cover
Contact Name
Imam Setyobudi
Contact Email
jurnaletnika.isbibdg@gmail.com
Phone
+6222-7314982
Journal Mail Official
jurnal.budaya.etnika@isbi.ac.id
Editorial Address
Jalan Buah Batu no 212 Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Budaya Etnika
ISSN : 2549032X     EISSN : 27981878     DOI : -
Jurnal Budaya Etnika merupakan publikasi hasil karya ilmiah yang berkaitan dengan budaya mencakup cipta, karsa, dan karya manusia. Jurnal Budaya Etnika menaruh perhatian pada artikel-artikel hasil kajian mengenai berbagai kebudayaan etnis yang berhubungan dengan seni, religi dan ritual, mitos, media, dan wacana kritis.
Articles 126 Documents
SENI DIGITAL WISATA TEKNOLOGI AR PASUA PA BERBASIS KEARIFAN LOKAL Rustiyanti, Sri; Listiani, Wanda; Sari, Fani Dila; Peradantha, Ida Bagus Gede Surya
Jurnal Budaya Etnika Vol. 3 No. 2 (2019): Artefak Budaya Arkais dan Kontemporer : dari Ulos Hingga Seni Digital
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/be.v3i2.1123

Abstract

ABSTRAKIndonesia memiliki beragam potensi alam, seni, budaya, pendidikan, kuliner, sejarah, teknologi, dan religi yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik utama wisata. Tulisan ini merupakan hasil penelitian Konsorsium Kemenristekdikti dengan mengangkat seni tradisi dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, ISBI Papua, dan ISBI Aceh. Penelitian ini menerapkan teknologi Augmented Reality (AR) pada kesenian yang ada di Papua, Sunda, dan Aceh (PASUA) sebagai Performent Art (PA), sehingga seni wisata digital ini menjadi sebuah produk karya seni budaya AR Pasua PA, yang secara khusus menggarap perkembangan seni tradisi sebagai kearifan lokaldalam perkembangan seni digital sebagai salah satu bentuk pengemasan seni wisata.Potensi seni digital AR Pasua PA cukup menarik menjadi salah satu asset wisata devisa non migas yang perlu ditingkatkan pengelolaan dan pemberdayaannya. Oleh karena itu, kesiapan pembuatan AR Pasua PA dalam pengembangan wisata seni digital masih perlu ditingkatkan di era industri 4.0 berbasis kearifan lokal. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk memetakan zonasi pengembangan pariwisata yang sesuai dengan karakter masyarakat wilayah Timur dari Papua, selanjutnya Tengah dari Sunda, dan Barat dari Aceh, seperti perjalanan matahari dari terbit di Tanah Papua , selanjutnya bersinar di Tanah Parahyangan , dan akhirnya terbenam di Serambi Aceh. Analisis sistem pengembangan pariwisata berbasis seni digital diterapkan di Perguruan Tinggi Seni di Indonesia, sehingga perlu dilakukan tercipta model AR Pasua PA dalam pengembangan dan pengelolaan wisata berbasis teknologi augmented reality. Hasil penelitian yang diharapkan adalah terciptanya sebuah model pengembangan pariwisata seni digital yang terpadu berbasis kearifan lokal, khususnya Papua, Sunda, dan Aceh, yang dapat diterapkan di seluruh PT Seni di Indonesia, khususnya di wilayah ISBI Bandung, ISBI Papua, dan ISBI Aceh.Kata kunci: wisata seni digital, teknologi augmented reality, kearifan lolal.ABSTRACTSIndonesia has a variety of natural, artistic, cultural, educational, culinary, historical, technological and religious potentials that can be developed as the main tourist attraction.This paper is the result of a research by the Consortium of the Ministry of Research, Technology and Higher Education (Kemenristekdikti) by bringing up traditional arts from the Indonesian Cultural Arts Institute (ISBI) Bandung, ISBI Papua, and ISBI Aceh. This study applies Augmented Reality (AR) technology to arts in Papua, Sunda and Aceh (PASUA) as Performance Art (PA), so that this digital tourism art becomes a product of AR Pasua PA cultural art, which specifically works on the development traditional art as local wisdom in the development of digital art as a form of tourist art packaging.The potential of AR Pasua PA digital art is quite interesting being one of the non-oil and gas foreign exchange tourism assets that needs to be improved in its management and empowerment. Therefore, the readiness to make AR Pasua PA in the development of digital art tourism still needs to be improved in the era
FUNGSI SOSIAL DARI RITUAL MIASIH BUMI NAGARA PADANG BAGI MASYARAKAT KAMPUNG TUTUGAN DESA RAWABOGO KECAMATAN CIWIDEY PROVINSI JAWA BARAT Yuliana, Anggia; Setyobudi, I.; Dwiatmini, S.
Jurnal Budaya Etnika Vol. 3 No. 1 (2019): Etnografi Ritual Masyarakat Sunda: Fungsi Sosial, Liminalitas, Akulturasi
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/be.v3i1.1124

