cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 200 Documents
SOCIAL INTERACTION OF THE SUMBEREJO NGASEM KEDIRI COMMUNITY IN DEALING WITH PEOPLE AFFECTED BY COVID-19 AS A FORM OF LIVING HADITH SILATURAHIM Kinanthi, Shela Yudha; Dodi, Limas
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.11797

Abstract

Indonesia is a country that is famous for its hospitality, both to people residing in the country as well as to foreign people from various countries. A small example here is to our fellow neighbors –people who are almost every day always encountered –whose homes are close to ours. When a neighbor passes by our house, we will automatically –or even their own –say hello. It is also becoming more common in communities that primarily reside in rural areas. When in difficult circumstances or when hit by disasters – such as a house fire, relatives with death, or even affected by Covid-19 – automatically we – humans known as social beings – will help willingly. From here human being indirectly build a relationship with each other. However, with the existence of Covid-19 that doesn't subsided from the beginning of 2020 – when it first entered Indonesia – until now, people are busy guarding themselves to prevent them from contracting Covid-19. People were faced with two tough choices, namely helping those affected by Covid-19 or better avoiding and maintaining distance so as not to be affected. However, because humans have basic characteristics as social beings as well as Indonesian society which is famous for their attitude of hospitality, the community – especially in Sumberejo Village, Ngasem District, Kediri Regency – still help each other even in the Covid-19 situation.[Interaksi Sosial Masyarakat Sumberejo Ngasem Kediri dalam Menghadapi Orang yang Terdampak Covid-19 sebagai Bentuk Living Hadith Silaturahim. Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keramah-tamahannya, baik kepada masyarakat yang bertempat tinggal di negara itu sendiri, maupun kepada masyarakat asing dari berbagai negara. Sebagai contoh kecil di sini adalah kepada sesama tetangga –orang-orang yang hampir setiap hari selalu dijumpai –yang rumahnya berdekatan dengan kita. Ketika seorang tetangga melewati rumah kita, maka kita secara otomatis  –atau bahkan mereka sendiri –akan menyapa. Hal ini juga menjadi lebih umum di masyarakat yang khususnya bertempat tinggal di pedesaan. Ketika dalam keadaan susah ataupun ketika tertimpa musibah –seperti rumah kebakaran, kerabat dengan meninggal dunia, atau bahkan terdampak Covid-19 –secara otomatis kita –manusia yang dikenal sebagai makhluk sosial –akan membantu dengan sukarela. Dari sinilah secara tidak langsung manusia membangun silaturahmi satu sama lain. Namun, dengan adanya Covid-19 yang tak kunjung mereda dari awal tahun 2020 –ketika pertama kali masuk di Indonesia –hingga sekarang, masyarakat sibuk menjaga diri untuk mencegah agar tidak tertular Covid-19. Masyarakat seperti dihadapkan dua pilihan berat, yakni membantu mereka yang terdampak Covid-19 atau lebih baik menghindari serta menjaga jarak agar tidak ikut terdampak. Namun, dikarenakan manusia yang memiliki sifat dasar sebagai makhluk sosial sekaligus sebagai masyarakat Indonesia yang terkenal dengan sikap keramah-tamahannya, masyarakat –khususnya di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri –tetap saling membantu satu sama lain di dalam situasi Covid-19 sekalipun.]
AL-HADIS BAYNA AL-TAJDID (DIRASAH TAHLILIYYAH HAWLA MAKANAH AL-SUNNAH 'INDA MUHAMMAD RASYID RIDHA) Hanapi, Abdullah
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.14952

