cover
Contact Name
Muhammad Ilham Akbar Alamsyah
Contact Email
231320043.muhammadilham@uinbanten.ac.id
Phone
+6285798995400
Journal Mail Official
hikmatul.luthfi@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jl. Syekh Moh. Nawawi Albantani, Kemanisan, Kec. Curug, Kota Serang, Banten
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Al-Fath
ISSN : 19782845     EISSN : 27237257     DOI : https://doi.org/10.32678/alfath
Al-Fath: published twice a year since 2007 (June and December), is a multilingual (Bahasa, Arabic, and English), peer-reviewed journal, and specializes in Interpretation of the quran. This journal is published by the Alquran and its Interpretation Department, Faculty of Ushuluddin and Adab, Sultan Maulana Hasanuddin State Islamic University of Banten INDONESIA. Al-Fath focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, and Theology. Editors welcome scholars, researchers and practitioners of Alquran and its Interpretation, Hadith, and Theology around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 197 Documents
Kesabaran dalam kisah Nabi Yusuf (Studi atas penafsiran M. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah) Ismail, Besid; Kharir, Agus
Al-Fath Vol 15 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v15i1.4276

Abstract

Patience is the key of living life; the patient word is often used daily life. Generally, the patience word is used by someone when experiencing the difficult times or in facing problems. Patience is often used as a motivation for someone to be strong to face their problems or difficulties. Qur'an has demonstrated patience in the previous prophet stories, including the story of the Prophet; he is a prophet who has a very high patience level. In the study, the approaching used by researchers is a qualitative with the library research (Library Research) type. This research discusses how the patience according to M. Quraish Shihab is and how is the patience story of Prophet Yusuf. His patience stories according to M. Quraish Shihab is to refrain from all the obstacles that came, while the patience forms in the Prophet Yusuf story, begin with his removed by his brother then, he was found by a group of travelers and sold to the Egyptian. Afterward, Prophet Yusuf patience in resisting the temptation of Aziz wife and he was put in prison because of Aziz wife charges. From those obstacles, the Prophet Yusuf was able to pass it with the great patience. Subsequently, Allah almighty replied with the infinite favors.
Makna Sholat Wustho dalam Al-Qur’an: Kajian terhadap Penafsiran al-Maraghi dan Jalalain Syamsiyah, Siti Iis
Al-Fath Vol 14 No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v14i2.3773

Abstract

Al-Qur’an is a holy book that has never been devoid of discussion until now. This is because most of the verses open up opportunities for various interpretations of meaning. One area of study that is still being debated is the verse regarding wustha prayer. Some call it witir prayer, some call it dzuhur prayer, and some call it Asr prayer. This difference can certainly be a factor of sharper differences among the ummah if they do not understand the arguments of each of these opinions. For this reason, it is deemed important to raise this issue as a topic of study, by raising the opinions of two exegete figures as a comparison of interpretation. Based on the background above, the problem formulations in this thesis are: 1). How do al- Maraghi and Jalalain view the meaning of wustha prayer? 2). How do different views on the meaning of wustha prayer occur between the interpreters?
METODOLOGI TAFSIR TABI’ TABI’IN: TELAAH ATAS KITAB TAFSIR AL-QUR’AN AL-AZIM KARYA IBNU ABI HATIM AL-RAZI Zulfikar, Eko
Al-Fath Vol 15 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v15i1.4323

