Jurnal Filsafat Indonesia
Jurnal Filsafat Indonesia is a scientific journal published by LPPM Ganesha Educational University, which publishes scientific articles on the development and research in philosophy. Journal of Philosophy is published three times a year, in April, June, and September. Editorial Team Journal of Philosophy accepts manuscripts in the field of philosophy which have never been published in other media. The Editorial Team has the right to edit the text to the extent that it does not change the substance of its contents.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 4 No. 2 (2021)"
:
10 Documents
clear
PENGARUH TEKNOLOGI DI TENGAH PANDEMI BAGI SOSIALITAS REMAJA DALAM PERSPEKTIF ARMADA RIYANTO
Robertus Syukur;
Dr. Antonius Denny Firmanto, M.Pd
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i2.30316
AbstrakManusia adalah makhluk sosial. Menyadari hakikat ini, tulisan ini bertujuan untuk melihat pengaruh teknologi di tengah pandemi bagi hakikat manusia yang sosialitas dalam perspektif Armadad Riyanto. Metode yang digunakan dalam penulisan ini ialah pembacaan kritis. Melihat perkembangan virus corona di Indonesia semakin meningkat, segala kegiatan pun terhambat termasuk proses pendidikan yang kini menuntut penggunaan terknologi, sehingga kebutuhan akan teknologi semakin meningkat. Pengaruh dari teknologi pun akan sangat terasa, terlebih khusus di kalangan masyrakat yang sebelumnya jarang atau bahkan belum mengenal teknologi. Dampak dari penggunaan teknologi sangat bersentuhan langsung dengan hakikat manusia yang sosialitas. Sosialitas dalam pandangan Armada Riyanto ialah menjadi sesama bagi sesama yang terungkap nyata dalam kehidupan konkret atau dengan kata lain sosialitas manusia ada dalam kesehariannya. Pandangan ini mengungkapkan kejelasasn mengenai hakikat manusia yang mestinya sosialitas. Pengaruh teknologi terhadap hakikat manusia yang sosialitas ini pun terlihat sangat jelas. Ada pengaruh yang baik dan ada pula pengaruh yang kurang baik bagi hakikat manusia yang memiliki sifat soaialitas.
KONSEP METAFISIKA DALAM FALSAFAH JAWA HAMEMAYU HAYUNING BAWANA
Dela Khoirul Ainia
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i2.30591
AbstrakPenelitian ini secara garis besar bertujuan untuk memahami konsep falsafah jawa Hamemayu Hayuning Bawana yang selama ini menjadi pandangan hidup masyarakat jawa berdasarkan pandangan metafisika. Dalam hal ini manusia hidup berdampingan dengan alam dan tidak dapat dipisahkan dari unsur yang lain. Manusia dapat bereksistensi karena ada perantara pengada dalam suatu realitas. Konsep falsafah jawa hamemayu hayuning bawana merupakan konsep yang ditekankan keseimbangan kehidupan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia hubungannya dengan Tuhan kaitannya dengan menjalankan kehidupan di dunia. Masyarakat Jawa dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari masih memegang kuat prinsip hidup yang berhubungan dengan sesuatu yang ada dibalik realitas, sehingga dalam tatanan kehidupannya selalu menghargai dan menjaga keseimbangan antara kehidupan alam dan manusia. Kata kunci: Memayu Hayuning Bawana, Metafisika, Realitas Pengada AbstractThis research broadly aims to understand the concept of Javanese philosophy Hamemayu Hayuning Bawana which has been a view of life of Javanese people based on metaphysical views. In this case man coexists with nature and is inseparable from other elements. Human beings can exist because there is an intermediary in a reality. The concept of Javanese philosophy Hamemayu hayuning bawana is a concept that emphasizes the balance of life between man and man, man with nature and man in relation to God in relation to living life in the world. Javanese people in carrying out their daily lives still hold strong principles of life related to something that is behind reality, so that in the order of life always appreciate and maintain the balance between natural life and human beings. Keywords: Memayu Hayuning Bawana, Metaphysics, The Reality of Pengada
MENALAR SKEPTIS ADOPSI ARTIFICIAL INTELIGENCE (AI) DI INDONESIA: ‘Sebuah Tinjauan Filsafat Ilmu Komunikasi’
Felisianus Efrem Jelahut;
Herman Yosep Utang;
Yosep Emanuel Jelahut;
Lasarus Jehamat
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i2.33794
Penelitian ini dilakukan atas dasar rujukan penelitian dari Microsoft Indonesia mengenai adopsi artificial intelligence di Indonesia yang memperoleh hasil penelitian bahwa terdapat 14% karyawan dan pemimpin perusahaan berbasis teknologi di Indonesia yang masih skeptis terhadap adopsi artificial intelligence tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran teoretis dari sudut pandang filsafat ilmu komunikasi dalam menjawabi pertimbangan mengenai baik dan buruknya ‘keraguan’ atau skeptik 14% karyawan dan pemimpin perusahaan terhadap adopsi platform Artificial Inteligence oleh perusahaan Microsoft di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi pustaka. Adapun referensi pustaka berupa buku yang menjadi sumber primer dalam penelitian ini adalah buku berjudul Aristotle Physic Book VIII dan buku Filsafat Ilmu Komunikasi: Pengantar Ontologi, Epistemologi, Aksiologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari sudut pandang filsafat ilmu, hakekat AI adalah alat atau sarana dan juga mesin yang diciptakan dengan komponen yang menyerupai dan memainkan peran seolah-oleh akal budi yang mampu mencipta atau berkreasi seperti manusia. AI dijadikan manusia sebagai co-creator yang pada prinsipnya tetap terbatas dan tak akan pernah sempurna ‘in se’ sehingga patutlah nada skeptis tetap menyertainya.
