Articles
195 Documents
Misi populer Kongregasi Pasionis sebagai bentuk katekese umat Katolik masa kini yang mengaktualisasikan gagasan eklesiologi Konsili Vatikan II
Nobertus Epo
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 12 No 1 (2022): Juli-Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v12i1.171
Saat ini gereja ditantang untuk semakin kreatif dalam mewartakan Injil. Artinya gereja dalam pewartaannya dituntut harus mampu menyapa semua umat beriman dimanapun mereka berada, tanpa terkecuali. Berdasarkan hal tersebut, fokus studi penelitian ini ialah pada peran lembaga religius, secara khusus Kongregasi Pasionis dalam mewartakan Injil. Peran Kongregasi Pasionis tampak nyata dalam kegiatan karya misi populer. Dalam misi populer, para Pasionis tidak hanya mengajarkan nilai-nilai Injil, tetapi juga nilai kehidupan. Misi populer dalam Kongregasi Pasionis dibahas dalam terang Dokumen Konsili Vatikan II yaitu Evangelii Nuntiandi. Penelitian ini digarap menggunakan metode kualitatif dengan menelusuri aneka kepustakaan yang relevan dengan tema yang dibahas. Temuan dalam penelitian, karya misi populer yang dijalankan oleh para Pasionis ternyata sangat cocok untuk pendalaman iman dan penyegaran rohani bagi umat, khususnya di pedalaman Kalimantan Barat.
Jabatan imam sebagai martabat tertinggi dalam Injil Yohanes 21:15-19 dari sudut pandang John Chrysostom
Ngesti Daeli;
Yaaro Harefa
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 12 No 1 (2022): Juli-Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v12i1.208
Artikel ini mengkaji keseluruhan kehidupan imam. Artikel ini menggunakan metode pustaka dengan landasan buku “Six Books on the Priesthood” oleh John Chrysostom. Juga didukung oleh pandangan Bapa-Bapa Gereja dan jurnal-jurnal teologi yang berkaitan dengan pembahasan artikel serta mengkolaborasikannya dengan ayat-ayat yang ada di dalam Alkitab. Chrysostom menekankan bahwa tugas seorang imam adalah tugas melayani jiwa di hadapan Tuhan. Beberapa peneliti lain mengungkapkan, tugas seorang imam/gembala dalam jabatannya dianggap sulit dan rendah. Namun dibalik kesulitan tersebut, Chrysostom menemukan kemuliaan di dalam keimamatan. Oleh karena itu, kemuliaan jabatan imam sebagai martabat tertinggi diungkapkan dalam tiga hal. Pertama, awal mula tugas dan tanggung jawab imam dinyatakan dalam Injil Yohanes 21:15-19 sebagai pernyataan Yesus. Kedua, seorang imam menjadi representasi Kristus bagi kawanan melalui karakternya. Ketiga, tugas keimamatan meliputi berbagai godaan dan bahaya dalam pelayanan. Ketiga hal ini bertujuan untuk menjelaskan keseluruhan kehidupan imam sebagai tugas dan tanggung jawab yang tidak mudah tetapi mulia.
Tinjauan teologis mengenai upacara Rambu Solo'
Reynaldo Pabebang;
Erikson Erikson;
Bagus Subambang
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 12 No 1 (2022): Juli-Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v12i1.215
Penelitian ini dilakukan berdasarkan kondisi masyarakat Toraja yang mayoritas Kristen. Penduduk masyarakat Toraja sudah sebagian besar memeluk agama Kristen namun di dalam praktik kehidupan sehari-hari, masih melakukan praktik sistem kepercayaan leluhur (Aluk Todolo) yang berbeda kepercayaan dengan kekristenan. Salah satu contoh yang akan menjadi fokus pembahasan pada penelitian ini ialah mengenai pelaksanaan upacara Rambu Solo’ yang merupakan adat budaya yang lahir dari sistem kepercayaan leluhur namun hingga sampai saat ini masih dilaksanakan oleh kalangan kekristenan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis pendekatan fenomenologi. Berdasarkan pendekatan fenomenologi ditemukan suatu hasil penelitian bahwa upacara Rambu Solo’ termasuk tindakan sinkretisme. Dalam mengumpulkan data-data, peneliti melakukan wawancara, observasi dari video-video dan dokumen-dokumen berupa foto saat pelaksanaan upacara Rambu Solo’. Dengan penelitian ini, diharapkan pembaca, terlebih kepada masyarakat Toraja kistiani, memahami pandangan teologi tentang makna upacara Rambu Solo’ bagi orang Kristen di Toraja, dan memiliki suatu pertimbangan untuk tetap melaksanakan upacara Rambu Solo’.
