cover
Contact Name
Nurbaiti
Contact Email
jurnal.tunasmedika@gmail.com
Phone
+62811243530
Journal Mail Official
jurnal.tunasmedika@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Pemuda no 1 A
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
ISSN : 20896042     EISSN : 25797514     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Tunas Medika : Jurnal Kedokteran & Kesehatan adalah jurnal Ilmiah yang memuat naskah publikasi Ilmiah di bidang Kedokteran dan Kesehatan yang meliputi bidang Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Biomedis serta Pendidikan Kedokteran.Tunas Medika : Jurnal Kedokteran & Kesehatan merupakan memuat publikasi ilmiah Dosen, Mahasiswa dan peneliti lainnya di bidang Kedokteran dan Kesehatan dan diharapkan daptat memperkaya khazanah Pendidikan dan pengetahuan Indonesia
Articles 236 Documents
HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DALAM RUMAH DAN SANITASI FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN ISPA PADA ANAK USIA 1-5 TAHUN DI PUSKESMAS BEBER CIREBON Iwan Hermawan; Niklah Zaidah; Rini Awalia Septiani
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 9 No 1 (2023): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v9i1.9356

Abstract

Latar Belakang : Di Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. World Health Organization (WHO) memperkirakan insiden infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% per tahun pada golongan usia balita.Tujuan :.Untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok anggota keluarga dalam rumah dan sanitasi fisik rumah dengan kejadian ISPA pada anak usia 1-5 tahun di Puskesmas Beber Cirebon. Metode Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 98 orang dengan metode penelitian consecutive sampling. Uji Statistik menggunakan uji korelasi spearman. Hasil : Hasil uji korelasi spearman menunjukkan nilai p 0,013 (p<0,05), dan nilai r = 0,250, yang artinya terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan merokok anggota keluarga dalam rumah dengan kejadian ISPA pada anak usia 1-5 tahun di Puskesmas Beber Cirebon. Hasil uji spearman menunjukkan nilai p 0,-747 (p>0,05) dan nilai r = -0,33 yang artinya tidak terdapat hubungan signifikan antara sanitasi fisik rumah dengan kejadiaan ISPA pada anak usia 1-5 tahun di Puskesmas Beber Cirebon Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok anggota keluarga dalam rumah dengan kejadian ISPA pada anak usia 1-5 tahun di Puskesmas Beber Cirebon. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi fisik rumah dengan kejadian ISPA pada anak usia 1-5 tahun di Puskesmas Beber Cirebon.
HUBUNGAN HASIL PEMERIKSAAN SPUTUM BASIL TAHAN ASAM (BTA) DENGAN GAMBARAN LUAS LESI FOTO TORAKS PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI RSUD GUNUNG JATI CIREBON PERIODE JANUARI – DESEMBER 2021 Asih Ambarsari; Muhammad Amar Latief; Tasya Safa Deliza
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 9 No 1 (2023): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v9i1.9357

Abstract

Latar Belakang : Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang merupakan masalah kesehatan di dunia dan salah satu penyebab utama kematian oleh agen infeksius. Disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, dan penularannya melalui udara dalam bentuk droplet atau percikan dahak. Tuberkulosis paru pada orang dewasa diagnosisnya dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan bakteriologis seperti pemeriksaan sputum basil tahan asam (BTA), dan pemeriksaan foto toraks. Pemeriksaan bakteriologis sputum BTA dibagi menjadi lima kategori berdasarkan skala International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (IUATLD) yaitu negatif, scanty, +1, +2, dan +3. Pemeriksaan foto toraks dilakukan untuk melihat gambaran luas lesi yang diklasifikasikan menjadi tiga kategori berdasarkan American Tuberculosis Association (ATA) yaitu minimal lesion, moderately advance, dan far advance. Tujuan : Mengetahui hubungan antara hasil pemeriksaan sputum BTA dengan gambaran luas lesi foto toraks pasien TB paru di RSUD Gunung Jati Cirebon periode Januari – Desember 2021. Metode : Penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional, pengambilan data menggunakan data sekunder yang diambil dari rekam medis pasien tuberkulosis paru di RSUD Gunung Jati Cirebon periode Januari – Desember 2021. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman menggunakan aplikasi SPSS versi 25 untuk mengetahui hubungan antara hasil pemeriksaan sputum basil tahan asam dengan gambaran luas lesi foto toraks pada pasien tuberkulosis paru. Hasil : Hasil analisis data pada penelitian ini didapatkan nilai p = 0,00 (p<0,05) dengan koefisien korelasi atau nilai r = 0,730. Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara hasil pemeriksaan sputum basil tahan asam dengan gambaran luas lesi foto toraks pada pasien tuberkulosis paru di RSUD Gunung Jati Cirebon periode Januari – Desember 2021.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN GIZI DENGAN KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI KRONIS PADA IBU HAMIL TRIMESTER 1 DAN 2 DI PUSKESMAS GUNUNG LINGKAS KOTA TARAKAN Ignatius Hapsoro Wirandoko; Thysa Thysmelia Affandi; Ryan Maheswara
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 9 No 1 (2023): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v9i1.9358

