cover
Contact Name
Imam Setyobudi
Contact Email
jurnaletnika.isbibdg@gmail.com
Phone
+6222-7314982
Journal Mail Official
jurnal.budaya.etnika@isbi.ac.id
Editorial Address
Jalan Buah Batu no 212 Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Budaya Etnika
ISSN : 2549032X     EISSN : 27981878     DOI : -
Jurnal Budaya Etnika merupakan publikasi hasil karya ilmiah yang berkaitan dengan budaya mencakup cipta, karsa, dan karya manusia. Jurnal Budaya Etnika menaruh perhatian pada artikel-artikel hasil kajian mengenai berbagai kebudayaan etnis yang berhubungan dengan seni, religi dan ritual, mitos, media, dan wacana kritis.
Articles 126 Documents
MEME REFRAIN LIRIK HUMOR LAGU NESTAPA (HAREUDANG) DARI KELOMPOK MUSIK PASUKAN PERANG DI KOTA BANDUNG Dewi, Ananda Aulia; Setyobudi, Imam; Saleh, Sukmawati
Jurnal Budaya Etnika Vol. 8 No. 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PAS
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i1.2013

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini menjelaskan mengenai gejala meme yang terjadi pada refrain lirik humor lagu Nestapa (Hareudang) milik kelompok musik Pasukan Perang dari kota Bandung yang viral di beragam media sosial salah satunya media TikTok. Serta bagaimana gejala lirik tersebut bisa viral hingga menjadi bahan bercandaan Artis nasional dan menjadi bahan materi iklan salah satu obat nyamuk bakar VAPE. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan observasi pada media sosial TikTok dan Youtube. Hasil penelitian mengemukakan tentang 1) lirik lagu Nestapa (Hareudang) yang mengandung multitafsir bagi beberapa kalangan pendengar. 2) Respon masyarakat terhadap refrain lagu Nestapa (Hareudang) 3) Tafsir Pasukan Perang terhadap gejala meme yang muncul pada lirik refrain lagu Nestapa (Hareudang). Kata kunci: Meme, Tafsir, TikTok, Pasukan Perang. ABSTRACT This study explains the meme symptoms that occur in the humorous refrain of the song Nestapa (Hareudang) belonging to the Pasukan Perang music group from the city of Bandung which is viral on various social media, one of which is TikTok media. And how the symptoms of these lyrics can go viral to become a joke for national artists and become an advertisement material for one of the VAPE-fueled mosquito coils. This research was conducted with a qualitative descriptive method through data collection using interview and observation techniques on social media TikTok and Youtube. The results of the study suggest 1) the lyrics of the song Nestapa (Hareudang) which contain multiple interpretations for several listeners. 2) Community response to the refrain of Nestapa (Hareudang) 3) Pasukan Perang’s interpretation of the meme symptoms that appear in the chorus of Nestapa (Hareudang) song. Keywords: Meme, Tafsir, TikTok, Pasukan Perang.
GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS DI KOTA BANDUNG (PRODUKSI-DIRI MASYARAKAT) Krismawanto, Muharam; Setyobudi, Imam
Jurnal Budaya Etnika Vol. 8 No. 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PAS
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i1.2028

