cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 200 Documents
HADIS DI MATA SANG PEMBELA ISLAM: Studi Pemikiran Hadis Ahmad Hassan Mahmud, Mohammad; Arifah, Ridha Nurul
RIWAYAH Vol 6, No 1 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i1.6532

Abstract

Studi tentang pemikiran seorang tokoh intelektual, terutama dalam studi hadits, adalah penting untuk menemukan akar dan asal dari suatu perspektif. Dalam khazanah pemikiran hadis di Indonesia, Ahmad Hassan —atau yang populer disebut Hassan Bandung— ikut serta dalam kontestasi makna teks hadis dan epistemologinya. Ia adalah salah satu tokoh penting dalam Organisasi Msyarakat Islam Persatuan Islam (Persis) di Indonesia. Sebagai tokoh yang dikenal sebagai pembela, penyaring, dan pembaru Islam, pandangannya tentang hadits mungkin akan menuai kritik dan tanggapan. Misalnya, pendapatnya tentang prinsip-prinsip agama, seperti sumber hukum Islam (al-mashadir al-syar'iyah), taqlid, dan bid'ah. Pokok-pokok pemikiran ini akan mempengaruhi pendapatnya tentang hukum mazhab, tahlil, dan sebagainya.
Respon Hadis Terhadap Budaya Masyarakat Arab
RIWAYAH Vol 3, No 1 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i1.3441

Abstract

Hadis Nabi, baik yang berupa ucapan (qauli), perbuatan (Fi’li) maupun persetujuan (taqriri) muncul tidak dari masyarakat yang hampa budaya. Hadis muncul sebagai respon terhadap berbagai peradaban dan kebudayan orang Arab pada waktu itu. Cara Hadis merespon peradaban dan kebudayaan pada waktu itu tidak dirombak begitu saja, tetapi Hadis merespon peradaban dan kebudayaan tersebut dengan melalui tiga model yaitu Model Tahmil, Taghyir dan Tahrim. Model Tahmil adalah menerima dan menyempurnakan budaya lokal dengan cara-cara yang elegan dan Islami. Model Taghyir adalah Menerima keberadaan tradisi, tetapi Hadis mengubah atau merekontruksi tata cara pelaksanaannya. Sedang model Tahrim adalah Hadis secara tegas melarang atau menghentikan pelaksanannya, karena tradisi ini bertentangan dengan ajaran Islam.The hadith of the Prophet, whether in the form of utterance (qauli), deed (Fi’li) and approval (taqriri) did not arise from a void society. The hadith emerged in response to the various civilizations and the culture of the Arabs at that time. The way the Hadith responded to civilization and culture at that time was not overhauled, but Hadis responded to civilization and culture through three models of Tahmil, Taghyir and Tahrim. Tahmil’s model is to accept and perfect the local culture in elegant and Islamic ways. Taghyir model is to accept the existence of tradition,but Hadith alter or reconstruct the procedure of its implementation. Moderate Tahrim model is the Hadith that strictly prohibit or stop its implementation, because the tradition is contrary to the teachings of Islam.
KONTEKSTUALISASI PEMAHAMAN HADIS AL-IFKI (HOAX) DALAM BERINTERAKSI DI MEDIA SOSIAL: Aplikasi Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd Mundzir, Muhammad
RIWAYAH Vol 7, No 2 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v7i2.11027

