cover
Contact Name
Muhammad Shidiq
Contact Email
shidiqmuhammad17393@gmail.com
Phone
+6281222979930
Journal Mail Official
jurnalatrat@gmail.com
Editorial Address
Jalan Buah Batu No.212, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, kode pos: 40265
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Atrat: Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23391642     EISSN : 27227200     DOI : http://dx.doi.org/10.26742
Atrat is a Journal of Visual Arts containing scientific papers which includes Fine Art and Design, publisher by Jurusan Seni Rupa STSI Bandung (p-ISSN 2339-1642 & e-issn 2722-7200). Jurnal Atrat also embodies the results of various forms of scientific research as well as the creation of artworks, which can become new knowledge published in scientific articles, so it is worthy to be read and understood by readers. Atrat aims to give land to Artists, Designers, Art Students, Teachers/ Lecturers, and Fine Arts Society to exchange insights.
Articles 389 Documents
TINJAUAN RUANG KOMUNAL PADA ARSITEKTUR VERNAKULAR UMA, LAMIN DAN RUMAH GADANG Anastasha Oktavia Sati Zein
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 5, No 1 (2017): EKSPLORASI SENI DALAM PANGGUNG DAN RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v5i1.350

Abstract

Indonesian traditional houses are closely related to the culture to which they belong. It can be seen not only from their architectural forms but also from the functions and layouts inside them. Philosophy implemented in the buildings resulted from local customs of each society member passed on from generation to generation. Communal houses are not only found in a region. They are also seen in many regions of different location, culture and geography but share some similarities. Mentawai with its uma house, East Kalimantan with its lamin house and West Sumatra with its gadang house are a few example of them.Keywords: Vernacular Architecture, Communal Houses___________________________________________________________________Rumah tradisional di Indonesia sangat erat kaitannya dengan kebudayaan yang dimiliki, hal ini tidak hanya terlihat dari bentuk arsitekturnya saja tetapi juga pada fungsi dan tata ruang dalamnya. Filosofi yang diimplementasikan ke dalam bangunan merupakan hasil dari kebiasaan lokal yang telah turun – menurun terjadi dari setiap kelompok masyarakat tersebut. Rumah komunal atau rumah tinggal bersama pada bangunan tradisional Indonesia tidak hanya ditemukan di satu wilayah saja, hal ini juga terdapat pada beberapa wilayah dengan lokasi, kebudayaan, geografi yang berbeda namun dapat memiliki kesamaan, seperti Mentawai dengan rumah uma, Kalimantan Timur dengan rumah lamin dan Sumatra Barat dengan rumah gadangnya.Kata Kunci: Arsitektur vernakular, Rumah Komunal
GAPURA WRINGIN LAWANG SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI MACRAMÉ Ninik Juniati; Ardeliah Tjiptawan
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 3 (2019): IMPLEMENTASI IDENTITAS BUDAYA LOKAL
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v7i3.971

