cover
Contact Name
Iromi Ilham
Contact Email
ajj.antro@unimal.ac.id
Phone
+6282349345557
Journal Mail Official
ajj.antro@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia.
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Aceh Anthropological Journal
ISSN : 26145561     EISSN : 27460436     DOI : 10.29103
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles 198 Documents
PERAN TUHA PEUT DALAM PERLINDUNGAN ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM DI ACEH BESAR Mansari Mansari
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i1.1147

Abstract

Reusam which usually regulates public behavior about habits undertaken by the public in an unwritten form, is now beginning to be written in written form. The formation of gampong reusam was formed by Tuha Peut Gampong which was discussed together with the keuchik and community leaders of the gampong. This research aims to find out how the process of reusam formation of child protection in Aceh Besar and how the role of tuha peut in determining the direction of development of child protection reusam in Aceh Besar. This research uses qualitative research with data source from primary data obtained through interview with Keuchik, Tuha Peut Gampong and Female Woman. The results showed Tuha Peut has an important role in the development of a gampong reusam that adopts local and applicable local values in Aceh. These values are deliberation, mediation and the use of adat sanctions for child offenders in cases that occur, such as Advice, Warning, apology, fines, compensation, returned to the family, Establishment of Child Protection Committees dealing with law and engagement government agencies.
MAKNA SIMBOLIK RITUAL RATIB BERJALAN PADA TRADISI TOLAK BALA: STUDI DESA SUNGAI KURUK III KECAMATAN SERUWAY KABUPATEN ACEH TAMIANG Awaluddin Arifin; Subhani Subhani; Rabiah Rabiah
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3151

Abstract

This research is entitled about the Symbolic Meaning of Ritual Ratib Walking in the Tolak Bala Tradition (Study of Sungai Kuruk III Village, Seruway District, Aceh Tamiang Regency). This research focuses on the process of implementing the walking ratib ritual and the symbolic meaning in the equipment as well as the signs and symbols attached to the walking ratib ritual. Symbolic meanings are the meanings contained in symbols where these symbols have been added to the elements of belief which make the sacred value of a symbol higher. The purpose of this research is to describe the process, the meaning of each symbol and the symbols that exist in the running ritual. This study used a qualitative descriptive approach using symbolic interaction theory. To obtain accurate data and informants, the data collection techniques used were observation, interviews and documentation. The results showed that each symbol in the walking ritual equipment had its own meaning which had been mutually agreed upon so that it could be understood by all of the community.
Mahasiswi Sebagai Ibu Muda (Studi Antropologi Sosial Di Kota Lhokseumawe) Malahayati Malahayati
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.361

Abstract

Analisis ini mengkaji tentang Mahasiswi Sebagai Ibu Muda Antropologi Sosial di Kota Lhokseumawe. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, analisis data yang diperkuat dengan studi dokumen, studi literatur dan studi kepustakaan. Dalam membedah penelitian ini penulis menggunakan studi antropologi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di era modern seperti saat ini munculnya fenomena ibu muda, khususunya dari kalangan mahasiswi adalah sesuatu yang baru dan terlihat seperti berseberangan dengan tradisi masa lalu. Kehidupan ibu muda dalam mengelola keluarganya sangat berbeda dengan ibu-ibu tempo dulu. Kebanyakan ibu muda saat ini cenderung konsumerisme dan mengarah ke berbagai hal-hal yang instan. Ibu muda yang seperti ini sebahagiannya masih berstatus mahasiswi. Mahasiswi sebagai ibu muda banyak ditemukan di Kota Lhokseumawe. Maka dari itu, penelitian ini sangat relevan dilakukan demi melihat dan mencari tahu bagaimana keseharian ibu-ibu muda dalam kacamata antropologi sosial. Menjadi ibu muda dengan masih mengemban status mahasiswi tentu sebuah kerja keras dan tidak mudah. Berbagai hal rumah tangga dan perkuliahan bisa bentrok kapan saja tanpa bisa diterka. Mahasiswi sebagai ibu muda mendapatakan masalah jika saja tidak pintar membagi waktu mengurusi keluarga dan kuliahnya. Mengurusi keduanya sungguh sangat tidak mudah. Lantas, kenapa mahasiswi tetap memilih menjadi ibu muda walau masih kuliah padahal mereka cukup sadar bahwa hal tersebut adalah pilihan yang sangat besar risikonya? Hal inilah yang akan penulis urai lebih dalam dalam penelitian ini, sehingga masyarakat luas mengetahui bagaimana berat dan sulitnya kehidupan mahasiswi yang menjadi ibu muda. Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi sehingga mahasiswi memilihj menikah dan menjadi ibu muda walau masish berstatus mahasiswi.
POLA PEMBAGIAN PERAN UTOH PEURAHO DALAM PEMBUATAN KAPAL NELAYAN DI LHOKSUEMAWE, ACEH Wina Azzahra; Abdullah Akhyar Nasution
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v3i2.2781

