cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 218 Documents
HADIS QATL AL-MURTAD WA MAWAQIF AL-ULAMA' MINHU Jannah, Shofiatul
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.11520

Abstract

The Hadith of Killing Apostates and The Attitude of Scholars Toward it. This study discusses the hadith "Whoever leaves religion, kill him". The punishment for apostates mentioned in this hadith is the main basis among scholars in taking legal istinbath for apostates. Literally, this hadith commands the killing of apostates. This means that if a person who is Muslim leaves his religion, the punishment for him in this world is to be killed. Therefore, the issue of leaving religion is a problem that causes controversy among Islamic scholars. Some of them see that hadith is contrary to the meaning of the al-Qur'an, the Sunnah of the Prophet, and is contrary to freedom of religion. Therefore, the issue of apostasy is considered as one of the topics that raises complex problems and requires deep thought. This study aims to determine the attitude of scholars towards this hadith This study uses a descriptive analytical method by collecting information related to this hadith as well as collecting data about scholars’ attitudes on this hadith, then uses appropriate analysis tools. The results of this study are: The classical scholars agreed that anyone who apostatized from Islam without coercion should be killed, but they differed in opinion about repentance and its duration. They have different opinions about apostate women. However, contemporary scholars present several opinions, trying to provide a new understanding of this hadith. This hadith cannot be a general rule that applies to all situations and conditions.[Hadis Membunuh Orang Murtad dan Sikap Ulama terhadapnya. Kajian ini membahas hadis “Barang siapa keluar dari agama maka bunuhlah dia”. Hukuman bagi orang murtad yang disebutkan dalam hadis ini menjadi dasar utama dikalangan ulama dalam mengambil istimbath hukum bagi orang murtad. Secara harfiah, hadis ini memerintahkan membunuh orang murtad. Artinya jika seseorang yang beragama Islam meninggalkan agamanya maka hukuman kepadanya di dunia adalah bunuh. Oleh Karena itu, masalah keluar dari agama merupakan sebuah masalah yang meninmbulkan kontroversi di kalangan ulama Islam. Beberapa diantara mereka melihat bahwa hadis ini bertentangan dengan makna dhahir al-Qur’an, Sunnah Nabi, dan bertentangan dengan kebebasan beragama. Oleh karena itu, isu kemurtadan dianggap sebagai salah satu topik yang menimbulkan masalah yang komplek dan membutuhkan pemikiran yang mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuisikap ulama terhadap hadis ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan mengumpulkan informasi-informasi yang berkaitan dengan hadis ini dan mengumpulkan data tentang sikap ulama terhadap hadis ini, kemudian menggunakan alat analisis yang sesuai. Adapun hasil penelitian ini yaitu para ulama klasik sepakat bahwa siapa pun yang murtad dari Islam tanpa paksaan harus dibunuh, tetapi mereka berbeda pendapat tentang taubat dan durasinya.Dan mereka juga berbeda pendapat tentang wanita yang murtad. Akan tetapi, ulama kontemporer menyampaikan beberapa pendapat, dan mencoba memberikan pemahaman baru tentang hadis ini. Bahwa hadis ini tidak bisa menjadi patokan umum yang berlaku untuk semua situasi dan kondisi.]
THE DYNAMICS OF SHAHIH AL-BUKHARI COMMENTARIES WITHIN THE OTTOMAN ACADEMIC LIFE Amiruddin, Muh
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.15276

