cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 287 Documents
Agustinus Dari Hippo Pencarian Kebenaran Edison R.L. Tinambunan
Seri Filsafat Teologi Vol. 24 No. 23 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dua refleksi bagian sebelumnnya (filosofis dan biblis) telah membahaspergulatan Pencarian Kebahagiaan. Pada bagian ini (penafsiran tradisi)menampilkan beberapa tokoh yang selama hidup mereka telah berjuanguntuk mendapatkan kebahagiaan dengan cara mereka masing-masing. Salahsatu pejuang itu adalah Agustinus dari Hippo.Alasan pemilihan tokoh ini, Agustinus adalah salah satu Bapa Gerejaterbesar: orang beriman yang sangat mendalam, intelijensi yang sangat tinggi,pelayan pastoral yang tidak kenal lelah, penerus tradisi Kristiani yangmeninggalkan banyak tulisan bermutu yang menjadi literatur bernilai tinggi.Semua kualitas ini terpenuhi karena usahanya untuk mencari, menemukandan hidup akan kebenaran yang ditranformasikan dalam perjalanan hidupnya.Untuk itu Paus Paulus VI (1963-1978) mengekspresikan sumbanganpemikiran Agustinus dengan mengatakan bahwa semua pemikiran Kristianipurba terangkum dalam tulisan-tulisan Agustinus yang darinya lahir pemikiranbenar untuk menghasilkan ajaran-ajaran pada abad-abadsesudahnya.1 Tulisan ini akan memberikan pergulatannya untuk menemukandan hidup dari kebenaran itu yang banyak diambil dari tulisannya sendiri,terlebih-lebih Cofessiones dan Retractationes. Kemudian sumberperjalanan hidup Agustinus secara kronologis juga diambil dari tulisanmuridnya, Possidius
Kontributor Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Seri Filsafat Teologi Vol. 30 No. 29 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v30i29.136

Abstract

Kontributor
Charles De Foucauld: Menabur Kebahagiaan Di Gurun Sahara Paulinus Yan Olla
Seri Filsafat Teologi Vol. 24 No. 23 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Yves Congar, teolog terkemuka Prancis pernah berujar, “di ambangabad atom tangan Allah telah menyalakan dua api besar, keduanya bernama:Teresa Lisieux dan Charles de Foucauld”.1 Dalam kegelapan situasikeagamaan beriringan revolusi sosial-politik yang bertumpu pada RevolusiPrancis, kedua tokoh suci Prancis ini memberikan percikan harapan akankasih yang mengalir dari penghayatan iman Kristiani
Bahagia Dalam Pemberian Diri Merry Teresa Sri Rejeki
Seri Filsafat Teologi Vol. 24 No. 23 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sudah beberapa tulisan dalam buku ini yang berbicara tentangkebahagiaan. Ada yang melihatnya dari sudut pandang filsafat, biblis, moraldan hukum Gereja. Ada pula yang menyoroti tokoh-tokoh Bapa Gereja danpara Kudus yang menemukan kebahagiaan hidupnya. Tulisan ini merupakantanggapan atas pernyataan Paus Fransiskus yang menetapkan tahun 2015sebagai Tahun Hidup Konsekrasi untuk mengapresiasi religius yangmemberikan hidupnya untuk mengikuti Yesus Kristus bagi perkembanganKerajaan-Nya.
Aktualisasi Spiritualitas Pasionis Di Tengah Orang-Orang Tersalib Zaman Ini Pius Pandor
Seri Filsafat Teologi Vol. 24 No. 23 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengejar kebahagiaan merupakan idaman setiap orang. Tidak adamanusia yang dalam hidupnya tidak ingin bahagia. Dengan berbagai caramanusia berusaha untuk menggapainya. Dalam upaya untuk menggapaikebahagiaan tersebut, salah satu kata yang sering dihindari adalah penderitaan.Namun semakin dihindari justru ia terus menggerogoti manusiazaman ini. Di sini terdapat sebuah ironi, di tengah kebahagiaan terdapatlautan penderitaan yang luas. Ironi ini selanjutnya terwujud dalam tindakan.Kebahagiaan terus dikejar sedangkan penderitaan dihindari dan bahkanharus dihapus dari ingatan manusia. Namun ketika manusia berusahamenghindarinya, penderitaan justru datang menjemput. Dalam konteks ini,upaya menggapai kebahagiaan ternyata harus dibarengi dengan penderitaan.Di tengah situasi tersebut, spiritualitas Pasionis yang berpusat pada sengsaraYesus sebagai tindakan kasih terbesar Allah menjadi aktual untuk dibicarakan,terutama bagi mereka yang “kalah” atau sengaja “dikalahkan” dalammenggapai kebahagiaan. Mereka inilah yang disebut sebagai orang-orangtersalib zaman ini.
