cover
Contact Name
Maria Indira Aryani
Contact Email
maria_indira.hi@upnjatim.ac.id
Phone
+6231-8706369
Journal Mail Official
jgp@upnjatim.ac.id
Editorial Address
Jalan Raya Rungkut Madya Gunung Anyar Surabaya 60294
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Global and Policy Journal of International Relations
ISSN : 23379960     EISSN : 27454274     DOI : -
Global & Policy adalah jurnal ilmiah yang dikelola oleh Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan "Veteran" Jawa Timur. Global & Policy menerima artikel baik hasil pemikiran maupun hasil penelitian dalam bidang terkait kajian Hubungan Internasional kontemporer. Jurnal Global & Policy diterbitkan dua kali dalam setahun, yaitu setiap bulan Juni dan Desember.
Articles 252 Documents
HISTORICAL TOURISM THE RED BRIDGE IN SURABAYA Pranoko, Dimas Evananda
Global and Policy Journal of International Relations Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jgp.v9i1.2437

Abstract

Sejarah telah menjadi pendorong dominan aktivitas wisata untuk waktu yang lama. Bepergian jarak jauh untuk menjelajahi misteri dan keajaiban masa lalu bukanlah konsep baru - ini telah ada selama berabad-abad dan terus menjadi alasan populer orang bepergian. Melihat trennya, dapat dikatakan bahwa sejarah tidak pernah terlalu kuno untuk dihargai. Wisata sejarah atau warisan berarti bepergian dengan tujuan utama menjelajahi sejarah dan warisan suatu tempat. Ini mungkin berarti tamasya sederhana dari arsitektur bersejarah terkenal, mengunjungi museum lokal yang mendokumentasikan masa lalu melalui artefak, seni, dan peninggalan sastra, atau bahkan sesuatu yang aneh seperti mencicipi resep sejarah otentik di tempat asalnya. Orang sering menggabungkan kecintaan mereka pada sejarah dengan kesenangan turis lainnya seperti berbelanja, mengunjungi taman hiburan, dan penginapan resor mewah. Jadi, tempat-tempat yang memiliki warisan yang kaya dan, pada saat yang sama, merancang infrastruktur wisata yang bagus untuk memenuhi semua kategori wisatawan mendapat peringkat tertinggi dalam hal popularitas sebagai tujuan wisata. Selama lima tahun terakhir, secara luas diakui bahwa segmen pariwisata budaya, warisan dan sejarah telah meningkat pada tingkat yang lebih tinggi daripada pertumbuhan pariwisata di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar 20% perjalanan wisata di seluruh dunia mencakup beberapa bentuk budaya, warisan atau aktivitas sejarah; akibatnya, ukuran pasar dapat diperkirakan lebih dari 160 juta perjalanan per tahun. Namun, jika ini disempurnakan untuk memasukkan hanya wisatawan yang secara khusus pergi berlibur untuk mengunjungi budaya, warisan objek wisata sejarah, maka persentase pangsa pasar pariwisata internasional diperkirakan antara 5% dan 8%: atau 40 juta hingga 65 juta perjalanan per tahun.
PERAN UNITED NATIONS HIGH COMMISSIONER FOR REFUGEES (UNHCR) DALAM MENANGANI PENGUNGSI SUDAN SELATAN PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI ETHIOPIA PADA TAHUN 2019 – 2020 Rahmatika, Zalita; Hapsari, Renitha Dwi
Global and Policy Journal of International Relations Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jgp.v9i1.2667

