cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Fitopatologi Indonesia
ISSN : 02157950     EISSN : 23392479     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Fitopatologi Indonesia (JFI) is an official publication owned by the Indonesian Phytopathology Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia). In 2010, JFI management was given to PFI Komda Bogor. Since then, JFI has been published 6 times (January, March, May, July, September, and November).
Arjuna Subject : -
Articles 412 Documents
Infeksi Alami Pepper Yellow Leaf Curl Virus dan Sweet potato virus C Pada Ubi Jalar di Malang, Jawa Timur Tri Asmira Damayanti; Anastasya Hondo; Yusmani Prayogo
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 15 No 6 (2019)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.581 KB) | DOI: 10.14692/jfi.15.6.248-254

Abstract

Virus-like infection with vein yellowing and leaf malformation symptoms were observed on sweet potato IR Melati at Kendalpayak, Malang, East Java. Amplification of DNA/cDNA was carried out using universal primer of Begomovirus, Potyvirus and Cucumovirus showed successfully amplified by universal primer of Begomovirus and Potyvirus, while negatively to universal primer of Cucumovirus. Based on nucleotide sequences, the vein yellowing and leaf malformation symptoms on sweet potato caused by double infection of Pepper yellow leaf curl virus (PYLCV) and Sweet potato virus C (SPVC). DNA identity analysis using BioEdit software showed highest homology up to 98.5% to one of PYLCV isolates from Bali, and up to 98.0% to sweet potato isolate of SPVC from Japan and USA. This is a new finding of natural infection of PYLCV and SPVC on sweet potato in Indonesia.
Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 14 No. 6, November 2018 Editor Jurnal Fitopatologi Indonesia
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 14 No 6 (2018)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.059 KB) | DOI: 10.14692/jfi.14.6.i

Abstract

DOI: http://dx.doi.org/10.14692/jfi.14.6.i
Incidence of Bacterial Grain Rot Disease, Identification, and Diversity of Burkolderia glumae in Some Rice Varieties in West Java Ani Widarti; Giyanto Giyanto; Kikin Hamzah Mutaqin
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 16 No 1 (2020)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (857.54 KB) | DOI: 10.14692/jfi.16.1.9-20

Abstract

Penyakit busuk bulir padi oleh bakteri Burkholderia glumae perlu diwaspadai termasuk di Jawa Barat sebagai salah satu sentra produksi padi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan insidensi penyakit, identitas dan keragaman bakteri B. glumae pada beberapa varietas padi di Provinsi Jawa Barat. Pengamatan insidensi penyakit dan pengambilan sampel dilakukan di 9 kabupaten. Bakteri diisolasi dari bulir padi yang bergejala busuk bulir kemudian dilakukan uji biokimia dan fisiologi yang meliputi uji Gram serta uji pertumbuhan pada pH 4.8, dan NaCl 2%. Variasi fenotipik diamati dari warna koloni pada medium S-PG, produksi toksofalvin, respons hipersensitivitas pada daun tembakau, dan uji patogenisitas pada tanaman padi. Primer spesifik JLBgF/JLBgR dan primer universal 16S rRNA, yaitu 27F/1492R digunakan untuk menentukan identitas bakteri secara molekuler. Insidensi penyakit di lapangan berkisar antara 0–73.3%, tertinggi di Kecamatan Dawuan (Karawang) pada var. Mekongga. Berdasarkan uji biokimia dan fisiologi diperoleh 29 isolat terkonfirmasi sebagai B. glumae. Hasil pengamatan fenotipik menunjukkan 10 isolat tergolong koloni tipe A, 19 isolat tipe B; 25 isolat menghasilkan toksoflavin; 29 isolat menimbulkan respons hipersensitivitas pada daun tembakau dan gejala hawar pada tanaman padi. Identifikasi menggunakan primer spesifik dan universal membuktikan 29 isolat adalah B. glumae. Analisis keragaman genotip menunjukkan bahwa isolat KRCH-2 (Karawang) dan INCH-6 (Indramayu) memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan B. glumae asal Cina dan Amerika
Deteksi dan Identifikasi Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.) pada Tanaman Bit Menggunakan Metode DNA Barcoding Ni Wayan Kartika Pratiwi; Rosyid Amrulloh; Fawwaz El Auly; Fitrianingrum Kurniawati
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 16 No 1 (2020)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1022.542 KB) | DOI: 10.14692/jfi.16.1.1-8