Abstract

The Ottoman Empire was one of the centers of Islamic power for nearly seven centuries. A very long time in power and covering a vast territory made the Ottoman the center of Islamic civilization for a very long time. The education, culture, and civilization of the Ottoman were built on the madrasa system established from the time of the Seljuks and the scientific knowledge that was widespread in Anatolia through the madrasas. This madrasa system had previously been found in Egypt and Damascus. The development of education is also related to the development of hadith studies in the Ottoman, especially the study of Sahih al-Bukhari. This study aims to determine the development of the study of Sahih al-Bukhari in the Ottoman period. This study using literary research showed that the first Commentary written on Sahih al-Bukhari in the Ottoman was a work called al-Kawsar al-Jari written by Molla Gurani in the fifteenth century. In addition, a total of six commentaries were written, one in the late fifteenth century and the other in the sixteenth century. In the seventeenth century, many hadith scholars from Islamic scientific centers began to come to Istanbul, especially after Egypt entered the rule of the Ottoman Turks. In the eighteenth and nineteenth centuries, seven studies were carried out on Sahih al-Bukhari. Especially the study of special qualities in the nineteenth century which is pleasing in terms of the science of hadith. The most important indicator is the study of the methodology and commentary of hadith which appears together with the educational activities of scholars who have a high level of accumulation of hadith.[Dinamika Pensyarahan Shahih al-Bukhari dalam Dunia Akademik Turki Usmani. Turki Usmani adalah salah satu pusat kekuasan Islam selama hampir tujuh abad. Waktu berkuasa yang sangat lama dan meliputi cakupan wilayah kekuasaan yang luas membuat Turki Usmani menjadi pusat peradaban Islam dalam masa yang sangat lama. Pendidikan, budaya, dan peradaban Utsmaniyah dibangun di atas sistem madrasah yang didirikan oleh Seljuk dan pengetahuan ilmiah yang tersebar luas di Anatolia melalui madrasah. Sistem madrasah ini sebelumnya telah banyak ditemukan di Mesir dan Damaskus. Perkembangan pendidikan tersebut juga berkaitan dengan perkembangan studi hadis di Turki Usmani, khususnya studi atas Shahih al-Bukhari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan studi terhadap Shahih al-Bukhari di Turki Usmani. Studi dengan metode kepustakaan ini menunjukkan bahwa komentar pertama yang ditulis tentang Shahih al-Bukhari di Ottoman adalah karya bernama al-Kawsar al-Jari yang ditulis oleh Molla Gurani pada abad kelima belas. Selain itu, sebanyak enam komentar telah ditulis, satu pada akhir abad kelima belas dan yang lainnya pada abad keenam belas. Pada abad ketujuh belas, banyak ulama hadis dari pusat-pusat keilmuan Islam mulai berdatangan ke Istanbul, terutama setelah Mesir masuk dalam kekuasaan Turki Usmani.  Pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas, tujuh studi dilakukan pada Shahih al-Bukhari. Khususnya studi kualitas khusus pada abad kesembilan belas yang menyenangkan dalam hal ilmu hadits. Indikator terpentingnya adalah kajian metodologi dan syarah hadis  yang muncul bersamaan dengan aktivitas pendidikan ulama yang memiliki tingkat akumulasi hadis yang tinggi.]
SOCIAL INTERACTION OF THE SUMBEREJO NGASEM KEDIRI COMMUNITY IN DEALING WITH PEOPLE AFFECTED BY COVID-19 AS A FORM OF LIVING HADITH SILATURAHIM Kinanthi, Shela Yudha; Dodi, Limas
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.11797