Abstract

Hadith between Renewal (An Analytical Study on the Status of the Sunnah According to Muhammad Rashid Rida). The hadith studies (read: sunnah), its position and history requires  research from ‘ulama, muhaddisun, ushuli because its considered tohave “historical problems” as questioned by orientalis scholars, not without reason for the historicity of the sunna, its invitation of many scholars to research the “historical traces” about tadwin al-ahadis (read: codification) in the late second and early third centuries hijriyah with this related historiography which recorded quite “uniquely” in theses of “chronology and theorization”.  But long after so "silence" in "rewriting" or "re-explanation" and its peak consedered came to "final" what everithing from the past (read: turats), and after modernism seemed to be clashed by “Islamic reformism”with "tajdid" as stated by Muhammad Rashid Rida. This paper will trace his thoughts, and find out his dilectic (read: Rida) about the hadith which’s said that definitively so different, is that right? Of course, this research makes notes (al-Nuqtat) about this. Although the “historical” method in reading sunnah of the early period, was not clearly raised by Rida, but his thoroughness in history made it difficult to accept riwayat (read: be careful), of course with this "historical" method and approach to parse some of the results of   hadith discussion in "tajdid’" context which carried by Rida as a Reformist figure (read: reformer).[Hadits antara Pembaruan (Studi Analitis tentang Status Sunnah menurut Muhammad Rashid Ridha). Studi hadis (baca: sunnah), kedudukan dan historis-nya membutuhkan penelitian ilmiah dari para ilmuan, ahli hadis, ushuli karena dianggap masih menyimpan “persoalan sejarah” sebagaimana dipertanyakan sarjanawan Barat (baca: orientalis), bukan tanpa alasan aspek historisitas sunah, mengundang banyak penelitian para sarjanawan untuk meneropong jejak sejarah tadwin al-ahadis (baca: kodifikasi) di akhir abad ke-dua dan awal abad ke-tiga H dengan historiografi terkait ini yang terekam cukup khas dalam tesis-tesis kronologisasi, dan teorisasi. Namun jauh setelahnya “senyap” dalam tradisi “penulisan ulang” atau “penjelasan kembali” serta puncaknya muncul klaim “final” terhadap apa yang datang dari masa lalu (baca: turats), dan setelah gaung modernisme seolah dibenturkan oleh reformisme Islam melalui “tajdid” sebagaimana disampaikan Muhammad Rasyid Ridha. Tulisan ini akan melacak pemikirannya, dan identifikasi dilektika (baca: Ridha) seputar “hadis” yang dikatakan secara definitif historis memiliki perbedaan, benarkah demikian ?, tentu penelusuran ini membuat catatan-catatan (al-Nuqtat) seputar ini. Meskipun metode historis dalam membaca sunnah periode awal tidak secara jelas dimunculkan oleh Ridha, namun ketelitiannya terhadap riwayat menjadi tidak mudah untuk menerima periwayatan (baca: hati-hati), pembacaan keseluruhan terkait ini tentu dengan metode dan pendekatan “sejarah” untuk mengurai beberapa hasil pembahasan tentang kedudukan hadis, dalam konteks “tajdid” yang diusung Ridha sebagai tokoh Reformis (baca: pembaharu).]
PEOPLES’ HADITH IN DATING HADITH DISCUSSION: Reviewing Another Way to Track the Initial Tradition Muna, Moh. Nailul
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.11572