Abstract

ABSTRAK Ritual miasih bumi nagara padang berawal dari ritual hajat bumi yang dilaksanakan di sirah cai berecek, namun saat ini sirah cai berecek sudah tidak berfungsi lagi sebagai mata air. Sesepuh Padepokan Nagara Padang yaitu Abah Undang mengembangkan kembali ritual tersebut dari beberapa ritual sebelumnya, terlebih desa Rawabogo sudah ditetapkan menjadi desa wisata. Maka dari itu apakah ritual miasih bumi nagara padang mempunyai fungsi sosial atau fungsi lain. Penelitian ini menggunakan teori fungsionalisme Malinowski dan menggunakan metode kualitatif. Data yang dikumpulkan berupa data dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan untuk menentukan keabsahanya peneliti menggunakan triangulasi. Dalam hal ini kajian peneliti tidak menemukan fungsi sosial, namun peneliti menemukan fungsi lain dari ritual miasih bumi nagara padang. Teori yang digunakan tidak relevan, peneliti menemukan bahwa ritual miaisih bumi nagara padang berfungsi bagi pengembangan pariwisata yang berdampak pada masyarakat setempat. Kata kunci: Miasih Bumi Nagara Padang, Sirah Cai Berecek, Fungsi Sosial, Desa Wisata.  ABSTRACT The ritual of Miasih Bumi Nagara Padang starts from the ritual of Hajat Bumi which was carried out in sirah cai berecek, but now sirah cai berecek has no longer functioned as a spring. The Padepokan Nagara Padang’s elder, Abah Undang, rebuilt the ritual from a number of previous ritual, moreover, the Rawabogo village has been designated as a tourist village. So, The ritual of Miasih Bumi Nagara Padang has social functions or other functions. This study uses Malinowski's functionalism theory and qualitative methods. Data collected by observations, interviews, documentation, and to determine the validity of researchers using triangulation. In this case the study of researchers did not find social function, but researcher found other functions of the ritual of Miasih Bumi Nagara Padang. The theory that has been used is irrelevant, researchers found that the Miasih Bumi Nagara Padang ritual serves for the development of tourism which has an impact for the local community. Keywords: Miasih Bumi Nagara Padang, Sirah Cai Berekek, Social Function, Tourism Village.
ANALISIS LIMINALITAS PADA UPACARA NYAWEN DAN MAHINUM DI DUSUN SINDANG RANCAKALONG SUMEDANG Klarissa, Febby p; Setytobudi, I; Yuningsih, Y
Jurnal Budaya Etnika Vol. 3 No. 1 (2019): Etnografi Ritual Masyarakat Sunda: Fungsi Sosial, Liminalitas, Akulturasi
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/be.v3i1.1125

