca atau unit jendela kaca pada sudut 15° terhadap posisi normal, serta pemilihan material yang memiliki nilai negatif terhadap faktor penghantar getaran bunyi seperti kayu dan PVC, material tersebut cukup baik untuk dimanfaatkan sebagai material penyusun struktur (frame) unit jendela kaca karena dapat meminimalisir efek getaran bunyi yang akan merambat dari bagian luar gedung.
KARAKTERISTIK PERMUKIMAN DI TEPIAN SUNGAI: Studi Kasus: Permukiman di Tepian Sungai Musi Sastika, Anta; Yasir, Abdul
Jurnal Koridor Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.141 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v8i2.1332

Abstract

Musi River is the lifeblood of Palembang’s resident since the day kingdom of Sriwijaya. The existence of the Musi river becomes important in public life Palembang’s of resident. . Palembang city grow and develop from the banks of the Musi river. It can be seen from the structure of spatial and settlement and patterns of social life of the people which were originally all the old village oriented to the river and make the river as part of the livelihood changes and moves away from the river. Its resulted in morphological changes of space Palembang which originally Musi river as the front into the rear. As is general, the banks of the river into a desenly populated area and tend rundown. This condition is one of the causes few problems. Therefore, this research takes place on the banks of the Musi river whick crosses the city of Palembnag. This study of the research uses quaoitative research process to produce descriptive data in the form of words orspoken as a from of policy. This research’s approach is rationalistic with comparative theory settlements. This research is a study of the characteristics of settlement patterns by looking at the structure of the settelement pattern is an orientation initially Musi river settelement patterns that change with the development of infrastructure.

Page 3 of 16 | Total Record : 156