Abstract

Wringin Lawang gapura (gate) is the entrance of all temples in Trowulan region in Mojokerto. It is unique  since it is layered and made entirely of red bricks. The brick arrangement detail of the gapura is an artistic inspiration for a macramé artwork. The purpose of this study is to combine elements of a local genius in the form of a typical East Java temple gate and an ancient art originated in Near Eastern Origin region in the form of a  wall hanging macramé. Overall the finished work is consistent with its design in terms of the amount of detail and parts of the macramé such as the layers. Thus, to overcome the shortcomings of the macramé, adding knot details to the tighter layers and or adding material such as beads or other materials that match the inspiration in the middle of the cord span to reduce the asymmetrical form of detail. A rip effect made the cord span more stable. Keywords : Wringin Lawang Gapura, Macramé, Wall Hanging___________________________________________________________________ Gapura Wringin Lawang merupakan pintu masuk dari semua candi yang ada di kawasan Trowulan, Mojokerto. Dia memiliki keunikan dari bentuk bertingkat-tingkat dan terbuat dari batu bata merah. Detail susunan batu bata pada gapura inilah menjadi inspirasi sebagai ide penciptaan karya seni macramé. Tujuan karya ini untuk memadukan unsur kearifan lokal bentuk gapura candi khas Jawa Timur dengan teknik macramé yang ada pada peradaban kuno Mesopotamia, Mesir kuno dan sekitarnya dengan bentuk wall hanging. Hasil karya ini disesuaikan dengan konsep desain secara detail dengan bagian-bagian seperti undakan. Material tambahan diletakkan di tengah bentangan tali untuk mengurangi bentuk detail yang tidak simetris, meminimalisir efek koyakan, sehingga membuat bentangan tali menjadi lebih stabil.Kata Kunci: Gapura Wringin Lawang, Macramé, Hiasan Dinding
GESTUR DEFENSIF OBJEK PEREMPUAN DALAM KARYA SENI LUKIS CHUSIN SETIADIKARA Arintan Gustina Mulyana; Agus Cahyana
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 4, No 3 (2016): KEARIFAN LOKAL DALAM TRANSFORMASI VISUAL
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v4i3.366

Abstract

Women tend to be used as the object of artworks since ancient times. In Indonesia, there are some artists who tend to use women as objects in their artworks. One of them is Chusin Setiadikara. In this era of contemporary art, Chusin sticks with his realistic style. Chusin has photorealistic painting style using photographic viewpoint. This research employs a case study method, a semiotic approach, and the theory of body gestures. He communicates his feelings through gestures in his artworks. This study focuses on female body gestures as a visualization of the paintings. In his paintings metaphor can often be found. There are also similarities of object’s body gestures in some of his paintings. The gestures lead to defensive gestures or self-defense. Semiotics analysis of his paintings shows the role and position of women in life. In patriarchal culture embraced in Indonesia, particularly, women are minorities dominated by men, or in subordinate position. However, Chusin was trying to convey the message that women’s roles are still very important in life to achieve a harmonious relationship between women and men.Keywords: Representation, Women, Gestures, Painting, Chusin Setiadikara________________________________________________________________Perempuan cenderung dijadikan sebagai objek dalam karya seni sejak zaman dahulu. Di Indonesia sendiri, terdapat beberapa Seniman yang cenderung menjadikan perempuan sebagai objek dalam karyanya. Salah satu diantaranya adalah Seniman Chusin Setiadikara. Di era seni rupa kontemporer ini, Chusin tetap bertahan dengan gaya realistiknya. Lukisan Chusin bergaya fotorealistik, menggunakan sudut pandang fotografis. Penelitian ini dilakukan dengan metode studi kasus, menggunakan pendekatan ilmu semiotika, serta teori gestur tubuh. Chusin mengkomunikasikan perasaannya melalui karyanya dengan gestur. Penelitian ini fokus pada gestur tubuh perempuan sebagai visualisasi pada karya seni lukis Chusin. Dalam karya lukisnya, unsur metafora cenderung muncul, serta terdapat kemiripan gesture tubuh objek pada beberapa lukisan. Gestur tersebut mengarah pada gesture defensif atau pertahanan diri. Berdasarkan analisis semiotika dalam lukisan-lukisan Chusin tersebut, menunjukkan bagaimana peran dan posisi perempuan dalam kehidupan. Terutama dalam budaya patriarki yang dianut di Indonesia, perempuan sebagai kaum minoritas yang didominasi oleh laki-laki atau memiliki posisi subordinat. Namun Chusin berusaha menyampaikan pesan bahwa peran perempuan tetap sangatlah penting dalam kehidupan, untuk mencapai suatu keharmonisan hubungan antara perempuan dan laki-laki.Kata Kunci: Representasi, Perempuan, Gestur, Seni Lukis, Chusin Setiadikara
TINJAUAN DISPLAY PADA MINT MUSEUM OF TOYS SINGAPURA Anastasha Oktavia Sati Zein
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 3, No 1 (2015): REALITAS TRADISI DALAM PERSEPSI VISUAL
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v3i1.382