Abstract

ABSTRAK Penelitian skripsi dengan judul “Analisis Liminalitas dalam Upacara nyawen dan mahinum di Dusun Sindang Rancakalong Sumedang” bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa ritual nyawen dan mahinum menggunakan teori Liminalitas. Dilakukan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang mendeskripsikan data sesuai fakta-fakta yang ada. Dalam penelitian ini menggunakan teori Liminalitas Victor Turner yang menjadi landasan untuk menganalisis. Data yang dikumpulkan berupa data hasil observasi, wawancara, studi pustaka yang terdiri dari buku, jurnal dan skripsi yang menunjang serta dokumentasi penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan data mengenai ritual yang dilakukan pada masa kehamilan dan kelahiran yang dilakukan merupakan sarana untuk mendapatkan keselamatan semasa kehamilan hingga kelahiran bayinya. Begitu pula teori yang diajukan terdapat kemiripan sehingga masih relevan dengan studi kasus yang terjadi sekarang ini. Kata kunci: ritual, nyawen, mahinum.  ABSTRACT This research is about “Analysis of nyawen and mahinum ceremony in Sindang village of Rancakalong, Sumedang” was conducted with the aim of describing and analyzing the ritual of nyawen and mahinum using the theory of liminality. The analysis of this research was conducted using qualitative descriptive methods in accordance with the fact. The theory that used for this research is the theory of liminality from Victor Tuner. The data that has been collected by observation, interviews, documentation, and literature studies of related books, journals and thesis. The results of this study tells about the ritual that carried out during pregnancy and birth which are mean to get safety during pregnancy until the birth of her baby. The proposed theory has similarities, so it’s still relevant to the case studies that are happening now. Keywords: rituals, nyawen, mahinum.
RITUAL NUMBAL DALAM UPACARA RUWATAN BUMI DI KAMPUNG BANCEUY-SUBANG (Kajian Liminalitas) Umaya, Ratna; ISBI, Cahya; Setyobudi, Imam
Jurnal Budaya Etnika Vol. 3 No. 1 (2019): Etnografi Ritual Masyarakat Sunda: Fungsi Sosial, Liminalitas, Akulturasi
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/be.v3i1.1126

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk melihat kedudukan ritual numbal dalam posisisnya dari keseluruhan upacara ruwatan bumi. Hal tersebut menyebabkan penulis berkeinginan untuk mengkaji mengenai ritual numbal dengan permasalahan sebagai berikut: 1) bagaimana memahami ritual numbal yang terdapat dalam upacara ruwatan bumi sebagai tinjauan gejala liminalitas?. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif, dengan mengambil lokasi di Kampung Banceuy Desa Sanca Kecamatan Ciater Kabupaten Subang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi non partisipan, wawancara tidak terstruktur, dan dokumentasi. Analisis yang digunakan adalah sebagai berikut: 1) reduksi data, 2) penyajian data, dan 3) kesimpulan. Penelitian ini menggunakan teori liminalitas dari Victor Turner, masyarakat Kampung Banceuy mengalami kegelisahan yaitu “taun kolot kudu dingorakeun deui” (Tahun tua harus dimudahkan kembali). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, 1) Ritual numbal dapat mengatasi kekhawatiran masyarakat Kampung Banceuy, 2) ritual numbal memiliki kedudukan yang penting yaitu sebagai inti dari pelaksanaan upacara ruwatan bumi. Kata Kunci: Numbal, Ruwatan, liminalitas  ABSTRACTThis research aims to see the position of numbal ritual in its position on the entire Ruwatan Bumi ceremony. This causes the writer wishes to study the numbal ritual with the following problems: 1) how to understand the numbal ritual contained in the Ruwatan Bumi ceremony as a review of the symptoms of liminality. The method that been used in this research is a qualitative method, located in Banceuy Village, Sanca Village, Ciater District, Subang Regency. The techniques that been used to collect data in this research were non-participant observation, unstructured interviews, and documentation. The analysis that been used in this research are as follows: 1) data reduction, 2) data presentation, and 3) conclusion. This research used the theory of liminality from Victor Turner, the people of Kampung Banceuy are having a concern of “taun kolot kudu dingorakeun deui” the (Old years must be made young again). The results showed that, 1) numbal ritual can overcome the concern of the people of Kampung Banceuy, 2) numbal ritual has an important position as the core of the Ruwatan Bumi ceremony. Keywords: Ritual, Ruwatan Bumi, Liminality
AKULTURASI BUDAYA PADA PERTUNJUKAN KESENIAN KOROMONG Yuliani, Linda; Lahpan, Neneng Yanti Khozanatu; Yuningsih, Yuyun
Jurnal Budaya Etnika Vol. 3 No. 1 (2019): Etnografi Ritual Masyarakat Sunda: Fungsi Sosial, Liminalitas, Akulturasi
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/be.v3i1.1127