Abstract

Latar belakang Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah keadaan dimana ibu menderita kekurangan kalori dan protein (malnutrisi) yang berlangsung menahun (kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu hamil. Ibu hamil dengan masalah gizi berdampak terhadap kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi Pada tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) 2015-2030 target nasional ibu hamil KEK adalah 5% , sedangkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 di Indonesia, prevalensi KEK wanita hamil umur 15-49 tahun adalah 17,3%. Hasil tersebut menunjukan bahwa prevalensi risiko KEK pada ibu hamil masih tinggi. Tujuan Mengetahui hubungan Tingkat pengetahuan gizi dengan kejadian kurang energi kronik pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas Gunung Lingkas kota Tarakan. Metode Penelitian ini bersifat observasional dengan rancangan Cross Sectional. Pengambilan data menggunakan teknik simple random sampling kepada 89 responden ibu hamil Trimester 1 dan 2. Variabel pengetahuan diukur menggunakan kuisoner dan variabel kejadian kekurangan energi kronik diukur langsung menggunakan pita (LILA). Variabel pengetahuan dibagi menjadi baik dan buruk, Sedangkan Variabel kejadian KEK dibagi menjadi mengalami dan tidak mengalami KEK. Hasil Hasil korelasi antara pengetahuan gizi dengn kejadian Kekurangan energi kronik pada ibu hamil menunjukkan korelasi yang signifikan (p <0,005). Simpulan Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi dengan kejadian kekurangan energi kronik pada ibu hamil trimester 1 dan 2
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN HIV TERHADAP STIGMA DAN SIKAP PENCEGAHAN HIV PADA SISWA SMAN 1 CIREBON Ika Komala
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 9 No 1 (2023): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v9i1.9359

Abstract

Latar belakang : Kasus HIV/AIDS baik secara global ataupun di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Data kasus di Kota Cirebon menunjukkan data sampai pertengahan tahun 2020 lebih tinggi disbanding data kasus HIV/AIDS selama tahun 2019. Untuk menekan pertumbuhan kasus HIV/AIDS, upaya seperti sikap dan perilaku pencegahan serta melakukan penemuan kasus HIV secara dini dapat dilakukan. Sayangnya, hal ini masih terhambat penilaian atau stigma negatif terhadap ODHA dan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai HIV/AIDS. Pengetahuan yang baik mendasari sikap atau tindakan serta mempengaruhi terbentuknya stigma seseorang pada sesuatu. Pengetahuan mengenai HIV/AIDS pada remaja perlu diberikan untuk mencegah remaja melakukan perilaku negatif yang berisiko terpapar dengan HIV. Pengetahuan yang cukup juga diperlukan untuk menghindari adanya stigma negatif terhadap ODHA sehingga dapat meningkatkan kemauan masyarakat untuk melakukan tes HIV secara dini. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan total 278 responden siswa kelas 10 dan 11 SMAN 1 Kota Cirebon dan diadakan di bulan Juni 2021. Data diambil dari hasil pengisian 3 buah kuisioner tervalidasi untuk menilai pengetahuan, stigma terhadap ODHA, dan sikap pencegahan HIV/AIDS. Data terkumpul dilakukan uji analisis univariat dan bivariat. Hasil : 51,4% siswa memiliki pengetahuan kurang, 57,6% memiliki stigma positif terhadap ODHA, 23% setuju terhadap sikap pencegahan HIV/AIDS. Hasil analisis bivariat didapatkan p= 0, 068 pada hubungan tingkat pengetahuan HIV dengan stigma terhadap ODHA dan p=0,000 (<0,05) pada hubungan tingkat pengetahuan tentang HIV dengan sikap pencegahan HIV/AIDS. Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan HIV dengan stigma terhadap ODHA. Sementara itu terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan HIV dengan sikap pencegahan HIV/AIDS pada siswa SMAN 1 Kota Cirebon dengan kekuatan korelasi moderat
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN INDEKS MASSA TUBUH MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI DI MASA PANDEMI COVID-19 Ali Manfaluthi Ahmad; Catur Setya Sulistiyana; Intan Rihhadatul A
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 9 No 1 (2023): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v9i1.9360

