Ners Muda
Ners Muda is intended to be the university journal for publishing articles reporting the results of research and case study in nursing. Ners Muda invites manuscripts in the areas of medical-surgical nursing, emergency and disaster nursing, critical nursing, pediatric nursing, maternity nursing, mental health nursing, gerontological nursing, community health nursing, management and leadership nursing.
Articles
193 Documents
Terapi Murottal Ar-Rahman Menurunkan Intensitas Nyeri Kanker Pada Pasien Ca Penis
Nurbaiti Nurbaiti;
Dwi Nur Rahmantika Puji Safitri
Ners Muda Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v4i1.6295
Kanker penis merupakan penyakit yang jarang dijumpai dan kurang dari 1% menjadi keganasan pada laki-laki di Negara-negara berkembang. Kasus pada kanker penis yang jarang dijumpai dan hanya akan menyerang pada laki-laki maka perlu penanganan untuk mengatasi dampak dari kanker, salah satunya gejala nyeri yang yang diakibatkan dari pertumbuhan sel kanker. Nyeri adalah sensori subjektif dan emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan. Terapi yang dilakukan untuk menangani nyeri menggunakan terapi non farmakologi. Salah satu teknik distraksi yang dapat menurunkan ketegangan fisiologis sehingga dapat menurunukan nyeri yaitu terapi murottal. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui pemberian terapi murottal “Ar-Rahman” terhadap penurunan intensitas nyeri kanker pasien ca penis. Studi kasus ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan proses asuhan keperawatan dengan jumlah sampel 2 responden yang memenuhi kriteria, yang dirawat di ruang rajawali 1b RSUP Dr. Kariadi Semarang. Pada studi kasus ini antara kedua pasien sebelum dan sesudah diberikan terapi murottal menunjukkan penurunan nyeri. Hal ini ditujukkan dengan penurunan nyeri kedua pasien dari skala 5 menjadi 2 selama 3 hari dilakukan terapi. Terapi murottal dapat menurunkan skala nyeri pasien kanker penis. Murottal dapat meningkatkan hormon endorphin sehingga menghambat mediator nyeri dan memerintahkan tubuh untuk rileks dan tenang.
Implementasi Endorphin Massage Terhadap Penurunan Skala Nyeri Punggung Ibu Hamil Trimeter III
Ayu Chamalia Rohma;
Sri Rejeki
Ners Muda Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v4i1.11669
Perubahan fisik pada ibu hamil trimester III menimbulkan masalah nyeri punggung. Nyeri punggung yang tidak segera ditangani dapat mengakibatkan nyeri yang mengakibatkan susah beraktifitas, gangguan tidur, dan lain sebagainya. Nyeri punggung dapat diatasi dengan terapi nonfarmakologi salah satunya yaitu pemberian terapi endorphin massage. Studi ini bertujuan untuk mengetahui Asuhan Keperawatan ibu hamil trimester III dengan nyeri punggung. Studi kasus menggunakan pendekatan asuhan keperawatan. Subjek penelitian ini adalah ibu hamil trimester III yang mengalami nyeri punggung. Instrument yang digunakan yaitu Numeric Rating Scale (NRS) untuk mengukur skala nyeri yaitu skala 0 berarti tidak nyeri, 1-3 nyeri ringan, 4-6 nyeri sedang, 7-10 nyeri berat dan SOP Endorphin massage dimulai dari pijatan atau sentuhan ringan dengan jari-jari dimulai dari lengan atas sampai bawah selama 5 menit, dan dilanjutkan pijatan dari leher turun sampai lumbal dengan arah kebawah atau V terbalik dilakukan selama 20 menit. Pijatan dilakukan 1x dalam waktu 30 menit. Hasil observasi setelah diberikan terapi didapatkan hasil ada penurunan skala nyeri pada pasien dari nyeri sedang menjadi nyeri ringan. Keberhasilan ini disebabkan oleh rangsangan di permukaan kulit menghasilkan impuls yang dikirim melalui serabut saraf besar yang dapat memblokir reseptor nyeri sehingga pesan nyeri tidak sampai atau diterima oleh otak menyebabkan perubahan persepsi nyeri.