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada kesenian Koromong dalam perubahan-perubahan yang disebabkan oleh adanya akulturasi budaya antara kepercayaan lokal dengan agama Islam sehingga dapat berdampingan. Akibat adanya akulturasi membuat beberapa aspek mengalami pembauran kedua unsur tersebut serta munculkan struktur baru dalam pertunjukan kesenian Koromong. Pandangan mengenai pemaknaan memberikan dua sudut yang berbeda sesuai dengan kepercayaan nya masing-masing. Penulisan ini hasil penelitian yang di deskripsikan dengan menggunakan metode kualitatif. Teknik lapangan yang dilakukan melalui observasi, wawancara, dan mendokumentasikan. Landasan teori dalam penelitian menggunakan teori akulturasi budaya dimana hasil dari penelitian lapangan dapat dipecahkan melalui teori ini. Kata Kunci: Akulturasi, Kesenian, Koromong, Kepercayaan dan Islam.  ABSTRACT This research study focuses on the art of Koromong in the changes that caused by the cultural acculturation between local beliefs and Islamic teachings in order to make them live coexisted. As a result of the acculturation, several aspects have experienced mixing of these two elements and have emerged into a new form which could be deflected in Koromong art peerformances. The meaning of this art performance could be seen in two different angles according to their respective beliefs.This study is the result of research that described by using qualitative methods. Field techniques are carried out through observation, interviews, and documenting. The theoretical foundation of research uses cultural acculturation theory where the results of field research can be solved through this theory. Keywords: Acculturation, Art, Koromong, Trust and Islam.
AKULTURASI DAN PERUBAHAN BUDAYA RITUAL MISALIN DI CIMARAGAS, CIAMIS Fadhilla, Sarah N; Mayakania, Nia D; Suryamah, Dede
Jurnal Budaya Etnika Vol. 3 No. 1 (2019): Etnografi Ritual Masyarakat Sunda: Fungsi Sosial, Liminalitas, Akulturasi
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/be.v3i1.1128

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini tentang akulturasi dan perubahan kebudayaan ritual misalin di Cimaragas, Ciamis. Informasi bersumber pada sejumlah informan seperti juru kunci, panitia pelaksana, budayawan Ciamis, sejarawan Ciamis dan masyarakat. Indikator menunjukkan akulturasi dan perubahan budaya akibat percampuran beberapa unsur kebudayaan. Pertanyaan penelitian pada budaya apa saja yang berakulturasi dan apa saja bentuk perubahan budaya dalam ritual misalin. Beberapa teori yang dirujuk di antaranya teori akulturasi dan perubahan kebudayaan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Adapun pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, studi lapangan dan wawancara terstruktur. Proses analisa data dilakukan melalui reduksi data dan konklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual misalin merupakan ritual bernuansa Islam yang tanpa disadari di dalamnya terdapat berbagai pengaruh unsur kebudayaan di luar Islam. Pengaruh-pengaruh tersebut kemudian berakulturasi sehingga membentuk satu kesatuan yang nyaris tidak dapat dipisahkan dalam ritual misalin. Selain itu, dalam ritual ini perubahan budaya terjadi pada beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut kemudian membentuk proses ritual misalin yang terlihat di masa kini. Adanya upaya pemerintah dalam melegalkan kegiatan secara administratif dan pembinaan kebijakan dan pendanaan serta dukungan dari masyarakat merupakan faktor pendorong yang berperan penting dalam pelestarian Misalin. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan agar tetap mendukung dan menjaga Ritual Misalin sebagai salah satu aset budaya yang dibanggakan secara kontinyu dan berkesinambungan. Kata Kunci: Ritual Misalin, Akulturasi, Perubahan Budaya.  ABSTRACTS This research is about the acculturation and cultural changes of misalin rituals in Cimaragas, Ciamis. The information was sourced from a number of informants such as caretakers, executive committees, Ciamis cultural experts, Ciamis historians and the society of Ciamis. The indicator shows that the acculturation and cultural changes due to mixing of several cultural elements. Questions of research on what cultures acculturate and what forms of cultural change in misalin rituals. Several theories are referred to the theory of evolution and cultural changes. The method that been used is descriptive qualitative method. Collecting data were done through literature studies, field studies and structured interviews. The data analysis process were done through data reduction and conclusions. The results showed that the misalin rituals is an Islamic nuance ritual without being realized that there are various influences of cultural elements outside of Islam. These influences were acculturating to form a unity that can hardly be separated in misalin rituals. In addition, in this ritual cultural changes occur in several aspects. The government efforts to legalize administrative activities and foster policy and funding as well as community support were the driving factors that play an important role in the preservation of Misalin. Based on the results of the study, it is suggested that it continues to support and maintain the Misalin Ritual as one of the cultural assets to be proud of continuously in the future. Keywords: Misalin Ritual, Acculturation, The Change Of Culture
Harapan dan Tantangan Entrepreneur di Kota Palu Saleh, Sukmawati; Salham, Munir; Mansyur, Nurhayati
Jurnal Budaya Etnika Vol. 2 No. 1 (2018): Kreativitas Tradisi di Era Globalisasi: Transformasi & Peluang
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/be.v2i1.1149