Abstract

Museum is a place to collect, protect, record and exhibit collection item of momentous aspects of human life, so that every generation can experience the development. Museum collection of both tangible and intangible are presented in accordance with illustrations. Mint Museum building is different from any other museums, because it is unique with narrow space dan two alternative circulations which do not change the storyline. The uniqueness of this museum makes it worth to visit.Keywords: Museum, Display, Circulation___________________________________________________________________Museum merupakan tempat untuk mengumpulkan, memelihara, merekam, dan memamerkan benda koleksi yang bersifat edukasi dari setiap kegiatan manusia dahulu sampai sekarang, sehingga hal – hal yang mempunyai arti dan bernilai tidak hilang begitu saja dan generasi berikutnya ikut merasakan perkembangan tersebut. Objek yang dipamerkan didalam museum dapat berupa koleksi benda mati atau hidup, berupa tulisan sejarah yang didukung oleh foto dan gambar, atau pun keduanya. Bangunan Museum Mint ini secara umum berbeda dengan museum lainnnya, dengan luasan ruang yang relatif sempit dan sirkulasi yang mempunyai dua alternatif tidak merusak alur cerita bahkan menjadikan suatu keunikan museum untuk dikunjungi.Kata Kunci: Museum, Display, Sirkulasi
KAJIAN IDEOLOGI SENI RUPA 1990-AN: STUDI KASUS AGUS SUWAGE Anggiat Tornado; Dadang Suganda; Setiawan Sabana; Reiza D. Dienaputra
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 1, No 1 (2013): MEDIA DALAM BUDAYA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v1i1.398

Abstract

The new minset, which evolves in society, becomes the minset held by all member of society, including the artists. However, differences show up in the progressing minset. The artists as the social and cultural agent have their own way to provide solution towards the differences thrpugh their creative works. The ideology of arts in the 1990’s tends to voice the injustice happening in the society using aesthetic language, the artists give criticisms to all member of society, from the state to the artists themselves. The progress of visual arts in thw 1990’s can eventually be concluded as having it’s own from and theme; it expresses the artists ideas more than their works. Agus Suwage who starter his career s painter prefer painting as his from of expression. Those who have been helped through his from of campaign posters are non-govermental organizations (Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM) such as the Commission dor Disappearances and Victims of Violence Kontras (Komisi Nasional untuk Orang Hilang) and Indonesian. Legal Aid Foundation (LBHI/Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) in his process of creative works, Agus Suwage tends to make himself as part of problem. He obtains a lot of information from mass media that finally influences his aesthetis works.Keywords: Ideology, Art in The 1990’s
PERSPEKTIF SENI RUPA ISLAM KONTEMPORER INDONESIA PADA FESTIVAL ISTIQLAL 1991 DAN 1995 Zaenudin Ramli
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 1, No 2 (2013): JERAT TRADISI DALAM KONTEMPORER
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v1i2.416