Implikasi pelbagai tafsir teologi Kristen mengenai Covid-19 di Indonesia
Antonius Missa;
Susanti Embong Bulan;
Yusak Tanasyah;
Bobby Kurnia Putrawan
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 12 No 1 (2022): Juli-Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v12i1.221
Berbagai aliran dalam gereja memahami Firman Tuhan sesuai dengan doktrin masing-masing gereja yang berdampak pada beragamnya penafsiran teologi Kristen mengenai Covid-19. Tujuan penelitian ini mencari latar belakang teologis atas pelbagai pandangan Covid-19 yang berkembang selama masa pandemi dan bagaimana implikasinya bagi orang Kristen di Indonesia. Melalui penelitian kualitatif deskriptif, maka peneliti menemukan sintesis teologis tentang pandemi memberikan implikasi terhadap pandangan orang memahami pandemi Covid-19. Hal ini yang membedakan penelitian ini dengan penelitian lain yang banyak membahas dari pandangan kesehatan, sosial, psikologi sementara peneliti memaparkan dari bentuk pelbagai tafsir yang ada di kalangan teologi Kristen. Penemuan penelitian ini adalah pemahaman teologis seseorang berimplikasi pada pemahamannya melihat pandemi Covid-19 dan juga antivirus. Berbagai pandangan teologis menjelaskan tentang Covid-19; ada yang setuju untuk menerima vaksin dan ada juga yang menolak vaksin karena alasan teologis.
Integritas pemimpin berdasarkan Amsal 31:1-9
Farel Yosua Sualang;
Afryliyanus Dejunior Budiman;
Anon Dwi Saputra
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 12 No 1 (2022): Juli-Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v12i1.229
Integritas merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam memimpin sebuah komunitas atau suatu kelompok. Nasihat dari sang ibu kepada Lemuel dalam teks Amsal 31:1-9 menunjukkan ada beberapa prinsip yang memiliki keterkaitan dengan seorang pemimpin berintegritas dan tulisan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip seorang pemimpin yang berintegritas dengan melihat teks tersebut. Metode yang dilakukan dalam tulisan ini adalah pendekatan metode kualitatif dengan sub-hermeneutika sastra hikmat yang menggunakan beberapa analisis sesuai dengan kitab yang bergenre sastra. Jika memperhatikan interpretasi Amsal 31:1-9, maka Artikel ini menemukan adanya tiga prinsip mengenai integrtias seorang seorang pemimpin yaitu seorang yang konsisten dalam setiap perkataan dan tindakan, jujur dalam melakukan segala hal, serta adil dalam mengambil keputusan.
Gereja sebagai ibu dan mempelai
Carmia Margaret
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 12 No 1 (2022): Juli-Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v12i1.238
Kaum Injili dikenal memiliki penekanan tinggi terhadap aspek soteriologi, akan tetapi di sisi lain justru memiliki konstruksi eklesiologi yang tipis. Untuk mengatasi ketimpangan ini, perlu membangun sebuah pandangan teologis yang lebih apresiatif dan proporsional terhadap natur dan identitas gereja. Mengacu pada identitas kaum Injili yang mengakarkan diri pada otoritas Kitab Suci, maka pandangan terhadap gereja juga seharusnya dibangun atas dasar refleksi ulang terhadap gambaran-gambaran Alkitab itu sendiri tentang keberadaan gereja. Artikel ini hendak mengusulkan penghayatan kembali terhadap gambaran tentang gereja sebagai anak dara atau pengantin yang menantikan mempelainya yaitu Kristus; sekaligus sebagai Ibu yang mengasuh orang percaya. Pembacaan yang diusulkan ialah bahwa figur Maria ibu Yesus dapat menjadi model bahwa gereja adalah entitas yang diciptakan Allah melalui Roh dan firman dari dalam kekosongan, serta dipanggil untuk mengusung dan menghadirkan Kristus di dalam dunia yang berdosa, sekalipun harus melewati tahapan mengerang dan sakit bersalin.
“Takut akan Tuhan” sebagai dasar pertumbuhan spiritualitas remaja Kristen
Robi Prianto;
Hesron Yuswanto;
Yohanes Hasiholan Tampubolon
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 12 No 1 (2022): Juli-Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v12i1.242
Takut akan Tuhan adalah sikap yang harus dimiliki setiap orang Kristen. Takut akan Tuhan diajarkan dalam Alkitab. Salah satu kitab mengajarkan tentang takut akan Tuhan adalah kitab Amsal, khususnya Amsal 1:1-7. Ada banyak pendapat mengenai penafsiran takut akan Tuhan dalam Amsal 1:1-7. Ajaran tentang takut akan Tuhan ini sangat baik untuk diajarkan kepada para remaja. Masa remaja merupakan masa yang labil dan mudah dipengaruhi, juga oleh pengaruh buruk yang dapat merusak kehidupan remaja. Dengan menggunakan metode penafsiran eksegesis. Takut akan Tuhan yang dimaksud dalam Amsal 1:1-7 adalah takut atau hormat kepada Tuhan karena kesucian-Nya. Rasa takut atau rasa hormat dapat membangun seseorang menjadi penyembah Tuhan yang sejati. Ketakutan akan penghormatan kepada Tuhan adalah dasar dari pengetahuan atau kebijaksanaan. Beberapa implikasi praktisnya adalah, pertama, remaja perlu untuk hidup dalam firman Tuhan. Kedua, hidup dalam kekudusan. Ketiga, hidup dalam kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.
