cover
Contact Name
Joseph Christ Santo
Contact Email
jx.santo@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalangelion@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Solo-Kalioso km 7, Selorejo, Wonorejo, Gondangrejo, Kab. Karanganyar
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : -     EISSN : 27233324     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Angelion adalah jurnal ilmiah teologi dengan warna Injili, merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan pendidikan Kristen, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup. Focus dan Scope penelitian Angelion adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Isu-isu Teologi Pendidikan Kristen Angelion terbit dua kali setiap tahun, Juni dan Desember.
Articles 98 Documents
Kajian Ilmu Filsafat dalam Identifikasi Iman serta Relevansinya dalam Kehidupan Orang Kristen Warae, Olohesi; Ndraha, Pris Kristiani; Lawalata, Mozes
Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v5i1.711

Abstract

In this article discuss about the complexity of the definition of faith in the context of theology and philosophy and the need to understand the rational basis for religious belief. His research problem involves the question of how philosophy can help christians understand, explain and strengthen their faith. In this study, central concepts of the christian faith such as faith in God, the exsistence of evil in the world and human freedom are analized analyticallly using a philosophical approach. The main results of this research indecate that phylosophy provides a rational framework for understanding fait and provides tools for Christians to reflect on and strengthen their faith. Through philosophical analysis, christians can explore the theological implications of their beliefs more deeply and understand the relationship between faith and rational thought. Additionally, this research emphasizes that the use of philosophical knowledge in the context of Christianity helps strengthen the intellectual foundations of this faith, which in turn can strengthen the resilience of the faith and clarify difficult questions of this world. Christians know that God is the source of truth. All truths formulated by philosophy are never higher than God's truth, namely the truth of the Bible which is the valid source. This. as Christians, we must need criteria to be able to test truth, views and understanding, in the midst study confirms that philosophy plays an important role in identifying the christian faith and the daily lives of christians. By profiding an analytical framework, philosophy helps deepen understanding of faith
Penerapan Konsep Tubuh Kristus Menurut 1 Korintus 12 dalam Mengelola Keberagaman Warga Jemaat Repaningrum, Eko Lestijo Wening; Santo, Joseph Christ
Angelion Vol 4 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v4i2.514

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep tubuh Kristus yang menggambarkan satu kesatuan organ-organ tubuh sebagai metafora dari kesatuan anggota warga jemaat. Artikel membahas bahwa berbagai keragaman warga jemaat tetap pada satu tubuh, yaitu Kristus sebagai tubuh dan gereja sebagai anggota tubuh dan hal ini perlu harus diketahui dengan benar agar tidak menjadi suatu pandangan yang salah dalam memahami konsep kesatuan anggota tubuh Kristus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif literatur dengan mengumpulkan data-data baik berupa Alkitab, artikel, dan buku untuk mempertajam pembahasan.Hasil Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep tubuh Kristus menurut 1 Korintus 12 : 12-13 adalah Keberagaman yang harus bersatu pada kesatuan tubuh Kristus yang benar. Penerapan konsep tubuh Kristus adalah Pertama, Kesatuan Tubuh Kristus Pada Banyak Anggota, Kedua, Sudah Dibaptis Menjadi Satu Tubuh, Ketiga, Diberi Minum Dari Satu Roh
Pandangan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Terhadap Budaya Sabu “Pebale Rau Kattu Do Made” di Daerah NTT Udju, Daniel; Pane, Exson
Angelion Vol 4 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v4i2.551

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberi pemahaman yang jelas kepada anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) dengan menganalisis pandangan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh terhadap budaya Sabu, khususnya dalam konteks tradisi lokal yang dikenal sebagai "Pebale Rau Kattu Do Made." Dengan Metode penelitian kualitatif deskriptif, penelitian ini mengeksplorasi interaksi antara keyakinan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dan aspek-aspek budaya khas Sabu. Metode penelitian melibatkan wawancara mendalam dengan tokoh adat dan anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang tinggal di Sabu, serta observasi terhadap ritual dan praktik keagamaan yang terkait dengan "Pebale Rau Kattu Do Made." Data yang terkumpul dianalisis dengan mempertimbangkan perspektif teologis Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dan konteks budaya lokal Sabu. Temuan penelitian ini dapat memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh berinteraksi dengan dan merespons budaya Sabu, serta sejauh mana elemen-elemen budaya tersebut diintegrasikan atau disesuaikan dengan ajaran dan nilai-nilai gereja. Implikasi dari penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada pemahaman tentang dinamika antara agama dan budaya di lingkungan multikultural.
Penggunaan Disiplin Ilmu Komunikasi bagi Penafsiran Alkitab dan Aplikasinya bagi Kekristenan Masa Kini Simanjuntak, Radius; Suhadi, Suhadi; Simanjuntak, Herbin
Angelion Vol 4 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v4i2.599