Kritik Hermeneutika Filsafat Hans Georg Gadamer
Hayatuddiniyah Hayatuddiniyah
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i2.33874
Manusia dalam dunia filsafat tidak terlepas dari “menafsirkan” / “menginterpretasi” atau yang disebut dengan hermeneutika. Salah satu filsuf yang mengkaji hermeneutika tersebut adalah Hans Georg Gadamer (1900-2002) yang menawarkan konsep peleburan cakrawala. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui secara lebih komprehensif bagaimana konsep peleburan cakrawala yang ditawarkan oleh Hans Georg Gadamer dalam bidang kajian hermeneutika filsafat. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode kualitatif dengan jenis studi pustaka, sedangkan teknik analisis yang digunakan adalah analisis kritik. Hasil dalam artikel ini adalah konsep peleburan cakrawala Hans Georg Gadamer menekankan bahwa cakrawala seseorang dimasa sekarang terjadi atas dasar cakrawala yang ia miliki di masa lalu, atau dengan kata lain cakrawala yang saat ini dimiliki oleh setiap orang merupakan hasil terbentuknya sebagai akumulasi berbagai cakrawala di masa lalu dalam gerak melingkar yang terus-menerus. Dan dalam sebuah peleburan cakrawala memiliki persimpangan konsep yang berbeda, seperti yang dikatakan Jean Grondin bahwa dalam memahami cakrawala pada masa lalu membutuhkan pengertian / pemahaman manusia terhadap cakrawala masa sekarang. Sehingga dari kedua konsep peleburan cakrawala tersebut tentu memiliki alasan-alasan tersendiri mana yang lebih diterima dan dibutuhkan oleh manusia di masa sekarang.
KRITIK POSTMODERNISME TERHADAP ETIKA MODERN
Kosmas Sobon;
Timoteus Ata Leu Ehaq
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i2.34226
Tujuan penelitian adalah menganalisis aliran etika modern dan beberapa ciri khas etika modern serta beberapa kritik postmodernisme terhadap etika modern. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan menggunakan metode hermeneutika. Hasil penelitian menunjukan bahwa ciri khas dari etika modern yakni rasionalitas moral, universalitas moral, dan kemutlakan peraturan moral. Konsep etika modern tersebut dikritisi oleh postmodernisme dengan bertitik tolak pada pandangan etika postmodern. Dalam perspektif postmodernisme, etika secara moral manusia bersifat ambivalen, secara inheren fenomena moral bercorak “non-rasional, secara tak terhindarkan moralitas bercorak aporetik, norma dan praktik moral tidak dapat dimutlakan dan diuniversalisasikan dan moral adalah realitas pertama dari subjek manusia.
EPISTEMOLOGI KECERDASAN BUATAN (AI) DAN PENTINGNYA ILMU ETIKA DALAM PENDIDIKAN INTERDISIPLINER
Michael Reskiantio Pabubung
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i2.34734
Artificial intelligence (AI) is an “umbrella term” used to describe simulations carried out by machines or devices, which are connected to an ocean of data, which resembles human intelligence. There is no doubt that AI has had a positive impact on many aspects of human life: economy, education, government, defense, and security. However, AI is like two sides of a coin which also has negative impacts. The multidimensional impacts caused by AI lead to a question about how to keep pace with AI progress while staying through the desired path. To answer this question, philosophy always begins with an epistemological analysis. By departing from facts and epistemological analysis about AI, the author came to believe in the importance of the role of interdisciplinary education. By using qualitative methods through literature analysis on AI as a material object, and philosophy, especially epistemology as a formal object, this essay offers the importance of AI and Ethics as a compounded lecture material in the era and disruption of AI. As a time-responsive educational institution, every university needs to consider the necessity for lecture materials on the basics of AI and Ethics for every student.
