cover
Contact Name
Zumardii
Contact Email
redaksiMAPJ@gmail.com
Phone
+6282218140922
Journal Mail Official
redaksiMAPJ@gmail.com
Editorial Address
Melayu Art and Performance Journal Institut Seni Indonesia Padangpanjang Jl. Bahder Johan Padangpanjang, Sumatera Barat.
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Melayu Arts and Performance Journal
ISSN : 26560232     EISSN : 26563509     DOI : http://dx.doi.org/10.26887/mapj
Melayu Arts and Performance Journal (MAPJ) is the Scientific Journal focusing on the study of performing arts and visual arts, as well as the development of methods for the creation of performing arts and visual arts.
Articles 128 Documents
KHATTIL QUR’AN DAN DAUN SIRIH DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI KALIGRAFI GRAFIS Intan Tursina; Dharsono Dharsono; Febri Yulika
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 1 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v5i1.1076

Abstract

The art work entitled "Khattil Qur'an and Betel Leaf as an Idea for Creating a Graphic Artwork", cultivates beautifully arranged pure Arabic calligraphy letters decorated with betel leaf motifs as ideas. Pure calligraphy based entirely on the principles of standard writing rules. Today's calligraphy processing often ignores the rules, where the writing of verses on paintings seems to be subject to painting, so that in the end the message that is communicated is more of appreciation. Betel leaf is a plant that propagates and rests on the trunk of another tree. The selection of betel leaf because it is a type of medicinal plant and can be synchronized with the theme of prayer in the work, and has the same benefits for health. The method used in the creation of this graphic art works through several systematic stages, namely the exploration, experimentation, and design stages. This work was done using graphic art media with high printing techniques. Media selection is based on the concern for calligraphers, as well as providing solutions or alternatives in terms of reproducing or printing a design manually before and during the MKQ competition.Keywords: khattil qur'an; betel leaf; calligraphy; high print graphics.AbstrakKarya seni berjudul “Khattil Qur’an dan Daun Sirih sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Grafis”, mengolah huruf kaligrafi Arab murni yang dihiasi dengan motif daun sirih sebagai ide atau gagasan. Kaligrafi murni didasarkan sepenuhnya pada prinsip-prinsip atau kaidah menulis yang baku. Pengolahan seni kaligrafi masa sekarang seringkali mengabaikan kaidah, dimana tulisan ayat pada lukisan seolah-olah tunduk pada lukisan, sehingga akhirnya pesan yang terkomunikasikan lebih kepada apresiasi. Daun sirih dipilih karena merupakan jenis tanaman obat dan dapat disinkronkan dengan tema shalat pada karya, dan memiliki kesamaan manfaat untuk kesehatan. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya seni grafis ini melalui beberapa tahapan sistematis, yakni tahap eksplorasi, eksperimentasi, dan perancangan. Karya ini digarap menggunakan media seni grafis dengan teknik cetak tinggi. Pemilihan media didasarkan pada bentuk kepedulian terhadap kaligrafer, sekaligus memberikan solusi atau alternatif dalam hal memperbanyak atau mencetak suatu desain dengan cara manual sebelum dan saat perlombaan MKQ.Kata Kunci: khattil qur’an; daun sirih; kaligrafi; grafis cetak tinggi
EKSISTENSI KESENIAN GANDANG LASUANG DI JORONG PASA LAMO KECAMATAN SASAK RANAH PASISIA KABUPATEN PASAMAN BARAT Willa Maida Putri; Syeilendra Syeilendra; Hengki Armez Hidayat
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 1 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v5i1.2451

