cover
Contact Name
Yadi Mardiansyah
Contact Email
hijai.bsa@uinsgd.ac.id
Phone
+6281313446559
Journal Mail Official
hijai.bsa@uinsgd.ac.id
Editorial Address
Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Jl. AH Nasution 105 Cibiru Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
ISSN : -     EISSN : 26211343     DOI : https://doi.org/10.15575/hijai
Core Subject : Education,
Hijai Journal is managed by Arabic Department , State Islamic University of Sunan Gunung Djati and Asosiasi Prodi Bahasa dan Sastra Arab (AP-BSA). It publishes research reports on Arabic language and Literature such as linguistics, literary studies and criticism, translation, and multidisciplinary research such as language and politics, as well as literature and psychology.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2022)" : 7 Documents clear
RAGAM TUTURAN PADA NOVELET QINDIL UMMU HASYIM (KAJIAN PRAGMATIK) Iis Rahmawati; Karman Karman; Muhammad Nurhasan
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v5i2.15395

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis tindak tutur ilokusi dan fungsi-fungsinya yang digunakan pada novelet Qindil Ummu Hasyim Karya Yahya Haqqi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik, dengan kajian ilmu pragmatik. Data penelitian berupa tuturan-tuturan yang disampaikan para tokoh dalam novelet tersebut. Teknik pengumpulan data dengan teknik kepustakaan, simak dan catat. Hasil penelitian pun didapatkan dengan metode padan ekstraingual, hingga akhirnya dapat disimpulkan sebagai berikut 1). Lima jenis ilokusi, yakni Direktif, Asertif, Deklaratif, Komisif dan Ekspresif dengan didominasi oleh kalimat berita dibandingkan kalimat imperatif dan introgatif. 2). Fungsi pragmatis dari setiap jenis tindak tutur yakni: Asertif: memberitahukan, dan membanggakan; Direktif: memerintah, meminta, dan melarang; Komisif: berjanji dan menyanggupi; Ekspresif: kecewa, dan menyesal; Deklaratif: Mengucilkan, memutuskan dan memvonis. Pada fungsi-fungsi pragmatis tersebut umumnya merupakan kalimat langsung dengan fungsi menyatakan karena objeknya yang berupa novelet dan yang dibahas tentu menyinggung kehidupan tokoh Ismail yang berpengaruh kepada khalayak umum.
DEGRADASI MORAL PADA MASYARAKAT MESIR DALAM NOVEL ARDH AL-NIFĀQ KARYA YUSUF AS-SIBA’I Nabilah Wafa Wijayanto
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v5i2.22405

Abstract

رواية أرض النفاق ليوسف السباعي هي إحدى الأعمال التذكارية التي تصور حالة مصر في أواخر الأربعينيات. كان هناك العديد من المشاكل التي واجهها المجتمع المصري في ذلك الوقت. تشهد مصر تدهورًا في مختلف القطاعات ، بدءًا من القطاعات الاقتصادية والسياسية والاجتماعية. من هناك ، بدأ العديد من المصريين في ارتكاب أفعال منحرفة. يقوم المصريون بالعديد من الإجراءات التي لا تتفق مع الأعراف السائدة ، مثل السكر الذي ينتهي بارتكاب العنف و العنف المنزلى و المسؤولين الحكوميين الذين يتصرفون بشكل تعسفي و استخدام سلطتهم ، ولم يعد منفذ القانون عادلاً, المشاجرة و المظاهرات تحدث في كل مكان. بخلاف ذلك، مزيد من الأشخاص الذين يرتكبون أعمالًا إجرامية ، مثل النشل و الخداع. الهدف لهذا البحث هو لمعرفة أشكال التخقير الأخلاقي على معشر مصري في رواية أرض النفاق ليوسف السباعي و خلفية حدوثه.المنهج المستخدم في هذا البحث هو منهج وصفي نوعي بنظرية ظواهر لإدموند هوسرل تشرح الباحثة كيفية تطبيق نظرية هوسرل في رواية أرض النفاق ليوسف السباعي و أما النتائج من هذا البحث و هى ان ظاهرة التخقير الأخلاقي على معشر مصر في رواية أرض النفاق ليوسف السباعي. هناك تسعة أشكال ، و هي: المحسوبية و العنف و العنف المنزلي و الخداع و الاعتداءا و القتال و النشال و إساءة استخدام السلطة و الاهانة. و أما خلفية التخقير الأخلاقي على معشر مصر في رواية أرض النفاق ليوسف السباعى هناك عوامل داخلية وخارجية .
GAYA BAHASA FIGURATIF DALAM DȊWȂN TARJUMȂN AL ASYWȂQ KARYA IBNU ARABI Rizki Abdul Rojak; Irfan addriadi
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v5i2.18364

