cover
Contact Name
Nina Lisanty
Contact Email
agrinika@unik-kediri.ac.id
Phone
+6285832787581
Journal Mail Official
agrinika@unik-kediri.ac.id
Editorial Address
Jl. Selomangleng No. 1 Bd. A-03 Agriculture Faculty, Kadiri University, Kediri City, East Java, Indonesia 64115
Location
Kota kediri,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Agrinika : Jurnal Agroteknologi dan Agribisnis
Published by Universitas Kadiri
ISSN : 25793659     EISSN : 27212807     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Agrinika is a peer-review scholarly publication which publishes research articles and critical reviews from every area of agricultural sciences and plant science. Scope of the journal includes agricultural socioeconomics and management, agricultural extension, agricultural engineering, plant production, plant breeding, plant protection, food science and technology, and agricultural environment resources. Manuscripts on those fields are welcomed to be submitted and reviewed in this journal.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2021): MARCH" : 10 Documents clear
Studi Eksplorasi Agroklimat Tanaman Kopi Robusta (Coffea canephora) Kabupaten Tanggamus, Lampung Dimas Prakoswo Widiyani; Joko S. S Hartono
Jurnal Agrinika: Jurnal Agroteknologi dan Agribisnis Vol 5, No 1 (2021): MARCH
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/agrinika.v5i1.1523

Abstract

Coffee is one of the important commodities in Indonesia. The coffee commodity has strategic potential in the development of the community's economy. Over time coffee production in Indonesia has decreased, the average productivity of coffee in Indonesia is only around 600 kg/ha, while the potential for coffee production per hectare can reach 1000 kg/ha. One of the largest coffee-producing regions is Tanggamus Regency in Lampung. This region’s climate plays an essential part in plant production, even more than soil in determining plant growth and development. Climate elements such as air temperature, solar radiation, and humidity support and play an important role in crop production. Meanwhile physical, chemical, and biological properties of soil are directly related to plant productivity. This research was conducted in 2 sub-districts, namely Sumberejo and Ulubelu Districts from July to October 2020. Based on the results of observations and analysis, it was found that the agro-climatic suitability of some of the Sumberejo and Ulubelu areas was included in the S1 conformity class category, but there is one limiting factor, namely slope. Efforts to modify the environment based on the value of the suitability class are needed. It is recommended to make a terrace to handle the limiting factors. Kopi adalah salah satu komoditas penting yang ada di Indonesia. Komoditas kopi memiliki potensi strategis dalam perkembangan perekonomian masyarakat. Seiring waktu produksi kopi di Indonesia semakin menurun, produktivitas rata-rata kopi di Indonesia hanya berkisar 600 kg/ha, sedangkan potensi produksi kopi tiap hektar bisa mencapai 1000 kg/ha. Salah satu daerah atau kabupaten penghasil kopi terbesar di Lampung adalah Kabupaten Tanggamus. Kabupaten Tanggamus memiliki luas lahan perkebunan kopi sebesar 41.512 ha dengan produksi total sebesar 33.482 ton Salah satu pengaruh lingkungan yang paling esensial adalah iklim. Iklim tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan tanaman, tetapi iklim juga dipengaruhi oleh tanaman. Iklim dapat menjadi faktor yang lebih penting dari pada tanah dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur-unsur iklim seperti suhu udara, radiasi matahari, dan kelembaban mendukung dan berperanan penting secara langsung dalam kegiatan budidaya tanaman. Iklim juga mempengaruhi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah secara tidak langsung. Penelitian ini dilaksanakan di dua Kecamatan yaitu Kecamatan Sumberejo dan Ulubelu pada bulan Juli-Oktober 2020. Berdasarkan hasil observasi dan analisis yang telah didapatkan bahwa kesesuaian agroklimat sebagian kawasan Sumberejo dan Ulubelu masuk kategori kelas kesesuaian S1 atau sesuai namun terdapat satu unsur faktor pembatas yaitu kelerengan. Upaya modifikasi lingkungan berdasarkan nilai kelas kesesuaian maka dianjurkan dalam pembuatan teras agar faktor pembatas dapat ditangani.
Upaya Optimalisasi Hasil Panen Padi Menggunakan Berbagai Model Jarak Tanam Dan Dosis Pupuk Kandang Junaidi Junaidi; Djoko Rahardjo
Jurnal Agrinika: Jurnal Agroteknologi dan Agribisnis Vol 5, No 1 (2021): MARCH
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/agrinika.v5i1.1554

