Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles
200 Documents
Dinamika Memahami Hadis Nabi: Tinjauan Historis dan Metodologis
RIWAYAH Vol 3, No 2 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v3i2.3704
Tulisan ini mengkaji tentang hadis Nabi dari aspek sejarah dan metodologi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan gejala sosial menjadi aspek penting yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hadis Nabi. Oleh sebab itu, dalam memahami hadis Nabi kedua hal tersebut tidak bisa dianggap sebelah mata, karena untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif aspek-aspek yang terkait dengan hadis harus menjadi bahan pertimbagan. Penelitian ini bersifat library research, dimana sumber rujukan dalam menggali data diambil dari berbagai literature Islam yang terkait dengan sejarah perkembangan pemahaman hadis. Adapun metode yang digunakan ialah kualitatif tanpa melakukan hitungan, tetapi lebih menekankan pada perkembagan teori dan gagasan yang berkembang seputar pemahaman hadis. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa pemahaman hadis mengalami perubahan dan pergeseran paradigma dari masa ke masa. Hal ini disebabkan beragamanya pendekatan dan paradigma yang digunakan dalam memahami bahasa agama, terutama hadis Nabi. Kalau pada masa awal hanya sebatas pemahaman tekstual, di era modern usaha untuk kontekstualitas hadis Nabi digagas dengan menggunakan pendekatan historis, antropologis, sosiologis dan lain sebagainya sebagai usaha dalam merealisasikan pesan agama dalam kehidupan sehari-hari.
RELEVANSI HADIS TAS’IR (PENETAPAN HARGA) TERHADAP SISTEM PEREKONOMIAN DI INDONESIA
Baharuddin, Didin;
Islamy, Mohammad Rindu Fajar
RIWAYAH Vol 7, No 2 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v7i2.10525
Intervensi pemerintah terhadap pasar dipandang suatu kebutuhan, tujuannya adalah dalam rangka melindungi konsumen dari unsur kerugian atau kemadharatan. Namun demikian, dalam literature hadis, sebagian narasi mengindikasikan adanya larangan intervensi pemimpin dalam mengatur mekanisme penetapan harga pasar. Ditinjau dengan menggunakan pendekatan kontekstual, perkembangan tradisi, kultur, budaya, serta lahirnya kompleksitas problematika baru justru mendorong pemerintah dan para sarjana muslim untuk mereinterpretasi pemahaman baru terkait hadis tas’ir sehingga berimplikasi dalam memberikan solusi alternatif terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi yang mapan dan produktif. Tujuan studi literature ini dalam rangka melacak hadis-hadis tas’ir serta bagaimana bangunan konstruksi pemahaman para ulama dalam menafsirkan makna hadis tas’ir tersebut. Koleksi hadis tas’ir dikumpulkan dari beragam kitab-kitab turats hadis, lalu dianalisis menggunakan metode deskriptif analitik. Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa tas’īr diperbolehkan oleh para ulama dengan beberapa dhowābith. Hal ini menunjukkan Kontekstualisasi pemahaman hadis sangat penting agar Islam tidak kaku terhadap perkembangan zaman. Islam menjadi responsif terhadap tantangan dan permasalahan yang muncul. Sehingga Islam menjadi shalihun li kulli makan wa zaman.[The Relevance of The Tas'ir Hadith (Price Setting) to The Economic System in Indonesia. Government intervention in market policies is seen as a necessity, the aim is to protect consumers from elements of loss or harm. However, in the hadith literature, some narratives indicate that there is a prohibition on the intervention of the leader in regulating the market pricing mechanism. Judging by using a contextual approach, the development of traditions, culture, culture, and the birth of new problematic complexities actually encourage the government and Muslim scholars to reinterpret new understandings related to the tas'ir hadith so that it has implications for developing alternative solutions to established and productive economic policies. The purpose of this literature study is to trace the traditions of tas'ir and how to construct the understanding of the scholars in interpreting the meaning of the hadith of tas'ir. The collection of tas'ir hadiths was collected from various turats hadith books, then analyzed using descriptive analytic methods. The findings of this study show that tas'īr is allowed by scholars with several dhowābith. This shows the contextualization of the understanding of hadith is very important so that Islam is not rigid to the times. Islam becomes responsive to the challenges and problems that arise. So that Islam becomes shālihun li kulli makān wa zamān.]
