cover
Contact Name
Muhammad Ilham Akbar Alamsyah
Contact Email
231320043.muhammadilham@uinbanten.ac.id
Phone
+6285798995400
Journal Mail Official
hikmatul.luthfi@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jl. Syekh Moh. Nawawi Albantani, Kemanisan, Kec. Curug, Kota Serang, Banten
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Al-Fath
ISSN : 19782845     EISSN : 27237257     DOI : https://doi.org/10.32678/alfath
Al-Fath: published twice a year since 2007 (June and December), is a multilingual (Bahasa, Arabic, and English), peer-reviewed journal, and specializes in Interpretation of the quran. This journal is published by the Alquran and its Interpretation Department, Faculty of Ushuluddin and Adab, Sultan Maulana Hasanuddin State Islamic University of Banten INDONESIA. Al-Fath focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, and Theology. Editors welcome scholars, researchers and practitioners of Alquran and its Interpretation, Hadith, and Theology around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009" : 9 Documents clear
Auguste Comte dan Ide Positivismenya Udi Mufradi Mawardi
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3293

Abstract

Sebagai ahli waris zaman renaissance, filsafat zaman modern memang bercorak “antroposentris”’, artinya yang menjadi pusat perhatian adalah alam, manusia, masyarakat, dan sejarah.' Hal ini kiranya dapat dilihat dalam perkembangan filsafat Prancis pada abad ke 19 M. Filsafat itu berhubungan erat dengan usaha-usaha idealistis untuk memperbaiki keadaan masyarakat. Sesuai dengan cita-cita luhur revolusi Prancis “kebebasan, persamaan, dan persaudaraan”, dicanangkan suatu rencana“utopis’’ untuk masyarakat. Utopis berasal dari kata Yunani “utopia”,artinya suatu negara teladan yang belum ada, tetapi yang berfungsi sebagai model yang mau direalisasikan dengan usaha bersama-sama . Auguste Comte adalah filosof Perancis yang menekuni sosiologi. Bertotak dari sosiologi sebagai ilmu eksakta, ia melihat bahwa perkembangan intelektual intelektual manusia ada tiga tahap, yaitu teologis,metrafisis, dan positif. Yang pertama diibaratkan oleh Aguste Comte sebagai kanak-kanak, yang kedua sebagai pemuda, dan yang ketiga sebagai orang dewasa. Pada tahap yang terakhir inilah manusia menganggap bahwa yangberarti itu hanya proposisi analitik yang dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris. Pendapatnya yang demikian, dikenal dengan ‘‘positivisme”’,yaitu. suatu teori yang menolak setiap bentuk metafisika. Teori ini berkembang di Inggris dan Mesir.
The Basic Concepts of Magic and The Kinds of Magic in Banten Society Ayatullah Humaeni
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3277

Abstract

Magic merupakan sebuah fenomena social yang ada hampir di setiap tempat, setiap era, dan hampir setiap budaya masyarakat memilikinya. Fenomena ini juga hadir dan telah memiliki akar yang sudah terbangun sejak lama di Banten. Meskipun banyak tantangan dari beberapa kelompok Islam, praktik-praktik magic masih survive di Banten sampai saat ini. Hal ini menunjukan bahwa magic masih memiliki pengikut yang loyal disebagian masyarakat di Banten. Artikel ini membahas tentang teori-teori dan konsep-konsep dasar tentang magic yang dikemukakan oleh berbagai ahli antropologi dan sosiologi yang concern terhadap budaya magic di berbagai belahan dunia. Disamping itu, jenis-jenis magic yang sudah diklasifikasikan oleh para ahli tersebut juga akan dijelaskan dalam artikel ini. Klasifikasi ini kemudian dikomparasikan dengan berbagai jenis magic yang tersebar padamasyarakat Banten.
Studi Sejarah Agama Syafiin Mansur
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3292