Abstract

This research aims to determine the real interaction between bokashi dose treatment and spacing models on the growth and yield of paddy plants. The study used a 3 x 3 factorial with 3 replications. The first factor was the spacing model which consists of 3 levels, namely J1 = tile spacing model (20 x 20 cm), J2 = Jajar Legowo 4:1 (20 cm x 40 cm x 10 cm), and J3 = Jajar Legowo 2:1 (20 cm x 40 cm x 10 cm). The second factor was the dosage of bokashi fertilizer which consists of 3 levels, namely P1 = 5 tonnes per hectare, P2 = 10 tonnes per hectare, and P3 = 15 tonnes per hectare. The research discovered that there was an interaction effect on plants aged 45 days after planting as well as an increase in yield in the form of an increase in grain weight per plant clump. Model treatment also had a significant effect on plant height at the age of 15 and 30 days after planting. In addition, there were also changes in the number of tillers, productive tillers, seeds per panicle, panicle length, and grain weight per plot for all observed ages. The 4:1 legowo row model treatment resulted in the best growth and production of paddy fields, while the highest production was produced by the legowo row 2:1 treatment. Bokashi dosage treatment was 15 tons per hectare.Isi artikel ini bertujuan mengetahui adanya interaksi yang nyata antara perlakuan dosis bokasi dan model jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial 3 x 3 dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah model jarak tanam yang terdiri dari 3 taraf, yaitu J1 = model jarak tegel (20 x 20 cm), J2 = Jajar Legowo 4 :1 (20 cm x 40 cm x 10 cm), dan J3 = Jajar Legowo 2 : 1 (20 cm x 40 cm x 10 cm). Faktor kedua adalah dosis pupuk bokashi yang terdiri dari 3 taraf yaitu P1 = 5 ton/ha, P2 = 10 ton/ha, dan P3 = 15 ton/ha. Riset yang dilakukan membuktikan bahwa adanya pengaruh interaksi pada tanaman umur 45 hari serta peningkatan hasil panen berupa berat gabah per rumpun yang mengalami kenaikan. Perlakuan model juga memiliki pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada usia 15 dan 30 hari sejak masa tanam. Selain itu juga adanya perubahan pada jumlah anakan, anakan produktif, biji per malai, panjang malai, dan berat gabah per petak semua umur pengamatan. Perlakuan model jajar legowo 4 : 1 menghasilkan pertumbuhan dan produksi padi sawah pertanaman paling baik, sedangkan produksi paling tinggi dihasilkan oleh perlakuan jajar legowo 2 : 1. Perlakuan dosis bokasi 15 ton/ha
Nilai Tambah Baby Fish Ikan Were Menyusul Baby Fish Ikan Nilem sebagai Produk Pangan Fungsional Diki Saepuloh; Ristina Siti Sundari; Budhi Wahyu Fitriadi
Jurnal Agrinika: Jurnal Agroteknologi dan Agribisnis Vol 5, No 1 (2021): MARCH
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/agrinika.v5i1.1543