Abstract

Indonesia is a country that is famous for its hospitality, both to people residing in the country as well as to foreign people from various countries. A small example here is to our fellow neighbors –people who are almost every day always encountered –whose homes are close to ours. When a neighbor passes by our house, we will automatically –or even their own –say hello. It is also becoming more common in communities that primarily reside in rural areas. When in difficult circumstances or when hit by disasters – such as a house fire, relatives with death, or even affected by Covid-19 – automatically we – humans known as social beings – will help willingly. From here human being indirectly build a relationship with each other. However, with the existence of Covid-19 that doesn't subsided from the beginning of 2020 – when it first entered Indonesia – until now, people are busy guarding themselves to prevent them from contracting Covid-19. People were faced with two tough choices, namely helping those affected by Covid-19 or better avoiding and maintaining distance so as not to be affected. However, because humans have basic characteristics as social beings as well as Indonesian society which is famous for their attitude of hospitality, the community – especially in Sumberejo Village, Ngasem District, Kediri Regency – still help each other even in the Covid-19 situation.[Interaksi Sosial Masyarakat Sumberejo Ngasem Kediri dalam Menghadapi Orang yang Terdampak Covid-19 sebagai Bentuk Living Hadith Silaturahim. Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keramah-tamahannya, baik kepada masyarakat yang bertempat tinggal di negara itu sendiri, maupun kepada masyarakat asing dari berbagai negara. Sebagai contoh kecil di sini adalah kepada sesama tetangga –orang-orang yang hampir setiap hari selalu dijumpai –yang rumahnya berdekatan dengan kita. Ketika seorang tetangga melewati rumah kita, maka kita secara otomatis  –atau bahkan mereka sendiri –akan menyapa. Hal ini juga menjadi lebih umum di masyarakat yang khususnya bertempat tinggal di pedesaan. Ketika dalam keadaan susah ataupun ketika tertimpa musibah –seperti rumah kebakaran, kerabat dengan meninggal dunia, atau bahkan terdampak Covid-19 –secara otomatis kita –manusia yang dikenal sebagai makhluk sosial –akan membantu dengan sukarela. Dari sinilah secara tidak langsung manusia membangun silaturahmi satu sama lain. Namun, dengan adanya Covid-19 yang tak kunjung mereda dari awal tahun 2020 –ketika pertama kali masuk di Indonesia –hingga sekarang, masyarakat sibuk menjaga diri untuk mencegah agar tidak tertular Covid-19. Masyarakat seperti dihadapkan dua pilihan berat, yakni membantu mereka yang terdampak Covid-19 atau lebih baik menghindari serta menjaga jarak agar tidak ikut terdampak. Namun, dikarenakan manusia yang memiliki sifat dasar sebagai makhluk sosial sekaligus sebagai masyarakat Indonesia yang terkenal dengan sikap keramah-tamahannya, masyarakat –khususnya di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri –tetap saling membantu satu sama lain di dalam situasi Covid-19 sekalipun.]
ANALYSIS OF HADITH UNDERSTANDING OF SOCIAL MEDIA PHENOMENA AS A COMMUNICATION TOOL IN THE DIGITAL ERA Daffa, Muhammad
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.11209

Abstract

Social interaction is not only done face to face communication but also social interaction can be done online through the sophistication of information technology called social media. The development of social media is becoming a necessity in the 21st century. This research aims to analyze hadith understanding of social media phenomena as a communication tool in the digital era. The formulation of this research problem is how to understand hadith to the phenomenon of social media as a communication tool in the digital era. This study aims to discuss the analysis of hadith understanding of the phenomenon of social media as a means of communication in the digital era. This research is a literature study that focuses research on social media. This research study uses a qualitative approach by applying literature study methods. The formal object of this research is the science of hadith, while the material object is hadith against the phenomenon of social media as a means of communication in the digital era. The results showed that Tirmidhi Hadith Number 2432 contains the importance of good social interaction. Understanding hadith encourages good interaction with social media phenomena. As a means of communication in the digital age, social media has a good and bad influence on social change. This study recommends more in-depth hadith research into the phenomenon of social media.[Analisis Pemahaman Hadis Terhadap Fenomena Sosial Media sebagai Alat Komunikasi di Era Digital. Interaksi sosial tidak hanya dilakukan secara face to face communication, tapi juga interaksi sosial dapat dilakukan secara online melalui kecanggihan teknologi informasi yang disebut sosial media. Perkembangan penggunaan sosial media menjadi sebuah kebutuhan di abad ke-21. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis pemahaman hadis terhadap fenomena sosial media sebagai alat komunikasi di era digital. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana pemahaman hadis terhadap fenomena sosial media sebagai alat komunikasi di era digital. Kajian ini bertujuan untuk membahas analisis pemahaman hadis terhadap fenomena sosial media sebagai alat komunikasi di era digital. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang memfokuskan penelitian terhadap sosial media. Kajian penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode studi literatur. Objek formal penelitian ini adalah ilmu hadis, sedangkan objek materialnya hadis terhadap fenomena sosial media sebagai alat komunikasi di era digital. Hasil penelitian menunjukkan hadis Tirmidzi Nomor 2432 berisi tentang pentingnya interaksi sosial yang baik. Pemahaman hadis mendorong adanya interaksi yang baik terhadap fenomena sosial media. Sebagai alat komunikasi di era digital, media sosial memiliki pengaruh yang baik dan buruk terhadap perubahan sosial. Penelitian ini merekomendasikan penelitian hadis yang lebih mendalam terhadap fenomena media sosial.]
AL-HADIS BAYNA AL-TAJDID (DIRASAH TAHLILIYYAH HAWLA MAKANAH AL-SUNNAH 'INDA MUHAMMAD RASYID RIDHA) Hanapi, Abdullah
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.14952

