cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 200 Documents
SCIENTIFIC MIRACLES OF GRAPES IN THE QUR’AN AND HADITH: Perspectives on Religious Studies and Herbal Treatment Atabik, Ahmad; Hamidah, Luluk
RIWAYAH Vol 8, No 2 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i2.16228

Abstract

The fruit frequently mentioned in the Qur’an and hadith is grape. The term inab is cited eleven times in the Qur’an in relation to the numerous joys that Allah grants to His adherents in this world as well as in the afterlife. In his work al-Tibb al-Nabawi, Ibn Qayyim al-Jauziyah cited grape as a type of fruit that the Prophet consumed and that could be used as a remedy. Referring to the previous points of view, this study aims to explore the scientific miracles of grapes in terms of hadith and scientific interpretation, as well as to correlate them with religious scientific studies and herbal treatment using grapes. Grapes have drawn the attention of Muslims and western academics to investigate the content, benefits, and features of grapes as a fruit mentioned 11 times in the Qur’an, as a type of fruits consumed by the Prophet, as well as utilized as a treatment method. Grapes have the highest vitamin contents, including vitamin A, B, and C. Grapes have high mineral contents, with potassium reaching 62%, calcium, magnesium, phosphorus, iron reaching 2.182%, acid and phosphorus reaching 17%. According to several scientific studies, grapes are said to be capable of treating cough, cleansing intestines, aiding digestion, purifying blood, and even benefiting those with gastric disorders. Grapes can also be used as a medication to support respiratory treatment.[Buah yang sering disebutkan dalam al-Qur’an dan hadis adalah anggur. Istilah inab disebutkan sebelas kali dalam al-Qur’an sehubungan dengan banyaknya kenikmatan yang Allah berikan kepada para pengikut-Nya di dunia ini maupun di akhirat. Dalam karyanya al-Tibb al-Nabawi, Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebut anggur sebagai salah satu jenis buah yang dikonsumsi Nabi dan bisa dijadikan obat. Mengacu pada pandangan sebelumnya, kajian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang mukjizat ilmiah buah anggur dalam tafsir ilmi maupun hadis, dan menghubungkannya dengan riset ilmiah keagamaan dan pengobatan herbal menggunakan anggur. Sebagai buah yang disebut 11 kali dalam al-Qur’an dan anggur juga termasuk jenis buah yang pernah disantap Nabi dan bisa digunakan sebagai sarana pengobatan, anggur menjadi perhatian para sarjana muslim maupun barat untuk meneliti kandungan, manfaat dan khasiat yang dimiliki oleh anggur. Anggur merupakan buah yang paling kaya kandungan vitaminnya, khususnya vitamin A, B, dan C. Kandungan mineral anggur pun cukup tinggi, yaitu potassium yang mencapai 62%, kalsium, magnesium, fosfor, dan zat besi yang mencapai 2,182%, asam dan fosfor sebanyak 17%. Dalam pelbagai penelitian ilmiah, anggur diyakini dapat mengobati batuk, membersihkan usus, pencernaan, memurnikan darah, bahkan bermanfaat untuk orang-orang yang terkena penyakit lambung. Anggur juga memiliki manfaat sebagai obat untuk mendukung pengobatan pernafasan.]
RESPONDING TO WOMEN’S TRAVELLING WITHOUT A MAHRAM IN THE ERA OF SOCIAL TRANSFORMATION: An Analysis of Mukhtalif al-Hadith Wulandari, Susi
RIWAYAH Vol 8, No 2 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i2.15272

