cover
Contact Name
Syarifatul Mubarak
Contact Email
syarif.almubarak@uinmataram.ac.id
Phone
+6285239683146
Journal Mail Official
jurnalspin@uinmataram.ac.id
Editorial Address
Prodi Tadris Kimia UIN Mataram, Jl. Gajah Mada No. 100, Jempong Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
SPIN: Jurnal Kimia & Pendidikan Kimia
ISSN : 25802623     EISSN : 27456854     DOI : https://doi.org/10.20414/spin
Core Subject : Science, Education,
SPIN adalah jurnal berkala yang diterbitkan dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember oleh Program Studi Tadris Kimia FTK UIN Mataram. Jurnal ini berisi artikel yang diangkat dari hasil penelitian atau kajian analitis kritis kepustakaan khususnya di bidang kimia dan pendidikan kimia. SPIN: Jurnal Kimia & Pendidikan Kimia is a Chemistry and Chemistry education journal published by Program studi Tadris Kimia, Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. SPIN is published twice a year (June and Desember) as scientific communication means of academic people in the study of Chemistry and Chemistry education. Editorial board receives the articles from the educators, observers, researchers on chemistry and chemistry education to be published after having tight selection, peer review, and serious editing. p-ISSN: 2580-2623. e-ISSN: 2745-6854. This journal provides immediate open access to its content on the principle that making research freely available to the public supports a greater global exchange of knowledge.
Articles 123 Documents
COMPARISON OF THE AGE OF SAPU-SAPU (Baeckea frutescens L.) LEAVES BOW DOWN AND UNBOWED ON THE YIELD AND PHYSICAL FEATURES OF OIL USING STEAM-HYDRO DISTILLATION METHODS Della Adelia; Occa Roanisca; Ristika Oktavia Asriza
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 7 No. 1 (2025): January - June 2025
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v7i1.12944

Abstract

Minyak atsiri merupakan minyak yang bersifat volatil, tersusun dari senyawa golongan terpenoid (monoterpen dan seskuiterpen). Salah satu tumbuhan yang berpotensi dijadikan minyak atsiri adalah tumbuhan sapu-sapu (Baeckea frutescens L.) Kepulauan Bangka Belitung. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbandingan rendemen, karakteristik, dan komponen senyawa kimia dalam minyak atsiri daun sapu-sapu merunduk dan tidak merunduk pada umur panen di atas dan kurang dari 2 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah destilasi uap air. Rendemen minyak atsiri yang dihasilkan dari tumbuhan sapu-sapu daun merunduk di atas 2 tahun (DM+2), daun tidak merunduk di atas 2 tahun (DTM+2), daun merunduk kurang dari 2 tahun (DM-2) dan daun tidak merunduk kurang dari 2 tahun (DTM-2) berturut-turut adalah 0,598%, 0,595%, 0,505% dan 0,544%. Minyak atsiri dari daun sapu-sapu merunduk di atas 2 tahun memiliki aroma dan warna lebih dominan dibandingkan dengan yang lainnya. Komponen senyawa kimia yang dihasilkan dari empat variasi minyak atsiri ini berbeda-beda. Minyak atsiri daun sapu-sapu jenis merunduk di atas 2 tahun memiliki total persentase komponen senyawa kimia area sebesar 97,49% dan merunduk kurang dari 2 tahun sebesar 97,74%. Sedangkan komponen senyawa kimia minyak atsiri daun sapu-sapu jenis tidak merunduk di atas 2 tahun sebesar 98,54% dan tidak merunduk kurang dari 2 tahun sebesar 98,38%.   Essential oil is a volatile oil, composed of terpenoid group compounds (monoterpenes and sesquiterpenes). One of the plants that has the potential to be used as an essential oil is the Bangka Belitung Islands sapu-sapu plant (Baeckea frutescens L.). The purpose of this study was to determine the comparison of yield, characteristics, and components of chemical compounds in the essential oil of sapu-sapu leaves, ducking and not ducking at harvest ages above and below 2 years. The method used in this research is the water vapor distillation method. The yield of essential oil produced from sapu-sapu leaves ducked above 2 years (DM+2), leaves not ducked above 2 years (DTM+2), leaves ducked less than 2 years (DM-2) and leaves not ducked less than 2 years (DTM-2) are 0.598%, 0.595%, 0.505% and 0.544% respectively. Essential oil from sapu-sapu leaves ducked over 2 years has a more dominant aroma and color compared to the others. The components of chemical compounds produced from the four variations of essential oil are different. Essential oil of sapu-sapu leaf type aged for more than 2 years has a total percentage of chemical compound components of 97.49%, while that aged for less than 2 years has a total rate of 97.74%. While the chemical compound component of the essential oil of sapu-sapu leaves of the type that does not bow above 2 years is 98.54%, and does not bow less than 2 years is 98.38%.
CHEM-KAHOOT INTERACTIVE GAMIFICATION TO REALISE JOYFUL AND CHARACTERFUL CHEMISTRY LEARNING Muhammad Fath Azzajjad; Dewi Satria Ahmar
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 7 No. 1 (2025): January - June 2025
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v7i1.13131