Abstract

ABSTRAKKarya sastra merupakan hasil dari pemikiran seseorang yang diungkapkan baik secara lisan maupun tulisan dengan gaya bahasa yang indah. Setiap sastrawan memiliki cara dan gaya bahasa masing-masing dalam menciptakan karya sastranya. Salah satu gaya bahasa yang sering digunakan sastrawan adalah bahasa figuratif. Diwan Tarjuman al Asywaq adalah salah satu karya yang banyak menggunakan gaya bahasa ini. Dȋwȃn Tarjumȃn al Asywȃq yang dikarang oleh Ibnu Arabi ini terdiri dari 61 judul puisi dan 563 bait. Setiap judul memiliki jumlah bait yang bervariasi. Jumlah bait paling sedikit dalam satu judul adalah 3 bait dan paling banyak 37 bait.  Bait-bait puisi yang ditulis oleh Ibnu Arabi dalam Diwan ini berisi tentang konsep-kosnep sufistik yang digagas olehnya. Ia banyak menuliskan gagasan-gagasannya dalam bentuk bahasa figuratif. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya bahasa figuratif yang terdapat dalam Diwan Tarjumanul Asywaq Ibnu ‘Arabi serta menjelaskan fungsi dan efek yang ditimbulkannya pada makna maupun keindahan diwan tersebut secara keseluruhan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi serta menjelasakn bahasa figuraif yang terdapat dalam Diwan Tarjuman al Asywaq serta efektifitasnya dalam konteks bait-bait puisi tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, yaitu dengan menenkankan pada nilai-nilai dengan mendeskripsikan setiap temuan bahasa figuratif yang ada dalam Diwan Tarjuman al Asywaq karya Ibnu ‘Arabi. Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat gaya bahasa anastrof, kiasmus, asindenton, polisindenton, ellipsis, litotes, pleonasme, tautologi, simile, metafora, alegori, eponim, personifikasi, epitet, dan sinekdoke. Fungsi-fungsi dan efek yang ditimbulkan secara keseluruhan dalam penggunaan bahasa figuratif tersebut adalah al hashr (pembatasan), al taysdid (penekanan), al taukid (penegasan), al ihtimam (pementingan), inhad al khayali (membangkitkan imajinasi), menjelaskan dengan cara samar, memuji dan mencela dengan cara memperbandingkan dan menyesuaikan dengan wazan yang ditulis oleh penyair.
TASYBIH DALAM BUKU TERJEMAHAN DUKA LARA CINTA KARYA ANIS MANSOUR Muhammad Zacky Mubarok; Nuha Abiyyu; Waki Ats Tsaqofi
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v5i2.17963

