cover
Contact Name
Kafa Abdallah Kafaa
Contact Email
kafa_abdallah@mail.ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jsds.fisipol@ugm.ac.id
Editorial Address
Lt.3 Gedung BC FISIPOL UGM, Jl. Sosio Yustisia No. 2, Bulaksumur , Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Social Development Studies
ISSN : 27213870     EISSN : 27213889     DOI : https://doi.org/10.22146/jsds.
Core Subject : Humanities, Social,
The Journal of Social Development Studies (JSDS) focuses on three main area of discussions: community empowerment, corporate social responsibility, and social policy. The journal welcomes papers that discuss the following themes: Social Movement and Empowerment; Human Rights, Citizenship and Development; Social Entrepreneurship; Community Development Theories, Approaches and Methods; Community Organization and Participation; Socio-cultural, Environmental and Economic Development; Industrial Relations; Decent Work; Education and Social Policy; Health Insurance and Policy; Social Protection; Wellbeing, Welfare, and Development; Poverty and Social Justice; Social Inclusion; Gender, Family and Development; Digital Technology and Development; Welfare Regime.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 2 (2025)" : 9 Documents clear
Dinamika Transformasi Sosial dan Budaya di Desa Rawak Hulu dan Rawak Hilir: Dari Etnosentrisme ke Multikulturalisme Arjun Wahyudi; Barella, Yusawinur; Wiyono, Hadi
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 2 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.16383

Abstract

Abstrak Penelitian ini menganalisis dinamika perubahan sosial budaya di Desa Rawak Hulu dan Rawak Hilir, Kecamatan Sekadau Hulu, Kalimantan Barat, dari pola etnosentrisme menuju multikulturalisme. Berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, penelitian ini menemukan bahwa pendidikan multikultural serta interaksi antarbudaya menjadi faktor utama pendorong perubahan tersebut. Pendidikan berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai inklusif dan mendekonstruksi prasangka lama, sementara interaksi sosial memperkuat kohesi antara komunitas Melayu dan Tionghoa. Peningkatan kesadaran sosial dan perluasan akses terhadap pendidikan turut mendorong penerapan nilai-nilai inklusif, sehingga tercipta lingkungan multikultural yang harmonis. Meskipun demikian, tantangan tetap muncul, khususnya pada momen-momen politik yang berpotensi memicu kembali sentimen etnis. Hal ini menunjukkan bahwa multikulturalisme merupakan proses dinamis yang memerlukan pemeliharaan berkelanjutan. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang transformasi sosial di wilayah pedesaan Indonesia serta menegaskan pentingnya kebijakan yang mendukung integrasi budaya dan pendidikan multikultural guna memperkuat kohesi sosial di masyarakat yang beragam secara etnis. Kata kunci: Etnosentrisme; Multikulturalisme; Perubahan Sosial Budaya; Pendidikan. Abstract This study examines the socio-cultural transformation of Rawak Hulu and Rawak Hilir villages in the Sekadau Hulu District, West Kalimantan, focusing on the shift from ethnocentrism to multiculturalism. Using a qualitative approach, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. The findings indicate that multicultural education and intercultural interaction are the main drivers of this transformation. Education plays an active role in fostering inclusive values and deconstructing long-standing prejudices, while social interactions strengthen cohesion between the Malay and Chinese communities. Increasing social awareness and broader access to education have further promoted the adoption of inclusive values, leading to the development of a harmonious multicultural environment. However, challenges remain, particularly during political periods that may reignite ethnic sentiments, suggesting that multiculturalism is a dynamic process requiring ongoing maintenance. This study contributes to the broader understanding of social change in rural Indonesia and highlights the importance of policies that promote cultural integration and multicultural education to strengthen social cohesion in ethnically diverse communities. Key words: Ethnocentrism; Multiculturalism; Sociocultural Change; Education.
Diskursus Alternatif Hak Kesehatan Menstruasi: Menganalisa Keterlibatan Biyung Indonesia dalam Permasalahan Kemiskinan Menstruasi melalui Advokasi Pembalut Kain Salsabila Laily Maulina; Pinem, Milda Longgeita
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 2 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.21043