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini menjelaskan mengenai perjuangan yang dilakukan komunitas metal Ujungberung Rebels dalam melakukan suatu tindakan produksi diri nasyarakat sebagai suatu langkah melawan dominasi major label. Serta melihat peran indie label serta infrastruktur musik lainnya sebagai siasat yang dilakukan oleh komunitas metal Ujungberung Rebels dalam memperebutkan pangsa pasar musik dengan major label. Penelitian ini dilakukan melalui metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara serta observasi baik secara langsung ataupun melalui literatur serta media lainnya seperti film. Hasil dari penelitian ini yaitu mengemukakan tentang 1) Perjuangan Ujungberung Rebels. 2) Siasat yang diluncurkan Ujungberung Rebels dalam melawan dominasi major label. Kata kunci: Ujungberung Rebels, Produksi-diri Masyarakat, Indie label, Do It Yourself ABSTRACT This research explains the struggles made by the Ujungberung Rebels metal community in carrying out an act of self-production as a step against the dominance of major labels. As well as seeing the role of indie labels and other music infrastructure as a strategy carried out by the Ujungberung Rebels metal community in fighting for music market share with major labels. This research was conducted through qualitative research methods with data collection techniques using interview and observation methods either directly or through literature and other media such as films. The result of this study is to bring up about 1) The Struggle of Ujungberung Rebels. 2) The tactics that The Rebels launched in countering the dominance of major labels. Keywords: Ujungberung Rebels, The self-production of society, Indie label, Do It Yourself
MAKNA DAN SIMBOL TRADISI BROKOHAN DI DESA KLAMPISAN Qurrotul'ain, Diah
Jurnal Budaya Etnika Vol. 8 No. 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PAS
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i1.2875

Abstract

ABSTRAK Di Indonesia, terdapat beragam tradisi, termasuk di antaranya adalah upacara menyambut kelahiran bayi. Seperti yang diterapkan oleh masyarakat Desa Klampisan, setiap kali ada yang baru melahirkan, mereka melaksanakan suatu tradisi yang dikenal sebagai brokohan. Penelitian ini berusaha menggali tentang tradisi brokohan yang dilakukan oleh warga Desa Klampisan sekaligus mencari makna dan simbol dalam tradisi tersebut. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif. Penggalian data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara. Teori yang dipakai dalam peneltian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Tradisi Brokohan merupakan tradisi yang masih dilestarikan di Desa Klampisan. Sebagaimana tradisi-tradisi lainya tradisi brokohan mengalami penyesuaian dengan nilai-nilai ajaran gama Islam. Tradisi Brokohan dilakuakan dengan acara doa bersama dan diakhiri dengan acara berkatan (sajian). Dan setiap sajian tersebut mengandung makna filosofis tersendiri. Di antara sajian-sajian yang disajikan dalam acara brokohan di Desa Klampisan adalah Nasi ambengan, jenang merah. Ingkung, telur dan urap-urap. Kata kunci: Brokohan; sajian; makna. ABSTRACT In Indonesia, a variety of traditions exists, one of which revolves around welcoming the birth of a newborn. As practiced by the residents of Klampisan Village, whenever someone gives birth, they engage in a customary ritual known as brokohan. This study aims to delve into the brokohan tradition, seeking to unveil the meanings and symbols embedded in this cultural practice. Qualitative research methods are employed, utilizing observation and interview techniques for data collection. The theoretical framework applied in this study draws upon Roland Barthes' semiotic theory. The findings of this investigation uncover that the Brokohan Tradition continues to thrive in Klampisan Village. Similar to other traditions, the brokohan ritual has adapted to align with the values espoused by Islamic teachings. The tradition involves a collective prayer event and culminates with a berkatan (serving) ceremony, where each dish holds its own philosophical significance. Among the dishes presented during the brokohan ceremony in Klampisan Village are Nasi Ambengan, red porridge (jenang merah), Ingkung (a traditional Javanese chicken dish), eggs, and urap-urap (a Javanese salad). Keywords: Brokohan, dishes, meanings.
ANALISIS MAKNA SIMBOLIK DALAM PROSESI TRADISI PERNIKAHAN SUKU BANGSA BATAK MANDAILING DI TAPANULI SELATAN, SUMATERA UTARA Harahap, Nurhanipah
Jurnal Budaya Etnika Vol. 8 No. 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PAS
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i1.2962