Implikasi Yuridis-Pastoral Pencarian Kebahagiaan Oleh Umat Beriman Alphonsus Tjatur Raharso Tjatur Raharso
Seri Filsafat Teologi Vol. 24 No. 23 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap orang mendambakan dan mengejar kebahagiaan dalam hidup.Namun, apakah orang mencari kebahagiaan dalam hukum atau melaluihukum? Apakah hukum menawarkan kebahagiaan kepada manusia? Jikaya, kebahagiaan macam apa yang ditawarkan dan diberikan oleh hukum?Dalam konteks Gereja Katolik, apakah hukum Gereja membantu umat untukmerengkuh kebahagiaannya. Apakah Gereja dengan seluruh hukumnya,organisasi, dan unsur-unsur institusionalnya, merupakan tempat umatmenemukan dan merasakan kebahagiaan? Tulisan ini ingin menampilkanbeberapa contoh konkret bagaimana sistem legislasi gerejawi dan setiapnormanya berupaya mewujudkan kebahagiaan umat beriman.
RESEP BAHAGIA: PENCERAHAN DARI ILMU-ILMU EMPIRIS Yohanes I Wayan Marianta
Seri Filsafat Teologi Vol. 24 No. 23 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pernahkah Anda melihat pepohonan yang tumbuh rapat berdesakdesakan?Batang-batang mereka kurus dan tinggi, seakan-akan berlombamenjadi yang paling menjulang untuk mendapatkan cahaya matahari.Laksana pohon kekurangan sinar mentari, manusia yang tidak bahagiaterhukum menjalani hidup yang kurus. Mungkin dia menjulang tinggi namunsebetulnya merana. Seperti cahaya matahari bagi pepohonan, demikianlahkebahagiaan bagi manusia.
Manusia Bahagia Belajar Dari Stephen Robert Covey Antonius Sad Budianto
Seri Filsafat Teologi Vol. 24 No. 23 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis terbesar bangsa kita pada hemat saya adalah krisiskepemimpinan. Dengan kepemimpinan saya maksudkan bukan terutamaberhubungan dengan jabatan pemimpin, namun model panutan yang diikutioleh manusia untuk hidup bermoral. Bangsa kita dewasa ini kehilangan figurmanusia bermoral yang bisa dijadikan model panutan. Rakyat tidak melihatpemimpin bangsa ini sebagai figur manusia bermoral, mereka juga muakdengan para wakilnya di DPR dan DPRD yang sama sekali tidak mewakilirakyat. Namun krisis itu lebih mendalam dan meluas dalam hidup seharihari: banyak murid tidak menemukan figur moral pada diri gurunya, demikianpula banyak anak tidak melihat orang tuanya sebagai figur panutan.
Kebahagiaan Dalam Diskursus Lintas Budaya Dan Pesannya Untuk Tugas Pewartaan Gereja Raymundus I Made Sudhiarsa
Seri Filsafat Teologi Vol. 24 No. 23 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurban Yesus di salib tidak lain daripada puncak dari cara-Nyamenghayati seluruh hidup-Nya. Digerakkan oleh teladan-Nya, kita inginmasuk sepenuhnya ke dalam struktur masyarakat, dengan berbagi dalamhidup semua orang, dengan mendengarkan keprihatinan-keprihatinanmereka, dengan membantu mereka secara material dan spiritual dalamkebutuhan-kebutuhan mereka, dengan bersukacita bersama mereka yangbersukacita, menangis dengan mereka yang menangis; sambil bahumembahu bersama mereka, kita terlibat membangun suatu dunia baru.Akan tetapi, kita melakukan itu bukan karena suatu rasa wajib, bukansebagai suatu beban tugas, melainkan sebagai buah dari keputusanpribadi yang membangkitkan sukacita dan memberi makna kepada hidupkita
Kebahagian dan Agama Petrus Go Twan An
Seri Filsafat Teologi Vol. 24 No. 23 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam buku memoar terakhir hidup publiknya Hans Küng (85), teologKatolik yang sejak 1979 sesuai dengan konkordat (perjanjian) antara Vatikandan negara-bagian Baden Wuerttemberg mengalami pencabutan “Missiocanonica” yang berarti dilarang mengajar di fakultas teologi di mana calonimam belajar dan kini terkena degenerasi macula (penyakit mata) danterancam penyakit demens menegaskan bahwa hidupnya bahagia (“erfuelltesLeben”) dan ia tak lengket pada hidup ini. Dengan demikian di dalam dirinyaterdapat secara terpadu dua istilah elementer, yakni “kebahagiaan” dan“agama” yang menjadi gara-gara bahan artikel ini. Keduanya amat rumitdan sulit didefinisikan. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengangkatnya denganharapan agar lebih disadari dan dihayati, supaya agama Katolik lebihdirasakan sebagai “wadah” kebahagiaan yang tetap bertahan terhadappenderitaan di dunia ini.