cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 200 Documents
FENOMENA BULLYING PERSPEKTIF HADIS: Upaya Spiritual sebagai Problem Solving atas Tindakan Bullying
RIWAYAH Vol 4, No 2 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v4i2.4626

Abstract

Artikel ini mengkaji salah satu problem sosial yang menjadi isu global, yaitu fenomena bullying. Bullying merupakan tindakan intimidasi berupa fisik maupun psikis terhadap seseorang yang disebabkan sikap superioritas seseorang, hingga merasa berhak atau berkuasa untuk mengintimidasi orang lain. Penelitian ini mengkaji bullying denganperspektif hadits Nabi. Kajian ini berusaha menemukan signifikansi fenomena bullying dengan hadits, serta eksplorasi atas tindakan preventif yang ditawarkan oleh hadits Nabi. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitis. Hasil atas kajian ini: 1) Hadis riwayat Ibnu Majah: 3203 secara umum menjelaskan bagaimana hadis Nabi memandang tindakan bullying mengarah pada perilaku merendahkan. Kata ihtiqa>r memiliki korelasi makna terhadap orientasi perilaku bullying, yaitu merendahkan.2) Ide dasar hadits yang dikaji adalah nilai humanisme, yaitu paham yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik. 3) Tindakan preventif yang ditawarkan hadis tersebut: a) memberikan kesadaran spiritual tentang pentingnya pencegahan bullying sejak dini, b) mendukung kerjasama dan memutus lingkaran konflik, c) menghilangkan sikap inferior bagi korban bullying dan mengasah kemampuan asertif.
WAJAH ALQURAN DAN HADIS DALAM BINGKAI MEME: dari Estetis Menjadi Lukratif Saifullah, Muhammad
RIWAYAH Vol 5, No 1 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i1.5041

Abstract

Seiring dengan lahirnya generasi Muslim baru yang melek digital serta adanya tekstur dunia maya yang berbeda sama sekali dengan dunia nyata, rupanya itu berdampak pada pergeseran cara resepsi masyarakat Muslim Indonesia kontemporer atas Teks Sucinya. Jika sebelumnya mungkin bisa dirangkum menjadi tiga pola: eksegis, estetis, dan fungsional, maka kali ini ceritanya bisa berbeda. Artikel ini mencoba untuk menginvestigasi pergeseran di muka melalui meme-meme di media sosial, khususnya Instagram, yang memuat baik kutipan ayat Alquran atau teks hadis. Salah satunya adalah meme unggahan akun @taaruf_nikah yang menuangkan interpretasi ringkas surah al-Zumar (39): 10 dalam latar rerumputan menguning silir oleh angin, bangkai kursi di tengahnya, fon identik, dan kesinambungan warna yang menyatu. Di situ tertulis, “Yang sabar ya.” Untuk melihat meme ini sebagai semata resepsi estetis, saya kira akan ada banyak hal yang dibuang, mengetahui yang mengunggah adalah tim kreatif dari akun yang mendaku dirinya sebagai agen biro jodoh daring. Namun, ketika dipahami sebaliknya, ia cukup menyisakan titik-titik keindahan. Dari sini, artikel ini tergoda untuk mengamati sejauh mana meme-meme Alquran dan hadis diproduksi dan kemudian dikonsumsi yang akhirnya berujung pada pembentukan wacana keberagamaan di benak masyarakat virtual Indonesia. Artikel berpendapat jika pergeseran paling mencolok bersemayam pada lahirnya pola resepsi lukratif, semacam fungsional tapi lebih praktis.Along with the birth of digitally literate Muslim generation and cyberspace texture in which does not resemble to its real world at all, it apparently influences upon shift of how contemporary Indonesia Moslems receive (doing reception) their sacred texts. If before one could cover it become three patterns: exegesis, aesthetic, and functional reception, so that nowadays within digital world the emergence story diverges. This article wants to investigate a mentioned shift through memes in social media chiefly Instagram contained either Quran’s quote or hadith’s. One of them is what account @indonesiabertauhid has uploaded in regard with al-Zumar (39): 10. It depicts the simple interpretation with long mature grass backdrop, a carcass seat in the centre, and breaf punch line, including their identical font. One affords to find writing such, “Yang sabar ya.” To render these memes as merely the fruit of aesthetic reception, I deem it shall disband many things, knowing that the creative team is standing under account which claims itself as online matchmaker agent, but to conversely treat, it also remains some scenic points probably. The article therefore interests to disclose to what extent those memes are produced and consumed within which culminates upon religious making-meaning among virtually Indonesian. All in all, it can be argued that a strikingly shift occurs on birth of so-called lucrative reception, such functional yet rather practical. 
Iman dan Kehidupan Sosial
RIWAYAH Vol 2, No 2 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i2.3133