Profil Prodi Ilmu Hadis di Era Globalisasi Teknologi Informasi
RIWAYAH Vol 2, No 1 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v2i1.1502
Prodi Ilmu Hadis dalam sejarah perkembangan PTKI merupakan prodi yang relatif baru. Dalam konteks tersebut, maka profil prodi Ilha sangat beragam sesuai dengan konteks masing-masing PTKIN. Profil Prodi Ilha ke depan adalah program studi yang menghasilkan sarjana dalam bidang studi hadis dan memilki penguasaan studi hadis secara komprehensif. Seorang ahli hadis harus memahami ulum al-hadis, penelitian hadis dan syarah hadis. Sehingga aplikasinya, pemahaman hadis yang dihasilkan akan menjadi sebuah model yang sangat baik di masyarakat dan tidka menimbulkan adanya kekerasan. Selain itu, terkait erat penguasaan di bidang teknologi dan teknologi informasi, harus juga dikaji secara mendalam melingkupi kajian yang ada oleh ahli hadis selain dengan ilmu-ilmu kemanusiaan.
PERAN HADIS SEBAGAI SUMBER HUKUM JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA
Robikah, Siti
RIWAYAH Vol 6, No 1 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v6i1.6871
Hadis sebagai sumber hukum mempunyai banyak peran salah satunya sebagai penjelas al-Quran yang menjelaskan secara global. Perincian atas penjelasan al-Quran itulah menjadi tugas utama adanya hadis. Namun tidak semua menerima hadis sebagai sandaran hukum bagi umat Islam. Beberapa diantaranya terdapat golongan ingkarussunah yang lahir dari rahim umat Islam sendiri. Perbedaan posisi hadis juga dilahirkan oleh kelompok-kelompok Islam yang menyebar masyarakat atau ormas. Salah satunya yaitu Ahmadiyah yang mempunyai pandangan berbeda dengan ormas lainnya. Ahmadiyah dalam pengambilan keputusan menempatkan hadis sebagai sumber ketiga setelah al-Quran dan Sunnah. Hal ini dikarenakan menurut mereka, Sunnah ada terlebih dahulu dibandingkan hadis. Hadis tidak seluruhnya dapat diterima karena terdapat beberapa hadis yang bertentangan dengan al-Quran maupun Sunnah. Jika terdapat hadis yang bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah maka tinggalkanlah, jika hadis tidak bertentangan maka dapat dijadikan landasan hujjah. Jika hadis dinilai dhaif namun tidak bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah maka dapat dijadikan hujjah.
Metode Kritik Autentisitas Hadis Irene Schneider
RIWAYAH Vol 3, No 1 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v3i1.3438
Hadits adalah salah satu sumber utama hukum Islam. Ilmuwan Muslim, sekarang dan dulu, mencoba untuk menyajikan model analisa hadits untuk mendapatkan pemahaman yang baik dalam memberikan kontribusi yang positif untuk menyelesaikan masalah sosial keagamaan dalam kehidupan manusia. Di sisi lain, Banyak Ilmuwan Barat (Orientalist) tertarik bidang hadits. Mereka belajar hadits bukan untuk mendapatkan pelajaran dari ini namun untuk mengetahui bagaimana hadits muncul dan kepada siapa hadits ini merujuk. Menurut Herbert Berg, ilmuwan Barat bisa dikategorikan ke dalam tiga tipe: (a) Skeptics; (b) non-skeptics; dan (c) middle ground. Jurnal ini menitikberatkan pada Pengeksplorasian Pemikiran Irene Schneider mengenai Tradisi Islam, khususnya tentang penelitiannya mengenai hadits-hadits Surraq. Dalam artikelnya Freedom and Slavery In Early Islamic Time, beliau mencoba untuk mempelajari Hadits-hadits Surraq menggunakan metode pendahulunya. Berdasarkan pada asumsi bahwa pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh realitas hidupnya, dalam artikel ini saya akan menunjukkan bahwa posisi Irene tentang tradisi hadits, khususnya tentang keautentikan sabda nabi, berdasarkan pada penelitiannya mengenai hadits mirip dengan Joseph Schacht. Dengan kata lain, ini berarti bahwa beliau ragu terhadap keautentikan hadits tersebut. Kemudian hasil penelitiannya tentang hadits Surraq dikritisi oleh Harald Motzki dalam bukunya, Analysing Muslim Traditions.Dan Kesimpulan dari artikel ini adalah bahwa Pemikiran Irene lahir dan dipengaruhi oleh Schacht.