Abstract

This study aims to explain and assess the Peoples' Hadith as part of a historical approach that can be used in Dating Hadith. The criticism of the inauthenticity of the hadith has been widely discussed by skeptical orientalists. The most basic reason for this doubt is that there are no written hadith documents in the era of the Prophet that can be known in the present era. The method they use is the dating of hadith; a method that seeks to find out the source of the earliest hadith documents by determining their age and origin. So far, the dating efforts made by Motzky and Nabia Abbott ended in the 2nd century AH. The difference of a century makes this effort still not sufficient to provide an absolute refutation of orientalist skepticism. Based on the descriptive-analytical method, the author finds that People's Hadith has a novelty in terms of viewpoint in the form of the need to look at document sources in the 1st century AH. through communities outside of Muslims, especially the Bedouin. Due to the widening of the scope of this historical search, the implication that will arise is the discovery of prophetic documents that will be obtained by historians or Islamic scholars with sources that come from the Prophet’s Era in the 7th century AH.[Ahli Hadis dalam Diskursus Penanggalan Hadis: Meninjau Cara Lain untuk Melacak Tradisi Awal. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menilai Peoples’ Hadith sebagai bagian dari pendekatan sejarah yang dapat digunakan dalam Dating Hadith. Kritik terhadap ketidak-otentikan hadis telah banyak didiskusikan oleh skeptical orientalists. Alasan yang paling mendasar dari keraguan tersebut sebab tidak adanya dokumen hadis tertulis di era Nabi yang bisa diketahui di era sekarang. Metode yang mereka gunakan yakni dating hadith; sebuah metode yang berupaya mencari tahu sumber dokumen hadis paling awal dengan penentuan umur dan asal-muasalnya. Sejauh ini, upaya dating yang dilakukan oleh Motzky dan Nabia Abbott berakhir pada abad ke 2 H. Adanya selisih satu abad menjadikan usaha tersebut masih tidak cukup untuk memberikan sanggahan penolakan yang mutlak atas keskeptisan orientalis. Berdasarkan metode deskriptif-analitis, penulis menemukan bahwa Poeples’ Hadith memiliki kebaharuan dari segi viewpoint berupa perlunya memandang sumber dokumen abad ke 1 H. melalui komunitas-komunitas yang berada di luar muslim, terutama kepada suku Badui. Oleh karena melebarnya ruang lingkup penelusuran sejarah ini, implikasi yang akan muncul yakni adanya penemuan-penemuan dokumen nabi yang akan didapatkan oleh para ahli sejarah atau pengkaji islam dengan sumber yang memang berasal dari Nabi pada abad ke-7 H.]
THE METHOD OF SHAYKH NAWAWI AL-BANTENI IN HADITH COMMENTARIES OF TANQIH AL-QAUL Kirin, Arwansyah bin; Masruri, Muhammad
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.15460