Abstract

Diakui atau tidak persoalan iman nampaknya dipahami hanya berhenti pada ranah teologis (Rukun Iman yang enam) Hampir-hampir umat Islam terfokus pada kajian iman dalam pengertian yang terbatas, parsial dengan melihat aspek iman hanya persoalan teologis kepada Allah, Rasul, kitab-kitab, malaikat, hari kiamat dan takdir. Padahal al-Qur’an mulia dan hadis-hadis tentang iman menyatakan secara tegas bahwa iman selalu dikaitkan dengan amal saleh dan akhlak. Rasulullah mengajarkan keimanan secara totalitas; dengan hati, lisan, dan perbuatan. Artinya kepercayaan dan keyakinan kepada Allah Swt harus dibarengi dengan perbuatan-perbuatan yang baik (amal shalih) dalam setiap kesempatan dan di manapun berada. Iman dalam konteks kehidupan sosial sebagaimana yang terekam dalam literature hadits memiliki jangkauan yang luas dan ruang lingkup yang tak terbatas. Ini tersirat dari informasi hadits bahwa iman memiliki 63 atau 73 lebih bagian (cabang). Dapat dikatakan bahwa iman meliputi seluruh dimensi kehidupan manusia. Akan tetapi walaupun segi-segi sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan iman cukup luas jangkauan dan ruang lingkupnya, namun berdasarkan literature-literatur hadits yang merekam operasional dalam aktivitas sosial Rasulullah dapat dirumuskan nilai-nilai esensial dan universal sehingga memungkinkan untuk dimanifestasikan dalam konteks kekinian.
KRITIK HARALD MOTZKI TERHADAP TEORI ISNAD HADIS JOSEPH SCHACHT Jannah, Shofiatul
RIWAYAH Vol 6, No 2 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i2.8086

Abstract

Selama ini kajian hadis orientalis selalu menghadirkan skeptisisme terhadap kesahihan hadis untuk bisa disandarkan kepada Nabi, terutama Joseph Schacht yang menjadi rujukan kajian hadis mereka. Tetapi, diskursus perkembangan kajian orientalis tersebut ternyata tidak selamanya menghasilkan pakar skeptis, sebagaimana yang ditunjukkan dalam pemikiran hadis Harald Motzki. Penelitian ini bertujuan untuk mengulas kritik Motzki terhadap teori-teori isnad Joseph Schacht dengan argumen-argumennya yang cukup menarik. Sedangkan, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik untuk mengkaji lebih detail teori backward projection, common link, e silenteo dari Josepht Schacht, dan argumen-argumen bantahan dari Harald Motzki. Hasil penelitian ini adalah sebagaimana yang diungkapkan Harald Motzki bahwa tidak ada pemalsuan terhadap hadis yang dilakukan oleh ulama hadis seperti yang dikatakan oleh Schacht, karena hadis mulai eksis sejak abad pertama hijriah. Untuk menganalisa common link tidak cukup dengan mengkaji aspek sanad sebuah hadis. Di samping itu juga dibutuhkan kajian terhadap matan hadis, karena dari kajian dua aspek tersebut, sumber sejarah pembentukan sebuah hadis dapat diketahui. Demikian pula, jika ada sebuah hadis tidak ditemukan di masa tertentu, bisa saja disebabkan karena mereka tidak mengetahuinya, dan bukan berarti hadis tersebut tidak eksis di masanya. [Harald Motzki's Critic toward Joseph Schacht's Isnad Hadith Theory. So far, the study of orientalist hadiths has always presented skepticism about the validity of the hadiths to rely on the Prophet, especially Joseph Schacht, who was the reference for their hadith study. However, the discourse on the development of orientalist studies did not always produce skeptical experts, as shown in the hadith thought of Harald Motzki. This study aims to review Motzki’s critique of Joseph Schacht’s isnad theories with his interesting arguments. Meanwhile, the research method used in this research is descriptive-analytic to examine in more detail Joseph Schacht’s backward projection, common link, e silentio theories, and Harald Motzki’s arguments. The results of this study are as expressed by Harald Motzki that there is no forgery of hadiths carried out by hadith scholars as stated by Schacht because hadiths began to exist since the first century of Hijri. To analyze common links, it is not enough to study the sanad aspects of hadith. In addition, a study of the hadith’s observations is also needed, because, from the study of these two aspects, the historical source of the formation of hadith can be known. Likewise, if a hadith was not found at a certain time, it could be because they did not know it, and it does not mean that the hadith did not exist at that time.]
Kitab At-Tawassul, Anwa
RIWAYAH Vol 3, No 2 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i2.3975

