Al-Fath
Al-Fath: published twice a year since 2007 (June and December), is a multilingual (Bahasa, Arabic, and English), peer-reviewed journal, and specializes in Interpretation of the quran. This journal is published by the Alquran and its Interpretation Department, Faculty of Ushuluddin and Adab, Sultan Maulana Hasanuddin State Islamic University of Banten INDONESIA. Al-Fath focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, and Theology. Editors welcome scholars, researchers and practitioners of Alquran and its Interpretation, Hadith, and Theology around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication
Articles
197 Documents
KAJIAN HADIS-HADIS TENTANG KOMODIFIKASI AIR PERSPEKTIF HERMENEUTIKA MAQȦŜIDỊ AL-SYẬṪIBỊ
Khanifa, Nurma Khusna;
Sawaun, Sawaun
Al-Fath Vol 15 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v15i2.5046
In the classical Islamic legal tradition (fiqh), water is widely discussed from the point of view as an instrument for purification (thaharah) and also as a material consumed, either by humans or livestock. This seems to be inseparable from the existence of hadith texts that prohibit making water as a traded commodity contained in various hadith master books. This prohibition arises because water is considered a basic need that is not allowed to be owned by certain individuals or groups. In fact, nowadays, water has become a commodity that has a very high selling value. This can be seen from the proliferation of mineral water brands on the market. In the perspective of al-Syibị's hermeneutics, water is an emergency need for dharûriyyah which is something essential and must exist for the realization of human welfare, both spiritually and materially. However, within certain limits, the commodification of water can still be allowed on the condition that the water source is included in a private area, even if in an emergency, access to water must be granted to everyone. According to al-Syibị the main purpose of the provisions of religious law is for the benefit of humans, both in the present life (world) and the life to come (the hereafter). Therefore, the determination of the law contained in the texts of the Qur'an and Sunnah is always based on ta`lịl, both globally and in detail.
URGENSI AKHLAK HUBUNGAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN PERSPEKTIF SYAIKH NAWAWI: KAJIAN QUR’ANI TENTANG AKHLAK
Badrudin, Badrudin
Al-Fath Vol 15 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v15i2.5672
Tulisan ini akan mengungkap kajian akhlak interaksi antara laki-laki dan perempuan dalam hubungan keseharian. Urgensi akhlakul karimah merupakan hal yang sangat berguna dalam mengarahkan dan mewarnai berbagai aktivitas kehidupan manusia di segala bidang. Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju disertai dengan akhlak yang mulia, niscaya ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang ia milikinya itu akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebaikan hidup manusia. Akhlakul karimah yang lurus harus berdasarkan nilai-nilai Tauhid. Dalam arti sesuai dengan ketentuan Ilahiyyah yang memberikan tuntunan-tuntunan Akhlak Islami. Oleh karenanya tauhid adalah esensi pengetahuan pokok Islam yang sesuai dengan ketentuan Allah yang memberikan identitas dan mengikat semua unsur Ilahiyah sehingga menjadi utuh. Unsur-unsur itu tidak terlepas dari tauhid sebagai sumbernya.
Bahasa Al-Qur'an Sebagai Wahyu
Endang Saeful Anwar
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3339
Di dalam sebuah institusi yang disebut sebagai agama, diharuskan adanya sebuah kitab yang akan menjadi pedoman dan prinsip-prinsip kehidupan bagi umatnya. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari sebuah institusi religius, tak terkecuali di dalamnya Islam. Maka dalam agama Islam dikenal sebuah kitab suci yang dinamakan al-Quran. Al-Quran bagi umat Islam merupakan kitab suci' yang selalu dijunjung dan dijaga sakralitasnya. Usaha ke arah tersebut telah banyak dilakukan, diantaranya dengan berbagai macam penghormatan baik dalam bentuk formatif maupun normatif. Sebagai kitab suci, al-Quran telah mengambil peran yang sangat signifikan dalam kehidupan umatnya. Dalam berbagai hal, umat Islam selalu mengembalikan segala masalah yang dihadapi ke al-Quran. Oleh karena itu, al-Quran bagi umat Islam adalahruh perjuangan yang tidak boleh hilang. Al-Quran hilang berarti umat telah kehilangan jiwanya dan tidak berarti sama sekali. Hal di atas menjadi masalah manakala umat yang telah mengetahui eksistensi kitab sucinya, kemudian tidak mengetahui apa dan bagaimana hakekat dan substansi kitab sucinya. Berdasarkan hal tersebut, penulis merasa tertarik mengkaji kembali keberadaan al-Quran di tengah umat Islam meliputi pembahasan sekitar pengertian al-Quran, posisi Tuhan dalam al-Quran dan hubungan Bahasa Arab dengan al-Quran.