Abstract

Hadith between Renewal (An Analytical Study on the Status of the Sunnah According to Muhammad Rashid Rida). The hadith studies (read: sunnah), its position and history requires  research from ‘ulama, muhaddisun, ushuli because its considered tohave “historical problems” as questioned by orientalis scholars, not without reason for the historicity of the sunna, its invitation of many scholars to research the “historical traces” about tadwin al-ahadis (read: codification) in the late second and early third centuries hijriyah with this related historiography which recorded quite “uniquely” in theses of “chronology and theorization”.  But long after so "silence" in "rewriting" or "re-explanation" and its peak consedered came to "final" what everithing from the past (read: turats), and after modernism seemed to be clashed by “Islamic reformism”with "tajdid" as stated by Muhammad Rashid Rida. This paper will trace his thoughts, and find out his dilectic (read: Rida) about the hadith which’s said that definitively so different, is that right? Of course, this research makes notes (al-Nuqtat) about this. Although the “historical” method in reading sunnah of the early period, was not clearly raised by Rida, but his thoroughness in history made it difficult to accept riwayat (read: be careful), of course with this "historical" method and approach to parse some of the results of   hadith discussion in "tajdid’" context which carried by Rida as a Reformist figure (read: reformer).[Hadits antara Pembaruan (Studi Analitis tentang Status Sunnah menurut Muhammad Rashid Ridha). Studi hadis (baca: sunnah), kedudukan dan historis-nya membutuhkan penelitian ilmiah dari para ilmuan, ahli hadis, ushuli karena dianggap masih menyimpan “persoalan sejarah” sebagaimana dipertanyakan sarjanawan Barat (baca: orientalis), bukan tanpa alasan aspek historisitas sunah, mengundang banyak penelitian para sarjanawan untuk meneropong jejak sejarah tadwin al-ahadis (baca: kodifikasi) di akhir abad ke-dua dan awal abad ke-tiga H dengan historiografi terkait ini yang terekam cukup khas dalam tesis-tesis kronologisasi, dan teorisasi. Namun jauh setelahnya “senyap” dalam tradisi “penulisan ulang” atau “penjelasan kembali” serta puncaknya muncul klaim “final” terhadap apa yang datang dari masa lalu (baca: turats), dan setelah gaung modernisme seolah dibenturkan oleh reformisme Islam melalui “tajdid” sebagaimana disampaikan Muhammad Rasyid Ridha. Tulisan ini akan melacak pemikirannya, dan identifikasi dilektika (baca: Ridha) seputar “hadis” yang dikatakan secara definitif historis memiliki perbedaan, benarkah demikian ?, tentu penelusuran ini membuat catatan-catatan (al-Nuqtat) seputar ini. Meskipun metode historis dalam membaca sunnah periode awal tidak secara jelas dimunculkan oleh Ridha, namun ketelitiannya terhadap riwayat menjadi tidak mudah untuk menerima periwayatan (baca: hati-hati), pembacaan keseluruhan terkait ini tentu dengan metode dan pendekatan “sejarah” untuk mengurai beberapa hasil pembahasan tentang kedudukan hadis, dalam konteks “tajdid” yang diusung Ridha sebagai tokoh Reformis (baca: pembaharu).]
PEOPLES’ HADITH IN DATING HADITH DISCUSSION: Reviewing Another Way to Track the Initial Tradition Muna, Moh. Nailul
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.11572

