cover
Contact Name
Ivan Sunata
Contact Email
sunataivan@gmail.com
Phone
+6285274603444
Journal Mail Official
sunataivan@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci Jl. Kapten Muradi, Kec. Sungai Liuk, Kerinci, Jambi, Indonesia 37112
Location
Kab. kerinci,
Jambi
INDONESIA
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah
ISSN : 27146510     EISSN : 27156273     DOI : https://doi.org/10.32939/ishlah
Core Subject : Religion,
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah is a journal that publishes current original researches on ushuluddin, adab and dakwah phenomenon and studies related to social and cultural context in Indonesia in multi concepts, theories, perspectives, paradigms and methodologies. The focus study of Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah are: Interpretation of the Quran and Hadis; Humanities and Philology; Islamic Historical and Cultural Studies; Islamic communication/public speaking (Tabligh); Islamic counseling (Irsyad); Da’wah management (Tadbir); Islamic community development (Tamkin); Religion Studies.
Articles 136 Documents
Analysis of Miqat Mosque Management in Improving Service Quality for Indonesian Umrah Pilgrims Aidina, Sufin Nurul; Rozaq, Abdul
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the management of Hudaibiyah Mosque, one of the main miqat locations frequently visited by Indonesian umrah pilgrims, particularly in relation to improving service quality. A descriptive qualitative approach was employed, and data were collected through in-depth interviews with Indonesian pilgrims, muthawwif (pilgrim guides), and mosque staff. Data analysis employed interactive data analysis, comprising data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that the capacity of key facilities such as toilets, ablution areas, changing rooms, resting areas, and bus parking remains insufficient given the increasing number of pilgrims, leading to long queues, overcrowding, and reduced worship comfort. Sanitation is suboptimal due to limited cleaning personnel, and informational signage in Indonesian and English is still lacking. Women’s facilities do not adequately support privacy needs, which affects comfort during preparation for ihram. Additionally, crowd management relies heavily on travel agencies’ scheduling rather than a strong independent management system. The study concludes that expanding facility capacity, increasing sanitation staff, providing multilingual signage, and improving women’s areas are essential steps toward enhancing service quality. These findings may serve as a basis for developing standardized miqat service guidelines and for future comparative studies across different miqat mosques. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen pengelolaan Masjid Hudaibiyah, salah satu lokasi miqat utama yang sering dikunjungi oleh jemaah umrah Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pelayanan. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian ini, dengan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap jemaah Indonesia, muthawwif (pembimbing ibadah), dan petugas masjid. Analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas fasilitas utama seperti toilet, tempat wudu, ruang ganti, area istirahat, dan parkir bus masih belum memadai dibandingkan dengan peningkatan jumlah jemaah, yang menyebabkan antrean panjang, kepadatan, dan berkurangnya kenyamanan beribadah. Sanitasi dinilai belum optimal akibat keterbatasan petugas kebersihan, serta masih kurangnya papan petunjuk informasi (signage) dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Fasilitas bagi jemaah perempuan juga belum memadai dalam mendukung kebutuhan privasi, yang berdampak pada kenyamanan saat persiapan ihram. Selain itu, manajemen keramaian masih sangat bergantung pada penjadwalan biro perjalanan dibandingkan sistem manajemen mandiri yang kuat dari pihak masjid. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perluasan kapasitas fasilitas, penambahan petugas kebersihan, penyediaan informasi multibahasa, dan perbaikan area khusus perempuan merupakan langkah penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Temuan ini dapat menjadi dasar dalam penyusunan pedoman standar pelayanan miqat serta untuk studi komparatif di masa depan pada masjid-masjid miqat lainnya.
