cover
Contact Name
Ivan Sunata
Contact Email
sunataivan@gmail.com
Phone
+6285274603444
Journal Mail Official
sunataivan@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci Jl. Kapten Muradi, Kec. Sungai Liuk, Kerinci, Jambi, Indonesia 37112
Location
Kab. kerinci,
Jambi
INDONESIA
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah
ISSN : 27146510     EISSN : 27156273     DOI : https://doi.org/10.32939/ishlah
Core Subject : Religion,
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah is a journal that publishes current original researches on ushuluddin, adab and dakwah phenomenon and studies related to social and cultural context in Indonesia in multi concepts, theories, perspectives, paradigms and methodologies. The focus study of Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah are: Interpretation of the Quran and Hadis; Humanities and Philology; Islamic Historical and Cultural Studies; Islamic communication/public speaking (Tabligh); Islamic counseling (Irsyad); Da’wah management (Tadbir); Islamic community development (Tamkin); Religion Studies.
Articles 139 Documents
Metode Menentukan Kesahihan Hadis: Teori dan Aplikasi aL-Hakim dalam Kitab aL-Mustadrak ‘Ala Shahihain Zulfikar, Eko
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 2 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v2i2.33

Abstract

Al-Hakim adalah tokoh ahli hadis yang berpengaruh dalam dunia Islam. Salah satu karyanya yang familiar adalah al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, yang merupakan bentuk manifestasi aplikasi metode al-Hakim dalam menentukan kesahihan hadis. Tulisan ini bermaksud melakukan eksplorasi lebih jauh metode al-Hakim dalam menentukan kesahihan hadis yang dia manifestasikan dalam karyanya tersebut. Dengan metode deskriptif-analitis, didapati kesimpulan bahwa al-Hakim menggunakan prinsip ijtihad dalam menentukan metode kesahihan hadis, dan ia membaginya menjadi empat paradigma sudut pandang; (1) dilihat dari kriteria kesahihan hadis, (2) dilihat dari klasifikasi hadis, (3) dilihat dari pendekatan status sanad dan matan, dan (4) dilihat dari standar penentuan kesahihan hadis. Adapun langkah yang dilakukan dalam menentukan kesahihan hadis berdasarkan syarat perawi, al-Hakim membagi menjadi lima kategori, yakni; (1) hadis yang sesuai dengan syarat Shahihain, (2) hadis yang sesuai dengan syarat al-Bukhari, (3) hadis yang sesuai dengan syarat Muslim, (4) hadis yang sesuai dengan syarat al-Hakim, dan (5) hadis yang tidak dinilai al-Hakim.
Konsep Jihad dalam Tafsir Al-Maraghi (Studi Tafsir Tematik Tentang Jihad dalam QS. At-Taubah) Ulya, Risqo; Hafizzullah
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 2 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v2i2.34

Abstract

Artikel ini membahas tentang Konsep Jihad dalam Tafsir al-Maragi (Studi Tafsir Tematik tentang Jihad dalam QS. At-Taubah). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap: 1) Konsep jihad dalam surah at-Taubah pada tafsir al-Maragi, dan 2) Relevansi jihad dengan konteks masa kini menurut tafsir al-Maragi. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (library research) dengan metode penelitian tematik surah. Sumber data penelitian ini terdiri dari sumber data primer, yaitu Tafsir al-Maragi, sedangkan sumber data sekunder, yaitu Kitab al-Mu’jam al-Mufahrasy li al-Fazdil Quran Karim, ensiklopedia, jurnal dan literatur yang relevan dengan jihad. Teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan studi dokumen, yang dianalisis menggunakan langkah-langkah dalam metode tematik. Kesimpulan penelitian ini adalah: 1) Adapun al-Maragi membagi konsep menjadi beberapa bagian: a. Objek jihad yakni orang-orang musyrik, munafik dan kafir. b. Media jihad seperti harta dan diri mereka. c. Cara berjihad: untuk melawan orang-orang kafir dan munafik yaitu berjihad dengan tangan dan berjihad dengan lisan. d. Macam-macam jihad: jihad yang haq dengan tujuan untuk membatalkan yang batil. e. Tujuan berjihad atau berjuang di jalan Allah yaitu merupakan jalan untuk memelihara keberadaan umat dan ketinggian kalimatnya, membersihkan mereka dari keimanan yang lemah dan kelalaian terhadap hak-hak Islam, menegakkan neraca keadilan, serta menegakkan yang haq. f. Keutamaan jihad yaitu lebih agung derajatnya, kemuliaannya, tinggi kedudukannya dalam martabat keutamaan dan kesempurnaan, lebih besar pahalanya, menikmati kesenangan di dunia, serta Allah menjanjikan bahwa yang berjihad akan memperoleh berbagai kebahagiaan abadi di akhirat. Dengan melihat beberapa konsep yang ditawarkan tafsir al-Maragi apabila telah mengikuti cara yang tertera di atas. Maka, langkah selanjutnya tafsir al-Maragi ini menekankan bahwa menggerahkan segenap kekuatan, kemampuan, dan kesanggupan untuk melawan musuh. sedangkan 2) Relevansi jihad masa kini pada kitab tafsir al-Maragi dalam surah at-Taubah ialah jihad dengan media, jihad dengan ekonomi, jihad dengan ilmu dan jihad dengan diri
Pemikiran Hermeneutika Muhammad Syahrur Tentang Konsep Jilbab dalam Al-Qur’an Awwaliyah, Neny Muthi'atul
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 1 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v1i2.37

