cover
Contact Name
Imam Setyobudi
Contact Email
jurnaletnika.isbibdg@gmail.com
Phone
+6222-7314982
Journal Mail Official
jurnal.budaya.etnika@isbi.ac.id
Editorial Address
Jalan Buah Batu no 212 Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Budaya Etnika
ISSN : 2549032X     EISSN : 27981878     DOI : -
Jurnal Budaya Etnika merupakan publikasi hasil karya ilmiah yang berkaitan dengan budaya mencakup cipta, karsa, dan karya manusia. Jurnal Budaya Etnika menaruh perhatian pada artikel-artikel hasil kajian mengenai berbagai kebudayaan etnis yang berhubungan dengan seni, religi dan ritual, mitos, media, dan wacana kritis.
Articles 106 Documents
EKSISTENSI KEBAYA MODERN DALAM IDENTITAS BUDAYA PEREMPUAN JAWA GEN Z DI ERA KONTEMPORER nisa, Annisa Laila Gustiavani; Endraswara, Suwardi; Dwiadmojo , Ghis Nggar
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini mengkaji tentang eksistensi kebaya modern dalam identitas budaya perempuan Jawa yang mengalami transformasi di era generasi Z dan era kontemporer saat ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui survei berupa kuisioner. Objek kajian dalam penelitian ini yaitu eksistensi kebaya modern dalam identitas budaya perempuan Jawa. Subjek penelitiannya yaitu perempuan Jawa generasi Z. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa pada era kontemporer saat ini, perkembangan budaya semakin pesat, sehingga melahirkan berbagai model kebaya baru yang lebih modern. Kebaya ini yang kemudian dijadikan sebagai inovasi yang sangat populer di kalangan generasi Z saat ini, khususnya pada perempuan Jawa. Mereka menjadikan kebaya modern sebagai alat untuk mengekspresikan dirinya dengan bebas sebagai identitas perempuan di Jawa tanpa harus menghilangkan makna dan filosofi budaya yang sudah melekat di dalamnya. Kata kunci: Eksistensi, Kebaya, Gen Z, Kontemporer Abstract: This research aims to the existence of modern kebaya in the cultural identity of Javanese women who have undergone transformation in the era of generation Z and the current contemporary era. The method is a qualitative descriptive method with data collection techniques through a survey in the form of a questionnaire. The object of this research is the existence of modern kebaya in the cultural identity of Javanese women, and the subjects are Javanese women of generation Z. The results show that in the current contemporary era, cultural development is increasingly rapid, thus giving birth to various new, more modern kebaya models. This kebaya then became a very popular innovation among Generation Z today, especially among Javanese women. They use modern kebaya as a tool to freely express themselves as a Javanese woman's identity without having to eliminate the meaning and cultural philosophy that is inherent in it. Keywords: Existence, Kebaya, Gen Z, Contemporary
SENI ADAT TUTUNGGULAN KAMPUNG ADAT CIKONDANG PANGALENGAN, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT Mutia Maharani, Feby; Delina Davina Putri; Najwa Alia, Marsha; Haniyyah, Naya; Agisni, Gita; Zuhdan Izzatul Ulya, Muhammad; Supriatna, Mamat
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v9i2.4166