Cultivating Islamic Environmental Consciousness: The Case of Al Muharram Eco Mosque in Yogyakarta Zahra, Fatma Nuraini; Nanda, Dendy H
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muslim activists in Indonesia have developed many movements that seek to harmonize Islamic values with ecological awareness. This study explores how muslim-mosque activists understand the environmental crisis and how eco masjid can be the medium for conveying and raising awareness of muslim communities regarding environmental issues. This study applied a qualitative case study approach on mosque communities and muslim-mosque activists in Yogyakarta, i.e. Al Muharram Mosque to gain insight and in-depth results related to the understanding of the environmental crisis and eco masjid. The empirical data were gathered through observation and semi-structured interviews with several muslim activists from the mosque. The ’Eco Masjid’, from its various applications and as a program in general, has demonstrated a positive impact in efforts to increase public environmental awareness. Moreover, mosques can serve as a primary medium for instilling ecological values grounded in the concepts of tawhid (the unity of all creation), stewardship as khalifah on earth (trust and responsibility), and akhirah or mizan (the hereafter and balance). This is supported by the perspectives of mosque activists, who view the environmental crisis as part of humanity’s trust as khalifah, which will become both provision and responsibility in the afterlife. Through more extensive promotion of eco mosque programs, mosques have the potential to become a central medium for disseminating environmental issues, enhancing awareness not only among muslim activists within mosque communities but also generating a broader movement effect within muslim communities across Indonesia. Aktivis muslim di Indonesia telah mengembangkan berbagai gerakan yang berupaya mengharmoniskan nilai-nilai Islam dengan kesadaran ekologis. Salah satu di antaranya adalah gerakan Eco Masjid. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri bagaimana para aktivis Islam memahami krisis lingkungan serta bagaimana eco masjid dapat berperan sebagai medium dalam menyampaikan dan meningkatkan kesadaran masyarakat muslim terhadap isu-isu lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus komunitas masjid dan aktivis muslim di Yogyakarta, yaitu Masjid Al Muharram, untuk memperoleh pemahaman dan hasil yang mendalam terkait persepsi terhadap krisis lingkungan dan penerapan eco masjid. Data empiris dikumpulkan melalui observasi dan wawancara semi-terstruktur dengan sejumlah aktivis muslim dari masjid tersebut. Hasil penelitian menunjukkan Program Eco Masjid, terbukti memberikan dampak positif dalam upaya meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat. Selain itu, masjid dapat berfungsi sebagai medium utama dalam menanamkan nilai-nilai ekologis yang berdasarkan pada konsep tawhid (kesatuan seluruh makhluk), khalifah di bumi (amanah–khalifah), dan akhirah atau mizan. Hal ini didukung dengan pandangan dari aktivis masjid yang menunjukkan bahwa krisis lingkungan adalah bagian dari amanah manusia sebagai khalifah yang akan menjadi bekal dan tanggung jawab di kehidupan akhirat. Melalui promosi yang lebih masif terhadap program eco masjid, masjid berpotensi menjadi medium utama dalam penyebaran isu-isu lingkungan dan tidak hanya meningkatkan kesadaran di kalangan aktivis muslim di lingkungan masjid, tetapi juga menciptakan efek gerakan di tengah komunitas muslim Indonesia.
The Hajar Aswad Jockey Phenomenon: Ethical Analysis and Implications for Pilgrim Management Nafiroh, Nur Hidayatun; Rozaq, Abdul
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The phenomenon of Hajar Aswad jockeys, emerging from extreme overcrowding in the Grand Mosque, has triggered multidimensional polemics ranging from physical safety risks and social ethical dilemmas to disruptions in pilgrim management governance. This study aims to examine the Hajar Aswad jockey phenomenon in depth from the perspective of Islamic ethics and its implications for pilgrim management. This research employs a descriptive qualitative approach with a phenomenological method. Data were obtained through in-depth interviews with pilgrims, mutawwifs, and travel organizers, documentation observation, and literature study. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman model, comprising data reduction, data display, and conclusion drawing. The results indicate that although the practice is perceived as facilitating worship for some pilgrims, it potentially poses safety risks, disorder, and degradation of moral values in worship. From an Islamic ethics perspective, this practice contradicts maqashid al-shari’ah principles, particularly hifz al-nafs (preservation of life) and hifz al-din (preservation of religion). Other implications include the need for pilgrim education, mutawwif accompaniment, and strengthening regulations to ensure safe, ethical practices that uphold the spiritual values of Hajj and Umrah. Fenomena joki Hajar Aswad yang muncul akibat kepadatan ekstrem di Masjidil Haram telah memicu polemik multidimensi, mulai dari risiko keselamatan fisik dan dilema etika sosial hingga gangguan terhadap tata kelola ketertiban jamaah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena joki Hajar Aswad secara mendalam dari perspektif etika Islam serta implikasinya terhadap manajemen jamaah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan jamaah, mutawwif, dan penyelenggara perjalanan ibadah, observasi dokumentasi, serta studi literatur. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun praktik joki dianggap mempermudah ibadah bagi sebagian jamaah, praktik ini berpotensi menimbulkan risiko keselamatan, ketidaktertiban, dan penurunan nilai moral ibadah. Dari perspektif etika Islam, praktik ini bertentangan dengan prinsip maqashid al-shari’ah, khususnya hifz al-nafs (menjaga jiwa) dan hifz al-din (menjaga kesucian ibadah). Implikasi lain termasuk perlunya edukasi jamaah, pendampingan mutawwif, serta penguatan regulasi dan sosialisasi agar praktik joki berlangsung aman, etis, dan tetap memperhatikan nilai spiritual ibadah haji dan umrah.