Abstract

COVID-19 is a pandemic that has rapidly spread through the world. This COVID-19 pandemic has crippled the world economy, especially to refugees. Refugees are one of the biggest human problems that happened in the world. Refugees are people fleeing conflict or persecution. Refugees from South Sudan are the largest refugee population in Ethiopia. This refugee problem is a problem that must be addressed immediately because it can be threatening and disrupt people's lives, both refugees and the local community. For this reason, in dealing with South Sudanese refugees in Ethiopia, which is increasing day by day, assistance from international actors requested to assist in dealing with refugee problems, one of which is the United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). UNHCR, to fulfill its role as an Aid Provider, tries to fulfill its role in accordance with the capabilities and functions of UNHCR itself as an international organization in accordance with the mandate from the United Nations to UNHCR to assist refugees by providing Foreign Aid and Capacity Building. Foreign Aid in the form of Humanitarian Assistance provided in various forms such as giving shelters, food, clean water, health, education, and various other forms of assistance. In assisting to refugees, UNHCR also provides assistance such as protection, shelter, WASH, education, health, food, and nutrition, livelihood and environment as assistance provided to South Sudanese refugees in Ethiopia. Keywords : Refugees, COVID-19, UNHCR, Aid Provider, Humanitarian Assistance, Capacity Building, South Sudan, Ethiopia.COVID-19 adalah pandemi yang telah menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Pandemi COVID-19 ini telah melumpuhkan perekonomian dunia, khususnya para pengungsi. Pengungsi merupakan salah satu masalah kemanusiaan terbesar yang terjadi di dunia. Pengungsi adalah orang yang melarikan diri dari konflik atau penganiayaan. Pengungsi dari Sudan Selatan adalah populasi pengungsi terbesar di Ethiopia. Masalah pengungsi ini merupakan masalah yang harus segera diatasi karena dapat mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat, baik pengungsi maupun masyarakat setempat. Untuk itu, dalam menangani pengungsi Sudan Selatan di Ethiopia yang semakin hari semakin meningkat, bantuan dari aktor internasional diminta untuk membantu menangani masalah pengungsi, salah satunya adalah United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). UNHCR dalam memenuhi perannya sebagai Aid Provider berusaha memenuhi perannya sesuai dengan kemampuan dan fungsi UNHCR sendiri sebagai organisasi internasional sesuai dengan mandat dari PBB kepada UNHCR untuk membantu pengungsi dengan memberikan bantuan luar negeri dan peningkatan kapasitas. Bantuan luar negeri yang berupa bantuan kemanusiaan yang diberikan dalam berbagai bentuk seperti pemberian tempat tinggal, pangan, air bersih, kesehatan, pendidikan, dan berbagai bentuk bantuan lainnya. Dalam membantu pengungsi, UNHCR juga memberikan bantuan seperti perlindungan, tempat tinggal, WASH, pendidikan, kesehatan, makanan, dan gizi, mata pencaharian dan lingkungan sebagai bantuan yang diberikan kepada pengungsi Sudan Selatan di Ethiopia.Kata kunci : Pengungsi, COVID-19, UNHCR, Aid Provider, bantuan kemanusiaan, peningkatan kapasitas, Sudan Selatan, Ethiopia.  DOI : https://doi.org/10.33005/jgp.v9i1.2667
Kohesi Voting Negara-Negara Comunidade dos Países de Língua Portuguesa (CPLP) dalam United Nations General Assembly (UNGA) 1997-2018 Izulhaq, Mohammad Daffa
Global and Policy Journal of International Relations Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jgp.v9i1.2284

