cover
Contact Name
Muh. Rasywan Syarif
Contact Email
jurnalelfalaky@uin-alauddin.ac.id
Phone
+6281343813497
Journal Mail Official
jurnalelfalaky@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
jl. Sultan Alauddin No.63, Romangpolong, Kec. Somba Opu, Kabupaten Gowa
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
ELFALAKY: Jurnal Ilmu Falak
ISSN : 25497812     EISSN : 27228401     DOI : https://doi.org/10.24252/ifk.v4i1.14555
Core Subject : Religion, Science,
Elfalaky adalah jurnal yang diterbitkan oleh Jurusan/Program studi Ilmu Falak Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar yang merefleksikan diri sebagai wadah akademik untuk publikasi artikel ilmiah. Jurnal ini memfokuskan pada kajian/studi Ilmu Falak yang mengintegrasikan agama dan sain dalam berbagai aspeknya yang diharapkan dapat memberi referensi bagi pembaca/akademika dalam pengembangan wawasan akademik dan keilmuan diantaranya penentuan arah kiblat, awal waktu shalat, penentuan awal bulan kamariah, dan gerhana matahari atau bulan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 1 (2017): Juni" : 8 Documents clear
Telaah Kritis Syafaqul Ahmar dan Syafaqul Abyadh Terhadap Akhir Maghrib dan Awal Isya’ Muslifah, Siti
ELFALAKY: Jurnal Ilmu Falak Vol 1 No 1 (2017): Juni
Publisher : UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ifk.v1i1.3675

Abstract

Penentuan awal dan akhir waktu shalat berkaitan dengan fenomena matahari. Termasuk fenomena syafaq, khususnya syafaq ahmar dan syafaq abyadh sebagai tanda berakhirnya waktu maghrib dan dimulainya waktu isya’. Kedua syafaq ini muncul pada waktu yang berbeda pada tingkat pencahayaan di langit malam dimana syafaq ahmar muncul lebih dulu daripada syafaq abyadh. Adapun syafaq abyadh sebagaimana yang dipedomani oleh madzhab Hanafi dan Hambali digunakan pada saat normal, sedangkan pada waktu-waktu tertentu, madzhab tersebut juga menggunakan syafaqul ahmar sebagai penentu awal Isya’. Hal ini dapat terjadi karena hilangnya syafaq sebagai fenomena penentuan awal waktu Maghrib dan Isya’ merupakan dampak dari lintang dan musim yang bervariasi di tempat satu dan lainnya. Syafaq ahmar, yang juga dipengaruhi oleh kelembapan di atmosfer, pada garis lintang yang berbeda, keduanya baik syafaq ahmar atau abyadh akan hilang dalam interval waktu yang berbeda dari Maghrib untuk setiap harinya. Selain itu, pada musim yang berbeda keduanya akan hilang dalam waktu yang berbeda dari lokasi yang sama.
Urgensi Pengaruh Rotasi dan Revolusi Bumi Terhadap Waktu Shalat HL, Rahmatiah
ELFALAKY: Jurnal Ilmu Falak Vol 1 No 1 (2017): Juni
Publisher : UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ifk.v1i1.6431

Abstract

Artikel ini membahas tentang urgensi pengaruh rotasi dan revolusi Bumi dalam menentukan waktu shalat. Perjelanan harian matahari menjadi sebuah indikator dalam menentuakan awal dan akhir waktu shalat dalam keseharian yang dikonversi dalam bentuk formulasi salah satunya melalui deklinasi matahari. Dalam perkembangan berikutnya dikatakan bahwa peredaran matahari tidaklah tetap. Unsur diklinasi matahari secara global sudah diperhitungkan sehingga dapat menghasilkan jadwal waktu Shalat dari hari ke hari yangmengalami perubahan sesuai dengan posisi matahari tersebut. Dari hasil penelitian diketahui bahwa posisi rotasi dan revolusi Bumi dinilai sangat urgensi dalam formulasi penentuan awal waktu shalat.
Implementasi Matlak Wilayatul Ḥukmi dalam Penentuan Awal Bulan Kamariah (Perspektif Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah) Atmanto, Nugroho Eko
ELFALAKY: Jurnal Ilmu Falak Vol 1 No 1 (2017): Juni
Publisher : UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ifk.v1i1.3676