Abstract

This research aims to gain an understanding of the importance of using communication studies for biblical interpretation. The method used in this research is a qualitatitive descriptive method with data analysis techniques, while the type of research is literature research. Therefore, in this research the data source come from written materials related to the topics discussed such as books, articlejournals, the Bible, and other scientific works. The results of this research refer to the importance of communication science for bible interpretation. The conculusion is that with both oral and written communication, it is relatively easier for individuals to convey and receive messages from fellew individuals. In interpreting the bible it self, it is necessary to pay attention to the following element of communication studies, namely the source, message, media/method, listener/recipient of the message, and the effects/purposes resulting from the message. These elements are very important in interpreting the bible. It is the principle of communication studies that interpreters will pay attention to in order to be able to provide the right interpretation or at least that is close to the original intention of the bible writer.Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan ilmu komunikasi bagi penafsiran Alktab. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis data, sedangkan jenis penelitian bercorak penelitian pustaka, oleh sebab itu, dalam penelitian ini sumber-sumber data berasal dari bahan tertulis yang berkaitan dengan topik yang dibahas seperti – buku, artikel, jurnal, Alkitab, maupun karya-karya ilmiah lainnya.  Hasil penelitian ini mengacu kepada pentingnya Ilmu komunikasi bagi penafsiran Alkitab.  Kesimpulan bahwa dengan adanya komunikasi baik lisan maupun tulisan, relatif lebih mudah bagi individu dalam menyampaikan atau menerima pesan dari sesama individu.  Di dalam penafsiran Alkitab sendiri perlu memperhatikan beberapa elemen ilmu komunikasi berikut, yakni sumber, pesan, media/cara, pendengar/penerima pesan, dan efek/tujuan yang ditimbulkan dari pesan tersebut.  Elemen-elemen tersebut sangat penting dalam menafsirkan Alkitab.  Prinsip ilmu komunikasi inilah yang akan diperhatikan para penafsir untuk dapat memberikan tafsiran yang tepat, atau setidaknya yakni mendekati maksud mula-mula penulis Alkitab.
Kajian Teologis Tentang "Restorasi Allah" Menurut Kitab Yehezkiel 36:26-27 dan Implikasinya dalam Layanan Konseling Kristen Ziliwu, Alnodus Jamsenjos Indirwan; Sualang, Farel Yosua
Angelion Vol 4 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v4i2.647

Abstract

Dosa menyebabkan manusia menjadi keras hati, sehingga sifat dan respons mereka terhadap pemulihan Tuhan terhambat. Orang berdosa menganggap dirinya tidak layak menerima pemulihan Tuhan. Oleh karena itu, manusia memerlukan proses pemulihan melalui layanan konseling Kristen agar dapat memperoleh pemahaman yang sejati akan kasih Tuhan. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menganalisis teologi pemulihan Tuhan menurut Yehezkiel 36:26-27 dan menganalisis bagaimana konsep tersebut dapat diterapkan dalam layanan konseling Kristen. Sehingga penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman yang baik terhadap konsep "Pemulihan Tuhan" dapat membantu proses layanan konseling kristiani khususnya membantu konseli dalam proses penyembuhan dan pemulihan. Dan penelitian ini juga akan menunjukkan bahwa konsep "Pemulihan Tuhan" dapat diterapkan dalam layanan konseling Kristen.
Eksplorasi Kepercayaan Orang Niniwe kepada Allah Ditinjau dari Yunus 3:1-10 Elen, Maria; Ziliwu, Alnodus Jamsenjos Indirwan
Angelion Vol 4 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v4i2.663

Abstract

There are many prophetic books to be found in the Bible, one of which is the book of Jonah. Jonah was sent by God to deliver God's judgment to the wicked city of Nineveh.  From Jonah chapter 3, it is known that Jonah's short message instilled the Ninevites' trust in God. Previous studies on Jonah 3:1-10 have emphasized God's mercy that cancelled the punishment, and compared Nineveh's repentance with Israel's stubbornness. Using hermeneutical methods to understand the context of historical and theological narratives, this study presents a different focus, which is an exploration of the Ninevites' trust in God. The author investigates the Ninevites' belief in God and explores the meanings and implications of the beliefs presented in the text of Jonah 3:1-10. I then relate this to the broader narrative context of the Book of Jonah and compare it to elements of Old Testament theology. The results show that Jonah 3:5 is the culmination of the Ninevites' repentance that reflects their deep trust in God. The verse describes how the people of Nineveh, both adults and children, responded to the call to repentance by fasting and wearing sack. This reflected a deep change of heart and a willingness to repent collectively, from the king to the commoners. This belief was key to the restoration of the city. The implication of this study is that everyone has the opportunity to turn to God through repentance and receive forgiveness.
Kesalehan atau Kebenaran: Analisis Terjemahan כָּל־צִדְקֹתֵ֑ינוּ (kol-ṣiḏqōtếnû) dalam Yesaya 64:6 Simbolon, Andreas Kongres Pardingotan; Christian, Ade Widi; Ziliwu, Alnodus Jamsenjos Indirwan
Angelion Vol 4 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v4i2.664