Abstract

Baby fish is an essential functional food to improve people's nutrient intake that supports food safety and food security. Bonylip barb is an indigenous commercial fish from Tasikmalaya that is well-known for its good taste. Ray-finned fish is also an indigenous fish but not yet as commercial as bonylip barb. Agroindustry based on bonylip barb fish is trending recently affecting scarcity of bonylip barb as raw material. The SMEs tried to provide substitution of bonylip barb with ray-finned fish. A study was conducted to analyse the added value of a baby fish industry made of both bonylip barb and ray-finned fish in Ciawang, Leuwisari, Tasikmalaya Regency. This research descriptively analysed the added value of the product by employing the Hayami method. The result showed that bonylip barb baby fish gave an added value of 12.768 IDR per kilogram with a margin of 25,47% while ray-finned fish baby fish gave an added value of 20.971 IDR with a margin of 43,23%. In conclusion, the ray-finned fish is more potential in creating a higher added value of the baby fish product than bonylip barb.Baby fish merupakan produk pangan fungsional yang perannya menjadi penting dalam perbaikan gizi masyarakat yang mendukung keamanan dan ketahanan pangan rakyat Indonesia. Ikan nilem merupakan ikan unggul khas Tasikmalaya yang sudah terkenal dengan kelezatannya. Agroindustri yang berbahan baku ikan Nilem sangat diminati masyarakat hingga sering terjadi kelangkaan bahan baku. DI samping ikan nilem, terdapat juga ikan were yang belum terkenal, rasanya juga enak namun belum banyak dimanfaatkan secara komersil seperti ikan Nilem. Maka Pengusaha UMKM mencoba memanfaatkan ikan Were untuk dibuat baby fish melengkapi baby fish ikan nilem jika persediaan kosong. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui nilai tambah dari usaha baby fish berahan baku ikan nilem dan were pada UMKM di Ciawang, Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini menganalisis nilai tambah secara deskriptif dengan menggunakan metode Hayami. Responden ditentukan secara sengaja yaitu UMKM baby fish ikan nilem dan ikan were di Kabupaten Tasikmalaya. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai tambah baby fish Nilem sebesar Rp. 12.768 per kilogram dengan tingkat keuntungan yang didapat perusahaan adalah 2.,47%. Sedangkan nilai tambah baby fish were adalah Rp. 20.971 dengan tingkat keuntungan yang didapat perusahaan adalah 43,23%. Maka dapat diketahui bahwa pengolahan baby fish were lebih menguntungkan daripada ikan nilem.
Pertumbuhan Dan Hasil Empat Varietas Jagung Semi (Baby Corn) Pada Berbagai Populasi Saptorini, Saptorini; Sutiknjo, Tutut Dwi
Jurnal Agrinika: Jurnal Agroteknologi dan Agribisnis Vol 5, No 1 (2021): MARCH
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/agrinika.v5i1.1557

Abstract

Corn is native to the tropics and an important food ingredient because it is the third source of carbohydrates in the world after wheat and rice. Apart from being a food commodity, corn can also be categorized as a vegetable when it is harvested before pollination occurs or has not yet produced seeds, commonly called baby corn. Baby corn is a very profitable alternative for farmers due to short harvest time, high demand, and high nutrition. A research was conducted in the experimental garden of the Faculty of Agriculture, Kadiri University, Kediri. The environmental design used was factorial randomized block design (RBD). The total treatment was 16 treatment combinations which were repeated three times so that there were 48 experimental units. The treatment in the experiment was a combination of two factors, namely the corn cultivar factor which consisted of four levels and the corn population factor which also consisted of four levels. The CPI-2 variety was highly suitable for narrow spacing with high plant density. The CPI2 variety was able to show the highest yield on weight parameters with and without husks compared to other varieties. This was able to increase productivity per unit area of land.Jagung merupakan tanaman asli daerah tropika, jagung termasuk sumber karbohidrat ketiga setelah gandum dan beras yang menjadikannya komoditas pangan penting. Selain sebagai komoditi pangan, jagung juga dapat dikategorikan sebagai sayuran ketika di panen sebelum terjadi penyerbukan atau belum menghasilkan biji, biasa disebut jagung semi (Baby corn). Jagung semi menjadi alternatif yang sangat menguntungkan bagi petani karena waktu panennya sangat singkat, permintaan tinggi, dan gizi yang tinggi. Penelitian dilakukan di lahan percobaan milik Fakultas Pertanian, Universitas Kadiri, Kediri. Penelitiaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial. Perlakuan pada percobaan adalah kombinasi dua faktor, yaitu faktor kultivar jagung semi yang terdiri atas empat taraf dan faktor populasi tanaman yang juga terdiri atas empat taraf. Total perlakuan terdiri dari 16 kombinasi perlakuan dengan ulangan sebanyak tiga kali sehingga didapat 48 satuan percobaan. Varietas CPI-2 sangat cocok dengan jarak tanam rapat dan kerapatan tanaman yang tinggi. Varietas CPI-2 mampu menunjukkan hasil tertinggi pada parameter bobot tongkol berkelobot maupun tanpa kelobot dibanding varietas lainnya. Hal tersebut dapat meningkatkan produktivitas per satuan luas lahan. 
Pengaruh Penggunaan KNO3 pada Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jack) Fase Pre-Nursery Kresna Shifa Usodri; Bambang Utoyo
Jurnal Agrinika: Jurnal Agroteknologi dan Agribisnis Vol 5, No 1 (2021): MARCH
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/agrinika.v5i1.1521

