cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 200 Documents
KONTRIBUSI AHMAD LUTFI FATHULLAH DALAM KAJIAN HADIS INDONESIA MELALUI APLIKASI PERPUSTAKAAN ISLAM DIGITAL Hidayat, Muhammad Syarif; Farizal Alam, Zulham Qudsi
RIWAYAH Vol 5, No 2 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i2.6145

Abstract

Penelitian ini membahas tentang kontribusi Dr.Ahmad Lutfi Fathullah terhadap perkembangan kajian hadis diindonesia dengan fokus kepada kajian hadis yang beliau kembangkan dalam dunia digital, khususnya perpustakaan Islam digital. Sumber utama adalah karya Dr. Ahmad Lutfi Fathullah yang beliau buat dalam bentuk digital, yaitu perpustakaan Islam digital. Peneliti menggunakan teknik observasi dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian ini adalah Dr. Ahmad Lutfi Fathullah adalah tokoh yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan ilmu hadis diIndonesia. Karya-karya beliau yang unik, menarik dan berbeda dengan masa-masa sebelumnya menjadi daya tarik tersendiri di era digital sekarang ini. Itu karena Dr. Ahmad Lutfi Fathullah mengembangkan ilmu hadis dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana untuk mempermudah orang lain mempelajari hadis yaitu dengan membuat aplikasi-aplikasi komputer dan juga smartphone.
MENINGKATKAN NILAI RELIGIUSITAS JAMA’AH MASJID MELALUI PEMAHAMAN KITAB HADIS: Kajian Kitab Syarah Hadis “Al-Wafy” pada Jama’ah Masjid Sumberjati Karangbener Nurudin, Muhamad
RIWAYAH Vol 5, No 1 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i1.5126

Abstract

Kajian Syarah al-Wafi di Karangbener yang dipusatkan di masjid Sumberjati dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekitar terhadap hadis Nabi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan menggali data secara mendalam guna menjawab permasalahan yang ada. DilIhat dari bentuknya adalah termasuk penelitian lapangan (field research), karena dalam mencari data terfokus pada nilai religiositas masyarakat Karangbener,  tepatnya pada jamaah masjid Sumberjati, dukuh Ngelo, Desa Karangbener. Hasilnya, Nilai religiositas dalam sebuah teks dapat terimplementasikan pada kehidupan konkret (konteks) manakala dipahami secara tepat sesuai dengan perkembangan zaman (kontekstual).
Peran dan Kontribusi Nashiruddin Al-Albani (W.1998) dalam Perkembangan Ilmu Hadis
RIWAYAH Vol 1, No 1 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i1.1224

Abstract

In the thought of contemporary hadith, Muhammad Nashiruddin al Albani is one of hadith ulama who is respected and considered for his credibility, capability and thoroughness in the field of hadith. The majority of hadith books used by muslim community today is the result of albani’s takhrij, tahqiq and ta’liq. However, albani is also led to criticism over his inconsistency to judge hadith in the works of classical ulama such as bukhari, muslim, and other four sunan books.
TARJIH HADIS: STUDI KASUS TERHADAP PESANTRENVIRTUAL.COM Nurrohim, Ahmad; Arungga Sweta, Andri; Yudha Pratama, Kukuh; Romadhona, Azizah; Khanifah Zahroh, Nuur; Tamami, Riza; Sya`banurrahman, Rifqi
RIWAYAH Vol 5, No 2 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i2.6400

Abstract

Moderasi islam menjadi penting dalam menyuguhkan Islam damai di tengah arus radikalis. Tindakan Muslim, yang berbasis pada struktur kepribadian, selalu memiliki justifikasi dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis. Pemahaman terhadap Al-Hadis berperan penting dalam pembentukan cakrawala tindakan Muslim, sehingga di sini teks terlihat tidak lebih esensial dari pemahaman teks itu sendiri. Meneliti website pesantrenvirtual.com, yang menisbatkan diri sebagai forum belajar islam damai, menjadi penting dalam rangka menemukan pola pemahaman moderat dalam praktek Muslim. Tulisan ini hendak menggali bentuk tarjih hadis dalam website pesantrenvirtual.com. Penelitian itu berjenis kualitatif dengan pendekatan hermeneutik. Data penelitian yang terdokumentasi dianalisa dengan metode analisa isi. Hasil penelitian ini adalah bentuk tarjih fikih dalam website pesantrenvirtual.com adalah tarjih fikih hadis, yang berpola:(a) menguatkan salah satu fikih, (b) menggabung semua fikih; dan (c) menemukan alternatif; sedangkan pemahaman Islam damai adalah pemahaman Islam yang berperspektif keseimbangan temporal dalam menterapi problematika kehidupan.
Kontekstualisasi Hadis Larangan Menggambar Dengan Desain Grafis
RIWAYAH Vol 4, No 1 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v4i1.2843

