cover
Contact Name
Nurbaiti
Contact Email
jurnal.tunasmedika@gmail.com
Phone
+62811243530
Journal Mail Official
jurnal.tunasmedika@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Pemuda no 1 A
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
ISSN : 20896042     EISSN : 25797514     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Tunas Medika : Jurnal Kedokteran & Kesehatan adalah jurnal Ilmiah yang memuat naskah publikasi Ilmiah di bidang Kedokteran dan Kesehatan yang meliputi bidang Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Biomedis serta Pendidikan Kedokteran.Tunas Medika : Jurnal Kedokteran & Kesehatan merupakan memuat publikasi ilmiah Dosen, Mahasiswa dan peneliti lainnya di bidang Kedokteran dan Kesehatan dan diharapkan daptat memperkaya khazanah Pendidikan dan pengetahuan Indonesia
Articles 236 Documents
KORELASI ANTARA KADAR SERUM BESI DENGAN INDEKS MENTZER PADA PASIEN ANEMIA DEFISIENSI BESI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WALED Nafisah, Jauharotun; Noviani, Isti; Lutfi, Mohammad; Romdhoni, M; Warsodoedi, Dini Sapardini
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 4 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i4.9650

Abstract

LATAR BELAKANG : Anemia defisiensi besi merupakan kondisi dimana terjadi defisiensi besi yangmenyebabkan kadar hemoglobin dan eritrosit dalam darah berkurang. Indeks Mentzer dapat digunakan untukmendeteksi ADB, namun masih harus dikonfirmasi oleh pemeriksaan penunjang lain. Serum besi merupakan salahsatu pemeriksaan untuk mengetahui kadar serum besi pada pasien ADB. TUJUAN : penelitian ini adalah untukmenyelidiki hubungan antara kadar serum besi dan indeks Mentzer pada pasien yang menderita anemia defisiensibesi di RSUD Waled. METODE : Penelitian ini dilakukan menggunakan desain potong lintang ini pada bulanJuli 2023 dengan Jumlah pasien anemia defisiensi besi sebanyak 36 yang didapatkan di Poliklinik dan RuangRawat Inap Penyakit RSUD Waled menggunakan teknik sampel konsekutif . Analisis bivariat dilakukan denganmenggunakan uji korelasi Spearman.HASIL : Pasien ADB terbanyak pada rentang usia 17-25 tahun yang berjumlah 11 (30,6%) dan berjenis kelaminperempuan dengan jumlah 26 (72,2). Stadium defisiensi besi terbanyak adalah stadium 3 dengan jumlah 31(86,1%). Keseluruhan pasien ADB memiliki Indeks Mentzer >13. Korelasi kadar serum besi dengan indeksMentzer menunjukkan terdapat hubungan (r = -0,450) yang signifikan (p-value = 0,006) dengan pola negatif.Korelasi tersebut menunjukkan semakin rendah kadar serum besi, maka semakin tinggi nilai indeks Mentzer.KESIMPULAN : Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar serum besidengan indeks Mentzer pada pasien ADB di RSUD Waled.Kata Kunci : Serum besi, Indeks Mentzer, Anemia defisiensi besi.ABSTRACTBACKGROUND : Iron deficiency anemia is a condition where iron deficiency occurs which causes hemoglobinand erythrocyte levels in the blood to decrease. The Mentzer index can be used to detect ADB, but it must still beconfirmed by other supporting tests. Iron serum is one of the tests to determine serum iron levels in ADB patients.OBJECTIVE : This study was conducted to analyze the correlation between serum iron levels and the Mentzerindex in iron deficiency anemia patients at Waled Hospital. METHODS : A cross-sectional study was conductedduring July 2023 in at the Polyclinic and Internal Medicine Inpatient Room of Waled Hospital. There were 36 ofiron deficiency anemia patients using consecutive sampling methods. Bivariate analysis used Spearmanhypothesis test. RESULTS : Most ADB patients in the age range of 17-25 years amounted to 11 (30.6%) andfemale with 26 (72.2). The most iron deficiency stage is stage 3 with a total of 31 (86.1%). All ADB patients hada Mentzer Index of >13. The correlation of serum iron levels with the Mentzer index showed a significant (r = -0.450) (p-value = 0.006) relationship with a negative pattern. The correlation shows that the lower the serum ironlevel, the higher the Mentzer index value. CONCLUSION : The results of this study showed a significantrelationship between serum iron levels and the Mentzer index in ADB patients at Waled Hospital.
ANGKA KEJADIAN PENYAKIT ARTERI PERIFER PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS SITOPENG, CIREBON Antonius, Grace Virgin; Sunaryo, Aris; Rahayu, Frista Martha; Loebis, Irwan Meidi; Sakinah, Rini Isti
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 4 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i4.9651