Abstract

This study aims to explain and assess the Peoples' Hadith as part of a historical approach that can be used in Dating Hadith. The criticism of the inauthenticity of the hadith has been widely discussed by skeptical orientalists. The most basic reason for this doubt is that there are no written hadith documents in the era of the Prophet that can be known in the present era. The method they use is the dating of hadith; a method that seeks to find out the source of the earliest hadith documents by determining their age and origin. So far, the dating efforts made by Motzky and Nabia Abbott ended in the 2nd century AH. The difference of a century makes this effort still not sufficient to provide an absolute refutation of orientalist skepticism. Based on the descriptive-analytical method, the author finds that People's Hadith has a novelty in terms of viewpoint in the form of the need to look at document sources in the 1st century AH. through communities outside of Muslims, especially the Bedouin. Due to the widening of the scope of this historical search, the implication that will arise is the discovery of prophetic documents that will be obtained by historians or Islamic scholars with sources that come from the Prophet’s Era in the 7th century AH.[Ahli Hadis dalam Diskursus Penanggalan Hadis: Meninjau Cara Lain untuk Melacak Tradisi Awal. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menilai Peoples’ Hadith sebagai bagian dari pendekatan sejarah yang dapat digunakan dalam Dating Hadith. Kritik terhadap ketidak-otentikan hadis telah banyak didiskusikan oleh skeptical orientalists. Alasan yang paling mendasar dari keraguan tersebut sebab tidak adanya dokumen hadis tertulis di era Nabi yang bisa diketahui di era sekarang. Metode yang mereka gunakan yakni dating hadith; sebuah metode yang berupaya mencari tahu sumber dokumen hadis paling awal dengan penentuan umur dan asal-muasalnya. Sejauh ini, upaya dating yang dilakukan oleh Motzky dan Nabia Abbott berakhir pada abad ke 2 H. Adanya selisih satu abad menjadikan usaha tersebut masih tidak cukup untuk memberikan sanggahan penolakan yang mutlak atas keskeptisan orientalis. Berdasarkan metode deskriptif-analitis, penulis menemukan bahwa Poeples’ Hadith memiliki kebaharuan dari segi viewpoint berupa perlunya memandang sumber dokumen abad ke 1 H. melalui komunitas-komunitas yang berada di luar muslim, terutama kepada suku Badui. Oleh karena melebarnya ruang lingkup penelusuran sejarah ini, implikasi yang akan muncul yakni adanya penemuan-penemuan dokumen nabi yang akan didapatkan oleh para ahli sejarah atau pengkaji islam dengan sumber yang memang berasal dari Nabi pada abad ke-7 H.]
THE METHOD OF SHAYKH NAWAWI AL-BANTENI IN HADITH COMMENTARIES OF TANQIH AL-QAUL Kirin, Arwansyah bin; Masruri, Muhammad
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.15460