Abstract

The purpose of this study was to describe the existence seen from the use and function of the Gandang Lasuang art at a wedding ceremony in Jorong Pasa Lamo, Sasak Ranah Pasisia District, West Pasaman Regency. This research uses qualitative approach. The research conducted in Jorong Pasa Lamo. The results of the study show that the existence of the Gandang Lasuang has indeed experienced various advances from year to year. Judging from its use where this art was formerly only used as a medium for entertaining the community when pounding rice, but now it has been used as a traditional crowd event in the community who is holding wedding ceremonies and other uses as well as a welcoming ceremony or other artistic performances both in the nagari. or outside the area. The results of the research that has been done can be seen in the form of Gandang Lasuang Art as a means of entertainment, communication, cultural preservation functions and community integration functions.Keywords: existence; function; art; Gandang Lasuang; West PasamanAbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan eksistensi dilihat dari penggunaan dan fungsi kesenian Gandang Lasuang pada upacara pesta perkawinan di Jorong Pasa Lamo Kecamatan Sasak Ranah Pasisia Kabupaten Pasaman Barat. Jenis penelitian menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Lokasi penelitian dilakukan di Jorong Pasa Lamo. Hasil penelitian menunjukan bahwa eksistensi kesenian Gandang Lasuang ini memang mengalami berbagai kemajuan dari tahun ke tahun. Dilihat dari penggunaannya, kesenian ini dahulunya hanya dijadikan sebagai media penghibur bagi masyarakat pada saat menumbuk padi, tapi sekarang sudah digunakan sebagai acara keramaian adat serta dalam melangsungkan upacara pesta perkawinan. Penggunaan lainnya juga sebagai pengisi acara penyambutan atau penampilan kesenian lainnya baik dalam nagari maupun keluar daerah. Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat beberapa berupa Kesenian Gandang Lasuang sebagai sarana hiburan, komunikasi, fungsi pelestarian budaya dan fungsi pengintegrasian masyarakat.Kata Kunci: eksistensi, fungsi, kesenian; Gandang Lasuang; Pasaman Barat
KONSEP GARAPAN ANDUNG HU: SEBUAH TAFSIR MUSIKAL ATAS RATAPAN KEMATIAN MASYARAKAT BATAK TOBA Della Rosa Panggabean; Fresti Yuliza; Sherli Novalinda; Hafif HR
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 1 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v5i1.2501

Abstract

This article discusses the musical concept of an orchestral piece entitled Andung Hu, which in Batak language means my lament. Andung Hu’s work departs from the reinterpretation of the Andung tradition, a lamentation of sorrow in the context of the death committed by the Toba Batak people. Applying the method of transformation, with the concept of transit and transition, this paper is intended as a form of elaboration of the concept of Andung Hu’s work. The data collected from the work process by Della Rosa Pangabean, which was analyzed critically-reflectively, by viewing the work process as a form of artistic research. The results of the analysis show that the transformation process from the Andung tradition in the Toba Batak society to the Andung Hu Orchestra takes three key stages, namely: interpretation; orchestration; and improvisation. The materials and tools used in the stages of the creation process are: scales; atonal technique; motive; development techniques; and taganing motifs. The result of the work is a composition in the form of a program music entitled Andung Hu.Keywords: lamentation; Toba Batak; musical concept; Andung Hu; orchestraAbstrakTulisan ini membicarakan tentang konsep musikal dari sebuah karya orkestra berjudul Andung Hu, yang dalam Bahasa Batak berarti ratapanku. Karya Andung Hu berangkat dari reinterpretasi atas tradisi Andung, sebuah ratapan kesedihan dalam konteks kematian yang dilakukan oleh masyarakat Batak Toba. Menerapkan metode transformasi atau alih wahana, dengan konsep transit dan transisi, tulisan ini dimaksudkan sebagai bentuk penjabaran konsep garapan dari karya Andung Hu. Data-data dihimpun dari proses berkarya oleh Della Rosa Pangabean, yang dianalisis secara kritis-reflektif, dengan memandang proses berkarya tersebut sebagai suatu bentuk penelitian artitik. Hasil analisis menunjukkan bahwa proses transformasi dari tradisi Andung dalam masyarakat Batak Toba menjadi karya Orkestra Andung Hu, menempuh tiga tahapan kunci, yakni: interpretasi; orkestrasi; dan improvisasi. Adapun bahan dan alat yang digunakan dalam tahapan proses penciptaan itu adalah: tangga nada; teknik atonal; motif; teknik pengembangan; dan motif taganing. Adapun hasil karya adalah sebuah komposisi dengan bentuk musik programa yang diberi judul Andung Hu.Kata Kunci: ratapan kematian; Batak Toba; konsep musikal; Andung Hu; orkestrasi
MENANAMKAN EMPATI, MENUMBUHKAN SELEKSI: KIPRAH GEFNIWATI DALAM MANAJEMEN SANGGAR SENI ALANG BANGKEH PADANGPANJANG Mutia Ulfa; Risnawati Risnawati; Adriana Gusti
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 1 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v5i1.2517

