cover
Contact Name
Iromi Ilham
Contact Email
ajj.antro@unimal.ac.id
Phone
+6282349345557
Journal Mail Official
ajj.antro@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia.
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Aceh Anthropological Journal
ISSN : 26145561     EISSN : 27460436     DOI : 10.29103
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles 198 Documents
Koeksistensi Perempuan Penopang Kehidupan di Pedesaan Demuk Richa Meliza; Ibrahim Chalid; Iromi Ilham
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i2.8938

Abstract

Abstract: The phenomenon of the women life who support life in rural areas has reciprocity and adjustment in people's lives in terms of the domestic and public spheres. This must be done because of the weak point of view of the community on the culture and habits of women who are in these two domains. The purpose of this paper is to describe the lives of women who support life in rural areas that are different from women in urban areas, both from the domestic and public realms. This study used qualitative research methods. The data collection process was carried out through live In, observation, in-depth interviews (indept interviews), and the use of documentation studies. Women in rural areas have a stronger survival in continuing their lives, especially economic problems, although women's lives are limited in all access, they have a goal in the welfare of their families and communities by living on land as farmers. Village culture and customs that are still thick are not an obstacle in terms of working, if they are still in the realm of rural culture that is polite, respectful, please help and others. So it is not a problem for women in rural areas to work in both domestic and public spheres.Abtract: Fenomena kehidupan perempuan penopang kehidupan di daerah pedesaan memiliki timbal balik dan penyesuaian di dalam kehidupan masyarakat dari segi ranah domestik dan publik. Hal ini harus dilakukan bersebab lemahnya sudut pandang masyarakat terhadap budaya dan kebiasaan  perempuan yang berada dalam kedua ranah tersebut. Tujuan dalam tulisan ini adalah untuk menggambarkan kehidupan terkait perempuan penopang kehidupan di daerah pedesaan yang berbeda dengan perempuan di daerah perkotaan, baik dari ranah domestik maupun publik. Penelitian ini menggunakan Metode penelitian kualitatif. Proses pengumpulan data dilakukan melalui Live In, observasi, wawancara mendalam (indept interview), dan penggunaan studi dokumentasi. Perempuan di daerah pedesaan mempunyai ketahanan hidup yang lebih kuat dalam meneruskan kehidupan terutama masalah ekonomi walaupun kehidupan para perempuan terbatas dalam segala akses, mereka memiliki tujuan dalam menyejahterakan keluarga dan masyarakat dengan cara bertanah hidup sebagai petani. Budaya dan adat istiadat pedesaan yang masih kental tidak menjadi kendala dalam hal bekerja, jika masih dalam ranah sesuai dengan budaya pedesaan yang santun, menghargai, tolong menolong dan lainnya. Sehingga tidak menjadi suatu permasalahan bagi perempuan di daerah pedesaan untuk bekerja dalam kedua ranah domestik dan publik.
Eksistensi Masyarakat Pesisir di Sibolga: Studi Etnografi Tentang Keberadaan Etnis Pesisir di Sibolga Irfan Simatupang
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i2.6866