Abstract

ABSTRAK Tujuan pada penelitian ini ialah untuk menganalisis mengenai makna simbolik pada tradisi pernikahan suku Mandailing. Metode pada penelitian ini ialah menggunakan analissi deskriptif dengan menggunakabn metode pengumpulan data triangulasi. Hasil dari penelitian ini yakni: pada tradisi pernikahan sudah menjadi sebuah ritual di setiap suku kebudayaan Indonesia, salah satunya ialah pada suku batak Mandailing. Suku batak Mandailing merupakan salahsatu bagian dari suku daerah provinsi Sumatera Utara, yang terletak di kabupaten Tapanuli Selatan. Dalam tradisi suku batak Mandailing memiliki beberapa prosesi yang harus dilakukan didalamnya, juga tersirat didalamnya mengenai makna simbol, serta nilai-nilai Islam tentang pernikahan suku batak Mandailing. Islam merupakan agama bersifat Rahmatan lil a’lamin, agama yang diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia dan sebagai rahmat bagi sekalian alam. Pernikahan dalam Islam merupakan ajaran agama guna untuk menjalankan sunnah rasulullah, serta untuk beribadah. Pernikahan suku batak Mandailing ini ialah merupakan suatu ritual kebudayaan bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga. Menanggapi tentang prosesi adat pernikahan yang sangat menarik yang dimiliki di dalam suku batak Mandailing. Pernikahan pada suku batak Mandailing merupakan sebuah simbol sebagai bentuk pencurahan rasa syukur pada Allah yang maha esa, serta ucapan doa harapan untuk kedua mempelai, penyampaian pesan nasehat untuk bekal dalam mengarungi kehidupan yang baru. Kata kunci: Makna, Simbol, Pernikahan, Suku Batak Mandailing ABSTRACT The aim of this research is to analyze the symbolic meaning of the Mandailing tribe's wedding traditions. The method in this research is to use descriptive analysis using triangulation data collection methods. The results of this research are: the tradition of marriage has become a ritual in every Indonesian cultural tribe, one of which is the Mandailing Batak tribe. The Mandailing Batak tribe is a part of the regional tribes of North Sumatra province, which is located in South Tapanuli district. In the tradition of the Mandailing Batak tribe, there are several processions that must be carried out in it, it also contains the meaning of symbols and Islamic values regarding weddings of the Mandailing Batak tribe. Islam is a religion that is Rahmatan lil a'lamin, a religion that was revealed to be a guide for humans and a blessing for all nature. Marriage in Islam is a religious teaching to carry out the sunnah of the Prophet Muhammad, as well as to worship. The Mandailing Batak tribe wedding is a cultural ritual aimed at strengthening ties between families. Responding to the very interesting traditional wedding procession that the Mandailing Batak tribe has. Marriage in the Mandailing Batak tribe is a symbol as a form of expressing gratitude to Almighty Allah, as well as saying prayers of hope for the bride and groom, conveying messages of advice to provide provisions for navigating a new life. Keywords: Meaning, Symbols, Marriage, Mandailing Batak Tribe.
UPACARA MARAK LAUK DI SUNGAI CIKUBANG, KAMPUNG PARAKANSALAM, DESA NYALINDUNG, KECAMATAN CIPATAT Tismara, Hernandi
Jurnal Budaya Etnika Vol. 8 No. 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PAS
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i1.3303