Abstract

Pembicaraan tentang konsepsi “tawassul” merupakan salah satu keruwetan nyata pro-kontra pemahaman teks yang menjelma dalam sikap keberagamaan dalam masyarakat hingga sekarang. Secara khusus tulisan ini merupakan pembacaan sederhana terhadap pemikiran Na>s}iruddi>n al-Alba>ni> --yang banyak dikatakan masuk dalam klasifikasi tekstualis-- terkait dengan salah satu karyanya, “at-Tawassul; Anwa>’uh wa Ah}ka>muh, merupakan kitab bermuatan hadis-hadis bertemakan “tawassul”. Metode yang dipakai terkait dengan hadis-hadis yang digunakan, Alba>ni lebih bertumpu pada kaidah kes}ahi>h}an transmisi (sanad) hadis untuk membedakan validitas hadis berkedudukan s}ah}i>h} dan d}a’i>f.
Living Hadis Inklusif dalam Perspektif Kyai Telingsing, Syekh Ja'far Shodiq dan Raden Umar Sa'id di Kudus
RIWAYAH Vol 2, No 1 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i1.2217

Abstract

Undeniably lately potential conflict between elements of Indonesian society increasingly worrying, between the organizations with another organizations of a conflict, between one party with another party blaspheme each other, between one expert to another expert is blame. This condition is exacerbated by widespread behavior spreading false news (Hoak) through in social media, so the president had to intervene to dampen this unnatural behavior. Even more sad again, this does not only happen in Indonesia, but has become a global phenomenon.Hoak outbreak of course can not be separated from the lost of mutual respect and respecting others and far from harmonious and inclusive behavior in the midst of the peoples of Indonesia. Whereas previously the nation Indonesia is known as a nation that good at keeping the feelings of others, respecting others, behave in a harmonious and inclusive and forgiving against others. This condition is realized thanks to the philosophy of its predecessor which is still held firmly, like a life philosophy of Kyai Telingsing, Sheikh Ja'far Shodiq and Raden Umar Sa'id in Kudus.But today it is the philosophy of living in harmony and inclusive inherited by the sunan narrowly missing eroded by the culture of individualism, selfishness and behavior to be selfish so it is not uncommon that emerges is precisely the behavior that led to the division and conflict. Therefore, efforts to revitalize the living tradition of inclusiveness in Kyais Telingsing, Sheikh Ja'far Shodiq and Raden Umar Sa'id in Kudus becomes very important. With hope these efforts can minimize the potential for conflict in the midst of society. This is the main purpose of this article writes//
LITERASI HADIS DALAM KHAZANAH KITAB KUNING PESANTREN Amiruddin, Muh; Karim, Abdul
RIWAYAH Vol 6, No 1 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i1.6862

Abstract

Kitab kuning selalu identik dengan dunia pesantren Nusantara. Kitab kuning yang diajarkan di pesantren mencakup beragam cabang-cabang ilmu keislaman, termasuk hadis. Selama ini porsi terbesar dalam pengajian-pengajian kitab kuning adalah pada bidang fikihdan akhlak karena dua bidang inilah yang langsung memberikan pemahaman jelas pada pengamalan-pengamalan sehari-hari. Di sisi lain, kitab kuning tidak terbatas hanya pada dua bidang studi tersebut, ada juga bidang hadis yang menjadi topik utama pada artikel ini. Hadis masih kalah popular dengan disiplin ilmu keislaman lain karena membutuhkan pengetahuan seperangkat ilmu-ilmu penunjang, pemahaman yang tinggi dan tidak serta-merta langsung dengan mudah bisa diamalkan. Inilah yang menjadikan perkembangan studi hadis di nusantara agak lebih belakangan dibandinkan bidang lainnya. Artikel ini berusaha untuk melacak penelitian-penelitian yang telah dilakukan terhadap kitab-kitab kuning di pesantren dan memilah-milahnya untuk menentukan kitab-kitab dalam bidang hadis. Dengan demikian bisa diketahui kitab-kitab hadis apa saja yang biasa diajarkan di pesantren.
REVIEWING RELIGIOUS UNDERSTANDING OF THE MARRIAGE HADITH Nurul, Nurul; Khoiril Waro, Mochamad Tholib
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.14951