Abstract

Abstrak: Tutunggulan merupakan salah satu tradisi Kampung adat Cikondang yang sudah dilaksanakan secara turun-temurun. Budaya tersebut merupakan aset penting dalam menjaga tradisi yang dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat Kampung adat Cikondang. Budaya ini sering dikaitkan dengan simbol-simbol dan rasa syukur atas rezeki yang diturunkan oleh Allah SWT. Adapun penelitian ini bertujuan untuk menggali makna simbolik, mendeskripsikan dan mengamati budaya tutunggulan yang setiap tahun dilaksanakan tersebut. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang diperoleh dari data lapangan, wawancara mendalam bersama masyarakat dan studi literatur mengenai warisan budaya di Kampung adat Cikondang. Penelitian ini menghasilkan temuan-temuan, diantaranya (1) sejarah mengenai budaya tutunggulan, (2) arti dan makna simbolik dari budaya tutunggulan. Kata kunci: Tutungggulan, warisan, Leluhur Abstract: Tutunggulan is one of the traditions of Cikondang traditional village that has been carried out for generations. The culture is an important asset in maintaining the traditions carried out every year by the Cikondang indigenous village community. This culture is often associated with symbols and gratitude for the sustenance sent down by Allah SWT. This research aims to explore the symbolic meaning, describe and observe the tutunggulan culture that has been carried out every year. This article uses a descriptive qualitative approach obtained from field data, in-depth interviews with the community and literature studies on cultural heritage in Cikondang traditional village. This research produces findings, including (1) the history of tutunggulan culture, (2) the meaning and symbolic significance of tutunggulan culture. Keywords: Tutunggulan, Heritage, Ancestor
INOVASI JURNALISME SENI BUDAYA PADA INSTAGRAM NABIL MUHDOR @BILLMOHDOR Pribadi, Firman; Nugroho, Catur
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini menjelaskan bagaimana media sosial menjadi ruang partisipatif yang mendorong munculnya praktik jurnalisme warga yang kreatif dan edukatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis konten untuk mengkaji praktik jurnalisme seni budaya yang dilakukan oleh Nabil Muhdor melalui akun Instagram @billmohdor. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi digital, dan wawancara mendalam dengan kreator dan pengikut aktif. Konten visual, narasi, dan interaksi audiens dianalisis untuk memahami strategi komunikasi dan bentuk inovasi yang digunakan. Temuan menunjukkan bahwa Instagram tidak hanya menjadi sarana berbagi konten, tetapi juga ruang aktualisasi jurnalisme kreatif yang memadukan visual sederhana, narasi reflektif, dan nilai-nilai budaya lokal. Nabil berhasil menyajikan konten yang akurat, otentik, dan menyentuh, serta memanfaatkan fitur Instagram secara strategis untuk membangun komunikasi dua arah yang partisipatif. Inovasi ini berdampak pada pola konsumsi budaya audiens yang menjadi lebih aktif, reflektif, dan kolaboratif, serta memperkuat posisi media sosial sebagai ruang literasi dan pelestarian budaya di era digital. Kata Kunci: Jurnalisme masyarakat, Difusi Inovasi, Jurnalisme Digital, Media Sosial Instagram, Seni Budaya. Abstract: This research explains how social media becomes a participatory space that encourages the emergence of creative and educative citizen journalism practices. This research uses a descriptive qualitative approach with a content analysis method to examine the practice of cultural arts journalism carried out by Nabil Muhdor through the Instagram account @billmohdor. Data were collected through observation, digital documentation, and in-depth interviews with creators and active followers. Visual content, narratives, and audience interactions were analyzed to understand the communication strategies and forms of innovation used. The findings show that Instagram is not only a means of sharing content, but also a space for actualizing creative journalism that combines simple visuals, reflective narratives, and local cultural values. Nabil succeeded in presenting accurate, authentic and touching content, and strategically utilized Instagram features to build participatory two-way communication. This innovation has an impact on the audience's cultural consumption patterns which have become more active, reflective and collaborative, and strengthens the position of social media as a space for literacy and cultural preservation in the digital era. Keywords: Citizen journalism, Diffusion of Innovation, Digital Journalism, Instagram Social Media, Cultural Arts
RITUAL BALIMAU MINANGKABAU: TRADISI PENYUCIAN DIRI DAN TRANSFORMASI SOSIAL Azizul Rahman Dimi; Hery Supiarza; Muhammad Arjun Pratama
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v9i2.4227

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas ritual Balimau sebagai tradisi penyucian diri masyarakat Minangkabau menjelang Ramadan. Permasalahan penelitian mencakup asal-usul, makna, dan transformasi sosial dalam pelaksanaannya. Kajian ini berlandaskan pada teori fungsionalisme budaya dan simbolisme Clifford Geertz, dengan metode studi dokumentasi terhadap literatur budaya dan jurnal ilmiah. Hasil analisis menunjukkan bahwa ritual Balimau memiliki dimensi religius dan sosial yang penting, namun mengalami pergeseran makna akibat modernisasi dan komersialisasi. Diskusi menyoroti perlunya pelestarian nilai-nilai adat dan keagamaan dalam praktik budaya lokal. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kajian budaya dan menawarkan rekomendasi pelestarian tradisi Balimau yang sesuai konteks zaman. Kata kunci: Balimau, Minangkabau, Tradisi, Modernisasi, Simbolisme Abstract: This article explores the Balimau ritual, a Minangkabau tradition of physical and spiritual purification before Ramadan. The research addresses issues of origin, meaning, and socio-cultural transformation of the ritual. Grounded in cultural functionalism and Clifford Geertz’s symbolic theory, this study uses document-based research through literature and cultural archives. Findings reveal that Balimau holds strong religious and social values but has shifted in meaning due to modernization and commercialization. The discussion emphasizes the importance of preserving both traditional and spiritual values in the face of cultural change. This study contributes to cultural discourse and offers recommendations for sustaining the Balimau tradition in a contemporary context. Keywords: Balimau, Minangkabau, tradition, modernization, symbolism
PERSEPSI PENONTON TERHADAP COSPLAYER PADA EVENT COSPLAY DI KOTA KENDARI Amalia, Rizky Nur; Suyuti, Nasruddin; Jalil, Abdul
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v9i2.4315