Abstract

Abstrak Penelitian ini menganalisis wacana menstruasi dalam masyarakat dengan menggunakan perspektif Michel Foucault mengenai kekuasaan, wacana, dan pengetahuan. Melalui metode studi kasus, penelitian ini menelaah peran Biyung Indonesia dalam membangun wacana alternatif di tengah dominasi wacana arus utama. Wacana arus utama didominasi oleh norma sosial yang menstigmatisasi menstruasi sebagai hal tabu, sehingga membatasi percakapan terbuka dan melanggengkan praktik manajemen menstruasi yang mengabaikan hak kesehatan perempuan. Dominasi ini diperkuat oleh kebijakan negara dan kontrol industri yang cenderung mendorong penggunaan pembalut sekali pakai tanpa menyediakan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Sebagai respons, Biyung Indonesia mendorong keterbukaan, menyelenggarakan edukasi kesehatan menstruasi, dan mempromosikan pembalut kain sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan. Wacana menstruasi memiliki peran krusial dalam isu kesetaraan gender, hak atas kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan, yang menjadikannya sebagai agenda penting dalam pembangunan sosial. Penelitian ini mengisi kesenjangan literatur dengan mengeksplorasi bagaimana Biyung Indonesia mendorong perubahan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan perempuan. Kata kunci: Advokasi Perempuan; Kemiskinan Menstruasi; Hak Kesehatan Menstruasi; Diskursus Abstract This study analyzes the discourse surrounding menstruation in society through the lens of Michel Foucault's theories on power, discourse, and knowledge. Using a case study method, the research explores how Biyung Indonesia constructs an alternative discourse to challenge the dominance of mainstream narratives. Mainstream discourse often stigmatizes menstruation as taboo, limiting open conversation and perpetuating practices that neglect women's health rights. This is reinforced by state policies and industry control, which tend to prioritize disposable pads while overlooking more sustainable alternatives. In response, Biyung Indonesia challenges this dominant narrative by advocating for open dialogue, promoting menstrual health education, and championing cloth pads as an environmentally friendly solution. The discourse on menstruation is crucial for advancing gender equality, health rights, and environmental sustainability, making it a vital issue in social development. This research fills a gap in the literature by examining how grassroots movements like Biyung Indonesia can foster policy changes that are more responsive to women’s needs. Keywords: Women's Advocacy; Period Poverty; Menstrual Health Rights; Discourse
Pemberdayaan Masyarakat Adat melalui Pariwisata Ilmiah: Pembelajaran dari Kampung Persiapan Malasigi di Provinsi Papua Barat Daya Kafa Abdallah Kafaa; Wahid Nur Kartiko; Harsanto Mursyid; Danang Arif Darmawan
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 2 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.27346

Abstract

Artikel ini menganalisis peran pariwisata ilmiah sebagai strategi pemberdayaan masyarakat multipihak dalam konteks masyarakat adat di Kampung Persiapan Malasigi, Provinsi Papua Barat Daya. Dengan mengadopsi perspektif pariwisata ilmiah sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, penelitian ini menunjukkan bagaimana integrasi pengetahuan lokal, konservasi ekologis, dan inovasi kolaboratif dapat memperkuat agensi sosial dan ekonomi masyarakat adat. Adapun penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang pengambilan datanya dilakukan melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan Focus Group Discussion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pariwisata ilmiah tidak hanya mendiversifikasi sumber pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan memperluas legitimasi sosial melalui praktik wisata berbasis pengetahuan. Dalam hal ini, kolaborasi multipihak seperti FFI sebagai NGO konservasi, PT Pertamina EP Papua Field sebagai penyelenggara Program CSR MATA HATI MALASIGI, dan masyarakat adat Malasigi sebagai aktor utama telah berperan sebagai fasilitator kolaboratif yang memperkuat kapasitas lokal secara etis dan adaptif melalui pemberdayaan berbasis masyarakat.
Fuel Subsidy Removal: Implications on the Living Standards of Low-Income Households in Osun State, Nigeria Ogunleye, Akin George; Oderinde, Segun; Awotayo, Olagoke Oluwafemi
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 2 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.18439