Abstract

Latar Belakang: Aktivitas fisik merupakan gerakan pada otot rangka yang membutuhkan energi. Sedangkan indeks massa tubuh adalah parameter untuk mengetahui status berat badan seseorang. Adanya kegiatan pembelajaran secara virtual saat pandemi Covid-19 mengakibatkan mahasiswa kurang melakukan aktivitas fisik sehingga dapat mempengaruhi indeks massa tubuh pada mahasiswa.Tujuan: untuk mengetahui apakah adanya hubungan aktivitas fisik dengan indeks massa tubuh mahasiswa Fakultas Kedokteran UGJ di masa pandemi Covid-19.Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan penelitiancross sectional, dilaksanakan pada bulan Juni 2022. Jumlah sampel penelitian sebanyak 170 mahasiswa Fakultas Kedokteran UGJ diambil mengguanakan Teknik cluster sampling. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner IPAQ (International Physical Activity Questionnaires) untuk menilai aktivitas fisik dan mengukur secara langsung berat badan dan tinggi badan mahasiswa menggunakan timbangan dan stadiometer. Data dianalisis menggunakan uji spearman. Hasil: uji spearman didapatkan statistik p value sebesar 0.833 yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan indeks massa tubuh Kesimpulan: tidak terdapat adanya hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan indeks massa tubuh pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UGJ di masa pandemi Covid-19.
EFUSI PLEURA PADA NODUL HEPAR MULTIPEL Widianti; Sedayu
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 2 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i2.9448