Abstract

Abtract: This research departs from the anxiety of the people of Sibolga who call themselves the Coastal people in Sibolga and its surroundings. This anxiety arises because of the unclear position of their position as an ethnic unit with the Coastal culture that they have and is still applied to this day in their lives, namely the Coastal culture or also called the Sumando culture. The population data from the Population and Civil Registry Office (disdukcapil) of the city of Sibolga also does not state the presence of Coastal ethnicity, while other ethnicities such as Batak, Minang, Acehnese, Nias, Javanese and others are clearly listed. The last one is the Decree of the Mayor of Medan No. 025/02.K/VIII/2021 concerning Regional Customary Service Clothing in North Sumatra also does not mention the Coastal ethnicity. This research was conducted with a qualitative method. From the observations, it can be seen that in public places/locations there are three languages used by the community in interacting, namely the National (Indonesian) language, the Coastal language and the Batak language. However, there is a dominant use based on region, for example in the Sibolga Kota sub-district the dominant language is Indonesian, except for the Pasar Behind sub-district, the coastal language is dominant, the North Sibolga sub-district is Batak dominant, while in the Sibolga Sambas sub-district and the South Sibolga sub-district, the coastal language is dominant. As for traditional activities which include weddings, deaths or others, we will find that there are two dominant ethnic customs, namely the Coastal and Batak customs. In line with the religion, the Sibolga community consists of two dominant religions, namely Islam and Christianity.Abstrak: Penelitian ini berangkat dari kegelisahan masyarakat Sibolga yang menamakan dirinya masyarakat Pesisir di Sibolga dan sekitarnya. Kecemasan ini muncul karena ketidakjelasan posisi mereka sebagai satu kesatuan etnis dengan budaya pesisir yang mereka miliki dan masih diterapkan hingga saat ini dalam kehidupan mereka, yaitu budaya Sumando. Data kependudukan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (disdukcapil) kota Sibolga juga tidak menyebutkan adanya etnis Pesisir, sedangkan etnis lain seperti Batak, Minang, Aceh, Nias, Jawa dan lain-lain dicantumkan dengan jelas. Terakhir, SK Walikota Medan No. 025/02.K/VIII/2021 tentang Pakaian Dinas Adat Daerah  di Sumut juga tidak menyebutkan etnis Pesisir. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif. Dari pengamatan terlihat bahwa di tempat/lokasi umum terdapat tiga bahasa yang digunakan masyarakat dalam berinteraksi, yaitu bahasa Nasional (Indonesia), bahasa Pesisir dan bahasa Batak. Namun terdapat penggunaan yang dominan berdasarkan wilayah, misalnya di Kecamatan Sibolga Kota bahasa yang dominan adalah bahasa Indonesia, kecuali untuk kecamatan Pasar Behind, bahasa pesisir lebih dominan, kecamatan Sibolga Utara dominan bahasa Batak, sedangkan di Kecamatan Sibolga Sambas dan Kecamatan Sibolga Selatan bahasa pesisir lebih dominan. Adapun kegiatan adat yang meliputi pernikahan, kematian atau lainnya, kita menemukan ada dua adat etnis yang dominan, yaitu adat Pesisir dan Batak. Sejalan dengan agama, masyarakat Sibolga terdiri dari dua agama dominan, yaitu Islam dan Kristen. 
Pengetahuan Kewirausahaan Masyarakat Aceh: Kunjungan Kembali ke Pidie dan Bireuen Ade Ikhsan Kamil; Ibrahim Chalid; Richa Meliza; Faizul Aulia
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i2.8454

Abstract

Abtract: This study aims to discuss the trade knowledge of the Acehnese in Pidie and Bireuen. The research method used in this study is a qualitative method with observation and interview data collection techniques. In this study, researchers used the ethnoscience paradigm, where researchers were able to classify the knowledge of traders through a language approach, both spoken and symbolic in order to gain knowledge related to the views, regeneration patterns and social networks of traders. The results of the temporary research in this study are: First, there is the knowledge of the cloth traders in Bireuen about the trading business carried out. Second, there is a portrait of the business spirit of the bus company in Pidie, as a bus company that exists today in the midst of the Acehnese people.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk membahas pengetahuan dagang orang Aceh di Pidie dan Bireuen. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan paradigma etnosains, di mana peneliti dapat mengklasifikasikan pengetahuan para pedagang melalui pendekatan bahasa baik lisan maupun simbolik demi mendapatkan pengetahuan terkait dengan pandangan, pola regenerasi dan jaringan sosial para pedagang. Hasil penelitian sementara dalam penelitian ini adalah: Pertama, terdapat pengetahuan para pedagang kain di Bireuen mengenai usaha dagang yang dilakukan. Kedua, terdapat potret semangat usaha perusahaan bis yang ada di Pidie, sebagai perusahaan bis yang eksis saat ini di tengah masyarakat Aceh. 
Bank Sampah dan Budaya Menabung: Sebuah Refleksi dari PPM di Desa Marendal II Fikarwin Zuska; Evi Naria; Haris Martondi Hasibuan; Hadi Prasetyo
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i2.7478