Abstract

This study examines the implications of fuel subsidy removal on the living standards of low-income households in Osun State, Nigeria. A descriptive research design was employed, and a sample of 500 respondents was selected across all thirty local governments in the State. The sample size was determined based on the research questions and the need to achieve a representative sample of low-income households. The study draws on the Sustainable Livelihoods Approach (SLA), which provides a framework for understanding the implications of fuel subsidy removal. The findings reveal that the removal of fuel subsidies has led to increased costs of food, transportation, and other essential goods, resulting in significant hardship for low-income households. The study concludes that, to prevent further poverty and hardship, the Nigerian government should provide targeted support to low-income households, including social protection programmes and support measures to alleviate the economic disruptions caused by fuel subsidy removal and enhance sustainable livelihoods.
Dinamika Transformasi Sosial dan Budaya di Desa Rawak Hulu dan Rawak Hilir: Dari Etnosentrisme ke Multikulturalisme Arjun Wahyudi; Barella, Yusawinur; Wiyono, Hadi
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 2 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.16383

Abstract

Penelitian ini menganalisis dinamika perubahan sosial budaya di Desa Rawak Hulu dan Rawak Hilir, Kecamatan Sekadau Hulu, Kalimantan Barat, dari pola etnosentrisme menuju multikulturalisme. Berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, penelitian ini menemukan bahwa pendidikan multikultural serta interaksi antarbudaya menjadi faktor utama pendorong perubahan tersebut. Pendidikan berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai inklusif dan mendekonstruksi prasangka lama, sementara interaksi sosial memperkuat kohesi antara komunitas Melayu dan Tionghoa. Peningkatan kesadaran sosial dan perluasan akses terhadap pendidikan turut mendorong penerapan nilai-nilai inklusif, sehingga tercipta lingkungan multikultural yang harmonis. Meskipun demikian, tantangan tetap muncul, khususnya pada momen-momen politik yang berpotensi memicu kembali sentimen etnis. Hal ini menunjukkan bahwa multikulturalisme merupakan proses dinamis yang memerlukan pemeliharaan berkelanjutan. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang transformasi sosial di wilayah pedesaan Indonesia serta menegaskan pentingnya kebijakan yang mendukung integrasi budaya dan pendidikan multikultural guna memperkuat kohesi sosial di masyarakat yang beragam secara etnis.
Diskursus Alternatif Hak Kesehatan Menstruasi: Menganalisa Keterlibatan Biyung Indonesia dalam Permasalahan Kemiskinan Menstruasi melalui Advokasi Pembalut Kain Salsabila Laily Maulina; Pinem, Milda Longgeita
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 2 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.21043

Abstract

Penelitian ini menganalisis wacana menstruasi dalam masyarakat dengan menggunakan perspektif Michel Foucault mengenai kekuasaan, wacana, dan pengetahuan. Melalui metode studi kasus, penelitian ini menelaah peran Biyung Indonesia dalam membangun wacana alternatif di tengah dominasi wacana arus utama. Wacana arus utama didominasi oleh norma sosial yang menstigmatisasi menstruasi sebagai hal tabu, sehingga membatasi percakapan terbuka dan melanggengkan praktik manajemen menstruasi yang mengabaikan hak kesehatan perempuan. Dominasi ini diperkuat oleh kebijakan negara dan kontrol industri yang cenderung mendorong penggunaan pembalut sekali pakai tanpa menyediakan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Sebagai respons, Biyung Indonesia mendorong keterbukaan, menyelenggarakan edukasi kesehatan menstruasi, dan mempromosikan pembalut kain sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan. Wacana menstruasi memiliki peran krusial dalam isu kesetaraan gender, hak atas kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan, yang menjadikannya sebagai agenda penting dalam pembangunan sosial. Penelitian ini mengisi kesenjangan literatur dengan mengeksplorasi bagaimana Biyung Indonesia mendorong perubahan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan perempuan.
Digital Habitus in the Transformation of Food Processed Product MSMEs in Rural Areas: A Case Study of Kediri Young Entrepreneur (KYE) Association Moh. Hamzah Fansuri; Damayanti, Salsabila; Habibi, Ahmad Wildan
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 2 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.22720

