cover
Contact Name
Nuraini
Contact Email
jsa@radenfatah.ac.id
Phone
+6282184834317
Journal Mail Official
jsa@radenfatah.ac.id
Editorial Address
http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/jsa/about/editorialTeam
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Studi Agama
ISSN : -     EISSN : 26559439     DOI : https://doi.org/10.19109/jsa.v4i1.6158
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Studi Agama promotes interdisciplinary approaches to any of the worlds religious spiritual traditions, and invites contributions from scholars in various fields, notably: theology comparative studies in religion and politics theoretical or methodological discussions thoughts, ideologies and philosophies philosophy of religion psychology of religion history of religions sociology of religion role of religion in culture and society religious ethics religion and literature religion and art religion and media religion and linguistics religion and health
Articles 103 Documents
Keharmonisan dalam Kehidupan Umat beragama Perspektif Pendeta di Indonesia Ramadhanita Mustika Sari
Jurnal Studi Agama Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v4i1.6158

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang urgensi keharmonisan kehidupan umat beragama. Kemudian mendeskripsikan pendapat pendeta mengenai kehidupan umat beragama yang harmonis. Untuk kemudian dijabarkan dampak pandangan pendeta sebagai elit agama terhadap kehidupan umat beragama yang harmonis. Data dikumpulkan dengan mengkombinasi dua teknik pengumpulan data, yakni wawancara dan observasi. Teknik wawancara tak terstruktur digunakan untuk mengumpulkan data terkait makna keharmonisan, serta minset pendeta tentang makna pentingya kehidupan keagamaan yang harmonis. Kemudian digunakan juga teknik observasi partisipan untuk mendukung data yang telah didapat dari hasil wawancara. Observasi dilakukan dengan mengamati kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh pendeta. Sehingga mereka selalu berupaya untuk tidak melakukan hal-hal ataupun perkataan yang dapat menimbulkan konflik. Kesimpulan dari tulisan ini, yaitu bagi pendeta keharmonisan adalah sebuah keharusan dalam interaksi sosial umat beragama. Sehingga selalu diupayakan agar kehidupan yang rukun dan harmonis selalu terjalin. Pendeta juga memiliki minset tentang makna pentingnya kehidupan keagamaan yang harmonis. Hal tersebut berpengaruh dalam pelayanan umat. Mereka selalu berupaya untuk tidak melakukan hal-hal ataupun perkataan yang dapat menimbulkan konflik umat beragama. Sebab, seorang pendeta adalah pemimpin agama yang perkataannya akan selalu diikuti oleh umatnya. Sehingga apabila pendeta berfikiran bahwa penting untuk menjalani hubungan yang baik kepada semua orang, dengan tidak membedakan latar belakang agama. Maka, sangat membantu terwujudnya kerukunan umat beragama. Kata Kunci: harmonis, pendeta, kerukunan
TOLERANSI DAN PRAKTIKNYA DALAM PANDANGAN AGAMA KHONGHUCU M Thoriqul Huda; Rikhla Sinta Ilva Sari
Jurnal Studi Agama Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v4i1.6159

Abstract

Saling menghargai dan saling menghormati adalah suatu sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang untuk terwujudnya suatu toleransi. Toleransi merupakan aspek terpenting dalam hidup bermasyarakat. Dimana dalam hidup bermasyarakat tentu semua orang menginginkan hidup yang aman, tentram, dan damai. Namun, tidak dapat dipungkiri juga bahwasanya dalam bermasyarakat akan banyak di jumpai perbedaan, mulai dari sifat, perilaku, budaya, etnis, bahkan agama orang lain yang berbeda. Perbedaan dapat membawa kita pada dua hal yang berlawanan yakni permusuhan dan perdamaian. Perbedaan dapat menjadi permusuhan jika diri kita tidak mampu untuk menyikapi perbedaan itu sendiri, dan justru dapat menjadi perdamaian jika kita dapat menerima dan menghormati perbedaan tersebut. Perbedaan agama banyak menimbulkan konflik, namun dewasa ini banyak orang beragama yang sadar akan perbedaan dan mulai menanamkan sikap toleransi didalam dirinya. Seperti halnya didalam agama Khonghucu, agama etnis Tionghoa ini juga menjunjung tinggi rasa toleransi. Hal tersebut dilakukan dengan alasan bahwa perbedaan merupakan hal yang pasti adanya dan perbedaan seharusnya tidak untuk memecah belah melainkan untuk saling melengkapi. Seperti halnya pemeluk agama Khonghucu yang ada di Indonesia, mereka sangat menghargai perbedaan. Etnis Tionghoa itu sadar bahwa Indonesia adalah suatu Negara yang beragam, dan Indonesia lahir dari adanya perbedaan tersebut. Hal itu membuktikan bahwa perbedaan membawa persatuan, bukan malah membawa kehancuran. Dalam agama Khonghucu juga diajarkan mengenai toleransi, yang mana hal tersebut kemudian diimplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan keberagaman. Misalkan saja di dalam kawasan klenteng Boen Bio di Surabaya, mereka menghargai, menghormati, dan saling memahami dengan masyarakat sekitar yang berbeda keyakinan dengan mereka. Kata kunci: Toleransi, Agama Khonghucu, Klenteng Boen Bio
Dunia dan Dīn (Agama) di Tengah Arus Globalisasi Rahmat Hidayat
Jurnal Studi Agama Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v4i1.6160