Abstract

Abstract: This paper discusses the socio-cultural implications (hidden values) that are expected to occur along with the construction of Bank Sampah (a waste bank) in a community by the local young generation (insiders) with the assistance of the LPPM-USU service team (outsiders). The data and information material for compiling this work were obtained from notes on these activities: providing assistance in establishing a Waste Bank together with a youth association called PERMADA in Dusun III, Desa Marindal II, Kabupaten Deli Serdang. This activity is carried out with a semi-participatory approach, with a processual paradigm, to overcome the problem of solid waste at the location of the activity. Garbage at the activity location has not been managed properly even though the local village already has a Village Regulation on waste management. The Waste Bank---along with other elements---which was introduced by the LPPM-USU is intended to invite residents to manage waste together, to build a clean culture. The socio-cultural implications of this activity, which participants are not necessarily aware of, are the growth of a culture of saving; one type of habit that is very important in managing wealth. Saving is closely related to the culture of saving and thrieft, collecting, and a culture that is oriented towards the future. However, it is these cultures that have not yet grown, which are still waiting for their presence as an empirical reality in the community through the assistance of the Waste Bank which continues to be carried out indefinitely.Abstrak: Paper ini membicarakan implikasi sosial-budaya (nilai tersebunyi) yang diharapkan akan terjadi seiring pembangunan bank sampah di satu kominitas oleh generasi muda setempat (orang dalam) dengan dampingan tim pengabdian LPPM USU (orang luar). Data dan bahan informasi untuk menyusun karya ini diperoleh dari catatan atas kegiatan tersebut: melakukan pendampingan mendirikan Bank Sampah bersama-sama dengan perkumpulan remaja bernama PERMADA di Dusun III Desa Marindal II Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan ini dilakukan dengan pendekatan semi-partisipatoris, dengan paradigma prosessual, untuk mengatasi masalah persampahan di lokasi kegiatan. Sampah di lokasi kegiatan selama ini belum dikelola secara baik walaupun desa setempat sudah memiliki Peraturan Desa tentang pengelolaan sampah. Bank Sampah ---beserta unsur-unsur lainnya--- yang diintroduksi oleh LPPM USU dimaksudkan untuk mengajak warga mengelola sampah bersama, membangun budaya bersih.  Implikasi sosial-budaya dari kegiatan ini, yang belum tentu sangat disadari oleh partisipan, ialah penumbuhan budaya menabung; satu jenis kebiasaan yang sangat penting dalam mengelola kekayaan. Menabung sangat erat kaitannya dengan budaya menyimpan dan menghemat, mengumpul, serta budaya yang berorientasi ke depan. Namun budaya-budaya inilah yang belum tumbuh, yang masih ditunggu kehadirannya sebagai kenyataan empirik di masyarakat melalui pendampingan Bank Sampah yang terus dilakukan tanpa batas akhir.  
Fungsi Komunikasi Lintas Budaya dalam Konflik Agama Masyarakat Perbatasan Aceh Muji Mulia; Muhajir Al-Fairusy; Zulfatmi Zulfatmi; Zakki Fuad Khalil
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i2.8116