Abstract

Abstrak: Di era globalisasi dan kemajuan teknologi, budaya populer Jepang seperti anime, manga, dan cosplay dengan cepat menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini memicu tumbuhnya komunitas penggemar di Kota Kendari yang aktif menggelar event cosplay sejak 2012. Cosplay menjadi media ekspresi diri, kreativitas, dan identitas sosial, namun memunculkan beragam persepsi di masyarakat, dari yang menganggapnya seni hingga yang melihatnya aneh. Setelah pandemi, aktivitas cosplay kembali marak dan menarik perhatian publik. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji persepsi penonton terhadap cosplayer serta faktor yang memengaruhinya, mengingat hal ini dapat memengaruhi penerimaan subkultur tersebut di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan persepsi penonton terhadap cosplayer pada event cosplay di Kota Kendari serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif etnografi dengan teknik observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap delapan informan yang terdiri dari anggota komunitas cosplay, penonton, dan panitia event. Data dianalisis dengan menggunakan teori Interaksionisme Simbolik oleh George Herbert Mead (1934) melalui tahap kategorisasi fenomena, pelabelan kategori, hingga penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran persepsi masyarakat dari yang awalnya menganggap cosplay aneh menjadi lebih positif seiring meningkatnya intensitas event cosplay dan interaksi langsung antara cosplayer dan penonton. Kini cosplay dipandang tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai seni, kreativitas, dan ekspresi identitas yang diterima dalam masyarakat Kota Kendari. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa cosplay di Kota Kendari kini semakin diterima sebagai bagian dari seni, kreativitas, dan ekspresi identitas, seiring meningkatnya pemahaman dan interaksi masyarakat dengan para cosplayer. Oleh karena itu, disarankan agar event cosplay terus difasilitasi dan melibatkan berbagai elemen masyarakat guna memperkuat penerimaan sosial, sekaligus mengedukasi publik tentang nilai positif di balik budaya populer ini. Kata kunci: cosplay, persepsi penonton, budaya popular, anime, manga Abstract: In the era of globalization and technological advancement, Japanese popular culture such as anime, manga, and cosplay has quickly spread to various countries, including Indonesia. This has sparked the growth of a fan community in Kendari City, which has been actively holding cosplay events since 2012. Cosplay has become a medium for self-expression, creativity, and social identity, but it has also given rise to various perceptions in society, from those who consider it art to those who see it as strange. Following the pandemic, cosplay activities have resurfaced and gained public attention. Therefore, it is important to examine audience perceptions of cosplayers and the factors influencing them, as this can impact the acceptance of this subculture in society. This study aims to identify and describe audience perceptions of cosplayers at cosplay events in Kendari City, as well as the factors influencing these perceptions. This study employs a qualitative ethnographic method using participatory observation and in-depth interviews with eight informants consisting of cosplay community members, spectators, and event organizers. Data were analyzed using George Herbert Mead's (1934) Symbolic Interactionism theory through the stages of phenomenon categorization, category labeling, and conclusion drawing. The results of the study indicate a shift in public perception from initially viewing cosplay as strange to a more positive outlook as the intensity of cosplay events increases and direct interaction between cosplayers and spectators grows. Today, cosplay is not only seen as entertainment but also as art, creativity, and a form of identity expression accepted within the community of Kendari City. Based on this, it can be concluded that cosplay in Kendari City is increasingly accepted as part of art, creativity, and identity expression, alongside growing public understanding and interaction with cosplayers. Therefore, it is recommended that cosplay events continue to be facilitated and involve various community elements to strengthen social acceptance while educating the public about the positive values behind this popular culture. Keywords: cosplay, audience perception, popular culture, anime, manga
REVITALISASI RITUAL MITEMBEYAN SEBAGAI PELESTARIAN LEWAT YOUTUBE PADA KELOMPOK TANI SINDANG HURIP DI DUSUN SINDANG, DESA/KEC. RANCAKALONG, SUMEDANG, JAWA BARAT Setyobudi, Imam; Yuningsih, Yuyun; Hifajar, Wahyu; Dewi, Rifka Rahma; Jantika, Nurgalih Hadad; Dewi, Silvia; Fadilah, Farhan
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v9i2.4644