Kiprah Ulama dalam Politik Pada Masa Pendudukan Jepang Di Indonesia (1942-1945)
Eva Syarifah Wardah
Al-Fath Vol 4 No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v4i1.3358
Sarah peruangan bangsa Indonesia tidak terlepas dari sgarah perjuangan umat Islam, karena keterlibatan umat Islam Indonesia sangat mewarnat gerak langkah perjuangan bangsa dalam meraih kemerdekaan. Salah satu basis kekuatan politik Islam di Indonesia adalah pesantren yang dipimpin oleh kaum ulama, di mana ulama mendapat kedudukan terhormat dalam masyarakat Indonesia. Sebagat pemimpin umat Islam ia memiliki kepribadian Jang tinggi dan muha tidak saja dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam kemasyarakatan. Pada masa penjajahan ketika ulama berhadapan dengan realitas penjajahan, pemikiran keagamaan menuntutnya berperan lebih dari sekedar pemimpin serta pembina pesantren saja. hakeRatnya ta adalah pemimpin dari sebuah Romunitas spritual Islamyang kokoh. Pada masa pendudukan Jepang tenadi perubahan pada possi dan peran ulama. Jika pada masa kolonial belanda yang dyadikan elit keRuasaan dalam pemerintahan adalah kelompok priyayi (birokrat), maka pemerintahan Jepang memposisikan ulama sebagai tangan-tangannya. Fakta sejarah menjelaskan bagaimana perbitungan Jepang terhadap kepemimpinan informal Kyat (ulama) ditujukan pada pemilihan K.H. Hasyim Asy ari sebagai pejabat Shumubu (KUA), posts ulama dalam Peta, partisipast dalam Coun Sang in (Dewan Penasehat),pendirian Masyumi,dibentuknya Hizbullah dsb. Dengan kata lain Jepang tdak mengabaikan posisi ulama kendatt harus dipahami dengan ekspanst Dai Nipon
Problem Ujaran Kebencian (Hate Speech) di Media Sosial Perspektif Al-Qur'an
Safitri, Maris
Al-Fath Vol 14 No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v14i2.3772
Kemajuan teknologi memudahkan segala macam bentuk komunikasi dan sosialisasi, namun tidak sedikit yang menggunakan teknologi dengan penggunaan yang kurang tepat, seperti media sosial ( Facebook, Instagram, Whatsap, Twitter dan sebagainya) dengan komunikasi yang tidak Qurani salah satunya adalah ujaran kebencian (Hate Speech). Dalam Alquran Allah melarang ujaran kebencian dikarenakan dampak buruk yang diakibatkan oleh ujaran kebencian tersebut, begitu pula dalam kajian komunikasi politik ujaran kebencian menjadi hal yang ditentang dalam berkomunikasi dan berpolitik. Fenomena problem yang terjadi di atas akan telaah lebih lanjut dengan menggunakan metode tafsir tematik holitsik.
Menyoal Tentang Miras dan Hakikat Ajaran Islam
Ade Budiman
Al-Fath Vol 9 No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v9i2.3334
Fenomena peredaran minuman keras yang sekarang ini marak beredar di masyarakat, hal itu terjadi diakibatkan oleh keterpurukan pemahaman dikalangan masyarakat awam, dan menjadi celah menuju alkoholisme murahan sehingga cenderung semakin menerpa kalangan masyarakat miskin di pedesaan ataupun perkotaan. Tingkat penyalahgunaan minuman beralkohol dalam masyarakat pada umumnya, dan lingkungan remaja sudah sangat meresahkan semua pihak, bahkan aparat keamanan-pun disibukkan dengan peredaran barang haram tersebut. Inilah yang menjadi polemik pembahasan di kalangan para pakar agama, sosiolog, dan saintis dalam memahami persepsi yang muncul di tengah masyarakat.Tujuan disyariatkan hukum Islam adalah untuk memelihara kemaslahatan manusia sekaligus untuk menghindari efek buruk atau imbas dari kerusakan yang ditimbulkan dari pada keberadaan MIRAS yang sekarang ini beredar. Tujuan tersebut harus dipahami secara komprehensif oleh orang yang akan menggali atau menginterpretasikan hukum dalam rangka mengembangkan pemikiran hukum Islam dan menjawab persoalan-persoalan (Problem Solver) di masyarakat dari hukum-hukum kontemporer yang kasusnya belum bisa dipecahkan ataupun ditemukan solusi terbaik secara eksplisit di dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu pembahasan ini akan memperjelas permasalahan tersebut dengan pendekatan secara Tafsir Ahkâm, yaitu pada hal-hal yang berkaitan dengan ayat ataupun hadits yang dapat dikaitkan dengan fenomena sosial di masyarakat, baik di masa dahulu ataupun sekarang. Dalam konteks tinjauan perspektif realita sosial dengan konsepsi hukum Islam.