Abstract

Globalisasi sebagai sebuah proses atau keharusan sejarahmampu mempengaruhi segala lini kehidupan manusia. Perkembangannya yang begitu pesat mesti disikapi secara proporsional, terlebih bagi umat Islam yang memiliki tatanan ajaran global, yang tetap relevan seiring dengan berkembangnya zaman. Globalisasi yang berlangsung dewasa ini cenderung kapada urusan duniawi yang sarat dengan unsur-unsur modernitas, yang dampaknya dapat dirasakan tidak hanya dilihatdari aspek ekonomi, sains dan teknologi sajamelainkan aspek-aspek lainnya seperti budaya, fun, fashion, sosial, gaya hidup (life style), pendidikan, politik, pemikiran dan Agama.Tulisan ini bertujuan untuk memetakan di mana wilayah globalisasi, apakah ke ranah dunia atau Agama dan bagaimana dampak globalisasi Agama? Kata Kunci: globalisasi, dunia, agama
GAGASAN POLA BACA STUDI KEAGAMAAN; ANTARA INSIDER/OUTSIDER DAN MULTIDIMENSIONAL APPROACHES Hijrian Angga Prihantoro; Beko Hendro
Jurnal Studi Agama Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v4i1.6161

Abstract

Studi keagamaan merupakan diskursus pengetahuan yang berkaitan dengan cara manusia membaca dan mengkaji ajaran agama atau laku keagamaan manusia beragama. Agama tentu tidak melulu tentang ritual peribadatan semata, melainkan juga tentang peradaban manusia. Keberadaan manusia yang terikat dalam ruang dan waktu mengindikasikan bahwa pengalaman dan pengetahuan manusia itu berbatas. Kesadaraan keagamaan dalam diri dan/atau masyarakat beragama meniscayakan perbedaan pemikiran dan tingkah laku dalam frame intelektual dan interaksi sosialnya. Maka problem filsafati yang muncul adalah dapatkah manusia, berdasarkan pengalamannya, benar-benar mampu memahami pengalaman manusia beragama lain yang sepenuhnya berbeda? Serta bagaimana agar kajian keagamaan tetap menjaga objektivitas dari subjektivitas pengkajinya? Berdasaran standpoint ini, perspektif Insider/Outsider memainkan peran penting, namun dalam konteks kehidupan beragama yang heterogen, plural dan multikultural tidak berhenti pada pola baca kuadrik dimensional sehingga membutuhkan pendekatan yang jauh lebih komprhensif. Pada titik ini, multidimensional approaches sebagai pola baca studi keagamaan yang ideal memiliki pijakan paradigmatiknya di mana ia berupaya untuk mengentitaskan agama yang sakral agar dapat dipahami oleh manusia secara netral. Kata Kunci: studi agama, perspektif orang dalam / orang luar, pendekatan multidimensi
REVOLUSI MENTAL DALAM PERSPEKTIF AL QURAN Sulaiman Mohammad Nur
Jurnal Studi Agama Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v4i1.6162

Abstract

Al Quran merupakan petunjuk dan pedoman umat Islam, Revolusi Mental adalah perubahan singkat pada tatanan masyarakat tertentu dalam melakukan pembaharuan-pembaharuan, terutama pembaruan Mental yang ada di Indonesia saat ini. Untuk itu mewujudkan Revolusi Mental yang sesuai dengan pandangan Al Quran besar kaitannya dengan Iman, Hijrah dan Jihad. Indonesia harus meng-implemetasikan Al Quran sebagai pedoman umat islam, demi kemajuan bangsa dalam menghadapi tantangan modernisasi abad ke 21 ini dan seterusnya. Sehingga dapat menggambarkan secara umum tentang Revolusi Mental, maka dengan adanya Revolusi Mental dalam perspektif Al Quran tidak adanya hal segala cara bangsa dalam melaksanakan pembaruan-pembaruan terutama yang berkaitan dengan perubahan Iman, Hijrah dan Jihad, adanya nilai spiritual dalam jiwa sebagai penopang bangsa dalam mewujudkan revolusi mental yang sesuai dengan ajaran Al Quran. Dalam mewujudkan masyarakat yang memiliki politik yang religius karena pada sebuah bangsa kekuatan mental saja belum cukup, tapi harus didasari dengan pengetahuan islam dan semangat yang religius. Jika hal itu di gabungkan maka akan menghasilkan keseimbangan yang sangat ideal dalam kehidupan beragama dan bernegara. Dan produk yang dihasilkan mempunyai nilai dunia dan akhirat. Kata Kunci: revolusi mental, al quran
KEBIJAKAN DAN KONFLIK PENDIRIAN RUMAH IBADAH DI INDONESIA Nugroho, Nugroho
Jurnal Studi Agama Vol. 4 No. 2 (2020): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v4i2.7341