Abstract

Tulisan ini ingin melihat lebih jauh bagaimana pola pembagian peran Utoh Peuraho di Lhokseumawe dalam dinamika perubahan lingkungan alam, dan kondisi sosial,ekonomi, politik dan budaya dan hubungannya dengan situasi industri kapal modern.dengan menggunakan pendekatan etnografi penulis ingin menunjukkan bahwa pembagian peran utoh peuraho sangat berkaitan dengan ketersediaan bahan baku serta proses komunikasi yang dibangun oleh pemodal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Utoeh Peuraho merupakan salah satu profesi yang masih sangat dibutuhkan di tengah masyarakat pesisir di Lhokseumawe. Pola pembagian peran utoh peuraho terbentuk saling berkaitan satu dengan lainnya. Dengan status kedudukan tersebut terbagi menjadi tiga, yaitu : toke (pemilik kapal), kepala utoh (kepala tukang), dan utoh peuraho (awak pembuat kapal). Fungsi dari peran yang dimiliki oleh toke, kepala utoh, dan utoh peuraho berbeda-beda dan saling kerterkaitan satu sama lainnya. Dimana toke merupakan yang menyediakan modal dalam pembuatan kapal. Kepala utoh merupakan seseorang yang mendesain kapal dan mengatur pekerjaan utoh peuraho. Sedangkan utoh peuraho merupakan seseorang yang menerima perintah dari kepala utoh pada pembuatan kapal.
EKSISTENSI MASYARAKAT ADAT DI TENGAH REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Hafsah Aqilla; Denta Amelia; Fatiya Rahmah; Arif Budi Abraham; Faizi Faizi
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i1.5873

Abstract

In the last decade, the discussion around the fourth industrial revolution which emphasizes on the automation of all aspects of life has increased. The fourth industrial revolution, which is synonymous with technological sophistication, gives us an idea of a futuristic reality and this is certainly inseparable from large-scale development that must be encouraged. Even so, in the midst of seemingly relentless development, there is a group of people who seem to be deliberately distancing themselves and sticking to customs and traditions. Therefore, despite today's development narrative which is still centered in urban areas, it is important to see the industrial revolution 4.0 that we are experiencing today from the perspective of a group of people who are often referred to as Indigenous Peoples. In addition to fighting against urban hegemony, this paper also tries to question the meaning of development and the fourth industrial revolution and its implications for different stakeholders. Indigenous peoples respond to this situation by trying to create a concept of a rival economy against a growth economy with predatory characteristics. This competitive economy is referred to as the Nusantara Economy and prioritizes drastic emphasis on production-consumption activities (degrowth) as well as local, collective and community-based ownership of living space (the commons).Abstrak: Dalam satu dekade terakhir, perbincangan seputar revolusi industri 4.0 yang menekankan pada otomatisasi semua lini kehidupan kian meningkat. Revolusi Industri 4.0 yang identik dengan kecanggihan teknologi memberikan kita gambaran akan realitas yang futuristik dan hal tersebut tentunya tidak terlepas dari pembangunan skala besar yang harus terus digenjot. Meski begitu, di tengah pembangunan yang seakan tanpa henti, ada sekelompok masyarakat yang seperti dengan sengaja menjauhkan diri dan tetap berpegang teguh pada adat dan tradisi. Di tengah narasi pembangunan hari ini yang berpusat di urban, rasanya penting untuk melihat revolusi industri 4.0 yang sedang kita alami hari ini dari kacamata sekelompok masyarakat tadi yang sering disebut juga Masyarakat Adat. Selain melawan hegemoni perkotaan, tulisan ini juga mencoba untuk mempertanyakan kembali apa makna pembangunan dan revolusi industri 4.0 serta implikasinya terhadap berbagai aktor yang berbeda. Masyarakat Adat merespons situasi ini dengan mencoba menciptakan suatu konsep ekonomi tanding terhadap ekonomi pertumbuhan yang berkarakter pemangsa. Ekonomi tanding ini disebut sebagai Ekonomi Nusantara dan mengedepankan penekanan kegiatan produksi-konsumsi secara drastis (degrowth) serta kepemilikan ruang hidup secara lokal, kolektif dan berbasis komunitas (the commons).
RELASI ANTAR TOKE KORO DALAM MENJAMIN PERSEDIAAN PASOKAN DAGING KERBAU DAN SAPI (Tinjauan Antropologi Ekonomi Tentang Relasi Antar Toke Koro Zuriana Zuriana
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v3i1.2786