Abstract

Pendahuluan: Hepatocelullar carcinoma (HCC) merupakan tumor ganas hati primer yang berasal dari hepatosit, demikian pula dengan karsinoma fibromelar dan hepatoblastoma. Ilustrasi Kasus: Pasien perempuan 57 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan perut membesar 2 bulan yang lalu. Keluhan disertai nyeri pada bagian perut sebelah kanan atas, mual, sesak, sesak, penurunan nafsu makan serta penurunan berat badan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran composmentis. Tanda-tanda vital didapatkan TD 140/90 mmHg, HR 105x/menit, RR 22x/menit, suhu 36,7oC dan SpO2 97% free air. Pada pemeriksaan fisik, inspeksi abdomen didapatkan venektasi, hepatosplenomegali, ascites, pitting edem ekstremitas inferior. Pemeriksaan laboratorium didapatkan hipoalbumin, peningkatan ureum, penurunan alfafetoprotein. Pemeriksaan rontgen thorax : diafragma dextra letak tinggi ec suspek proses infradiafragma dextra. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) abdomen : ascites, hepatomegali dengan multipel nodul di kedua lobus hepar DD proses hepatal metastasis dan splenomegali. Pemeriksaan CT-Scan abdomen : efusi pleura bilateral, ascites, hepatomegali dengan massa di lobus dextra (segmen IVa-VIII) disertai pelebaran ringan ductus bilier intrahepatal sinistra ec sugestif cholangiocarcinoma tipe mass forming, disertai multiple nodul di kedua lobus DD proses metastasis, splenomegali. Tatalaksana : pemberian furosemide, spironolakton, laktulosa sirup, analgetik, dan gomino. Pembahasan: Hepatocelullar carcinoma (HCC) adalah tumor hati primer yang merupakan penyebab kanker paling umum kelima di seluruh dunia. Faktor risiko yang signifikan untuk HCC termasuk hepatitis virus B dan C, penyakit hati alkoholik, dan Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD). Pada kasus ini pasien perempuan 57 tahun terdiagnosis sugestif HCC. Seperti kebanyakan penyakit kanker, kejadiannya meningkat seiring bertambahnya usia. Kesimpulan: Metastatis ekstrahepatik HCC yang paling umum adalah ke paru-paru, kelenjar getah bening inta-abdominal, tulang, dan adrenal. Kata Kunci: Hepatocelullar carcinoma, tumor, metastasis. ABSTRACT Introduction: Hepatocelullar carcinoma (HCC) is a primary liver malignant tumor that originates from hepatocytes, as well as fibromellar carcinoma and hepatoblastoma. Case Illustration: A 57-year-old female patient came to the hospital with complaints of an enlarged abdomen 2 months ago. Complaints accompanied by pain in the right upper abdomen, nausea, tightness, shortness of breath, decreased appetite and weight loss. On physical examination, it was found that the general condition appeared moderately ill, composmentis consciousness. Vital signs obtained BP 140/90 mmHg, HR 105x/min, RR 22x/min, temperature 36.7oC and SpO2 97% free water. On physical examination, abdominal inspection revealed venectation, hepatosplenomegaly, ascites, pitting edema of inferior extremities. Laboratory examination revealed hypoalbumin, increased urea, decreased alphafetoprotein. Thorax X-ray examination: high dextra diaphragm suspected dextra infradiaphragmatic process. Abdominal ultrasonography (USG) examination: ascites, hepatomegaly with multiple nodules in both hepatic lobes DD metastatic hepatal process and splenomegaly. CT-Scan examination of the abdomen: bilateral pleural effusion, ascites, hepatomegaly with a mass in the dextra lobe (segment IVa-VIII) accompanied by mild dilation of the intrahepatal biliary duct sinistra ec suggestive of mass forming type cholangiocarcinoma, accompanied by multiple nodules in both lobes DD metastatic process, splenomegaly. Management: furosemide, spironolactone, lactulose syrup, analgesic, and gomino. Discussion: Hepatocelullar carcinoma (HCC) is a primary liver tumor that is the fifth most common cause of cancer worldwide. Significant risk factors for HCC include viral hepatitis B and C, alcoholic liver disease, and Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD). In this case, a 57-year-old female patient was diagnosed with suggestive HCC. As with most cancers, the incidence increases with age. Conclusion: The most common extrahepatic metastasis of HCC is to the lungs, inta-abdominal lymph nodes, bone, and adrenal. Keywords: Hepatocelullar carcinoma, tumor, metastasis.
PERBANDINGAN ANTARA PEMILIHAN OHO DAN NILAI CREATININE CLEARANCE SERTA HUBUNGANNYA PADA PASIEN DM TIPE 2 DI PUSKESMAS TERARA, LOMBOK, NTB Widya Pratiwi; Almerveldy Azaria Dohong; Joshua Sebastian Pratama Sondakh; Ahda Faza Hunafa; Syifa Muzalifa Nadobudskaya; Rody Kurniawan
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 2 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i2.9449