Abstract

Shaykh Nawawi al-Banteni is an Islamic scholar who produces various famous works in the archipelago, especially in Indonesia. Among his famous works is the book Tanqih al-Qaul is one of the interpretes or reviews from the book Lubab al-Hadith by Jalal al-Din al-Suyuti.This book became a reference in some Indonesian Boarding Schools. In addition, it is also used as a book study material in certain mosques. However, in-depth study of the method of hadith interpretes in the book is rarely observed by users of the book. Therefore, it is important to explain the method of hadith interpretes found in this book so that its status can be known as well as to measure the extent of its knowledge in the hadith. This study aims to explore the method of hadith interpretes conducted by Shaykh Nawawi al-Bantani in the book Tanqih al-Qaul. The purpose of this study is to determine and analyze the method of hadith interprete used by Shaykh Nawawi al-Banteni and reveal the extent of his knowledge and status as a scholar of hadith through the book Tanqih al-Qaul. The methodology of this study is qualitative through library methods and content analysis design of Tanqih al-Qaul book. This study found that in general the method used by Shaykh Nawawi al-Banteni in interpreting hadith is by using the method of Ijmali. In its application, he uses textual interpretation techniques through the method of interpreting hadith according to the original material or text of hadith, and intertextual through the method of reciting hadith with hadith. This study found that Shaykh Nawawi al-Banteni had good ability and knowledge in hadith. Apart from that, it can also provide an understanding to the community about the method of hadith interprete performed by Shaykh Nawawi al-Banteni in his book Tanqih al-Qaul.[Manhaj Shaykh Nawawi al-Banteni dalam Mensyarahkan Hadith-Hadith Kitab Tanqih Al-Qaul. Shaykh Nawawi al-Banteni merupakan seorang cendekiawan Islam yang menghasilkan pelbagai karya yang masyhur di Nusantara khususnya Indonesia. Di antara karya beliau yang terkenal itu adalah kitab Tanqih al-Qaul merupakan salah satu syarah atau ulasan dari kitab Tanqih al-Qaul syarahan dari kitab Lubab al-Hadith karangan Jalal al-Din al-Suyuti. Kitab   ini  menjadi   referensi di beberapa pondok pesantren Indonesia, selain itu dia juga dijadikan sebagai bahan kajian kitab di masjid-masjid tertentu. Namun,  kajian mendalam tentang manhaj syarahan hadith dalam kitab tersebut jarang diperhatikan oleh pengguna kitab. Oleh kerana itu penting untuk menjelaskan manhaj syarahan hadith yang terdapat dalam kitab ini agar dapat dikenali statusnya sekaligus untuk mengukur sejauh mana pengetahuannya dalam ilmu hadis. Kajian ini berhasrat mengeksplorasi manhaj syarahan hadis yang dilakukan Shaykh Nawawi al-Banteni dalam kitab Tanqih al-Qaul. Tujuan kajian ini adalah untuk menentukan dan menganalisis manhaj syarahan hadis yang digunakan oleh Shaykh Nawawi al-Banteni dan mengungkap sejauh mana pengetahuan dan statusnya sebagai sarjana hadith melalui kitab Tanqih al-Qaul. Metodologi kajian ini adalah kualitatif melalui kaedah kepustakaan dan reka bentuk analisis kandungan kitab Tanqih al-Qaul. Kajian ini mendapati bahawa secara umum manhaj yang digunakan oleh Shaykh Nawawi al-Banteni dalam mensyarah hadith adalah dengan menggunakan metode Ijmali. Dalam pengaplikasiannya beliau menggunakan teknik Interpretasi Tekstual melalui satu kaedah iaitu mensyarah hadith mengikut matan atau teks asal hadis, dan Interpretasi Intertekstual melalui satu kaedah juga yaitu mensyarahkan hadis dengan hadis. Kajian ini menemukan bahwa Shaykh Nawawi al-Banteni memiliki kemampuan dan pengetahuan yang baik dalam ilmu hadis. Selain itu dia juga dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang manhaj syarahan hadith yang dilakukan oleh Shaykh Nawawi al-Banteni dalam kitabnya Nasa’ih al-‘Ibad.]
THE KNOWLEDGE MANAGEMENT IN HADITH CODIFICATION Erika, Erika; Mujiburrahman, Mujiburrahman
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.13675

Abstract

Hadith codification has been carried out since the Prophet Muhammad era and was systematically documented in the 3rd century Hijri. During this period, the hadith codification went through a complicated process. The clerics who wrote hadith books had a standard in collecting, processing, and disseminating hadith. It has similarities with current knowledge management process theory, i.e., create, capture, classify, store, share, and apply. This study examines the knowledge management of hadith codification using the SECI model by Nonaka & Takeuchi. SECI contains four stages, there are Socialization, Externalization, Combination, and Internalization. The authors classify the process of hadith codification into the SECI model. In socialization, it will describe the process of hadith transfer from the Prophet Muhammad to his companions. The externalization stage explains the efforts of the companions to make the hadith into an explicit form. Afterward, the hadith codification process in the 3rd century Hijri is described at the combination stage. The last is internalization which explains the implementation and recreation of hadith into a new form of documentation. The method used is descriptive. Data were collected using historical-comparative research methods from the documents as the main sources and interviews as additional sources. The results of this study are rigorous methods used in the hadith codification in the context of knowledge management. Other findings are the values of the hadith codification process that can be applied in an organization.[Manajemen Pengetahuan dalam Kodifikasi Hadis. Kodifikasi hadis telah dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad dan didokumentasikan secara sistematis pada abad ke-3 Hijriah. Selama periode ini, kodifikasi hadis melalui proses yang rumit. Para ulama yang menulis kitab hadis memiliki standar dalam mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan hadis. Ini memiliki kesamaan dengan teori proses manajemen pengetahuan saat ini, yaitu membuat, menangkap, mengklasifikasikan, menyimpan, berbagi, dan menerapkan. Penelitian ini mengkaji tentang manajemen pengetahuan kodifikasi hadits menggunakan model SECI oleh Nonaka & Takeuchi. SECI terdiri dari empat tahap, yaitu Sosialisasi, Eksternalisasi, Kombinasi, dan Internalisasi. Penulis mengklasifikasikan proses kodifikasi hadits ke dalam model SECI. Dalam sosialisasi ini akan dijelaskan proses transfer hadits dari Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya. Tahap eksternalisasi menjelaskan upaya para sahabat untuk menjadikan hadits dalam bentuk eksplisit. Selanjutnya, proses kodifikasi hadits pada abad ke-3 Hijriah digambarkan pada tahap kombinasi. Terakhir adalah internalisasi yang menjelaskan implementasi dan rekreasi hadis ke dalam bentuk dokumentasi baru. Metode yang digunakan adalah deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode penelitian sejarah-komparatif dari dokumen sebagai sumber utama dan wawancara sebagai sumber tambahan. Hasil penelitian ini adalah metode ketat yang digunakan dalam kodifikasi hadits dalam konteks manajemen pengetahuan. Temuan lainnya adalah nilai-nilai proses kodifikasi hadis yang dapat diterapkan dalam sebuah organisasi.]
HADITH AND PROPHET MUHAMMAD AUTHORITY: Understanding of Jonathan A.C. Brown Nafisah, Lailiyatun
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.13414