Abstract

Penelitian ini mengangkat tema “ Relasi dan Strategi Pemasaran. Hal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah penulis melihat  bagaimana kebutuhan konsumtif masyarakat terhadap daging kerbau dan sapi pada masyarakat Gayo ketika melakukan acara kenduri. Daging yang mereka peroleh tentunya berasal dari pasar penjaja daging atau di masyarakat Gayo orang yang menjajakan daging disebut dengan “toke koro”. Secara umum, “toke koro” merupakan jenis pekerjaan dari sektor perdagangan. Upaya yang dilakukan para toke tentu harus menyediakan barang dagangan agar tetap ada. Sedangkan daging yang mereka peroleh berasal dari uwer, peternakan rumahan dan antara sesama toke tersebut. Penulis melihat ada upaya toke dalam membangun relasi agar ketersediaan daging tetap ada secara kontinum. Penelitian ini di lakukan di Kampung Kayu Kul Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah. Alasan penulis memilih Kampung ini sebagai lokasi penelitian karena penulis melihat banyaknya Toke Koro yang memiliki ikatan kekeluargaan sehingga memudahkan dalam proses jual beli dagangannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data secara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa lahirnya toke koro karena dipengaruhi oleh factor keturunan, factor mencari keuntungan dan factor terlibat secara ikut-ikutan dengan toke koro yang sudah eksis
Angon Jawi: Etnografi Sumber Pendapatan Alternatif Petani Karet di Desa Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur Ari Kamandanu; Ade Ikhsan Kamil
Aceh Anthropological Journal Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v5i1.4607

Abstract

Artikel ini berfokus pada upaya proses pemenuhan kebutuhan ekonomi petani karet melalui Angon Jawi di Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur. Artinya, artikel ini berusaha untuk mendeskripsikan secara mendalam mengapa petani karet memilih menjadi buruh angon jawi untuk dijadikan sumber ekonomi tambahan dan bagaimana proses pemenuhan kebutuhan ekonomi melalui proses angon jawi. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif, wawancara dan studi dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa alasan yang menyebabkan petani karet memilih angon jawi menjadi sumber pendapatan alternatif demi pemenuhan kebutuhan keluarga yaitu 1) lokasi lahan yang berdekatan dengan perkebunan karet milik PTPN III yang menguntungkan para petani karet menjadi buruh angon jawi sebagai sumber pendapatan tambahan, 2) Minimnya modal menjadi buruh angon jawi, 3) Resiko pekerjaan yang minim. 4) Waktu bekerja yang hanya setengah hari dan tidak mengikat kepala keluarga.
Egalitarianisme Gayo Sebuah Inisiatif Antropologi Sosial dan Etnografi Politik Teuku Kemal Fasya
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i2.1155

Abstract

Gayo is the second largest ethnic groups in Aceh, which is most misunderstood. Actually, Aceh has consisted nine ethnics, including one smallest ethnic that has been founded several years ago, named “Haloban” in Pulau Banyak, Singkil Regency. This arcticle shows the distinctive characters and culture of Gayo people. They were not only inhabiting in area “Gayo continent” such as Central Aceh, Bener Meriah, Gayo Lues Regency, but also Southeast Aceh (Alas), East Aceh (Lokop) Aceh Tamiang (Kalul), and Southwest Aceh Regency (Lhok Gayo). This article uses an ethnographic approach on the condition of culture, art, and history in Gayo landschape. In the long history of the Gayo people, Islam has become a value that has penetrated the joints of the socio-cultural life of its people. This situation is quitely different with Aceh east and west coastal. That happened because the Gayo people had faced challenges to live diverse, so that it influenced the appreciation of their Islamic life. in the religious practice, the Gayo people pay more attention for the esoteric values perspective rather than the exoteric perspective. This is the rich account of a muslim society in highland Gayo, that has been a long debate among themselves ideas of what Islam is and should be as it pertains to all areas of their lives, from work, arts performance, and worship. Many previous anthropological studies, like Snouck Hurgronje works have concentrated on the purely local aspects of culture and the tension between the local and universal in everyday life of Gayo people.
MEMPERTAHANKAN TRADISI PACU JAWI: ETNOGRAFI TENTANG PENGETAHUAN DAN PRAKTEK MEMELIHARA SAPI PACUAN DI NAGARI III KOTO, KABUPATEN TANAH DATAR, SUMATERA BARAT Adilla Pratama; Abdullah Akhyar Nasution
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3154