Abstract

Awal abad ke-19 merupakan titik awal kebangkitan dunia Arab. Keinginan kuat untuk bangkit yang disebut dengan “ledakan modernitas”. Kesadaran untuk melakukan introspeksi diri terhadap kesalahan yang mereka lakukan selama ini dan berusaha mengembalikan kejayaan Islam yang pernah diraih pada masa Dinasti Abbasiyah yang sering disebut dengan "The Golden Age of Islam". Salah satu bentuk merespon atas kejumudan ilmu pengetahuan dalam studi keislaman adalah dengan bermunculannya para akademisi atau pengkaji dengan berbagai pembaharu yang diusungnya. Salah satu diantara mereka adalah M. Syahrur. Beliau adalah tokoh pembaharu ternama dalam dunia penafsiran terhadap al-Qur’an dan hadis. Terobosan yang dilakukan dalam melakukan reinterpretasi terhadap nash menjadikan beliau sebagai barometer analisis-analisis dalam menelaah nash-nash al-Qur’an dan Hadits. kerangka pemikiran yang empiris melalui pendekatan teori hudud yang digunakan sebagai sebuah pendekatan dalam menafsirkan al-Qur’an menjadikan beliau sebagai tokoh Islam progresif yang mencoba melepaskan diri dari pengaruh hegemoni penafsiran klasik yang dianggapnya tidak lagi mampu menjawab persoalan realitas masyarakat yang cukup dinamis. penelitian ini akan berfokus pada cara pandang Syahrur dalam melakukan penafsiran ulang terhadap konsep jilbab dalam al-Qur’an. Penelitian ini akan berupaya mengungkap perbedaan penafsiran Syahrur dengan ulama klasik dan bagaimana bentuk relevansinya dengan realitas masyarakat kontemporer.
Debut Politik Muhammad Ibn Abdul Wahhab & Muhammad Ibn Saud Ali Yazid Hamdani
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 1 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v1i2.38

Abstract

Pada pertengahan abad 18 tepatnya tahun 1746, kekuasaan baru Saudi Arabia berhasil dibentuk dan dimulai dengan dua orang yang berpengaruh yakni Muhammad Ibn Saud dan Muhammad ibn Abdul Wahhab. Melalui otoritas keagamaannya, kedua tokoh ini melalui beberapa gagasan-gagasannya yang terobsesi memurnikan syariat Islam dari perilaku bid’ah, khurafat, dan takhayul. Penelitian ini bertujuan untuk menelisik lebih jauh bagaimana pemikiran teologi Muhammad Ibn Abdul Wahhab, kondisi sosial, ekonomi Arab Saudi, dan pengaruhnya dalam dunia perpolitikan hingga terbentuknya al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Su’udiyyah? Penelitian ini menggunakan riset berbasis pustaka (library-based research), yaitu dengan mengumpulkan data sekaligus meneliti refrensi-refrensi terkait yang digunakan untuk memberikan gambaran yang dimaksud dengan mengacu pada tulisan-tulisan Muhammad Ibn Abdul Wahhab sebagai sumber primer dan literatur-literatur lain yang berkaitan dengan objek penelitian sebagai sumber rujukan sekunder.
Islam Kaffah Menurut Pandangan Ibnu Katsir Ratna Sari, Riana
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 1 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v1i2.46