Abstract

This study views two hadiths about women travelling with a mahram which at first glance seem contradictory. One hadith says that it is not lawful for women to travel without a mahram, while in another hadith, the Prophet states that there will be women who travel alone and are not afraid of anything except Allah. These two hadiths need to be studied further. The concept of mahram must be clearly understood so that there is no discrediting of women in doing something in the public sphere because many factors have encouraged women to travel in the current era of social transformation, for example, to pursue an education that necessitates being far away from family. This study uses the al-jam’u method so that these two mukhtalif hadiths about women travelling with a mahram could be applied to modern society that has undergone a social transformation. The hadith about women travelling with mahrams is substantially a concern for security on women’s travels. Suppose on the way; a woman is worried that it will be unsafe. In that case, she can practice the hadith that is not lawful for a woman’s trip if a mahram does not accompany her. In contrast, if the woman can travel safely, she can practice the second hadith about a woman travelling alone without a mahram, and there is no fear except for Allah. For this reason, modern society with social transformation can choose between the two hadiths that conform to the situation and conditions.[Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini tentang perempuan bepergian bersama mahram, didalam hadis-hadis yang sekilas tampak bertentangan. Salah satu hadis berisi tentang tidak halal perjalan perempuan tanpa mahram, sedangkan hadis lainnya Rasul bersabda akan ada perempuan yang bepergian sendirian dan tidak takut kepada apapun kecuali kepada Allah. Hadis-hadis tersebut perlu diketahui penyelesaiannya, serta konsep mahram perlu diketahui lebih jauh, agar tidak ada pendeskreditan terhadap perempuan didalam melakukan sesuatu di ruang public, karena banyaknya faktor yang mendorong perempuan melakukan perjalanan di era transformasi sosial saat ini, misalnya untuk mengenyam pendidikan yang mengharuskan jauh dari keluarga. Penyelesaian mukhtalif al-hadis tentang perempuan bepergian dengan mahram menggunakan metode al-jam’u, sehingga penulisan ini memiliki tujuan ialah kedua hadis mukhtalif tentang perempuan bepergian dengan mahram, dapat diaplikasikan dalam konteks masyarakat modern yang telah mengalami transformasi sosial. Hadis tentang perempuan bepergian bersama mahram secara substansi merupakan perhatian keamanan pada perjalanan perempuan. Apabila dalam perjalanannya perempuan dikhawatirkan tidak aman maka dapat mengamalkan hadis tidak halal perjalanan perempuan jika tidak disertai mahram, sedangkan jika perempuan dalam perjalanannya aman, maka dapat mengamalkan hadis tentang seorang perempuan berjalan sendirian dan tidak ada rasa takut kecuali kepada Allah. Untuk itu masyarakat modern dengan transformasi sosial dapat memilih diantara hadis keduanya yang selaras dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.]
Al-HADITH AL-MIHNIYYA: Mafhum Rais al-Daula al-Nabawi Magfirah, Siti; Subhan, Zaitunah
RIWAYAH Vol 8, No 2 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i2.11383

Abstract

Hadith of Professionalism: the Concept of the Head of State of the Prophet. The focus of this study is to analyze the characteristics of the head of state of the Prophet Muhammad when in Madinah based on a review of professionalism hadiths. The purpose of this research is to explain the role of the Prophet Muhammad in Madinah when he served as head of state and to find out the quality of hadith in the form of analysis of professional hadiths. This research approach uses hadith, philosophical and political criticism. The type of research used is qualitative, including primary data sources, namely data obtained directly from hadith source books and secondary data, namely obtained from the results of writings that have been systematized in the form of books and journals. The methodology used by this study is takhrij al-hadith and hadith criticism which is used as a tool for measuring the studyofhadith. The result of this research is that the hadiths of professionalism in this study are included in the category of sahih hadith and can be used as an argument as a study of the criticism of sahih hadith in the book of al-Bukhari, Muslim and Ahmad Ibn Hanbal. The conclusions of this study show that leadership hadiths on professionalism have accommodated the role of the Prophet Muhammad as head of state, because it is covered in prophetic leadership characteristics such as: the ability to carry out trust, equalize justice for society, realize the advantages and weaknesses of the self, be honest and the ability to fight against the enemy. The implementation of this paper is the position of the Prophet Muhammad (peace be upon him) cannot be separated from the guidance of Allah swt regarding the ability to lead so that success in the head of state when in Medina is conveyed through the professionalism possessed by the Prophet.[Fokus penelitian ini adalah menganalisa karakteristik kepala negara Nabi Muhammad saw ketika di Madinah berdasarkan tinjauan hadis-hadis profesionalisme. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan peran Nabi Muhammad saw di Madinah ketika menjabat sebagai kepala negara serta untuk mengetahui kualitas hadis dalam wujud analisis hadis-hadis profesionalisme. Pendekatan penelitian ini menggunakan kritik hadis, filosofis dan politik. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif di antaranya sumber data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari kitab sumber hadis dan data sekunder yaitu diperoleh dari hasil tulisan yang telah disistematisasi berupa buku-buku dan jurnal. Adapun metodologi yang digunakan penelitian ini ialah takhrij al-hadis dan kritik hadis yang dijadikan sebagai alat bantu untuk tolak ukur penelitian hadis. Hasil penelitian ini ialah hadis-hadis profesionalisme dalam penelitian ini masuk dalam kategori hadis sahih dan dapat dijadikan hujah sebagaimana telaah kritik hadis sahih dalam kitab al-Bukhari, Muslim dan Ahmad Ibn Hanbal. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan bahwa hadis-hadis kepemimpinan tentang profesionalisme telah mengakomodasi peran Nabi Muhammad saw sebagai kepala negara, sebab tercakup dalam karakteristik kepemimpinan profetik seperti: kemampuan dalam mengemban amanah, mengimbangi keadilan untuk masyarakat, menyadari kelebihan dan kelemahan diri, berlaku jujur serta kemampuan berperang melawan musuh. Adapun implementasi tulisan ini ialah posisi Nabi Muhammad saw tidak terlepas dari tuntunan dari Allah swt terkait kemampuan dalam memimpin sehingga kesuksesan dalam kepala negara ketika di Madinah tersampaikan melalui sikap profesionalisme yang dimiliki oleh Nabi.]
RE-SHAPING THE PROPHET: Baḥr al-Mādhī, Vernacular Fracture and Characteristics of Hadith Commentary in Nusantara Firdausy, Hilmy
RIWAYAH Vol 8, No 2 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i2.14247

