cover
Contact Name
Muhammad Shidiq
Contact Email
shidiqmuhammad17393@gmail.com
Phone
+6281222979930
Journal Mail Official
jurnalatrat@gmail.com
Editorial Address
Jalan Buah Batu No.212, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, kode pos: 40265
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Atrat: Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23391642     EISSN : 27227200     DOI : http://dx.doi.org/10.26742
Atrat is a Journal of Visual Arts containing scientific papers which includes Fine Art and Design, publisher by Jurusan Seni Rupa STSI Bandung (p-ISSN 2339-1642 & e-issn 2722-7200). Jurnal Atrat also embodies the results of various forms of scientific research as well as the creation of artworks, which can become new knowledge published in scientific articles, so it is worthy to be read and understood by readers. Atrat aims to give land to Artists, Designers, Art Students, Teachers/ Lecturers, and Fine Arts Society to exchange insights.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA" : 10 Documents clear
REKONSTRUKSI SISTEM KAPITAL DAN STRATEGI PENGUASAAN TUBUH MELALUI TEKNOLOGI Muhammad Akbar Setiadi; Rikrik Kusmara; Deden Hendan Durahman
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v6i2.702

Abstract

Gaze means that someone is looking at an object. It allows you to be a gaze so that you can see or display yourself. In the gaze, it also shows that the gaze is the owner that can be said to be the ruler. The presence of a camera as an object recording tool places it at the voyeurism stage that recording activities are actions without intervention, observing unnoticed. Someone who is behind the camera lens has full power on what he records in front of the camera lens, powers can also be used by image observers on the screen. At this stage the camera can represent gaze control. Users are also able to control the framing of visual representations on the screen that are being gazed at by the audience, the observer is made to believe what is presented through the presentation screen frame boundaries even if what is displayed is not entirely real, even through the latest video technology which is supposed to represent reality and similarities. Men’s activities as a gaze on women’s bodies as objects, in various interests of corporate media, women’s bodies are presented as objects of spectacle that are both pleasurable and painful for the audience (especially men), the audience becomes the controller of what he looks at, but he does not realize that besides the presence the body of the viewer, which is controlled by a woman’s gaze on the screen, is under the power of the screen she is staring at.Keywords: Gaze, Power, Video, Camera, Voyeurism________________________________________________________________ Gaze berarti seseorang sedang melihat, membiarkan dirinya menjadi tatapan agar dilihat atau menampilkan dirinya. Dalam gaze, si penatap merupakan penoton yang memiliki kuasa. Kehadiran kamera sebagai alat (tools) perekam objek menempatkannya pada tahap voyeurisme bahwa aktifitas merekam adalah aksi tanpa intervensi, mengamati tanpa diketahui. Seseorang yang berada di balik lensa kamera memiliki kekuasaan penuh pada apa yang ia rekam di depan lensa kamera, kekuasaan dapat pula di gunakan oleh pengamat citraan pada layar tersebut. Pada tahap ini kamera dapat merepresentasikan pengendalian tatapan. Penggunanya mampu mengendalikan pula pembingkaian representasi visual pada layar yang sedang ditatap oleh pengamatnya (audience), pengamat dibuat untuk mempercayai apa yang disajikan melalui batasan bingkai layar presentasi sekalipun apa yang ditampilan tidak sepenuhnya nyata, sekalipun melalui teknologi video terkini yang disinyalir mampu merepresentasikan kenyataan dan kemiripan yang sebenarnya. Aktifitas pria sebagai penatap atas tubuh perempuan sebagai objek, dalam berbagai kepentingan media korporat, tubuh perempuan disajikan sebagai objek tontonan yang begitu nikmat sekaligus menyakitkan bagi penontonnya (khususnya pria), penonton menjadi pengendali dari apa yang dia tatap, namun ia tidak menyadari bahwa selain kehadiran tubuh penonton yang dikendalikan oleh tatapan perempuan pada layar, dirinya pun sedang barada di bawah kekuasaan layar yang ia tatap.Kata Kunci: Gaze, Kekuasaan, Video, Kamera, Voyeurisme
REFLEKSI BISOSIATIF IMAGINASI DALAM GAMBAR MAHASISWA-MAHASISWI TINGKAT DASAR UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA Beni Sasmito
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v6i2.539