Abstract

Seni rupa modern Islam Indonesia merupakan kenyataan yang hidup dalam seni rupa modern Indonesia. Bentuk seni rupa modern Islam Indonesia seperti itu mengandung pengertian ia membawa nilai-nilai Islam, dan oleh karena itu merupakan representasi budaya yang sangat khas. Di Indonesia, awal seni rupa modern yang bernafaskan Islam Indonesia itu sendiri sudah mulai tumbuh pada tahun 1970 an. Titik penting perkembangan praktik seni rupa modern yang bernafaskan Islam Indonesia, secara spesifik dan konseptual dicoba ditawarkan secara terbuka, pada kegiatan Festival Istiqlal I pada tahun 1991 dan Festival Istiqlal II tahun 1995. Lewat pameran berskala besar tersebutlah, pameran seni rupa modern yang bernafaskan Islam dihadirkan. Lalu, bagaimana Festival Istiqlal I dan Festival Istiqlal II, memaknai secara konseptual gagasan seni rupa modern bernafaskan Islam, dalam praktik seni rupa modern Indonesia secara umum? Penelitian ini menggunakan metodologi pendekatan kritik seni dan sosiologis dengan jenis penelitian kualitatif, lewat studi kasus pada pameran seni rupa modern yang bernafaskan Islam pada Festival Istiqlal I 1991 dan II 1995. Pada pameran seni rupa di dalam Festival Istiqlal I dan II, karya-karya yang dihadirkan oleh para seniman muslim telah menghadirkan keluarnya representasi Islam serta batasan serta medium-medium karya seni rupa yang lain. Salah satunya, tidak terbatasnya cakupan terhadap karya lukisan dan karya yang bersifat 2 dimensional saja. Di sisi lain, pameran seni rupa modern yang bernafaskan Islam pada kedua Festival Istiqlal tersebut. Pada akhirnya telah memberikan jendela baru, yakni masalah representasi perbedaan dan keterbukaan pada nilai-nilai estetik Islam di nusantara yang direpresentasikan pada karya-karya seni rupa.Kata Kunci: Kritik Seni, Festival Istiqlal, Estetika Islam
STRATEGI KREATIF TEMA PAHLAWAN DALAM IKLAN MEDIA SOSIAL BUKALAPAK Ira Wirasari; Tresna Ferdiana
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v6i2.522