Abstract

This article discusses the role of the late Gefniwati as a coach at the Alang Bangkeh Studio in Padangpanjang City, from a management point of view. Gefniwati founded Sanggar Alang Bangkeh to be able to gather creativity, talent and interest among the younger generation and direct their energy to positive values. Sanggar Alang Bangkeh has two program plans, namely short-term and long-term. Gefniwati developed the management of Sanggar Alang Bangkeh in four ways, namely planning, organizing, directing, and supervising. The results can be seen from the frequent appearances of Sanggar Alang Bangkeh at important events both within and outside the region. In addition, the collaboration with the Padangpanjang City government has made this studio more developed and has a place in the hearts of the people. The results showed that Gefniwati succeeded in developing good management in managing the Alang Bangkeh Studio, so that the performances presented were always in accordance with the wishes or demands of the community. The key to success lies in the values that have been aspired from the start, namely instilling a sense of empathy for traditional arts, and fostering the ability to select from foreign cultural influences.AbstrakArtikel ini membahas tentang kiprah Mendiang Gefniwatiselaku pembina pada Sanggar Alang Bangkeh di Kota Padangpanjang, dari sudut pandang manajemen. Gefniwati mendirikan Sanggar Alang Bangkeh untuk dapat menghimpun kreatifitas, bakat dan minat kalangan generasi muda dan mengarahkan energi mereka pada nilai-nilai positif. Sanggar Alang Bangkeh memiliki dua  perencanaan program yaitu  jangkapendek dan jangkapanjang. Gefniwati mengembangkan manajemen  Sanggar Alang Bangkeh melalui empat cara, yakni Perencanaan, Pengorganisasian, Pengarahan, dan  Pengawasan. Hasilnya dapat  dilihat  dari  seringnya Sanggar Alang Bangkeh tampil pada event-event penting baik dalam maupun luar daerah. Selain itu kerjasama yang dijalankan dengan pemerintah Kota Padangpanjang, menjadikan sanggar ini semakin berkembang dan mendapat  tempat  dihati  masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gefniwati berhasil dalam mengembangkan manajemen yang baik dalam mengelola Sanggar Alang Bangkeh, sehingga pertunjukan yang disuguhkan selalu sesuai dengan keinginan atau tuntutan masyarakat. Kunci kesuksesan itu terletak pada nilai yang dicita-citakan sejak awal, yakni menanamkan rasa empati kepada kesenian tradisional, dan menumbuhkan kemampuan seleksi pada pengaruh budaya asing.Kata Kunci: Gefniwati; sanggar seni; Alang Bangkeh; manajemen seni
MIDI SEBAGAI INOVASI DAN ALTERNATIF MUSIK IRINGAN TARI DI MASA PANDEMI Tri Sat Fitriani; Asep Saepudin
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 1 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v5i1.2518

