The International Journal of Pegon Islam Nusantara Civilization
This journal specialized academic journal dealing with the theme of religious civilization and literature in Indonesia and Southeast Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with perspectives of philosophy, philology, sociology, antropology, archeology, art, history, and many more. This journal invites scholars from Indonesia and non Indonesia to contribute and enrich the studies published in this journal. This journal published twice a year with the articles written in Pegon, Arabic and English and with the fair procedure of blind peer-review.
Articles
110 Documents
Pondasi Peradaban Pondok Pesantren
i, Khasanuri;
Alnizar, Fariz
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 11 No 03 (2023): Strategi Dakwah, Gerakan Sosial dan Moderasi Beragama
Publisher : INC- Islam Nusantara Center
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51925/inc.v11i03.93
The process of religious education in Islamic boarding schools is considered very comprehensive because it does not only transfer knowledge, but transfers values, not only emphasizing theoretical understanding, but practicing worship at the same time and not relying solely on memorizing a series of scientific theories but getting used to the tradition of practice. Rituals also do not only rhetorically promote the concepts of 'sama', tawassuth, and tawazun, but implement them at the practical level of pesantren life. Therefore, up to now Islamic Boarding Schools have become one of the centers for learning Islamic sciences that are most trusted by Muslims. Islamic boarding schools have double power, namely a kyai as the leader of the Islamic boarding school and the Islamic boarding school itself as an educational institution and system. As one of the unique cultural treasures of Indonesian Muslims, Islamic boarding schools have proven to be a barometer of the defense of Muslim morality and are social and religious educational institutions that are capable of changing society in their environment towards the transformation of religious and national values. The basics of Islamic boarding school civilization manifest through the potential and role played by Islamic boarding schools in maintaining their existence and playing an active role in utilizing their potential as educational institutions for the benefit of deepening religious knowledge (tafaqquh fiddin). Proses pendidikan keagamaan di pondok pesantren dinilai sangat komprehensif karena tidak hanya melakukan transfer of konwoledge, akan tetapi transfer of value’s, tidak hanya menekankan pada pemahaman teori, akan tetapi praktik ibadah sekaligus dan tidak hanya mengandalkan hafalan serangkaian teori keilmuan akan tetapi membiasakan diri dalam tradisi praktik ritual juga tidak hanya secara retoris menggalakkan konsep ‘adalah, tawassuth, dan tawazun, akan tetapi mengimplementasikannya dalam tataran praktis kehidupan pesantren. Oleh karenanya hingga sekarang Pondok Pesantren menjadi salah satu pusat belajar ilmu-ilmu keislaman yang paling dipercaya oleh umat Islam. Pondok Pesantren mempunyai kekuatan ganda (double power) yaitu seorang kyai sebagai pemimpin pondok pesantren dan pesantren sendiri sebagai institusi dan sistem pendidikan. Sebagai salah satu kekayaan budaya umat Islam Indonesia yang khas, pondok- pesantren telah terbukti menjadi barometer pertahanan moralitas umat Islam dan merupakan lembaga sosial dan pendidikan keagamaan yang mampu melakukan perubahan masyarakat di lingkungannya ke arah transformasi nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan. Dasar-dasar peradaban pondok-pesantren mengejawantahkan melalui potensi dan peran yang dimainkan oleh pondok pesantren dalam mempertahankan eksistensinya dan berperan aktif memanfaatkan potensinya sebagai lembaga pendidikan untuk kepentingan pendalaman ilmu agama (tafaqquh fiddin).