Abstract

Latar Belakang : Diabetes Melitus Tipe 2 (DM Tipe 2) adalah salah satu faktor risiko yang berperan dalam perkembangan terjadinya penyakit arteri perifer (PAP). Penilaian ABI dilakukan untuk deteksi dini PAP sehingga dapat memperlambat progresivitas penyakit dan komplikasi. Tujuan : Untuk mengetahui angka kejadian PAP pada pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Sitopeng Cirebon. Metode : Penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Besar sampel ditentukan menggunakan teknik consecutive sampling berjumlah sebanyak 45 orang dalam rentang usia 41-70 tahun. Analisis univariat untuk menilai distribusi frekuensi dan %. Analisis bivariat dengan menggunakan chi-square untuk menilai hubungan antarvariabel dinyatakan dalam nilai p. Hasil : Terdapat 55,6% subjek teridentifikasi PAP. Studi ini menunjukkan PAP berhubungan bermakna dengan status kontrol DM (p=0,000) dan hipertensi (p=0,006). Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara status merokok, obesitas, dan penyakit ginjal kronik dengan PAP. Kesimpulan : Lebih dari setengah pasien dengan DM tipe 2 di Puskesmas Sitopeng mengalami PAP. Faktor risiko yang berhubungan dengan PAP pada studi ini adalah status kontrol DM dan hipertensi. Kata Kunci : Diabetes Melitus Tipe 2, Ankle Brachial Index, Penyakit Arteri Perifer. ABSTRACT Background : Peripheral arterial disease (PAD) is one of macrovascular complication of type 2 diabetes mellitus (T2DM). The early identification of PAD by measuring ABI delay the disease and complication progression. Aim : To estimate the proportion of PAD among T2DM patients in Puskesmas Sitopeng, Cirebon. Method : A cross-sectional study was conducted among patients with T2DM in Puskesmas Sitopeng, Cirebon. The 45 subjects were recruited using a consecutive sampling technique aged ranging from 41 until 70 years old. Univariate analysis was measured to evaluate the distribution of subject’s characteristics stated by n and %. Bivariate analysis using chi-square was performed to evaluate the association between variables, stated by p value. Results : The proportion of PAD in this study 55,6%. This study showed that PAD had significant association with control status (p=0,000) and hypertension (p=0,006). In this study, smoking status, obesity and chronic kidney disease were not associated with PAD. Conclusion : More than half of patients with T2DM in Puskesmas Sitopeng had PAD. Risk factors associated with PAD in this study were control status and hypertension. Keyword : Diabetes Mellitus Type 2, Ankle Brachial Index, Peripheral Arterial Disease.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT MENGENAI VAKSINASI BOOSTER COVID-19 DI DESA PANAMBANGAN KECAMATAN SEDONG KABUPATEN CIREBON Naufal, Fadlil Muhammad; Akturusiano, Binto; Fauzah, Shofa Nur; Wibisono, Rachmanda Haryo; Wirandoko, Ign. Hapsoro
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 4 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i4.9652