Abstract

Abstract This paper seeks to explore the tabi’ tabi’in interpretation methodology, namely Tafsir al-Qur’an al-Adzim by Ibnu Abi Hatim al-Razi. By reading it from a constructivism perspective with an analysis of intertextuality data, the writer can identify the existence of Ibnu Abi Hatim interpretation which only uses the interpretation of bi al-ma’tsur as a source of interpretation, which is based on an explanation of the Prophet’s hadith, the opinions of friends, tabi’in, and the stories of israiliyyat. While the effort in explaining al-Qur’an, the method carried by Ibnu Abi Hatim is the method of ijmali, which is interpreting verses of the Qur'an in a concise, concise, and not lengthy language. In addition, Ibnu Abi Hatim also used the muqaran method by quoting and comparing the opinions of friends and the tabi’in. For his interpretation style, the interpretation of Ibnu Abi Hatim did not reach a certain scientific discipline style, only limited to the interpretation of geographical and traditionalist locations, namely interpreting the al-Qur’an by tending to use narrations from the hadiths of the Prophet, friends, and tabi’in.
Konsep Etika Lingkungan Perspekif al-Qur’an: Studi Tafsir Tematik Siti Masitoh
Al-Fath Vol 9 No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v9i2.3337

Abstract

Tulisan ini mengulas perihal etika lingkungan hidup dari sudut pandang Al-Qur’an. Kajian terbelakangi, karena manusia dewasa ini dianggap menghantarkan planet buminya pada titik kehancuran. Ini mengindikasikan aktifitas sebagain mereka tidak pro lingkungan lagi. Al-Qur’an dalam berbagai ayat menekankan manusia untuk selalu sadar lingkungan dengan satu titik tekan “jangan berbuat kerusakan dibumi” itu menandakan manusia harus menyadarinya sungguh moral atau etika sangat diperlukan bila berhadapan dengan bumi sebagai lingkungan tempat tinggal manusia. Metode yang tepat digunakan dalam penelitian ini ialah Maudhui’ yaitu yang dapat menghimpun ayat-ayat al-Qur’an dengan maksud yang sama, dalam arti sama-sama membicarakan satu topik masalah yang dikaji. Selain dari itu penulis juga menggunakan metode deskriptif karena metode ini tidak hanya terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data namun juga meliputi usaha klasifikasi data, analisis data, dan interpretasi tentang arti data yang diperoleh sehingga dapat menghasilkan gambaran yang utuh dan menyeluruh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kajian dalam tafsir tematik mengenai hal-hal yang kekinian sangat dibutuhkan. Termasuk mengenai konsep lingkungan dengan studi etika yang merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an. Dengan pembahasan yang mudah dipahami dan bisa dijadikan sumber penelitian dengan masalah lingkungan yang saat ini banyak dipermasalahkan. Dan sangat penting sekali diterapkannya sebuah konsep etika untuk menjaga dan memelihara lingkungan hidup manusia menurut tuntunan al-Qur’an.
Pendidikan Anak Remaja dalam Kehidupan Sosial Umayah Umayah
Al-Fath Vol 2 No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v2i1.3270

Abstract

Pendidikan dalam kehidupan sosial bagi anak remaja, merupakan suatu hal mesti tanamkan sejak dini, sebagaimana hal ini ketika manusia sudah ditanamkan nilai-nilai pendidikan dalam kandungan seorang ibu. Masa remaja merupakan masa yang sangat rentan dengan prilaku kehidupan yang negatif. Sifat negatif tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan sekitar melainkan dapat dipengaruhi dengan media-media terutama media alektronik. Perkembangan anak remaja, sejak dini mesti diperhatikan tingkahpola kehidupan sosialnya, karena jiwa remaja begitu cepat dapat mengikuti hal-hal yang menurutnya menarik, dan selalu mencob-coba. Dalam tulisan ini, sedikit mengungkap perkembangan anak remaja, dengan perkembangan Jiwa dan sosialnya.
AMTSAL AL-QUR'AN Fauzul Iman; Asep Kamrowi
Al-Fath Vol 8 No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v8i1.3053

Abstract

Jalaluddin as-suyuthi juga membagi amtsal al-qur’an pada dua bagian yaitu: pertama; amtsal musharahah bih adalah yang didalamnya dijelaskan dengan lafadz matsal ( مثل ) atau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Amtsal seperti ini banyak ditemukan dalam al-qur’an.Kedua; amtsal kaminah adalah amtsal yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafadz matsal/tamtsil (permisalan), tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik, dalam kepadatan redaksinya dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya.
Al-Qur’an Sebagai Sumber Konsep Tasawuf Badruddin Badruddin
Al-Fath Vol 4 No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v4i1.3359