Abstract

Abstract: This study discussed socio-religious events at the Aceh border. The border is defined as the boundary line between Aceh which uphold Islam as its identity with the neighboring province which has multiculturalism as its identity. The border is a melting pot for various ethnic and religious groups which formed their distinctive identity. Cross-cultural communication is become necessary to reduce religious conflict that has emerged for a long time. This study asks this question: why cross-cultural communication is important for Acehnese border communities. This study used a qualitative method with an ethnographic approach to understanding the identity awareness of people who have diverse identities. Strengthening cross-cultural communication can be categorized as a form of social engineering in the context of the integration of Acehnese border communities. The study showed that religious conflicts on the Aceh border, especially at the Singkil Regency, which have occurred since 1979 and peaked in 2015 were triggered by the state of identity politics. Religious theological nuances were massively involved in the conflict and contestation, this attitude showed the legitimacy of political interests. Historically, the people of Singkil came from one ancestor with the same clan. Community integration can only be done through culture-based communication as the glue of social relations. Cross-cultural forms of communication could be found in public spaces such as traditional markets and local community weddings.Abstrak: Studi ini mendiskusikan peristiwa sosial keagamaan di perbatasan (border) Aceh. Perbatasan mengandung makna garis batas, antara Aceh yang menjunjung Islam sebagai identitas dengan provinsi tetangga yang multikultur. Kawasan ini menjadi titik pertemuan ragam etnis dan agama yang membentuk identitas tersendiri. Komunikasi lintas budaya dalam rangka meredam konflik agama yang telah lama muncul menjadi keniscayaan. Studi ini beranjak dari pertanyaan mengapa komunikasi lintas budaya penting bagi masyarakat perbatasan Aceh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi untuk memahami kesadaran identitas masyarakat yang memiliki identitas beragam. Penguatan komunikasi lintas budaya dapat dikategorikan sebagai bentuk rekayasa sosial dalam konteks integrasi masyarakat perbatasan Aceh. Hasil penelitian menunjukkan jika konflik agama di perbatasan Aceh, khususnya Kabupaten Singkil yang terjadi sejak tahun 1979 dan puncaknya pada tahun 2015 dipicu oleh keadaan politik identitas. Nuansa teologis keagamaan dilibatkan secara masif dalam konflik dan kontestasi tersebut, sikap ini menunjukkan adanya legitimasi kepentingan yang bersifat politis. Realitas sejarah, masyarakat Singkil berasal dari satu nenek moyang dengan marga yang sama. Integrasi masyarakat hanya bisa dilakukan melalui komunikasi berbasis budaya sebagai perekat hubungan sosial. Bentuk komukasi lintas budaya dapat ditemui di ruang publik seperti pasar tradisional dan acara pesta perkawinan masyarakat setempat.
Ekologi Politik Budidaya Singkong di Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat Nadia Putri Ardyani; Budhi Gunawan; Junardi Harahap
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i2.8040

Abstract

Abtract: Indonesia is one of the fourth largest cassava producing countries in the world after Nigeria, Thailand and Brazil. The regions with the highest cassava producers in Indonesia include Lampung, Central Java, East Java, West Java and North Sumatra. However, increasing the high productivity of cassava without applying sustainable and sustainable cassava cultivation techniques can potentially cause damage to soil/agricultural land. This study discusses the factors and reasons behind farmers continuing to cultivate cassava, especially in areas located in one of the sub-districts in Bandung Regency, West Java. The method used in this study is a descriptive-explanatory qualitative method. The results showed that cassava planting activities have been carried out by farmers in this area for a long time, farmers plant cassava because cassava becomes a savings crop during the dry season. Easy planting and minimal capital are considered by farmers to plant cassava as an additional income for their farming business.Abstrak:  Indonesia merupakan salah satu Negara penghasil singkong terbanyak ke empat di dunia setelah Nigeria, Thailand, dan Brazil. Adapun daerah dengan penghasil singkong tertinggi di Indonesia anatara lain Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sumatera Utara. Namun, peningkatan produktivitas singkong yang tinggi tanpa menerapkan teknik budidaya singkong yang lestari dan berkelanjutan maka hal itu dapat berpotensi menyebabkan terjadinya kerusakan tanah/lahan pertanian. Penelitian ini membahas tentang faktor-faktor dan alasan yang melatarbelakangi petani tetap melakukan budidaya singkong khususnya di wilayah yang berada di salah satu kecamatan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif secara descriptive-explanatory. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan penanaman singkong telah dilakukan sejak dahulu oleh para petani di wilayah ini, para petani menanam singkong karena singkong menjadi tanaman tabungan di kala musim kemarau. Penanaman yang mudah dan minim modal menjadi pertimbangan petani untuk menanam singkong sebagai tambahan penghasilan usaha tani mereka.
Kontestasi Pemasaran Kopi Gayo di Aceh Tengah dan Bener Meriah M Nazaruddin; Abdullah Akhyar Nasution; Ade Ikhsan Kamil; Putri Prastika
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i2.9117