Abstract

Latar Belakang: Vaksinasi adalah salah satu cara untuk mencegah COVID-19. Tujuan vaksinasi adalah untuk mengurangi penyebaran dan kematian serta angka kesakitan dan kematian. Rendahnya tingkat vaksinasi COVID-19 di perdesaan karena beberapa alasan, salah satunya adalah kurangnya pengetahuan tentang vaksin. Tujuan: Mengidentifikasi tingkat pengetahuan masyarakat tentang booster vaksinasi COVID-19. Metode: Analitik observasional dengan desain cross-sectional Metode sampling kluster acak digunakan untuk memilih 367 responden. Analisis univariat dilakukan pada data yang diambil dari data primer. Hasil: Analisis Univariat menunjukkan bahwa 220 responden (60%) memiliki tingkat pengetahuan masyarakat yang tinggi, 142 responden (39%), dan 5 responden (1%) memiliki tingkat pengetahuan masyarakat yang rendah. Nilai rata-ratanya adalah 85,11 poin. Kesimpulan: secara keseluruhan, tingkat pengetahuan masyarakat mengenai vaksinasi booster cukup baik. Kata kunci: Vaksinasi, booster, COVID-19. ABSTRACT Background: Vaccination is one way to prevent COVID-19. The purpose of vaccination is to reduce the spread and mortality as well as the rates of illness and death. The low COVID-19 vaccination rates in rural areas are due to several reasons, one of which is the lack of knowledge about the vaccine. Objective: To identify the level of public knowledge about COVID-19 vaccination boosters. Method: Observational analytic with a cross-sectional design. A cluster random sampling method was used to select 367 respondents. Univariate analysis was conducted on data obtained from primary data. Results: The univariate analysis shows that 220 respondents (60%) have a high level of public knowledge, 142 respondents (39%), and 5 respondents (1%) have a low level of public knowledge. The average score is 85.11 points. Conclusion: In general, the level of public knowledge about booster vaccinations is quite good.
ANGKA KEJADIAN RETINOPATI DIABETIK DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WALED CIREBON TAHUN 2020-2022 Sitorus, Velin Novalina; Sisprihattono, Boyke; Astuti, Widi; Piscaloka, Viora Rianda; Rahayu, Intan Dwi
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 4 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i4.9653

Abstract

Latar belakang : Menurut laporan ICO, satu dari tiga orang yang menderita diabetes mellitus mengalami retinopati diabetik (RD), komplikasi kronis akibat penyakit diabetes mellitus terhadap mikrovaskular retina. Penyakit ini dapat menyebabkan pembuluh darah kecil pada mata tersumbat, yang mengakibatkan gangguan penglihatan.. Tujuan : Untuk mengetahui angka kejadian retinopati diabetik di poli mata RSUD Waled Cirebon tahun 2020-2022. Metode : Metode penelitian yang digunakan observasional yaitu deskriptif restropektif dari data rekam medis pasien retinopati diabetik tahun 2020-2022 di RSUD Waled Cirebon tahun 2020-2022. Hasil : Dari 54 sampel yang didapatkan distribusi prevalensi tertinggi terdiri dari klasifikasi NPDR yaitu sebanyak 30 orang. Sedangkan distribusi terendah pada klasifikasi PDR. Jenis kelamin, mayoritas pasien adalah perempuan, sebanyak 39 pasien (72,2 %). sedangkan usia, pasien paling banyak di dominasi kelompok usia 41-60 tahun yaitu sebantak 50 pasien (92,6%) dari keseluruhan pasien terindikasi komplikasi dari DM tipe 2. Kesimpulan : Pasien RD ditemukan paling banyak pada pasien NPDR dengan jenis kelamin terbanyak yaitu perempuan, dengan kategori usia terbanyak di rentan usia 41-60 tahun dan semuanya memiliki komplikasi dari DM tipe 2. Kata kunci : Angka kejadian, pasien, retinopati diabetik. ABSTRACT Background: According to an ICO report, one in three people with diabetes mellitus experiences diabetic retinopathy (DR), a chronic complication of diabetes mellitus affecting the retinal microvasculature. This disease can cause small blood vessels in the eye to become blocked, resulting in vision impairment. Objective: To determine the incidence of diabetic retinopathy in the eye clinic of Waled Cirebon Regional Hospital from 2020 to 2022. Method: The research method used is observational, specifically a descriptive retrospective study of the medical records of diabetic retinopathy patients from 2020 to 2022 at Waled Cirebon Regional Hospital. Results: Out of 54 samples obtained, the highest prevalence distribution consists of NPDR classification, with 30 individuals. Meanwhile, the lowest distribution is found in the PDR classification. In terms of gender, the majority of patients are female, totaling 39 patients (72.2%). Regarding age, the most represented group is those aged 41-60 years, comprising 50 patients (92.6%) of all patients indicated with complications from type 2 diabetes mellitus. Conclusion: RD patients are most commonly found among NPDR patients, with the majority being female and the largest age category being those in the 41-60 year range, all of whom have complications from type 2 diabetes mellitus.
GAMBARAN STATUS SOSIO EKONOMI DENGAN ANGKA KEJADIAN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK) DI RSUD WALED Fadillah , Saskhia Diva; Purnamasari, Febryanti; Bakrie, Edy Riyanto
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 4 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i4.9654