Pluralisme Agama dan Keterlibatan Masyarakat dalam Pemilihan Umum 2024
Khairiya, Nanda
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 11 No 03 (2023): Strategi Dakwah, Gerakan Sosial dan Moderasi Beragama
Publisher : INC- Islam Nusantara Center
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51925/inc.v11i03.95
This article originated from the author's anger about the meaning of pluralism that develops in society. Through the MUI Fatwa in 2005 which equates pluralism with liberalism and secularism, it shows that pluralism cannot be interpreted properly. Therefore, through this article, the author presents some pluralism theories that are not far from the official religious teachings adopted in Indonesia. According to John Hick, Gus Dur, and Muhammad Legenhausen, pluralism is close to the diction of interfaith dialogue and one's inclusiveness. Today's pluralist view needs to be conveyed destructively so that it no longer becomes an obstacle to society in political dynamics. Religious views can never be separated from political views in Indonesia, especially in the atmosphere of the political year ahead of the 2024 elections. This research uses a library research method that dissects 3 pluralist thoughts typical of John Hick, Gus Dur, and Muhammad Legenhausen. The results of the study stated that correlations related to community dynamics and community involvement in elections need important attention from community leaders and religion. More than that, the government’s role to be able to provide an atmosphere of harmony in the community is also an important thing to do. The harmony created will make people more comfortable in dabbling in politics today. Artikel ini berawal dari kegusaran penulis mengenai makna pluralisme yang berkembang di masyarakat. Melalui Fatwa MUI tahun 2005 yang menyamakan pluralisme dengan liberalisme dan sekularisme menunjukkan bahwa pluralisme belum dapat dimaknai secara baik. Oleh karenanya melalui artikel ini penulis mencoba menghadirkan beberapa teori pluralis yang nyatanya tidak jauh dari ajaran agama resmi yang dianut di Indonesia. Bahwa pluralisme menurut John Hick, Gus Dur, dan Muhammad Legenhausen dekat pada diksi dialog lintas agama dan sikap inklusifitas seseorang. Pandangan pluralis hari ini perlu disampaikan secara destruktif agar tidak lagi menjadi halangan masyarakat dalam dinamika politik. Pandangan keagamaan tidak pernah lepas dari pandangan politik di Indonesia, terlebih dalam suasana tahun politik menjelang pemilu 2024. Penelitian ini menggunakan metode library research yang membedah 3 pemikiran pluralis khas John Hick, Gus Dur, dan Muhammad Legenhausen. Hasil penelitian menyebutkan bahwa korelasi terkait dinamika masyarakat dan keterlibatan masyarakat dalam Pemilu perlu mendapat perhatian penting dari para tokoh masyarakat, dan agama. Lebih daripada itu peran pemerintah untuk bisa memberikan suasana rukun ditengah masyarakat juga menjadi hal penting untuk dilakukan. Kerukunan yang tercipta akan membawa masyarakat semakin nyaman dalam berkecimpung dalam dunia politik hari ini.
Komunikasi Dakwah Walisongo Sebagai Strategi Dakwah Di Nusantara
Estuningtiyas, Retna Dwi
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 11 No 03 (2023): Strategi Dakwah, Gerakan Sosial dan Moderasi Beragama
Publisher : INC- Islam Nusantara Center
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51925/inc.v11i03.96
Islam developed in the archipelago around the 13th century AD with Walisongo's services in spreading Islamic teachings. In Javanese society, the term walisongo is a name that is very well known and has a special meaning and is used to refer to the names of these figures, which are seen as the beginning of Islamic broadcasting in Java. Qualitative research with a literature study approach is expected to be able to find out about da'wah communication as a da'wah method used by Walisongo in preaching Islam. The application of a flexible or good da'wah method with a cultural or acculturation approach is carried out well so that it can be well received by the Javanese community and that walisongo is not considered a threat on the island of Java. Islam berkembang di Nusantara sekitar abad 13 M dengan jasa Walisongo dalam penyebaran ajaran Islam. Dalam masyarakat Jawa, sebutan Walisongo adalah nama yang sangat terkenal dan memiliki arti khusus, yang digunakan untuk merujuk nama-nama tokoh tersebut dipandang sebagai awal mula penyiaran Islam di Jawa.Penyebaran dengan pemilihan wilayah dakwah tentu mempunyai pertimbangan tersendiri. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka ini diharapkan dapat mengetahui komunikasi dakwah debagai metode dakwah yang dipergunakan Walisongo dalam mendakwahkan Islam. Penerapan metode dakwah yang lentur atau baik dengan pendekatan budaya atau akulturasi dilakukan dengan baik sehingga dapat diterima baik oleh masyarakat Jawa, sehingga walisongo tidak dianggap sebagai ancaman di Pulau Jawa.