Abstract

Pendahuluan: Kabupaten Lombok Timur menduduki peringkat teratas dalam jumlah pasien diabetes melitus tertinggi di Nusa Tenggara Barat pada tahun 2023. Diabetes mellitus (DM) merupakan penyebab utama dari gagal ginjal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan antara pemilihan obat hipoglikemik oral (OHO) dan nilai creatinine clearance (CrCl) serta hubungannya pada pasien DM tipe 2. Metode: Penelitian potong lintang terhadap 66 pasien DM tipe 2 yang menjalani pengobatan OHO di Puskesmas Terara. Analisis hubungan penggunaan jenis OHO terhadap penurunan fungsi ginjal dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Analisis lebih lanjut dilakukan untuk melihat perbedaan rerata kadar CrCl berdasarkan golongan OHO dilakukan dengan uji T-independent dan perbedaan kadar serum kreatinin dianalisis dengan uji Mann-Whitney U. Hasil: Pasien DM tipe 2 dengan jenis OHO sulfonilurea memiliki penurunan fungsi ginjal yang lebih berat (p=0,031; OR 5,143 ((IK 95%) 1,284-20,601). Selain itu, didapatkan perbedaan bermakna pada kadar serum kreatinin antara kelompok biguanid dan sulfonilurea (p=0,029). Meskipun, rerata nilai CrCl tidak berbeda secara statistik (p=0,301). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara jenis OHO terhadap penurunan fungsi ginjal dan perbedaan bermakna kadar serum kreatinin antara kelompok biguanid dan sulfonilurea. Akan tetapi, tidak didapatkan perbedaan rerata nilai creatinine clearance (CrCl). Pemilihan jenis OHO sebaiknya tetap mempertimbangkan parameter fungsi ginjal. Kata kunci: Creatinine Clearance, Diabetes Mellitus, Obat Hipoglikemik Oral, Penurunan Fungsi Ginjal Background: The East Lombok Regency occupies the top rank in the highest number of diabetes mellitus patients in West Nusa Tenggara in 2023. Diabetes mellitus (DM) is the primary cause of kidney failure. The aim of this study is to determine the comparison between the selection of oral hypoglycemic agents (OHA) and creatinine clearance (CrCl) values and their relationship in type 2 diabetes mellitus (T2DM) patients. Method: A cross-sectional study involving 66 type 2 diabetes mellitus (T2DM) patients undergoing oral hypoglycemic agent (OHA) treatment at the Terara Health Center. The analysis of the relationship between the use of different types of OHAs and the decreased kidney function was performed using the Chi-Square test. Further analysis was carried out to see the difference in mean CrCl levels based on OHAs class using the T-independent test and differences in serum creatinine levels were analysed using the Mann-Whitney U test. Result: Type 2 diabetes mellitus (DM) patients using sulfonylurea exhibited a more pronounced decline in kidney function (p=0.031; OR 5.143 (95% CI: 1.284-20.601)). Additionally, there was a significant difference in serum creatinine levels between the biguanide and sulfonylurea groups (p=0.029). However, the mean CrCl values were not statistically different (p=0.301). Conclusions: There was an association between the type of OHAs and the decline in renal function and a significant difference in serum creatinine levels between the biguanide and sulfonylurea groups. However, there was no statistically significant difference in the mean creatinine clearance (CrCl) values. The choice of OHA type should still consider renal function parameters. Keywords: Creatinine Clearance, Diabetes Mellitus, Oral Hypoglycemic Agents, Kidney Impairment
HIPERGLIKEMIA HIPEROSMOLAR STATE DAN VENTRIKEL TAKIKARDIA PADA PASIEN KARDIOMIOPATI ISKEMIK DENGAN PERBAIKAN EJEKSI FRAKSI : SEBUAH LAPORAN KASUS Rima Tresnawati; Daniel Winarto; Irlandi Meiditya Suseno
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 2 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i2.9451

Abstract

Angka kejadian Ventrikel Takikardia cukup tinggi pada pasien dengan Krisis Hiperglikemia dan dapat meningkatkan risiko kematian mendadak pada pasien. Kasus ini mengenai wanita, 60 tahun dengan Hiperglikemia Hiperosmolar State selama observasi mengalami kejadian Ventrikel Takikardi tanpa nadi, pasien dengan segera dilakukan resusitasi jantung paru dan defibrilasi, kondisi krisis hiperglikemia yang belum teratasi memperburuk dari kelistrikan miokard, riwayat pendakit dahulu pasien yaitu iskemik kardiomiopati dan didapatkan juga kondisi hiperkalemia dan pneumonia pada pasien saat perawatan dapat berperan serta menyebabkan kejadian henti jantung. Pasien mendapatkan perawatan selama 5 hari dengan pengawasan ketat dan terapi untuk mengontrol gula darah, anti aritmia dan antibiotik. Kondisi Hiperglikemia Hiperosmolar State dengan Ventrikel Takikardia memiliki tingkat mortalitas yang cukup tinggi, namun dengan manajemen penatalaksanaan yang adekuat dan agresif maka diperoleh hasil yang baik seperti pada kasus ini. Kata Kunci: Hiperglikemia Hiperosmolar State, Ventrikel Takikardia, Iskemik Kardiomiopati The incidence of ventricular tachycardia is quite high in patients with hyperglycemic crisis and can increase the risk of sudden death in patients. This case involves a 60-year-old woman with hyperglycemic hyperosmolar non-ketotic syndrome who experienced pulseless ventricular tachycardia during observation. The patient immediately underwent cardiopulmonary resuscitation and defibrillation. The unresolved hyperglycemic crisis worsened myocardial electrical activity. The patient has a history of ischemic cardiomyopathy, as well as hyperkalemia and pneumonia during treatment, which may have contributed to the cardiac arrest. The patient was treated for 5 days with close monitoring and treatments to control blood sugar, antiarrhythmics, and antibiotics. The condition of hyperglycemic hyperosmolar non-ketotic syndrome with ventricular tachycardia has a fairly high mortality rate, but with adequate and aggressive management, good outcomes can be achieved as in this case. Keywords: Hyperglycemic Hyperosmolar Non-ketotic Syndrome, Ventricular Tachycardia, Ischemic Cardiomyopathy
UJI EFEKTIVITAS ANTIJAMUR MINYAK ATSIRI DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) DAN MINYAK ATSIRI JERUK PURUT (Citrus hystrix) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Candida albicans Hikmah Fitriani; Alfi Meitasari; Rama Samara Brajawikalpa
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 1 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i1.9452