Abstract

The world of advertising is developing rapidly. This research aims to reveal  the way creative strategy used in visual TVC of Bukalapak ad festival and the impacts of Bukalapak advertisement on consumer behaviour. The data were analyzed by theory of advertising, promotions, creative strategy, visual communication design, and AISAS. Qualitative method was employed in the study. The results show that Bukalapak advertisements are able to convey its messages to the target audience; humor elements in the ads are effective to attract the attention of target audience, persuade them and eventually increase their sales. Bukalapak has succeeded in its creative strategies to differ from its competitors.  To sum up, it uses so effective visual tactics that it is able to persuade the target audience well.Keywords: Bukalapak, Messages, Creative Strategy, Advertising, Competitors________________________________________________________________ Dunia periklanan saat ini sedang berkembang dengan pesat, banyaknya pengiklan melakukan  pemasaran dengan beragam strategi kreatif  di media konvensional maupun digital. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimanakah strategi kreatif yang digunakan dalam visual TVC festival iklan Bukalapak dan bagaimanakah pengaruh iklan Bukalapak terhadap perilaku konsumen. Teori analisis yang digunakan adalah teori dari periklanan, promosi, strategi kreatif, DKV, dan AISAS. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif. Hasil penelitian yang didapatkan adalah Bukalapak mampu untuk menyampaikan pesan melalui iklannya dengan baik kepada khalayak, Unsur humor pada iklan Bukalapak mampu untuk mempersuasi,menarik perhatian, mengingatkan, dan meningkatkan penjualan, Bukalapak berhasil dalam strategi kreatifnya yang mampu mendiferensiasi. Bukalapak menggunakan taktik visual yang baik, mampu mempengaruhi khalayak dengan baik.Kata Kunci: Bukalapak, Pesan, Strategi Kreatif, Iklan, Kompetitor
EKSPLORASI MOTIF JAWA HOKOKAI DENGAN TEKNIK BATIK CAP PADA MATERIAL DENIM Amira, Hilda; Ramadhan, Mochammad Sigit
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 6, No 3 (2018): IMPLEMENTASI MEDIA DAN TEKNIK DALAM KARYA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batik as Indonesian cultural heritage is peculiar to each region. Jawa Hokokai Batik is a coastal batik that is affected from outside culture. Jawa Hokokai Batik has austere and detailed motifs that fill the whole fabric. It also  contains a Japanese culture, called Susomoyo. It starts from one corner and spreads to the edges of the fabric but not meet the similar patterns from the opposite corner. The ornaments usually used are cherry blossoms, dahlias, chrysanthemums, orchids, butterflies and peacocks. In Japanese culture, susomoyo only appears at the end of the kimono or the bottom of the skirt with a diagonal design whose motifs are inspired by nature and Japanese folklore. However, as time goes by,, the exploration of Jawa Hokokai batik pattern is still rare. Therefore, it is necessary to develop the susomoyo motif that is found in Jawa Hokokai batik. The qualitative method was used in the study through observation, literature study, interview and exploration. The result of this study is a sheet of fabric and clothing, that is kimono outer filled with Jawa Hokokai motifs by using the technique of batik cap or batik stamp and indigo dye on denim. Keywords: Batik, Batik Jawa Hokokai, Susomoyo, Denim Material________________________________________________________________ Batik merupakan warisan budaya Indonesia memiliki keistimewaan dari beragam daerah. Batik Jawa Hokokai adalah batik pesisir yang terpengaruh dari kebudayaan luar. Batik Jawa Hokokai memiliki motif yang memenuhi kain, tegas, rinci serta memiliki kebudayaan Jepang yaitu Susomoyo. Susomoyo dimulai dari salah satu pojok dan menyebar ke tepi-tepi kain tetapi tidak bersambung dengan motif serupa dari pojok yang berlawanan. Ragam hias yang digunakan biasanya berupa bunga sakura, dahlia, krisan, anggrek serta adanya kupu-kupu dan merak. Pada kebudayaan Jepang, susomoyo hanya muncul di ujung kimono atau bagian bawah rok dengan desain diagonal dengan motif yang terinspirasi dari alam dan cerita rakyat Jepang. Seiring berkembangnya zaman, eksplorasi motif batik Jawa Hokokai masih sedikit dilakukan. Dari permasalahan tersebut, peneliti ingin mengembangkan motif susomoyo yang terdapat pada batik Jawa Hokokai dengan metode kualitatif yaitu dengan melakukan observasi, studi literatur, wawancara dan eksplorasi. Hasil akhir dari penelitian ini adalah berupa lembaran kain dan produk busana yaitu kimono outer bermotif Jawa Hokokai dengan menggunakan teknik batik cap dan pewarna indigo pada material denim.Kata Kunci: Batik, Batik Jawa Hokokai, Susomoyo, Material Denim
GOLOK WALAHIR SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT DESA SINDANGKERTA KABUPATEN TASIKMALAYA Muttaqien, T. Zulkarnain