Humas Sebagai Metode Komunikasi
Muhibuddin Muhibuddin
Al-Fath Vol 2 No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v2i1.3265
Humas yang pada intinya merupakan kegiatan komumikasi yang dilakukan dalam suatu lembaga kepada publik, baik intern maupun ekstern,akan menjadi “corong.” lembaganya, sehingga setiap permasalahanberkenaan dengan lembaganya, Humaslah yang harus tampil untuk menjelaskan dan menginformasikan apa sebenarnya yang terjadi. Humas merupakan bagian dari suatu manajemen sebuah lembaga,instansi, organisasi, maupun perusahaan. Sebagai bagian dari sebuahmanajemen, maka keberadaan- Humas adalah sebagai penunjang tercapainya tujuan lembaga di mana ia berada.
Akal, Agama, dan Pengetahuan Tentang Tuhan
Ahmad Fadhil
Al-Fath Vol 4 No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v4i1.3352
Akal dapat mengabstraksikan idenya dari benda-benda yang konkrit. Dari situ muncul idea-idea dan hukum-hukum yang bersifat universal dan dirumuskan oleh akal melalui proses pengamatan dan pengalaman inderawi. Tanpa pengetahuan inderawi, menurut Alristoteles, manusia tidak bisa menemukan hal-hal yang bersifat intelektual universal. Manusia dengan sifat yang kontruksinya selalu ingin mengelabui akan makna_yang lebih tinggt, atau dzat yang tinggt, yaitu Tuban. Menurut aliran dalam epistemilogi terdapat dua macam, yattu idealisme dan realisme. Idealisme adalah suatu aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peran ide dan akal sebagai sumber pengetahuan, sehingga aliran ini disebut juga “rasionalisme”. Adapun realisme lebih menekankan peran indera (sentuhan, penciuman, penglibatan, pencicipan, dan pendegaran) sebagat sumber pengetahuan, sebingga aliran ini disebut juga “empirisme”. Kedua aliran tersebut merupakan masuk dalam kajian filsafat. Dan dalam filsafat salah satu metode untuk mengetahu Tuhan, masih dikatakan pro dan kontra.
Khalifah Ali bin Abi Thalib:
Masduki Masduki
Al-Fath Vol 2 No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v2i2.3285
Khalifah terakhir dari khulafa’ur Rasyidin adalah Ali bin Abi Thalib. la memegang tapuk pemerintahan dalam situasi dan kondisi kondisi umat Islam yang sangat jauh berbeda dengan masa Nabi Muhammad SAW. Wilayah kekuasaan yang sudah melebar ke berbagai penjuru Afrika dan Asia Tengah dengan penganut Islam yang tidak lagi hanya Bangsa Arab, tapi sudah berbagai macam bangsa, budaya dan etnik menyatu di bawah naungan kekhilafahan Islam. Namun ternyata kekuatan dan kedigdayaan umat Islam tersebut, digerogoti dari dalam dengan adanya perpecahan politik antar tokoh Islam. Sebenarnya perpecahan tersebut benih-benihnya telah timbul sejak kematian Rasulullah, ketika mereka menentukan siapa pelanjut kepemimpinan beliau. Rasulullah tidak pernah meninggalkan secara detail bagaimana cara mengangkat seorang pemimpin, semuanya diserahkan pada umat Islampada waktu itu. Benih-benih perpecahan meledak menjadi peperangan terbuka antara para sahabat senior di antaranya: Aisyah r.a., Thalhah,Zubair, dan Muawiyah pada masa kekhilafahan Ali bin Abi Thalib. Dari perpecahan dalam politik merembat ke masalah-masalah keyakinan (teologi), sehingga akhirnya umat Islam terkotak-kotak dalam berbagai aliran dan mazhab teologi.
Tafsir-Tafsir Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam Mannan: Studi Terhadap Pemikiran Tafsir As-Sa’dy
Bukhori Abdul Somad
Al-Fath Vol 4 No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v4i1.3353
Kajian tafsir al-quran selalu dinamis dan memiliki makna yang tinggi bagi para pengkaji, karena di dalamnya memiliki fleksibiltas pengkajiannya. Oleh karena itu seorang mufassir banyak dikaji karena memiliki ide-ide mpenafsiran yang cemerlang. Pemikiran Tafsir As-Sa’dy, dalam tafsirnya dijelaskan klasifikasi tempat turunnya ayat, dan menjelaskan ayat al-Sa‘ady berpegang pada Manhaj assalaf as-shaleh. Serta Tafsirnya tafsir tahlii dengan corak tafsirnya bil ma’tsur. Dalam menafsirkan Ayat-ayat alQuran, beliau menitik, beratkan perhatian beliau ke-pada Aqidah ahlu as-sunnah wal aljamaah.