Abstract

Identifikasi nematoda berdasarkan karakter morfologi memerluan ketelitian tinggi dan perlu didukung hasil identifikasi secara molekuler. Salah satu metode identifikasi molekuler ialah dengan DNA barcode. DNA barcode merupakan identifikasi molekuler dengan menggunakan gen cytochrome oksidase sub unit 1 (CO1). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi NPA yang berasosiasi pada tanaman bit berdasarkan PCR dan perunutan nukleotida gen CO1 Meloidogyne. Sampel umbi bit diperoleh dari lahan pertanian yang terletak di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Identifikasi morfologi dengan mengamati pola perineal NPA betina. Identifikasi molekuler meliputi ekstraksi, amplifikasi, visualisasi DNA, analisis peruntutan nukleotida dan filogenetika. Hasil pengamatan pola perineal secara morfologi didapatkan spesies M. incognita dan M. arenaria. Amplifikasi DNA yang dilakukan menggunakan primer spesifik CO1SIF (5’-GCCTGCATTTGGTTAG-‘3) dan CO1SIR (5’-TCAAACCAGTCCT-‘3), CO1SAF (5’-GGGTACTGGATGAACATTA-‘3) dan CO1SAR (5’-ACTTCAGGATGACCAAA-‘3)berhasil mendapatkan pita DNA berukuran ± 360 untuk M. arenaria dan ± 326 untuk M. incognita. Hasil sekuensing menunjukkan bahwa isolat M. incognita asal Indonesia berkerabat dekat dengan isolat M. incognita asal Cina, Amerika Serikat, Vietnam, dan Inggris dengan tingkat homologi 100%. Hasil analisis filogenetika menunjukkan bahwa M. incognita Indonesia masih satu kelompok dengan M. incognita asal Cina, Amerika Serikat, Vietnam dan Inggris. Adapun isolat M. arenaria berkerabat dekat dengan isolat M. arenaria asal Argentina dan Amerika Serikat dengan tingkat homologi 100%. Hasil analisis filogenetika menunjukkan bahwa M. arenaria asal Indonesia masih satu kelompok dengan M. arenaria asal Argentina dan Amerika Serikat.
Yellow mosaic Disease on Soybean Mimi Sutrawati; Sri Hendrastuti Hidayat; Bonny Purnomo Wahyu Soekarno; Ali Nurmansyah
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 16 No 1 (2020)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.929 KB) | DOI: 10.14692/jfi.16.1.30-36

Abstract

Ledakan penyakit mosaik kuning yang disebabkan oleh Mungbean yellow mosaic India Begomovirus (MYMIV) terjadi pada tanaman kacang panjang (Vigna unguiculata subsp. sesquipedalis) di Jawa pada 2008. Namun penyakit ini belum dilaporkan di daerah lainnya di Indonesia. Tanaman kedelai di Cirebon, Jawa Barat, Bantul, DI Yogyakarta, dan Musi Banyuasin Sumatera Selatan menunjukkan gejala sistemik berupa mosaik kuning pada daun dengan tulang daun lebih gelap (vein banding) dan diduga terinfeksi MYMIV. Deteksi dan identifikasi virus dilakukan dengan metode polimerase chain reaction (PCR) dengan menggunakan primer spesifik MYMIV. Hasil amplifikasi menghasilkan pita DNA berukuran 1000 pb. Hasil ini menunjukkan bahwa tanaman kedelai yang bergejala mosaik kuning dari Cirebon, Bantul, Musi Banyuasin, dan positif terinfeksi MYMIV. Hasil analisis homologi sikuen nukleotida tanaman kedelai yang terinfeksi MYMIV asal Cirebon mempunyai homologi yang tinggi (98.6-99.2 %) dengan MYMIV dari Tegal, Subang, Klaten, Magelang, Brebes, dan Bogor yang menginfeksi tanaman kacang panjang. Analisis filogenetik menunjukkan bahwa isolat MYMIV Cirebon berada satu kelompok dengan semua sikuen MYMIV di Indonesia dan Oman, namun terpisah dengan kelompok MYMIV dari Bangladesh, Nepal, Pakistan dan India. Sikuen isolat MYMIV Cirebon telah didaftarkan ke GenBank dengan nomor aksesi LC481009. Sebelumnya MYMIV dilaporkan pada kedelai di Jawa tahun 2013. Temuan ini merupakan laporan pertama infeksi MYMIV pada kedelai di luar Jawa (Musi Banyuasin, Sumatera Selatan).
Laju Fotosintesis pada Tanaman Kelapa Sawit Terinfeksi Karat daun Cephaleuros virescen Agus Susanto; Agus Eko Prasetyo; Hari Priwiratama; Muhdan Syarovi
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 16 No 1 (2020)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.235 KB) | DOI: 10.14692/jfi.16.1.21-29