PERAN SAHABAT DALAM PERIODISASI HADIS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP TRANSMISI KEILMUAN PENDIDIKAN ISLAM
Rosyidah, Aisyatur;
Kholis, Nur;
Husna, Jannatul
RIWAYAH Vol 7, No 1 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v7i1.9723
Periodisasi hadits menjadi bahasan penting dalam diskusi keilmuan Islam. Sebagai sumber kedua dalam Islam, secara otomatis hadits juga menerima kritik yang dilontarkan oleh para sarjana barat yang mendiskreditkan sumber ajaran Islam. Penelitian ini mengambil pemikiran Mustafa al-Azami, yaitu cendekiawan yang berupaya untuk mendudukkan kembali periodisasi hadits dari masa pencatatan hingga kodifikasi. Adapun metode pewartaan dalam periodisasi tersebut berimplikasi kepada landasan transmmisi keilmuan saat ini. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif-analitis, Hasil penelitian menunjukkan bahwa periodisasi hadits dari masa pencatatan hingga kodifikasi menimbulkan jejak metode dalam proses validitas atau kritik terhadap sanad dan matan hadits. Hal ini berimplikasi dalam penerapan terhadap transmisi keilmuan masa kontemporer, sebagaimana yang telah dipraktikkan jauh pada masa para sahabat. Metode para sahabat menandakan bahwa kegiatan literasi telah dilakukan pada masa Nabi SAW. Bahkan metode tersebut telah direfleksikan dengan kegiatan transmisi keilmuan masa kini. Hal ini menegaskan bahwa Islam dalam transmisi keilmuan hanya membawa kebenaran sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.[The Role of Friends in The Periodization of Hadith and Their Implications on The Transmission of Islamic Education Science. Periodization of hadits to be an important discussion in the discussion of Islamic scholarship. As a second source in Islam, hadits automatically also received criticsm by scholars of the western that discredit the source of the teaching of Islam. This study based the thingking of Mustafa al-Azami. He is a scholars who focus to but back the periodization of the hadits of the recording to the codification. As for the method of preaching in the periodization of the implications to the transmission of science at this time. This research is qualitative research which is descriptive-analytical. Result of the study is that the periodization of the hadits of the recording to the codification cause the trace method in the process of the validity or criticsm of sanad and matan of hadits. This has implications in the application to the transmission of scientific contemporary period, as has been practised of the companions. The method of the companions indicates that the literacy activities have been done since at the time of prophet Muhammad SAW. Even the method that has been reflected by the activities of transmission of knowledge of the present. This confirm that Islam in the transmission of scientific just bring the truth as guidance for all human.]
Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup dalam Perspektif Hadis
RIWAYAH Vol 1, No 2 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v1i2.1802
Lingkungan adalah semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia dan hewan. Sedangkan lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang berada di sekeliling makhluk hidup (organisme) yang mempunyai pengaruh timbal balik terhadap makhluk hidup tersebut. Upaya pelestarian lingkungan artinya menjaga keberadaan lingkungan tetap selama-lamanya, kekal tidak berubah. Dengan melakukan perbuatan sewenang-wenang terhadap lingkungan dengan cara mengeksploitasi tanpa meperhatikan akibatnya, jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Ketidakstabilan keadaan alam, bencana dan musibah yang terjadi di alam ini, karena disebabkan oleh ulah tangan manusia. Pengelolaan lingkungan ini bertujuan demi tercapainya keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan hidup. Keselarasan dalam ajaran Islam mencakup empat hal, yaitu: keselarasan dengan Tuhan, keselarasan dengan masyarakat, keselarasan dengan lingkungan alam dan keselarasan dengan diri sendiri. Upaya pelestarian lingkungan hidup, ini mendapat perhatian serius dari Nabi saw. seperti hadis tentang menghidupkan lahan yang mati, menanam pohon (reboisasi) dan hadis tentang larangan membuang hajat sembarangan. Pesan-pesan spiritual Nabi saw, tersebut menyadarkan kepada umatnya untuk selalu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
PEMIKIRAN DAN KONTRIBUSI KH. MARZUKI MUSTAMAR DALAM KAJIAN HADIS INDONESIA
Fauzi, Irfan
RIWAYAH Vol 5, No 2 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v5i2.6533
Artikel ini membahas KH. Marzuki Mustamar sebagai salah satu kyai populer di Indonesia dalam kaitannya dengan studi hadis. Beliau memiliki kitab yang membahas tentang hadis-hadis untuk menjawab problematika umat Islam yang sedang dihadapi masyarakat Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia berjudul al-Muqtathafat li Ahl al-Bidayat. Kitab ini merupakan jawaban terhadap keresahan-keresahan KH. Marzuki Mustamar terhadap umat Islam Indonesia dari serangan pemahaman-pemahaman Islam yang tidak selaras dengan Islam yang diamalkan di Indonesia. Artikel ini akan menyingkap kontribusi kitab kumpulan hadis tersebut terhadap wacana sosial keagamaan Islam di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan kitab ini memang dikarang oleh beliau sebagai landasan dalil-dalil amaliyah Muslim di Indonesia dalam praktek sosial keagamaan Islam di Indonesia.