Teori Kritis Habermas dan Kebijakan Merdeka Belajar
Gerald Moratua Siregar
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i2.34771
Di akhir tahun 2019 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makariem mencanangkan kebijakan Merdeka Belajar untuk mengoptimalkan implementasi kurikulum yang berbasis kompetensi. Satu pertanyaan penting yang menyusul dari diterapkannya kebijakan baru Merdeka Belajar adalah seberapa jauh kebijakan ini dapat berdampak dan bertahan? Mengingat tren selama enam belas tahun ini, dimana pembaruan-pembaruan kurikulum berbasis kompertensi tersebut tidak dapat berjalan secara optimal. Berkaitan dengan permasalahan optimalisasi ini, Teori Kritis Habermas mungkin dapat dijadikan pedoman alternatif. Tujuan dari esai ini adalah untuk membuka wacana bahwa melalui Teori Kritis Habermas, kebijakan Merdeka Belajar dapat diimplementasikan secara efektif dan memiliki dampak yang berkelanjutan, sehingga tidak bersifat temporer.
Aksiologi Ilmu Pengetahuan dan Manfaatnya Bagi Manusia
Rosnawati Rosnawati;
Ahmad Syukri Ahmad Syukri;
Badarussyamsi Badarussyamsi;
Ahmad Fadhil Rizki Ahmad Fadhil Rizki
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i2.35975
This article discusses the nature of the axiology of science and its benefits for humans. Axiology is part of the philosophy of science that questions how humans use their knowledge. So what is to be achieved from axiology is the nature and benefits contained in a knowledge. Axiology is a science that talks about the goals of science itself. So axiology is a science that studies the true nature and benefits of knowledge and actually science is not in vain if we can use it as well as possible for the benefit of humans in general. The formulation of the problem raised is how the nature of axiology, science and benefits for humans. The substance of science is very dependent on its benefits, because it is very worrying and dangerous if science which is full of negative charges is controlled by irresponsible people. The basic goal is to find the truth of the existing facts or wherever possible there is certainty of scientific truth. This paper describes the functions and uses of science that has provided the greatest benefit to human life, where science is an important instrument in every development process as an effort to realize the benefit of human life entirely. Science can be used as a means to improve the standard of living of humans and their welfare by focusing on nature and dignity for the benefit of humans.
Personal Branding dan Diri Otentik Menurut Sartre
Andreas Trianto Soewandi;
Robertus Wijanarko
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i2.36064
Penulis membahas mengenai Personal-Branding dan Diri Otentik Menurut Sartre. Sejak zaman dahulu, manusia sudah melakukan branding diri sendiri kepada publik. Dengan melakukan branding diri, manusia berusaha menampilkan keahlian dan kebaikan yang ia miliki, meskipun itu bertentangan dengan dirinya yang sebenarnya. Branding diri sangat berkaitan dengan dunia pekerjaan dan nama baik. Branding diri yang baik akan menaikkan nama baik seseorang dan memperoleh kepercayaan masyarakat. Dewasa ini, media sosial tidak lagi menjadi sekedar wadah bagi orang untuk berhubungan. Media sosial telah menjadi sebuah wadah di mana manusia mem-branding diri mereka. Orang menciptakan citra diri mereka sebagaimana mereka ingin dipandang oleh orang banyak. Sartre dalam etikanya menekankan mengenai pentingnya menjadi diri sendiri atau menjadi pribadi yang otentik. Dalam tulisan ini penulis menggunakan metode kajian kritis berdasarkan perspektif eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Penulis menemukan bahwa etika Sartre menjadi sebuah kritikan sekaligus pandangan yang akan membebaskan manusia sehingga manusia dapat menjadi dirinya yang otentik dan juga mampu memperoleh kembali kebebasannya. Penulis menyimpulkan bahwa dewasa ini manusia mengalami kekhawatiran akan penilaian orang lain, sehingga mendorong mereka untuk menipu diri sendiri melalui personal branding. Pemikiran Sartre akan membawa manusia kepada kebebasan dan keotentikan diri.
Paradigma Keilmuan Islam
maryamah maryamah;
Ahmad Syukri Ahmad Syukri;
Badarussyamsi Badarussyamsi;
Ahmad Fadhil Rizki Ahmad Fadhil Rizki
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i2.36116
The Islamic scientific paradigm discusses the Islamic perspective on science based on the source of the Qur'an which is believed to be true, recently there has been a dichotomy between religious science and general science, religious science talks about the relationship between humans and God and humans with humans in social life, and general science talks about a lot about the universe. Both are synergized with the discoveries of scientific facts through western scientists and Muslims so that they argue that science and religion are an inseparable unity, both are interconnected to provide explanations to humans about science. Art as a result of human creativity is an aesthetic beauty and gives value to a science or religion so that it becomes something of value for the sustainability of human life, both from the scientific, social, and cultural aspects of a world civilization.