Abstract

ABSTRACT   Comunidade dos Países de Língua Portuguesa (CPLP) is an international organisation that  was founded on the basis of common language dan culture, which are Portuguese. Its members span across four continents and have very diverse socio-political and economic background. Some of them are developed European country of Portugal, big and promising country of Brazil, and small and newly formed country of Timor Leste. CPLP pledges to reach their general objectives, which are political and diplomatic consultation among member states, cooperation in all fields, and promotion of Portuguese language. With diverse backgrounds and seemingly optimist objectives, one wonder how CPLP countries could develop uniform preference of foreign policy over its time of being. In this paper, the writers would like to know how united are these countries of CPLP in United Nations General Assembly (UNGA), through researching their voting cohesion. We start our research from 1997 – a year after CPLP was founded – and ended in 2018. From this research, we conclude that trend of voting cohesion of CPLP countries is increasing. We also find that the highest voting cohesion could be found in resolution regarding middle east issues and the lowest in the resolution regarding human rights issues.   Keywords: CPLP, UNGA, Voting Cohesion ABSTRAK Comunidade dos Países de Língua Portuguesa (CPLP) adalah organisasi internasional yang didirikan atas dasar kesamaan bahasa dan budaya, yakni bahasa dan budaya Portugis. Anggota organisasi tersebut terpencar ke empat benua dan memiliki latar belakang sosio-politik dan ekonomi yang sangat beragam. Beberapa diantaranya adalah Portugal yang merupakan negara maju Eropa, Brazil yang merupakan negara besar dan menjanjikan, hingga Timor Leste yang merupakan negara kecil dan baru. CPLP berjanji untuk menggapai tujuan-tujuan utama mereka, yaitu konsultasi politik dan diplomatik antar negara anggota; kerjasama di segala bidang; dan promosi bahasa Portugal. Dengan latar belakang yang berbeda dan tujuan yang tampak optimis ini, kita bertanya-tanya apakah negara-negara CPLP bisa mengembangkan preferensi kebijakan luar negeri menjadi seragam selama waktu keberadaannya. Dalam tulisan ini, penulis ingin tahu seberapa bersatu negara-negara CPLP dalam United Nations General Assembly (UNGA), dengan meneliti kohesi voting mereka. Kami memulai penelitian kami dari 1997 – setahun pasca CPLP didirikan – dan berakhir pada 2018. Dari penelitian ini, kami menyimpulkan bahwa tren kohesi voting CPLP adalah meningkat. Kami juga menemukan bahwa kohesi voting tertinggi ada pada resolusi terkait isu Timur Tengah dan yang terendah ada pada resolusi terkait isu HAM.   Kata-Kata Kunci: CPLP, Majelis Umum PBB, Kohesi Voting   DOI : https://doi.org/10.33005/jgp.v9i1.2284
IMPLEMENTASI PERDAGANGAN INTRA ASEAN: MENUJU INTEGRASI EKONOMI KAWASAN PASCA MEA 2015 Manggabarani, Najihah
Global and Policy Journal of International Relations Vol 9, No 02 (2021)
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jgp.v9i02.2865

Abstract

Pada tahun 2007, negara-negara anggota ASEAN memutuskan untuk mempercepat proses integrasi ekonomi regional dengan memajukan implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (EAC) dari tahun 2020 hingga 2015. Data statistik dari Sekretariat ASEAN pada 2019 menunjukkan bahwa perdagangan intra-ASEAN pada periode MEA 2015 tidak meningkat secara konsisten dan cenderung stagnan di 20-24 persen. Sementara itu pada 2020, diharapkan perdagangan intra-ASEAN dapat tumbuh hingga 30 persen. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis mengapa ada fenomena inkonsistensi dalam peningkatan perdagangan intra-ASEAN selama periode MEA 2015 dengan mempertimbangkan politik domestik dan saling ketergantungan ekonomi negara-negara ASEAN. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif yang dianalisis secara deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kajian perpustakaan, yaitu perolehan data dari berbagai sumber baik buku, berita resmi, artikel, dan dokumen terkait lainnya. Studi ini menunjukkan hasil bahwa integrasi ekonomi ASEAN selain dipengaruhi oleh faktor domestik, juga dipengaruhi oleh saling ketergantungan ekonomi negara-negara ASEAN.
Self-Reliance sebagai Strategi Pembangunan Ekonomi Ghana pada Post Covid-19 Era Purnomo, Muhammad Aditya
Global and Policy Journal of International Relations Vol 9, No 02 (2021)
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jgp.v9i02.2868