Abstract

A house of worship is one of the essential teachings of every religion because every religion has procedures for realizing human service to God who created it. Each religion has different processions of rituals from one another, according to the timing and naming of these rituals. Therefore, the aspect of worship and the aspect of a house of praying is an inseparable definition. This paper discusses the construction of places of worship from the point of view of religious politics implemented in state regulations. Government intervention in religious life is needed to regulate life to live in harmony and mutual respect. Government intervention has also been carried out by the Indonesian government during the colonial, post-colonial, old order, new order, up to now. It can be seen in the existence of regulations regarding the construction of places of worship as stipulated in SKB No. 01 / Ber / Mdn-Mag / 1969 and PBM number 8 and 9 of 2006. The regulations regarding the establishment of worship places in Indonesia have received various responses from religious groups, especially Islam and Christianity. Often these regulations also resulted in violence, arson, and the closure of places of worship. The arduous process to establish worship places is experienced by Muslims in eastern Indonesia. For Christians, the license requires the approval of a community of about 60 people is also difficult to gain.
KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM PEMBAGIAN HARTA WARIS MENURUT MASYARAKAT KHONGHUCU PALEMBANG Yulia Puspita
Jurnal Studi Agama Vol 4 No 2 (2020): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The position of women in the traditions of the previous Confucian society was less favorable, because women did not have the right to organize their own live. There was always a male role who controls all aspects of life. The same goes for the distribution of inheritance. Boys were prioritized over girls, because the concept of customary law and boys are responsible for the survival of the extended family. While the daughter when married she becomes part of her husband’s extended family. However, there are some confucian traditions that have adapted to modern times, such as the Confucian community at Jl. Puding Kel. Demang Lebar Daun Kec. Ilir Barat I Palembang. Most of people in the community, the distributian of inheritance is divided equally between men and women. This type of research is field research. The type of data used is qualitative data.
PERAN BADAN PENASIHATAN PEMBINAAN PELESTARIAN PERKAWINAN (BP4) KUA TERHADAP KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) Putri Diana; Nur Fitriyana
Jurnal Studi Agama Vol 4 No 2 (2020): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Even though the government issues Law of the Republic of Indonesia Number 23 of 2004 to combat domestic violence cases in Indonesia, those have still happened. In response, the Government religious office (KUA) has founded Marriage Preservation Advisory Board (BP4) in charges to suppress domestic violence. Surveying the community of Kelurahan 10 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang, the findings are: First, there are two forms of domestic violence, namely: physical and psychological violence caused by economic factors, lack of knowledge of religion, disobedience of wives to husbands, and lack of understanding of both partners. The two roles of BP4 KUA in carrying out their duties as an advisory body for fostering marriage preservation are: (1) conducting marriage courses every Monday-Wednesday (2) collaborating with RT (Rukun Tetangga) (3) to propagate the Islamic concept of sakinah (tranquility) as part of iman and pious (5) to improve legal consulting services (6) to hold seminars once a year. Also, stages of solving domestic violence cases are (1) coaching (2) research and checking
PERKEMBANGAN INTELEKTUALISME KEAGAMAAN DI NUSANTARA Rusli, Risan; herwansyah, Herwansyah; Toharuddin, Toharuddin
Jurnal Studi Agama Vol. 4 No. 2 (2020): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v4i2.7350

Abstract

Islam is rahmatan Lil 'Alamin, the universal religion. It means that its mission and teachings are not only for one group or country but all men. However, the meaning of the universality of Islam among Muslims is not uniform. Some group defines that the teachings of Islam brought by the Prophet Muhammad based Arabic culture are final, so this must be taken as granted as they are. Some groups also interpret the universality of Islamic teachings as being not limited to time and place. Hence it can blend into any culture. The first group has the ambition to uniform all Islamic cultural-based into one, as practiced by the Prophet Muhammad. They don't accept any particularity. This group is called fundamentalist. However, the second group considers that Islam is a value that can adapt to all existing cultures. Islam lies in its value, not its physical form. This group is called the substantive group. However, apart from both, another group reckons some Islamic value is fundamental and can not adjust to cultures.
TRADISI RITUAL SOSIAL: RUANG PERJUMPAAN LINTAS ETNIS DAN AGAMA Faisal Faisal
Jurnal Studi Agama Vol 4 No 2 (2020): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v4i2.7382

Abstract

A number of structural and cultural efforts by the government and society continue to be made to instill multicultural awareness. One that has recently emerged is the urgency of meeting spaces that bring people across ethnicities and religions. Meeting spaces can be created in various forms of activity. However, a number of traditions in various regions that have taken place so far have functioned as meeting spaces. That social capital has become the glue of integrity across ethnicities and religions, without coercion and feeling of being disadvantaged by one another. This paper is a limited research that shows a number of social ritual traditions that flow beyond ethnic and religious boundaries and function as spaces of encounter. In the midst of the still problematic diversity for some communities, looking further and deeper, improving functions and preserving these social ritual traditions are very important to accompany various government programs in strengthening national harmony and integrity.

Page 4 of 11 | Total Record : 103