Pemberian aromaterapi peppermint (mentha piperita) mampu mengurangi mual dan muntah akibat kemoterapi
Adi Nur Tianto;
Nikmatul Khayati
Ners Muda Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v4i1.12014
Mual dan muntah merupakan efek samping kemoterapi yang paling umum. Upaya untuk mengatasinya menggunakan terapi farmakologi dan non farmakologi. Mual dan muntah akibat kemoterapi dapat beribeikan aromaterapi peppermint. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi Peppermint terhadap frekuensi mual dan muntah. Studi ini menggunakan deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan yang melibatkan 3 subjek. Pengambilan data dilakukan secara accidental sampling. Kriteria inklusi meliputi pasien yang menerima kemoterapi regimen FOLFOX dan mendapatkan antiemetik yang sama yaitu Ondansetron 8mg/8jam. Aromaterapi di berikan dengan cara meneteskan 1 tetes minyak aromaterapi peppermint dan dioleskan diantara hidung dan bibir, aromaterapi peppermint diberikan 3x sehari setelah selesainya efek antiemetik. Studi kasus berlangsung dari tanggal 25 – 28 Desember 2023. Instrumen pengukuran menggunakan The Index of Nausea, Vomiting, and Retching (INRV) untuk mengobservasi frekuensi mual muntah pasca kemoterapi. Hasil evaluasi didapatkan adanya penurunan frekuensi mual dan muntah pada ketiga subjek studi kasus setelah pemberian aromaterapi peppermint. Hasil menunjukkan rerata skor INVR subjek 1 sebesar 14, subjek 2 sebesar 10,75 dan subjek 3 sebesar 10. Rata-rata penurunan skor INVR ketiga subjek sebesar 3 skor. Masalah keperawatan nausea berhubungan dengan efek agen farmakologis (tindakan pengobatan kemoterapi) teratasi sebagian ditandai dengan penurunan skor mual dan muntah. Molekul essensial oil dari aromaterapi Peppermint akan memberikan efek relaks dan tenang, efek lain juga dapat menghambat produksi serotonin sehingga dapat mengurangi kontraksi otot perut dan gejala mual muntah akan berkurang. Aromaterapi pappermint mampu mengurangi mual dan muntah paska kemoterapi.
Penerapan Senam Kaki Diabetik Untuk Menurunkan Nyeri Neuropati: Case Study
Losa Nia Pradana;
Satriya Pranata
Ners Muda Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v4i1.12090
Pasien diabetes melitus tipe 2 memiliki permasalahan nyeri kaki yang berhubungan dengan kondisi neuropati diabetikum. Usaha yang dilakukan untuk mengurangi nyeri yang dirasakan dilakukan senam kaki diabetik. Neuropati di kaji menggunakan alat ukur nyeri neuropati yaitu kuesioner douleur neuropathique en 4 questions (DN4). Salah satu solusi untuk mengurangi nyeri neuropati yang bisa di terapkan dengan melakukan senam kaki diabetik yang berfungsi untuk mengurangi nyeri, meningkatkan rasa nyaman, menjaga kestabilan gula darah dan memperbaiki sirkulasi darah serta menghambat kerusakan saraf pada kaki. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui apakah senam kaki diabetik efektif untuk menurunkan nyeri neuropati. Studi kasus ini menggunakan study dekriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan menggunakan teknik senam kaki diabetes pada pasien diabetes melitus tipe 2. Subyek studi kasus penelitian ini menggunakan 2 responden. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa pada kasus pertama didapatkan sebelum diberikan senam diabetik tingkat nyeri neuropati pasien dengan skor 7 setelah diberikan senam diabetik tingkat nyeri neuropati pasien mengalami penurunan dengan skor 5 sedangkan pada kasus kedua didapatkan sebelum senam diabetik tingkat nyeri neuropati pasien dengan skor 6 setelah diberikan senam diabetik tingkat nyeri neuropati pasien menurunan dengan skor 4. Penerapan senam kaki diabetik mampu menurunkan nyeri neuropati bagi pasien yang menderita Diabetes Mellitus Tipe 2.