Abstract

Photosynthesis Rate of Oil Palm Infected by Red Rust Cephaleuros virescens The incidence of oil palm red rust disease caused by Cephaleuros virescens tends to increase in Indonesia. However, the loses due to this disease has never been measured quantitatively. This study was conducted to measure the rate of photosynthesis on 5-year-old palms with 3 infection categories, i.e. mild, medium, and heavy infection. Field observation of oil palm in Kalianta showed that the infection of red rust disease occurred starting from lower to the upper fronds. Higher infection was prevalently on the adaxial than abaxial leaf. The red rust infection on frond number 17 or younger severely affects the photoshynthesis rate of the oil palm. On the palm with heavy infection category, the photosynthesis rate on frond number 9 was decreased up to 42.48%, i.e. from 15.51 µmol to 8.92 µmol, compared to that with mild infection.
The Potential Biological Agent Bacteria Against for Controling Important Pathogens on Rice Ratna Sari Dewi; Giyanto Giyanto; Meity Suradji Sinaga; Dadang Dadang; Bambang Nuryanto
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 16 No 1 (2020)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.052 KB) | DOI: 10.14692/jfi.16.1.37-48

Abstract

Saat ini teknologi pengendalian hayati penyakit utama padi terus berkembang. Dalam pengembangan teknologi pengendalian hayati, mekanisme penghambatan patogen dalam perkembangan penyakit pada suatu populasi tumbuhan dalam area tertentu menjadi hal yang penting. Penelitian bertujuan mendapatkan bakteri agens hayati potensial dalam pengendalian penyakit penting padi di antaranya yang disebabkan Pyricularia oryzae, Xanthomnas oryzae pv. oryzae, Rhizoctonia solani, Burkholderia glumae, dan Drechlera oryzae, berdasarkan mekanisme antagonisme, kemampuan menginduksi ketahanan dan mendukung kebugaran tanaman, serta kompatibilitas antaragens hayati. Ralstonia pickettii TT47, Pseudomonas fluorescens P12, Chromobacterium sp. T51118, Bacillus subtilis 451 dan 154, serta Streptomyces sp. T51105 dibuktikan memiliki mekanisme antibiosis dengan menghasilkan metabolit sekunder dan senyawa volatil. Berdasarkan uji produksi enzim kitinolitik Chromobacterium sp. dan Streptomyces sp. memiliki mekanisme lisis. Aktivitas antibiotik R. pickettii dan P. fluorescens tergolong kuat terhadap P. oryzae dengan penekanan secara berurutan sebesar 79.68% dan 77.59% pada uji biakan ganda. Penekanan pertumbuhan miselium P. oryzae dan R. solani pada uji volatil mencapai 100% oleh Chromobacterium sp. Semua agens hayati umumnya mampu menginduksi ketahanan dan mendukung kebugaran tanaman. Uji kompatibilitas menunjukan R. pickettii, P. fluorescens, dan Chromobacterium sp. bersifat kompatibel. Dari hasil penelitian diperoleh tiga bakteri agens hayati dengan kategori unggul, yaitu P. fluorescens P12, R. pickettii TT47, dan Chromobacterium sp. T51118. Ketiganya mampu menekan pertumbuhan patogen, menginduksi ketahanan dan mendukung kebugaran tanaman, memiliki patogen sasaran yang lebih beragam, serta bersifat kompatibel.
Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 15 No. 1, Januari 2019 Editor Jurnal Fitopatologi Indonesia
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 15 No 1 (2019)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.46 KB) | DOI: 10.14692/jfi.15.1.i

Abstract

Editorial ini berisi cover depan, halaman redaksi dan cover belakang Jurnal Fitopatologi Indonesia, Volume 15, No. 1, Januari 2019.
Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 15 No. 1, Maret 2019 Editor Jurnal Fitopatologi Indonesia
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 15 No 2 (2019)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.032 KB) | DOI: 10.14692/jfi.15.2.i

Abstract

Editorial ini berisi cover depan, halaman redaksi dan cover belakang Jurnal Fitopatologi Indonesia, Volume 15, No. 1, Maret 2019.
Bakteri Endofit dari Tumbuhan Paku-pakuan sebagai Agens Hayati Rhizoctonia solani dan Pemacu Pertumbuhan Tanaman Padi Prayogo Probo Asmoro; abdul munif
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 15 No 6 (2019)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.601 KB) | DOI: 10.14692/jfi.15.6.239-247