Abstract

Untuk meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan pengembangan karakter siswa, penelitian ini melihat penggunaan Chem-Kahoot sebagai alat gamifikasi dalam pembelajaran kimia yang menyenangkan. Mengevaluasi kemampuan Chem-Kahoot dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap prinsip-prinsip ikatan kimia sekaligus mempromosikan nilai-nilai dasar yang sesuai dengan Profil Siswa Pancasila adalah tujuan utamanya. Observasi kelas, penggunaan Kahoot di kelas kimia, dan pengiriman kuesioner kepada 130 siswa yang dipilih secara acak di kelas X, XI, dan XII di SMAN 1 Sindue Tobata adalah bagian dari metodologi penelitian berbasis survei. Skala Likert (1-5) digunakan untuk memeriksa data, dan SPSS digunakan untuk validasi statistik. Temuan menunjukkan bahwa Chem-Kahoot secara signifikan meningkatkan pengalaman belajar, dengan peringkat tertinggi untuk kesenangan (92%), keterlibatan (90%), dan motivasi (86%). Selain itu, siswa menunjukkan peningkatan kreativitas (90%), pemikiran kritis (86%), dan kerja sama (88%). Studi ini menyoroti bahwa gamifikasi secara efektif mengurangi kebosanan dan kecemasan sambil mendorong pembelajaran mandiri. Singkatnya, Chem-Kahoot adalah metode yang efektif untuk mengajarkan kimia dengan cara yang menyenangkan yang meningkatkan interaksi dan signifikansi. Untuk memaksimalkan pembelajaran yang berpusat pada siswa, lebih banyak teknik gamifikasi harus diselidiki dalam penelitian di masa depan.   To enhance student motivation, engagement, and character development, this study examines the application of Chem-Kahoot as a gamification tool in happy chemistry learning. Evaluating Chem-Kahoot's ability to enhance students' comprehension of chemical bonding principles while promoting fundamental values consistent with the Pancasila Student Profile is the primary goal. Classroom observations, the use of Kahoot in chemistry classes, and the delivery of questionnaires to 130 randomly chosen students in grades X, XI, and XII at SMAN 1 Sindue Tobata were all part of the survey-based study methodology. A Likert scale (1–5) was used to examine the data, and SPSS was used for statistical validation. The findings indicate that Chem-Kahoot significantly enhances learning experiences, with the highest ratings for enjoyment (92%), engagement (90%), and motivation (86%). Additionally, students exhibited increased creativity (90%), critical thinking (86%), and cooperation (88%). The study highlights that gamification effectively reduces boredom and anxiety while fostering independent learning. To sum up, Chem-Kahoot is an effective method for teaching chemistry in a fun and engaging way that enhances interaction and understanding. To maximize student-centered learning, further investigation into gamification techniques is warranted in future studies.
THE EFFECT OF CHEMICAL ACTIVATOR ON THE EFFECTIVENESS OF ACTIVATED CARBON FROM CORN COBS Dyah Setyaningrum; Novia Fajarwati; Anggi Nurhaliza; Dian Nisya'
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 7 No. 1 (2025): January - June 2025
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v7i1.13425