Abstract

Latar Belakang: Kandidiasis adalah suatu penyakit akut atau subakut yang disebabkan oleh Candida albicans yang bisa menyerang berbagai jaringan tubuh. Ekstrak daun sirih banyak dilaporkan sebagai agen anti jamur seperti jamur Candida albicans. Selain itu daun jeruk purut juga mengandung minyak atsiri yang dapat berfungsi sebagai antifungi. Tujuan: Membandingkan efektivitas minyak atsiri daun sirih (Piper betle L.) dan minyak atsiri jeruk purut (Citrus hystrix) terhadap pertumbuhan Candida albicans. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian Eksperimental Laboratory dengan Postest Only Control Group Design yang menggunakan jamur Candida albicans sebagai subjek penelitian. Obyek penelitian ini minyak atsiri daun sirih konsentrasi 50%, 75%, 100%, minyak atsiri jeruk purut konsentrasi 50%, 75%, 100%, ketokonazole 2% (K+), dan DMSO 10% (K-). Data hasil kemudian dianalisis Uji One Way ANOVA dan Uji Post Hoc Mann-Whitney. Hasil: Hasil rerata daya hambat minyak atsiri daun sirih konsentrasi 50% (15,2 mm), 75% (18,4 mm), 100% (18,8 mm) dan minyak atsiri jeruk purut konsentrasi 50% (25,2 mm), 75% (25,3 mm), 100% (25,5 mm), K+ (20 mm), dan K- (0 mm). Hasil uji menunjukan perbedaan rerata signifikan antara bahan kelompok perlakuan. Kesimpulan: Minyak atsiri jeruk purut (Ctrus hystrix) lebih efektif menghambat pertumbuhan Candida albicans dibandingkan dengan minyak daun sirih (Piper betle L) pada konsentrasi 50%, 75%, 100%. Kata Kunci: Candida albicans, Minyak Atsiri Daun Sirih, Minyak atsiri daun sirih hijau. Background: Candidiasis is an acute or subacute disease caused by Candida Albicans which can attack various body tissues. Betel leaves extract has been widely reported as an antifungal agent such as the Candida Albicans. In addition, Kaffir Lime leaves also contain an essential oil that can function as an antifungal. Objective: The aim of this study was to compare the effectiveness of Betel leaves (Piper Betle L.) essential oil and Kaffir Lime (Citrus Hystric) essential oil towards the growth of Candida Albicans. Methods: This study was an experimental laboratory research with a post-test only control group design that used the Candida Albicans as research object. The subject of the study were Betel leaves essential oil concentrations of 50%, 75%, 100%, Kaffir Lime essential oil concentrations of 50%, 75%, 100%, ketoconazole 2% (K+), and DMSO 10% (K-). The research data was statistically analysed using the One-Way ANOVA test, followed by the Mann-Whitney Post Hoc test. Results: The results of the average inhibition of Betel leaves essential oil concentration of 50% (15,2 mm), 75% (25,3 mm), 100% (18,8 mm) and Kaffir Lime essential oil concentration of 50% (25,2 mm), 75% (25,3 mm), 100% (25,5 mm), K+ (20 mm), and K- (0 mm). The results of the multivariate test showed a significant value p<0,05, there was an average difference between the two treatment groups. Conclusion: This study concluded that Kaffir Lime essential oil (Citrus Hystrix) was more effective in inhibiting the growth of Candida Albicans compared to Betel leaves essential oil (Piper Betle L.) at concentrations of 50%, 75%, 100%. Keywords: Candida Albicans, Betel leaves essential oil, Kaffir Lime essential oil
LAPORAN KASUS KEHAMILAN PADA WANITA 33 TAHUN PENDERITA PGK DALAM TERAPI HEMODIALISA DI RSUD CIDERES KABUPATEN MAJALENGKA R Nur’ista Afriliyantina; Triyoga Pramadana; Ria Bandiara
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 2 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i2.9453