Abstract

Abtract: The emergence of classification and orientation of coffee farmers that focuses on preserving local values and aims solely for commercialization has created a marketing contest for processed coffee products in the Gayo highlands. Based on this, this study aims to identify how the contestation that occurs at the level of gayo coffee marketing along with the actors involved in it. That is, this article wants to explain the understanding and practice of contestation that occurs between coffee farmers with various farming practices with specialty coffee producers and export-based coffee producers. By using a qualitative method with a descriptive type, the researcher tries to understand (verstehen) so that the intensity of the interaction between the researcher and the subject emerges. So that efforts to capture meaning from the point of view and appreciation of coffee processing business actors on their motives and choices of actions in managing coffee agricultural products will be revealed. The results show that there are two main actors in the coffee marketing model in the Gayo highlands, namely cooperative-based farmer groups representing export market schemes and roasting companies representing regional and national market schemes.Abstrak: Munculnya klasifikasi dan orientasi petani kopi yang berfokus pada pelestarian nilai lokal serta bertujuan untuk komersialisasi semata telah memunculkan kontestasi pemasaran produk olahan kopi di dataran tinggi Gayo. Berdasarkan hal tersebut, studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana kontestasi yang terjadi di aras pemasaran kopi gayo beserta dengan aktor yang terlibat di dalamnya. Artinya, artikel ini ingin menjelaskan tentang pemahaman dan praktek kontestasi yang terjadi diantara para petani kopi dengan ragam praktik bertani dengan produsen kopi specialty dan produsen kopi berbasis ekspor. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan tipe deskriptif, peneliti berusaha memahami (verstehen) sehingga muncul intensitas dari interaksi antara peneliti dengan subjek. Sehingga upaya menangkap makna dari sudut pandang dan penghayatan para pelaku usaha pengolahan kopi atas motif dan pilhan tindakan mereka dalam mengelola hasil pertanian kopi akan bisa diungkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua aktor utama dalam model pemasaran kopi di dataran tinggi Gayo yaitu kelompok petani berbasis koperasi yang mewakili skema pasar ekspor dan perusahaan roasting yang mewakili skema pasar regional dan nasional. 
Eksistensi Permainan Anak Tradisional di Era Modern: Studi Kasus di Nagari Lubuk Basung, Kabupaten Agam Elsa Cornelis Putri; Sri Setiawati; Sidarta Pujiraharjo
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i2.8738