Abstract

In drawing classes as part of study at the Maranatha Christian University, studens will undergo  challenges to explore their drawing and other experimental skills. In that particular experimental process, students most likely will combine various kinds of visual aspects that may not look to be connected directly on their drawing. To find significance of that process, then the transformation of the aesthetic experiences must be reflected into bisociative imagination of drawing study, by comparing those experiences with the aesthetic experiences of modern artist from the West. From that, we hope the students can realize how significant it is to integrate experience from drawing practice with creative experience derived from theoritical knowledge. Then hopefully the students will act and think integrally.Keywords: Drawing Study, Reflective, Transformation, Bisosiative________________________________________________________________  Pada proses studi menggambar di tahun pertama dalam sistem pendidikan tinggi seni rupa di Universitas Kristen Maranatha mahasiswa-mahasiswi dihadapkan pada tantangan untuk mengeksplorasi sejauh mungkin kemampuan dasar menggambar dan kemampuan lain yang bersifat eksperimental. Pada proses penciptaan gambar yang eksperimental tersebut hampir dipastikan mereka akan selalu melakukan proses pengabung-gabungan unsur visual yang beragam dan terkesan tidak ada hubungannya antara unsur visual yang satu dengan yang lain pada gambar yang diciptakan. Untuk menemukan makna penting dari proses tersebut maka transformasi pengalaman estetik yang terjadi pada mereka harus segera direfleksikan dalam evaluasi tentang bisosiatif  imajinasi studi gambar dengan menghadapkan mereka pada pengalaman estetik para seniman seni rupa modern Barat. Diharapkan melalui proses tersebut mahasiswa-mahasiswi dapat menyadari pentingnya mengintegrasikan pengalaman praktik penciptaan gambar dengan pengalaman kreatif yang berasal dari pengetahuan teoritis, hingga terciptalah mahasiswa-mahasiswi yang bertindak dan berpikir integral.Kata Kunci: Studi Gambar, Refleksi, Transformasi, Bisosiatif
DESAIN CALONGCONG SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BUDAYA KERAJINAN TRADISIONAL Muhamad Zaini Alif; Savitri Savitri; Nia Emilda
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v6i2.703

Abstract

Calongcong is one form of traditional craft owned by the people of Bolang Village, Cibuluh Village, Tanjungsiang Sub-District, Subang Regency, which is made from the main material of bamboo woven in an animal-like shape. This Calongcong craft is used as a toy tool for traditional Calongcong games that are usually felt when the village is clean or called “Ngamunikeun Lembur”. An explanation of “Ngamunikeun Lembur” is found in the text “Siksa Kanda Ng Karesian”. This study used a qualitative approach with experimental methods that aimed to provide a description of the Calongcong design as an effort to preserve the culture of traditional crafts.Keywords: Calongcong Design, Culture, Traditional Crafts________________________________________________________________ Calongcong merupakan  salah satu bentuk kerajinan tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Bolang Desa Cibuluh Kecamatan Tanjungsiang Kabupaten Subang yang terbuat dari material utama bambu yang dianyam dengan bentuk menyerupai binatang. Kerajinan Calongcong ini dijadikan sebagai alat mainan bagi permainan tradisional Calongcong yang biasanya diasakan ketika kegiatan bersih desa atau yang disebut dengan Ngamunikeun Lembur. Penjelasan tentang Ngamunikeun Lembur terdapat dalam naskah Siksa Kanda Ng Karesian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode eksperimen yang bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang desain Calongcong sebagai upaya pelestarian budaya kerajinan tradisional.Kata Kunci: Desain Calongcong, Budaya, Kerajinan Tradisional
STRATEGI KREATIF TEMA PAHLAWAN DALAM IKLAN MEDIA SOSIAL BUKALAPAK Ira Wirasari; Tresna Ferdiana
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v6i2.522

