Articles
187 Documents
Pandangan John Hick tentang Allah
Yohannis Trisfant
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 1 No 2 (2012): Januari-Juni 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v1i2.198
John Hick memandang Allah sebagai the eternal one, yang tidak terbatas, yang mana di dalam kepenuhannya melampaui pikiran, bahasa dan pengalaman manusia.
Gereja dan Pelayanan Sosial dalam Perspektif Alkitab
Sunarto Sunarto
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 1 No 2 (2012): Januari-Juni 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v1i2.199
Keselamatan yang dimiliki oleh orang percaya seharusnya terus mentransformasi hidupnya secara total.
Kristen Reformis
Ratna Katharina
TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 1 No 2 (2012): Januari-Juni 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v1i2.200
Makna Garam dan Terang Dunia dalam Pembangunan Bangsa
Makna spiritual atau makna literal?
Carmia Margaret
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 11 No 2 (2022): Januari-Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v11i2.146
Artikel ini berisi sebuah survei historis terhadap penekanan makna dalam hermeneutika biblika di era pra-modern (sebelum Pencerahan) dan modern (sejak Pencerahan). Interpretasi pra-modern lebih menekankan penemuan makna spiritual atau makna rohani dari teks dalam konteks kejemaatan, sementara penafsiran era-modern lebih menekankan penemuan makna historis dan literal melalui studi kritis yang ketat. Pergeseran ini terjadi karena adanya pergerakan sejarah menuju rasionalisme Pencerahan, keinginan untuk lepas dari bias lembaga otoritatif penafsiran mana pun, serta perpindahan konteks interpretasi dari gereja kepada akademi. Dikotomi penekanan makna pada masing-masing periode dapat dipahami berdasarkan intensi konteks dan zamannya, akan tetapi diperlukan sebuah pendekatan alternatif yang dapat menyeimbangkan keduanya.
Hubungan pembelajaran pendidikan agama Kristen dengan teknologi pendidikan
Nova Jelly Rungkat;
Noh Ibrahim Boiliu;
Djoys Aneke Rantung;
Pricylia Elviera Rondo
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 11 No 2 (2022): Januari-Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v11i2.157
Tujuan pembahasan artikel ini adalah untuk memberikan penjelasan yang rinci tentang hubungan pembelajaran PAK dan teknologi Pendidikan. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode penelitian literatur dimana penulis mengumpulkan berbagai literatur atau sumber sumber pustaka untuk menganalisis hal hal yang berhubungan dengan materi tentang pembelajaran PAK dan teknologi pendidikan. Pembelajaran PAK adalah interaksi antara guru dan peserta didik yang terjadi secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan media pembelajaran. Teknologi pendidikan adalah alat atau sarana yang digunakan dalam dunia pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan. Hasil analisis artikel ini menjelaskan bahwa teknologi pendidikan sangat diperlukan dalam pembelajaran PAK karena secara nyata teknologi pendidikan telah memberikan manfaat yang sangat besar dalam meningkatkan mutu pembelajaran PAK.
Teologi Penciptaan dan kitab Ayub 3:1-10
Bastanta Pradhana Bangun
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 11 No 2 (2022): Januari-Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v11i2.189
Matriks teologis utama yang di dalamnya kitab Ayub menanggapi masalah penderitaan adalah tentang penciptaan. Untuk itu penulis menggunakan metode kualitatif yaitu metode penelitian kepustakaan (library research), terhadap berbagai sumber data seperti penelitian terdahulu dan referensi tafsiran yang dimana akan berfokus kepada pertanyaan yakni bagaimanakah korelasi antara Ayub 3: 1-10 dengan teologi penciptaan dalam Kejadian 1:1-2:4a? Hasil penelitian mengenai korelasi teologi penciptaan dalam Kejadian 1: 1-2: 4a dalam Ayub 3:1-10 ini ialah merupakan sebuah usaha pengembangan teologi yang dilakukan pada saat itu dan motif penciptaan dalam Ayub 3:1-10 ini memaknainya dari sudut pandang pesimis, berbanding terbalik dengan optimisme yang diusung dalam Kejadian 1:1-2:4a dan korelasi inipun membuka suatu nuansa yang baru untuk melihat sebuah hubungan relasional antara manusia dan Tuhan dalam menghadapi tantangan hidup yang semakin sulit atau kompleks.