Abstract

Intellectual discourse on women especially on marriage in Islamic tradition are dominated by patriarchal perspective. Islamic Intellectual treasures such as hadith and its explanation, exegesis, books, scholar and their intellectual products showed us how ancient Arabic patriarchal pattern existed. On the other hand, modernity led civilization to the values of equity, equality, human right and democracy against inequity, inequality, monarchy and individual cult. Problems of inequity appeared much on women discourse in Islamic tradition. Thousands of hadiths were identified recorded by men in patriarchal culture. It made gender issues in Islamic tradition are still sensitive. This article tries to reconstruct the discourse in one of the popular hadiths in marriage in order to explore the possibility of studying the meaning of a more moderate hadith.  By using Juynboll's common link, the author finds the hadith narrowed to one name, namely A'masy which is then categorized as a common link in this study.  In addition to having implications for the emergence of certain names as common links, this study also reviews further implications regarding the relevance of broader studies in hadith studies; urgent efforts to be made in order to place hadith as a source of more contextual and moderate religious discourse.[Tinjauan Pemahaman Agama Terhadap Hadis Pernikahan. Wacana intelektual tentang perempuan khususnya perkawinan dalam tradisi Islam didominasi oleh perspektif patriarki. Kekayaan Intelektual Islam seperti hadits dan penjelasannya, tafsir, kitab-kitab, ulama dan produk intelektualnya menunjukkan kepada kita bagaimana pola patriarki Arab kuno ada. Di sisi lain, modernitas membawa peradaban pada nilai-nilai kesetaraan, kesetaraan, hak asasi manusia dan demokrasi melawan ketidakadilan, ketidaksetaraan, monarki dan kultus individu. Masalah ketidakadilan banyak muncul pada wacana perempuan dalam tradisi Islam. Ribuan hadis diidentifikasi dicatat oleh laki-laki dalam budaya patriarki. Hal itu membuat isu gender dalam tradisi Islam masih sensitif. Artikel ini mencoba merekonstruksi wacana dalam salah satu hadis populer dalam pernikahan guna menjajaki kemungkinan mengkaji makna hadis yang lebih moderat. Dengan menggunakan common link Juynboll, penulis menemukan hadits tersebut dipersempit menjadi satu nama, yaitu A'masy yang kemudian dikategorikan sebagai common link dalam penelitian ini. Selain berimplikasi pada munculnya nama-nama tertentu sebagai common link, kajian ini juga mengkaji implikasi lebih lanjut mengenai relevansi kajian yang lebih luas dalam kajian hadis; Upaya mendesak dilakukan untuk menempatkan hadis sebagai sumber wacana keagamaan yang lebih kontekstual dan moderat.]
HADIS QATL AL-MURTAD WA MAWAQIF AL-ULAMA' MINHU Jannah, Shofiatul
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.11520

Abstract

The Hadith of Killing Apostates and The Attitude of Scholars Toward it. This study discusses the hadith "Whoever leaves religion, kill him". The punishment for apostates mentioned in this hadith is the main basis among scholars in taking legal istinbath for apostates. Literally, this hadith commands the killing of apostates. This means that if a person who is Muslim leaves his religion, the punishment for him in this world is to be killed. Therefore, the issue of leaving religion is a problem that causes controversy among Islamic scholars. Some of them see that hadith is contrary to the meaning of the al-Qur'an, the Sunnah of the Prophet, and is contrary to freedom of religion. Therefore, the issue of apostasy is considered as one of the topics that raises complex problems and requires deep thought. This study aims to determine the attitude of scholars towards this hadith This study uses a descriptive analytical method by collecting information related to this hadith as well as collecting data about scholars’ attitudes on this hadith, then uses appropriate analysis tools. The results of this study are: The classical scholars agreed that anyone who apostatized from Islam without coercion should be killed, but they differed in opinion about repentance and its duration. They have different opinions about apostate women. However, contemporary scholars present several opinions, trying to provide a new understanding of this hadith. This hadith cannot be a general rule that applies to all situations and conditions.[Hadis Membunuh Orang Murtad dan Sikap Ulama terhadapnya. Kajian ini membahas hadis “Barang siapa keluar dari agama maka bunuhlah dia”. Hukuman bagi orang murtad yang disebutkan dalam hadis ini menjadi dasar utama dikalangan ulama dalam mengambil istimbath hukum bagi orang murtad. Secara harfiah, hadis ini memerintahkan membunuh orang murtad. Artinya jika seseorang yang beragama Islam meninggalkan agamanya maka hukuman kepadanya di dunia adalah bunuh. Oleh Karena itu, masalah keluar dari agama merupakan sebuah masalah yang meninmbulkan kontroversi di kalangan ulama Islam. Beberapa diantara mereka melihat bahwa hadis ini bertentangan dengan makna dhahir al-Qur’an, Sunnah Nabi, dan bertentangan dengan kebebasan beragama. Oleh karena itu, isu kemurtadan dianggap sebagai salah satu topik yang menimbulkan masalah yang komplek dan membutuhkan pemikiran yang mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuisikap ulama terhadap hadis ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan mengumpulkan informasi-informasi yang berkaitan dengan hadis ini dan mengumpulkan data tentang sikap ulama terhadap hadis ini, kemudian menggunakan alat analisis yang sesuai. Adapun hasil penelitian ini yaitu para ulama klasik sepakat bahwa siapa pun yang murtad dari Islam tanpa paksaan harus dibunuh, tetapi mereka berbeda pendapat tentang taubat dan durasinya.Dan mereka juga berbeda pendapat tentang wanita yang murtad. Akan tetapi, ulama kontemporer menyampaikan beberapa pendapat, dan mencoba memberikan pemahaman baru tentang hadis ini. Bahwa hadis ini tidak bisa menjadi patokan umum yang berlaku untuk semua situasi dan kondisi.]
THE DYNAMICS OF SHAHIH AL-BUKHARI COMMENTARIES WITHIN THE OTTOMAN ACADEMIC LIFE Amiruddin, Muh
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.15276