Abstract

The world of advertising is developing rapidly. This research aims to reveal  the way creative strategy used in visual TVC of Bukalapak ad festival and the impacts of Bukalapak advertisement on consumer behaviour. The data were analyzed by theory of advertising, promotions, creative strategy, visual communication design, and AISAS. Qualitative method was employed in the study. The results show that Bukalapak advertisements are able to convey its messages to the target audience; humor elements in the ads are effective to attract the attention of target audience, persuade them and eventually increase their sales. Bukalapak has succeeded in its creative strategies to differ from its competitors.  To sum up, it uses so effective visual tactics that it is able to persuade the target audience well.Keywords: Bukalapak, Messages, Creative Strategy, Advertising, Competitors________________________________________________________________ Dunia periklanan saat ini sedang berkembang dengan pesat, banyaknya pengiklan melakukan  pemasaran dengan beragam strategi kreatif  di media konvensional maupun digital. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimanakah strategi kreatif yang digunakan dalam visual TVC festival iklan Bukalapak dan bagaimanakah pengaruh iklan Bukalapak terhadap perilaku konsumen. Teori analisis yang digunakan adalah teori dari periklanan, promosi, strategi kreatif, DKV, dan AISAS. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif. Hasil penelitian yang didapatkan adalah Bukalapak mampu untuk menyampaikan pesan melalui iklannya dengan baik kepada khalayak, Unsur humor pada iklan Bukalapak mampu untuk mempersuasi,menarik perhatian, mengingatkan, dan meningkatkan penjualan, Bukalapak berhasil dalam strategi kreatifnya yang mampu mendiferensiasi. Bukalapak menggunakan taktik visual yang baik, mampu mempengaruhi khalayak dengan baik.Kata Kunci: Bukalapak, Pesan, Strategi Kreatif, Iklan, Kompetitor
DESAIN DAN PROSES PRODUKSI CINDERAMATA IKON PANGERAN ARIA SOERIA ATMADJA SUMEDANG Rohaeni, Ai Juju; Listiani, Wanda; Mustaqin, Khairul
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Numerous cultural potencies in Sumedang regency scattered all over the region include historical landmark, heirloom, sites and artefact. Historical landmarks inspiring distinct souvenir from Sumedang are (1) Museum of Prabu Geusan Ulun that keeps copious royal articles and heirloom belonging to King of Sumedang and Regent of Sumedang. It is located in the site of Sumedang Regency Pendopo (a large covered porch or veranda in front of a house) established in 1705; (2) Loji Tower built in 1800s located in the rubber plantation owned by a German man; (3) Lingga Monument on Sumedang square, built in 1922, was officially inaugurated by Governor-General of the Dutch East Indies, Dirk Fock, and Tumenggung Kusumadilaga on July 22nd, 1922; (4) Prince Aria Soeria Atmadja was the last reputable Sumedang Regent contributed greatly to development and people prosperity in Sumedang. The methods used in the creation of a product are iconography and experiment. The product is a souvenir design of the icon Prince Aria Soeria Atmadja.Keywords: Iconography, Merchandise, Sumedang________________________________________________________________ Beragam potensi budaya di kabupaten Sumedang tersebar di berbagai daerah  seperti bangunan bersejarah, benda pusaka, situs dan artefak. Salah satu bangunan sejarah yang menjadi inspirasi cinderamata khas Sumedang adalah (1) Museum Prabu Geusan Ulun misalnya memiliki berbagai benda dan barang pusaka raja Sumedang dan bupati kabupaten Sumedang. Museum Prabu Geusan Uun terletak di kompleks Pendopo Kabupaten Sumedang yang berdiri sejak tahun 1705; (2) Menara Loji berdiri sejak tahun 1800an yang berdiri di kawasan perkebunan karet milik orang Jerman; (3) Monumen Lingga yang terletak di alun-alun Sumedang. Monumen ini berdiri sejak tahun 1922 yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dirk Fock dan Tumenggung Kusumadilaga pada tanggal 22 Juli 1922. 4) Pangeran Aria Soeria Atmadja adalah bupati Sumedang terakhir yang banyak berjasa pada pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Sumedang. Metode penciptaan yang digunakan adalah ikonografi dan eksperimen. Hasil penciptaan berupa desain cinderamata ikon Pangeran Aria Soeria Atmadja.Kata Kunci: Ikonografi, Cinderamata, Sumedang
TINJAUAN DESAIN INTERIOR KORIDOR HALL MALL BOEMI KEDATON DI LAMPUNG Primayudha, Novrizal