Abstract

ABSTRACT This paper begins with the phenomenon of the development of Young Entrepreneurs in the City of Palu which continues to develop both in terms of the number and type of business involved. The development of technology, easily accessible information flows and adequate infrastructure are supporting factors for the growth of the creative economy which is fronted by Entrepreneurs, espe-cially in Palu City. In the midst of the development of the creative economy, the hopes of young En-trepreneurs are tucked into building and advancing their efforts and challenges. Especially now that more and more competition and technology has become increasingly sophisticated, therefore as an Entrepreneur, it is required to try to create and innovate and also to be creative in doing everything so that our business continues to run smoothly as expected and desired. Keywords: Expectations, Challenges, Entrepreneurs and Young Entrepreneurs  ABSTRAK Tulisan ini bermula dengan fenomena berkembangnya Entrepreneur Muda di Kota Palu yang terus mengalami perkembangan baik dari segi jumlah maupun jenis bisnis yang digeluti. Perkem-bangan teknologi, arus infomasi yang mudah diakses serta infrastruktur yang memadai merupakan faktor penunjang tumbuhnya ekonomi kreatif yang digawangi oleh para Entrepreneur khususnya di Kota Palu. Di tengah perkembangan ekonomi kreatif, terselip harapan para Entrepreneur muda da-lam membangun dan memajukan usaha mereka serta tantangan. Apalagi sekarang ini makin banyaknya persaingan dan teknologi sudah semakin canggih, maka dari itu sebagai wirausaha dituntut harus berusaha menciptakan dan berinovasi dan juga harus kreatif dalam melakukan segala hal agar usaha kita tetap berjalan lancar sesuai yang diharapkan dan diinginkan. Kata Kunci: Harapan, Tantangan, Entrepreneur dan Entrepreneur Muda
KESENIAN TERBANG GEDE DALAM TRADISI NGARAK PANJANG MULUD DI MASYARAKAT BANTEN Nugraha, Faisal
Jurnal Budaya Etnika Vol. 2 No. 1 (2018): Kreativitas Tradisi di Era Globalisasi: Transformasi & Peluang
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/be.v2i1.1150

Abstract

ABSTRACT The routine for the people of Banten, especially the Serang region, in commemoration of the birth of Prophet Muhammad S.A.W, was held in the tradition of “panjang mulud” or “ngeropok”. This tradition grew and developed in the community both in the villages, in umahan and in large events carried out by the local government. Panjang mulud with egg ornaments and other ornamentations at the front store of each house before being taken and paraded by the local community, it is said that according to the Serang community when participating in carrying out the Panjang Mulud tradition will get blessings. This activity is not solely for certain pleasures, but this activity is a form of gratitude to the Prophet as Muslims by giving alms. Keywords: Banten community routine in commemoration of the birth of the Prophet Muhammad SAW.  ABSTRAK Rutinitas bagi masyarakat Banten khususnya wilayah Serang, dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.A.W, di selenggarakan tradisi panjang mulud atau “ngeropok“. Tradisi ini tumbuh dan berkembang di masyarakat baik di kampung-kampung, di umahan maupun event besar yang di laksanakan pemerintah setempat. Panjang mulud dengan hiasan telur dan ornamentasi lainnya di simpan depan rumah masing-masing sebelum di ambil dan diarak oleh masyarakat setempat, konon menurut masyarakat Serang apabila ikut serta dalam melaksanakan tradisi panjang mulud akan mendapat keberkahan. Kegiatan ini bukan semata-mata untuk kesenangan tertentu saja, akan tetapi kegiatan ini merupakan suatu bentuk rasa syukur kepada Nabi sebagai umat muslim dengan cara bersedekah. Kata Kunci: Rutinitas masyarakat Banten dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
COKEK SEBAGAI PENGARUH PENETRATION PASIPIQUE ETNIS TIONGHOA DI BETAWI Rohmawati, Nurul
Jurnal Budaya Etnika Vol. 2 No. 1 (2018): Kreativitas Tradisi di Era Globalisasi: Transformasi & Peluang
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/be.v2i1.1151