Abstract

This paper discusses MIDI innovation for dance accompaniment needs. MIDI or Musical Instrument (with) Digital Interface, is a revolution in the development of music. Presentation of dance accompaniment using MIDI has several advantages in a technological update. MIDI innovations in this study are discussed using descriptive analysis methods. The dance accompaniment in question is a dance accompaniment that usually uses gamelan devices can be denoted in software in a system called MIDI. This topic is taken from the phenomenon that occurs in the Pandemic period. With MIDI, a composer can relatively simple listen to his work that has been written using music notation software on his computer. The large number of choreographers who need accompaniment during working digitally, allows the availability of insufficient human resources. Therefore, MIDI can be an alternative innovation to fill or correct these deficiencies.AbstrakTulisan ini membahas tentang inovasi MIDI untuk kebutuhan iringan tari. MIDI atau Musical Instrument (with) Digital Interface, merupakan revolusi dalam perkembangan musik. Penyajian iringan tari menggunakan MIDI memiliki beberapa kelebihan dalam sebuah pembaharuan teknologi. Inovasi MIDI dalam kajian ini dibahas menggunakan metode deskriptif analisis. Iringan tari yang dimaksud adalah iringan tari yang biasanya menggunakan perangkat gamelan dapat dinotasikan pada software dalam sebuah sistem yang disebut MIDI. Topik ini diambil dari fenomena yang terjadi di masa Pandemi Covid-19. Dengan MIDI, seorang komposer bisa secara relatif sederhana mendengarkan hasil karyanya yang sudah ditulis memakai software music notation di komputernya. Banyaknya koreografer yang membutuhkan pengiring saat berkarya secara digital, memungkinkan ketersediaan sumber daya manusia yang tidak mencukupi. Oleh karena itu, MIDI dapat menjadi sebuah inovasi alternatif untuk mengisi atau memperbaiki kekurangan tersebut.Kata Kunci: MIDI; gamelan, software music notation; musik iringan; seni tari.
CALLIGRAPHY DECORATION ANALYSIS IN TERMS OF SHAPE PATTERNS, COLORS AND FONTS Nuryanti Bacin; Agust Priyatno
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 2 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v5i2.3125

Abstract

Penelitian ini dilakukan karena peneliti merasa banyaknya ditemukan masalah pada karya kaligrafi disanggra Kaligrafi Annida Medan. diantaranya yaitu sebagian kaligrafer tidak menggunakan pola bentuk yang kurang sesuai dan pemilihan  warna yang variatif, pemilihan jenis kaligrafi yang kurang tepat, dan karya kaligrafi tidak menggunakan konsep warna. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari, mengetahui, menggambarkan, menguraikan dan menganalisa pemilihan pola bentuk, warna dan jenis huruf pada karya kaligrafi golongan dekorasi di sanggar Kaligrafi Annida Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif sebagai acuan. Subjek dari penelitian ini adalah kaligrafi golongan dekorasi karya kaligrafi peserta didik di Sanggar Kaligrafi Annida Medan ditinjau dari  pola bentuk, warna dan jenis huruf. sebanyak 8 karya kaligrafi dekorasi. Hasil keseluruhan dalam penelitian ini menjelaskan bahwa karya kaligrafi golongan dekorasi dinilai dari  pola bentuk, warna dan jenis huruf dinilai cukup baik.Kata Kunci: Kaligrafi Dekorasi; Pola Bentuk; Warna; Jenis Huruf
OPTIMALISASI SENI MUSIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM Rosyada Ayu Fatimah; Yazida Ichsan; Utut Abdillah Iskandar; Riska Anisa Indriyani; Wahyu Lestari
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 2 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v5i2.3141

Abstract

This paper describes the optimization of art in Islamic education. The source of the idea comes from various journal literature. By using a literature study approach, this research shows that the position of art in Islam has a very important role, because art is a part of culture that cannot be separated from education. Therefore, in the context of Islamic education, especially in Islamic educational institutions, art must continue to be preserved through various creative activities. An ideal extensionist at least masters the map of da'wah, understands the characteristics of the community and is rich in da'wah methodologies. So that the message conveyed to the people is easy to accept and succeed. The characteristics of the majority community in Indonesia are, they like all things that smell like art from the young to the old. Da'wah wrapped in art has been widely used by preachers, for example, music, puppets, theater, and many others. There is a lot of evidence of the success of art in da'wah methods such as music, this da'wah method is suitable for all people from the young to the young, this da'wah method is very popular with Preacher because it brings a cheerful and fun atmosphere and is easily absorbed by listeners in Islamic values that contained in the song that is sung. The brain development approach is an important concern in the care and development of early childhood because as it has been previously known that the brain controls human life. This study aims to determine the urgency of art learning in optimizing early childhood learning in field observation studies. Individuals engaged in art can increase spontaneity and self-expression, control limited inhibitory effects, and produce creative work.
EKSPRESI BEJANA PERUNGGU KERINCI SEBAGAI PENGHIAS INTERIOR Marten Agung Laksono; Jeki Aprisela H; Husni Mubarat
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 2 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v5i2.3124