Penerapan hand massage dalam menurunkan intensitas nyeri pada pasien post operasi mastectomi : studi kasus
Hana Rahmadani Putri;
Nugroho Lazuardi
Ners Muda Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v4i1.12781
Permasalahan pada pasien post operasi adalah rasa nyeri yang dirasakan akibat luka operasi. Setelah efek anestesi menurun maka pasien akan merasakan nyeri pada area payudara setelah dilakukan mastectomi. Hal ini akan mengakibatkan kondisi pasien merasa tidak nyaman, tidak tenang, gelisah dan berbagai gangguan perasaan lainnya. Salah satu terapi yang dapat dimanfaatkan untuk menurunkan nyeri yaitu hand massage. Pada karya ilmiah akhir ners ini penulis bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan hand massage dalam penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi mastectomi. Studi kasus ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan. Studi kasus dilaksanakan Januari 2023, di Ruang Rajawali 4B RSUP Dr. Kariadi Semarang pada 2 subyek studi. Kriteria inklusi yaitu pasien post operasi mastectomi, pasien berusia 18 – 65 tahun dan pasien yang bersedia menjadi responden. Pemberian hand massage dilakukan selama 6 hari dengan durasi keseluruhan 20 menit pukul 10.00 setelah 4 jam diberikan analgesik. Instrumen yang digunakan dalam studi kasus ini adalah Numerical Rating Scale (NRS) untuk pengukuran intensitas nyeri sebelum dan sesudah intervensi terapeutik. Penerapan hand massage mampu menurunkan nyeri pada pasien post operasi mastectomi, dimana terdapat perubahan dari hari pertama hingga hari terakhir, subjek I sebelum diberikan hand massage skala nyeri 6 menjadi 2 mengalami penurunan sebanyak 4 sedangkan pada subjek II sebelum diberika terapi hand massage skala nyeri 5 menjadi 1 mengalami penurunan sebanyak 4. Hand massage dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif tindakan dalam menurunkan nyeri pada pasien post operasi mastectomi.
Terapi Relaksasi Otot Progresif Untuk Meningkatkan Kualitas Tidur Klien Lansia
I Kade Ngurah Arya Wardana;
Machmudah Machmudah
Ners Muda Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v4i1.9493
Lansia adalah suatu masa dimana proses produktifitas berpikir, mengingat, menangkap, dan merespon sesuatu sudah mengalami penurunan secara berkala. Tahun 2020, jumlah lansia diprediksi sudah menyamai jumlah balita. Sebelas persen dari 6,9 milyar penduduk dunia adalah lansia. Keluhan sering terjaga pada malam hari dan sulit untuk tidur sering dikeluhkan oleh lansia. Hal ini bisa diakibatkan karena beberapa faktor seperti stress, depresi, kecemasan akibat kesendirian, pasangan yang meninggal, merasa tidak berguna ataupun merasa diabaikan oleh keluarga. Terapi relaksasi otot progresif dapat meningkatkan kualitas tidur pada lansia. Hal ini disebabkan karena terjadi respon relaksasi (Trophotopic) yang menstimulasi semua fungsi dimana kerjanya berlawanan dengan sistem saraf simpatis sehingga tercapai keadaan rilaks dan tenang. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap peningkatan kualitas tidur lansia. Sampel berjumlah 2 responden dengan keluhan sering terbangun pada malam hari. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi menggunakan kuesioner PSQI pre-test dan post-test. Pengaplikasian relaksasi otot progresif ini dilakukan 8 kali mplementasi selama 8 hari. Setelah dilakukan terapi relaksasi otot progresif, kualitas tidur lansia mengalami peningkatan, walaupun tidak signifikan. Hal ini dimungkinkan karena teknik relaksasi otot progresif dapat menenangkan dan membuat tubuh menjadi rileks, sehingga lansia dapat tertidur. Hasil studi ini didukung dengan studi lain yang membuktikan bahwa teknik relaksasi otot progresif mampu meningkatkan kualitas tidur pada lansia. Dari hasil studi yang dilakukan dapat disumpulkan teknik relaksasi otot progresif dapat meningkatkan kualitas tidur pada lansia.