Abstract

Penambahan aktivator kimia dimaksudkan untuk meningkatkan luas permukaan karbon dan membuka pori-pori yang tertutup, sehingga meningkatkan kapasitas adsorpsi karbon aktif. Penelitian yang menggunakan tiga aktivator kimia yang berbeda - HCl, NaOH, dan Na?CO? - bersama dengan aktivasi fisik pada suhu 750°C menunjukkan peningkatan kualitas dibandingkan dengan proses tanpa aktivasi. Ketika memproduksi karbon aktif dari tebon jagung, hasil yang tinggi sebesar 80-82% dapat dicapai. Uji evaluasi terhadap karbon aktif menunjukkan parameter berikut: kadar air berkisar antara 6% hingga 8,79%, kadar abu antara 2,89% hingga 4,49%, dan bilangan iodin bervariasi dari 751,11 hingga 812,16. Hasil ini memenuhi standar yang ditetapkan oleh SNI 06-3730-1995. Temuan ini mengindikasikan bahwa HCl merupakan aktivator kimia yang paling efektif untuk mensintesis karbon aktif dari tongkol jagung. Kesimpulan ini didukung oleh karakterisasi FTIR dan XRD. Analisis FTIR menunjukkan adanya gugus fungsi yang khas dari arang aktif, seperti O-H, C=O, dan C-C. Selain itu, analisis XRD menunjukkan adanya SiO? amorf, yang merupakan sifat yang menguntungkan untuk adsorben yang terdefinisi dengan baik, yang diamati pada sudut 2? 20-30 derajat.   The addition of chemical activators is intended to increase the surface area of carbon and open closed pores, thereby enhancing the adsorption capacity of activated carbon. Research utilizing three different chemical activators—HCl, NaOH, and Na?CO?—along with physical activation at 750 °C demonstrated improved quality compared to processes without activation. When producing activated carbon from corn stover, a high yield of 80-82% was achieved. Evaluation tests on the activated carbon revealed the following parameters: the moisture content ranged from 6% to 8.79%, the ash content was between 2.89% and 4.49%, and the iodine number varied from 751.11 to 812.16. These results meet the standards set by SNI 06-3730-1995. The findings indicated that HCl is the most effective chemical activator for synthesizing activated carbon from corn cob. This conclusion is further supported by FTIR and XRD characterization. FTIR analysis revealed the presence of functional groups typical of activated charcoal, such as O-H, C=O, and C-C. Additionally, XRD analysis revealed the presence of amorphous SiO?, a favorable property for a well-defined adsorbent, observed at 2? angles of 20-30 degrees.
POTENTIAL OF BAMBOO POWDER AS AN ADSORBENT TO REGENERATE USED COOKING OIL Putri Wulandari; Lulu Luthfiyah; Mizatul Jannah; Wahyu Hidayati; Romy Dwipa Yamesa Away; Trisna Kumala Sari
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 7 No. 1 (2025): January - June 2025
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v7i1.13442

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi efektivitas bubuk bambu yang diolah menjadi karbon aktif untuk meregenerasi minyak jelantah menggunakan tiga metode: tanpa perlakuan panas tinggi, aktivasi konvensional, dan aktivasi furnace. Aktivasi dengan KOH meningkatkan porositas dan luas permukaan. Parameter utama yang dianalisis meliputi kadar air, asam lemak bebas (FFA), dan bilangan peroksida (PV). Hasil penelitian menunjukkan bahwa arang aktif metode furnace memiliki kinerja terbaik, menghasilkan kadar air 0,05%, memenuhi SNI 7709:2019 (< 0,1 %). Sebaliknya metode konvensional dan serbuk bambu menghasilkan kadar air masing-masing sebesar 0,12% dan 0,66%. Kandungan FFA terendah sebesar 0,23 % juga terdapat pada arang aktif tungku memenuhi SNI 01-3741 2002 (<0,3%). Selain itu, bilangan peroksida yang dihasilkan arang aktif dengan metode furnace adalah 6,3 mek O2/kg, lebih baik dibandingkan metode konvensional (9,7 mek O2/kg) dan bubuk bambu (13,3 mek O2/kg), keduanya memenuhi SNI No. 01-3741-2013 (< mek 10 O2/kg). Kinerja arang aktif dengan metode furnace unggul disebabkan oleh porositasnya yang optimal, peningkatan kandungan karbon aktif, sifat hidrofobik, dan kemampuan interaksi dengan pengotor. Oleh karena itu, arang bambu yang diaktifkan dengan metode furnace menunjukkan potensi sebagai adsorben yang efektif untuk meregenerasi minyak jelantah.   This research evaluates the effectiveness of bamboo powder processed into activated carbon for regenerating used cooking oil using three methods: no high heat treatment, conventional activation, and furnace activation. The activation with KOH enhances porosity and surface area. Key parameters analyzed included water content, free fatty acids (FFA), and peroxide value (PV). The results indicated that furnace-activated charcoal performed best, yielding an oil content of 0.05%, which is compliant with SNI 7709:2019 (<0.1%). In contrast, conventional and bamboo powder methods produced water contents of 0.12% and 0.66%, respectively. The lowest FFA content of 0.23% was found in the furnace-activated charcoal, which meets the SNI 01-3741-2002 standard (<0.3%). Additionally, the peroxide value was 6.3 meq O2/kg, which is lower than the conventional method (9.7 meq O2/kg) and bamboo powder (13.3 meq O2/kg), both of which meet SNI No. 01-3741-2013 (<10 meq O2/kg). The furnace-activated charcoal's superior performance is attributed to its optimal porosity, increased active carbon content, hydrophobic properties, and interaction capabilities with impurities. Thus, furnace-activated bamboo charcoal shows promise as an effective adsorbent for regenerating used cooking oil.
DESIGN OF TEACHING MATERIALS FOR ELECTROLYTE AND NON-ELECTROLYTE SOLUTIONS TO SUPPORT THE IMPLEMENTATION OF NON-ROUTINE STRATEGY LEARNING FOR PRE-SERVICE CHEMISTRY TEACHER STUDENTS Mujakir
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 7 No. 1 (2025): January - June 2025
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v7i1.14031