Abstract

LATAR BELAKANG: Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) adalah peradangan telinga tengah karena adanya perforasi membran timpani, serta ditandai dengan keluarnya sekret secara terus-menerus atau berulang selama lebih dari 3 bulan. Angka peristiwa OMSK di negara berkembang sangat tinggi dibandingkan dengan negara maju karena aspek higiene yang kurang, aspek sosio-ekonomi, gizi rendah, kepadatan penduduk, minimnya sarana pelayanan kesehatan, dan masih terdapatnya kesalahpahaman masyarakat terhadap OMSK ini sehingga tidak berobat hingga tuntas. Status sosio-ekonomi adalah salah satu faktor risiko terbesar pada otitis media. METODE: Penelitian ini bersifat deskriptif yang melibatkan 52 pasien OMSK poliklinik THT-KL RSUD Waled RSUD Waled. Data penelitian diperoleh dari kuesioner. HASIL: Berdasarkan tingkat pendidikan terbanyak terdapat pada tingkat pendidikan SD yaitu sebanyak 18 responden (34,6%), berdasarkan pekerjaan didapatkan bahwa proporsi pasien terbanyak yang tidak bekerja sebanyak 33 responden (63,5%), berdasarkan penghasilan didapatkan bahwa proporsi pasien terbanyak dengan penghasilan < Rp. 2.430.780 sebanyak 51 responden (98,1%), dan berdasarkan status sosio ekonomi pasien OMSK poliklinik THT-KL di RSUD Waled mayoritas adalah pasien dengan sosial ekonomi rendah 38 pasien (73,1%). SIMPULAN: Diketahui status sosio ekonomi pasien OMSK di RSUD Waled. Kata Kunci: Gambaran, status sosio ekonomi, Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK). ABSTRACT BACKGROUND: Chronic Suppurative Otitis Media (CSOM) is a condition where the middle ear becomes inflamed because of a hole in the eardrum. It is identified by the continuous or recurrent discharge of fluids for more than three months. Unfortunately, developing countries experience a higher number of CSOM cases than developed countries because of poor hygiene, socio-economic factors, low nutrition, population density, and lack of health services. Furthermore, there is a lack of public understanding about CSOM, which means people may not seek complete treatment. One of the biggest risk factors for otitis media is socio-economic status. METHODS: A study involving 52 patients with chronic suppurative otitis media (CSOM) was conducted at the ENT polyclinic in Waled Hospital. Data was collected through questionnaires.. RESULTS According to the research, it was found that out of the respondents, 18 patients (34.6%) had attained education up to the elementary school level. Additionally, 33 patients (63.5%) among them were not employed and based on income, 51 patients (98.1%) had an income less than Rp. 2,430,780. The socio-economic status of the patients in the ENT polyclinic at Waled Hospital revealed that the majority of the patients, 38 patients (73.1%), belonged to the low socio-economic group. CONCLUSION: The socioeconomic status of patients with Central Serous Ophthalmopathy (CSOM) at Waled Hospital is established.
HUBUNGAN SINDROM METABOLIK DENGAN PREEKLAMPSIA DI PUSKESMAS MAJASEM Husnaa, Farah Syaufika; Suroso, Triono Adi; Ahmad, Zulkifli; Syah, Pangeran Akbar; Nopita, Ineu; Herwindo, Taufan; Primanagara, Risnandya
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 11 No 2 (2025): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