Abstract

Isaiah 64:6, which states that "all our righteousness" is like filthy rags, has been the subject of debate and discussion in Christian theology. This journal aims to explore the concept of righteousness as a condition for human salvation in interpreting this verse. The journal begins by conducting an in-depth analysis of Isaiah 64:6, highlighting keywords such as "filthy rags, menstruation, righteousness, or piety," as well as the textual context within prophetic writings. In this analysis, I argue that human righteousness plays a crucial role in salvation. I describe how righteousness, as a manifestation of humility and repentance, can be the first step in seeking the grace of God and faith in Jesus Christ. Over time, this journal elaborates on how righteousness can become a determining factor in the relationship between humans and God. The goal of this journal is to convey the idea that human righteousness can be a prerequisite that leads people into the embrace of God's grace. It is an effort to delve into the meaning and role of righteousness in Christian theology and to provide a perspective that supports the notion that righteousness is a key factor in the journey toward salvation.
Makna Keselamatan Keluarga dan Implikasinya bagi Orang Percaya Menurut 1 Korintus 7:14-16 Gulo, Refamati
Angelion Vol 4 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v4i2.665

Abstract

Keselamatan merupakan kebutuhan mutlak setiap manusia karena tanpa anugerah keselamatan dari Tuhan, semua manusia akan binasa. Keselamatan sebagai kebutuhan dan tujuan hidup manusia seharusnya dipahami dalam konsep yang Alkitabiah namun fakta yang terjadi bahwa sejak beberapa abad yang lalu keselamatan telah diformulasikan dalam berbagai pandangan dan doktrin yang berbeda-beda, dan akibatnya terjadi pemahaman yang salah tentang keselamatan, baik dalam proses maupun dalam bentuk tanggung jawab manusia di dalam memperoleh keselamatan. Hal ini bukan hanya terjadi di kalangan para teolog tetapi juga dalam keluarga Kristen. Akibat dari pemahaman yang salah ini, banyak anggota keluarga Kristen yang tidak setia terhadap iman Kristen, dan yang lebih ironis lagi banyak orang Kristen menikah dengan orang yang tidak seiman dengan tujuan supaya dengan terbentuknya keluarga bisa menyelamatkan jiwa pasangan yang tidak percaya, tetapi realitasnya justru sebaliknya, orang Kristen diperhadapkan dengan masalah-masalah dalam keluarga tersebut, bahkan orang Kristen meninggalkan imannya. Dalam penelitian ini, penulis fokus pembahasan pada 1 Korintus 7:14-16 secara eksegesis dengan memperhatikan ayat-ayat Alkitab yang lain dan mengkaji pandangan-pandangan (pernyataan-pernyataan) yang mendukung dan dapat membangun melalui literatur yang ada. Selain itu penulis membatasi pembahasan tentang makna keselamatan keluarga yaitu tentang pengaruh iman pribadi suami atau istri bagi keselamatan pasangannya yang belum percaya dan tidak berbicara tentang predestinasi. Dalam hal ini penulis memfokuskan pembahasan dari sisi doktrinal namun tidak membahas tentang ordo keselamatan secara keseluruhan melainkan hanya pengaruh iman bagi keselamatan.
Analisis Lukas 17:1-2 tentang Penyesatan dan Antisipasinya dalam Hidup Jemaat Masa Kini Rusgiyati, Rusgiyati; Sumiwi, Asih Rachmani Endang
Angelion Vol 4 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v4i2.677