Abstract

Artikel ini membahas tentang pemahaman hadis al-ifki yang menceritakan tentang fitnah yang dituduhkan oleh Aisyah. Hadis tersebut mengandung beberapa isu yang bisa ditarik ke zaman media sosial sekarang, di mana banyak terjadi pergeseran penggunaannya. Media sosial bukan lagi menjadi sarana untuk menyebarkan informasi yang berguna menambah wawasan masyarakat, tapi juga menjadi sarana untuk menyebarkan fitnah, ujaran kebencian, dan hoax. Maka dari itu, penulis mencoba mengontekstualisasikan pemahaman dari hadis al-Ifki. Penulis menggunakan Hermeneutika yang digagas oleh Nasr Hamid Abu Zayd, di mana dalam metodologinya terdapat tiga prinsip yang harus dilakukan, yaitu mencari, dalalah, maghza, dan, maskut ‘anhu. Hasil dari aplikasi menggunakan Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd adalah bahwa dalam bermedia sosial perlu bagi pengguna untuk memberikan informasi yang baik, sebab hal tersebut akan dinilai sedekah. Pengguna media sosial juga perlu untuk menghargai perasaan orang lain ketika akan memosting sesuatu. Selain itu, jika tidak dapat melakukan hal yang bersifat positif bagi media sosial, maka lebih baik diam.[Contextualization of Understanding Hadith al-Ifki on Social Media Interaction: An Application of Nasr Hamid Abu Zayd's Hermeneutics. This article discusses the understanding of hadith al-ifki which tells about the slander alleged by Aisyah. The hadith contains several issues that can be drawn into the current era of social media, where there are many shifts in its use. Social media is no longer a means to disseminate useful information to broaden the public's knowledge, but also a means to spread slander, hate speech, and hoaxes. Therefore, the author tries to contextualize the understanding of the hadith al-ifki. The author uses Hermeneutics which was initiated by Nasr Hamid Abu Zayd, where in the methodology there are three principles that must be carried out, namely seeking, dalalah, maghza, and, maskut 'anhu. The result of the application using Nasr Hamid Abu Zayd's Hermeneutics is that in social media it is necessary for users to provide good information, because this will be considered as alms. Social media users also need to respect other people's feelings when posting something. In addition, if you can not do something positive for social media, then it is better to be silent.]
Hadis dan Sunah dalam Perspektif Fazlur Rahman
RIWAYAH Vol 1, No 2 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i2.1805

Abstract

Eksistensi hadis dan sunah tidak pernah berhenti diperdebatkan kalangan ilmuan, hal ini dapat dipahami mengingat hadis dan sunah dua entitas yang sama sama menjadi rujukan kedua dalam beragama Islam. Karena posisinya yang demikian sentral, maka tidak heran apabila sering terjadi kontrofersi dikalangan para pembahasnya. Fazlur Rahman sebagai salah seorang intelektual muslim yang kritis berusaha menetralisir adanya perdebatan tersebut dengan menawarkan sebuah pemikiran kritis tentang entitas hadis dan sunah. Tawaran Rahman tersebut mampu menjadi salah satu model pemikiran yang selama itu sering mengalami kebuntuan. Rahman bukan saja mampu memberikan penjelasan yang utuh tentang hakikat hadis dan sunah, tetapi juga menjelaskan posisi keduanya dari sisi asal muasalnya, dalam praktik keseharian, akibat yang muncul setelahnya dan keberadaanya sekarang.
MENDEKONSTRUKSI TRADISI PENGAJARAN HADIS: Studi Kasus Ebook Hadis untuk Anak Bisri, Kasan
RIWAYAH Vol 5, No 2 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i2.4933