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep dan metode revitalisasi ritual mitembeyan meuseul sebagai upaya pelestarian nilai-nilai kearifan budaya lokal masyarakat petani Sunda di tengah perubahan sosial budaya akibat modernisasi pertanian, serta mendiseminasikan hasil revitalisasi melalui media digital. Modernisasi pertanian melalui penggunaan mesin penggiling gabah (huller) telah menyebabkan memudarnya praktik ritual mitembeyan yang sebelumnya menjadi bagian integral dari sistem kepercayaan, kosmologi, dan kehidupan komunal petani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang dilakukan di Dusun Sindang, Desa/Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi ritual dilakukan melalui rekonstruksi bentuk otentik berbasis memori kolektif, reaktualisasi tahapan ritual, serta penggalian kembali makna simbolik dan nilai kearifan lokal yang mencakup nilai spiritual-religius, keselarasan dengan alam, dan solidaritas sosial komunal. Dokumentasi ritual melalui platform YouTube berfungsi sebagai arsip visual sekaligus strategi adaptif pelestarian budaya di era digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa revitalisasi ritual mitembeyan meuseul merupakan bentuk modernisasi selektif yang memungkinkan masyarakat petani mempertahankan identitas budaya dan nilai-nilai fundamental tanpa menolak kemajuan teknologi. Kata kunci: revitalisasi budaya, ritual mitembeyan, kearifan lokal, pertanian tradisional, media digital. Abstract: This study aims to formulate concepts and methods for revitalizing the mitembeyan meuseul ritual as an effort to preserve local cultural wisdom among Sundanese farming communities amid socio-cultural changes caused by agricultural modernization, as well as to disseminate the revitalization outcomes through digital media. The introduction of rice milling machines (hullers) has gradually diminished the practice of mitembeyan, which was previously an integral part of farmers’ belief systems, cosmology, and communal life. This research employs a qualitative method with an ethnographic approach conducted in Sindang Hamlet, Rancakalong Village/Subdistrict, Sumedang Regency. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGD), and literature review. The findings indicate that ritual revitalization was carried out through reconstructing its authentic form based on collective memory, reactualizing ritual stages, and reinterpreting symbolic meanings and local wisdom values, including spiritual-religious beliefs, harmony with nature, and communal social solidarity. Digital documentation via YouTube functions as a visual archive and an adaptive strategy for cultural preservation in the digital era. The study concludes that revitalizing the mitembeyan meuseul ritual represents a form of selective modernization that enables farming communities to maintain cultural identity and fundamental values without rejecting technological advancement. Keywords: cultural revitalization, mitembeyan ritual, local wisdom, traditional agriculture, digital media. 

Page 11 of 11 | Total Record : 106


Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO Vol. 9 No. 1 (2025): NASIONALISME GLOBALISASI E-SPORT GAMERS: RESIPROSITAS JEJARING KESENIAN DAN KEP Vol. 8 No. 2 (2024): ETNOGRAFI BUDAYA DAN SUBBUDAYA DI KOTA-KOTA INDONESIA Vol 8, No 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PASU Vol. 8 No. 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PAS Vol 7, No 2 (2023): ANTROPOLOGI STRUKTURAL DAN ANTROPOLOGI MUSIK: TRITANGTU DAN PARIWISATA BUDAYA Vol 7, No 1 (2023): Komodifikasi Budaya: Tradisi, Seni dan Gaya Hidup Vol 6, No 2 (2022): Peradaban dan Pengetahuan Lokal: Pada Masa Hindu hingga Masa Kini Vol 6, No 1 (2022): Minum Tuak Marga Perbase: Terebang Shalawat Numbal Terowongan Sasaksaat Vol 5, No 2 (2021): Pandemi Covid-19 & Pengetahuan Dukun: Ritual, Seni, Konsumerisme Vol 5, No 1 (2021): Hubungan Imajinasi, Kreativitas, Perubahan, dan Mitos Identitas: Mang Koko, Moti Vol 4, No 2 (2020): Tradisi Otentik, Modifikasi Tradisi, Komodifikasi (Agenda Setting Artefak Digita Vol 4, No 1 (2020): Fungsi, Gender, dan Pergeseran Nilai-nilai dalam Tradisi Vol 3, No 2 (2019): Artefak Budaya Arkais dan Kontemporer : dari Ulos Hingga Seni Digital Vol 3, No 1 (2019): Etnografi Ritual Masyarakat Sunda: Fungsi Sosial, Liminalitas, Akulturasi Vol 2, No 2 (2018): Momen Kreatif, Ekspresi, dan Keberagaman Etnik Vol 2, No 1 (2018): Kreativitas Tradisi di Era Globalisasi: Transformasi & Peluang More Issue