Abstract

Hadith is frequently the subject of research by Muslim academics and Westerners. Both Muslim academics and orientalists have debated the legitimacy of the hadith for a long time. Jonathan AC Brown is a western Muslim scholar who contributes to rationally explaining the study of hadith so that it is easily accepted by beginners; his work demonstrates his commitment to the study of Islamic studies. This study follows a library research approach in which Jonathan Brown's book "Hadith: Muhammad's Legacy in the Medieval and Modern World" is utilized as the primary reference source, which is then supplemented with scholarly publications and journals on Jonathan Brown. The author used the descriptive analysis technique. According to the findings of this study, a hadith is a report about the Prophet consisting of the main text that describes his words or actions, the way of transmission (isnad) that serves to convey, and finally the giver. The authority of Muhammad is that of a Prophet who functions as a teacher, leader, and role model, as well as someone who has knowledge of the future. However, because the Prophet was an ordinary person, he did not have full authority in some matters.[Hadis dan Otoritas Nabi Muhammad: Pemahaman Jonathan A.C. Brown. Hadis sering menjadi bahan kajian yang tidak hanya dilakukan oleh sarjana muslim, namun juga barat. Berbagai pro dan kontra akan keaslian hadis telah lama berkembang, baik sarjana muslim maupun orientalis. Jonathan A.C Brown, merupakan sarjana muslim barat yang berkontribusi dalam menjelaskan kajian hadis secara rasional sehingga mudah diterima kaum pemula, karya yang dihasilkannya merupakan bukti keseriusan dalam kajian studies islamic.  Penelitian ini merupakan model penelitian kepustakaan (library reseach) dimana, buku “Hadith: Muhammad’s legacy in the medieval and modern world” Brown dijadikan sebagai sumber rujukan utama, kemudian didukung oleh karya ilmiah dan jurnal yang berkaitan dengan Jonathan Brown. Penulis menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hadis adalah adalah laporan tentang Nabi, yang terdiri dari teks utama untuk menjelaskan kata- kata atau tindakannya, rantai transmisi (isnad) yang berufngsi untuk mengkomunikasikan, kemudian penyampai. Otoritas Muhammad merupakan seorang Nabi yang memiliki peran sebagai guru, panutan, dan teladan, dan seseorang yang mampu memiliki akses mengetahui masa depan. Akan tetapi Nabi adalah seorang manusia biasa sehingga tidak secara keseluruhan menjadi otoritatif dalam beberapa hal.]
LIVING HADITH IN THE PERSPECTIVE OF THE HAQ NAQSHBANDI SUFI ORDER Gitosaroso, Muh.; Athoillah, Mohamad Anton; Mukhtar, Naqiyah; Shobirin, Shobirin
RIWAYAH Vol 8, No 2 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i2.12099