Abstract

Shaykh Nawawi al-Banteni is an Islamic scholar who produces various famous works in the archipelago, especially in Indonesia. Among his famous works is the book Tanqih al-Qaul is one of the interpretes or reviews from the book Lubab al-Hadith by Jalal al-Din al-Suyuti.This book became a reference in some Indonesian Boarding Schools. In addition, it is also used as a book study material in certain mosques. However, in-depth study of the method of hadith interpretes in the book is rarely observed by users of the book. Therefore, it is important to explain the method of hadith interpretes found in this book so that its status can be known as well as to measure the extent of its knowledge in the hadith. This study aims to explore the method of hadith interpretes conducted by Shaykh Nawawi al-Bantani in the book Tanqih al-Qaul. The purpose of this study is to determine and analyze the method of hadith interprete used by Shaykh Nawawi al-Banteni and reveal the extent of his knowledge and status as a scholar of hadith through the book Tanqih al-Qaul. The methodology of this study is qualitative through library methods and content analysis design of Tanqih al-Qaul book. This study found that in general the method used by Shaykh Nawawi al-Banteni in interpreting hadith is by using the method of Ijmali. In its application, he uses textual interpretation techniques through the method of interpreting hadith according to the original material or text of hadith, and intertextual through the method of reciting hadith with hadith. This study found that Shaykh Nawawi al-Banteni had good ability and knowledge in hadith. Apart from that, it can also provide an understanding to the community about the method of hadith interprete performed by Shaykh Nawawi al-Banteni in his book Tanqih al-Qaul.[Manhaj Shaykh Nawawi al-Banteni dalam Mensyarahkan Hadith-Hadith Kitab Tanqih Al-Qaul. Shaykh Nawawi al-Banteni merupakan seorang cendekiawan Islam yang menghasilkan pelbagai karya yang masyhur di Nusantara khususnya Indonesia. Di antara karya beliau yang terkenal itu adalah kitab Tanqih al-Qaul merupakan salah satu syarah atau ulasan dari kitab Tanqih al-Qaul syarahan dari kitab Lubab al-Hadith karangan Jalal al-Din al-Suyuti. Kitab   ini  menjadi   referensi di beberapa pondok pesantren Indonesia, selain itu dia juga dijadikan sebagai bahan kajian kitab di masjid-masjid tertentu. Namun,  kajian mendalam tentang manhaj syarahan hadith dalam kitab tersebut jarang diperhatikan oleh pengguna kitab. Oleh kerana itu penting untuk menjelaskan manhaj syarahan hadith yang terdapat dalam kitab ini agar dapat dikenali statusnya sekaligus untuk mengukur sejauh mana pengetahuannya dalam ilmu hadis. Kajian ini berhasrat mengeksplorasi manhaj syarahan hadis yang dilakukan Shaykh Nawawi al-Banteni dalam kitab Tanqih al-Qaul. Tujuan kajian ini adalah untuk menentukan dan menganalisis manhaj syarahan hadis yang digunakan oleh Shaykh Nawawi al-Banteni dan mengungkap sejauh mana pengetahuan dan statusnya sebagai sarjana hadith melalui kitab Tanqih al-Qaul. Metodologi kajian ini adalah kualitatif melalui kaedah kepustakaan dan reka bentuk analisis kandungan kitab Tanqih al-Qaul. Kajian ini mendapati bahawa secara umum manhaj yang digunakan oleh Shaykh Nawawi al-Banteni dalam mensyarah hadith adalah dengan menggunakan metode Ijmali. Dalam pengaplikasiannya beliau menggunakan teknik Interpretasi Tekstual melalui satu kaedah iaitu mensyarah hadith mengikut matan atau teks asal hadis, dan Interpretasi Intertekstual melalui satu kaedah juga yaitu mensyarahkan hadis dengan hadis. Kajian ini menemukan bahwa Shaykh Nawawi al-Banteni memiliki kemampuan dan pengetahuan yang baik dalam ilmu hadis. Selain itu dia juga dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang manhaj syarahan hadith yang dilakukan oleh Shaykh Nawawi al-Banteni dalam kitabnya Nasa’ih al-‘Ibad.]
THE KNOWLEDGE MANAGEMENT IN HADITH CODIFICATION Erika, Erika; Mujiburrahman, Mujiburrahman
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.13675