Abstract

ABSTRAK Kearifan lokal upacara marak lauk di sungai adalah tradisi budaya yang menggambarkan perilaku manusia dalam memanfaatkan sungai untuk dikonsumsi ikannya, guna mencukupi kebutuhan pangan. Upacara marak lauk merupakan warisan budaya leluhur yang diekspresikan untuk memuliakan alam sebagai titipan Tuhan. Tradisi budaya marak lauk mengajarkan bagaimana cara yang layak dan pantas dalam menangkap ikan. Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk melihat bagaimana proses upacara marak lauk dan persepsi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana persepsi masyarakat masih melakukan upacara lauk ini sebagai bagian dari kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa upacara marak lauk dilakukan sebagai bentuk perwujudan manusia dalam menghormati dan menghargai lingkungan alam dan mahluk halus penunggu sungai. Semua rangkaian acara sangat terstruktur, terintegrasi, memiliki standar operasional prosedur walaupun tidak tertulis. Inilah bentuk kebudayaan adiluhung masyarakat sunda Kampung Parakansalam desa Nyalindung kecamatan Cipatat kabupaten Bandung Barat dalam menangkap ikan di sungai. Semoga tradisi ini bisa membangun kesadaran masyarakat, dan pemerintah dalam memelihara lingkungan sungai. Kata kunci: Upacara Marak Lauk, Pemangku Adat, Sungai, Persepsi. ABSTRACT The local wisdom of the marak lauk ceremony in the river is a cultural tradition that describes human behavior in using the river to consume fish in order to meet food needs. The marak lauk ceremony is an ancestral cultural heritage expressed to glorify nature as a gift from God. The widespread cultural tradition of marak lauk teaches how to properly and appropriately catch fish. Qualitative research methods were used in this research to examine the process of the marak lauk ceremony and public perceptions. The aim of this research is to see how people perceive that they still carry out this side dish ceremony as part of local wisdom that needs to be preserved. The results of this research show that the marak lauk ceremony is done as a form of human manifestation of respecting and appreciating the natural environment and the spirits that guard rivers. All series of events are very structured, integrated, and have standard operating procedures, even though they are not written. This is a form of noble culture of the Sundanese people of Parakansalam Village, Nyalindung Village, Cipatat Sub-District, West Bandung Regency, in catching fish in the river. Hopefully, this tradition can build public and government awareness about maintaining the river environment. Keywords: Marak Lauk Ceremony, Traditional Authority, Perception.
KEAGENAN KELOMPOK ALUNAN NUSANTARA TERHADAP HABITUS SELERA MUSIK INDONESIA 1977–1980 Arbhirizky, Muhammad; Setyobudi, Imam
Jurnal Budaya Etnika Vol. 8 No. 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PAS
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i1.3304

Abstract

ABSTRAK Penulisan ini mengangkat tentang fenomena populernya kembali musik lawas Indonesia 1977—1980, khususnya musik dari Gank Pegangsaan. Kelompok Alunan Nusantara sebagai agen yang berperan dalam mempopulerkan kembali musik lawas Indonesia menjadi objek dari Penulisan ini. Selanjutnya, kelompok ini disesuaikan dengan konsep habitus, disertai analisis berdasarkan teori nostalgia. Penulisan ini merupakan Penulisan kualitatif dengan metode observasi partisipasi, wawancara, dan studi pustaka. Penulisan ini menghasilkan simpulan bahwa: 1) Alunan Nusantara menularkan selera musik Indonesia 1977—1980 lewat konten instagram yang menarik, 2) orang tua dari masing- masing aktor Alunan Nusantara berperan penting dalam membagikan nostalgia, 3) musik Indonesia 1977—1980, yaitu Gank Pegangsaan, merupakan puncak kreativitas musik Indonesia. Hal ini dapat diketahui lewat syair dan aransemen musiknya yang berbeda dari musik Indonesia pada umumnya saat itu serta banyak terpengaruh dari elemen musik rok progresif. Hal inilah yang menjadi daya tarik bagi aktor Alunan Nusantara. Kata kunci: Alunan Nusantara, Nostalgia, Selera Musik, Rok Progresif, Habitus Selera ABSTRACT This research talks about the phenomenon of the re-popularity of 1977—1980 Indonesian music, especially the music of Gank Pegangsaan. The Alunan Nusantara group as an agent that plays a role in the re-popularization of this music is the main object of this research. Afterwards, this group is adjusted to the concept of habitus, and analyzed with nostalgia theory. This research is a qualitative research with some method, such as participatory observation, interview, and literature study. The concludes from this research is: 1) Alunan Nusantara introduce 1977—1980 Indonesian musical tastes through interesting Instagram content, 2) the parents of each Alunan Nusantara’s actor played an important role in sharing their nostalgia, 3) Indonesian music from 1977—1980, namely Gank Pegangsaan, is the peak of creativity of Indonesian musi. This can be seen through the lyrics and musical arrangements, which are different from Indonesian musics in general at that time and are heavily influenced by progressive rock’s element. This is the main attraction for Alunan Nusantara actors Key words: Alunan Nusantara, Nostalgia, Musical Taste, Progressive Rock, Taste Habitus
TRADISI WIRID KARINDING DALAM PERSPEKTIF FUNGSI DAN MAKNA DI DAERAH CICALENGKA KABUPATEN BANDUNG Renetha, Renetha; Cahya, Cahya; Hidayana, Iip Sarip
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v9i2.2272