Abstract

This study aims to determine the implementation of hadith contents in the tariqa world. The command of the hadith in question is the command of dhikr. Therefore, this article discusses the practice of dhikr orders in hadith, based on the views of the Haq Naqsyabandi Order. This congregation was founded by Maulana Sheikh Tuan Guru Haji Abdussomad Al-Haqqi Habibullah in Lombok, West Nusa Tenggara, in 1986. Its followers have various backgrounds and have spread throughout the archipelago, even in foreign countries. To examine in more depth about this issue, researchers used qualitative methods and phenomenological descriptive research approaches. The data sources in this study are sourced from two things: primary sources (Murshid, Badal Murshid, Foundation Management, College Management, and active congregations) and secondary sources (relevant previous literature studies). The data collection technique in this study is the PAR (Participation Action Research) technique. At the same time, the data analysis technique used the takhrij al-ḥadīth analysis technique followed by sharh al-hadith. This article finds that many scholars recognize the command to dhikr to make Muslims generally remember Allah. However, the scholars still have their respective views on the practice of the command of dhikr from the perspective of hadith, giving rise to many kinds of implementation. Likewise, with the Haq Naqsyabandi Order, the dhikr’s obligation starts from the congregation taking allegiance (tawajjuh) with stages determined and decided by the murshid of the tariqa.[Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang bagaimana implementasi makna hadits dalam dunia tarekat. Perintah hadits yang dimaksud adalah perintah dzikir. Oleh karena itu, artikel ini membahas tentang pengamalan perintah dzikir dalam hadits, berdasarkan pandangan Tarekat Haq Naqsyabandi. Tarekat ini adalah sebuah tarekat yang didirikan oleh Maulana Syeikh Tuan Guru Haji Abdussomad Al-Haqqi Habibullah di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada tahun 1986. Para pengikutnya terdiri dari berbagai kalangan, dan telah menyebar ke seluruh nusantara, bahkan di manca negara. Untuk mengkaji secara lebih mendalam mengenai persoalan ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dan pendekatan penelitian deskriptif fenomenologis. Sumber data dalam kajian ini bersumber pada dua hal yaitu sumber primer (Mursyid, Badal Mursyid, Pengurus Yayasan, Pengurus Perguruan, dan jamaah aktif) dan sumber sekunder (kajian kepustakaan terdahulu yang terkait). Teknik pengumpulan data dalam kajian ini melalui teknik PAR (Partisipation Action Riseach). Sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik analisis takhrīj al-ḥadīth yang dilanjutkan dengan sharḥ al-ḥadīth. Artikel ini menemukan bahwa perintah untuk berdzikir diakui oleh banyak ulama sebagai upaya agar umat Islam secara umum dapat mengingat Allah. Namun, para ulama masih memiliki pandangan masing-masing dalam pengamalan perintah dzikir perspektif hadis sehingga menimbulkan banyak macam pelaksanaannya. Demikian juga dengan Tarekat Haq Naqsyabandi, bahwa kewajiban dzikir dimulai dari sejak jamaah berbai’at (ditawajjuh) dengan tahapan yang telah ditentukan dan diputuskan oleh mursyid tarekat.]
NEURO-LINGUISTIC PROGRAMMING (NLP) AS A CUPPING MEDIA: A Living Hadith Discourse MZ, Ahmad Murtaza; Isnaini, Subi Nur; Syahputra, Satria Tenun
RIWAYAH Vol 8, No 2 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i2.15021