Abstract

Konsep wilayatul hukmi yang memberlakukan penentuan awal bulan untuk satu wilayah hukum (pemerintahan) merupakan salah satu konsep matlak (wilayah keberlakuan penentuan awal bulan Kamariah) yang memberlakukan penentuan awal bulan sama dalam satu wilayah hukum / pemerintahan. Penelitian ini akan mendeskripsikan implementasi konsep wilayatul hukmi menurut kedua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia dan menganalisisnya untk mengetahui perbedaannya. Dengan menggunakan analisis deskriptif dari sumber-sumber pustaka dapat diketahui bahwa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menggunakan konsep wilayatul hukmi untuk pemberlakuan penentuan awal bulan demi untuk kemaslahatan yaitu kesamaan dalam memulai awal bulan Kamariah. Berangkat dari ketidakpastian hasil rukyat, di suatu tempat dapat merukyat/melihat hilal sementara di tempat lain tidak, Nahdlatul Ulama sebagai penganut mazab hisab menggunakan konsep ini. Sementara bila konsep tersebut diterapkan pada hisab wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah, akan menimbulkan masalah bila garis batas penanggalan membelah wilayah Indonesia, sehingga sebagian wilayah hilal sudah wujud dan di sebagian yang lain hilal belum wujud. Timbul pertanyaan apakah yang belum wujud mengikuti yang sudah wujud atau yang sudah wujud mengikuti yang belum wujud.
METODOLOGI PERUMUSAN AWAL BULAN KAMARIYAH DI INDONESIA Amir, Rahma
ELFALAKY: Jurnal Ilmu Falak Vol 1 No 1 (2017): Juni
Publisher : UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ifk.v1i1.6434

Abstract

This article discusses the importance of the determination of the beginning of the month on the calendar of islam in Indonesia, especially in the month because relating to worship or the major feast days of islam, thus the muslims should review the  methods in determining the beginning of lunar month by the method of hisab and rukyat because there are some of the latest methods with the use of hisab and rukyat in the determination of the month in Indonesia. It can be said that the method is something absolute, while reckoning only support been seen on the basis of the calculation the first and as muslims argue that to determine the month to actually do the observation of the new moon directly.
Pengenalan Pengukuran Arah Kiblat di Tingkat Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar Melalui Mata Pelajaran Matematika Materi Pengukuran Sudut Solikin, Agus
ELFALAKY: Jurnal Ilmu Falak Vol 1 No 1 (2017): Juni
Publisher : UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ifk.v1i1.3677

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tentang proses pengenalan pengukuran arah kiblat di tingkat Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar melalui mata pelajaran matematika pada materi pengukuran sudut. Hal ini bertujuan untuk mengaitkan antara matematika dengan nilai-nilai agama, selain itu pembelajaran matematika akan lebih bermakna jika dikaitkan dengan contoh-contoh yang nyata dalam kehidupan. Dengan bahasa lain, pembelajaran matematika akan terasa memberikan manfaat jika dapat dihubungkan dengan sikap beragama, sehingga dengan demikian akan diperoleh interaksi antara matematika dengan agama.Berekenaan dengan hal itu, maka penelitian ini dirancang dalam penelitian kualitatif yang berbasis data berasal dari literatur-literatur yang tekait dengan fokus dalam penelitian ini. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diperoleh bahwa, langkah-langkah pengenalan pengukuran arah kiblat di tingkat Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar melalui mata pelajaran matematika pada materi pengukuran sudut dapat dilakukan oleh guru dimulai dengan penjelasan tatacara pengukuran sudut dengan menggunakan penggaris busur, kemudian dilanjutkan dengan latihan pengukuran sudut, pemberian lembar kerja tentang pengukuran arah kiblat, terakhir pengambilan kesimpulan terakit arah kiblat.
Akurasi Penentuan Arah Kiblat dalam Rubu’ Muqantharaat di Lingkungan Pondok Pesantren Al-Inaroh Desa Kertonegoro Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember Khotijah, Ana
ELFALAKY: Jurnal Ilmu Falak Vol 1 No 1 (2017): Juni
Publisher : UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ifk.v1i1.3678