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The interior design objects are manifestation of sign interactions as a communication system between designers who send their messages in interior architect and the observers or common people who interpret or perceive the interior architect by their own cultural background and interpretation. The focus of this research is to reveal interior elements implementation on the interior design of food court and department store at Boemi Kedaton Mall in Lampung. This observation explored all of interior signs through signs analysis and interior elements classification. Finally, the interpretation of those signs is needed  to gain a corresponding interpretation, which can be regarded as an alternative of design concept that gives a new meaning to their observers.Keywords: Semiotics, Interior Architecture, Sign Analysis of Interior Architecture, Sign Meaning of Boemi Kedaton Mall Interior________________________________________________________________Objek rancangan interior merupakan manifestasi dari interaksi tanda-tanda sebagai sistem komunikasi antara desainer yang membuat pesan dalam rancangan interior bangunan dan  pengamat/ masyarakat awam untuk menginterpretasi atau mempersepsikannya sesuai  dengan  latar belakang budaya dan tingkat pemahamannya. Fokus dari penelitian ini bertujuan untuk mengungkap penerapan elemen interior sebagai tanda pada rancangan interior food court dan department store di Mall Boemi Kedaton Lampung melalui analisa tanda dan klasifikasi elemen rancangan interiornya. Interpretasi  terhadap makna tanda diperlukan untuk memperoleh sebuah kesepakatan penafsiran, sebagai sebuah usulan untuk memperoleh konsep desain yang memberikan makna baru bagi pengamatnya.Kata Kunci: Semiotika Arsitektural Interior, Analisa Tanda Arsitektural Interior, Makna Tanda pada Rancangan Interior Mall Boemi Kedaton
PRODUK TRADISIONAL SUNDA SEBAGAI ELEMEN DEKORATIF PADA DESAIN INTERIOR Savitri, Savitri; Sriwardani, Nani
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The era advancement encourages the invention of new material that is more durable and practical to be used. This may cause the traditional equipments previously used to cook, farm, play, etc. to disappear. One of the attempts to promote traditional products so that people would still love to use them is by giving new functions to them. They can be used as decorative elements through modification. Yet, in doing so, the primary material and salient shapes are maintained. Viewed from aesthetic aspect, the natural material contained in traditional products can be additional value if the products are used as decorative elements in a room with contemporary interior design. The decorative elements using traditional Sundanese products can be easily found in commercial properties with Sundanese or West Java concept, such as hotels, restaurants, gift shops and resorts in Bandung. Literature study and survey on present traditional Sundanese designs would be done. Survey was conducted on properties with contemporary Sundanese interiors. The study is expected to show the existing traditional Sundanese products and their potencies to be modified as decorative elements in interiors.Keywords: Sundanese Traditional Equipment, Decorative Element, Interior Design___________________________________________________________________ Kemajuan jaman mengakibatkan berkembangnya material baru yang lebih tahan lama dan praktis untuk digunakan. Hal ini mengakibatkan tergesernya perangkat tradisional sebagai perangkat keseharian untuk memasak, bertani, bermain dan lain sebagainya. Salah satu upaya untuk mengangkat kembali produk tradisional agar tetap dapat digunakan adalah dengan cara memberikan fungsi baru sebagai elemen dekoratif dengan tetap mempertahankan material dan bentuk utamanya. Material alami yang ada pada produk tradisional secara estetika dapat menjadi nilai tambah apabila perabot tersebut dimanfaatkan sebegai elemen dekoratif pada ruangan dengan konsep interior kontemporer. Elemen dekoratif dengan menggunakan produk tradisional Sunda sudah dapat kita temukan di bangunan-bangunan komersial bertemakan Sunda atau Jawa Barat, seperti hotel, restoran, toko souvenir dan resort di kota Bandung. Proses penelitian ini meliputi studi literatur dan survey pada rancangan yang sudah ada mengenai elemen dekoratif interior bertemakan tradisional sunda. Survey dilakukan pada bangunan dengan rancangan desain interior kontemporer sunda. Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan masukan data mengenai produk tradisonal yang memiliki potensi untuk menjadi elemen dekoratif interior.Kata Kunci: Perabot Tradisional Sunda, Elemen Dekoratif, Desain Interior
KAIN LURIK: UPAYA PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL Pandu Setyo Adji; Novita Wahyuningsih
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v6i2.544