Abstract

Fulfillment of quality seeds in the effort of increasing oil palm productivity can be done by means of appropriate fertilization. One of the fertilizers that can be used to optimize seedling growth in the pre-nursery is by using KNO3. The objective of this research was to find out KNO3 concentration in optimizing the growth of oil palm seedlings in the prenursery phase. The research was conducted in the Oil Palm Nursery Unit of Politenik Negeri Lampung. The experimental design used was a single treatment with five replications. The treatments consisted of the recommended compound NPK fertilizer (P1), 1% concentration of KNO3 fertilizer (P2), 2% concentration of KNO3 fertilizer (P3), 3% concentration of KNO3 fertilizer (P4), and 4% concentration of KNO3 fertilizer (P5). Once the results of analysis of variance was significant, the analysis was proceeded with the least significant difference test (LSD) at significance level of 5%. The results showed that the application of KNO3 had a significant effect on the growth of oil palm seedlings in the pre-nursery phase. Application of KNO3 fertilizer with a concentration of 4% (P5) showed higher growth yields than other treatments in the pre-nursery phase of oil palm seedlings.Pemenuhan bibit berkualitas dalam upaya peningkatan produktivitas kelapa sawit, dapat dilakukan dengan cara pemilihan jenis pupuk yang sesuai. Salah satu pupuk yang dapat digunakan dalam mengoptimalkan pertumbuhan bibit di pre-nursery adalah dengan menggunakan KNO3. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan konsentrasi pupuk KNO3 yang tepat dalam mengoptimalkan pertumbuhan bibit tanaman kelapa sawit pada fase pre-nursery. Penelitian dilakukan di Unit Pembibitan Kelapa Sawit, Politenik Negeri Lampung. Rancangan percobaan yang digunakan adalah perlakuan tunggal dengan lima ulangan. Perlakuan terdiri dari pupuk NPK majemuk anjuran (P1), pupuk KNO3 konsentrasi 1% (P2), pupuk KNO3 konsentrasi 2% (P3), pupuk KNO3 konsentrasi 3% (P4), dan pupuk KNO3 konsentrasi 4% (P5). Apabila hasil dari analisis ragam signifikan, maka pengujian data dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi KNO3 berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada fase pre-nursery. Pemberian pupuk KNO3 dengan konsentrasi 4% (P5) menunjukkan hasil pertumbuhan bibit yang lebih optimal dibandingkan dengan perlakuan lainnya pada fase pre-nursery
Keefektifan Patogenesitas Steirmema Carpocapsae (all strain) terhadap Hama Plutella xylostella L. Mariyono Mariyono; Eko Yuliarsha Sidhi; Nugraheni Hadiyanti
Jurnal Agrinika: Jurnal Agroteknologi dan Agribisnis Vol 5, No 1 (2021): MARCH
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/agrinika.v5i1.1555