Abstract

This study aims to design teaching materials that can optimize the implementation of non-routine learning strategies in the classroom. Non-routine learning focuses on the development of critical, creative, and adaptive thinking skills, so flexible, contextual devices are needed that can encourage active participation of students. The research method used is Research and Development (R&D) with an iterative design approach. The teaching materials that were designed were then validated by three experts, revised based on input, and limited trials in the classroom. The results of the study showed that non-routine-based teaching materials to support the implementation of non-routine learning strategies were very significant. The average difference in the increase in the abilities of UIN Sultan Syarif Kasim Riau students was 7.83 and UIN Ar-Raniry Banda Aceh was 7.9. Therefore, it is recommended to continue to develop and expand the use of this non-routine learning strategy in other universities to improve the quality of education in chemistry.
IMPLEMENTATION OF LEARNING ON THE DEVELOPMENT OF ATOMIC THEORY AT MADRASAH ALIYAH ALAMIRIYAH DARUSSALAM BANYUWANGI USING CHATGPT APPROACHES Atina Khoiron Nisa; Aminatur Rosyidah; Aslih Qurrata A&#039;yuni
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 8 No. 1 (2026): January - June 2026
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v8i1.14713

Abstract

This study aims to analyze the integration of Artificial Intelligence (AI) via ChatGPT as an instructional tool to address these educational challenges at Madrasah Aliyah Alamiriyah Darussalam Banyuwangi. Employing a quantitative descriptive research design, data were collected from 29 students using structured questionnaires and learning analytics to evaluate perceptions of accessibility, usability, problem-solving effectiveness, and future sustainability. The results indicate that 93.1% of students perceived ChatGPT as user-friendly and comfortable, establishing a crucial structural factor that mitigates learning anxiety and boosts engagement. In terms of academic utility, 82.8% of participants found ChatGPT effective for solving complex problems related to Dalton’s, Thomson’s, Rutherford’s, and Bohr’s atomic models, although a minor segment (17.2%) experienced limitations due to prompt formulation. Long-term projection data revealed a highly positive acceptance trajectory, with 89.7% of students expressing explicit motivation to continue utilizing ChatGPT in their future academic endeavors. The study concludes that integrating ChatGPT effectively resolves traditional instructional bottlenecks by fostering learner autonomy, providing psychological comfort, and enhancing material accessibility. While the findings reflect subjective student perceptions rather than direct academic performance, they demonstrate that adaptive AI platforms hold immense, sustainable potential for permanent integration within the digital transformation of chemistry education. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi Artificial Intelligence (AI) melalui ChatGPT sebagai alat bantu pembelajaran untuk mengatasi tantangan pendidikan tersebut di Madrasah Aliyah Alamiriyah Darussalam Banyuwangi. Dengan menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif, data dikumpulkan dari 29 siswa menggunakan kuesioner terstruktur dan analisis pembelajaran untuk mengevaluasi persepsi mengenai aksesibilitas, kegunaan, efektivitas pemecahan masalah, serta keberlanjutan di masa depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 93,1% siswa menilai lingkungan belajar berbasis ChatGPT ini mudah sehingga pengguna nyaman, yang membentuk faktor struktural krusial untuk mengurangi kecemasan belajar sekaligus meningkatkan keaktifan siswa. Dalam hal kegunaan akademik, 82,8% partisipan menilai ChatGPT efektif untuk menyelesaikan masalah rumit terkait model atom Dalton, Thomson, Rutherford, dan Bohr, Sebagian siswa (17,2%) mengalami kendala akibat tantangan dalam merumuskan instruksi. Data proyeksi jangka panjang menunjukkan trajektori penerimaan yang sangat positif, di mana 89,7% siswa menyatakan motivasi yang jelas untuk terus menggunakan ChatGPT dalam aktivitas akademik mereka di masa depan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi ChatGPT secara efektif mengatasi hambatan instruksional tradisional dengan menumbuhkan kemandirian belajar siswa, memberikan kenyamanan psikologis, dan meningkatkan aksesibilitas materi. Meskipun temuan ini lebih merefleksikan persepsi subjektif dan kenyamanan siswa daripada mengukur prestasi akademik secara langsung, data tersebut menunjukkan bahwa platform AI yang adaptif ini memiliki potensi besar dan berkelanjutan untuk diintegrasikan secara permanen dalam transformasi digital pendidikan kimia.