Abstract

Tasawuf merupakan sebuah konsep yang tumbuh sebelum Nabi Muhammad lahir, baik, dalam segi wacana, perilaku, maupun akidah. Tasawuf terjadi pada setiap umat dan agama-agama, khususnya Brahmana Hinduisme, filsafat Iluminasi Yunani, Majusi Persia, dan Nashrani Awal. Lalu pemikiran itu menyelinap ke dalam pemikiran Islam melalui zindik Majusi. Kemudian menemukan jalannya dalam realitas umat Islam dan berkembang hingga mencapai tujuan akhirnya, disusun kitab-kitab referensinya, dan telah diletakkan dasar-dasar dan kaidaah-kaidahnya pada abad ke-empat dan kelima Hijriyah.
Tasawuf Akhlaqi menurut al-Qur’an (Sebuah Tafsir Sufistik) Andi Eka Putra
Al-Fath Vol 6 No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v6i1.3210

Abstract

Akhlak tasawuf adalah sesuatu yang menetap dalam jiwa dan muncul dalam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran terlebih dahulu. Akhlak tasawuf bukanlah perbuatan, kekuatan, dan ma'rifah. Akhlak adalah "hal" atau kondisi jiwa dan bentuknya bathiniah. Al-Ghazali mengkaitkan antara akhlak dan tasawuf sebagai dua dimensi yang tak mungkin terpisahkan. Hal ini merupakan pengembangan ide Ibnu Maskawaih di era klasik, dan sesuai dengan pendapat kalangan Barat modem seperti Kohlberg, John Dewey dan Emile Durkheim. Al-Ghazali membagi akhlak tasawuf dalam Al-Qur’an menjadi mahmudah-munjiyat (baik dan menyelamatkan) dan madzmumah-muhlikat (buruk dan menghancurkan). Akhlak yang baik sesuai pesan Al-Qur’an adalah taubat, khauf, zuhud, sabar, syukur, keikhlasan, dan kejujuran, tawakkal, cinta, ridha, ingat mati. Sedangkan akhlak yang buruk adalah rakus makan, banyak bicara, dengki, kikir, ambisi dan cinta dunia, sombong, ujub dan takabbur serta riya'.
Doa dalam Perspektif Alquran Kajian Tafsīr Ibnu Kathῑr dan Tafsīr Al-Azhar Awaludin Hakim
Al-Fath Vol 11 No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v11i1.879

Abstract

Wajib kepada orang-orang yang beriman harus mengindahkan pemahaman yang menyimpang tentang doa sebagaimana yang diceritakan dalam AlquranSemua orang yang beriman yang membaca Alquranmemikul tanggung jawab atas perintah-perintah yang ada didalamnya, Allah memberikan peringatan kepada orang-orang yang beriman dan mejelaskan bahwa dia menginginkan agar hambanya berdo’a dalam setiap aspek kehidupan. Namun pada praktiknya orang-orang banyak menyalahi baik dalam pemahaman maupun praktik doa sehingga tidak sedikit orang yang bedoa hatinya dicampurkan dengan kemusrikan.Penafsiran Ibnu Kathῑr mengenai ayat doa, bahwasanya doa itu ibadah yang wajib dilaksanakan oleh orang yang bertakwa kepada-Nya berdalil dengan ayat dari Alquransurat al-Baqarah ayat 186, sedangkan Hamka lebih mempertegas lagi anjuran untuk berdoa agar lebih memahami dulu arti ayat dari kandungan Alquran sebelum berdoa tujuan agar lebih khusyuk dalam mengenal Allah Swt berdalail surat al-Mu’min ayat 60, kedua mufasir menafsirkan ayat doa dengan tafsirannya dan pendapat para ulama terdahulu dan sedikit memakai redaksinya sendiri. Perbedaan: adapun perbedaanya: adalah Terkait dengan ayat doa Ibnu Kathῑr menafsirkan Alqurandengan Alquran(ayat doa dengan ayat yang lain yang masih ada kaitannya dengan ayat-ayat doa) menafsirkan Alqurandengan as-Sunnah. Sedangkan tafsir al-Azhar: memelihara sebaik-baiknya hubungan antara Naql dan Akal (Riwayah dan Dirayah) Hamka tidak hanya semata-mata mengutip atau menukil ulama terdahulu.
Ingat dan Lupa menurut al-Qur’an Arma Arma
Al-Fath Vol 9 No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v9i2.3335