Operationalizing Hadith in Digital Ta’aruf: A Living Hadith Study of TikTok @taarufmenikah Muzakki, Muhammad Asgar
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the function of hadith in digital ta’aruf practices facilitated by the TikTok account @taarufmenikah. Using a living hadith approach, the research analyzes 36 TikTok posts containing hadith or Qur’anic references and is supported by interviews with practitioners of online and offline ta’aruf conducted through snowball sampling. The findings indicate that the cited texts originate from authoritative sources with acceptable levels of authenticity but are presented in simplified and decontextualized forms adapted to TikTok’s short-video format. In this context, hadith functions as normative legitimization, motivational encouragement, pragmatic guidance, and interpretive simplification, while its authority is shaped less by traditional religious figures and more by platform visibility and repetition, reflecting a form of algorithmic authority. The study concludes that digital ta’aruf reshapes the relationship between religious texts, authority, and user practices, illustrating a contemporary form of living hadith in social media spaces. Penelitian ini mengkaji fungsi hadis dalam praktik ta’aruf digital yang difasilitasi oleh akun TikTok @taarufmenikah. Dengan menggunakan pendekatan living hadis, penelitian ini menganalisis 36 unggahan TikTok yang memuat kutipan hadis atau ayat Al-Qur’an serta didukung oleh wawancara dengan praktisi ta’aruf daring dan luring yang dikumpulkan melalui teknik snowball sampling. Temuan penelitian menunjukkan bahwa teks-teks yang dikutip berasal dari sumber otoritatif dengan tingkat kesahihan yang dapat diterima, namun disajikan dalam bentuk yang disederhanakan dan terlepas dari konteks klasik agar sesuai dengan format video singkat TikTok. Dalam konteks ini, hadis berfungsi sebagai legitimasi normatif, penguatan motivasi, panduan pragmatis, dan penyederhanaan makna, sementara otoritasnya dibentuk tidak lagi oleh figur keagamaan tradisional, melainkan oleh visibilitas dan repetisi platform, yang mencerminkan bentuk algorithmic authority. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik ta’aruf digital membentuk ulang relasi antara teks keagamaan, otoritas, dan praktik pengguna, serta merepresentasikan bentuk living hadis kontemporer di ruang media sosial.
Perspective of Faith According to Sheikh H. Mukhtar in the Book of Al-Sholah Faizin, Faizin; Dafizki, Ashlih Muhammad; I, Martunus
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sheikh H. Mukhtar was a prominent Muslim scholar from Kerinci whose religious thought influenced Islamic communities in Kerinci, Malaysia, and the surrounding regions. As a leading figure in Islamic daʿwah, he played an important role in strengthening religious life, particularly in the domain of faith . This study employs qualitative research using a library research approach complemented by field research to examine the religious thought of Sheikh H. Mukhtar and its influence on contemporary religious practices in Kerinci. The research results show in theological matters, K.H. Mukhtar emphasized the purification of Islamic belief from superstition, bidʿah, and shirk, while firmly grounding faith in the teachings of the Qur’an and Sunnah. His understanding of iman, Islam, and tawḥid reflects the theological orientation of Ahl al-Sunnah wa al-Jamāʿah, with a clear tendency toward the Ashʿari tradition. Faith, according to K.H. Mukhtar, is not merely inner belief but must be affirmed verbally and manifested through righteous practice in accordance with divine guidance and the attributes of Allah. This perspective demonstrates his contribution to shaping a balanced and orthodox understanding of Islamic faith within the Kerinci Muslim community. Syekh H. Mukhtar adalah seorang ulama Muslim terkemuka dari Kerinci yang pemikiran keagamaannya memengaruhi komunitas Islam di Kerinci, Malaysia, dan wilayah sekitarnya. Sebagai tokoh terkemuka dalam dakwah Islam, beliau memainkan peran penting dalam memperkuat kehidupan keagamaan, khususnya dalam bidang iman. Studi ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan yang dilengkapi dengan penelitian lapangan untuk mengkaji pemikiran keagamaan Syekh H. Mukhtar dan pengaruhnya terhadap praktik keagamaan kontemporer di Kerinci. Hasil Penelitian menunjukkan dalam hal teologi, K.H. Mukhtar menekankan pemurnian keyakinan Islam dari takhayul, bid'ah, dan syirik, sambil tetap berlandaskan pada ajaran Al-Qur'an dan Sunnah. Pemahamannya tentang iman, Islam, dan tauhid mencerminkan orientasi teologis Ahl al-Sunnah wa al-Jamāʿah, dengan kecenderungan yang jelas terhadap tradisi Asy'ari. Menurut K.H. Mukhtar, iman bukanlah sekadar keyakinan batin tetapi harus ditegaskan secara lisan dan diwujudkan melalui praktik yang benar sesuai dengan petunjuk ilahi dan sifat-sifat Allah. Perspektif ini menunjukkan kontribusinya dalam membentuk pemahaman yang seimbang dan ortodoks tentang iman Islam dalam komunitas Muslim Kerinci.