Abstract

Agama-agama di dunia ini, memiliki tingkat pengaruh yang masih tinggi pada pengikutnya. Hal ini dikarenakan agama memiliki kitab suci yang setiap saat dapat dibacanya. Namun demikian, agama-agama ini ternyata muncul atau turun di kawsan wilayah Asia. Agama-agama yang muncul di Asia ini, tidak saja agama samawi, melainkan agama ardi yang didalam kitabnya terdapat unsur-unsur pemikiran manusia. Berbeda dengan agama samawi. Seperti agama Islam karena agama ini tidak memasukkan unsur-unsur pemikiran manusia dalam kitab sucinya..
Manhaj Penulisan Kitab Al-Muwatta' Karya Imam Malik Sholahuddin Al Ayubi
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3294

Abstract

al-Muwatta’ bukanlah sekedar nama, manhaj dari berbagai deretan karya yang dapat dilihat secara indikatornya, akan tetapi al-muwatta’memberikan satu simbol yang besar masa penulisan karya hadits, yang pernah dilakukan dan cukup populer di abad ke 2, setelah melalui periode-periode yang sederhana di abad pertma atau pada masa Rasullah dan para sahabatnya, Dalam tulisan ini, penulis mengungkapkan isi kitab dan tema-tema dalam kitabnya.
Teologi Feminim Perspektif Al-Qur'an Muhammad Alif
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3340

Abstract

Fenomena gerakan feminisme yang marak dalam beberapa dekade belakangan ini merupakan budaya tandingan (counter-culture) yang secara tajam menggugat dan menantang nilai-nilai baku (kemapanan tradisi, institusi keluarga dan ideologi patriaki) dalam masyarakatnya, baik di Barat maupun di Timur. Gerakan ini memperjuangkan kebebasan bagi perempuan,merefolmulasi relasi dan kuasa antar lelaki dan perempuan di lingkup yangpaling pribadi, keluarga dan publik. Dalam tulisan ini, penulis berusaha mengungkap makna ayat-ayat alquran yang berkaitan tentang aktifitas feminisme.
Sejarah Islam dan Tarekat di Banten Noval Syamsu
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3341

Abstract

Sejarah, sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan yang membahas tentang kronologi peristiwa-peristiwa yang terjadi”; upaya interpretasi terhadap kehidupan manusia dan juga manusia, yang tujuan pokoknya adalah untuk mengembangkan pemahaman terhadap aktivitas manusia bukan hanya yang terjadi pada masa lalu tetapi juga masa sekarang. Peristiwa sejarah menjadi hubungan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lain yang digambarkan dan dijelaskan oleh seorang sejarawan yang menyangkut dua level waktu, yaitu masa lalu yang dialami oleh masyarakat ketika persirtiwa itu terjadi dan masyarakat saat ini dimana seorang sejarawan berusaha memahami peristiwa masa lalu sebagai pelajaran dan suri tauladan kehidupan sekarang dan masa yang akan datang, maka dapat dikatakan bahwa sejarawan sendiri berfungsi sebagai penghubunga (mediator) antara generasi sebelumnya dengan generasi sekarang. Dengan kata lain, seperti yang diungkapkan oleh Marx, masa lalu itu membentuk masa sekarang, tapi pada waktu yang sama masa sekarang (melalui interpretasi sejarawan) membentuk masa lalu. Dalam terminologi ini, sejarah ditentukan bukan oleh data dan fakta, tapi justru oleh sejarawan, maka dapat dikatakan bahwa sejarah merupakan apa yang dikatakan oleh sejarawan (history is what the historian makes).
Bahasa Al-Qur'an Sebagai Wahyu Endang Saeful Anwar
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3339