Abstract

Ingatan adalah daya batin sebagai alat yang beroperasi secara aktif dan dengan cara otomatis dalam menerima, menyimpan, sesuatu yang pernah dikatahui, dipahami, dan dipelajari. Fakta itu disusun dan dianalisa secara aktif dan merupakan kesanggupan untuk menggambarkan kembali apa-apa yang telah dialami, walaupun pengalaman itu telah terjadi pada tempat yang jauh sekali. Ingatan adalah ni’mat yang paling penting dan paling besar yang dianugrahkan Allah swt kepada manusia. Di antara keagungan Allah swt Maha Pencipta adalah bahwasanya Allah swt menciptakan ingatan dengan bentuk yang sulit untuk dipikirkan dan sulit dipahami rahasianya. Berbagai usaha terus dilakukan untuk mengungkap misteri ingatan itu. Kepala manusia sekalipun bentuknya kecil, adalah laksana gudang yang menyimpan berbagai ilmu pengetahuan berjuta-juta kali lipat dibanding dengan bentuk pisiknya, bahkan mampu memuat isi berbagai macam buku. Jiwa tenang dengan dzikir kepada Allah.Ikhlas dalam ibadah, hanya karena Allah semata, menyebabkan jiwa merasa aman, tenang, tidak ada rasa takut, jauh dari gelisah dan gundah gulana dibarengi dengan rasa ridla. Orang-orang mu’min membersihkan diri dengan mendekatkan diri kehadlirat Allah, dan merasa tenang ketika ingat kepada Allah. Jadi cara yang paling efektif dalam mendekatkan diri kepada Allah adalah berdzikir (ingat) kepada Allah swt. Aktivitas yang tidak melelahkan, tidak menyulitkan dan selalu dilakukan dengan otomatis secara refleksi adalah bernafas, oleh karena itu tarikan nafas dijadikan sebagai sarana untuk berdzikir kepada Allah.Berdzikir menggunakan tarikan nafas mudah efektif dan tidak melelahkan. Kebalikan dari ingat adalah lupa.Pengrtian lupa secara umum adalah tidak ada kemampuan untuk mengingat ilmu-ilmu atau pengalaman- pengalaman masa lalu yang ingin dimunculkan kembali.Yang dimaksud dengan lupa disini adalah lupa secara alami (forgetting) bukan lupa akibat penyakit (amnesia). Lupa alami dialami oleh semua manusia dalam proses aktivitas batiniyah yang mempengauhi terhadap ingatan.Adapun lupa akibat penyakit muncul bagi seseorang karena kemelut jiwa yang berat,atau kecelakaan yang terjadi yang mengganggu otak seluruhnya atau sebagiannya atau penyakit yang menimpa yang mengganggu fungsi otak.Penyebab Lupa yang paling penting adalah karena telalu lama masa terjadinya, dan tidak adanya kepentingan sama sekali.Ada beberapa faktor yang menyebabkan cepat lupa di antaranya-materi pelajaran yang sulit dipelajari, kurang dipahami ketika proses belajar, terjadi kecelakaan, luka yang mengganggu otak dan larangan yang berulang-ulang.