Abstract

As a method of traditional medicine, cupping began to be in great demand by the public. Of course, this is an interesting phenomenon to be discussed. With the development of science, especially in the field of therapy, cupping is combined with modern communication techniques, namely Neuro-Linguistic Programming (NLP). The attempt to combine cupping with NLP is a novelty aspect in the study of cupping. This practice is carried out at Kopsen Rumah Sehat Thibbunnabawi, one of the few cupping clinics that use NLP techniques as a medium. Therefore, this article examines how Neuro-Linguistic Programming becomes a medium used in cupping practice. This research is a type of qualitative research using a phenomenological approach. Data collection methods used are interviews, observation, and documentation. Using the descriptive analysis method, there were five research informants, consisting of one therapist and four patients. This study found that: first, understanding of text internalization from cupping hadiths is still limited to the patient’s educational background or practical experience of each individual. Thus, various reasons from patients believe in cupping as a treatment. Second, the application of NLP as a cupping medium makes patients more comfortable and confident in doing therapy. Third, the application of NLP might be a solution so that patients who come are healed physically and psychologically.[Sebagai metode pengobatan tradisional, bekam mulai banyak diminati masyarakat. Tentu ini menjadi fenomena yang menarik untuk di diskusikan dan dikaji. Terlebih seiring berkembangnya ilmu pengetahuan terkhusus dalam bidang terapi, bekam dipadukan dengan teknik komunikasi modern yakni Neuro Linguistic Programming (NLP). Upaya untuk memadukan antara bekam dengan NLP merupakan aspek kebaharuan dalam ranah kajian mengenai bekam. Praktik seperti ini dilakukan di Kopsen Rumah Sehat Thibbunnabawi menjadi salah satu dari sedikit klinik bekam yang menggunakan teknik NLP sebagai medianya. Oleh karenanya, artikel ini mengkaji bagaimana Neuro Linguistic Programming menjadi media yang digunakan dalam praktik bekam. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologis. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian berjumlah 5 orang, terdiri dari 1 orang terapis, dan 4 pasien. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Penelitian ini menemukan bahwa: pertama, pemahaman mengenai internalisasi teks dari hadis berbekam masih sebatas latar belakang pendidikan pasien ataupun pengalaman empiris dari tiap individu. Sehingga beragam alasan dari pasien meyakini bekam sebagai sebuah pengobatan. Kedua, pengaplikasian NLP sebagai media bekam menjadikan pasien lebih nyaman dan percaya diri untuk melakukan terapi. Ketiga, penerapan NLP mungkin bisa menjadi solusi agar pasien yang datang tidak hanya sembuh secara fisik namun sembuh pula dari segi psikologis.]
REINTERPRETATION OF THE MEANING OF THE HADITH ON PROHIBITION FOR WOMEN TO TRAVEL WITHOUT A MAHRAM: The Ma’na-cum-Maghza Approach Fuaddin, Achmad; Imam Mutaqin, Muhammad
RIWAYAH Vol 8, No 2 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i2.15763

Abstract

One of the interesting objects of study to be researched in the current era is related to gender issues. One of the interesting gender issues is related to the hadith which prohibits a woman from traveling except with her mahram or husband. The scholars in responding to this hadith tend to establish strict laws, namely, it is forbidden for women to travel alone. This is interesting to study because now many women are traveling alone due to many reasons, such as economic and educational problems. Therefore, the authors are interested in researching and reinterpreting the meaning of the prohibition of traveling for women except with their husbands or mahrams using the ma’na-cum-maghza approach. This aims to determine the historical significance of hadith and its significance today. The results of this study indicate that women are prohibited from traveling alone without being accompanied by a mahram or husband due to safety factors that were not guaranteed at the time of the Prophet. As for traveling today, if it is safe to travel alone, it is permissible for a woman to travel alone. However, if the current situation is dangerous on the road or at the destination and a woman can’t travel alone, then there must be someone who can look after her.[Salah satu obyek kajian yang menarik untuk diteliti di era sekarang adalah terkait isu-isu gender. Salah satu isu gender yang menarik adalah terkait hadis yang melarang seorang wanita melakukan safar (bepergian) kecuali bersama mahram atau suami. Para ulama dalam menyikapi hadis tersebut cenderung menetapkan hukum ketat, yaitu dilarang bagi perempuan melakukan bepergian sendirian. Hal ini menarik untuk dikaji dikarenakan pada kenyataanya sekarang banyak wanita yang melakukan safar sendirian dikarenakan banyak alasan, seperti masalah ekonomi dan pendidikan. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti dan mereinterpretasi pemaknaan larangan safar bagi perempuan kecuali bersama suami atau mahram dengan menggunakan pendekatan ma’na-cum-maghza. Hal ini bertujuan untuk mengetahui signifikasi historisitas hadis di zaman sekarang. Hasil penelitian ini menunjukkan larangan perempuan untuk melakukan safar sendirian tanpa ditemani mahram atau suami dikarenakan faktor keamanan yang tidak menjamin pada zaman Nabi. Adapun bepergian pada zaman sekarang jika sudah terjamin keamanannya untuk melakukan safar secara sendirian, maka diperbolehkan seorang perempuan melakukan safar sendiri. Namun jika keadaan zaman sekarang terdapat bahaya di jalan maupun tempat tujuan dan tidak memungkinkan seorang perempuan untuk bepergian sendirian, maka harus ada seseorang yang bisa menjaganya.]
THE DIFFERENCES IN INTERPRETATION OF THE HADITH: A Study of The Hadith al-Jannatu tahta Aqdam al-Ummahat Huda, Miftahul
RIWAYAH Vol 8, No 2 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i2.14229