Abstract

Rhizoctonia solani merupakan salah satu patogen penting penyebab penyakit hawar seludang pada tanaman padi. Patogen ini termasuk yang sulit dikendalikan karena bersifat kosmopolit, mampu bertahan di dalam tanah, dan memiliki kisaran inang yang banyak. Pengendalian secara biologi dengan bakteri endofit merupakan salah satu alternatif yang potensial karena kemampuannya hidup di dalam jaringan tanaman tanpa menimbulkan gejala penyakit dan dapat meningkatkan pertumbuhan serta ketahanan tanaman. Tujuan penelitian ini ialah mengeksplorasi bakteri endofit dari bagian batang akar dari tiga jenis tumbuhan paku yang berbeda, yaitu Salvinia molesta (paku air), Pteris ensiformis (paku terestrial), dan Drymoglossum pilosolloides (paku epifit) dan mengevaluasi potensinya sebagai agens hayati R. solani dan pemacu pertumbuhan tanaman. Isolasi bakteri dilakukan pada medium tripsic soy agar (TSA) dan nutrient agar (NA). Isolat bakteri dimurnikan dan diuji keamanan hayati dengan uji hipersensitifitas dan hemolisis. Hasil penelitian diperoleh 178 isolat bakteri endofit dan sebanyak 88 isolat menunjukkan reaksi negatif pada uji hipersensitisfitas dan uji hemolisis. Selanjutnya, isolat tersebut diuji dual test secara in vitro terhadap R. solani dan didapatkan 4 isolat bakteri endofit (APE15, APE22, APE33, dan APE35) dengan daya hambat dari 27–76% pada medium TSA, agar-agar dekstrosa kentang (ADK), dan TSA + ADK. Hasil uji pertumbuhan empat isolat terhadap benih padi varietas Situ Bagendit menunjukkan bahwa bakteri endofit mampu meningkatkan persentase perkecambahan padi 4.9% – 48.8%, meningkat panjang akar padi 68.3%–95.4%, panjang pucuk 53.2%–87.3%, bobot segar 49.07%–90.65%, dan bobot kering 48.1%–87.3%. Hasil ini menunjukkan bahwa tumbuhan paku mengandung beberapa bakteri endofit yang dapat dikulturkan dan memiliki senyawa antimikrob yang efektif, serta dapat digunakan sebagai sumber agens hayati terhadap patogen R. solani dan pemacu pertumbuhan tanaman.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 1 (2025): Maret 2025 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 5 (2024): September 2024 Vol. 20 No. 4 (2024): Juli 2024 Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024 Vol. 20 No. 2 (2024): Maret 2024 Vol. 20 No. 1 (2024): Januari 2024 Vol 19 No 6 (2023): November 2023 Vol 19 No 5 (2023): September 2023 Vol 19 No 4 (2023): Juli 2023 Vol. 19 No. 4 (2023): Juli 2023 Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023 Vol 19 No 2 (2023): Maret 2023 Vol. 19 No. 2 (2023): Maret 2023 Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023 Vol. 18 No. 6 (2022): November 2022 Vol. 18 No. 5 (2022): September 2022 Vol. 18 No. 4 (2022): Juli 2022 Vol. 18 No. 3 (2022): Mei 2022 Vol. 18 No. 2 (2022): Maret 2022 Vol. 18 No. 1 (2022): Januari 2022 Vol 17 No 6 (2021) Vol 17 No 5 (2021) Vol 17 No 4 (2021) Vol 17 No 3 (2021) Vol 17 No 2 (2021) Vol 17 No 1 (2021) Vol 16 No 6 (2020) Vol. 16 No. 5 (2020) Vol 16 No 4 (2020) Vol. 16 No. 3 (2020) Vol 16 No 2 (2020) Vol 16 No 1 (2020) Vol 15 No 6 (2019) Vol 15 No 2 (2019) Vol 15 No 1 (2019) Vol 14 No 6 (2018) Vol 14 No 5 (2018) Vol 14 No 4 (2018) Vol. 14 No. 3 (2018) Vol. 14 No. 2 (2018) Vol 14 No 1 (2018) Vol. 14 No. 1 (2018) Vol. 13 No. 6 (2017) Vol 13 No 5 (2017) Vol. 13 No. 5 (2017) Vol 13 No 4 (2017) Vol. 13 No. 3 (2017) Vol. 13 No. 2 (2017) Vol. 13 No. 1 (2017) Vol 12 No 6 (2016) Vol 12 No 5 (2016) Vol 12 No 4 (2016) Vol 12 No 3 (2016) Vol 12 No 2 (2016) Vol 12 No 1 (2016) Vol 11 No 6 (2015) Vol 11 No 5 (2015) Vol 11 No 4 (2015) Vol 11 No 3 (2015) Vol 11 No 2 (2015) Vol 11 No 1 (2015) Vol 10 No 6 (2014) Vol 10 No 5 (2014) Vol 10 No 4 (2014) Vol 10 No 3 (2014) Vol 10 No 2 (2014) Vol 10 No 1 (2014) Vol 9 No 6 (2013) Vol 9 No 5 (2013) Vol 9 No 4 (2013) Vol 9 No 3 (2013) Vol 9 No 2 (2013) Vol 9 No 1 (2013) Vol 8 No 6 (2012) Vol 8 No 5 (2012) Vol 8 No 4 (2012) Vol. 8 No. 3 (2012) Vol. 8 No. 2 (2012) Vol. 8 No. 1 (2012) More Issue