Abstract

Abstrak: Penelitian ini membahas persoalan Tradisi Wirid Karinding sebagai bentuk seni pertunjukan yang dikaji dengan perspektif antropologi budaya berbasis seni. Adapun fokus pengkajiannya mengarah kepada aspek fungsi dan makna yang terkandung dalam bentuk penyajian Tradisi Wirid Karinding. Untuk mengungkap persoalan fungsi dan makna tersebut, penulis menggunakan teori Struktural Fungsional dari Radcliffe Brown sebagai pisau bedah penganalisisan substansi permasalahan pokok. Adapun metode penelitianya menggunakan metode deskriptif Analisis dalam bentuk model penelitian Kualitatif. Dalam upaya menjelaskan dan membahas isu-isu penting terkait dengan pokok permasalahan, maka penulis mendeskripsikan secara sistematis dimulai dari Bab I Pendahuluan hingga Bab V Kesimpulan. Dengan demikian laporan hasil penelitian dalam bentuk Skripsi ini dapat memberikan penjelasan dan penganalisisan secara terperinci sesuai dengan sistematika penulisan. Kata Kunci: Wirid Karinding, Fungsi, Makna dan Tradisi Abstract: This study discusses the issue of the Wirid Karinding Tradition as a form of performing arts that is studied from the perspective of art-based cultural anthropology. The focus of the study is on aspects of function and meaning contained in the form of presenting the Wirid Karinding Tradition. To reveal the problem of function and meaning, the author uses the Structural Functional theory from Radcliffe Brown as a scalpel to analyze the substance of the main problem. The research method uses descriptive analysis method in the form of a qualitative research model. In an effort to explain and discuss important issues related to the subject matter, the authors describe systematically starting from Chapter I Introduction to Chapter V Conclusion. Thus the research report in the form of this thesis can provide a detailed explanation and analysis in accordance with the systematics of writing. Keywords: Wirid Karinding, Function, Meaning and Tradition
SIMBOL DAN MAKNA TRADISI RITUAL ZIARAH KE PETILASAN GEGER HANJUANG DI KAMPUNG CIHANJUANG DESA MANDALASARI KABUPATEN BANDUNG BARAT Putri, Dila Eka
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v9i2.2273

Abstract

Abstrak: Budaya spiritual yang masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Indonesia salah satunya adalah tradisi ziarah. Tradisi ziarah petilasan Geger Hanjuang, pada praktiknya memerlukan sesajian dalam prosesinya. Hal inilah yang membuat ritual ziarah petilasan geger Hanjuang sarat akan simbol dan makna. Sehingga dalam mengetahui simbol dan makna yang ada penulis menggunakan teori Interpretivisme simbolik Clifford Geertz unutuk mengkaji hasil data. Penelitian ini juga menggunakan metode observasi partisipan dan wawancara dalam mengumpulkan data penelitian. Observasi dilakukan di wilayah petilasan Geger Hanjuang Kampung Cihanjuang Desa Mandalasari. Adapun proses pengumpulan data melalui wawancara ke beberapa informan penting seperti kuncen; sesepuh kampung; dan pelaku ziarah. hasil penelitian ini akan menjelasakan 1) Bentuk dan prosesi ziarah di petilasan Geger Hanjuang; 2) Simbol dan makna yang terkandung dalam rangkaian prosesi ziarah di petilasan Geger Hanjuang. Kata kunci: Ziarah, Petilasan, Sesajen. Abstract: One of the spiritual cultures that are still practiced by some Indonesians is the pilgrimage tradition. Geger Hanjuang's pilgrimage tradition, in practice, requires offerings in the procession. This is what makes the pilgrimage ritual of the ‘Petilasan Geger Hanjuang’ full of symbols and meanings. So that in knowing the symbols and meanings that exist, the author uses the theory of symbolic interpretation of Clifford Geertz to examine the results of the data. This study also uses participant observation and interviews in collecting research data. Observations were made in the Petilasan Geger Hanjuang, Kampung Cihanjuang, Desa Mandalasar. The process of collecting data through interviews with several important informants such as kuncen; village elders; and pilgrims. the results of this study will explain 1) the form and procession of the pilgrimage at the Geger Hanjuang shrine; 2) The symbols and meanings contained in the series of pilgrimage processions at the Geger Hanjuang shrine. Keywords: Pilgrimage, Petilasan, Offerings
PENGARUH GLOBALISASI ATAS PEWARISAN BUDAYA SENI TERBANG BUHUN DI MAJALAYA KECAMATAN PASEH KABUPATEN BANDUNG Haqi, Inaya Ainul; Suryamah, Dede; Hidayana, Iip Sarip
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v9i2.2308

