Al-Fath
Al-Fath: published twice a year since 2007 (June and December), is a multilingual (Bahasa, Arabic, and English), peer-reviewed journal, and specializes in Interpretation of the quran. This journal is published by the Alquran and its Interpretation Department, Faculty of Ushuluddin and Adab, Sultan Maulana Hasanuddin State Islamic University of Banten INDONESIA. Al-Fath focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, and Theology. Editors welcome scholars, researchers and practitioners of Alquran and its Interpretation, Hadith, and Theology around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication
Articles
197 Documents
OTENTISITAS HADITS TERAWIH MENURUT ALI MUSTAFA YAQUB
Endad Musaddad;
Ali Mastur
Al-Fath Vol 7 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v7i2.3138
Ali Mustafa Yaqub menilai semua hadits yang menyebutkan bilangan rakaat dalam salat tarawih adalah palsu atausekurang-kurangnya matruk, jadi tidak ada batasan dalam pelaksanaanya. Meskipun begitu Ali Mustafa Yaqub lebihmenyukai variasi 20 rakaat karena dinilai sebagai konsensus sahabat. Analisis dari pemikiran Ali Mustafa Yaqub ini menyokong pendapat-pendapat ulama’ klasik.
Kajian Hadits di Barat:
Nur Mahmudah
Al-Fath Vol 3 No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v3i2.3349
Kajian hadits merupakan bagian dari domain studi Islam (Islamic studies) yang sangat kaya dan menarik minat bahkan oleh kalangan outsider. Sebagai sumber ajaran yang dipandang memiliki hubungan organik dengan al-Qur’an, pengkajian terhadap hadits mendiskusikan banyak problem mulai dari sejarah periwayatan hingga upaya menangkap makna dalam hadits. Kajian outsider yang diwakili oleh tradisi orientalisme atau Islamisme yang masih berlangsung hingga saat ini menunjukkan dinamika terhadap kajian hadits dari masa ke masa. Dalam sejarah panjang sejarah kajian hadits di barat, kemapanan mazhab skeptisisme dalam hadits memunculkan pandangan bahwa hadits tidak dapat diposisikan sebagai sumber informasi pada masa Nabi namun hanya difungsikan sebagai sumber berharga untuk mengetahui peta konflik dan informasi generasi berikutnya. Meski tidak lagi menunjukkan wajah monolitik, pada masa kini dengan munculnya mazhab lain dalam hadits seperti Harald Motzki, Miklos Muranyi, M.J. Kister, Fueck, yang melakukan revisi terhadap sejumlah premis dan kesimpulan dari pengusung mazhab skeptis dalam hadits, namun madzhab skeptis dalam hadits yang dibangun oleh Goldziher dan Schacht pada masa ini tetap mendapatkan tempat dan dikembangkan salah satunya oleh Islamisis asal Belanda, G.H.A Junboll. Untuk menelaah pemikiran mazhab skeptis dalam kajian hadis di Barat, makalah berikut akan mendiskusikan pemikiran Juynboll dalam hadits dan hal-hal yang bersinggungan dengannya termasuk menelisik upaya pemanfaatan metodologi atau teori dalam kajian Barat dalam batas-batas tertentu bagi pengkajian hadits.
Rasm al-Qur'an dan Bentuk-Bentuk Penulisannya
Badrudin Badrudin
Al-Fath Vol 10 No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v10i2.3098
Pemikiran Hamka Tentang Taubat dalam Alquran
Darul Mahmadah
Al-Fath Vol 11 No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v11i2.901
Setiap manusia pasti memiliki dosa dan dosa itu seringkali membuat orang gelisah dan cemas. Oleh karena itu, lakukan taubat dengan meninggalkan sesuatu yang dilarang, menuruti apa yang diperintahkan oleh Allah Swt, yang merupakan landasan penting bagi seorang hamba. Dengan demikian, seorang hamba akan memperoleh ketenangan jiwa dengan cara itu. Pertaubatan dapat diartikan sebagai langkah pertama seorang hamba dalam melintasi jalan Allah. Ia adalah dasar segala maqam (kedudukan di hadapan Allah Swt). Maka Allah menghendaki untuk segera bertaubat memohon ampun dan kasih sayang-Nya. Dalam Alqurān taubat ada kaitannya dengan Istighfar. Taubat adalah kembali kepada Allah Swt, dengan mengerjakan apa-apa yang dicintai-Nya dan meninggalkan apa yang dibenci-Nya atau kembali dari sesuatu yang dibenci kepada sesuatu yang dicintai. Sesungguhnya manusia yang melakukan taubat menunjukkan bahwa ia menyadari akan segala kesalahannya. Oleh karena itu, Allah Swt mewajibkan tiap orang yang mengaku muslim atau muslimah untuk bertaubat. Allah Swt sangat mencintai orang yang bertaubat. Dengan senantiasa beretaubat dan beristighfar kepada Allah, artinya selalu melengkapkan diri, tidak mau lepas dari penjagaan tuhan, bahkan meminta untuk tetap dalam perlindungan-Nya, dan Tuhan menjadi Wali (pelindung) bagi sekian makhluk. 2). Menurut Hamka taubat adalah membersihkan hati, kemudian kembali setelah menempuh jalan yang sangat sesat dan tidak tentu ujungnya. Menurutnya, salah satu upaya membersihkan jiwa dari kotoran berupa dosa adalah dengan taubat.