Abstract

This study explores the digital transformation practices of rural micro, small, and medium enterprises (MSMEs) food processing products associated with the Kediri Young Entrepreneur (KYE) Association. This study investigates how MSME practitioners integrate digital technologies at both the micro and macro levels. For example, they use instant messaging apps to coordinate and make group decisions, social media sites to create content, build brands, and gain market visibility through algorithms, e-marketplaces to make transactions easier and grow the market, and digital payment systems to connect operations. Drawing on Pierre Bourdieu’s practice theory, this qualitative interpretive study analyzes how digitalization intersects with structure and agency and how social networks emerge among actors in rural MSME food-processing product production. This study reveals several important finding: (1) digital habitus is formed through an integrated, evolving structure in which repeated digital practices become internalized dispositions; (2) there is a symbolic struggle in the form of a struggle for power over digital technology capabilities among MSME food processing products actors; (3) strategic mobilization in the form of economic, social, cultural and symbolic capital to gain legitimacy, strengthen capital and competitive advantage. This study concludes that digital transformation, showed up in regular digital coordination, platform-based marketing, marketplace integration, and digital money management, is not merely a technical shift but also a social transformation reflecting the cultural tendencies, power structures, and strategic actions actors in MSME food processing product markets, where the KYE Association serves as an arena that bridges collective traditions with digital innovation
Keterkaitan Antar Lingkungan dalam Upaya Peningkatan Kesejahteraan Lanjut Usia Terlantar di PPSLU Sudagaran Banyumas Ode Esa Sinarta; Binahayati Rusyidi; Soni Akhmad Nulhaqim
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 2 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.25106

Abstract

Kesejahteraan lanjut usia tidak terlepas dari bagaimana interaksi lanjut usia dengan berbagai lingkungan terdekatnya dan bagaimana keterkaitan antar lingkungan tersebut. Hal itu juga berlaku dalam konteks lanjut usia terlantar yang memperoleh layanan kesejahteraan di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Sudagaran Banyumas. Panti sebagai lingkungan terdekat bagi lanjut usia saling terkait dengan lingkungan lainnya dalam upaya peningkatan kesejahteraan lanjut usia. Atas dasar itu, studi ini menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian studi kasus untuk mengkaji bagaimana keterkaitan antar lingkungan tersebut dan dampaknya terhadap kesejahteraan lanjut usia. Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi kegiatan, serta studi dokumen terhadap dokumen resmi termutakhir, dokumen arsip dan dokumen digital periode tahun 2025 yang relevan dengan keterkaitan antar lingkungan lanjut usia. Informan yang diwawancarai berjumlah 6 orang yang terdiri dari 2 orang pekerja sosial, 2 orang lanjut usia, dan 2 orang keluarga lanjut usia. Adapun teknik analisis tematik digunakan untuk menganalisis data. Studi ini menemukan bahwa lingkungan terdekat lanjut usia terdiri dari Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Sudagaran Banyumas, keluarga lanjut usia, dan Puskesmas. Pola keterkaitan antara ketiga lingkungan tersebut diklasifikasikan menjadi partisipasi dalam beberapa lingkungan, keterkaitan tidak langsung, komunikasi antar lingkungan, dan pengetahuan antar lingkungan. Partisipasi dalam beberapa lingkungan dan keterkaitan tidak langsung antara panti, keluarga lanjut usia, dan Puskesmas telah terjalin dengan harmonis. Namun, komunikasi dan pertukaran pengetahuan antara keluarga lanjut usia dan Puskesmas perlu diperkuat.
Pemberdayaan Masyarakat Adat melalui Pariwisata Ilmiah: Pembelajaran dari Kampung Persiapan Malasigi di Provinsi Papua Barat Daya Kafa Abdallah Kafaa; Wahid Nur Kartiko; Harsanto Mursyid; Danang Arif Darmawan
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 2 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.27346

Abstract

Artikel ini menganalisis peran pariwisata ilmiah sebagai strategi pemberdayaan masyarakat multipihak dalam konteks masyarakat adat di Kampung Persiapan Malasigi, Provinsi Papua Barat Daya. Dengan mengadopsi perspektif pariwisata ilmiah sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, penelitian ini menunjukkan bagaimana integrasi pengetahuan lokal, konservasi ekologis, dan inovasi kolaboratif dapat memperkuat agensi sosial dan ekonomi masyarakat adat. Adapun penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang pengambilan datanya dilakukan melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan Focus Group Discussion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pariwisata ilmiah tidak hanya mendiversifikasi sumber pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan memperluas legitimasi sosial melalui praktik wisata berbasis pengetahuan. Dalam hal ini, kolaborasi multipihak seperti FFI sebagai NGO konservasi, PT Pertamina EP Papua Field sebagai penyelenggara Program CSR MATA HATI MALASIGI, dan masyarakat adat Malasigi sebagai aktor utama telah berperan sebagai fasilitator kolaboratif yang memperkuat kapasitas lokal secara etis dan adaptif melalui pemberdayaan berbasis masyarakat.

Page 1 of 1 | Total Record : 9