Penerapan Diabetes Self Management Education (DSME) Terhadap Peningkatan Manajemen Kesehatan Mandiri Pada Pasien DM Tipe 2
Rahmadani, Dafa Fidia;
Al Jihad, Much Nurkharistna
Ners Muda Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v4i1.12959
Penyakit DM tipe 2 perlu adanya manajemen penatalaksanaan mandiri secara baik untuk mengurangi terjadinya komplikasi. Prevalensi Diabetes Indonesia berada di peringkat kelima penderita diabetes terbanyak seluruh dunia dengan jumlah penderita sebanyak 19,47 juta orang diprediksi setiap tahun prevalensi diabetes mellitus di indonesia teruslah meningkat. Diabetes Self Management Education (DSME) yang mengintegrasikan empat pilar penatalaksanaan DM mengarahkan penderita dapat melakukan perawatan mandiri secara berkelanjutan. Tujuan dari penerapan DSME ini diharapkan pasien dan keluarga yang menderita DM mampu mengenali masalah DM, mampu mengontrol dan melakukan penatalaksanaan yang baik pada pasien DM. Metode yang digunakan pada study kasus ini adalah deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan berupa pengkajian, merumuskan masalah, membuat perencanaan, melakukan tindakan keperawatan dan evaluasi. Penatalaksanaan mandiri atau self management pada penderita DM membutuhkan 4 pilar, yaitu pendidikan kesehatan, pola makan, mengelola stres, dan terapi farmakologis. hasil evaluasi DSME setelah 2x edukasi dan evaluasi selama 7 hari didapatkan hasil pree test Responden 58 (sedang) sedangkan post test 68 (sedang) yang artinya terjadi peningkatan manajemen kesehatan mandiri pada kedua keluarga sejumlah 10 skor. Terdapat peningkatakan manajemen kesehatan mandiri pada pasien DM tipe 2 setelah diberikan implementasi DSME selama 2x edukasi kesehatan.
Penurunan Tingkat Stres Pasien Kanker Menggunakan Terapi Spritual Emotional Freedom Technique (SEFT)
Rahayu, Pratiwi;
Mubin, Mohamad Fatkhul
Ners Muda Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v4i2.10458
Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan kontrol regulasi pertumbuhan sel normal. Selama proses penyakit dan penyembuhan pada pasien kanker, penderita akan mengalami perubahan fisik maupun psikis. Seseorang yang terdiagnosis kanker secara umum akan mengalami stres, dan kondisi psikologisnya terganggu. Terapi SEFT mampu menurunkan tingkat stres pasien kanker. Terapi SEFT adalah teknik penggabungan dari energi psikologis, kekuatan spiritual, dan doa untuk mengatasi emosi negatif. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui penurunan tingkat stres pasien kanker setelah dilakukan terapi SEFT. Studi kasus ini menggunakan metode deskriptif yaitu pendekatan asuhan keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi dengan melakukan terapi SEFT dalam waktu 15 menit selama 3 hari. Pengukuran tingkat stres pasien pre-post menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10). Subyek studi kasus ini berjumlah 2 orang dengan kriteria inklusi adalah pasien kanker dengan stres yang bersedia menjadi responden, dan kriteria ekslusi adalah pasien yang tidak bersedia untuk diterapi. Subyek studi kasus telah menandatangani informed consent sebelum dilakukan pengambilan data. Hasil studi kasus menunjukkan rata-rata skor sebelum dilakukan terapi adalah 13, dan rata-rata skor setelah dilakukan terapi adalah 8,5. Didapatkan hasil penurunan yang signifikan yaitu dengan nilai rata-rata sebesar 4,5. Intervensi terapi SEFT ini mampu menurunkan tingkat stres pada pasien kanker.