Abstract

Abtract: In the midst of the proliferation of children who prefer electronic games, in fact there are still children in several areas in Indonesia who still play traditional games, one of which is in the Lubuk Basung village. The purpose of this study is to identify the types of traditional games that are still played by children, describe what factors cause traditional children’s games in Lubuk Basung village to still survive and analyze children’s views of the traditional game.The research method used is qualitatively descriptive in which informants are divided into two parts, namely ordinary informants and key informants. Based on the results of research conducted is that traditional games still exist in Nagari Lubuk Basung proven by still being played by children although in the current era of modernization, the types of games that exist are also diverse including Cassava Games, Jump Rope (Kajai), Hide and Seek (Kaja Mandok/Sipak Tekong), Lhore (Dore), Kite, Bamboo Cannon (Badia Batuang), Congklak (Congkak) and Marbles. Although traditional games at this time have begun to shift with modern games due to the development of existing technology. However, for children in Nagari Lubuk Basung, traditional games still exist today. Basically, children are found in traditional games, there are no more adults who play it. Adults are more interested in playing modern games than mobile phones, as well as the demands of age that don’t allow them to play traditional games anymoder.Abstrak:  Di tengah maraknya anak-anak yang lebih memilih permainan elektronik, nyatanya masih ada anak-anak di beberapa daerah di Indonesia yang masih memainkan permainan tradisional salah satunya di Nagari Lubuk Basung. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis permainan tradisional yang masih dimainkan oleh anak-anak,mendeskripsikan faktor-faktor apa yang menyebabkan permainan anak tradisional di Nagari Lubuk Basung masih bertahan,dan menganalisis pandangan anak-anak terhadap permainan tradisional tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif yang mana informan dibagi dalam dua bagian yakni informan biasa dan informan kunci. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan adalah permainan tradisional masih eksis di Nagari Lubuk Basung terbukti dengan masih dimainkan oleh anak-anak meskipun di era modernisasi saat ini, jenis permainan yang ada juga beragam diantaranya Permainan Singkong, Lompat Tali (Kajai), Petak Umpet (Kaja Mandok/Sipak Tekong), Lhore (Dore), Layang-layang, Meriam Bambu (Badia Batuang), Congklak (Congkak), dan Kelereng. Meskipun permainan tradisional pada saat sekarang sudah mulai tergeser dengan permainan modern karena perkembangan teknologi yang ada. Akan tetapi, bagi anak-anak di Nagari Lubuk Basung,permainan tradisional masih tetap eksis sampai sekarang. Pada dasarmya, anak-anaklah yang banyak dijumpai dalam bermain permainan tradisional, sudah tidak ada lagi orang dewasa yang memainkannya. Orang dewasa lebih tertarik memainkan permainan modern dari hp, dan juga tuntutan usia yang tidak memungkinkan mereka memainkan permainan tradisional lagi.
Pengetahuan Ibu Menyusui dalam Pemberian ASI Ekslusif Bayi di Lingkungan Prioritas Stunting Taufik Ismail; Yunarti Yunarti; Sri Meiyenti
Aceh Anthropological Journal Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v7i1.9493

Abstract

This study describes how knowledge related to exclusive breastfeeding in Nagari Kampung Baru Korong Nan Ampek. Proper exclusive breastfeeding will minimize the occurrence of stunting. The exclusive breastfeeding coverage rate in Nagari is quite low at 40%. This study aims to examine why the coverage rate of exclusive breastfeeding in Nagari is still low and how the knowledge of mothers who have babies is related to exclusive breastfeeding. This study uses qualitative research methods with data collection techniques through observation, in-depth interviews, literature study and documentation. In the selection of informants using a purposive sampling technique, where the informants were selected by researchers, namely mothers who were breastfeeding their children during the exclusive breastfeeding period, starting from 0 to 6 months of age. Based on the results of the study, it was found that the knowledge of mothers who have babies is still in a low stage, there are still many mothers who do not exclusively breastfeed their babies, mothers in Nagari still give other foods besides breast milk in the age range of 0 to 6 months. The low coverage of exclusive breastfeeding in Nagari is influenced by several factors such as cultural factors, socialization from the government, education and social environmental factors. Mother's knowledge regarding exclusive breastfeeding in this nagari has not yet reached the stage of correct giving practice. Mothers do not know about exclusive breastfeeding because in their culture there is also no such thing.Abstrak: Penelitian ini mendeskripsikan bagaimana pengetahuan terkait ASI eksklusif di Nagari Kampung Baru Korong Nan Ampek. Pemberian ASI eksklusif yang tepat akan meminimalisir terjadinya stunting. Angka cakupan ASI eksklusif di Nagari cukup rendah yaitu 40%. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji mengapa angka cakupan pemberian ASI eksklusif di Nagari masih rendah dan bagaimana hubungan pengetahuan ibu yang memiliki bayi dengan pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, studi literatur dan dokumentasi. Dalam pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling, dimana informan dipilih oleh peneliti yaitu ibu yang sedang menyusui anaknya pada masa pemberian ASI eksklusif mulai dari usia 0 sampai dengan 6 bulan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pengetahuan ibu yang memiliki bayi masih rendah, masih banyak ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya, ibu di Nagari masih memberikan makanan lain selain ASI pada bayinya. rentang usia 0 sampai 6 bulan. Rendahnya cakupan ASI eksklusif di Nagari dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor budaya, sosialisasi dari pemerintah, pendidikan dan faktor lingkungan sosial. Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif di nagari ini belum sampai pada tahap praktik pemberian yang benar. Ibu tidak tahu tentang ASI eksklusif karena di budaya mereka juga tidak ada yang seperti itu.
Marepdep Ka Laggai Siburuk: Relokasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami Mentawai Intan Violetta; Sri Setiawati; Zainal Arifin
Aceh Anthropological Journal Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v7i1.9863