Memahami manusia sebagai makhluk paradoksal dalam praktik Pendidikan Agama Kristen
Noh Ibrahim Boiliu;
Bernadetha Nadeak
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 12 No 2 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v12i2.209
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan sifat paradoks manusia dalam praktik pendidikan. Manusia sebagai makhluk paradoksal adalah makhluk yang bebas namun bertanggung jawab, yang berarti bahwa manusia tidak hanya bergantung dan ada untuk dirinya sendiri, tetapi juga ada secara independen sambil terhubung atau bergantung pada orang lain. Hal ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial paradoks mempengaruhi pandangan mereka tentang hubungan antara manusia. Metode deskriptif analitis digunakan dalam menganalisis artikel untuk mensintesis dan menarik kesimpulan. Dalam kegiatan ini, baik guru dan murid memberi diri mereka untuk terlibat dan belajar bersama. Guru memberikan waktu, energi, dan kompetensinya, sementara murid memberikan diri mereka untuk diajarkan dan bersedia mengikuti petunjuk dan arahan guru. Kesadaran atas tanggung jawab peran dan tugas masing-masing membawa kehangatan ke dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini hanya dapat terjadi jika kedua belah pihak saling bergantung dan menyadarinya.
Kota-kota perlindungan dalam kitab Yosua 20:1-9 dan Bilangan 35:9-34
Aeron Frior Sihombing;
Barnabas Ludji;
Pelita Surbakti
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 12 No 2 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v12i2.222
Masalah dalam penelitian ini adalah mengenai kota-kota perlindungan dalam Yosua 20:1-9 dan Bilangan 35:9-34. Topik yang sama mengenai kota perlindungan, namun memiliki perbedaan yang signifikan. Penelitian ini akan membandingkan persamaan dan perbedaan antara kota-kota perlindungan menurut Yosua 20:1-9 dan Bilangan 35:9-34 dan memaparkan relevansinya dengan orang percaya di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis kritis, melalui kritik redaksi, kritik sumber dan kritik bentuk. Kota-kota perlindungan dalam Yosua 20:1-9 dan Bilangan 35:9-35, baik dari sisi redaktur, sumber maupun sitz im leben berbeda, sehingga tujuan teologinya pun berbeda. Namun, kesamaannya ada di paradigma kota perlindungan dari kedua teks ini, yaitu untuk kemanusiaan dan kultus. Refleksi bagi penegakan hukum di Indonesia adalah penegakan hukum haruslah adil tanpa memandang status sosial dan sama rata terhadap seluruh penduduk Indonesia.
Kisah Para Rasul 4:32-37 sebagai model diakonia integratif partisipatoris
Stefanus Rachmat Budiman;
Gery Altobely Seroh
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 12 No 2 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v12i2.225
Pandemi Covid-19 mendisrupsi seluruh tatanan hidup manusia termasuk gereja. Gereja ‘dipaksa’ menerapkan pola berbeda pada konteks new normal. Tulisan bertujuan meneliti aspek pelayanan diakonia gereja untuk mengaktualkan model baru sebagai solusi, khususnya menyangkut kebutuhan umat. Dalam perubahan eksesif, tidak cukup memberi solusi dengan model diakonia yang hanya dibebankan pada satu departemen di gereja. Butuh model pelayanan yang terintegrasi, tidak tertuju hanya pada pemenuhan materi juga pada perhatian psikis dan spiritual yang terdampak. Urgensinya model pelayanan diakonia yang konstruktif yang tidak hanya menyinergikan seluruh komponen, juga menyentuh kebutuhan batin. Tanpa bermaksud menafikan praktik diakonia gereja, tulisan berupaya menawarkan model diakonia yang bersifat terintegratif dan partisipatoris. Penelitian terfokus pada praksis diakonia pada Kisah Para Rasul 4:32-37. Metodologi penelitian dilakukan melalui kajian hermeneutika, dengan fokus penekanan pada aspek historis dan sosial. Hasil eksegesis akan dirangkum menjadi model diakonia partisipatoris yang bersifat konstruktif dan terintegratif.