Abstract

Di era kini, desain grafis merupakan disiplin ilmu yang populer dan sangat dibutuhkan dalam berbagai hal. Banyak orang yang mempelajari ilmu ini baik melalui sekolah, kursus, atau bahkan otodidak. Dewasa ini, desain grafis identik dengan menggambar menggunakan software-software dalam media elektronik. Kegiatan ini tentunya tak lepas dari kegiatan menggambar, tak terkecuali menggambar makhluk bernyawa.  Dalam Islam, terdapat beberapa hadist yang berisi pelarangan membuat gambar makhluk bernyawa. Mengenai hal ini, para ulama’ memiliki pendapat yang berbeda-beda. Ada yang melarang secara mutlak melarang, dan ada juga yang memperbolehkan. Adanya pelarangan ini menimbulkan keraguan bagi para desainer Muslim yang biasa menggambar makhluk bernyawa. Padahal kebanyakan dari mereka menggantungkan hidupnya pada pekerjaan tersebut. Artikel ini akan mencoba membahas hadist larangan menggambar dengan melakukan kontekstualisasi melalui pendekatan antropologis. Kontekstualisasi ini sangat penting, mengingat terdapat perbedaan kondisi sosial, budaya, politik, dan sistem nilai pada zaman Rasulullah dengan zaman sekarang. Selain itu, adanya perbedaan waktu dan tempat antara Arab dengan wilayah selain Arab melahirkan perbedaan konteks, sehingga perlu diadakan pemahaman secara kontekstual.  Jika melihat kondisi pada masa Nabi, masyarakat Arab masih berada dalam masa transisi dari kepercayaan animisme dan politeisme menuju kepercayaan monoteisme, sehingga larangan menggambar sangat masuk akal. Kemungkinan hal tersebut bertujuan untuk menjauhkan masyarakat Arab dari kebiasaan menyembah patung, gambar, dan semacamnya. Dari hal ini dapat diketahui bahwa ‘illat hukum larangan menggambar adalah belum hilangnya kebiasaan menyembah patung dan semacamnya. Pada masa sekarang, masyarakat lebih mengedepankan nilai-nilai estetika dalam memandang karya seni seperti patung dan lukisan. Dengan kata lain, masyarakat sekarang sudah tidak dikhawatirkan lagi untuk terjerumus terhadap penyembahan terhadap patung dan gambar. Oleh karena itu, apabila mengacu pada kaidah al-Hukmu Yaduru Ma’a ‘illatihi wujudan wa ‘adaman, maka hukum menggambar di masa sekarang adalah boleh. Hal ini dikarenakan ‘illat hukum dari larangan menggambar telah hilang. Dengan kata lain, mengingat desain grafis memiliki keserupaan dengan menggambar, maka hukum desain grafis di masa sekarang juga diperbolehkan.
Hermeneutika Rabbaniy ala Hadis Qudsi Riwayat Huzaifah Bin Al-Yaman
RIWAYAH Vol 2, No 2 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i2.3131

Abstract

Understanding the object is the purpose of every person. Understanding objects correctly is the hope of all searchers. In the world of philosophy, an attempt to seek and know the correct information included in the epistemology field. Models of Tafsīr/Hermeneutics and Ta’wīl method are the part of it. In general, the study of epistemology dwell on empirical and rational area. Each description yet incomprehensible and can not be proven in some sense, not worthy of being called a scientific description. In contrast to the above pattern, the Islamic epistemology make a place for the method of extracting information that is difficult touched by means of empirical and rational. M. Abeed al-Jabiri call it the ‘Irfāniy approach. This paper is about to expose one of the most appropriate methods and quick in understanding any kind, including The Qur’ān. This method is excerpted from a Qudsi Hadith told by H}użaifah bin al-Yamān. We call it the Rabbāniy method. This discussion is considered important because of the description of this method is became not listed in the methodology of understanding the object/text (Tafsīr/Hermeneutics), such as popular contemporary ‘Ulūm al-Qur’ān book today. It is feared, this science will eventually be ‘lost’ (not used), which in turn will impact on less precise understanding of researchers ahead on the object, which in the case of the example above is The Qur’ān.
LIVING HADIS PADA TRADISI TAWASUL DAN TABARUK DI MAKAM SUNAN BONANG LASEM REMBANG Huda, Nur
RIWAYAH Vol 6, No 2 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i2.8159