Abstract

The study of the differences in the interpretation of the hadith about heaven under the soles of the mother’s feet, aims to examine and analyze the differences in views and debates of the scholars as well as the method of understanding the hadith on heaven under the soles of the mother’s feet (al-jannatu tahta aqdam al-ummahat) contextually. In this study, the method used is qualitative literary study with an analytic-descriptive approach. As for the data analysis using qualitative descriptive analytics, namely describing and analyzing the hadith about al-jannatu tahta aqdam al-ummahat. The results of this study indicate that the status of the hadith about heaven under the soles of the mother’s feet gives rise to two statuses, namely authentic and dhaif. As narrated from Mu’awiyah bin Jahimah, he concluded that the hadith had the status of authentic. Whereas what was narrated by Anas bin Malik with a different path and proof, is declared to have the status of dhaif. The debate of hadith scholars in understanding this hadith is more directed at disputes about hadith narrations with various methods and approaches used, namely the sanad, narrator, and language methods. From the different views of scholars regarding this hadith, it does not lead to the substance of the hadith in question, which commands to do good to parents. This hadith positions a woman (mother) is in Islam as a highly glorified figure.[Kajian mengenai perbedaan dalam penafisran hadis tentang surga di bawah telapak kaki ibu, bertujuan untuk mengkaji dan menganalisa perbedaan pandangan dan perdebatan para ulama serta metode memahami hadis surga di bawah telapak kaki ibu (al-jannatu tahta aqdam al-ummahat) secara kontekstual. Dalam penelitian ini metode yang digunakan yaitu kualitatif bersifat studi kepustakaan dengan pendekatan desktiptif analitik. Adapun analisis data menggunakan kualitatif deskriptif analitik yaitu mendeskripsikan dan menganalisis hadis tentang surga di bawah telapak kaki ibu (al-jannatu tahta aqdam al-ummahat). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa status hadis tentang surga dibawah telapak kaki Ibu menimbulkan dua status yaitu shahih dan dhaif. Seperti yang diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Jahimah, ia menyimpulkan bahwa hadis tersebut berstatus shahih. Sedangkan yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dengan jalur dan hujjah berbeda, yaitu dinyatakan berstatus dhaif. Perdebatan para ulama hadis dalam memahami hadis ini lebih mengarah pada perselisihan riwayat hadis dengan berbagai metode dan pedekatan yang digunakan yaitu metode sanad, rawi serta bahasa.  Dari perbedaan pandangan para ulama dan cendikiawan mengenai hadis tersebut, tidak mengarah kepada substansi hadis ini yang memerintahkan untuk melakukan berbuat baik kepada orang tua. Hadis ini memposisikan seorang perempuan (ibu) dalam Islam sebagai sosok yang sangat dimuliakan.]