Abstract

The utilization of entomopathogenic nematodes is an example of the uses of an environmentally friendly biological agent. Entomopathogenic nematodes of the family Steinernematidae and Hetrorhabditidae are very potential to control insect pests. The purpose of this study was to study the pathogenicity of the entomopathogenic nematode Steinernema carpocapsae (all strains) as a biological control against Plutella xylostella. This research includes 2 stages, namely the preparation stage and laboratory experiments. The experimental design in this study was a completely randomized design (CRD) consisting of six treatments and three replications. The treatments tested were entomopathogenic nematode concentrations consisting of six levels: 0, 8, 16, 32, 64 and 128 infective juvenile per ml. The LC50 and LT50 values were calculated using Probit analysis. The results of observations of nematodes that enter the insect body and pest mortality were analyzed using analysis of variance (ANOVA), once showing a significant difference, it was then continued to the DMRT test at 5% level. Based on the results of the study, the highest pathogenicity against Plutella xylostella was Steinernema carpocapsae (all strains) when compared to Steinernema glaseri (NC) and Steinernema sp. local isolates. Resistance to Steinernema carpocapsae (all strains) and the LC50 value were determined by the age of Plutella xylostella larvae. The bigger and older the larvae, the more its resistance to Steinernema carpocapsae (All strains) and the LC50 value. The number of entomopathogenic nematodes that enter the body of Plutella xylostella increased with increasing length of contact time.Penggunaan nematoda entomopatogen merupakan salah satu pemanfaatan agensia hayati yang ramah lingkungan. Nematoda entomopatogen dari famili Steinernematidae dan Hetrorhabditidae sangat potensial untuk mengendalikan serangga hama. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari patogenisitas nematoda entomopatogen Steinernema carpocapsae (all strain) sebagai pengendali hayati terhadap hama Plutella xylostella. Penelitian ini meliputi 2 tahap yaitu tahap persiapan dan percobaan laboratorium. Rancangan percobaan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri enam perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah konsentrasi nematoda entomopatogen yang terdiri enam taraf: 0, 8, 16, 32, 64 dan 128 infektif juvenile/ml. Nilai LC50 dan LT50 dihitung menggunakan analisis probit. Hasil pengamatan nematoda yang masuk dalam tubuh serangga dan mortalitas hama dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA), apabila menunjukkan beda nyata dilanjutkan uji DMRT taraf 5%. Berdasarkan hasil penelitian, patogenisitas tertinggi terhadap Plutella xylostella adalah Steinernema carpocapsae (all strain) bila dibandingkan dengan Steinernema glaseri (NC) dan Steinernema sp. isolat lokal. Ketahanan terhadap Steinernema carpocapsae (All strain) dan nilai LC50 ditentukan umur larva Plutella xylostella. Semakin besar dan tua umur larva, ketahanan terhadap Steinernema carpocapsae (All strain) dan nilai LC50 juga semakin meningkat. Jumlah nematoda entomopatogen yang masuk kedalam tubuh Plutella xylostella semakin banyak seiring dengan bertambah lamanya waktu kontak.
Pengaruh Motivasi, Lingkungan dan Pengalaman Pemuda Tani dalam Melanjutkan Usahatani Kopi di Desa Kelurahan Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang Fadhlan Jamil Putra; Tutik Dalmiyatun; Agus Subhan Prasetyo
Jurnal Agrinika: Jurnal Agroteknologi dan Agribisnis Vol 5, No 1 (2021): MARCH
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/agrinika.v5i1.1416