Abstract

Latar belakang: Kehamilan pada pasien Penyakit Ginjal Kronik dalam hemodialisa jarang terjadi, kelainan utama karena tidak terjadi ovulasi sehingga infertil dan gangguan menstruasi namun tetap kehamilan dapat terjadi pada pasien PGK. Berkembangnya pusat dialisa dan terapi penganti ginjal saat ini meningkatkan terapi pada pasien PGK sehingga keberhasilan tatalaksana selama kehamilan pada pasien PGK hingga kelahiran menjadi lebih baik. Namun perjalanan kehamilan pada pasien PGK masih erat kaitannya dengan peningkatan resiko morbiditas serta mortalitas pada janin dan Ibunya. Kasus: Wanita 33 tahun penderita PGK dalam terapi hemodialisa diketahui hamil 9 minggu, dilakukan perubahan jadwal hemodialisa menjadi intensifikasi hemodialisa 3x seminggu dengan waktu dialisa 6 jam dan ultrafiltrasi sesuai kenaikan berat dan yang lainnya sesuai kondisi pasien saat dialisa. Riwayat transfusi PRC 4 kali dan abortus minimal satu kali selama kehamilan serta pemantauan hasil USG taksiran berat badan janin kecil dan tidak ada kelainan kongenital. Pasien mengalami persalinan prematur usia kehamilan 32 minggu dan lahir bayi hidup jenis kelamin Perempuan dengan Berat Badan lahir 950gram dan Panjang Badan 36 cm Kesimpulan: Penatalaksanaan kehamilan pada pasien PGK secara multidisiplin keilmuan dan intensifikasi hemodialisa dapat meminimalkan efek pada Ibu dan janin serta keberhasilan kelahiran meningkat. Kata kunci: penyakit ginjal kronis, kehamilan, intensifikasi hemodialisa Background: Pregnancy in Chronic Kidney Disease patients on hemodialysis is rare, the main abnormality is that ovulation does not occur, resulting in infertility and menstrual disorders, but pregnancy can still occur in CKD patients. The development of dialysis centers and kidney replacement therapy is currently improving therapy for CKD patients so that the success of management during pregnancy in CKD patients until birth is better. However, the course of pregnancy in CKD patients is still closely related to an increased risk of morbidity and mortality in the fetus and mother. Case: A 33 year old woman with CKD on hemodialysis therapy was found to be 9 weeks pregnant, the hemodialysis schedule was changed to intensified hemodialysis 3 times a week with a dialysis time of 6 hours and ultrafiltration according to weight gain and others according to the patient's condition during dialysis. History of PRC transfusion 4 times and abortion at least once during pregnancy as well as monitoring of ultrasound results for small fetal weight estimates and no congenital abnormalities. The patient experienced premature labor at 32 weeks' gestation and a live baby was born, female, with a birth weight of 950 grams and a body length of 36 cm. Conclusion: Multidisciplinary scientific management of pregnancy in CKD patients and intensification of hemodialysis can minimize the effects on the mother and fetus and increase birth success. Keywords: chronic kidney disease, pregnancy, intensification of hemodialysis

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 11 No 2 (2025): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 11 No 1 (2025): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 4 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 3 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 2 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 1 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 9 No 1 (2023): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 8, No 2 (2022): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 8, No 1 (2022): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 7, No 2 (2021): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 7, No 1 (2021): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 6, No 2 (2020): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 6, No 1 (2020): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 2 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 1 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 4, No 2 (2018): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 4, No 1 (2018): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & kesehatan Vol 3, No 4 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 3 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 2 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 1 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 4 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 3 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 2 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 1 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 4 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 3 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 2 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan More Issue