Abstract

Abstrak   Pada tahun 2019, Ghana merupakan negara yang diproyeksikan sebagai fastest growing economy di dunia. Sejak tahun 2017, Ghana telah konsisten berada pada 10 besar negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Afrika. Namun kedatangan pandemi COVID-19 sejak Desember 2019 dari Wuhan, China, mengakibatkan periode 2020 sebagai masa sulit, tidak hanya bagi perekonomian Ghana, namun juga seluruh dunia. Hantaman terhadap ekonomi dunia akibat COVID-19 dikatakan sebagai largest economic shock sejak beberapa dekade terakhir. Sejak masuknya virus tersebut di Ghana pada Maret 2020, pemerintah Ghana telah secara cepat dan tanggap menyiapkan dan mengimplementasikan langkah-langkah strategis guna merespon COVID-19 serta memulihkan perekonomian negara. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan secara mendetail strategi pemulihan ekonomi Ghana dalam post covid-19 era. Teori yang digunakan pada tulisan ini adalah teori self-reliance. Penulis berargumen bahwa kunci penting dalam kebijakan pemulihan ekonomi Ghana dalam post covid era terletak pada prinsip Presiden Ghana, Nana Addo Dankwa Akufo Addo, bahwa negara harus mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dengan meminimalisir ketergantungan bantuan internasional. Hal ini dilakukan melalui penguatan kapabilitas dan sumber daya domestik, serta pemenuhan basic human needs bagi masyarakat. Kata-kata kunci: Covid-19; Ghana; Pembangunan Ekonomi Paska Covid-19; Self-Reliance Abstract   In 2019, Ghana was projected as the fastest growing economy in the world. Since 2017, Ghana has been consistently placed among top 10 of the fastest growing economies in Africa. However, the arrival of COVID-19 pandemic since December 2019 from Wuhan, China, made 2020 as difficult period not only for Ghana’s economy, but also worldwide. Impact to global economy caused by COVID-19 was regarded as the largest economic shock since last decades. Since the arrival of the virus in Ghana in March 2020, Ghana’s government has swiftly and responsively prepared and implemented strategic moves in order to respond against COVID-19 as well as recovering the country’s economy. The purpose of this paper is to describe in detail about Ghana’s economic recovery in post covid-19 era. Theory used in this paper is the theory of self-reliance. The writer argues that the important key in Ghana’s economic recovery policy in post covid era is the President of Ghana’s principle that the country must be able to fulfil its own needs while minimizing international aid dependency. It is done by strengthening domestic capabilities and resources, as well as fulfilling basic human needs for its citizen. Keywords: Covid-19; Economic Development Post Covid-19; Ghana; Self-Reliance
Upaya kerjasama Indonesia-Prancis dalam Meningkatkan Pariwisata Indonesia Melalui Third Joint Working Group on Tourism (JWG) tahun 2016-2018 Sari, Kendalita
Global and Policy Journal of International Relations Vol 9, No 02 (2021)
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jgp.v9i02.2555

Abstract

Dalam hubungan internasional, suatu negara pasti membutuhkan bantuan dari negara lain. Hal ini didasarkan karena negara pemberi bantuan memiliki keunggulan dalam sumber daya, dan kekuatan negaranya  Tulisan ini akan memaparkan mengenai bagaimana kondisi dan peluang yang dimiliki pariwisata Indonesia. Untuk membangun sektor pariwisatanya, Indonesia melalui kemitraan strategis dengan Perancis melakukan beberapa strategi. Dalam prakteknya, Indonesia tidak selalu melakukan hubungan pemerintah ke pemerintah, Indonesia menggunakan multi track diplomasi dengan menggandeng aktor swasta, dan menggunakan diplomasi publik untuk memahami budaya, perilaku, dan mengatur hubungannya dengan negara lain dalam rangka meningkatkan serta perluasan pasar bagi pariwisata Indonesia. Melalui Joint Working Group On Tourism ini diharapkan menghasilkan peningkatan pariwisata bagi Indonesia. Kata kunci: Kerja Sama Pariwisata, Kemitraan Strategis, Joint Working Group on Tourism
CYBER-TERRORISM DI AMERIKA SERIKAT DALAM PERSPEKTIF KEAMANAN GLOBAL Iffa Dina, Halida Azalea
Global and Policy Journal of International Relations Vol 9, No 02 (2021)
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jgp.v9i02.2764