Abstract

Hadith codification has been carried out since the Prophet Muhammad era and was systematically documented in the 3rd century Hijri. During this period, the hadith codification went through a complicated process. The clerics who wrote hadith books had a standard in collecting, processing, and disseminating hadith. It has similarities with current knowledge management process theory, i.e., create, capture, classify, store, share, and apply. This study examines the knowledge management of hadith codification using the SECI model by Nonaka & Takeuchi. SECI contains four stages, there are Socialization, Externalization, Combination, and Internalization. The authors classify the process of hadith codification into the SECI model. In socialization, it will describe the process of hadith transfer from the Prophet Muhammad to his companions. The externalization stage explains the efforts of the companions to make the hadith into an explicit form. Afterward, the hadith codification process in the 3rd century Hijri is described at the combination stage. The last is internalization which explains the implementation and recreation of hadith into a new form of documentation. The method used is descriptive. Data were collected using historical-comparative research methods from the documents as the main sources and interviews as additional sources. The results of this study are rigorous methods used in the hadith codification in the context of knowledge management. Other findings are the values of the hadith codification process that can be applied in an organization.[Manajemen Pengetahuan dalam Kodifikasi Hadis. Kodifikasi hadis telah dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad dan didokumentasikan secara sistematis pada abad ke-3 Hijriah. Selama periode ini, kodifikasi hadis melalui proses yang rumit. Para ulama yang menulis kitab hadis memiliki standar dalam mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan hadis. Ini memiliki kesamaan dengan teori proses manajemen pengetahuan saat ini, yaitu membuat, menangkap, mengklasifikasikan, menyimpan, berbagi, dan menerapkan. Penelitian ini mengkaji tentang manajemen pengetahuan kodifikasi hadits menggunakan model SECI oleh Nonaka & Takeuchi. SECI terdiri dari empat tahap, yaitu Sosialisasi, Eksternalisasi, Kombinasi, dan Internalisasi. Penulis mengklasifikasikan proses kodifikasi hadits ke dalam model SECI. Dalam sosialisasi ini akan dijelaskan proses transfer hadits dari Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya. Tahap eksternalisasi menjelaskan upaya para sahabat untuk menjadikan hadits dalam bentuk eksplisit. Selanjutnya, proses kodifikasi hadits pada abad ke-3 Hijriah digambarkan pada tahap kombinasi. Terakhir adalah internalisasi yang menjelaskan implementasi dan rekreasi hadis ke dalam bentuk dokumentasi baru. Metode yang digunakan adalah deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode penelitian sejarah-komparatif dari dokumen sebagai sumber utama dan wawancara sebagai sumber tambahan. Hasil penelitian ini adalah metode ketat yang digunakan dalam kodifikasi hadits dalam konteks manajemen pengetahuan. Temuan lainnya adalah nilai-nilai proses kodifikasi hadis yang dapat diterapkan dalam sebuah organisasi.]
HADITH AND PROPHET MUHAMMAD AUTHORITY: Understanding of Jonathan A.C. Brown Nafisah, Lailiyatun
RIWAYAH Vol 8, No 1 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i1.13414

Abstract

Hadith is frequently the subject of research by Muslim academics and Westerners. Both Muslim academics and orientalists have debated the legitimacy of the hadith for a long time. Jonathan AC Brown is a western Muslim scholar who contributes to rationally explaining the study of hadith so that it is easily accepted by beginners; his work demonstrates his commitment to the study of Islamic studies. This study follows a library research approach in which Jonathan Brown's book "Hadith: Muhammad's Legacy in the Medieval and Modern World" is utilized as the primary reference source, which is then supplemented with scholarly publications and journals on Jonathan Brown. The author used the descriptive analysis technique. According to the findings of this study, a hadith is a report about the Prophet consisting of the main text that describes his words or actions, the way of transmission (isnad) that serves to convey, and finally the giver. The authority of Muhammad is that of a Prophet who functions as a teacher, leader, and role model, as well as someone who has knowledge of the future. However, because the Prophet was an ordinary person, he did not have full authority in some matters.[Hadis dan Otoritas Nabi Muhammad: Pemahaman Jonathan A.C. Brown. Hadis sering menjadi bahan kajian yang tidak hanya dilakukan oleh sarjana muslim, namun juga barat. Berbagai pro dan kontra akan keaslian hadis telah lama berkembang, baik sarjana muslim maupun orientalis. Jonathan A.C Brown, merupakan sarjana muslim barat yang berkontribusi dalam menjelaskan kajian hadis secara rasional sehingga mudah diterima kaum pemula, karya yang dihasilkannya merupakan bukti keseriusan dalam kajian studies islamic.  Penelitian ini merupakan model penelitian kepustakaan (library reseach) dimana, buku “Hadith: Muhammad’s legacy in the medieval and modern world” Brown dijadikan sebagai sumber rujukan utama, kemudian didukung oleh karya ilmiah dan jurnal yang berkaitan dengan Jonathan Brown. Penulis menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hadis adalah adalah laporan tentang Nabi, yang terdiri dari teks utama untuk menjelaskan kata- kata atau tindakannya, rantai transmisi (isnad) yang berufngsi untuk mengkomunikasikan, kemudian penyampai. Otoritas Muhammad merupakan seorang Nabi yang memiliki peran sebagai guru, panutan, dan teladan, dan seseorang yang mampu memiliki akses mengetahui masa depan. Akan tetapi Nabi adalah seorang manusia biasa sehingga tidak secara keseluruhan menjadi otoritatif dalam beberapa hal.]
LIVING HADITH IN THE PERSPECTIVE OF THE HAQ NAQSHBANDI SUFI ORDER Gitosaroso, Muh.; Athoillah, Mohamad Anton; Mukhtar, Naqiyah; Shobirin, Shobirin
RIWAYAH Vol 8, No 2 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i2.12099