Abstract

Pengajaran hadis di Indonesia semakin meningkat saat ini. Ini tidak terlepas dari kesadaran umat muslim akan pentingnya hadis sebagai sumber ajaran Islam. Sekarang kita bisa mendapati banyak buku hadis yang dengan sengaja didesain untuk anak, baik berbentuk cetak ataupun digital. Hadirnya buku digital (Ebook) hadis untuk anak tentu membawa perubahan perilaku sosial dan tradisi tak terkecuali pengacaran hadis. Artikel ini bermaksud menjawab bagaiamana Ebook hadis mendekonstruksi tradisi pengajaran hadis? Bagaimana Ebook mengemas hadis untuk diajarkan pada anak? Kitab hadis apa yang menjadi sumber rujukan hadis yang dicantumkan dalam Ebook? Apa tema yang menjadi titik tekan dalam Ebook? Artikel ini menyimpulkan pertama Ebook hadis untuk anak telah menggeser paradigma lama ke paradigma baru, yaitu paradigma memperlajari hadis yang dulunya harus dilakukan secara face to face dengan orang-orang yang memiliki otoritas keilmuan menuju paradigma setiap orang memiliki otoritas keagamaan; kedua, ada dua varian bagaiamana Ebook memaparkan hadis yakni, pertama, redaksi hadis ditulis dalam bahasa arab dan disertai terjemahan; kedua, terjemahan hadis saja. Hadis dipaparkan melalui cerita yang disertai dengan ilustrasi berupa gambar. ketiga, hadis yang dikutip dalam Ebook bersumber dari kitab induk hadis   sumber yang merentang dari yang populer hingga tidak, seperti kutub sittah hingga al-Mustadrok Hakim, Sunan al-Baihaqi, Musnad al-Haris. Tema besar yang menjadi titik tekan Ebook hadis adalah akhlaq, iman, dan ibadah.
RELASI MUSLIM DAN NON MUSLIM PERSPEKTIF TAFSIR NABAWI DALAM MEWUJUDKAN TOLERANSI
RIWAYAH Vol 4, No 2 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v4i2.4628

Abstract

Fenomena pluralitas agama yang hadir di tengah kehidupan saat ini menuntut kita agar mampu menyikapinya dengan bijaksana. Terlebih bagi umat muslim, di mana dewasa ini Islam seringkali dituduh sebagai agama yang diskriminatif dan sulit menerima adanya keberagaman. Pasalnya bermula dari munculnya sebagian muslim yang mendakwahkan Islam dengan jalan kekerasan, memerangi bahkan membunuh umat-umat lain yang tidak sejalan dengan Islam. Sehingga tentu saja ini berimbas pada rusaknya citra Islam. Padahal, 14 abad yang lalu Nabi Muhammad telah mengajarkan dan mempraktekkan langsung bagaimana seharusnya sikap seorang muslim dalam berhubungan dengan umat-umat lain di luar Islam. Alhasil, Nabi berhasil menjadikan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘ālamīn yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi antar umat beragama. Di samping itu, perlu disadari bahwa sikap dan perilaku Nabi tersebut tidak terlepas dari wahyu yang Allah turunkan kepadanya (al-Qur’an). Artinya, Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi Nabi dalam menentukan sikap yang harus dilakukan ketika berhubungan dengan non-muslim ketika itu. Seperti misalnya dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 8-9, di mana Allah memberitahukan bahwa Nabi tidak dilarang untuk tetap berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang non-muslim yang tidak memeranginya. Maka, dari ayat ini muncullah respon Nabi, baik itu berupa perkataan maupun sikap dan perbuatan. Sehingga respon tersebut dijadikan tafsiran yang menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an ini. Lebih lanjut, dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, dalam tulisan ini penulis akan mencoba menganalisis hadis-hadis Nabi yang menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an mengenai relasi muslim dan non-muslim tersebut, agar nantinya dapat menjadi salah satu upaya dalam mewujudkan toleransi antar umat beragama.
Metode Kritik Abu Hafs Umar Bin Ali Al-Basri Al-Fallas Terhadap Para Perawi Hadis
RIWAYAH Vol 1, No 1 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i1.1229

Abstract

Activities  of hadith criticism have already been running  in the era of the Prophet. However, the criticisms are still very limited. In the next period, this activity develops after an unstable political and social conditions after the murder of Caliph Us}ma>n bin Affa>n in the year 36 H. The experts increasingly sharpen criticism of hadith narrators to fortify the traditions of counterfeiting of people who seek profit in order political interests. This article discusses the critic figure Imam al-Falla> s in criticizing the narrator of traditions with an objective approach so that the hadith experts who live afterwards make it as a reference. And, not surprisingly, Imam Bukhari narrated the hadith through him.
URGENSI INTEGRASI ANTARA AHLI FIQH DAN AHLI HADIS DALAM MEMAHAMI SUNAH: Studi atas Pemikiran Syekh Muhammad al-Ghazali dalam Karyanya al-Sunah al-Nabawiyah baina Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadis Hosen, Mat; Musyafiq, Ahmad
RIWAYAH Vol 5, No 2 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i2.4551