EXTRACTION AND IMMOBILIZATION OF LIPASE FROM AVOCADO (Persea americana Mill.) AND COCONUT (Cocos nucifera L.) SEEDS USING NA-ALGINATE Khairunnisa; Helmi; Zaki Ihsan; Diah Miftahul Aini
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 8 No. 1 (2026): January - June 2026
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v8i1.15077

Abstract

Enzymes are widely used in industry due to their function as efficient natural catalysts, especially lipase. Avocado (Persea americana Mill.) and coconut (Cocos nucifera L.) seeds are potential sources of lipase. Along with the increasing use of enzymes, enzyme immobilization methods are being developed to improve enzyme stability and activity. Na-alginate is a polymer formed from D-mannuronic acid and L-guluronic acid, which is known to increase enzyme resistance to temperature and pH, reduce inhibition, and maintain enzyme stability. The purpose of this study was the extraction of lipase from avocado and coconut seeds and lipase immobilization with Na-Alginate. The methods used in this study were lipase extraction from avocado and coconut seeds, lipase activity test, and lipase immobilization with Na-alginate. The results showed that lipase had been successfully extracted from avocado and coconut seeds. The activity test showed that the activity of the crude lipase extract in avocado seeds (0.870 mg/mL) was higher than that in coconut (0.626 mg/mL). The success of the lipase immobilization process with Na-alginate was demonstrated by the presence of stable granules dropped into CuCl2 and FeCl2 solutions. This research identified an environmentally friendly source of lipase, necessitating further development for industrial applications.   ABSTRAK Enzim digunakan secara luas dalam industri karena fungsinya sebagai katalisator alami yang efisien, terutama lipase. Biji alpukat (Persea americana Mill.) dan kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan sumber potensial penghasil lipase. Seiring dengan semakin luasnya penggunaan enzim, metode imobilisasi enzim sedang dikembangkan untuk meningkatkan stabilitas dan aktivitas enzim. Na-alginat adalah polimer yang terbentuk dari asam D-mannuronat dan L-guluronat yang dikenal dapat meningkatkan ketahanan enzim terhadap suhu dan pH, mengurangi hambatan, serta menjaga kestabilan enzim. Tujuan dari penelitian ini adalah ekstraksi lipase dari biji alpukat dan kelapa serta imobilisasi lipase dengan Na-Alginat. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu ekstraksi lipase dari biji alpukat dan kelapa, uji aktivitas lipase, dan imobilisasi lipase dengan Na-alginat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lipase telah berhasil diekstrak dari biji alpukat dan kelapa. Uji aktivitas menunjukkan bahwa aktivitas ekstrak kasar lipase pada biji alpukat (0,870 mg/mL) lebih tinggi dibandingkan kelapa (0,626 mg/mL). Keberhasilan proses imobilisasi lipase dengan Na-alginat ditunjukkan dengan adanya butiran yang stabil yang ditetesi ke dalam larutan CuCl2 dan FeCl2. Penelitian ini menemukan sumber lipase yang ramah lingkungan, sehingga perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut untuk aplikasi industri.
CHARACTERIZATION AND EVALUATION OF SECONDARY METABOLITES FROM IPOMOEA BATATAS VAR. CILEMBU BARK: EXTRACTION, ANTIOXIDANT ACTIVITY, PHYTOCHEMICAL SCREENING Fathatul Akrami; Ronal Deniro; Syifa Syakirah; Fitri Amelia; Hesti Parbuntari; Fazila Ameliya; Latifa Permata; Welni Rahmadani
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 8 No. 1 (2026): January - June 2026
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v8i1.15155