Abstract

This study aims to determine the implementation of hadith contents in the tariqa world. The command of the hadith in question is the command of dhikr. Therefore, this article discusses the practice of dhikr orders in hadith, based on the views of the Haq Naqsyabandi Order. This congregation was founded by Maulana Sheikh Tuan Guru Haji Abdussomad Al-Haqqi Habibullah in Lombok, West Nusa Tenggara, in 1986. Its followers have various backgrounds and have spread throughout the archipelago, even in foreign countries. To examine in more depth about this issue, researchers used qualitative methods and phenomenological descriptive research approaches. The data sources in this study are sourced from two things: primary sources (Murshid, Badal Murshid, Foundation Management, College Management, and active congregations) and secondary sources (relevant previous literature studies). The data collection technique in this study is the PAR (Participation Action Research) technique. At the same time, the data analysis technique used the takhrij al-ḥadīth analysis technique followed by sharh al-hadith. This article finds that many scholars recognize the command to dhikr to make Muslims generally remember Allah. However, the scholars still have their respective views on the practice of the command of dhikr from the perspective of hadith, giving rise to many kinds of implementation. Likewise, with the Haq Naqsyabandi Order, the dhikr’s obligation starts from the congregation taking allegiance (tawajjuh) with stages determined and decided by the murshid of the tariqa.[Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang bagaimana implementasi makna hadits dalam dunia tarekat. Perintah hadits yang dimaksud adalah perintah dzikir. Oleh karena itu, artikel ini membahas tentang pengamalan perintah dzikir dalam hadits, berdasarkan pandangan Tarekat Haq Naqsyabandi. Tarekat ini adalah sebuah tarekat yang didirikan oleh Maulana Syeikh Tuan Guru Haji Abdussomad Al-Haqqi Habibullah di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada tahun 1986. Para pengikutnya terdiri dari berbagai kalangan, dan telah menyebar ke seluruh nusantara, bahkan di manca negara. Untuk mengkaji secara lebih mendalam mengenai persoalan ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dan pendekatan penelitian deskriptif fenomenologis. Sumber data dalam kajian ini bersumber pada dua hal yaitu sumber primer (Mursyid, Badal Mursyid, Pengurus Yayasan, Pengurus Perguruan, dan jamaah aktif) dan sumber sekunder (kajian kepustakaan terdahulu yang terkait). Teknik pengumpulan data dalam kajian ini melalui teknik PAR (Partisipation Action Riseach). Sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik analisis takhrīj al-ḥadīth yang dilanjutkan dengan sharḥ al-ḥadīth. Artikel ini menemukan bahwa perintah untuk berdzikir diakui oleh banyak ulama sebagai upaya agar umat Islam secara umum dapat mengingat Allah. Namun, para ulama masih memiliki pandangan masing-masing dalam pengamalan perintah dzikir perspektif hadis sehingga menimbulkan banyak macam pelaksanaannya. Demikian juga dengan Tarekat Haq Naqsyabandi, bahwa kewajiban dzikir dimulai dari sejak jamaah berbai’at (ditawajjuh) dengan tahapan yang telah ditentukan dan diputuskan oleh mursyid tarekat.]