Abstract

Penelitian ini berjudul Mempertahankan Tradisi Pacu Jawi (Etnografi Tentang Pengetahuan Dan Praktek Memelihara Sapi Pacuan Di Nagari III Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat). Penelitian ini mengkaji tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Pacu Jawi bagi masyarakat dan untuk mengetahui sistem pengetahuan dan praktek perawatan Jawi Pacuan. Metode dalam penelitian ini penulis menggunakan metodelogi penelitian Kualitatif dengan pendekatan Etnografi. Teknik pengumpulan data observasi partisipatif, wawancara tak terstruktur, dan studi dokumen. hasil penelitian menunjukan nilai-nilai yang terdapat dalam Pacuan Jawi di masyarakat Padang Luar ada nilai kerjasama ini tercermin dalam pacu jawi dimana masyarakat dan panitia bekerjasama agar acara pacu jawi dapat berjalan dengan baik, hal ini dapat dilihat dalam kerja sama masyarakat dan panitia untuk mempersiapkan lokasi untuk pacuan jawi tersebut. Disini masyarakat dan panitia menyiapkan tenda dan mencari air untuk mengaliri sawah yang akan dipakai untuk pacuan jawi, kerjasama antar pemilik Jawi dan pemilik jawi lainnya serta seorang joki dalam memasang Tajak kepada Jawi tersebut, kerjasama antar penonton dapat juga kita lihat untuk saling menjaga keamanan dan kenyamanan saat menonton Pacuan Jawi. Sistem pengetahuan dan perawatan jawi pacuan yang dimiliki masyarakat Padang Luar, khususnya peternak jawi pacuan mereka membuat kandang yang agak berbeda dari jawi ternak lainnya, kalau jawi pacuan kandangnya biasa dilantai menggunakan bambu, bambu ini disusun dengan serapi-rapinya agar Jawi tersebut nyaman dan tidak terkena penyakit Rematik. Perawatan Jawi Pacuan ini tidak jauh beda dibandingkan Jawi ternak lainnya, yang membedakannya Jawi Pacuan ini harus dilatih dan diberi makanan tambahan untuk menunjang dan membuat Jawi berkembang begitu cepat.
Potret Pemamanan pada Akulturasi Budaya Alas dan Gayo Harinawati Harinawati; Richa Meliza
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i2.9119

Abstract

Abtract: Pemamanan is a tradition of Alas Culture at the time of traditional wedding and circumcision processions, this tradition is carried out by pure Alas tribal families and families who experience Cultural Acculturation, the purpose of this study is to describe the portrait of pemamanan in Alas and Gayo Cultural Acculturation, this research map will look at the Procession Pemamanan in Alas and Gayo Cultural Acculturation in mixed marriages, the results of the study show that the Acculturation of Alas and Gayo Cultures is not carried out 100% following the transition of Pemamanan from the Alas Tribe, the tolerance of Alas Culture (Father) to Gayo Culture (Mother) in traditional processions, but did not completely eliminate the Pemamanan tradition. Based on the results of the study, it can be concluded that the Portrait of the Pemamanan Tradition in the Acculturation of the Alas and Gayo Cultures gave birth to cultural tolerance in the two tribes.Abstrak: Pemamanan merupakan sebuah tradisi Budaya Alas pada saat melakukan prosesi adat perkawinan maupun Khitan, tradisi ini dilakukan oleh keluarga pure suku Alas maupun keluarga yang mengalami Akulturasi Budaya, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan potret pemamanan pada Akulturasi Budaya Alas dan Gayo, peta penelitian ini akan melihat Prosesi Pemamanan pada Akulturasi Budaya Alas dan Gayo pda perkawinan campuran, hasil penelitian menunjukan bahawa Akulturasi Budaya Alas dan Gayo Potret Pemamanan dilakukan tidak 100% mengikuti trasisi Pemamanan dari Suku Alas, adanya toleransi Budaya Alas (Bapak) terhadap Budaya Gayo (Ibu) pada prosesi adat, namun tidak menghilangkan sepenuhnya tradisi Pemamanan. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan Potret Tradisi Pemamanan Pada Akulturasi Budaya Alas dan Gayo melahirkan toleransi Budaya pada kedua suku tersebut.