Abstract

AbstrakBejana perunggu Kerinci merupakan salah satu peninggalan dari zaman logam, ditemukan pada 1922 di Kabubaten Kerinci. Seluruh permukaan dari benda tersebut dihiasi oleh motif geometris. Bejana dan motif-motif geometris itu dijadikan sumber inspirasi dan diekspresikan ke karya kriya logam panel dalam bentuk dua dimensi untuk hiasan interior. Metode penciptaan diawali dengan eksplorasi, tahap perancangan dan tahap perwujudan. Teknik yang digunakan adalah ukir logam (tatah), grafir, dan kerawang. Finishing  woodstain black, dan clear doof. Hasil karya “Ekspresi Bejana Perunggu Sebagai Penghias Interior”  berupa panel yang dipajang di dinding. Adapun judul karya tersebut adalah tiga bejana Kata Kunci: Ekspresi; Bejana Perunggu Kerinci; Interior.  AbstractThe Kerinci bronze vessel was one of the relics of the metal age, found in 1922 in Kerinci Regency. The entire surface of the object was decorated with geometric motifs. Vessels and geometric motifs were used as a source of creation and were expressed in metal panel crafts in two dimensions for interior decoration. The method of creation begins with exploration, the design stage and the embodiment stage. The techniques used were metal carving (inlay), engraving, and filigree. Finishing woodstain black, and clear doof. The work "Bronze Vessel Expression As Interior Decorator" was a panel that was displayed on the wall. The title of the work was three vessel, decorative lights and decorative clock Keywords: Expression; Kerinci Bronze Vessel; Interior. 
PEMBENTUKAN KARAKTER PENARI MELALUI KESENIAN YANG DIMILIKI SUATU DAERAH Tudhy Putri Apyutea Kandiraras; Fresti Yuliza
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 2 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v5i2.3217