Abstract

ABSTRACT Acts of terrorism in the international world today have a close relationship with cyberspace. This is certainly a threat to state sovereignty, as happened in the United States in August 2020. The arrests of three terrorist groups involving the armed groups Al-Qassam, Al-Qaeda, and the Islamic State of Iraq and Syria due to campaign actions and fundraising to support the action. their terror. All of these actions relied on sophisticated cyber instruments and from their actions, these terrorist groups managed to collect millions of US dollars, using around 300 cryptocurrency accounts, 3 websites, and 4 Facebook accounts. The purpose of this study is to analyze the actions of cyber-terrorism in the United States from a global security perspective. The results of the study indicate that this act of terrorism enters into a security dilemma, which means that all efforts are made to achieve its security and will trigger feelings of insecurity for other countries. Keyword : Cyber Crime, Terrorism, Security, USA Tindak terorisme dalam dunia internasional saat ini memiliki keterkaitan yang erat dengan dunia maya. Hal ini tentu menjadi ancaman atas kedaulatan negara, sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat pada bulan Agustus 2020. Ditangkapnya tiga kelompok teroris melibatkan kelompok bersenjata Al-Qassam, Al-Qaeda, dan Islamic State Iraq and Suriah akibat tindakan kampanye serta penggalangan dana untuk mendukung aksi teror mereka. Seluruh aksi ini mengandalkan instrumen siber yang canggih dan dari aksinya, kelompok-kelompok teroris tersebut berhasil mengumpulkan jutaan dolar AS, menggunakan sekitar 300 akun mata uang kripto, 3 website, serta 4 akun Facebook. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis aksi cyber-terrorism di Amerika Serikat dalam perspektif keamanan global. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksi terorisme ini pada dasarnya masuk ke dalam security dilemma yang berarti segala upaya yang dilakukan untuk mencapai keamanannya dan akan memicu rasa tidak aman bagi negara lain. Kata kunci : Kejahatan Siber, Terorisme, Keamanan, Amerika Serikat
Implementasi Perdagangan Intra-ASEAN: Menuju Integrasi Ekonomi Kawasan Pasca-MEA 2015 Manggabarani, Najihah
Global and Policy Journal of International Relations Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jgp.v9i2.3004

Abstract

AbstractIn 2007, ASEAN member states decided to accelerate the process of regional economic integration by advancing the implementation of the ASEAN Economic Community (EAC) from 2020 to 2015. Statistics from the ASEAN Secretariat in 2019 showed that intra-ASEAN trade in the 2015 AEC period did not increase consistently and tended to stagnate at 20-24 percent. Meanwhile in 2020, it is expected that intra-ASEAN trade can grow by up to 30 percent. This article aims to analyze why there is a phenomenon of inconsistency in the increase in intra-ASEAN trade during the 2015 AEC period taking into account domestic politics and economic interdependence of ASEAN countries. The methods used in this writing are qualitative methods that are analyzed descriptively. Data collection techniques are carried out through library studies, namely the acquisition of data from various sources both books, official news, articles, and other relevant documents. This study shows the results that ASEAN economic integration in addition to being influenced by domestic factors, is also influenced by the economic interdependence of ASEAN countries. Keywords: Regional economic integration, ASEAN Economic Community (AEC), intra-ASEAN tradePada tahun 2007, negara-negara anggota ASEAN memutuskan untuk mempercepat proses integrasi ekonomi regional dengan memajukan implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (EAC) dari tahun 2020 hingga 2015. Data statistik dari Sekretariat ASEAN pada 2019 menunjukkan bahwa perdagangan intra-ASEAN pada periode MEA 2015 tidak meningkat secara konsisten dan cenderung stagnan di 20-24 persen. Sementara itu pada 2020, diharapkan perdagangan intra-ASEAN dapat tumbuh hingga 30 persen. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis mengapa ada fenomena inkonsistensi dalam peningkatan perdagangan intra-ASEAN selama periode MEA 2015 dengan mempertimbangkan politik domestik dan saling ketergantungan ekonomi negara-negara ASEAN.Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif yang dianalisis secara deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kajian perpustakaan, yaitu perolehan data dari berbagai sumber baik buku, berita resmi, artikel, dan dokumen terkait lainnya. Studi ini menunjukkan hasil bahwa integrasi ekonomi ASEAN selain dipengaruhi oleh faktor domestik, juga dipengaruhi oleh saling ketergantungan ekonomi negara-negara ASEAN. Kata-kata kunci: Integrasi ekonomi regional, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), perdagangan intra-ASEAN  DOI : https://doi.org/10.33005/jgp.v9i2.3004
Aksi Cyber-Terrorism di Amerika Serikat dalam Perspektif Keamanan Global Iffa Dina, Halida Azalea
Global and Policy Journal of International Relations Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jgp.v9i2.3005