The Transformation of Betangas in Contemporary Malay Society: From Communal Rituals to Modern Care Fitriah, Fitriah; Cholidi, Cholidi; Syawaludin, Mohammad
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines betangas, a traditional Malay steam-bathing practice, as a dynamic cultural ritual undergoing transformation in contemporary society. Previous studies have largely approached betangas from descriptive ethnobotanical or functional perspectives, emphasizing plant knowledge, ritual stages, or symbolic meanings, while paying limited attention to its ongoing transformation within changing social structures. Addressing this gap, the present research analyzes betangas as a cultural practice that is continuously reconfigured in response to modernity, shifting bodily regimes, and changing knowledge authorities. Drawing on an ethnographic approach with historical and cultural perspectives, this study integrates literature analysis with field-based insights from Malay communities in South Sumatra to capture both continuity and change in practice. The findings reveal three interrelated patterns of transformation: the expansion of betangas from a pre-marital communal ritual into therapeutic, relaxation, and cosmetic practices; the shift from collective, family-based rituals to more individualized and service-oriented forms; and the reproduction of local ethnobotanical knowledge into scientific, educational, and commercial formats. These transformations reflect broader processes of rationalization, individualization, and commodification of traditional knowledge, while simultaneously generating new forms of legitimacy for betangas in contemporary health and lifestyle contexts. Rather than signaling cultural decline, the transformation of betangas demonstrates a process of reinterpretation and adaptation, where ritual meanings, bodily practices, and local knowledge are renegotiated within modern social, economic, and epistemic frameworks. This study contributes to debates on ritual change, the sociology of the body, and postcolonial discussions on the commodification of indigenous knowledge, highlighting how traditional body care practices persist through transformation rather than disappearance. Keywords: Abstrak. Penelitian ini mengkaji betangas, sebuah praktik mandi uap tradisional Melayu, sebagai ritual budaya yang dinamis dan terus mengalami transformasi dalam masyarakat kontemporer. Kajian-kajian sebelumnya cenderung menempatkan betangas dalam kerangka deskriptif etnobotani atau fungsional, dengan menekankan pengetahuan tumbuhan, tahapan ritual, atau makna simbolik, namun masih terbatas dalam membahas proses transformasi praktik ini dalam konteks perubahan struktur sosial. Menjawab celah tersebut, penelitian ini menganalisis betangas sebagai praktik budaya yang senantiasa direkonfigurasi seiring dengan modernitas, perubahan rezim tubuh, dan pergeseran otoritas pengetahuan. Dengan menggunakan pendekatan etnografis yang diperkaya perspektif historis dan kultural, penelitian ini memadukan kajian literatur dengan temuan lapangan pada komunitas Melayu di Sumatera Selatan untuk menangkap dinamika kesinambungan dan perubahan praktik betangas. Hasil penelitian menunjukkan tiga pola transformasi yang saling terkait, yaitu: perluasan fungsi betangas dari ritual komunal pra-nikah menjadi praktik terapeutik, relaksasi, dan kosmetik; pergeseran dari ritual kolektif berbasis keluarga menuju bentuk praktik yang lebih individual dan berbasis layanan; serta reproduksi pengetahuan etnobotani lokal ke dalam format ilmiah, edukatif, dan komersial. Transformasi ini mencerminkan proses rasionalisasi, individualisasi, dan komodifikasi pengetahuan tradisional, sekaligus membentuk sumber legitimasi baru bagi betangas dalam konteks kesehatan dan gaya hidup kontemporer. Alih-alih menunjukkan kemunduran budaya, transformasi betangas memperlihatkan proses reinterpretasi dan adaptasi, di mana makna ritual, praktik tubuh, dan pengetahuan lokal dinegosiasikan ulang dalam kerangka sosial, ekonomi, dan epistemik modern. Penelitian ini berkontribusi pada perdebatan tentang perubahan ritual, sosiologi tubuh, serta kajian poskolonial mengenai komodifikasi pengetahuan tradisional, dengan menegaskan bahwa praktik perawatan tubuh tradisional bertahan melalui transformasi, bukan melalui kepunahan.