Abstract

Tawasul dan Tabaruk merupakan tradisi yang sudah banyak dipraktekkan oleh masyarakat muslim pada saat berdoa di makam. Kedua tradisi ini juga sering disalahpahami sebagai praktek yang menjerumuskan kepada kemusyrikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap aspek living hadis pada tradisi tawasul dan tabaruk warga Desa Bonang di makam Sunan Bonang dengan menggunakan metode deskriptif induktif, dan menganalisisnya dengan teori tindakan sosial Max Weber. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan. Pertama, tradisi ini merupakan suatu living hadis. Kedua, berdasarkan tipe tindakan tradisional, para pelaku tradisi ingin terus menerus menghormati Sunan Bonang dengan cara melestarikan tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun. Ketiga, tindakan afektif, memperlihatkan bahwa para pelaku memiliki ikatan emosional dengan para tokoh agama dan waktu pelaksanaan (malam Jumat). Keempat, tindakan instrumental rasional, para pelaku secara sadar mampu melaksanakan tradisi tersebut, baik dari aspek sumber daya manusia maupun aspek finansial. Kelima, rasionalitas nilai, pelaku ingin meniru perilaku tokoh-tokoh agama dan membiasakan diri bersedekah sekaligus ingin menanamkan nilai solidaritas jamaah. [Living Hadith on Tawasul and Tabaruk Traditions in Sunan Bonang’s Tomb Lasem Rembang. Tawasul and tabaruk are traditions that have been widely practiced by Muslim communities when praying at the grave. These two traditions are also often misunderstood as practices that lead to idolatry. This study aims to reveal aspects of the living hadith in the tradition of tawasul and tabaruk of the people of Bonang Village in the Sunan Bonang tomb by using the inductive descriptive method, and by analyzing it through Max Weber's theory of social action. This study yielded several findings. First, this tradition is a living hadith. Second, based on the type of traditional action, traditional actors want to continue to respect Sunan Bonang by preserving traditions that have been carried out from generation to generation. Third, affective action shows that peoples have an emotional bond with religious leaders (ulama) and the time of implementation (Thursday night). Fourth, rational instrumental action, where the actors are consciously able to carry out the tradition, both from the human resource and financial aspects. Fifth, value rationality, the people want to imitate the behavior of religious figures and get used to giving alms at the same time wants to instill the value of solidarity among the jama'a.]
Pemahaman Hadis Tentang Memelihara Jenggot dalam Konteks Kekinian
RIWAYAH Vol 3, No 2 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i2.3744

Abstract

Jurnal ini menunjukkan bahwa hadis hendaknya tidak selalu dipahami secara tekstual, namun memperhatikan sosio-historis dan konteks hadis tersebut. Kesimpulan ini menjawab pemahaman hadis tentang salah satu identitas Muslim yang membedakan dengan umat lain, yaitu memelihara jenggot. Pemeliharahaan jenggot dalam konteks kekinian tidaklah menjadi satu-satunya identitas Muslim sebagaimana pada masa awal Islam, jenggot telah menjadi trend fashion yang dilakukan oleh siapapun tanpa melihat ada nilai teologis atau tidak. Beberapa ulama hadis berbeda pendapat dalam memahami hadis memelihara jenggot. Pertama ulama yang memahami hadis tersebut secara tekstual, seperti Nasīr al-Dīn al-Albanī, Abū Muḥammad bin Ḥazm, Abd Al-Azīz bin Abd Allāh bin Bāz. Mereka berpendapat memelihara jenggot merupakan perintah Nabi Muhammad saw. yang harus dilaksanakan dan merupakan bagian dari sunnah. Kedua ulama yang memahami hadis tersebut secara kontekstual, seperti al-Syarbasī, al-Qaradāwī, dan Syuhudi Ismail. Mereka berpendapat memelihara jenggot pada hadis tersebut merupakan anjuran dan bukan merupakan perintah. Penulis menggunakan teori pemahaman teks, double movement Fazlur Rahman, dalam memahami hadis memelihara jenggot dalam konteks kekinian. Pendekatan sosio-historis juga penulis gunakan untuk menemukan makna konteks ketika hadis tersebut muncul, kemudian penulis korelasikan dengan konteks kekinian.
AKTUALISASI HADIS MANISNYA IMAN DALAM KONSEP MAHABBAH ILAHIYAH Chasanah, Uswatun; Amiruddin, Muh
RIWAYAH Vol 7, No 1 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v7i2.8526