Abstract

Buku Duka Lara Cinta ini diterjemahkan oleh Musyfiqur Rahman, seorang penggiat dan penerjemah ciptaan Timur Tengah yang berasal dari Jawa Timur. Ia menerjemakan  buku tersebut dari buku Anis Mansour, seorang sastrawan Mesir,  buku tersebut berjudul Qâlû. Buku tersebut merupakan kumpulan kata mutiara yang  sebagian besar tentang penggambaran rumah tangga, pernikahan, percintaan, dan hubungan perempuan  dengan laki-laki. Pada buku tersebut banyak menggunakan gaya bahasa berdasarkan kajian balaghoh. Semakin banyak gaya bahasa yang digunakan, makan semakin tinggi pula tingkat keestetikan bahasanya, dan semakin banyak pula kita harus memahami berbagai macam gaya bahasa khususnya dalam tinjauan balaghah. Balaghah memiliki dua kajian, yaitu ilmu badi’i dan bayan. Penelitian ini hanya berfokus pada ilmu bayan berupa tasybih yang bertujuan untuk mengetahui jenis dan jumlah tasybih yang digunakan oleh pengarang, Untuk mendapatkan tujuan tersebut, pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang dilakukan untuk menghasilkan uraian deskriptif berupa kalimat-kalimat yang berkaitan dengan tasybih dalam  aspek  Balaghah. Dapat disimpulkan bahwa, buku Duka Lara Cinta terdapat 8 jenis tasybih, diantaranya: mursal mufasal tamtsil sebanyak 3 data, mursal mufasal sebanyak 3 data, mursal mujmal sebanyak 1 data, mursal mujmal tamtsil sebanyak 2 data ¸ muakkad mufasal sebanyak 9 data, baligh sebanyak 5 data, maqlub sebanyak 2 data, dan ḏimny sebanyak 1 data.
DEIKSIS PERSONA PERTAMA DALAM TAFSĪR SURAT AL-MULK BERBAHASA SUNDA RAUḌATUL IRFĀN FI MA’RIFATIL QUR’ĀN (Kajian Pragmatik) Zamzam Mugni Alawi; Tb. Ace Fachrullah; Abu Sufyan
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v5i2.21193

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis deiksis persona pertama yang terdapat dalam surat Al-Mulk Tafsīr berbahasa Sunda Rauḍatul ‘Irfān Fī Ma’rifatil Qur’ān dan memaparkan tentang berbagai macam fungsi acuan dari setiap deiksis persona pertama yang ditemukan pada setiap data. Dalam data penelitian ini, peneliti menganalisis mengenai jenis dan fungsi acuan deiksis persona pertama sebagai objek penelitian. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dekriptif kualitatif. Berdasarkan hasil dari analisis yang telah dilakukan, peneliti telah menemukan penggunaan berbagai jenis deiksis persona pertama tunggal (الإِشَارَةُ الشَّخْصِيَّةُ لِلْمُتَكَلِّمِ وَحْدَهْ) dan deiksis persona pertama jamak (الإِشَارَةُ الشَّخْصِيَّةُ لِلْمُتَكَلِّمِ مَعَ الغَيْرِ) yang terdapat dalam surat Al-Mulk Tafsīr berbahasa Sunda Rauḍatul ‘Irfān Fī Ma’rifatil Qur’ān di antaranya mencakup lima jenis, yaitu deiksis persona pertama jamak bermakna tunggal (Aing), deiksis persona pertama jamak bermakna jamak (Abdi Sadaya), deiksis persona pertama tunggal bermakna tunggal (Kaula), dan deiksis persona pertama jamak bermakna jamak (Kaula Sarerea). Sedangkan dalam hal bentuk di antaranya mencakup deiksis persona pertama bentuk terikat ‘Muttaṣilun’ (مُتَّصِلٌ) berjumlah 15 data dan deiksis persona pertama bentuk terpisah ‘Munfaṣilun’ (مُنْفَصِلٌ) berjumlah 1 data. Adapun fungsi acuan mengacu kepada Allah berjumlah 1 acuan, kepada Nabi Muhammad berjumlah 2 acuan, kepada orang-orang Kafir berjumlah 2 acuan, dan kepada Nabi Muhammad beserta ummatnya berjumlah 2 acuan.ABSTRACTThis study aims to describe the type of first person deixis contained in the Sundanese Surah Al-Mulk Tafsr Rauḍatul 'Irfān Fī Ma'rifatil Qur'ān and describe the various reference functions of each first person deixis found in each data. In this research data, the researcher analyzes the types and functions of the first person deixis reference as the object of research. The method used in this study is a qualitative descriptive method. Based on the results of the analysis that has been carried out, researchers have found the use of various types of singular first person deixis (الإِشَارَةُ الشَّخْصِيَّةُ لِلْمُتَكَلِّمِ وَحْدَهْ) and plural first person deixis (الإِشَارَةُ الشَّخْصِيَّةُ لِلْمُتَكَلِّمِ مَعَ الغَيْرِ) contained in the Sundanese Surah Al-Mulk Tafsīr Rauḍatul F'Irfān. Ma'rifatil Qur'ān of which includes five types, namely the first person deixis plural singular (Aing), first person deixis plural meaning plural (Abdi Sadaya), first person deixis singular singular (Kaula), and first person deixis plural meaning plural (Kaula Sarerea). Meanwhile, in terms of form, it includes the first person deixis of the bound form 'Muttaṣilun' (مُتَّصِلٌ) totaling 15 data and the first personal deixis of the separate form 'Munfaṣilun' (مُنْفَصِلٌ) amounting to 1 data. The reference function refers to Allah in the amount of 1 reference, to the Prophet Muhammad there are 2 references, to the Kafirs there are 2 references, and to the Prophet Muhammad and his ummah there are 2 references.
ANALISIS ALIH KODE DAN CAMPUR KODE BAHASA ARAB DALAM NOVEL CAHAYA CINTA PESANTREN KARYA IRA MADAN (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK) Eva Ma'atus Syafa'ah; Nafis Azmi Amrullah; Singgih Kuswardono; Retno Purnama Irawati
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v5i2.22418