Aktualisasi Peran Ulama Sebagai Warasatul Anbiya Dalam Konteks Kehidupan Beragama Dan Bernegara
RIWAYAH Vol 4, No 1 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v4i1.3206
Abstrak Penegasan sebuah hadis bahwa ulama’ sebagai warotsatul anbiya’ memberikan pengertian bahwa peran yang dipikul oleh ulama tidaklah ringan. Ulama mempuyai tanggung jawab untuk menyampaikan kandungan isi al-Quran, bahkan memberikan suri tauladan dalam mengamalkan ajaran al-Qur’an. Selain itu, ulama juga harus dapat memberikan penjelasan dan pemecahan mengenai problem yang dihadapi masyarakat, berdasarkan al-Quran.Dengan demikian, tidak boleh tidak, seorang ulama harus menjadi pemimpin dalam masyarakat, walaupun tentu saja tidak dapat menyamai prestasi Nabi dalam memimpin umat yang kita ketahui bahwasanya tidak ada pemisahan antara ulama dan umara’ (pemerintah). Namun jika kita tarik ke konteks keIndonesiaan, di mana kepemimpinan dipegang oleh pemerintah dan peran ulama tidak lagi sepenuhnya menjadi pemimpin masyarakat, maka antara keduanya harus ada kerjasama yang baik untuk mewujudkan kesejahteraan ummat.Ulama yang secara formal legalitas diakui keberadaannya oleh pemerintah Indonesia namun independen yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ada pertanyaan yang menggelitik. Apakah para ulama yang masuk dalam jajaran MUI sudah berperan aktif memecahkan problematika keagamaan maupun kebangsaan di Nusantara ini? Apakah keberadaan MUI sudah diakui sepenuhnya oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia sehingga MUI menjadi satu-satunya rujukan mereka saat mengalami problematika yang dimaksud?Sementara itu, fenomena maraknya stasiun televisi yang menayangkan program tausiyah keagamaan yang menampilkan para ulama’/ustadz sebagai narasumbernya menjadikan perlu adanya identifikasi ulang terkait dengan identitas seorang ulama. Bisakah mereka yang hanya karena tampil di televisi sebagai narasumber dalam acara talk show keagamaan disebut sebagai ulama? Belum lagi ada yang kemudian memasang tarif yang setara dengan pelaku seni di dunia entertainment.
Polemik Penulisan Hadis: Perspektif Michael A. Cook dalam The Opponents of the Writing of Tradition in Early Islam
RIWAYAH Vol 1, No 1 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v1i1.1226
AbstractCook’s work entitled The Opponents of the Writing of Tradition in Early Islam focuses more on opposition to writing traditions (hadith) that occurred in the early days of Islam in the process of shifting the oral tradition in Hadith narration into a written tradition, and did not expose the chronology for writing tradition itself. Cook classified the opposition in writing hadith in the early days of Islam into two phases, namely Basra phase and common phase which includes Kufa, Medina, Mecca, Yemen, and Syria, and their arguments which are built by each phase, as well as patterns of compromise adopted to connect the two opposite opinions