Dampak Kebijakan Geopolitik & Geostrategis China Di Asia Pasifik Terhadap Indonesia
Isnaini, Dhiaur Rahman
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 11 No 03 (2023): Strategi Dakwah, Gerakan Sosial dan Moderasi Beragama
Publisher : INC- Islam Nusantara Center
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51925/inc.v11i03.97
Indonesia has a strategic geographical position, especially in the Asia Pacific Region. The Asia-Pacific region is a strategic area that brings together super power countries (United States, China, Russia and Japan). This has had both negative and positive impacts on the development of Indonesia's strategic environment, especially when it relates to the geopolitical and geostrategic policies of superpower countries, especially China. To analyze this impact, this research used a qualitative descriptive approach.The research results show that China's geopolitical and geostrategic policies have had both negative and positive impacts on Indonesia, but what needs to be watched out for is the negative impacts because they have the potential to be a threat to Indonesia's national stability. Indonesia memiliki posisi geografis yang strategis khususnya di Kawasan Asia Pasifik. Kawasan Asia-Pasifik merupakan kawasan strategis yang mempertemukan negara-negara super power (Amerika Serikat, China, Rusia, dan Jepang). Hal ini memberikan dampak negative maupun positif bagi perkembangan lingkungan strategis Indonesia, terutama jika berkaitan dengan kebijakan geopolitik dan geostrategis negara-negara superpower, khususnya China. Untuk menganalisis dampak tersebut, dalam riset ini digunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil riset menunjukkan bahwa kebijakan geopolitik dan geostrategis China memberikan dampak negatif dan positif di Indonesia, tetapi yang perlu di waspadai adalah dampak negatifnya karena berpotensi menjadi ancaman bagi stabilitas nasional Indonesia.
Internalisasi Moderasi Beragama Berbasis Ingatan Sejarah
Maryani, Lesi
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 11 No 03 (2023): Strategi Dakwah, Gerakan Sosial dan Moderasi Beragama
Publisher : INC- Islam Nusantara Center
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51925/inc.v11i03.98
Penelitian ini membahas tentang internalisasi moderasi beragama berbasis ingatan sejarah di Kampung Air Mata, Nusa Tenggara Timur, dengan fokus pada hubungan antara masyarakat Muslim Air Mata dan masyarakat non-Muslim. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan sejarah yang melibatkan tahap pencarian sumber, kritik sumber, interpretasi data sejarah, dan penulisan sejarah. Penelitian ini berusaha untuk memahami bagaimana ingatan sejarah mempengaruhi proses internalisasi moderasi beragama dalam interaksi antara kedua komunitas tersebut. Dengan menganalisis narasi-narasi historis, ritual keagamaan, dan interaksi sosial dalam konteks sejarah lokal, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana persepsi masa lalu membentuk pandangan dan sikap saat ini terhadap pluralisme agama. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan tentang bagaimana faktor sejarah memainkan peran penting dalam membentuk identitas dan nilai-nilai agama moderat dalam masyarakat. Implikasi dari penelitian ini dapat membantu dalam merancang pendekatan yang lebih efektif untuk mempromosikan kerukunan antaragama dan mengatasi polarisasi dalam masyarakat yang beragam. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman tentang dinamika hubungan antaragama dalam suatu konteks sejarah lokal dan dampaknya pada konteks sosial saat ini. This study discusses the internalization of religious moderation based on historical memory in Kampung Air Mata, East Nusa Tenggara, focusing on the relationship between the Air Mata Muslim community and the non-Muslim community. The research method used is a historical approach that involves the stages of finding sources, criticizing sources, interpreting historical data, and writing history. This study seeks to understand how historical memory influences the process of internalization of religious moderation in interactions between the two communities. By analyzing historical narratives, religious rituals, and social interactions in the context of local history, this study aims to uncover how past perceptions shape current views and attitudes towards religious pluralism. The results of this study are expected to provide insight into how historical factors play an important role in shaping moderate religious identity and values in society. The implications of this research could help in designing more effective approaches to promote interfaith harmony and address polarization in diverse societies. Thus, this research contributes to the understanding of the dynamics of interreligious relationships in a local historical context and their impact on the current social context.