Abstract

Tani Rahayu farmer group hopes that the youth in the Kelurahan Village will continue and develop coffee farming on their own accord. A study aimed to analyze the interest of rural youth in continuing coffee farming in the Kelurahan Village, Jambu District, Semarang Regency, to analyze the factors that influence rural youth in continuing coffee farming, and to analyze the influence of motivation, experience, and environmental factors on youth interest in continuing coffee farming. The Kelurahan Village was chosen as research location based on the consideration that the farmer groups in Kelurahan Villages have developed an agritourism. The number of samples was determined by census from the youth whose parents were members of the Tani Rahayu farmer group as many as 39 youths. Data collection was carried out by conducting interviews based on a prepared questionnaire. Data were analyzed using multiple linear regression. The results showed that motivation is the variable that most influenced the youth's interest in Tani Rahayu farmer groups. Experience and the environment influence youth interests as well. Youth interest will arise when motivation, experience, and environment support youth in continuing coffee farming.Kelompok tani rahayu memiliki harapan kepada pemuda di Desa Kelurahan untuk melanjutkan dan mengembangkan usahatani kopi atas keinginannya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis minat pemuda pedesaan dalam melanjutkan usahatani kopi di Desa Kelurahan, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, menganalisis faktor yang mempengaruhi pemuda desa dalam melanjutkan usahatani, dan menganalisis pengaruh faktor motivasi, pengalaman, lingkungan terhadap minat pemuda dalam melanjutkan usahatani. Desa Kelurahan dipilih sebagai lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa Desa Kelurahan memiliki kelompok tani yang mengembangkan agrowisata. Jumlah sampel ditentukan dari pemuda yang orang tuanya tergabung di kelompok tani rahayu sebanyak 39 pemuda sebagai responden, sedangkan penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan sensus. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara berdasarkan kuesioner yang telah dipersiapkan. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil diketahui bahwa motivasi merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap minat pemuda di kelompok tani rahayu. Pengalaman dan lingkungan memiliki pengaruh terhadap minat pemuda. Minat pemuda akan timbul ketika motivasi, pengalaman dan lingkungan mendukung pemuda dalam melanjutkan usahatani.
Studi Komparasi Usaha Budidaya Tebu (Saccharum officinarum L.) Varietas Cening (Klon TK 386) dan Varietas PS 864 di Kabupaten Tuban Jawa Timur Ni Dewi Ambal Ikka; Ika Purnamasari; Moch. Setiawan
Jurnal Agrinika: Jurnal Agroteknologi dan Agribisnis Vol 5, No 1 (2021): MARCH
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/agrinika.v5i1.1553

Abstract

Currently, farmers cultivate several varieties of sugarcane. This causes difficulties for sugarcane farmers to determine which varieties are the best in achieving farming efficiency. This study was aimed to determine the income from sugarcane cultivation of cening variety (Clon TK 386) and PS 864 variety and to compare the efficiency of both varieties. Methods of data analysis was a quantitative analysis, namely the income analysis, R/C Ratio, and t-test. The results showed that the total costs incurred for sugarcane cultivation were IDR 32,845,000 from cening variety and IDR 32,310,000 from PS 864 variety. Revenue earned from the cening variety was IDR 63,864,400 with an income of IDR 31,019,400. Meanwhile, the revenue earned from PS 864 variety was IDR 59,187,800 with an income of IDR 26,877,800. In the cening variety sugarcane cultivation business, the R/C Ratio value was 1.94, while for the PS 864 variety, the R/C Ratio value was 1.83. A ratio greater than 1 indicated that both the cening variety and PA 864 sugarcane cultivation was profitable and feasible. The results of the t-test showed that the efficiency level of the cening variety sugarcane cultivation resulted in a higher business efficiency than the efficiency of the PS864 sugarcane cultivation. Based on the research results, it can be recommended that cening sugarcane cultivation (Clon TK 386) should be developed because it is more profitable and efficient. Saat ini banyak varietas tebu yang dibudidayakan oleh petani. Banyaknya varietas tersebut akan menimbulkan kesulitan bagi petani tebu untuk menentukan varietas mana yang akan dikembangkan dan mencapai efisiensi usahatani yang tinggi. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat pendapatan usaha budidaya tebu varietas cening (Klon TK 386) dan varietas PS 864 serta untuk mengetahui perbandingan efisiensi usaha budidaya tebu varietas cening (Klon TK 386) dan varietas PS 864. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis pendapatan, analisis R/C ratio dan Uji T-Test. Hasil penelitian menunjukkan biaya total yang dikeluarkan untuk usaha budidaya tebu yaitu sebesar Rp 32.845.000,00 (varietas cening) dan Rp 32.310.000,00 (varietas PS 864). Penerimaan usaha budidaya tebu varietas cening sebesar Rp 63.864.400,00 dengan pendapatan sebesar Rp 31.019.400,00. Sedangkan penerimaan usaha budidaya tebu varietas PS 864 sebesar Rp 59.187.800,00 dengan pendapatan sebesar Rp 26.877.800,00. Pada usaha budidaya tebu varietas cening diperoleh nilai R/C Ratio 1,94, sedangkan untuk varietas PS 864 diperoleh nilai R/C Ratio 1,83. Besarnya Ratio lebih besar dari 1 menunjukkan bahwa usaha budidaya tebu varietas cening dan varietas PA 864 menguntungkan dan layak untuk diusahakan. Hasil uji T-test menunjukkan tingkat efisiensi usaha budidaya tebu varietas cening menghasilkan efisiensi usaha yang lebih tinggi dibanding efisiensi usaha budidaya tebu varietas PS864. Berdasarkan hasil penelitian dapat direkomendasikan usaha budidaya tebu varietas Cenning (KLON TK 386) perlu dikembangkan karena lebih menguntungkan dan efisien.
Tingkat Kinerja Petugas Lapang Program Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS) dI Kecamatan Getasan Sumekar, Wulan; Prasetyo, Agus Subhan; Nadhila, Fiska Irsina
Jurnal Agrinika: Jurnal Agroteknologi dan Agribisnis Vol 5, No 1 (2021): MARCH
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/agrinika.v5i1.1538