Abstract

This study aimed to evaluate the antioxidant potential and secondary metabolite content of Cilembu sweet potato (Ipomoea batatas var. cilembu) peel using maceration and reflux extraction methods. The extraction process used 70% ethanol as a solvent, followed by phytochemical analysis, antioxidant activity using the DPPH method, and characterization using TLC and FTIR. The results showed that the maceration and reflux extracts contained flavonoids, phenolics, terpenoids, and saponins. Antioxidant activity was expressed as an IC50 value, where the reflux extract had an IC50 of 244,5 ppm, lower than the maceration extract with an IC50 of 86,776  ppm, indicating stronger antioxidant activity. FTIR analysis identified functional groups consistent with the main bioactive compounds. This study confirmed the potential of Cilembu sweet potato peel as an effective source of natural antioxidants with higher efficiency through the reflux method compared to maceration.   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi antioksidan dan kandungan metabolit sekunder dari kulit ubi Cilembu (Ipomoea batatas var. cilembu) menggunakan metode ekstraksi maserasi dan refluks. Proses ekstraksi menggunakan etanol 70% sebagai pelarut, diikuti dengan analisis fitokimia, aktivitas antioksidan dengan metode DPPH, serta karakterisasi menggunakan KLT dan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak maserasi dan refluks mengandung flavonoid, fenolik, terpenoid, dan saponin. Aktivitas antioksidan dinyatakan dalam nilai IC50, di mana ekstrak refluks memiliki IC50 sebesar 244,5 ppm, lebih rendah dibandingkan dengan maserasi dengan IC50 86,776  ppm, menunjukkan aktivitas antioksidan yang lebih kuat pada ekstrak maserasi. Analisis FTIR mengidentifikasi gugus fungsi yang konsisten pada senyawa bioaktif utama. Penelitian ini mengkonfirmasi potensi kulit ubi Cilembu sebagai sumber antioksidan alami yang efektif dengan efisiensi yang lebih tinggi melalui metode refluks dibandingkan maserasi
THE EFFECT OF THE GALLET PROBLEM-SOLVING MODEL ON COLLABORATIVE AND PROBLEM-SOLVING ABILITIES IN SALT HYDROLYSIS TOPIC Siti Zharifah Najla Mehar; Dila Fairusi; Buchori Muslim
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 8 No. 1 (2026): January - June 2026
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v8i1.15217