Abstract

Baḥr al-Mādhī Syarah Bagi Mukhtasar Sahih al-Tirmidhi by Muhammad Idris al-Marbawi is one of the hadith works of Nusantara scholars, which contains wealthy textual data. It provides 22 chapters divided into 11 volume bundles. However well, not much research has touched on Baḥr al-Mādhī. This paper will specifically reveal the “locality” and distinctive aspects of the hadith commentary scheme in Baḥr al-Mādhī. For this purpose, this paper will use and apply the theory of vernacularization. The theory will record the meeting of “the local” and “ the universal”, which is expected to capture aroma of the Nusantara in the Baḥr al-Mādhī Syarah Bagi Sahih al-Tirmidhi written in Malay language with Pegon script. As a result, at least five methodical characteristics are applied by al-Marbawi in hadith commentary, methods that are never applied by other hadith scholars when observing and explaining the same hadith. The vernacularization or momentum of locality displayed in Baḥr al-Mādhī occurs at once at all its semiotic levels. In the context of the hadith commentary method, there are at least specific characteristics that distinguish Baḥr al-Mādhī from the typical hadith commentary books; 1) visualization of interpretation in the form of drawings and illustrations, 2) utilization of storytelling techniques, 3) the emergence of two-way dialogue and translation spaces, 4) clustering of quotations and 5) the use of pointers.[Baḥr al-Mādhī Syarah Bagi Sahih al-Tirmidhi karya Muhammad Idris al-Marbawi adalah salah satu karya hadis ulama Nusantara yang memuat data tekstual yang sangat kaya. Ia menyediakan 22 juz bahasan yang dibagi ke dalam 11 bundel jilid. Namun sayangnya, tidak banyak penelitian yang menyentuh Baḥr al-Mādhī. Paper ini secara spesifik akan menguak aspek “lokalitas” dan yang khas dalam skema pensyarahan hadis dalam Baḥr al-Mādhī. Untuk kepentingan itu, teori vernakularisasi akan digunakan. Teori tersebut akan merekam pertemuan “yang lokal” dan “yang universal” ini diharapkan mampu memotret aroma kenusantaraan atau “roso jawi” dalam kitab syarah hadis yang ditulis dalam Bahasa Melayu beraksara pegon tersebut. Hasilnya, ada setidaknya lima  karakteristik metodis yang diterapkan oleh al-Marbawi dalam mensyarah hadis; metode-metode yang tidak pernah diterapkan oleh para ulama hadis lainnya ketika mensyarah hadis yang sama. Vernakularisasi atau momentum lokalitas yang ditampilkan dalam Baḥr al-Mādhī terjadi sekaligus pada semua tataran semiotiknya. Dalam konteks metode tafsir hadis, setidaknya ada ciri-ciri khusus yang membedakan Bahr al-Mādhī dengan kitab tafsir hadis pada umumnya; 1) visualisasi interpretasi berupa gambar dan ilustrasi, 2) pemanfaatan teknik bercerita, 3) munculnya dialog dua arah dan ruang penerjemahan, 4) pengelompokan kutipan dan 5) penggunaan pointer.]
FROM HISTORICAL TO NORMATIVE-THEOLOGICAL APPROACHES: Hadith Studies and Prophetic Tradition According to Ruggero Vimercati Sanseverino Handayana, Sri; Budiman, Arif
RIWAYAH Vol 9, No 1 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i1.16541