Abstract

Alih kode adalah suatu peristiwa peralihan antar kode yaitu dari satu kode ke kode lainnya dalam suatu peristiwa tutur yang terjadi antar bahasa, antar ragam-ragam, dan antar gaya-gaya dalam suatu bahasa. Sedangkan campur kode merupakan sebuah kondisi dimana penutur memasukkan unsur – unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang dipakai untuk memperluas gaya bahasa Data berupa tuturan para tokoh pada novel yang di dalam tuturan tersebut terdapat alih kode, dan campur kode bahasa Arab.  Sedangkan sumber data nya adalah dokumen tertulis yang berupa naskah (teks) sastra yaitu novel yang berjudul Cahaya Cinta Pesantren karya Ira Madani. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi dengan teknik analisis dokumen menggunakan teknik baca dan catat. Peneliti menemukan data berupa wujud alih kode, wujud campur kode, bentuk satuan bahasa alih kode, wujud campur kode, penyebab terjadinya alih kode, dan penyebab terjadinya campur kode.
KRITIK SASTRA ARAB ERA JAHILI MENURUT PERSPEKTIF MUSTAFA ABDURRAHMAN IBRAHIM Khavivah Eka Harnida; Tatik Mariyatut Tasnimah
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v5i2.17171

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk menguraikan secara lebih mendalam dan terperinci tentang kritik sastra pada masa jahiliah menurut pespektif Muhammad Abdurrahman Ibrahim. Jenis penelitiannya yaitu penelitian kualitatif dengan menggunakan kajian pustaka. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kritik sastra jahiliah muncul bersamaan dengan puisi Arab yang sering dibacakan di pasar-pasar sehingga membuat orang secara naluriah dan spontan ingin menilai baik buruknya puisi. Berdasarkan sudut pandang Mustafa Abdurrahman Ibrahim, karakteristik yang dimiliki kritik sastra jahili yaitu bersifat subjektif-impresif dan dihasilkan dari pemikiran dan kesabaran. Kritik yang subjektif meliputi aspek linguistik, makna, ‘aruḍ, dan cara penyampaian. Sedangkan kritik yang berasal dari pemikiran dan kesabaran meliputi tathqĪf dan tanqĪm, al-riwāyah wa al-talammudhah, dan al-ikhtiyār. Lima keistimewaan kritik sastra ini adalah dhawq fiṭry, spontanitas, parsial, general, dan ringkas. Prinsip yang digunakan tidak didasarkan pada aturan teknis, melainkan hanya menurut penilaian pribadi kritikus.

Page 1 of 1 | Total Record : 7