Abstract

Among a variety of traditional fabrics developed by Javanese, especially in Surakarta and Yogyakarta, is lurik. Lurik is derived from Javanese language which in terms of etymology is similar to lorek which means a line. Today society is more interested in modern clothes than traditional clothes like  lurik.. However, recently there are many fashion designers who promote and introduce lurik to the young generation through fashion. This study aims to reveal the meaning or philosophy of the lurik motif and the allure of the lurik for fashion designers so that they are willing to promote lurik in their works in order to preserve local wisdom.Keywords: Lurik, Designer, Philosophy___________________________________________________________________ Masyarakat Jawa khususnya Surakarta dan Yogyakarta mengembangkan berbagai kain tradisional salah satunya kain Lurik. Lurik berasal dari bahasa Jawa yang secara etimologi dapat disamakan dengan kata lorek yang berarti garis. Masyarakat sangat terbuka dengan adanya kain modern yang berkembang sehingga kain lurik kian dilupakan, namun dewasa ini berkembang banyak perancang busana yang mengangkat dan memperkenalkan kain lurik kepada generasi muda melalui karya busana. Apabila dikaji lebih dalam, terdapat beberapa hal menarik yang dapat dibahas yaitu apa makna atau filosofi motif kain lurik serta apa yang menjadi daya tarik bagi perancang busana sehingga mengangkat kain lurik dalam karyanya sebagai pelestarian kearifan lokal.Kata Kunci: Kain Lurik, Perancang Busana, Filosofi 
SENI DAN MEDIA MASSA: PENGELOLAAN INFORMASI SENI RUPA DALAM MEDIA BARU Nala Nandana Undiana
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v6i2.693

Abstract

The practice of art writing in mass media is one of the important factors in boosting the progress of arts scene. This statement can be seen from the many works of art that can have more aesthetic value after criticism was written in the mass media. This strengthens the position of art writers to continue exploring with their writings in the mass media. In this perspective, management of information into things should be put forward. As an information management institution, it is appropriate that mass media can be a source that indirectly fulfills the need for complete information. But in reality there are a lot of interests behind a mass media company, the art information that is reported is actually selective, political and often ignores the true content of information. Right now, new media can be the most popular option for writer. Everyone can write any information on new media, but the most important is how the writing can be accountable for public.Keywords: Art Writing, Mass Media, New Media ________________________________________________________________ Praktek menulis seni rupa di media massa adalah salah satu faktor penting dalam mendorong kemajuan seni rupa. Pernyataan ini dapat dilihat dari banyaknya karya seni yang dapat memiliki nilai estetika lebih setelah kritik ditulis di media massa. Ini memperkuat posisi penulis seni untuk terus mengeksplorasi dengan tulisan-tulisan mereka di media massa. Dalam perspektif ini, manajemen informasi menjadi hal-hal harus dikedepankan. Sebagai lembaga manajemen informasi, sudah sepantasnya media massa dapat menjadi sumber yang secara tidak langsung memenuhi kebutuhan akan informasi yang lengkap. Namun dalam kenyataannya ada banyak kepentingan di balik sebuah perusahaan media massa, informasi seni yang dilaporkan sebenarnya selektif, politis dan sering mengabaikan isi informasi yang sebenarnya. Saat ini, media baru bisa menjadi pilihan paling populer untuk penulis. Setiap orang dapat menulis informasi apa pun di media baru, tetapi yang paling penting adalah bagaimana tulisan dapat dipertanggungjawabkan untuk publik.Kata Kunci: Penulisan Seni, Media Masa, Media Baru
UPAYA REVITALISASI AKSARA JAWA HANACARAKA MELALUI MEDIA T-SHIRT Dyah Nurhayati; Dida Ibrahim Abdurrahman
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v6i2.661

Abstract

The lack of public attention regarding the use of Javanese script, natively known as Aksara Jawa, in modern visual communication media is so upsetting that an attempt to preserve it is needed. Otherwise, it will not be understood by generations, except preservationists or traditional script observers. Regarding this, the study aims to classify and analyze the forms of modern visual communication media that still apply Aksara Jawa to their design products, especially t-shirts. The method used in this study is qualitative with an aesthetic approach focusing on the study of art. This research is expected to raise the public awareness about the importance of cultural preservation attempts by examining the application of Javanese scripts to modern visual communication media promoting local cultural traditions with an aesthetic aspect approach.Keywords: Javanese Script, Media, Revitalization________________________________________________________________ Minimnya perhatian masyarakat perihal penggunaan aksara Jawa pada media komunikasi visual modern saat ini menjadi bentuk keprihatinan, jika tidak ada upaya pelestarian nantinya tidak ada lagi generasi yang memahami kecuali kalangan preservasionis atau pemerhati aksara daerah. Berawal dari kegelisahan tersebut, penelitian ini bertujuan mengelompokkan dan menganalisa bentuk media komunikasi visual modern yang masih menerapkan penggunaan aksara Jawa pada produk desainnya, dalam hal ini t-shirt. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan yang memfokuskan pada kajian kesenirupaan, yaitu pendekatan estetika. Penelitian ini diharapkan mampu berkontribusi bagi masyarakat luas, pentingnya upaya pelestarian budaya dengan mengkaji aplikasi aksara Jawa pada media komunikasi visual modern yang mengangkat tradisi budaya lokal dengan pendekatan aspek estetis.Kata Kunci: Aksara Jawa, Media, Revitalisasi 