Abstract

Mahabbah merupakan pangkal semua tingkatan (maqam) spiritual dan segenap keadaan jiwa (ahwal). Selainnya adalah keinginan, kerinduan, rasa takut, dan rela. Salah satu fenomena sosial sehingga dilakukannya penelitian ini adalah tingkat bunuh diri yang semakin bertambah karena krisis spiritual dan kurangnya pemahaman terhadap cinta kepada Allah (mahabbah ilahiyah). Artikel ini menggunakan metode maudhu’i dengan menggunakan pendekatan multidisipliner, yakni pendekatan historis untuk mengetahui peristiwa dan kondisi Nabi saat menyampaikan hadis, pendekatan filosofis untuk menyingkap hakikat makna hadis-hadis yang terkait, serta pendekatan sufistik untuk menggali pandangan tasawuf mengenai mahabbah ilahiyah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya, mencintai seseorang karena Allah, serti benci kepada kekufuran maka akan didapatkan manisnya iman. Tiga hal tersebut merupakan konsep mahabbah ilahiyah yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidup yang diikuti dengan dengan ketaqwaan. Mahabbah ilahiyah ada dalam ranah pribadi seseorang jika ia mencintai Allah dengan membersihkan hati dan perbuatannya. Sedangkan dalam ranah sosial, seseorang yang mencintai Allah akan berbuat baik kepada sesame yang dibuktikan dengan sikap sosialnya yang baik dalam berinteraksi.[Actualization of The Sweet Hadith of Faith in The Concept of Mahabbah Ilahiah. Mahabbah is the base of all spiritual levels (maqam) and all states of the soul (ahwal). Apart from that are desire, longing, fear, and willingness. One of the social phenomena that led to this research is the increasing suicide rate due to the spiritual crisis and lack of understanding of love for Allah (mahabbah ilahiyya). This article uses the maudhu'i method using a multidisciplinary approach, namely a historical approach to find out the events and conditions of the Prophet when he delivered hadith, a philosophical approach to reveal the nature of the meanings of the related traditions, and a Sufistic approach to explore Sufism's views on the divine mahabbah. The results of this study indicate that loving Allah and His Messenger, loving someone for the sake of Allah, as well as hating kufr, will get the sweetness of faith. These three things are the concept of the divine mahabbah which makes God the goal of life followed by piety. The divine mahabbah is in a person's personal realm if he loves Allah by purifying his heart and actions. Whereas in the social realm, someone who loves Allah will do good to others as evidenced by his good social attitude in interacting.]
Perempuan Periwayat Hadis-Hadis Hukum dalam Kitab Bulugh Al-Maram Karya Imam Ibn Hajar Al-Asqalani
RIWAYAH Vol 2, No 1 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i1.1611

Abstract

Kajian mengenai peran perempuan dalam bidang keagamaan pada umumnya tetap menemukan signifikansinya mengingat kajian tentang ketokohan perempuan dalam bidang tersebutmasih sangat langka. Artikel ini mencoba mengungkap peran perempuan dalam periwayatan hadis dengan memfokuskan pada kitabBulu>gh al-Mara>m min Adillah al-Ah}ka>m yang ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dan merupakan salah satu kitab koleksi hadis hukum yang banyak dipelajari di pesantren-pesantren di Indonesia.Adanya partisipasi kaum perempuan dalam periwayatan hadis sebagaimana terkodifikasi dalam kitab Bulu>gh al-Mara>m menunjukkan perhatian perempuan yang besar terhadap hadis Nabi Saw. Jumlah para periwayat tersebut mencapai 19 orang dengan tema periwayatan yang beragam. Jumlah ini cukup banyak mengingat kesibukan kaum perempuan dalam ruang domestik yang melebihi kaum lelaki. Selain itu, juga dikarenakan aktifitas perlawatan ilmiah yang menjadi salah satu sarana perolehan hadis masih sulit dilakukan kaum perempuan pada saat itu.Meski demikian kaum perempuan tidak jauh ketinggalan dalam berpartisipasi dan memantapkan eksistensi dan kapabilitasnya dalam periwayatan hadis.Para muhaddis\in mengakui kualitas periwayatan hadis yang berasal dari sahabat perempuan. Hal ini terutama disebabkan kecenderungan para muhaddis\in yang tidak mempermasalahkan gender dalam periwayatan hadis. Dalam syarat-syarat ‘adalah dan dhabt}} yang harus diterapkan pada seorang periwayat hadis, misalnya, tidak terdapat ketentuan bahwa periwayat harus berjenis kelamin laki-laki.

Page 7 of 20 | Total Record : 200