Abstract

The present article is a descriptive-analytical examination of the hadith studies trend in Germany. Represented by Ruggero Vimercati Sanseverino, Professor of Hadith Studies and Prophetic Tradition at Zentrum für Islamische Theologie at the University of Tübingen Germany, it explores his methodological and didactical contribution to the hadith studies traced through his publications. This study shows that Ruggero focuses on the theological dimension of hadith, as opposed to the historical study of hadith. Ruggero investigates one of the pioneers of referential text on the science of hadith, al-Ilma’ by The Moroccan Maliki scholar al-Qadi ‘Iyad. Besides studying ‘Ulum al-Hadits literature, he also expands his research on a reference text of Sunni prophetology, al-Shifaʾbi-taʿrif Huquq al-Muṣṭafa by the same author. In line with the previous topic, he tries to answer the question of how the Prophet Muhammad should be perceived by doing a critical study of prophetology according to ʿAbd al-Ḥalim Maḥmud. Ruggero also offers a comprehensive thematic approach concerning prophetological themes to counter fundamentalism and solve the conflict in some Muslim communities. The theological approach to hadith offered by Ruggero defines hadith as transmitted testimony. While classical hadith studies which places hadith as a source for prophetic tradition focusing on transmission and Orientalism/Islamic Studies put hadith as history and document which portrayed social and culture of past Muslim societies, Ruggero wants to integrate both approaches and brings them into dialogue.[Artikel ini adalah analisis deskriptif-analitik dari tren studi hadits di Jerman. Diwakili oleh Ruggero Vimercati Sanseverino, Profesor Studi Hadits dan Tradisi Nabi di Zentrum für Islamische Theologie di Universitas Tübingen Jerman, tulisan ini mengeksplorasi kontribusi metodologis dan didaktis pada studi hadis yang ditelusuri melalui publikasinya. Kajian ini menunjukkan bahwa Ruggero berfokus pada dimensi teologis hadis, berlawanan dengan kajian sejarah hadis. Ruggero menyelidiki salah satu perintis kitab referensi pada ilmu hadits, al-Ilma 'oleh ulama Maliki Maroko al-Qadi 'Iyad. Selain mempelajari literatur Ulum al-Hadits, ia juga memperluas penelitiannya pada teks referensi kenabian Sunni, al-Shifaʾbi-taʿrif Huquq al-Muṣṭafa oleh penulis yang sama. Sejalan dengan topik sebelumnya, ia mencoba menjawab pertanyaan bagaimana seharusnya Nabi Muhammad dipandang dengan melakukan kajian kritis terhadap profetologi menurut ʿAbd al-Ḥalim Maḥmud. Ruggero juga menawarkan pendekatan tematik yang komprehensif tentang tema-tema kenabian untuk melawan fundamentalisme dan menyelesaikan konflik di beberapa komunitas Muslim. Pendekatan teologis dalam hadis yang ditawarkan oleh Ruggero mendefinisikan hadis sebagai transmitted testimony. Sementara kajian hadits klasik yang menempatkan hadits sebagai sumber hadis kenabian yang berfokus pada transmisi dan Orientalisme/Studi Islam menempatkan hadits sebagai sejarah dan dokumen yang menggambarkan sosial dan budaya masyarakat Muslim masa lalu, Ruggero ingin mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut dan membawanya ke dalam dialog.]
UNDERSTANDING THE QUR’AN AND HADITH RELATED TO CHILDREN'S DEVOTION TO PARENTS WITH HERMENEUTICS OF TAWHID Hadiyansyah, Dhuha; In'ami, Moh; Hunaida, Wiwin Luqna; Anasy, Zaharil; Faizah, Umi
RIWAYAH Vol 9, No 1 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i1.21446