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 1 (2025): INOVASI DAN KREATIVITAS DALAM KARYA DESAIN Vol 12 No 2 (2024): KREATIVITAS DAN INOVASI SENI VISUAL DALAM KARYA DESAIN Vol 12 No 1 (2024): TRADISI KARYA RUPA DESAIN Vol 12, No 1 (2024): TRADISI KARYA RUPA DESAIN Vol 11, No 3 (2023): KARYA RUPA DALAM BINGKAI TRADISI DAN BUDAYA Vol 11 No 3 (2023): KARYA RUPA DALAM BINGKAI TRADISI DAN BUDAYA Vol 11 No 2 (2023): KARAKTERISTIK RUPA DALAM TRADISI DAN BUDAYA Vol 11, No 2 (2023): KARAKTERISTIK RUPA DALAM TRADISI DAN BUDAYA Vol 11, No 1 (2023): INOVASI DAN APLIKASI PADA KARYA VISUAL Vol 11 No 1 (2023): INOVASI DAN APLIKASI PADA KARYA VISUAL Vol 10, No 3 (2022): EKSISTENSI SENI DAN BUDAYA DALAM INTERPRETASI VISUAL Vol 10 No 3 (2022): EKSISTENSI SENI DAN BUDAYA DALAM INTERPRETASI VISUAL Vol 10 No 2 (2022): ESTETIKA DALAM MAKNA, MEDIA, DAN TEKNIK VISUAL Vol 10, No 2 (2022): ESTETIKA DALAM MAKNA, MEDIA, DAN TEKNIK VISUAL Vol 10 No 1 (2022): MEDIA PENERAPAN KARYA RUPA DALAM TEKNIK DAN TEKNOLOGI Vol 10, No 1 (2022): TEKNIK DAN TEKNOLOGI MEDIA KARYA VISUAL Vol 9, No 3 (2021): EKSPLORASI DAN IMPLEMENTASI POTENSI RUPA Vol 9 No 3 (2021): EKSPLORASI DAN IMPLEMENTASI POTENSI RUPA Vol 9, No 2 (2021): VISUAL ARTISTIK DALAM TEKNIK DAN POLA RUPA Vol 9, No 1 (2021): KARYA RUPA DALAM PERSPEKTIF MAKNA, FUNGSI, DAN IMPLEMENTASI Vol 8, No 3 (2020): MOTIF, MAKNA, DAN MEDIA DALAM TEKNIK KARYA RUPA Vol 8, No 2 (2020): ANALISIS MAKNA KARYA VISUAL DALAM SENI PUBLIK Vol 8, No 1 (2020): REPRESENTASI, PARTISIPASI, DAN GERAKAN SENI Vol 7, No 3 (2019): IMPLEMENTASI IDENTITAS BUDAYA LOKAL Vol 7, No 2 (2019): POTENSI TRADISI DALAM BUDAYA KONTEMPORER Vol 7, No 1 (2019): IDENTITAS BUDAYA VISUAL: APRESIASI DAN EKSPLORASI Vol 6, No 3 (2018): IMPLEMENTASI MEDIA DAN TEKNIK DALAM KARYA RUPA Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA Vol 6, No 1 (2018): APLIKASI, STRATEGI, DAN ORIENTASI SENI DALAM RUPA, MEDIA, DAN WACANA Vol 5, No 3 (2017): EKSPLORASI RAGAM HIAS DAN BUSANA KONTEMPORER Vol 5, No 1 (2017): EKSPLORASI SENI DALAM PANGGUNG DAN RUPA Vol 4, No 3 (2016): KEARIFAN LOKAL DALAM TRANSFORMASI VISUAL Vol 3, No 3 (2015): DIALEKTIKA RUPA DALAM KEBUDAYAAN KONTEMPORER Vol 3, No 1 (2015): REALITAS TRADISI DALAM PERSEPSI VISUAL Vol 1, No 3 (2013): REPRESENTASI POTENSI DAN ESTETIKA SENI RUPA Vol 1, No 2 (2013): JERAT TRADISI DALAM KONTEMPORER Vol 1, No 1 (2013): MEDIA DALAM BUDAYA RUPA More Issue