Trinitas dalam pandangan Agustinus dari Hippo
Grace Son Nassa
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 11 No 2 (2022): Januari-Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v11i2.191
Tujuan artikel ini adalah mendeskripsikan pemahaman Agustinus dari Hippo mengenai Trinitas sebagai sebuah kontribusi teologis bagi para akademisi dalam menggali doktrin Trinitas. Pandangan Agustinus di kemudian hari sangat mempengaruhi banyak teolog mengenai Trinitas. Agustinus memiliki ciri khas sendiri dalam melihat Trinitas juga menggunakan metode khusus dalam upaya menjelaskan tentang Trinitas, salah satunya adalah analogi psikologikal. Meskipun tidak sempurna dan banyak dikritik, tetapi sumbangsih metode Agustinus dalam upaya memahami Trinitas tetap dapat diapresiasi. Artikel ini menggunakan metode analisis konten sehingga berfokus pada literatur yang ditulis oleh Agustinus serta didukung oleh tulisan-tulisan lain yang kredibel dalam melihat pandangan Agustinus mengenai Trinitas. Agustinus melihat Trinitas adalah Allah, satu yakni Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ia adalah The Origin dan The Creator, dan untuk sampai pada titik “sedikit” mengerti dan memahami tentang Trinitas, maka manusia memerlukan kasih yang lahir dari iman, sebab iman yang menuntun pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang Trinitas.
Pekabaran Injil dalam konteks multikultural
Rio Janto Pardede;
Yatmini Yatmini;
Manintiro Uling
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 11 No 2 (2022): Januari-Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v11i2.201
Teologi merupakan dasar hidup aplikatif dalam bermurtikultural artinya teologi harus dapat diaplikasikan dalam konteks majemuk, selain berbicara tentang ajaran Tuhan juga berbicara antara relasi antara Allah dengan dunia dan manusia, relasi tersebut menunjukkan bahwa Allah sendiri bermultikultural atau masuk ketengah-tengah konteks budaya manusia, seharusnya demikian juga antara manusia dengan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apa yang dimaksud dengan pekabaran Injil dalam konteks multikulktural dan sejauhmana penginjilan multikultural yang dilakukan Yesus kepada perempuan Samaria dapat diterapkan dalam konteks multikultural. Metode penelitian yang digunakan metode analisis isi yaitu untuk memukan makna kata yang ada dalam Alkitab. Hasil temuan dari analisis isi tentang prinsip teologis penginjilan multikultural Yesus kepada perempuan Samaria adalah 1) memahami konteks penerima Injil, 2) melakukan pendekatan persahabatan, 3) memahami kebutuhan yang terpenting, 4) menyinggung dosa, 5) membahas keterbatasan dan tujuan agama, 6) memberikan solusi yaitu iman, 7) menunggu respons dan tidak memaksakan respons saat itu.
Alternatif tafsiran non-kekerasan dalam praktik kehidupan Yesus
Yohanes Hasiholan Tampubolon
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 11 No 2 (2022): Januari-Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v11i2.205
Ajaran dan praktik non-kekerasan pada umumnya menjadi ciri seorang pengikut Yesus. Dimulai dari Fransiskus dari Asisi hingga John Howard Yoder mengajarkan bahwa seorang Kristen seharusnya memraktekkan kehidupan non-kekerasan. Namun, artikel ini mencoba melihat sisi lain dari pelayanan Yesus, secara khusus dari teks yang mengisahkan mengenai perintah Yesus kepada para murid untuk membawa senjata dan ketika yesus menubuatkan mengenai kehancuran Bait Allah. Melalui metode penelitian studi pustaka, penulis menemukan bahwa ada indikasi bahwa Yesus berencana melakukan tindakan kekerasan. Melalui hasil tersebut, penggambaran Yesus yang menghidupi ajaran non-kekerasan menjadi terbuka untuk didiskusikan.
Menuju pemuridan yang efektif bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi generasi Z
Winarsih Winarsih
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 12 No 1 (2022): Juli-Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v12i1.233
The results of the literature research show that in order to achieve effective discipleship, generation Z seminary students still need to go through a fundamental process in discipleship, namely the transformation of thoughts through the process of formation and reform. The process of transforming the mind can only occur if generation Z seminary students accept Christ as Savior, which will be followed by transformation in every part of their lives. The progressive transformation of generation Z seminary students will be able to fight the challenges of today's idolatry if environment of the generation Z seminary students is designed in such a way that they are continuously supported to live out their new identity as children of God, related to the Triune God and the body of Christ. Theological works through counseling and media digital are also needed to be used in making effective discipleship at seminary, especially for generation Z.