Abstract

children and parents. Thus far, these two sacred texts have been used as the basis for a children’s obedience to their parents. In this sense, being obedient to both parents, whether the ordered is obligatory, sunnah or permissible, is a must. Likewise, if parents forbid from unlawful, makruh or permissible actions, the children are obliged to obey. In this view, obedience to parents is absolute; there is no concept of self-boundary, which in psychology is valued as an important component in the growth of a healthy identity. The study found that, by using Hermeneutics of Tawhid, the interpretation of the two texts becomes more fair, namely the form of obedience of children to their parents lies in the obedience to roles and functions in the family system. When parents act as caregivers in the family, children need to obey them as the owner of the authority; conversely, when the caregiver role changes, parents need to adjust to the new situation. Through this interpretation, the parent-child relationship pattern can be seen as a bond capable of supporting the sakinah family concept. Wadud's Hermeneutics of Tawhid gives us the opportunity to read texts with a broad horizon of thinking in order to produce more acceptable meanings for those who think logically. This meaning would be more functional to be applied in everyday life in society, not the meaning that only exists in the world of ideas.[Artikel ini merupakan penelitian kualitatif dengan kajian teks, yang fokus pada Surat al-Isra ayat 23 dan Hadits tentang hubungan antara anak dan orang tua. Sejauh ini, kedua teks suci ini  telah digunakan sebagai dasar untuk kepatuhan anak-anak kepada orang tua mereka. Dalam pengertian ini, patuh kepada kedua orang tua, apakah perintah itu wajib, sunnah atau diizinkan, adalah suatu keharusan. Demikian juga jika orang tua melarang perbuatan melawan hukum, makruh atau perbuatan yang diizinkan, maka anak-anak wajib taat. Dalam pandangan ini, kepatuhan kepada orang tua adalah mutlak; Tidak ada konsep batas diri, yang dalam psikologi dinilai sebagai komponen penting dalam pertumbuhan identitas yang sehat. Penelitian menemukan bahwa, dengan menggunakan Hermeneutika Tauhid, interpretasi terhadap dua text tersebut menjadi lebih adil, yaitu bentuk ketaatan anak kepada orang tuanya terletak pada ketaatan terhadap peran dan fungsi dalam sistem keluarga. Ketika orang tua bertindak sebagai pengasuh dalam keluarga, anak-anak perlu mematuhinya sebagai pemegang otoritas; sebaliknya, ketika peran pengasuh berubah, orang tua perlu menyesuaikan diri dengan situasi baru. Melalui interpretasi ini, pola hubungan orangtua-anak dapat dilihat sebagai ikatan yang mampu mendukung konsep keluarga sakinah. Hermeneutika Tauhid Wadud memberi kita kesempatan untuk membaca teks dengan cakrawala berpikir yang luas demi menghasilkan makna yang lebih berterima oleh mereka orang yang berpikir logis. Makna ini lebih fungsional untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, bukan makna yang hanya ada di dunia ide.]
IMPLEMENTATION OF THE ABU NU’AIM’S METHOD OF HADITH TRANSMISSION IN HILYAT AL-AULIYA’ Alfian, M. Yusuf Syafiq
RIWAYAH Vol 9, No 1 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i1.18303