Abstract

Abstrak: Penelitian ini memfokuskan pengaruh globalisasi terhadap pewarisan budaya di Majalaya Kecamatan Paseh. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan pewarisan budaya dan pengaruh globalisasi apa saja yang terdapat pada Seni Terbang Buhun dengan analisis pengaruh globalisasi dan pewarisan budaya. Menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan permasalahan secara menyeluruh dengan teknik pengumpulan data yang berupa observasi, studi Pustaka, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perubahan sosial William F Ougburn dan Pewarisan budaya J Berry untuk menganalisis Seni Terbang Buhun. Hasil peneltian bahwa perubahan yang terjadi dalam Seni Terbang Buhun dalam kebudayaan material serta immaterial dan pewarisan budaya dilakukan melalui tiga pola yaitu, pewarisan tegak, pewarisan datar dan pewarisan miring. Namun dalam pewarisan budaya terdapat kendala dalam penerusan budaya ke genarasi selanjutnya. Kata kunci: pewarisan budaya, globalisasi, seni terbang buhun. Abstract: This study focuses on the influence of globalization on cultural inheritance in Majalaya, Paseh District. The purpose of this study is to explain the cultural inheritance and the effects of globalization on Seni Terbang Buhun by analyzing the effects of globalization and cultural inheritance. Using qualitative research methods to describe the problem thoroughly with data collection techniques in the form of observation, literature study, interviews, and documentation. The theory used in this research is William F Ougburn's social change and J Berry's cultural inheritance to analyze Seni Terbang Buhun. The results of the research show that the changes that occur in Seni Terbang Buhun in material and immaterial culture and cultural inheritance are carried out through three patterns, namely, upright inheritance, flat inheritance and oblique inheritance. However, in cultural inheritance there are obstacles in transmitting culture to the next generation. Keyword: heritage,globalitation, Seni Terbang Buhun.
BIDAI TIKAR DAYAK DALAM MENUNJANG EKONOMI MASYARAKAT PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA Nanang, Nanang; Ariansyah, Zul; Patriani, Ira; Arisdiyoto, Iving
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v9i2.3673