Abstract

Kata kaffah di dalam al-Qur’an terdapat satu kali yaitu dalam QS. al-Baqarah ayat 208, dan Islam secara menyeluruh di dalam al-Qur’an terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 208, surat an-Nisa’ ayat 125, surat al-An’am ayat 153 dan 162. Untuk memahami makna Islam secara kaffah (menyeluruh), peneliti mengambil penafsiran dan pemahaman Ibnu Katsir terkait dengan Islam dalam Tafsir Ibnu Katsir. Adapun alasan-alasan mengangkat tokoh Ibnu Katsir antara lain, pertama, ia merupakan salah satu ulama kontemporer yang sangat berpengaruh di Indonesia sehingga akan lebih mudah untuk memahami kontekstualisasi antara Islam dengan lingkungan dengan masyarakat muslim Indonesia. Kedua, pemikiran Ibnu Katsir di bidang tafsir banyak dikenal dan diikuti oleh masyarakat Indonesia karena dalam menafsirkan al-Qur’an ia menggunakan bahasa yang sederhana, ringan, dan mudah dimengerti baik oleh kalangan akademisi maupun masyarakat umum.
Pluralisme dalam Pandangan Mukti Ali M. Abizar
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 1 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v1i2.47

Abstract

Mukti Ali disebut sebagai bapak agama, karena beliau adalah tokoh cendekiawan muslim Indonesia yang pernah menjabat sebagai menteri agama Republik Indonesia, selain itu pemikiran beliau sangat Plural dan sangat menerima perbedaan. Baginya adalah sebuah kenyataan, bahwa kita adalah berbeda-beda, beragam dan plural dalam beragama dan ini adalah kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam konsep pemikiran Abdul Mukti Ali ada tiga hal yang sangat penting diketahui untuk kehidupan sosial, bermasyarakat, dan beragama yaitu: Pertama, pentingnya menjaga kerukunan antar umat seagama. Kedua, pentingnya menjaga kerukunan antar umat berbeda agama. karena dalam sejarah, konflik agama di belahan dunia manapun pernah terjadi, tak terkecuali di negeri kita ini. Ketiga, pentingnya membina hubungan umat beragama dengan pemerintah, agar kehidupan beragama dapat dilaksanakan dengan perasaan damai dan terjamin. Seterusnya Abdul Mukti Ali menerima satu aspek dari beberapa aspek yang ditawarkan dalam kehidupan beragama, yaitu aspek Agree in disagreement yang maksudnya adalah “Setuju dalam Perbedaan”, karena menurut Abdul Mukti Ali dalam aspek inilah umat beragama bisa rukun, saling menghargai dan menghormati dalam bermasyarakat, berpolitik, terutama hubungan antar umat beragama.
Citra KPK Pada Kasus Korupsi Menteri Juliari Batubara (Analisis Wacana Kritis Fairclogh) Bungsu, Agung
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 1 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v1i2.48

Abstract

Korupsi yang terjadi di Indonesia seakan tak ada hentinya. Dimulai dari pejabat yang ada di lembaga legislatif, eksekutif bahkan lembaga yudikatif juga kerap terseret kasus korupsi. KPK sebagai lembaga independen dalam penanganan kasus korupsi seolah menjadi lembaga yang ditakuti dan dihindari oleh lembaga lainnya. Padahal keberadaan KPK bertujuan untuk memastikan pemerintahan yang bersih. Media sebagai corong pemerintah terkadang sering disalahgunakan untuk kepentingan politik dan korporasi, hal ini juga dilakukan dalam pemberitaan tentang KPK. Penelitian ini akan mencoba melihat bagaimana dua media besar yang ada di Indonesia yaitu Republika dan Tempo dalam membangun konstruksi wacana. Dalam hal ini akan ditinjau bagaimana Republika dan Tempo membangun citra bagi KPK. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan metodologis dan teoritis. Pendekatan metodologis deskriptif analisis dipilih untuk dapat melihat secara teoritis analisis wacana kritis Fairclogh. Wacana yang ada dianalisis dengan tiga objek melalui (a)teks, (b) dimensi kewacanaan, (c) dimensi sosiokultural. Hasil penelitian dari ketiga objek kajian Fairclogh menunjukkan bahwa Republika memberikan citra negatif bagi KPK sedangkan Tempo memberikan citra yang positif bagi KPK.
Pengaruh Seni Asitektur Terhadap Perkembangan Pendidikan Islam di Andalusia Nurul Hidayati; Yazida Ichsan; Ratna Wulandari; Dwi Aknan Lutfiyan
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 3 No. 1 (2021): Juni
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v3i1.40