Penurunan Tekanan Darah Tinggi pada Pasien Hipertensi yang Menerapkan Terapi Relaksasi Otot Progresif
Arlia Rimadia;
Khoiriyah Khoiriyah
Ners Muda Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v4i2.10450
Tekanan darah tinggi pada lansia yang tidak terkontrol akan menyebabkan komplikasi seperti stroke, infark miokard, gagal ginjal dan kematian, sehingga perlu dilakukan pengendalian tekanan darah (TD) salah satunya dengan pendekatan non farmakologis menggunakan relaksasi otot progresif. Tujuan dari terapi ini untuk menurunkan TD pada pengidap tekanan darah tinggi. Metode yang diterapkan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan melibatkan dua pasien hipertensi yang dipilih secara acak dengan kriteria inklusi pengidap hipertensi, usia 55-64 th, tidak sedang menjalani pengobatan, tidak memiliki kelemahan otot, hemiplegia, kekakuan otot dan mampu berkomunikasi dengan baik. Pasien diinstruksikan melakukan latihan penegangan dan pengenduran otot baik dari otot wajah hingga otot kaki dalam durasi 20 menit/hari selama enam hari dan dilakukan pemeriksaan tekanan darah 5 menit sebelum dan sesudah latihan (Pre dan Post). Hasil nilai rata-rata TD sebelum dilakukan relaksasi otot prograsif 178/105 mmHg pada pasien 1 dan 158/98,3 mmHg pada pasien 2. Nilai rata-rata TD setelah dilakukan relaksasi otot prograsif 168/101 mmHg pada pasien 1 dan 146/95,8 mmHg pada pasien 2. Latihan relaksasi otot progresif 20 menit/hari selama enam hari dengan intensitas sedang mampu menurunkan TD pada pasien dengan tekanan darah tinggi. Latihan ini perlu dilakukan secara rutin bersama dengan konsumsi obat antihipertensi untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Penerapan Relaksasi Benson Terhadap Kecemasan Dan Tanda-Tanda Vital Pada Pasien Pre Operasi
Pohan, Vivi Yosafianti;
Admaja, Paramarta Yuli
Ners Muda Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/nm.v4i2.8125
Pasien fase pre operatif seringkali mengalami kecemasan. Kecemasan dapat menimbulkan respon fisiologis berupa perubahan tanda-tanda vital. Kecemasan pada pasien pre operasi dapat mengakibatkan operasi tidak terlaksana atau dibatalkan maka dari itu dibutuhkan intervensi yang tepat untuk mengatasinya yaitu relaksasi Benson. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran penerapan relaksasi Benson terhadap kecemasan dan tanda-tanda vital pada pasien pre operasi di ruang pra induksi RSUP dr. Kariadi Semarang. Studi ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Sampel penelitian ini adalah lima subyek studi kasus pre operasi dengan kriteria inklusi umur 20-40 tahun, beragama Islam, belum pernah melakukan operasi sebelumnya, dan mengalami kecemasan sedang dengan skor 31-45. Pengkajian pada kelima subyek studi kasus menunjukkan kecemasan sedang dengan rata-rata skor 35. Intervensi yang dilakukan adalah relaksasi Benson selama 3x20 menit. Evaluasi yang didapatkan adalah terdapat perubahan skor kecemasan yaitu dari kecemasan sedang menjadi kecemasan ringan setelah dilakukan 3 kali intervensi relaksasi Benson dengan selisih rata-rata penurunan rentang kecemasan sebesar 3,3. Selain itu, juga terdapat perubahan TTV setelah dilakukan intervensi relaksasi benson. Terdapat pengaruh teknik relaksasi Benson terhadap kecemasan dan tanda-tanda vital pasien pre operatif. Teknik relaksasi Benson dapat dimasukkan kedalam standar operasional prosedur (SOP) untuk pasien pre operasi yang mengalami kecemasan.