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 1 (2019): IDENTITAS BUDAYA VISUAL: APRESIASI DAN EKSPLORASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Golok is an Indonesian traditional knife resembling a machete that functions as an implement in gardening or a weapon in a combat. As it serves different purposes such as slashing, splitting, cutting and hewing, golok has slightly different shapes. In some regions in Indonesia, a golok is even considered as a representation of regional identity. Thus, golok is still made and used up to now. Golok Walahir originated from Walahir village in Sindangkerta, Tasikmalaya Regency. Unlike golok originated from other areas that are still produced and become regional icon, golok Walahir is no longer made due to the absence of its blacksmith. A number of efforts must be done to preserve golok Walahir, such as by studying the possibility of remaking the golok and blacksmith generation that will preserve the golok Walahir as an iconic identity of Sindangkerta from generation to generation. Steps taken in the study were identifying the golok Walahir shapes available at present, classifying them, and making replicas of each shape. The study focused on shapes, materials and production process.Keywords: Golok Walahir, Replica, Process, Conserve, Identity________________________________________________________________ Golok merupakan salah satu alat bantu tradisional untuk melakukan kegiatan berkebun, berladang, dan pada masa lalu digunakan juga untuk bertarung dan bertempur. Bagi sebagian masyarakat di Indonesia golok memiliki fungsi lain, selain sebagai alat bantu kerja, golok dapat dimaknai sebagai wakil dari identitas bagi sebuah daerah atau masyarakat. Oleh karena itu, walaupun hadir berbagai macam alat bantu kerja yang baru, golok tetap dibuat dan digunakan sampai saat ini. Golok Walahir berasal dari desa Walahir di wilayah Sindangkerta Kabupaten Tasikmalaya. Tidak seperti golok dari daerah lain yang sampai saat ini masih diproduksi dan menjadi ikon bagi daerah, perlu dilakukan banyak usaha untuk melestarikan golok Walahir, diantaranya dengan melakukan penelitian dan mengkaji kemungkinan adanya proses pembuatan ulang golok sehingga muncul pandai besi penerus dan golok Walahir sebagai salah satu identitas masyarakat dapat dilestarikan. Langkah-langkah yang akan dilakukan adalah mengidentifikasi bentuk-bentuk golok walahir yang masih ada saat ini dan mengklasifikasikannya, lalu membuat replika dari masing-masing bentuk yang ditinjau dari aspek bentuk, material dan proses produksi.  Kata Kunci: Golok Walahir, Replika, Proses, Lestari, Identitas
PEMANFAATAN KOSEP DEKONSTRUKSI FASHION PADA LEMBARAN DENIM SEBAGAI APLIKASI PADA PRODUK FASHION Zahra, Aliyah; Hendrawan, Aldi
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 5, No 3 (2017): EKSPLORASI RAGAM HIAS DAN BUSANA KONTEMPORER
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cultural transformation is a factor that changes the development of fashion trend. Denim, with its rigid and old look becomes the leading fashion item among the youngsters during the hippie era for they happened to be an attribute to bring up freedom, rebellion, and juvenility. However, not everyone could accept the new look of denim. The reason is that lack of technique knowledge on how to process denim material. Therefore, the insight of denim processing technique through DIY activity is needed. The popularity of DIY culture is taken into account as easier and approachable method that could be adopted, particularly for the youngster.  This approach is aimed to encourage and to inspire young people to be creative and to explore independently with the products offered. Thus, the product will have sentimental value for the user. The experiment is using three methods: qualitative, analysis, exploration method for the materials used to create attractive detail within the design collections. The result of this experiment is a DIY kit that consists of clothes with its tools and materials which could be easily managed and a sheet of denim fabric in form of patches that has been processed by implementing deconstruction concept.Keywords: Deconstruction Fashion, Denim, DIY___________________________________________________________________Transformasi kultur merupakan salah satu faktor perubahan perkembangan tren fashion.  Salah satunya denim. Denim yang dikenal kaku dan kuno bertransformasi menjadi pakaian trendi anak muda, ketika  kaum hippie menjadikan denim sebagai atribut untuk mengekspresikan dari kebebasan, pemberontakan, dan jiwa muda. Namun, tidak semua masyarakat dapat menerima tampilan baru denim yang dianggap beridentitas bagi para penggunanya. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai teknik pengolahan material denim. Maka dari itu, diperlukan adanya pengenalan wawasan mengenai pengolahan material denim melalui kegiatan DIY. Dengan kemunculan kebudayaan Do-It-Yourself (DIY) yang marak di masa kini, maka DIY dirasa tepat untuk digunakan sebagai cara pengenalan wawasan karena cara ini mudah diadaptasi oleh masyarakat, khususnya kaum muda. Pengenalan ini juga bertujuan sebagai dorongan atau inspirasi bagi para remaja untuk berkreatifitas dan bereksplorasi secara mandiri dengan produk yang ditawarkan, sehingga produk ini memiliki nilai sentimental tersediri bagi para penggunanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, metode analisis, dan metode eksplorasi pada material yang akan digunakan untuk menciptakan detail yang menarik pada perancangan koleksi. Hasil akhir dari penelitian ini merupakan sebuah DIY kit berisi pakaian yang dilengkapi dengan alat dan bahan yang mudah diadaptasi cara pengolahannya, serta lembaran kain denim dalam bentuk patch yang telah diolah dengan menerapkan konsep dekonstruksi.Kata Kunci: Dekonstruksi fashion, Denim, DIY