Abstract

This study aimed to determine how the Gallet problem-solving learning model affects students’ collaborative and problem-solving abilities in the salt hydrolysis topic. The Gallet model has not been widely tested on salt hydrolysis, making its effectiveness uncertain. This study used a quasi-experimental methodology with a non-equivalent control group design. The sample consisted of 35 students in class XII SAINKES 2 as the experimental class and 35 students in XII SAINKES 4 as the control class at a public high school in Bogor Regency. Essay questions measured problem-solving abilities, and observation sheets measured collaborative skills. The Mann-Whitney test analyzed the data. Findings show that the Gallet-type problem-solving model significantly improves students’ collaborative and problem-solving abilities (p < 0.05; p = 0.000). The experimental class had a higher collaborative score (21.24 out of 35) than the control class (12.68 out of 35). The experimental class average posttest score for problem-solving abilities (84.00) was higher than the control class (65.00). The experimental class had a higher N-Gain score (0.54, moderate category) than the control class (0.25, low category). Results show that the Gallet-type problem-solving model is effective for learning salt hydrolysis. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana model pembelajaran problem-solving Gallet memengaruhi kemampuan kolaboratif dan kemampuan memecahkan masalah siswa pada topik hidrolisis garam. Model Gallet belum banyak diujikan pada hidrolisis garam, sehingga keefektifannya belum pasti. Studi ini menggunakan metode quasi-experimental dengan desain non-equivalent control group. Sampel terdiri dari 35 siswa kelas XII SAINKES 2 sebagai kelas eksperimen dan 35 siswa kelas XII SAINKES 4 sebagai kelas kontrol di sebuah sekolah menengah negeri di Kabupaten Bogor. Kemampuan memecahkan masalah diukur dengan soal esai, sedangkan keterampilan kolaboratif diukur dengan lembar observasi. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil menunjukkan bahwa model problem-solving Gallet secara signifikan meningkatkan kemampuan kolaboratif dan memecahkan masalah siswa (p < 0,05; p = 0,000). Kelas eksperimen memiliki skor kolaboratif lebih tinggi (21,24 dari 35) daripada kelompok kontrol (12,68 dari 35). Skor postes rata-rata kelas eksperimen untuk kemampuan memecahkan masalah (84,00) juga lebih tinggi daripada kelas kontrol (65,00). Kelas eksperimen memiliki skor N-Gain lebih tinggi (0,54, kategori sedang) daripada kelas kontrol (0,25, kategori rendah). Hasil menunjukkan bahwa model problem-solving Gallet efektif untuk pembelajaran hidrolisis garam.
DIAGNOSING STUDENTS’ MISCONCEPTIONS IN CHEMICAL EQUILIBRIUM THROUGH A THREE-TIER MULTIPLE CHOICE APPROACH Raehanah Raehanah; Nurul Askin
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 8 No. 1 (2026): January - June 2026
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v8i1.15377

Abstract

This study aimed to identify students' misconceptions about chemical equilibrium using the Three Tier Multiple Choice (TTMC) diagnostic instrument and to analyze them based on multiple chemical representations. A quantitative descriptive design was employed involving 78 eleventh-grade students of SMAN 1 Pringgarata selected through total sampling. The research instrument was a TTMC test consisting of three tiers: answer, reason, and confidence level, enabling a more accurate diagnosis of students' conceptual understanding. Data were analyzed using descriptive quantitative methods. The results revealed that misconceptions across the assessed indicators ranged from 32.05% to 48.07%, with an overall misconception rate of 42%, categorized as moderate. Based on the analysis of multiple chemical representations, the highest misconception occurred in the macroscopic representation (44.2%), followed by the symbolic representation (43.6%) and the submicroscopic representation (37.2%). These findings indicate that students still experience difficulties integrating macroscopic phenomena, submicroscopic particle behavior, and symbolic representations when understanding chemical equilibrium concepts. The TTMC instrument proved effective for diagnosing students' misconceptions and can serve as a basis for designing chemistry instruction that explicitly integrates the three levels of chemical representation.   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi miskonsepsi siswa pada materi kesetimbangan kimia menggunakan instrumen Three-Tier Multiple Choice (TTMC) serta menganalisisnya berdasarkan multiple chemical representations. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan subjek 78 siswa kelas XI SMAN 1 Pringgarata yang dipilih menggunakan teknik sampling jenuh. Instrumen penelitian berupa tes TTMC yang terdiri atas tiga tingkat, yaitu jawaban, alasan, dan tingkat keyakinan, sehingga mampu mengidentifikasi pemahaman konseptual siswa secara mendalam. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase miskonsepsi pada setiap indikator berkisar antara 32,05%–48,07%, dengan persentase miskonsepsi keseluruhan sebesar 42% yang termasuk kategori sedang. Berdasarkan analisis multiple chemical representations, miskonsepsi tertinggi ditemukan pada representasi makroskopik (44,2%), diikuti oleh representasi simbolik (43,6%), dan submikroskopik (37,2%). Temuan ini menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan mengintegrasikan fenomena makroskopik, mekanisme partikel pada tingkat submikroskopik, dan representasi simbolik dalam memahami konsep kesetimbangan kimia. Instrumen TTMC efektif digunakan sebagai alat diagnostik untuk mengidentifikasi karakteristik miskonsepsi siswa dan dapat menjadi dasar dalam merancang pembelajaran kimia yang mengintegrasikan ketiga representasi tersebut.

Page 12 of 13 | Total Record : 123