Abstract

Identitas merupakan penanda kehadiran kelompok dalam masyarakat. Identitas budaya termasuk dalam kategori identitas yang memudahkan komunikasi antar budaya disekelilingnya. Penentuan Identitas budaya diukur dari pola perilaku sosial yaitu berupa pola persepsi, berpikir, perasaan, dan struktur sosialnya. Jati diri yang dimiliki seseorang merupakan sebuah identitas yang diperoleh sejak lahir, kemudian melalui proses interaksi dalam kehidupan yang dilakukan setiap hari dan membentuk suatu pola khusus yang mendefinisikan tentang karakter seseorang tersebut. Melalui budaya tebentuk cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Penggabungan istilah identitas budaya memiliki pengertian sebagai pembedakan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain karena identitas budaya tersebut merupakan suatu karakter khusus yang melekat dalam suatu kebudayaan. Pembentukan karakter budaya yang ada dilandasi oleh kreativitas yang dimiliki oleh setiap manusianya. Kreativitas merupakan jalan keluar seseorang mengeluarkan berbagai ide yang didorong oleh kebutuhan berekspresi. Seseorang dapat berkreasi menciptakan benda seni yang unik dan bernilai tinggi dalam lingkup dunia seni sehingga mampu memiliki identitas kekhasan. Berbagai seni timbul karena kemampuan manusia untuk menggali pandangan yang tajam dari pengalaman hidupnya. Proses kreatif tersebut merupakan suatu tangkapan inderawi, perasaan apa yang dirasakan, eksplorasi pengamatan dan perasaan, hubungan imajinatif dari pengalaman yang tersimpan, yang akhirnya kemudian membentuk suatu produk baru. Produk yang dihasilkan merupakan wujud dari sebuah pendidikan karakter yang dimiliki oleh berbagai daerah.Kata kunci: Identitas; Pendidikan Karakter; Kreatifitas                            AbstractIdentity is a marker of the presence of a group in society. Cultural identity is included in the category of identity that facilitates communication between the surrounding cultures. Cultural identity is determined by patterns of social behavior, namely patterns of perception, thinking, feeling, and social structure. A person's identity is obtained from birth through a process of interaction in life that is carried out every day and forms a unique pattern that defines that person's character. Through culture, a way of life is formed that develops, is owned by a person or group of people, and is passed down from generation to generation. The combination of the term cultural identity has a meaning as a distinction between one culture and another because cultural identity is a unique character inherent in the culture. The formation of existing cultural character is based on the creativity of every human being. Creativity is a way for someone to issue various ideas driven by the need for expression. For example, a person can be creative in creating unique art objects of high value within the scope of the art world so that they can have a distinctive identity. Various arts arise because of the human ability to dig sharp insights from life experience. The creative process is a sensory capture of what feelings are felt, exploration of observations and feelings, and imaginative relationships from stored experiences, which eventually form a new product. The resulting product is a form of character education owned by various regions.Keywords: Identity; Character Education; Creativity
PENCIPTAAN FILM DOKUMENTER “BADABUIH” DALAM ACARA ALEK NAGARI DI PADANG PARIAMAN Gentha Nurha
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 2 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v5i2.1362

Abstract

The creation of the documentary film "Badabuih" is one of the films that aims to introduce the culture of the Padang Pariman region, especially the dabuih tradition in the nagari language. Documentary film is a type of film that deals with people, characters, events, or events. In this documentary "Badabuih" the author tries to see how the representation of the dabuih procession in Islamic culture in Padang Pariaman. In the process of creating the documentary film "Badabuih" the film is packaged into a series of plots in a linear manner with an approach to story and image elements with a chronological narrative structure. Listening further about the depiction or representation, many things are actually alluded to by other signs or symbols with a specific purpose. The events that occur in "Badabuih" then have a meaning between divine values and social values. These values then merge into a culture which then becomes entertainment. This film also explains how the view of dabuih that develops in the community as a means of giving thanks to Allah SWT..Keywords: Documentary Film; Badabuih; Representation; Padang PariamanABSTRAKPenciptaan film dokumenter “Badabuih” merupakan salah satu film yang bertujuan memperkenalkan kebudayaan daerah Padang Pariman khususnya tradisi dabuih dalam alek nagari. Film dokumenter merupakan jenis film yang berhubungan dengan orang-orang, tokoh, peristiwa, atau kejadian. Dalam film dokumenter “Badabuih” ini penulis mencoba melihat bagaimana representasi prosesi dabuih dalam budaya islam di Padang Pariaman. Pada proses penciptaan film dokumenter “Badabuih” film dikemas ke dalam rangkaian plot secara linier dengan pendekatan unsur cerita dan gambar dengan struktur penceritaan kronologis. Menyimak lebih jauh tentang penggambaran atau representasi, banyak hal yang sebenarnya dikiaskan dengan tanda atau simbol lain dengan maksud tertentu. Peristiwa yang terjadi dalam “Badabuih” kemudian memiliki makna antara nilai ketuhanan dan nilai sosial. Nilai-nilai tersebut kemudian menyatu menjadi suatu kebudayaan yang kemudian menjadi hiburan. Dalam film ini juga dijelaskan bagaiamana pandangan terhadap dabuih yang berkembang di tengah masyarakat sebagai salah satu sarana dalam melakukan syukur kepada Allah SWT.Kata Kunci : Film Dokumenter,Badabuih, Representasi, Padang Pariaman

Page 9 of 13 | Total Record : 128