Abstract

Abstract Acts of terrorism in the international world today have a close relationship with cyberspace. This is certainly a threat to state sovereignty, as happened in the United States in August 2020. The arrests of three terrorist groups involving the armed groups Al-Qassam, Al-Qaeda, and the Islamic State of Iraq and Syria due to campaign actions and fundraising to support the action. their terror. All of these actions relied on sophisticated cyber instruments and from their actions, these terrorist groups managed to collect millions of US dollars, using around 300 cryptocurrency accounts, 3 websites, and 4 Facebook accounts. The purpose of this study is to analyze the actions of cyber-terrorism in the United States from a global security perspective. The results of the study indicate that this act of terrorism enters into a security dilemma, which means that all efforts are made to achieve its security and will trigger feelings of insecurity for other countries. Keywords: Cyber Crime, Terrorism, Security, USATindak terorisme dalam dunia internasional saat ini memiliki keterkaitan yang erat dengan dunia maya. Hal ini tentu menjadi ancaman atas kedaulatan negara, sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat pada bulan Agustus 2020. Ditangkapnya tiga kelompok teroris melibatkan kelompok bersenjata Al-Qassam, Al-Qaeda, dan Islamic State Iraq and Suriah akibat tindakan kampanye serta penggalangan dana untuk mendukung aksi teror mereka. Seluruh aksi ini mengandalkan instrumen siber yang canggih dan dari aksinya, kelompok-kelompok teroris tersebut berhasil mengumpulkan jutaan dolar AS, menggunakan sekitar 300 akun mata uang kripto, 3 website, serta 4 akun Facebook. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis aksi cyber-terrorism di Amerika Serikat dalam perspektif keamanan global. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksi terorisme ini pada dasarnya masuk ke dalam security dilemma yang berarti segala upaya yang dilakukan untuk mencapai keamanannya dan akan memicu rasa tidak aman bagi negara lain. Kata Kunci : Kejahatan Siber, Terorisme, Keamanan, Amerika Serikat DOI : https://doi.org/10.33005/jgp.v9i2.3005
Respon India Terhadap Belt Road Initiatives oleh Presiden Xi Jinping Melalui Asia Africa Growth Corridor Salsabillah, Callula; Aryani, Maria Indira
Global and Policy Journal of International Relations Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jgp.v9i2.3012

Abstract

AbstractThe Belt and Road Initiative, which was initiated by China in 2013, is a multilateral foreign policy strategy that is not only in the form of cooperation in an economic scheme, but BRI also provides loans in the form of infrastructure investment to countries that join this project. India, as a country that considers BRI a threat to its country, has made an act to drive an economic scheme called the Asia Africa Growth Corridor with Japan and other countries in Africa. This action was carried out by India by cooperating with countries that have similar views on BRI and countries that have both suffered losses from the establishment of BRI by President Xi Jinping. This phenomenon is a form of balancing, in the theory of Balance of Power by Kenneth Waltz. This article aims to determine the balancing perspective in seeing the formation of AAGC by India as a counter form to China's BRI project. Keywords: India, Balancing, Balance of Power, Asia Africa Growth Corridor, Belt and Road Initiatives.AbstrakBelt and Road Initiative yang diinisiasi oleh Tiongkok pada 2013 lalu adalah strategi politik luar negeri yang bersifat multilateral yang tidak hanya berupa kerjasama dalam skema ekonomi, tetapi BRI juga menyediakan pinjaman dalam bentuk investasi infrastruktur pada negara yang bergabung dalam proyek ini. India sebagai salah satu negara yang menganggap BRI adalah suatu ancaman bagi negaranya, membuat India bertindak untuk menggerakkan sebuah skema ekonomi bernama Asia Africa Growth Corridor bersama Jepang dan negara-negara di Afrika. Tindakan ini dilakukan India dengan menggandeng negara yang memiliki pandangan serupa terhadap BRI dan negara yang sama-sama ditimpa kerugian atas dibentuknya BRI oleh presiden Xi Jinping. Fenomena ini merupakan suatu bentuk Balancing, dalam teori Balance of Power oleh Kenneth Waltz. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perspektif balancing dalam memandang dibentuknya AAGC oleh India sebagai bentuk counter terhadap proyek BRI milik Tiongkok. Kata Kunci: India, Balancing, Balance of Power, Asia Africa Growth Corridor, Belt and Road Initiatives.  DOI : https://doi.org/10.33005/jgp.v9i2.3012