Abstract

Abstrak: Anyaman bidai adalah sebuah hasil dari kreativitas berbasis kearifan lokal yang memiliki berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu produk andalan UMKM Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui peran Pemerintah Daerah dalam memberdayakan UMKM yang ada di Jagoi Babang sebagai upaya meningkatkan pendapatan masyarakat yang merupakan kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Pengumpulan data pada tulisan ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif studi literatur, data yang digunakan pada tulisan ini lebih berupa data sekunder yang dikumpulkan melalui proses studi literatur. Lokasi ini dipilih karena dari data yang ditemukan menunjukkan aspek sosial yang menjadi penyebab perdagangan kerajinan. Kurangnya pengetahuan manajemen dan kewirausahaan pada masyarakat perbatasan; serta tidak adanya strategi yang dimiliki dalam pemasaran bidai, menyebabkan perajin berada pada keadaan yang lemah. Maka dari itu, diperlukan upaya yang harus dilakukan pemerintah dalam memperdayakan masyarakat melalui pengenalan manajemen strategis dalam hal pemasaran, pelatihan pemasaran, dan menjalin mitra agar dapat meningkatkan daya tawar dan mengembangkan jaringan pemasaran yang lebih luas lagi, selain pada wilayah Serikin, Malaysia. Kata kunci: bidai, perbatasan, kerajinan Abstract: Bidai webbing is one of the results of creativity based on local wisdom that has the potential to be developed as one of the mainstay products of UMKM in Jagoi Babang District. The purpose of this study is to find out the role of the Regional Government in empowering UMKM as an effort to increase community income in Jagoi Babang District, which is an Indonesia-Malaysia border area. The data collection in this paper is carried out using a qualitative method, the data used in this paper is more in the form of secondary data collected through the literature study process. This location was chosen because the data found showed the social aspect that was the cause of the craft trade. Lack of management and entrepreneurship knowledge; As well as the absence of a proper and efficient strategy in marketing tea, causing artisans to be in a weak bargaining position. Therefore, community empowerment efforts are needed through the introduction of strategic marketing management, training of marketing personnel, and establishing partners in order to increase bargaining power and develop a wider marketing network, other than in the Serikin area, Malaysia. Keywords: bidai webbing, border, crafts

Page 10 of 13 | Total Record : 126


Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO Vol. 9 No. 1 (2025): NASIONALISME GLOBALISASI E-SPORT GAMERS: RESIPROSITAS JEJARING KESENIAN DAN KEP Vol. 8 No. 2 (2024): ETNOGRAFI BUDAYA DAN SUBBUDAYA DI KOTA-KOTA INDONESIA Vol. 8 No. 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PAS Vol 8, No 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PASU Vol 7, No 2 (2023): ANTROPOLOGI STRUKTURAL DAN ANTROPOLOGI MUSIK: TRITANGTU DAN PARIWISATA BUDAYA Vol 7, No 1 (2023): Komodifikasi Budaya: Tradisi, Seni dan Gaya Hidup Vol 6, No 2 (2022): Peradaban dan Pengetahuan Lokal: Pada Masa Hindu hingga Masa Kini Vol 6, No 1 (2022): Minum Tuak Marga Perbase: Terebang Shalawat Numbal Terowongan Sasaksaat Vol 5, No 2 (2021): Pandemi Covid-19 & Pengetahuan Dukun: Ritual, Seni, Konsumerisme Vol 5, No 1 (2021): Hubungan Imajinasi, Kreativitas, Perubahan, dan Mitos Identitas: Mang Koko, Moti Vol 4, No 2 (2020): Tradisi Otentik, Modifikasi Tradisi, Komodifikasi (Agenda Setting Artefak Digita Vol 4, No 1 (2020): Fungsi, Gender, dan Pergeseran Nilai-nilai dalam Tradisi Vol. 3 No. 2 (2019): Artefak Budaya Arkais dan Kontemporer : dari Ulos Hingga Seni Digital Vol 3, No 2 (2019): Artefak Budaya Arkais dan Kontemporer : dari Ulos Hingga Seni Digital Vol 3, No 1 (2019): Etnografi Ritual Masyarakat Sunda: Fungsi Sosial, Liminalitas, Akulturasi Vol. 3 No. 1 (2019): Etnografi Ritual Masyarakat Sunda: Fungsi Sosial, Liminalitas, Akulturasi Vol 2, No 2 (2018): Momen Kreatif, Ekspresi, dan Keberagaman Etnik Vol. 2 No. 2 (2018): Momen Kreatif, Ekspresi, dan Keberagaman Etnik Vol. 2 No. 1 (2018): Kreativitas Tradisi di Era Globalisasi: Transformasi & Peluang Vol 2, No 1 (2018): Kreativitas Tradisi di Era Globalisasi: Transformasi & Peluang More Issue