Abstract

The main thing needed in the implementation of the cattle business insurance program (AUTS) to run effectively and achieve its goals is the presence of professional field officers. The professionalism of field officers is closely related to the level of their performance. One of the problems occurring in implementing the field program is the low performance of the field officers. Therefore, this research was conducted to measure the performance level of the AUTS field officers by survey research. The research was conducted in Getasan District, Semarang Regency. The research location was selected with the consideration that this location is the centre of dairy cattle in Semarang Regency and has implemented the AUTS program. The technique of determining the respondents used was purposive sampling with the number of respondents who were taken as many as 56 breeders. Respondents were selected based on dairy farmers who have doing insurance claims. This study uses descriptive analysis and ranks Spearman correlation analysis. Overall, the results of the study indicate that the performance of the field officers is in a good category. This condition is supported by good knowledge, skills, and attitudes shown by field officers in carrying out the AUTS program. Based on the results of Spearman rank analysis showed that variables of knowledge and attitude have a highly strong correlation with the value of Rs respectively 0.84 and 0.73. The skill variable has a relatively weak correlation with the value of Rs 0.70. In addition, variables of knowledge, skills, and attitudes have a positive relationship and statistically significant. Hal utama yang dibutuhkan dalam pelaksanaan program asuransi usaha ternak sapi (AUTS) supaya berjalan efektif dan tercapainya tujuan diperlukan keberdaan dari petugas lapang yang professional. Profesionalitas petugas lapang erat kaitannya dengan tingkat kinerja. Permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan program dilapangan salah satunya disebabkan oleh rendahnya kinerja dari petugas lapang. Oleh karena itu, penelitian ini dillakukan bertujuan untuk mengukur tingkat kinerja petugas lapang AUTS. Penelitian ini adalah penelitian survei. Penelitian dilakukan di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Lokasi penelitian dipilih dengan pertimbangan bahwa lokasi ini merupakan sentra sapi perah di Kabupaten Semarang dan telah menjalankan program AUTS. Teknik penentuan responden yang digunakan yaitu purposive sampling dengan jumlah responden yang di ambil sebanyak 56 peternak. Responden dipilih berdasarkan peternak yang sudah pernah melakukan klaim asuransi ternak. Penelitian ini menggunakan analisis diskriptif dan analisis korelasi rank spearman. Secara kesuluruhan hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja petugas lapang berada pada kategori baik. Kondisi ini didukung dengan pengetahuan, ketrampilan dan sikap petugas yang baik dalam menjalankan program AUTS. Dari analisis rank spearman didapatkan hasil variabel pengetahuan dan sikap memliki hubungan yang sangat kuat dengan nilai Rs masing-masing 0,84 dan 0,73. Sedangkan variabel ketrampilan pertugas lapang tergolong dalam katogori kuat dengan nilai Rs 0.70. Selain itu variabel pengetahuan, ketrampilan dan sikap memliki arah hubungan yang positif, signifikan dan nyata.
Dampak Kebijakan Tarif Impor Terhadap Ekonomi Kedelai Indonesia Laily, Dona Wahyuning; Roidah, Ida Syamsu; Purnamasari, Ika
Jurnal Agrinika: Jurnal Agroteknologi dan Agribisnis Vol 5, No 1 (2021): MARCH
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/agrinika.v5i1.1552