Abstract

The Ottoman Empire was one of the centers of Islamic power for nearly seven centuries. A very long time in power and covering a vast territory made the Ottoman the center of Islamic civilization for a very long time. The education, culture, and civilization of the Ottoman were built on the madrasa system established from the time of the Seljuks and the scientific knowledge that was widespread in Anatolia through the madrasas. This madrasa system had previously been found in Egypt and Damascus. The development of education is also related to the development of hadith studies in the Ottoman, especially the study of Sahih al-Bukhari. This study aims to determine the development of the study of Sahih al-Bukhari in the Ottoman period. This study using literary research showed that the first Commentary written on Sahih al-Bukhari in the Ottoman was a work called al-Kawsar al-Jari written by Molla Gurani in the fifteenth century. In addition, a total of six commentaries were written, one in the late fifteenth century and the other in the sixteenth century. In the seventeenth century, many hadith scholars from Islamic scientific centers began to come to Istanbul, especially after Egypt entered the rule of the Ottoman Turks. In the eighteenth and nineteenth centuries, seven studies were carried out on Sahih al-Bukhari. Especially the study of special qualities in the nineteenth century which is pleasing in terms of the science of hadith. The most important indicator is the study of the methodology and commentary of hadith which appears together with the educational activities of scholars who have a high level of accumulation of hadith.[Dinamika Pensyarahan Shahih al-Bukhari dalam Dunia Akademik Turki Usmani. Turki Usmani adalah salah satu pusat kekuasan Islam selama hampir tujuh abad. Waktu berkuasa yang sangat lama dan meliputi cakupan wilayah kekuasaan yang luas membuat Turki Usmani menjadi pusat peradaban Islam dalam masa yang sangat lama. Pendidikan, budaya, dan peradaban Utsmaniyah dibangun di atas sistem madrasah yang didirikan oleh Seljuk dan pengetahuan ilmiah yang tersebar luas di Anatolia melalui madrasah. Sistem madrasah ini sebelumnya telah banyak ditemukan di Mesir dan Damaskus. Perkembangan pendidikan tersebut juga berkaitan dengan perkembangan studi hadis di Turki Usmani, khususnya studi atas Shahih al-Bukhari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan studi terhadap Shahih al-Bukhari di Turki Usmani. Studi dengan metode kepustakaan ini menunjukkan bahwa komentar pertama yang ditulis tentang Shahih al-Bukhari di Ottoman adalah karya bernama al-Kawsar al-Jari yang ditulis oleh Molla Gurani pada abad kelima belas. Selain itu, sebanyak enam komentar telah ditulis, satu pada akhir abad kelima belas dan yang lainnya pada abad keenam belas. Pada abad ketujuh belas, banyak ulama hadis dari pusat-pusat keilmuan Islam mulai berdatangan ke Istanbul, terutama setelah Mesir masuk dalam kekuasaan Turki Usmani.  Pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas, tujuh studi dilakukan pada Shahih al-Bukhari. Khususnya studi kualitas khusus pada abad kesembilan belas yang menyenangkan dalam hal ilmu hadits. Indikator terpentingnya adalah kajian metodologi dan syarah hadis  yang muncul bersamaan dengan aktivitas pendidikan ulama yang memiliki tingkat akumulasi hadis yang tinggi.]