Abstract

ABSTRACT Tionghoa ethnic becomes part of the formation of the Betawi community which also plays a role in the assimilation of Betawi culture. Cokek art is one of the results of the assimilation which is also part of the Betawi culture. The forms and functions of Cokek art that change from time to time are also influenced by the policies of the Jakarta City Government and the people who oppose them.The community does not only need to know about the changes in the shape and function of Cokek art from time to time, but also need to know how the cokek becomes part of the Betawi culture. This is related to the way in which new elements of culture enter the Betawi society from the standpoint of social anthropology.Based on the use of descriptive qualitative methods with interpretive points of view in the study, it is known that cokek is a penetration influence of Tionghoa ethnic pasipique in Betawi. Key words: Cokek, Penetration Pasipique, Tionghoa Ethnic, Betawi.  ABSTRAK Etnis Tionghoa turut menjadi bagian dari pembentukan masyarakat Betawi yang juga berpe­ran dalam asimilasi kebudayaan Betawi itu sendiri. Kesenian cokek merupakan salah satu hasil asimi­lasi tersebut yang juga menjadi bagian dari kebudayaan Betawi. Adapun bentuk dan fungsi kesenian Cokek yang berubah dari waktu ke waktu turut dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah Kota Jakarta dan masyarakat penyanggahnya.Masyarakat tak hanya perlu mengetahui tentang perubahan bentuk dan fungsi kesenian Cokek dari waktu ke waktu, tetapi juga perlu diketahui cara Cokek menjadi bagian dari kebudayaan Betawi. Hal ini berhubungan dengan cara masuknya unsur kebudayaan baru dalam masyarakat Betawi dari sudut pandang antropologi sosial.Berdasarkan pemanfaatan metode kualitatif deskriptif dengan sudut pandang interpretif dalam penelitian, diketahui bahwa Cokek sebagai pengaruh penetration pasipique etnis Tionghoa di Betawi. Kata Kunci: Cokek, Penetration Pasipique, Etnis Tionghoa, Betawi.
KETAHANAN HIDUP MASYARAKAT KAMPUNG ADAT CIRENDEU DALAM PERSPETIF ANTROPOLOGIS Jabbaril, Gibran Ajib
Jurnal Budaya Etnika Vol. 2 No. 1 (2018): Kreativitas Tradisi di Era Globalisasi: Transformasi & Peluang
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/be.v2i1.1152