Abstract

Arah kiblat merupakan salah satu syarat sah sholat yang harus dipenuhi. Para ulama’ telah bersepakat bahwa keabsahan ibadah utama umat Islam, yaitu sholat ditentukan oleh ketepatan menghadap arah kiblat, sehingga jika arah kiblatnya tidak tepat, maka sholatnya bisa dikatakan tidak sah. Oleh karena itu, arah kiblat ini tidak bisa terlepas pembahasannya dari umat Islam.  Rubu’ muqantharaat merupakan alat sekaligus metode yang dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat, namun rubu’ ini hanya dapat digunakan di daerah lintang 8 ¼ ° bagian selatan dan utara garis khatulistiwa, seperti Jember. Alat ini dibuat oleh Al. Kyai Abdul ‘Aziz atau Kyai Wafa, pengasuh pondok Al-Wafa Tempurejo sekitar tahun 1950an M. Meski telah lama adanya rubu’ muqantharaat ini belum dikenal oleh masyarakat luar sehingga hanya digunakan oleh orang-orang tertentu saja, seperti PP. Al-Inaroh Kertonegoro dan PP. Al-Wafa Tempurejo. Selain itu, keakurasian yang dimiliki oleh rubu’ ini masih belum diketahui, meski beberapa masjid yang telah didirikan dengan menggunakan alat ini untuk menunjuk arah kiblat masih berdiri hingga saat ini. Oleh karenanya, perlu adanya koreksi atau kajian ulang mengenai keakurasian dalam rubu’ muqantharaat ini.
Kontroversi Hisab dan Rukyat dalam Menetapkan Awal Bulan Hijriah di Indonesia Sakirman, Sakirman
ELFALAKY: Jurnal Ilmu Falak Vol 1 No 1 (2017): Juni
Publisher : UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ifk.v1i1.3674

Abstract

Secara konseptual, baik ru’yatul hilal (praktis) mapun hisab (teoretis) adalah dua sisi mata uang yang sama – keduanya tidak akan bertentangan bila sama-sama dilakukan dengan benar. Oleh karena itu saya melihat perdebatan hisab vsru’yat itu tidak perlu. Konsep ru’yatul hilal memiliki sandaran syar’i yangkokoh. Perintahnya adalah ”telah terlihat hilal”, bukan ”telah masukwaktunya”. Inilah perbedaan pokok perintah yang terkait dengan puasa, danperintah yang terkait dengan sholat. Namun perbedaan yang terjadi selama inisebenarnya bukan hanya hisab vs ru’yat, tetapi juga hisab vs hisab (buktinyauntuk 1 Syawal nanti Muhammadiyah berbeda dengan Persis), ru’yat vs ru’yat(buktinya di Kab. Kuningan ada yang memulai puasa hari Rabu 12 September2007, konon karena ru’yat mereka berhasil melihat hilal), dan bahkan ru’yatmatla terbatas vs ru’yat global (Mazhab Syafi’i berbeda dengan Mazhablainnya). Pada tulisan ini saya tidak ingin fokus ke soal fiqihnya an sich,meskipun bahan-bahan pada saya cukup banyak. Saya akan membahas sisi fakta saja. Biasanya para fuqoha dalam memutus perkara fikih harus paham betul faktanya dulu, baru mencarikan dalil syar’i yang tepat untuk fakta itu.
IKHTIAR AKADEMIK MOHAMMAD ILYAS MENUJU UNIFIKASI KALENDER ISLAM INTERNASIONAL Syarif, Muh Rasywan
ELFALAKY: Jurnal Ilmu Falak Vol 1 No 1 (2017): Juni
Publisher : UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ifk.v1i1.6430

Abstract

Pemikiran perumusan Kalender Islam Internasional Mohammad Ilyas menjadi sangat penting untuk dikaji melalui pendekatan ilmiah menuju unifikasi Kalender Islam Internasional yang mapan. Pemikiran Islam fenomenal ketika berhadapan dengan perubahan teknologi dan pengembangan sains, maka kajian tentang tren pengembangan Islam kontemporer menjadi isu menarik dan up to date dikarenakan pemikiran dalam Islam bersifat dinamis dan unik. Salah satu tokoh pemikiran kontemporer  yang fenomenal pemikirannya, yang berkaitan perumusan Kalender Islam Internasional adalah Mohammad Ilyas. Artikel ini bertujuan untuk melihat ikhtiar akademik Muhammad Ilyas mewujudkan kalender Islam internasional dari berbagai upaya akademik dengan berbagai karya monumentalnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 8