Teologi Feminim Perspektif Al-Qur'an
Muhammad Alif
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3340
Fenomena gerakan feminisme yang marak dalam beberapa dekade belakangan ini merupakan budaya tandingan (counter-culture) yang secara tajam menggugat dan menantang nilai-nilai baku (kemapanan tradisi, institusi keluarga dan ideologi patriaki) dalam masyarakatnya, baik di Barat maupun di Timur. Gerakan ini memperjuangkan kebebasan bagi perempuan,merefolmulasi relasi dan kuasa antar lelaki dan perempuan di lingkup yangpaling pribadi, keluarga dan publik. Dalam tulisan ini, penulis berusaha mengungkap makna ayat-ayat alquran yang berkaitan tentang aktifitas feminisme.
Urgensi Munasabah Ayat dalam Penafsiran al-Qur’an
Nurjanah, Najibah Nida
Al-Fath Vol 14 No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v14i1.1215
ABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui pengertian munasabah al Qur’an dan menganalisis cara mengetahui munasabah, mengetahui macam-macam munasabah serta mengetahui urgensi dan kegunaan mempelajari munasabah. Tulisan ini menggunakan metode studi pustaka. Hasil tulisan menunjukkan bahwa: Pertama, pengertian munasabah adalah keterkaitan; Kedua, cara mengetahui munasabah dengan memerhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat; Ketiga, macam-macam munasabah dalam al Qur’an sekurang-kurangnya terdapat tujuh macam munasabah; Keempat, urgensi dan kegunaan mempelajari munasabah yakni dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat al Qur’an setelah diketahui hubungan suatu kalimat atau ayat dengan kalimat atau ayat yang lain. Kata Kunci : Munasabah; al Qur’an ABSTRACT This paper aims to find out the understanding of the munasabah al Qur'an and analyze how to know munasabah, to know the types of munasabah and to know the urgency and usefulness of studying munasabah. This paper uses a literature study method. The results of the writing indicate that: First, the munasabah understanding is associated with; Second, how to find out the munasabah by noting the description of the verses that are in accordance with the objectives discussed in the chapter; Third, types of munasabah in the Qur'an are at least seven types of munasabah; Fourth, the urgency and usefulness of studying munasabah can help in interpreting the verses of the Qur'an after knowing the relationship of a sentence or verse with another sentence or verse. Keywords: Munasabah; al Qur'an الملخص تهدف هذه الورقة إلى التعرف على فهم القرآن وتحليل كيفية معرفة المناسبة ، لمعرفة أنواع المناسبة ومعرفة مدى إلحاح وجدوى دراسة المناسبة. تستخدم هذه الورقة طريقة دراسة الأدب. تشير نتائج الكتابة إلى أن: أولاً ، فهم المناسبة هي رابط. ثانيا ، كيفية معرفة المناسبة من خلال ملاحظة وصف الآيات التي تتفق مع الأهداف التي تمت مناقشتها في السورة ؛ ثالثًا ، كل أنواع المناسبة في القرآن هي سبعة أنواع على الأقل. رابعاً ، الفائدة لدراسة المناسبة مفيدة في تفسير آيات القرآن بعد معرفة العلاقة بين جملة أو آية مع جملة أو آية أخرى.. المصطلحات: مناسبة ؛ القرآن
Sejarah Islam dan Tarekat di Banten
Noval Syamsu
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3341
Sejarah, sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan yang membahas tentang kronologi peristiwa-peristiwa yang terjadi”; upaya interpretasi terhadap kehidupan manusia dan juga manusia, yang tujuan pokoknya adalah untuk mengembangkan pemahaman terhadap aktivitas manusia bukan hanya yang terjadi pada masa lalu tetapi juga masa sekarang. Peristiwa sejarah menjadi hubungan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lain yang digambarkan dan dijelaskan oleh seorang sejarawan yang menyangkut dua level waktu, yaitu masa lalu yang dialami oleh masyarakat ketika persirtiwa itu terjadi dan masyarakat saat ini dimana seorang sejarawan berusaha memahami peristiwa masa lalu sebagai pelajaran dan suri tauladan kehidupan sekarang dan masa yang akan datang, maka dapat dikatakan bahwa sejarawan sendiri berfungsi sebagai penghubunga (mediator) antara generasi sebelumnya dengan generasi sekarang. Dengan kata lain, seperti yang diungkapkan oleh Marx, masa lalu itu membentuk masa sekarang, tapi pada waktu yang sama masa sekarang (melalui interpretasi sejarawan) membentuk masa lalu. Dalam terminologi ini, sejarah ditentukan bukan oleh data dan fakta, tapi justru oleh sejarawan, maka dapat dikatakan bahwa sejarah merupakan apa yang dikatakan oleh sejarawan (history is what the historian makes).