Abstract

Kitab "Hilyat al-Auliya'" tidak hanya mengulas biografi para ulama sufi dan zuhud, tetapi juga memuat hadis-hadis yang diriwayatkan oleh mereka. Meskipun begitu, penelitian mengenai metode periwayatan hadis yang digunakan oleh Abu Nu'aim masih terbatas, hanya sedikit orang yang berhasil menemukannya. Oleh karena itu, penulis bertekad untuk membuktikan metode periwayatan yang digunakan oleh Abu Nu'aim dalam kitabnya yang terkenal, "Hilyah al-Auliya'". Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian kepustakaan dan analisis dokumen. Data yang dikumpulkan berasal dari kitab karya Abu Nu'aim dan kitab-kitab ulama yang menjelaskan tentang metode periwayatan hadis Abu Nu'aim. Dalam penelitian ini, dapat terbukti bahwa Abu Nu'aim menerapkan metode periwayatannya dalam kitabnya, "Hilyat al-Auliya'", dengan kriteria tersendiri yang berbeda dari metode periwayatan yang lain. Salah satu kriteria penting yang diterapkan oleh Abu Nu'aim adalah kriteria keadilan ('adalah) yang menjadi panduan baginya. Dengan menggunakan metode periwayatan tersebut, Abu Nu'aim dianggap sebagai Mutasaahil, yaitu seorang periwayat hadis yang dapat dipercaya. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai metode periwayatan hadis yang digunakan oleh Abu Nu'aim dan memberikan kontribusi penting dalam studi hadis. Penelitian ini juga menggarisbawahi pentingnya mempelajari ulama yang kurang dikenal seperti Abu Nu'aim dan perlunya penelitian lebih lanjut tentang kontribusinya dalam ilmu pengetahuan Islam. Temuan dari penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai metode periwayatan hadis yang digunakan oleh Abu Nu'aim dan menegaskan pentingnya pemahaman dan penyebaran literatur hadis. Dengan mengakui nilai dan kriteria yang digunakan oleh Abu Nu'aim, para peneliti dan sarjana dapat memperluas pengetahuan mereka tentang metodologi periwayatan hadis serta memberikan kontribusi dalam diskusi akademis mengenai studi hadis.[The book "Hilyat al-Auliya'" not only discusses the biographies of Sufi and ascetic scholars but also includes hadiths narrated by these scholars. However, research on the hadith transmission methods employed by Abu Nu'aim is limited, with only a few individuals managing to discover them. Therefore, the author is determined to demonstrate the transmission methods used by Abu Nu'aim in his renowned book, "Hilyah al-Auliya'". This research employs a literature review and document analysis as the methodological approach. Data are collected from Abu Nu'aim's writings and other works of scholars that explain Abu Nu'aim's hadith transmission methods. The study proves that Abu Nu'aim applied his transmission method in his book, "Hilyat al-Auliya'", utilizing distinct criteria that differ from other transmission methods. One of the important criteria employed by Abu Nu'aim is the criterion of fairness ('adalah) as his guiding principle. By utilizing this method, Abu Nu'aim is considered a Mutasaahil, a reliable transmitter of hadiths. This research provides a deeper understanding of Abu Nu'aim's hadith transmission method and makes a significant contribution to hadith studies. It also highlights the importance of studying lesser-known scholars like Abu Nu'aim and the need for further research on their contributions to Islamic scholarship. The findings of this study offer new insights into Abu Nu'aim's hadith transmission method and underscore the importance of understanding and disseminating hadith literature. By acknowledging the value and criteria employed by Abu Nu'aim, researchers and scholars can expand their knowledge of hadith transmission methodologies and contribute to academic discussions on the study of hadiths.]
RE-SHARAH OF HADITH AS A NEW ISLAMIC SCIENCE: AN APPLICATION OF THOMAS KUHN’S SCIENTIFIC REVOLUTION PARADIGM Rukmana, Fachruli Isra; Hidayat, M. Riyan; Yuzar, Sri Kurniati
RIWAYAH Vol 9, No 1 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i1.19743