Abstract

Misguidance among God's people is always there and this cannot be avoided by the congregation of God. This misguidance can be through teachings that are not based on the truth of God's Word and congregations that are influenced by deviant teachings because the congregation does not understand the truth of God's Word. This is a serious challenge for today's congregation, how every believer and leader of the congregation should behave and what anticipatory steps must be taken by leaders of the congregation and believers in dealing with misguidance. Through this article, the author provides an answer to the above, using a qualitative descriptive method by analyzing the text in Luke 17: 1-2, the results obtained are that misguidance is always there, the danger of misguidance especially for the weak, God's punishment for those who mislead and concern for the weak. The anticipation that is carried out is first, the congregation who continues to read and study the word of God will have their faith strengthened, not easily stumbled or carried away by bad things. Second, every leader of the congregation should equip the congregation with healthy teachings that are based on the truth of God's word and teach the correct doctrine.Penyesatan pada umat Tuhan selalu ada dan hal ini tidak bisa dihindari dialami oleh jemaat Tuhan. Penyesatan tersebut bisa melalui pengajaran yang tidak beralas pada kebenaran Firman Tuhan dan jemaat yang terpengaruh oleh pengajaran yang menyimpang karena kurang mengertinya jemaat akan kebenaran firman Tuhan. Ini menjadi tantangan serius bagi jemaat masa kini, bagaimana setiap orang percaya dan pemimpin umat harus bersikap dan langkah antisipasi apa yang harus diambil pemimpin umat maupun orang percaya dalam menghadapi penyesatan. Melalui artikel ini, penulis memberikan jawaban atas tersebut di atas, dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menganalisis teks dalam Lukas 17:1-2 diperoleh hasil penyesatan memang selalu ada, bahaya penyesatan khususnya bagi orang-orang lemah, hukuman dari Allah bagi yang menyesatkan dan kepedulian bagi orang-orang lemah. Antisipasi yang dilakukan adalah pertama, jemaat terus membaca dan mempelajari firman Allah sehingga imannya akan semakin dikuatkan dan tidak mudah tersandung ataupun terbawa arus hal-hal yang tidak baik. Kedua, setiap pemimpin umat hendaknya membekali jemaat dengan pengajaran yang sehat yang berdasarkan kebenaran firman Tuhan dan mengajarkan doktrin yang benar
Pengalaman Spiritual Melalui Mazmur Ratapan: Analisis Penggunaannya dalam Ibadah Pardede, Hudus
Angelion Vol 4 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v4i2.686

Abstract

Worship reflects the reality of life, raises various themes, is rich in expression and helps empower people to face all conditions wisely, guided by strong values. In today's developments, the emphasis in worship is increasingly narrowing to the themes of blessing, success, abundance, and victory. Meanwhile, the emphasis on suffering, crying, sorrow and despair is very rarely emphasized. Lamentation is one of the deepest expressions of a wounded soul. Each culture has its own unique way of expressing it, both in the form of verbal and non-verbal expressions. In the Old Testament, this expression is manifested, among other things, in the form of psalms of lament. The Psalm of Lamentation is not just expressing the cry to others, but especially to God. The reality of deep suffering and disappointment is a real condition that is unavoidable in life and should also be expressed in worship proportionally. To analyze the use of the Psalms of Lamentation in worship, the researcher used qualitative methods with a literature description approach to explore the using of the Psalms, especially in the Old Testament worship. By using the Psalms of Lamentation, God's people can express their grief in a constructive way, and at the same time guide them to an encounter with God in their struggles. Therefore, the church should also integrate these themes and realities in representative expressions of worship, so that the spirituality of God's people is strengthened in a condition of steadfast soul and remains in unshakable hope in times of sorrow and despair.Ibadah merefleksikan realitas kehidupan yang mengangkat beragam tema, kaya akan ekspresi dan turut memberdayakan umat untuk menghadapi segala kondisi dengan bijaksana dipandu oleh nilai-nilai yang kokoh.  Dalam perkembangan masa kini, penekanan dalam ibadah makin menyempit kepada tema berkat, keberhasilan, kelimpahan dan kemenangan. Sementara penekanan tentang penderitaan, tangisan, kedukaan dan keputusasaan sangat jarang ditekankan. Ratapan merupakan salah satu ungkapan hati terdalam dari jiwa yang terluka. Setiap budaya memiliki cara yang khas dalam mengekspresikannya, baik dalam bentuk ungkapan verbal maupun non verbal.  Dalam Perjanjian Lama, ekspresi itu antara lain diwujudkan dalam bentuk Mazmur ratapan. Mazmur Ratapan bukanlah sekedar mengungkapkan tangisan itu pada sesama, tetapi terutama kepada Tuhan. Realitas penderitaan dan kekecewaan yang mendalam adalah kondisi nyata yang tak terhindarkan dalam kehidupan, dan seharusnya juga diekspresikan dalam ibadah secara proporsional. Untuk menganalisis penggunaan Mazmur Ratapan dalam ibadah, peneliti memakai metode kualitatif dengan pendekatan deskripsi literatur untuk menelaah penggunaan mazmur tersebut, khususnya di dalam ibadah Perjanjian Lama. Dengan menggunakan Mazmur Ratapan, umat Tuhan dapat mengungkapkan kedukaannya dengan cara yang konstruktif, dan sekaligus menuntun ke dalam perjumpaan dengan Tuhan dalam pergumulannya. Maka, gereja pun seharusnya mengintegrasikan tema dan realitas tersebut dalam ekspresi ibadah yang representatif, sehingga spiritualitas umat Tuhan tetap terpelihara dalam kondisi jiwa yang teguh dan tetap terpelihara dalam pengharapan yang tak tergoyahkan dalam saat kedukaan dan keputusasaan.

Page 9 of 10 | Total Record : 98