Abstract

Soybean is the main crop of the palawija system which is commonly applied in Indonesia. In the national economic system, soybean is a commodity owning strategic values due to its ability to supply nutrients needed by the community and a source of income for farmers. Demand for soybean is likely to continue to increase in line with population growth, increase in per capita income, increase in public awareness of nutritional adequacy, and the development of livestock preparation and silage industries. Given the high trend of soybean demand in the future, efforts to increase domestic soybean production are becoming increasingly important. Meanwhile in the future, the policy to protect domestic soybean farmers will be limited due to the demands of free trade. Considering that soybean is consumed in the form of processed food, the increasing demand for soybeans in the future indicates that there will be more opportunities for the development of home industries to produce this food. The need for soybeans as raw material for agro-industry cannot currently be met by domestic soybean production, both in terms of quality and quantity. This causes the need for imported soybeans to be even greater. Domestic soybean production, both in quality and quantity, seems to be unable to meet the soybean needed for industrial raw materials, thus causing a higher tendency for imported soybean demand. Therefore, import tariff policies in the face of world trade liberalization must be regulated in such a way by taking into account the interests of producers, consumers, and the government. This policy is still needed in realizing the independence of export quality soybeans. Kedelai adalah tanaman utama Sistem Palawija yang umum diterapkan di Indonesia. Dalam sistem perekonomian nasional, kedelai menjadi komoditas yang memiliki nilai strategis karena memiliki kemampuan untuk memasok hara yang dibutuhkan oleh masyarakat dan merupakan sumber pendapatan bagi petani. Permintaan kedelai akan terus meningkat seiring dengan adanya peningkatan jumlah penduduk, pertambahan pendapatan perkapita tiap penduduk, meningkatnya kesadaran masyarakat akan gizi yang cukup, serta berkembangnya industri persiapan dan silase ternak. Melihat masih tingginya trend permintaan kedelai di masa datang, upaya peningkatan produksi kedelai di dalam negeri menjadi semakin penting. Sementara itu di masa depan kebijaksanaan untuk melindungi petani kedelai di dalam negeri semakin terbatas peluangnya karena tuntutan perdagangan bebas. Mengingat sebagaian besar kedelai dikonsumsi dalam bentuk bahan pangan olahan, meningkatnya permintaan kedelai di masa depan menunjukkan semakin terbukanya peluang pengembangan industri rumah tangga untuk memproduksi bahan pangan tersebut. Kebutuhan akan kedelai sebagai bahan baku agroindustri saat ini tidak dapat dipenuhi oleh produksi kedelai dalam negeri baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hal ini menyebabkan kebutuhan akan kedelai impor akan semakin besar. Kedelai yang dibutuhkan untuk bahan baku industri tampaknya tidak dapat dipenuhi oleh produksi kedelai dalam negeri, baik kualitas maupun kuantitasnya, sehingga menyebabkan kecenderungan permintaan kedelai impor semakin tinggi. Oleh karena itu, kebijakan tarif impor dalam menghadapi liberalisasi perdagangan dunia harus diatur sedemikian rupa dengan memperhatikan kepentingan produsen, konsumen, dan pemerintah. Kebijakan ini tetap diperlukan dalam mewujudkan kemandirian kedelai kualitas ekspor.

Page 1 of 1 | Total Record : 10