Abstract

Selama ini kajian hadis lebih sering dilakukan secara terpisah oleh para ahli dengan latar belakang keilmuan yang berbeda. Perbedaan ini sering menimbulkan benturan baik dari segi metode maupun makna yang dihasilkan. Yang paling terkenal benturan terjadi antara ahli fiqih dan ahli hadis. Tulisan ini akan menganalisis elaborasi Muhammad Al-Ghazali terhadap hadis-hadis perspektif ahli hadis dan ahli fiqih. Melalui konten analisis ditemukan bahwa elaborasi yang dilakukan Ghazali dalam karyanya “al-Sunnah baina ahli al-Fiqih wa ahli al-Hadis” ada dua poin penting. Pertama, antara ahli fiqih dan ahli hadis ada perbedaan cukup mendasar dalam menganalisis sebuah hadis. Menurut Ghazali ahli fiqih lebih dominan kontekstual, sementara ahli hadis lebih dominan kepada tekstual. Kedua, dengan perbedaan di atas Ghazali berharap agar kedua belah pihak saling sapa dan bahu-membahu dalam menganalisa sebuah hadis. Meskipun pada uraiannya Ghazali menghendaki kedua belah pihak saling bekerja sama namun pada tataran operasionalnya Ghazali lebih condong pada kritik matan. Dalam hal ini tentu Ghazali cenderung terhadap metode ulama fiqih sebab ulama fiqih menurut Ghazali lebih proporsional dalam menentukan keshahihan hadis.
RESEPSI HADIS ANJURAN TERSENYUM DAN APLIKASINYA DALAM EMOTICON SENYUM PADA SOSIAL MEDIA Ismaila, Melati
RIWAYAH Vol 5, No 1 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i1.4937

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai pengaplikasian hadis anjuran tersenyum dalam sosial media sebagai bentuk komunikasi non-verbal. Proses transmisi dan resepsi terhadap hadis anjuran tersenyum diekspresikan melalui emoticon senyum yang digunakan dalam sosial media, salah satunya yakni Whatsapp. Oleh karena itu kajian ini termasuk ke dalam kajian living hadis. Adapun teori yang digunakan adalah pendekatan teori semiotika komunikasi Charles Sanders Pierce yang dikenal dengan segitiga makna atau segitiga semiotik. Dengan kajian ini diharapkan dapat diketahui kontekstualisasi hadis dalam komunikasi menggunakan sosial media yang kini tengah berkembang di tengah masyarakat. 
Shilaturrahim Sebagai Upaya Menyambungkan Tali yang Terputus
RIWAYAH Vol 2, No 2 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i2.3143

Abstract

ABSTRAKDi dalam al-Qur’an kata taqwa dan shilaturrahim selalu dirangkai, itu artinya shilaturrahim merupakan salah satu karakteristik bagi orang-orang yang beriman. Shilaturrahim memiliki makna yang sangat universal yaitu segala perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain baik berbentuk material maupun moral, dan tidak mengenal batas waktu dan bentuk, sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi yang ada. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa yang dinamakan shilaturrahim adalah jika diputus hubungan rahimnya maka ia menyambungnya. Jadi shilaturrahim tidak sekedar datang berkunjung ke rumah tetangga atau saudara untuk meminta maaf. Namun shilaturrahim adalah sebuah komunkasi tinggi yang dilandasi iman kepada Allah. Dengan saling menyayangi, menghormati sesama umat manusia, karena ketika sudah tidak ada lagi kasih sayang, maka yang terjadi adalah pertengkaran dan permusuhan. Dalam kehidupan yang singkat ini teruslah untuk selalu menaburkan kebaikan di muka bumi, merajut kasih sayang kepada sesama tanpa melihat tingkat posisi, kedudukan, dan status sosial. Kasih sayang itu tentunya harus diberikan untuk seluruh umat manusia yang di temui di muka bumi.

Page 8 of 20 | Total Record : 200