Abstract

The earthquake and tsunami that hit the Mentawai Islands Regency 12 years ago still leaves its mark. The tsunami that hit several hamlets, particularly in North Pagai Island and South Pagai Island, required the community to participate in the government's relocation program. Sabeugggunggung Hamlet in Betumonga Village is one of the hamlets participating in the relocation. This paper wants to explore the cultural experience of the Sabeugunggung shelter community as well as those who choose to return to laggai. The research location is at the Sabeugggung shelter KM.14 Jalan Poros Pagai Utara. The method used is life story and participatory observation using the ethnoscience paradigm. The findings show there are several things that make residents stay in the refugee camps as well as choose to go back and forth between laggai-huntap, including trauma, economic pressure and their ancestral plantations. There are people who are still too traumatized to return to laggai and who survive by finding new jobs in the shelter. There are people who are still traumatized, but due to economic pressure in the shelters they are forced to return to laggai to cultivate their fields there. And there are also people who live in shelters, have a livelihood in shelters but want to return because of cultural ties to laggai. Another factor that becomes a problem in the shelter residence is that until now the community has not received a land or residence certificate as a form of legality for them to live there.Abstrak: Gempa dan tsunami yang melanda Kabupaten Kepulauan Mentawai 12 tahun lalu masih membekas. Tsunami melanda beberapa dusun, khususnya di Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan, menuntut masyarakat untuk ikut serta dalam program relokasi pemerintah. Dusun Sabeugggunggung di Desa Betumonga merupakan salah satu dusun yang ikut relokasi. Tulisan ini ingin menggali pengalaman budaya masyarakat shelter Sabeugunggung serta mereka yang memilih kembali ke laggai. Lokasi penelitian berada di Halte Sabeugggung KM.14 Jalan Poros Pagai Utara. Metode yang digunakan adalah life story dan observasi partisipatif dengan menggunakan paradigma etnosains. Temuan menunjukkan ada beberapa hal yang membuat warga bertahan di pengungsian sekaligus memilih bolak-balik laggai-huntap, antara lain trauma, tekanan ekonomi dan perkebunan leluhur mereka. Ada orang yang masih terlalu trauma untuk kembali ke laggai dan bertahan hidup dengan mencari pekerjaan baru di tempat penampungan. Ada warga yang masih trauma, namun karena desakan ekonomi di pengungsian terpaksa kembali ke laggai untuk menggarap ladangnya di sana. Dan ada juga masyarakat yang tinggal di pengungsian, memiliki mata pencaharian di pengungsian namun ingin kembali karena ikatan budaya dengan laggai. Faktor lain yang menjadi permasalahan di tempat tinggal shelter adalah hingga saat ini masyarakat belum mendapatkan sertifikat tanah atau tempat tinggal sebagai bentuk legalitas mereka untuk tinggal di sana.