Kajian Tafsir Nusantara
Hamzah, Idil;
Marwati, Andi
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 11 No 03 (2023): Strategi Dakwah, Gerakan Sosial dan Moderasi Beragama
Publisher : INC- Islam Nusantara Center
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51925/inc.v11i03.101
This article discusses the methodology of writing the al-Munir exegesis by Jalaluddin Thaib. The article employs a literature review method, drawing its sources from various literary works (library research). The findings of this research conclude that the al-Munir exegesis is a significant milestone in the history of exegesis in Indonesia. The work of Buya Jalaluddin Thaib represents an intellectual and spiritual treasure for Muslims, especially in Indonesia. Despite its great potential, a deep understanding of both the author and his work is still not widely disseminated. Buya Jalaluddin Thaib, a scholar from Minangkabau, displayed leadership qualities from a young age. His interest in education continued, including writing books for religious schools and establishing the Association of Religious School Teachers (PGSA) in the Minangkabau region. The al-Munir exegesis, authored by Buya Jalaluddin Thaib, aims to help the community understand the meanings and content of the Quran. It was written to facilitate beginners studying the Quran and to assist Muslims in their worship. The unique characteristics of the Al-Munir exegesis, authored by an Indonesian scholar, particularly from the Minangkabau region, offer hope that this valuable manuscript can be effectively managed to enhance access and preserve intellectual richness in Indonesia. Artikel ini mengulas tentang metodologi penulisan tafsir Al-Munir karya Jalaluddin Thaib. Artikel ini menggunakan metode kepustakaan yang dimana sumber datannya bersumber dari literatur-literatur (library research). Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa tafsir Al-Munir merupakan salah satu babak penting dalam sejarah pemikiran tafsir di Indonesia. Karya Buya Jalaluddin Thaib ini merupakan harta intelektual dan spiritual bagi umat Muslim, terutama di Indonesia. Meskipun memiliki potensi yang besar, pemahaman mendalam tentangnya masih belum tersebar luas, baik mengenai pengarangnya maupun karyanya. Buya Jalaluddin Thaib adalah seorang ulama asal Minangkabau yang menunjukkan bakat kepemimpinan sejak usia dini. Minatnya dalam dunia pendidikan terus berlanjut, termasuk dalam penulisan buku untuk pendidikan di sekolah agama, serta pendirian Persatuan Guru-Guru Sekolah Agama (PGSA) se-Minangkabau.Tafsir Al-Munir yang ditulis oleh Buya Jalaluddin Thaib memiliki tujuan untuk membantu masyarakat memahami makna dan kandungan isi Al-Qur'an. Penulisannya bertujuan untuk memfasilitasi pemula yang mempelajari Al-Qur'an serta memudahkan umat Muslim dalam pelaksanaan ibadah. Karakteristik unik dari Tafsir Al-Munir yang ditulis oleh ulama asli Indonesia, khususnya Minangkabau, memberikan harapan bahwa manuskrip berharga ini dapat dikelola dengan baik untuk mempermudah akses dan melestarikan kekayaan intelektual di Indonesia.
Kritik KH. Bisri Musthofa Atas Problem Modernitas Dalam Naskah Syi'ir Mitra Sejati
Wafa, Mohammad Zainul
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 11 No 03 (2023): Strategi Dakwah, Gerakan Sosial dan Moderasi Beragama
Publisher : INC- Islam Nusantara Center
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51925/inc.v11i03.102
This research aims to identify criticism of modernity contained in the syi'ir Mitra Sejati written by KH. Bisri Musthofa. The research method used is a descriptive qualitative approach with text analysis. This research is a literature study using the Mitra Sejati manuscript as the research object. The analysis was carried out by adopting a literary sociology perspective with the theory of social criticism of modernity which was interpreted through Hans-Georg Gadamer's hermeneutic approach. The research results show that Kiai Bisri Musthofa raises issues that are considered to have arisen as a result of rapid changes in times. This includes concerns about the decline in morals or values within each individual, rapid social change, and cultural shifts. Kiai Bisri in general really encourages progress in everyone. However, he also warned against falling into negative behavior which is the social impact of current developments. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kritik terhadap modernitas yang terdapat dalam syi'ir Mitra Sejati yang ditulis oleh KH. Bisri Musthofa. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis teks. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan menggunakan naskah Mitra Sejati sebagai objek penelitian. Analisis dilakukan dengan mengadopsi perspektif sosiologi sastra dengan teori kritik sosial terhadap modernitas yang diinterpretasikan melalui pendekatan hermeneutik Hans-Georg Gadamer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kiai Bisri Musthofa mengangkat isu-isu yang dianggap muncul akibat perubahan zaman yang cepat. Hal tersebut mencakup kekhawatiran terhadap penurunan moral atau nilai-nilai dalam diri setiap individu, perubahan sosial yang berlangsung dengan cepat, dan pergeseran budaya. Kiai Bisri secara umum sangat mendorong adanya kemajuan pada diri setiap orang. Namun, beliau juga memberi peringatan agar tidak terjerumus dalam perilaku negatif yang merupakan dampak sosial dari perkembangan zaman.