Abstract

Di dalam sebuah institusi yang disebut sebagai agama, diharuskan adanya sebuah kitab yang akan menjadi pedoman dan prinsip-prinsip kehidupan bagi umatnya. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari sebuah institusi religius, tak terkecuali di dalamnya Islam. Maka dalam agama Islam dikenal sebuah kitab suci yang dinamakan al-Quran. Al-Quran bagi umat Islam merupakan kitab suci' yang selalu dijunjung dan dijaga sakralitasnya. Usaha ke arah tersebut telah banyak dilakukan, diantaranya dengan berbagai macam penghormatan baik dalam bentuk formatif maupun normatif. Sebagai kitab suci, al-Quran telah mengambil peran yang sangat signifikan dalam kehidupan umatnya. Dalam berbagai hal, umat Islam selalu mengembalikan segala masalah yang dihadapi ke al-Quran. Oleh karena itu, al-Quran bagi umat Islam adalahruh perjuangan yang tidak boleh hilang. Al-Quran hilang berarti umat telah kehilangan jiwanya dan tidak berarti sama sekali. Hal di atas menjadi masalah manakala umat yang telah mengetahui eksistensi kitab sucinya, kemudian tidak mengetahui apa dan bagaimana hakekat dan substansi kitab sucinya. Berdasarkan hal tersebut, penulis merasa tertarik mengkaji kembali keberadaan al-Quran di tengah umat Islam meliputi pembahasan sekitar pengertian al-Quran, posisi Tuhan dalam al-Quran dan hubungan Bahasa Arab dengan al-Quran.
Ahammiyah al-Hijrah Fi Al-Qur’ān Ahmad Hidayat
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3332

Abstract

Haditsah (peristiwa) penting terjadi dalam dunia Islam bahkan dalam universum ini, sebuah momentum bersejarah itu adalah Hijrah (migrasi) Rasulullah s.a.w. bersama para loyalisnya dari bumi Makkah yang tidak kondusif untuk dakwah Islamiyah menuju bumi Yatsrib (Madinah) yang dalam perspektif Rasulullah relati kondusif untuk membumikan Islam. Logika Islam dalam konteks hijrah ini adalah apresiasi terhadap qanun sababiyah (hukum kausalitas). Ketika sebuah cita-cita di canangkan maka media-media menuju cita-cita itu dilalui. Dengan Hijrah itulah kemudian Rasulullah s.a.w. berhasil menjalankan dakwah Islamiyah. Ada sebab ada akibat. Dengan sebab Hijrah akibatnya dakwah sukses. Komitmen untuk Hijrah sesunguhnya telah ada sejak beberapa bulun sebelumnya yaitu pada bulan Muharram. Baru pada bulan Rabi'ul Awal Rasulullah s.a.w. merealisasikan Hijrahnya. Sebab itulah kemudian para Ilmuan Islam memulai penanggalan Hijriyah dari bulan Muharram. Al-Qur’an yang mulia merilis akan keagungan reward orang-orang yang melaksanakan Hijrah ini.
Intoxication and Sobriety in Sufi Tradition Ade Fakih Kurniawan
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3295

Abstract

Masalah ketuhanan selalu menjadi tema perdebatan tiada akhir. Masing-masing membicarakan-Nya dengan perspektifnya sendiri. Ahli Kalam memandang Allah melalui tanzih-Nya, Allah yang tak pernah terjangkau oleh siapapun dan apapun. Sedangkan para sufi memandang Allah selalu dekat dan bisa “dijangkau” oleh manusia. Meskipun para sufi menyatakan “keterjangkauan” Allah, namun mereka mengekspresikannya secara berbeda. Sebagian sufi memandang Allah bisa dijangkau dengan tetap menjaga keterbatasan dan pembedaan antara manusia dengan Tuhannya melalui jalur penghambaan, Sang Khalik dan makhluk, Yang Hakiki dan yang nisbi. Sedangkan sufi lainnya ada yangmenegaskan bahwa Allah omnipresen, imanen, dan dapat menyatu dengan manusia (hulul), atau manusia dapat menyatu dengan Tuhan (ittihad), atau dalam pemikiran imaginal Tuhan dapat dipandang imanen dan hadir dalam segala sesuatu (wahdatul wujud). Karena itu, untuk menerangkan kondisi psikologis tersebut, biasanya para ahli tasawuf menganalisisnya melalui dua kondisi (ahwal) yang dialami para pencari Tuhan (salik), yakni kondisi mabuk (sukr) dan sadar (sahw).

Page 1 of 1 | Total Record : 9