Abstract

ABSTRACT A portrait of the life of the Cireundeu Indigenous Village community located in Cimahi City, 15 km from the city of Bandung, is a corner of a cultural phenomenon that is unique to its variety of customs and traditions. The habit of the people in this village is unique, because the staple food is not rice as other communities around it. They also have strong environmental management procedures, spatial concepts, and customary rules, especially in regional development, patterns of diversification of food, staple food, and other activities that are strictly adhered to from generation to generation. The staple food of this community is rasi (cassava rice). This research was carried out by observing the patterns of consumption and food production in the Cireundeu Indigenous Village Community in the efforts of local food security, as well as analyzing the strengthening and weakening factors related to food self-sufficiency in the village. The method used is the primary survey with observation, interviews with traditional leaders, distributing questionnaires to 36 local respondents. Other analytical methods are spatial analysis and calculation of food deficit surplus. The Research results show that Cireundeu Indigenous Village Wisdom contributes to good food self-sufficiency and diversification with sufficient numbers and even a food production surplus, the follow-up of food self-sufficiency is the growth of the local economy based on local raw materials, food independence, and the growth of home industries and tourism activities. Keywords: Cireundeu Local Culture, Ancestral Traditions, Food Self-Sufficiency.  ABSTRAK             Potret kehidupan  masyarakat Kampung Adat Cireundeu yang berlokasi di Kota Cimahi, berjarak 15 km dari Kota Bandung, adalah sebuah sudut fenomena budaya yang memiliki keunikan dengan ragam adat dan tradisinya. Kebiasaan masyarakat di kampung ini terbilang unik, karena makanan pokoknya bukan nasi sebagaimana masyarakat lain di sekitarnya. Mereka juga memiliki tata cara pengelolaan lingkungan, konsep tata ruang, dan aturan adat yang cukup kuat, khususnya dalam pembangunan kawasan, pola diversifikasi pangan, makanan pokok, dan kegiatan lainnya yang ditaatinya secara ketat secara turun temurun. Makanan pokok masyarakat ini adalah rasi (beras singkong). Penelitian ini dilakukan dengan pengamatan terhadap pola konsumsi dan produksi pangan pada Masyarakat Kampung Adat Cireundeu dalam upaya ketahanan pangan lokal, serta melakukan analisis  terhadap faktor-faktor yang menguatkan dan melemahkan terkait swasembada pangan di kampung tersebut. Metode yang dilakukan yaitu survei primer dengan observasi, wawancara dengan tokoh adat, penyebaran kuesioner kepada 36 responden lokal. Metode analisis lainnya adalah analisis tata ruang dan perhitungan surplus defisit pangan. Hasil Penelitian menunjukan bahwa Kearifan Budaya Lokal Kampung Adat Cireundeu memiliki kontribusi terhadap swasembada dan diversifikasi pangan yang baik dengan angka kecukupan bahkan surplus produksi pangan, kegiatan ikutan dari swasembada pangan ini adalah tumbuhnya ekonomi lokal berbasis bahan baku setempat, kemandirian pangan, dan tumbuhnya industri rumahan serta kegiatan pariwisata.Kata Kunci: Budaya Lokal Cireundeu,Tradisi Leluhur,  Swasembada Pangan.

Page 12 of 13 | Total Record : 126


Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO Vol. 9 No. 1 (2025): NASIONALISME GLOBALISASI E-SPORT GAMERS: RESIPROSITAS JEJARING KESENIAN DAN KEP Vol. 8 No. 2 (2024): ETNOGRAFI BUDAYA DAN SUBBUDAYA DI KOTA-KOTA INDONESIA Vol. 8 No. 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PAS Vol 8, No 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PASU Vol 7, No 2 (2023): ANTROPOLOGI STRUKTURAL DAN ANTROPOLOGI MUSIK: TRITANGTU DAN PARIWISATA BUDAYA Vol 7, No 1 (2023): Komodifikasi Budaya: Tradisi, Seni dan Gaya Hidup Vol 6, No 2 (2022): Peradaban dan Pengetahuan Lokal: Pada Masa Hindu hingga Masa Kini Vol 6, No 1 (2022): Minum Tuak Marga Perbase: Terebang Shalawat Numbal Terowongan Sasaksaat Vol 5, No 2 (2021): Pandemi Covid-19 & Pengetahuan Dukun: Ritual, Seni, Konsumerisme Vol 5, No 1 (2021): Hubungan Imajinasi, Kreativitas, Perubahan, dan Mitos Identitas: Mang Koko, Moti Vol 4, No 2 (2020): Tradisi Otentik, Modifikasi Tradisi, Komodifikasi (Agenda Setting Artefak Digita Vol 4, No 1 (2020): Fungsi, Gender, dan Pergeseran Nilai-nilai dalam Tradisi Vol 3, No 2 (2019): Artefak Budaya Arkais dan Kontemporer : dari Ulos Hingga Seni Digital Vol. 3 No. 2 (2019): Artefak Budaya Arkais dan Kontemporer : dari Ulos Hingga Seni Digital Vol. 3 No. 1 (2019): Etnografi Ritual Masyarakat Sunda: Fungsi Sosial, Liminalitas, Akulturasi Vol 3, No 1 (2019): Etnografi Ritual Masyarakat Sunda: Fungsi Sosial, Liminalitas, Akulturasi Vol 2, No 2 (2018): Momen Kreatif, Ekspresi, dan Keberagaman Etnik Vol. 2 No. 2 (2018): Momen Kreatif, Ekspresi, dan Keberagaman Etnik Vol. 2 No. 1 (2018): Kreativitas Tradisi di Era Globalisasi: Transformasi & Peluang Vol 2, No 1 (2018): Kreativitas Tradisi di Era Globalisasi: Transformasi & Peluang More Issue