LATAR BELAKANG: Preeklampsia merupakan hipertensi kehamilan yang terjadi disertai dengan adanya proteinuria atau gangguan sistem organ lainnya. Insiden preeklampsia di Indonesia adalah 128.273/tahun atau sekitar 5,3% dimana tidak tampak adanya penurunan kasus dalam dua dekade terakhir. Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menimbulkan preeklampsia, salah satunya adalah obesitas yang merupakan gangguan metabolisme pada tubuh sebagai salah satu manifestasi klinis dari sindrom metabolik METODE: Observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Data yang digunakan merupakan data rekam medis ibu post partum pada tahun 2022 di Puskesmas Majasem. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dan didapatkan sebanyak 40 sampel penelitian. Analisis bivariat yang digunakan adalah uji korelasi Spearman. HASIL: Didapatkan jumlah ibu post partum yang mengalami sindrom metabolik sebanyak 16 orang. Jumlah total kasus preeklampsia di Puskesmas Majasem adalah 40 kasus. Hasil uji spearman menunjukana adanya hubungan antara sindrom metabolik dengan preeklampsia. SIMPULAN: Terdapat hubungan antara sindrom metabolik dengan preeklampsia di Puskesmas Majasem dengan p-value 0,018 < 0,05. Kata kunci: sindrom metabolik, obesitas, preeklampsia ABSTRACT BACKGROUND: Preeclampsia is a gestasional hypertension that present with proteinuria or others organ damages. Every year in Indonesia, the incident of preeclampsia is 128.273 cases or approximately 5,3% which had not shown a decrement from the number of the cases for two decades. There are some risk factors that can cause preeclampsia, one of it is obesity which is the component of metabolic disorders as a clinical manifestation of metabolic syndrome. METHOD: This study is an analytical observational study with a cross-sectional approach. The data that used in this study is a secondary data that achieved from Majasem Community Health Centre medical records in 2022. The sampling method used in this study is a total sampling method and as much 40 sample were included to this study. The bivariate analysis that used in this study is the Spearman correlation test RESULT: the incidence of metabolic syndrome in post partum woman in Majasem Community Health Centre is 16 cases. The incidence of preeclampsia in in Majasem Community Health Centre at 2022 is 40 cases. The Spearman analytical test shows a correlation between metabolic syndrome and preeclampsia in Majasem Community Health Centre. CONCLUSION: the Spearman test showed a p-value of 0,018 < 0,05 which means there is a correlation between metabolic syndrome and preeclampsia at Majasem Community Health Centre. Keywords: metabolic syndrome, obesity, preeclampsia

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 11 No 2 (2025): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 11 No 1 (2025): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 4 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 3 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 2 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 1 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 9 No 1 (2023): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 8, No 2 (2022): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 8, No 1 (2022): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 7, No 2 (2021): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 7, No 1 (2021): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 6, No 2 (2020): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 6, No 1 (2020): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 2 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 1 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 4, No 2 (2018): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 4, No 1 (2018): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & kesehatan Vol 3, No 4 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 3 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 2 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 1 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 4 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 3 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 2 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 1 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 4 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 3 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 2 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan More Issue