Abstract

This article discusses the use of Thomas Kuhn's paradigm of the scientific revolution in presenting the discourse of re-syarah hadith which has been less objective in addressing the social problems of the people. The description of Kuhn's framework of thought on the revitalization of the hadith scribe is quite extensive, including the stages in providing an overview to give birth to a breakthrough in the science of hadith from the time of the companions to the rapid development of hadith in the 2nd to 3rd centuries. By starting from the questions, first, what is the framework of Thomas Kuhn's scientific revolution, second, what are the basic assumptions of the need for rewriting hadith in the current era, third, how is the application of Thomas Kuhn's scientific revolution paradigm in the discourse of rewriting hadith. The type of research used in this analysis is idea analysis with a library research approach. Typically, this research centers on two data models, namely primary data and secondary data. By applying the study of the interpretation of thought, this article can show that Thomas Kuhn's scientific revolution paradigm is a good reference in discussing the re-syarah of hadith in the present era, in addition to the discourses of re-writing hadith, this is the basis in showing that Islam through the Prophet's hadith has strong integrity to discuss the issue of contextual re-writing of hadith, because in its history Islam is full of knowledge, not only in terms of religion but also in terms of social life.[Artikel ini berbicara penggunaan paradigma revolusi ilmiah Thomas Kuhn dalam menyuguhkan wacana re-syarah ­hadis yang saat ini kegunaannya mulai tidak begitu objektif untuk menjawab persoalan sosial umat. Penggambaran kerangka berpikir Kuhn mengenai revitalisasi syarah hadis cukup ekstensif, termasuk tahapan-tahapannya dalam memberikan gambaran untuk melahirkan dobrakan baru terhadap science hadis dari mulai masa sahabat sampai perkembangan hadis yang pesat di abad-2 sampai 3 H. Dengan beranjak dari persoalan, pertama, bagaimana kerangka pemikiran Thomas Kuhn terhadap revolusi ilmiah, kedua, apa asumsi dasar perlunya re-syarah hadis pada era saat ini, ketiga, bagaimana pengaplikasian paradigma revolusi ilmiah Thomas Kuhn dalam wacana re-syarah hadis. Jenis penelitian yang digunakan dalam analisis ini merupakan analisis gagasan dengan pendekatan kepustakaan (library research). Secara distingtif, penelitian ini berpusat pada dua model data yakni data primer dan data sekunder. Dengan menerapkan kajian interpretasi pemikiran, artikel ini mampu menunjukkan bahwa paradigma revolusi ilmiah Thomas Kuhn merupakan acuan yang besar dalam mendiskusikan re-syarah hadis di era saat ini, di samping itu memang terdapat wacana-wacana penggagasan ulang terhadap syarah hadis, ini menjadi landasan dalam menunjukkan bahwa agama Islam melalui hadis Nabi mempunyai integritas yang kuat untuk berdiskusi persoalan perombakan syarah hadis kontesktual karena dalam historinya Islam penuh dengan ilmu pengetahuan, tidak hanya dari kacamata keagamaan, namun juga dari bagian sosial kehidupan.]
MARRIAGE PRACTICUM IN SCHOOL FROM THE PERSPECTIVE OF HADITH STUDIES Nugroho, Rahmat; Nafila, Radifa Isnain; Nasrulloh, Nasrulloh
RIWAYAH Vol 9, No 2 (2023): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i2.20292