Tafsir, Ta'wil, Terjemah dan Ruang Lingkup Pembahasannya
Endang Saeful Anwar
Al-Fath Vol 3 No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v3i2.3348
Pada mulanya tafsir dan ta'wil dipahami sebagai dua kata yang memiliki makna sinonim, kemudian keduanya dibedakan seiring dengan perkembangan ilmu-ilmu al-Qur'an pada kurun awal hijriah. Kedua istilah ini dipahami sebagai sebuah kegiatan dalam rangka menggali dan menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qur'an. Pada masa Rasulullah, tafsir dan ta'wil dianggap sama (mutaro Tafsir, Ta'wil, Terjemah dan Ruang Lingkup Pembahasannya Tafsir, Ta'wil, Terjemah dan Ruang Lingkup Pembahasannya dif), karena memang yang memiliki otoritas penuh dalam menjelaskan isi al-Qur'an adalah Rasulullah. Akan tetapi, seiring perjalanan waktu istilah tafsir dan ta'wil memiliki pengertian dan wilayah masing-masing. Walaupun dalam prakteknya, masih ada para ulama yang menganggap keduanya sama.
ASBÂB AN-NUZÛL: Melacak Skala Mikro Konteks Kesejarahan Al –Qur’an
Muhammad, Faik
Al-Fath Vol 15 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v15i1.4986
Konteks diturunkannya sebuah ayat akan memberi penjelasan tentang implikasi sebuah ayat, dan memberikan bahan untuk melakukan penafsiran dan pemikiran tentang bagaimana menerapkan sebuah ayat dalam waktu, situasi dan kondisi yang berbeda. Disinilah letak pentingnya mengetahui Asbâb an-Nuzûl sebagai skala mikro konteks kesejarahan al-Qur’an. Dengan demikian secara esensial al-Qur’an berwatak religius, namun tetap menaruh perhatian pada situasi yang ada, serta memiliki kesadaran sejarah.
TA’WÎL TAFSIR PERIODE MODERN: Telaah Tafsir Al-Marâghî Karya Ahmad Musthâfâ
Hakim, Muhammad Naufal
Al-Fath Vol 15 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v15i2.5275
This article is a study of the ta’wîl pattern in the book of Al-Tafsîr Al-Marâghî. Tafsîr Al-Marâghî is a book that appeared in the modern period and became the magnum opus Ahmad Musthâfâ Al-Marâghî. Using descriptive-analytical method, there are two main studies: 1.) The sources and methodes of interpretation of Ahmad Musthafâ Al-Marâghî; 2.) The pattern of ta’wîl in Al-Tasfîr Al-Marâghî and its relevance to the development of modern interpretation. This research resulted in Al-Tafsîr Al-Marâghî being a book whose interpretation comes from the Qur’ân, hadith, qaul shahabi, language, ulama, ijtihad, and 30 reference of previous books. Using two methods of interpretation at once, ijmâly and tahlîliy, this book is patterned by al-adab al-ijtim‘î, and has characteristics with using naql and ‘aql when interpreting of the Qur’an. Ta’wîl in Al-Tafsîr Al-Marâghî had two patterns, firstly in focusing on linguistic indicators, and the secondly focusing on ratios and is critical. The application of these two ta’wîl patterns can represent a modern period interpretation model that was born in a pragmatic and logical society.