Page 5 of 39 | Total Record : 389


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 1 (2025): INOVASI DAN KREATIVITAS DALAM KARYA DESAIN Vol 12 No 2 (2024): KREATIVITAS DAN INOVASI SENI VISUAL DALAM KARYA DESAIN Vol 12 No 1 (2024): TRADISI KARYA RUPA DESAIN Vol 12, No 1 (2024): TRADISI KARYA RUPA DESAIN Vol 11, No 3 (2023): KARYA RUPA DALAM BINGKAI TRADISI DAN BUDAYA Vol 11 No 3 (2023): KARYA RUPA DALAM BINGKAI TRADISI DAN BUDAYA Vol 11 No 2 (2023): KARAKTERISTIK RUPA DALAM TRADISI DAN BUDAYA Vol 11, No 2 (2023): KARAKTERISTIK RUPA DALAM TRADISI DAN BUDAYA Vol 11, No 1 (2023): INOVASI DAN APLIKASI PADA KARYA VISUAL Vol 11 No 1 (2023): INOVASI DAN APLIKASI PADA KARYA VISUAL Vol 10, No 3 (2022): EKSISTENSI SENI DAN BUDAYA DALAM INTERPRETASI VISUAL Vol 10 No 3 (2022): EKSISTENSI SENI DAN BUDAYA DALAM INTERPRETASI VISUAL Vol 10 No 2 (2022): ESTETIKA DALAM MAKNA, MEDIA, DAN TEKNIK VISUAL Vol 10, No 2 (2022): ESTETIKA DALAM MAKNA, MEDIA, DAN TEKNIK VISUAL Vol 10 No 1 (2022): MEDIA PENERAPAN KARYA RUPA DALAM TEKNIK DAN TEKNOLOGI Vol 10, No 1 (2022): TEKNIK DAN TEKNOLOGI MEDIA KARYA VISUAL Vol 9, No 3 (2021): EKSPLORASI DAN IMPLEMENTASI POTENSI RUPA Vol 9 No 3 (2021): EKSPLORASI DAN IMPLEMENTASI POTENSI RUPA Vol 9, No 2 (2021): VISUAL ARTISTIK DALAM TEKNIK DAN POLA RUPA Vol 9, No 1 (2021): KARYA RUPA DALAM PERSPEKTIF MAKNA, FUNGSI, DAN IMPLEMENTASI Vol 8, No 3 (2020): MOTIF, MAKNA, DAN MEDIA DALAM TEKNIK KARYA RUPA Vol 8, No 2 (2020): ANALISIS MAKNA KARYA VISUAL DALAM SENI PUBLIK Vol 8, No 1 (2020): REPRESENTASI, PARTISIPASI, DAN GERAKAN SENI Vol 7, No 3 (2019): IMPLEMENTASI IDENTITAS BUDAYA LOKAL Vol 7, No 2 (2019): POTENSI TRADISI DALAM BUDAYA KONTEMPORER Vol 7, No 1 (2019): IDENTITAS BUDAYA VISUAL: APRESIASI DAN EKSPLORASI Vol 6, No 3 (2018): IMPLEMENTASI MEDIA DAN TEKNIK DALAM KARYA RUPA Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA Vol 6, No 1 (2018): APLIKASI, STRATEGI, DAN ORIENTASI SENI DALAM RUPA, MEDIA, DAN WACANA Vol 5, No 3 (2017): EKSPLORASI RAGAM HIAS DAN BUSANA KONTEMPORER Vol 5, No 1 (2017): EKSPLORASI SENI DALAM PANGGUNG DAN RUPA Vol 4, No 3 (2016): KEARIFAN LOKAL DALAM TRANSFORMASI VISUAL Vol 3, No 3 (2015): DIALEKTIKA RUPA DALAM KEBUDAYAAN KONTEMPORER Vol 3, No 1 (2015): REALITAS TRADISI DALAM PERSEPSI VISUAL Vol 1, No 3 (2013): REPRESENTASI POTENSI DAN ESTETIKA SENI RUPA Vol 1, No 2 (2013): JERAT TRADISI DALAM KONTEMPORER Vol 1, No 1 (2013): MEDIA DALAM BUDAYA RUPA More Issue