Abstract

The Implementation of Fiqh Learning in View of its Practice: Marriage Practicum in Schools as a Learning Material Appears to Require Further Examination, as there are Hadiths that explain the significance of divorce, marriage, and reconciliation, even when conducted in jest and not in earnest. Based on this objective, the researcher utilized a qualitative descriptive methodology. The data collection technique employed was a literature review (library research) with a Hadith study approach that focused on relevant subjects. This study aimed to examine how the marriage practicum is implemented in schools, the Hadith study related to it, and the Islamic legal perspectives. The findings of this study indicate that the marriage practicum occurring in schools involves a simulation of marriage conducted by students. The analysis of these Hadiths reveals their weak authenticity (Dhaif). Despite their weakness (Dhaif), historical accounts suggest that the companions of the Prophet Muhammad practiced the matan of these Hadiths. From an Islamic legal perspective, the simulated marriages conducted by students in schools are not valid due to the absence of a crucial requirement, namely the presence of a guardian (wali). A plausible solution, apart from direct simulation, lies in organizing educational sessions through various institutions, both from the Office of Religious Affairs (KUA) and other relevant bodies. For practical assessments in Islamic jurisprudence classes in schools, these could be redirected towards alternate simulations, such as practical exercises involving the ritual of bathing and shrouding the deceased, the pilgrimage rituals of Hajj and Umrah, religious observances such as Salah (prayer), purification rituals like Tayammum and Wudu (ablution).[Implementasi dari pembelajaran fikih dilihat dari praktiknya. Praktikum pernikahan di sekolah sebagai bahan pembelajaran nampaknya perlu dikaji lebih mendalam, sebab terdapat hadis yang menjelaskan bahwa peristiwa menalak, menikahkan dan rujuk hukumnya berlaku meskipun dilakukan secara gurauan dan tidak sungguh-sungguh. Berdasarkan objektif ini peneliti menggunakan metodologi deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah metode telaah pustaka (library research) dengan pendekatan kajian hadis yang objeknya relevan dengan pembahasan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana penerapan praktikum pernikahan di sekolah? bagaimana kajian hadisnya? Bagaimana keterangan hadis dan perspektif hukum Islam? Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa praktikum pernikahan yang terjadi di sekolah merupakan simulasi pernikahan yang dilakukan oleh para siswa. Hasil kajian hadis ini menunjukkan bahwa hadis ini Dhoif. Meskipun hadis ini Dhoif, namun dalam praktiknya para sahabat mengamalkan kandungan hadis tersebut. Dalam perspektif hukum Islam, simulasi pernikahan yang dilakukan oleh para siswa di sekolahan tidaklah sah. Karena di dalamnya terdapat syarat yang belum terpenuhi yaitu keberadaan wali. Solusi yang dapat diambil selain melakukan simulasi langsung adalah dengan mengadakan penyuluhan melalui berbagai lembaga baik dari KUA (Kantor Urusan Agama) maupun dari berbagai badan yang terkait. Untuk ujian praktik pada pelajaran fikih di sekolah bisa dialihkan pada simulasi yang lain seperti praktik proses memandikan dan mengafani jenazah, praktik haji dan umrah, praktik ibadah seperti salat, praktik bersuci seperti tayamum dan wudu].
KH. MUSTOFA BISRI’S HUMANISTIC HERMENEUTICS OF HADITH AS A RESPONSE TO NEO-REVIVALIST ISLAM Muluk, Muchamad Saiful; Nikmah, Shofiatun
RIWAYAH Vol 10, No 1 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i1.23673

Abstract

The neo-revivalist Islamic group had a rigid religious attitude, takfiri and a truth claim attitude. This attitude was born because it started from reading the hadith which was ahistorical and partial. Thus, it produced an understanding that causes more harm to humanity than its mashlahah. Oftentimes, the purpose of law was lost and the meaning was distorted. This study focused on the hadith reading method used by KH. Mustofa Bisri especially in responding to the neo-revivalist Islamic way of religion. This research focuses on the method of reading hadith in the book of Arbain al-Nawawi used by KH. Mustofa Bisri, especially in responding to the neo-revivalist way of Islam. The results showed that 1) KH Mustofa Bisri used the figure of the Prophet’s humanism as a paradigm for reading the hadith, where Gus Mus saw the prophet’s personal portrait as a whole human being who was the most humane, and respected fellow human beings; 2) KH Mustofa Bisri applies Schleiermacher’s hermeneutics in positioning the text as well as Gadamer’s hermeneutics in obtaining meanings that prioritize mashlahah values.[Kelompok islam neo-revivalis memiliki sikap keberagamaan yang kaku, rigid, takfiri dan sikap truth claim. Sikap itu lahir karena bermula dari pembacaan hadis yang ahistoris dan parsial. Sehingga menghasilkan pemhaman yang menimbulkan banyak madharat bagi kemanusiaan dibanding mashlahat-nya. Seringkali tujuan hukum menjadi hilang dan makna pun terdistorsi. Penelitian ini berfokus pada metode pembacaan hadis dalam kitab Arbain al-Nawawi yang digunakan oleh KH. Mustofa Bisri, khususnya dalam merespon cara beragama kelompok Islam neorevovalis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) KH. Mustofa Bisri menggunakan sosok humanisme Nabi sebagai paradigma pembacaannya terhadap hadis, dimana Gus Mus melihat potret pribadi nabi sebagai manusia secara utuh yang paling manusiawi, dan menghormati sesama manusia; 2)  KH. Mustofa Bisri mengaplikasikan hermeneutika Schleiermacher dalam memposisikan teks sekaligus hermeneutika Gadamer dalam mendapatkan makna yang mengedepankan nilai-nilai maslahah.]