Abstract

The discourse related to the influence of architecture on the development of Islamic education in Andalusia is actually a very important discussion to do. On the one hand, from a historical perspective, under the Umayyah II dynasty, Andalusia became a beacon of civilization in the fields of science, technology and art that contributed to Europe. On the other hand, art as part of the manifestation of civilization is rarely studied, especially its influence on Islamic education. The purpose of this research is to know and describe how the development of architectural arts and its effects on Islamic education. The purpose of this research is to identify and describe how the development of architectural arts and its effects on Islamic education. This research is a historical research which is carried out in several steps: heuristics, criticism, interpretation and historiography. The results showed that the triumph of Islam in Andalusia left a special space in the representation of Western civilization even today. Various historical relics have had their own influence on culture and culture in Spain, especially Islamic architectural arts. Mosques, palaces, forts, tombs, and secular buildings in Spain are heavily influenced by Islamic culture. Apart from being a legacy of Islamic culture, the art of architecture in Andalusia has a strong influence on the development of Islamic education in modern-day Spain. Especially in the development of Islamic education, architectural art has a strategic position in its influence. This can be seen in the calligraphic patterns in mosques and other important places in Andalusia that use pieces of the Al-Qur'an verses as their motifs. This verse piece is not only an ornament but aims to introduce Islam to the community and as proof that Islam had an influence in Andalusia.
Analisis Semiotika Logo Dagadu Fitri Handayani; Ahmad Khairul Nuzuli
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 3 No. 1 (2021): Juni
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v3i1.44

Abstract

Pesan yang disampaikan dapat menghasilkan banyak makna tergantung dari perspektifpenerima pesan tersebut. Hal ini menjadi daya tarik bagi penulis untuk mengangkat topik artikelini tentang analisis semiotika logo dagadu. Sumber referensi yang digunakan oleh penulis adalahdari artikel jurnal, buku, dan materi presentasi dengan metode analisis semiotika pierce.Berdasarkan analisa penulis diambil kesimpulan bahwa logo dagadu dalam bahasa anak generasimuda Jogja berati mata, melambangkan citra kreatifitas, dunia rancang dunia desain.Berdasarkan khasanah budaya Jawa, mata berkaiatan dengan kata ma’rifat, bermakna sebagaisekelompok orang yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungannya. Dagadudiuapayakan untuk dapat mempresentasikan kepedulian terhadap masalah yang adadi perkotaandan kepariwisataan di Jogjakarta dengan penekanan Lebih mengutamakan secara spesifik padaaspek desain grafis dengan memadukan lokal,humor daerah, plesetan serta semangat eksperimenke dalam konteks seni dan budaya popular.
Analisis Pemikiran Teologi Islam Rasional Sutan Takdir Alisjahbana Menuju Peradaban Modern Atika Yulanda
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 3 No. 1 (2021): Juni
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v3i1.45

Abstract

Humans as religious creatures will always hold their belief in One God. The belief in God is embedded in theological issues. Theology here is a theme related to divine issues, God's relationship with humans, nature and His attributes. Humans are gifted by Allah in the form of reason by which they are able to judge and cultivate what is good and what is right. In addition, with the potential of their intellect, they are also able to prove the existence of God's power and the existence of God in human life. Intellect here does not position it as the highest but is in line with revelation as the source of Islamic teachings. This theology is called rational theology. In rational theology the positions of reason and revelation are parallel. Reason as confirmation and revelation as information. An Indonesian cultural figure who puts his thoughts related to theology, namely Sutan Takdir Alisjahbana. He is of the view that humans with the potential of their intellect are able to compete with the outside world and are able to keep up with the times. However, it is not justified to abandon the values ​​contained in the Qur'an and Hadith. This rational theology of Sutan Takdir Alisjahbana assesses reason as being able to keep up with the times and so that Muslims do not experience setbacks. The setbacks that are happening now are due to those who do not want to be open to the Western world which has been advanced and is only static. Meanwhile, in the teachings of Islam, humans are required to use the potential of reason that has been granted by Allah SWT. This rational Islamic theology is very important for the development of Islam today because there are still human thoughts that are still static and closed to knowledge that comes from outside.

Page 3 of 14 | Total Record : 139