The Cutting in the Fold
Yansyah, Andri;
Maryani, Lesi
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 12 No 01 (2024): Dakwah Digital, Moderasi Beragama dan Kajian Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51925/inc.v12i01.105
This article discusses the Kiai Protest Movement in East Java in the late nineteenth and early twentieth centuries, with a focus on the ability of the Kiai as a social elite to utilise their position in resistance to Dutch colonialism. Kiai, as religious and intellectual figures in pesantren, had significant social influence in East Javanese society. This article explains how the Kiai used their influence and authority to lead protest and anti-colonialism movements. By analysing how Kiai used their social standing to resist the Dutch, this article provides a deeper understanding of the key role of Kiai in protest and anti-colonial movements in East Java. It also reveals the complexity of the social and political dynamics of the period, in which religious elites such as Kiai played a pivotal role in the struggle against foreign colonialism. Artikel ini membahas tentang Gerakan Protes Kiai di Jawa Timur pada akhir abad XIX dan awal abad XX, dengan fokus pada kemampuan Kiai sebagai elite sosial dalam memanfaatkan posisinya dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Kiai sebagai tokoh agama dan intelektual di pesantren mempunyai pengaruh sosial yang signifikan dalam masyarakat Jawa Timur. Artikel ini menjelaskan bagaimana Kiai menggunakan pengaruh dan wewenangnya untuk memimpin gerakan protes dan anti-kolonialisme. Dengan menganalisis bagaimana Kiai menggunakan status sosialnya untuk melawan Belanda. artikel ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran kunci Kiai dalam gerakan protes dan anti-kolonial di Jawa Timur. Hal ini juga mengungkap kompleksitas dinamika sosial dan politik pada masa tersebut, di mana elit agama seperti Kiai memainkan peran penting dalam perjuangan melawan kolonialisme asing.
Muroqobah Dalam Fathul Arifin
Hasan, Muhammad Syahrul;
Windianti, Fitri;
Febriani, Sari
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 12 No 01 (2024): Dakwah Digital, Moderasi Beragama dan Kajian Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51925/inc.v12i01.108
This study highlights the gap in understanding the concept of muroqobah in "Fathul Arifin" by Sheikh Ahmad Khatib Sambas, as well as its limitations in application to the spiritual life of Muslims in the modern era. Its aim is to address this gap by gaining a deeper understanding of the concept and exploring its potential application in the context of contemporary spiritual life. The research methodology employs a qualitative approach with a case study design, focusing on the interpretation and implementation of the "Muroqobah" concept. Data collection techniques include text analysis, interpretation of meaning, and literature review, with primary data sourced from the digitization of the Fathul 'Arifin manuscript and secondary data from various manuscript catalogs. The analysis results indicate that "Fathul Arifin" serves as a significant guide for practitioners of the Qadariyyah wa Naqsabandiyyah order, facilitating profound reflection on the integration of spirituality into daily life. The concept of muroqobah is not only relevant religiously but also prompts contemplation on responsibility and meaning in life. Thus, the study concludes that the concept of muroqobah holds great potential for strengthening the spirituality of Muslims in the modern era, offering valuable guidance for practitioners of the order and individuals seeking depth in their religious experience. This abstract objectively reflects the content and main objectives of the study, avoiding exaggeration of conclusions or presenting unsupported findings from the main text. Penelitian ini menyoroti kesenjangan dalam pemahaman tentang konsep muroqobah dalam "Fathul Arifin" karya Syeikh Ahmad Khatib Sambas, serta keterbatasan aplikasinya dalam kehidupan spiritual umat Muslim pada zaman modern. Tujuannya adalah untuk mengisi kesenjangan ini dengan memahami secara lebih mendalam konsep muroqobah dan mengeksplorasi potensi aplikasinya dalam konteks kehidupan spiritual saat ini. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus sebagai rancangan utama, dengan fokus pada interpretasi dan implementasi konsep "Muroqobah". Teknik pengumpulan data meliputi analisis teks, penafsiran makna, dan studi literatur, dengan data primer dari digitalisasi Naskah Fathul 'Arifin dan data sekunder dari berbagai katalog naskah. Hasil analisis menunjukkan bahwa karya "Fathul Arifin" adalah panduan penting bagi praktisi tarekat Qadariyyah wa Naqsabandiyyah, membuka pintu bagi refleksi mendalam tentang integrasi spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari. Konsep muroqobah tidak hanya relevan secara keagamaan, tetapi juga mengundang untuk merenungkan tanggung jawab dan makna dalam kehidupan. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep muroqobah memiliki potensi besar untuk memperkuat spiritualitas umat Muslim pada era modern, memberikan panduan berharga bagi praktisi tarekat dan individu yang mencari kedalaman dalam pengalaman keagamaan mereka. Abstrak ini mencerminkan secara objektif konten dan tujuan utama penelitian, tanpa memperbesar kesimpulan atau menyajikan hasil yang tidak terbukti dalam teks utama.
Internalising Religious Moderation Through Historical Memory
Wahyudi, Johan;
Madjid, M. Dien;
Fahmi, Kaula
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 12 No 01 (2024): Dakwah Digital, Moderasi Beragama dan Kajian Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51925/inc.v12i01.109
This study aims to describe a historical perspective on religious moderation in the South Sulawesi region, focusing on the harmonious relationship between the Toraja, Bugis and other tribes. Although the majority of Tana Toraja's population is Christian, good relations with people of other religions, including Islam, have been established and maintained for centuries. Through a historical approach, this research will seek the historical roots of tolerance and peaceful relations between religious groups in the region. The history of the South Sulawesi region shows a tradition of religious moderation that has been passed down from generation to generation. The religious and cultural diversity of the region has shaped a unique and complementary social identity, despite the dark historical memories that exist between them. The research method used in this study is oral source-based historical analysis with Toraja traditional leaders. The data collected will be analysed to reveal the pattern of relationship between the tribes in the context of religion. The results of this study will illustrate that religious tolerance in South Sulawesi has been rooted since the past and did not appear out of nowhere. The tradition and culture of religious moderation have played a role in creating a social environment that respects differences and facilitates interfaith dialogue. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perspektif sejarah moderasi beragama di wilayah Sulawesi Selatan, dengan fokus pada hubungan harmonis antara suku Toraja, Bugis, dan suku lainnya. Meski mayoritas penduduk Tana Toraja beragama Kristen, namun hubungan baik dengan pemeluk agama lain, termasuk Islam, telah terjalin dan terpelihara selama berabad-abad. Melalui pendekatan historis, penelitian ini akan mencari akar sejarah toleransi dan hubungan damai antar kelompok agama di wilayah tersebut. Sejarah daerah Sulawesi Selatan menunjukkan tradisi moderasi beragama yang diwariskan secara turun temurun. Keberagaman agama dan budaya di wilayah tersebut telah membentuk identitas sosial yang unik dan saling melengkapi, meskipun ada kenangan sejarah kelam yang ada di antara mereka. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis sejarah berbasis sumber lisan dengan tokoh adat Toraja. Data yang terkumpul akan dianalisis untuk mengungkap pola hubungan antar suku dalam konteks agama. Hasil penelitian ini akan memberikan gambaran bahwa toleransi beragama di Sulawesi Selatan telah mengakar sejak dahulu kala dan tidak muncul begitu saja. Tradisi dan budaya moderasi beragama berperan dalam menciptakan lingkungan sosial yang menghargai perbedaan dan memfasilitasi dialog antaragama.